Work Text:
yoshi ingat dulu ibu pernah bilang kalau setiap hari dalam satu tahun memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. namun di usia 17 tahun seperti sekarang, didepan barisan loker biru khas sekolah menengah atas, menurut yoshi ada hari yang tidak memiliki keistimewaan sama sekali. misalnya adalah hari ini, sepatu futsalnya tertinggal di apartemen, dan ini bukan kesialan pertama yang menimpa hari ini. tadi pagi, pagi sekali ketika langit masih gelap, yoshi harus mencuci kemeja putih satu-satunya (karena ia lupa akan dikenakan hari ini, ia akui memang tindakannya sangat teledor). kemudian sebelum pukul tujuh mau tidak mau yoshi harus membuat kemeja tersebut kering walaupun dengan cara sekonyol menempelkannya di sekitar rice cooker. maaf, setrika yoshi baru saja rusak dan ia tidak punya hairdryer. lalu tidak berhenti sampai disitu, setelahnya yoshi harus bertarung dengan kemacetan lalu lintas kota bersama motor scoopy cokelatnya (namanya noelle-chan, diambil dari salah satu nama karakter anime kesukaannya).
nah, sekarang kembali kepada sepatu futsal yang tertinggal dan nasib mengenaskannya.
"gapapa kali lo skip hari ini, besok juga masih bisa.” jihoon selaku ketua tim futsal sempat menghiburnya sedikit, mengacungkan kedua jempol untuk meyakinkan yoshi.
tadi, di hadapan jihoon, respon yoshi hanya mengangguk lesu. namun sekarang rasanya ia ingin memaki semua orang di dunia kecuali ibu. ah, ngomong-ngomong soal ibu, tolong ingatkan yoshi untuk menelepon beliau nanti. nanti saja, setelah amarahnya reda. ia ingin memprotes bahwa ibu salah, tidak semua hari dalam setahun memiliki keistimewaan. buktinya adalah hari ini, kemudian ia ingin menceritakan betapa tidak mujurnya dirinya seharian. ya, ide bagus, nanti yoshi akan menelepon ibu dan berbicara panjang lebar.
bangkit dari jongkok-untuk-meratapi-hari-ini, yoshi menghela nafas. saatnya pulang dan menikmati semangkuk ramen instan (tolong jangan ingatkan yoshi kalau stoknya habis). ia membuka pintu loker, menatap cermin yang ditempel tepat di sebelah barisan buku untuk menemukan seberapa kacau wajahnya sendiri. kemudian mengerang kesal seraya menutup pintu loker. jelek sekali rupanya, seperti troll pemilik jembatan dalam film kartun dora the explorer. ibu dulu sering bilang begitu kalau yoshi sedang marah, lalu sedetik kemudian amarahnya habis. itu dulu, kalau sekarang yoshi justru setuju.
“sudah nggak apa-apa?” di sebelahnya, berdiri junkyu tiba-tiba. jemari remaja itu perlahan ditautkan dengan milik yoshi.
yoshi mengernyit, “apa?”
“bukannya kamu badmood seharian ini?” junkyu balik bertanya heran. “aku dari tadi pagi mau ke kamu tapi kamu kayak lagi mau sendiri, hehehe.”
yoshi mengerjap linglung, “aku kelihatan semarah itu, ya?”
“enggaakk, bukan marah. lebih kelihatan capek. kenapaa?” junkyu mengangguk pelan sebagai isyarat untuk berjalan menuju parkiran, bersiap pulang.
lantas semua paragraf mengomel yang yoshi tabung sejak pagi buta membanjiri ruangnya bersama junkyu sore itu. semua keluhan terlontar mulai dari masalah seragam sampai masalah sepele seperti “oh, aku juga lupa beli cilok di kantin, nyebelin banget.” junkyu mendengarkannya dengan seksama, sesekali tertawa geli, sesekali menimpali dengan kata-kata menghibur, menepuk-nepuk punggung tangan yoshi dengan jemari jempolnya. yoshi perlahan mengulas senyum lega, junkyu selalu berhasil menjadi tempatnya berkeluh-kesah (setelah ibu).
oh iya, yoshi akan menelepon ibu setelah ini, bersama junkyu tentunya. ia membatalkan semua niatnya memprotes, karena ternyata ibu benar; setiap hari dalam setahun sungguh memiliki keistimewaan. contohnya adalah junkyu. kalau boleh lebay, yoshi akan mengibaratkan junkyu sebagai matahari setelah hujan deras. karena sebanyak apapun yoshi membenci hari ini, ada junkyu bersamanya. ia akan memaafkan dunia hari ini.
