Work Text:
Minhyung itu hanya anak berumur lima tahun berkeinginan tahuan sangat tinggi. Papa selalu menatapnya tajam setiap kali ia pulang ke rumah dalam keadaan kotor penuh dengan lumpur dan juga tangan yang penuh noda krayon karena bocah itu tak pernah kapok untuk membuat halaman depan rumah penuh dengan coretan-coretan abstraknya. Sepatu putihnya selalu kotor, hasil petualangan kecilnya menjelajahi setiap sudut lingkungan rumah dan juga kebun belakang.
Minhyung juga sangat suka dengan tumbuh-tumbuhan, ia pernah bercita-cita untuk menjadi ahli tanaman saja saat besar nanti. Walaupun lima menit kemudian cita-citanya akan berubah hanya dengan melihat kartun keren di televisi.
Liburan musim panas kemarin masih membuat Minhyung tak henti-hentinya menunjukkan senyum lima jari sambil terus memandangi tunas kecil pohon jeruk yang ia letakkan di depan jendela kamarnya.
Minhyung mendapatkannya saat tengah berlibur ke rumah nenek Seo untuk menghabiskan liburan musim panasnya. Sedikit paksaan sebenarnya, sebab pohon itu hanya tumbuh beberapa senti dari permukaan tanah. Namun Minhyung ngotot
ingin membawa tunas kecil itu pulang bersamanya. Berjanji akan berusaha keras menumbuhkan tunas itu sehingga papa tidak perlu repot membeli buah jeruk lagi si supermarket.
Nenek Seo hanya bisa tersenyum dan mencarikan pot kecil yang setidaknya bisa cucu kecilnya itu bawa pulang.
Dan disinilah Minhyung sekarang, berdiri di depan jendela dengan seragam sekolahnya dan tangan yang berhati-hati menyiramkan air sedikit demi sedikit ke dalam pot kecil tanaman yang ia beri nama pohon ajaib.
Suara langkah kaki sedikit mengganggu konsentrasi anak itu, dahinya berkerut tanda ia sedang sangat sangat dan sangat serius menyiram pohon ajaibnya.
“Minhyung? Sudah siap?”
Papa menjulurkan kepalanya mengintip kedalam kamar warna warni itu, dan mendapati putranya masih berdiri di depan jendela dengan sebuah cup kecil di tangannya.
Rambut mangkok Minhyung bergerak saat kepalanya menoleh dengan cepat kearah pintu. Tangannya mendekat ke arah bibirnya, mengisyaratkan Papa untuk memelankan suaranya.
“Sebentar Papa, Minhyung sedang memberi pohon ajaib minum.”
Jaehyun mengangguk, mengikuti permainan putranya.
“Kalau begitu, Papa tunggu di depan? Nanti beri tahu papa jika sudah selesai memberi minum pohon ajaib.”
Anak itu tak menjawab, hanya menganggukkan kepala dengan tegas dan kembali fokus menuangkan tetesan air ke dalam pot.
;
“Minhyungie menggambar apa?” Ibu guru bertanya saat dirinya menghampiri meja anak itu dan melihat tangannya secara aktif menggoreskan krayon hijau pada buku gambarnya.
“Pohon ajaib bu guru!”
Seruan Minhyung mengambil atensi anak berumur empat tahun di sampingnya. Kepalanya menoleh cepat ke arah teman sebangkunya dan mendapati buku gambar penuh dengan warna hijau yang ia asumsikan sebagai sebuah tumbuhan.
“Pohon ajaib itu apa?”
Minhyung menoleh, dan mendapati anak itu sedang memiringkan kepala penuh kebingungan.
“Pohon ajaib itu pohon yang ada di kamarku, Jeno.”
Bu guru hanya tersenyum melihat interaksi kedua muridnya dan berlalu pergi untuk memeriksa pekerjaan anak-anak didiknya yang lain, meninggalkan Minhyung dan Jeno dalam dunianya.
Yang lebih muda masih memiringkan kepala bingung, sementara Minhyung mengambil kembali krayon hijau tuanya yang paling pendek diantara krayon lainnya.
Minhyung menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri, bukti bahwa ia sangat menikmati tugasnya sekarang.
“Jeno, apa kamu masih bingung?” Minhyung bertanya saat menyadari Jeno masih menatapnya seperti di awal.
Anak itu mengangguk cepat, buat rambutnya bergerak mengikuti pergerakan kepalanya.
“Kalau begitu, datanglah ke kamarku nanti siang. Aku akan menunjukkan pohon ajaibnya!” Minhyung berseru antusias.
Jeno melebarkan matanya, binarnya semakin terang saat mendengar undangan langsung yang diberikan oleh kakaknya itu untuk pergi melihat pohon ajaib yang ia maksud di rumahnya.
Kepalanya sekali lagi mengangguk dan dua anak berbeda umur itu pun kembali melanjutkan tugas menggambar mereka.
;
“Woah!” Jeno tak henti menunjukkan kekagumannya kepada tanaman kecil Minhyung, merasa bahwa Minhyung adalah seseorang yang keren karena bisa menumbuhkan pohon sekecil itu.
Minhyung duduk di kasurnya, kakinya mengayun bergantian sambil memakan coklat pemberian ibu guru karena dia telah berhasil mendapatkan bintang tiga di pelajaran menggunting.
“Jeno juga mau!”
Minhyung menghentikan kunyahannya dan menatap Jeno yang berseru tiba-tiba.
“Memang Jeno bisa merawatnya? Ayah bilang jika ingin menumbuhkan tanaman, kita harus rajin memberi tanaman itu minum dan menyayanginya.”
Bibir itu melengkung turun, Jeno menggeleng pelan. “Tidak, Jeno tidak rajin.”
Minhyung turun dari kasurnya perlahan, berjalan menghampiri Jeno yang menunduk memperhatikan kakinya yang terbalut kaos kaki bermotif beruang coklat sedang bergerak gelisah.
“Tidak apa-apa, kalau begitu Jeno harus belajar menjadi rajin. Setelah itu, minta Papa Jeno untuk membelikan, okay?”
Balita itu mengangguk, sinar dimatanya kembali antusias seperti awal ia melihat pohon jeruk kecil Minhyung.
“Jeno akan belajar menjadi rajin seperti kakak Minhyungie.”
Minhyung tersenyum dan menepuk lembut pucuk kepala Jeno yang sedikit lebih pendek darinya.
;
Papa, bisa beritahu Minhyung apa saja yang harus Minhyung lakukan selain menyiram pohon ajaib setiap hari?”
Jaehyun menghentikan kegiatannya dari menyusun buku-buku yang akan Minhyung bawa besok. Tangannya meletakkan tas bergambar Spiderman itu di sisi lain putranya sementara dirinya ikut bergabung dengan Minhyung yang duduk diam di tengah-tengah kasur.
“Kenapa tidak tanya ayah? Papa takut jika nanti hanya akan mengacaukan pohon ajaib Minhyungie.”
Hidungnya berkerut kesal, anak itu bergerak melingkarkan kedua lengannya di perut orangtuanya. Tubuhnya bergerak mendekat sedikit demi sedikit buat sebuah senyuman tersampir di bibir sang papa.
“Ayah jarang pulang, Minhyung tidak punya banyak waktu untuk bertanya dengan ayah.”
Jaehyun mengusap kepala Minhyung yang tenggelam di dadanya, memandang ke arah pintu dan mendapati yang di bicarakan sudah berada di sana. Tangannya mengisyaratkan untuk diam sebentar sebelum pandangannya teralih ke arah manusia kecil di pangkuannya.
“Lalu kenapa tidak sekarang?”
Minhyung mengangkat kepalanya dan menatap sang papa yang juga menatapnya balik.
“Tap-” omongannya terpotong saat merasakan guncangan di kasurnya dan sebuah lengan menjerat dirinya ke dalam sebuah pelukan.
“Ayah!”
Minhyung memekik senang saat menyadari bahwa yang saat ini memeluknya adalah sang ayah yang ia nanti-nanti kepulangannya.
“Minhyung mau bertanya apa dengan ayah?”
Malam itu Minhyung menghabiskan setengah malamnya dengan bertanya tak henti tentang bagaimana cara merawat pohon ajaibnya dengan baik kepada sang ayah.
Jaehyun bahkan sampai harus membuatkan Minhyung susu dan menggendongnya agar anak itu mau berhenti bertanya dan tertidur.
;
Pagi itu, seluruh penjuru rumah dipenuhi dengan tangisan Minhyung yang sangat keras. Anak itu sebenarnya jarang menangis, bahkan saat ia terpeleset di jalan hendak pulang sekolah bersama Jeno dan teman-temannya yang lain. Ia hanya kembali bangkit berdiri dan bertingkah seperti ia tidak baru saja terjatuh ke dalam sebuah kubangan air bekas hujan dan membuat dirinya basah dan kotor.
Siku serta telapak tangannya terluka, namun anak itu hanya senyum-senyum saja saat Jaehyun menghujaninya dengan berbagai pertanyaan sambil tangan yang masih terus berhati-hati membersihkan luka Minhyung dengan alkohol.
Namun kali ini berbeda, tangisan Minhyung terdengar bahkan sampai ke halaman belakang di mana Youngho sedang menyirami tanamannya.
Jaehyun buru-buru meletakkan laptop dipangkuannya ke sembarang tempat dan melangkah tergesa menuju kamar putra semata wayangnya.
“Minhyung? Hey, what's wrong baby?”
Jaehyun menghampiri Minhyung yang berdiri di depan jendela dengan tangan memegang pot yang telah kosong tak terlihat sesenti pun pohon ajaib yang anaknya itu banggakan.
Minhyung mengalihkan pandangannya ke arah papa dan tangisannya semakin keras.
Sang papa yang menyadari anaknya menangis semakin keras berjalan tergesa menghampiri Minhyung yang masih mematung di tempatnya dengan air mata jatuh ke pipi bulatnya.
Tangannya meraih Minhyung kedalam dekapannya, mengangkatnya dan menepuk punggung kecil itu lembut.
Youngho datang tak lama setelahnya, melihat anaknya yang masih menangis di gendongan sang suami buat ia melangkahkan kaki buru-buru menghampiri dua orang ayah dan anak itu.
“Kenapa?” Satu pertanyaan yang ia layangkan perlahan kepada yang lebih tua.
Jaehyun hanya menunjuk ke arah tangan kecil anaknya di mana Minhyung masih memegang erat pot bunga yang menjadi penyebab ledakan tangisannya pagi ini.
Kekehan kecil keluar dari bibir Youngho, melihat putranya menangis tersedu-sedu dan tangan yang erat memegang pot bunga yang hanya tersisa sedikit tanah didalamnya.
Youngho memberi kode untuk menyerahkan Minhyung ke dalam gendongannya dan Jaehyun langsung menyerahkan Minhyung dengan hati-hati walau cengkraman tangan kecil di bajunya sedikit membuatnya kesusahan untuk memindahkan Minhyung.
“Hey little man, mau dengar ayah?” Youngho mengusap punggung bergetar itu lembut, maksudnya ingin menarik atensi si kecil.
Minhyung sedikit menahan tangisannya walaupun terkadang isakan masih terdengar keluar dari bibirnya yang bergetar.
“Ikut ayah mau? Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepada Minhyungie.”
Butuh waktu cukup lama agar sebuah anggukan kecil didapatkan dari Minhyung yang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang ayah.
Detik berikutnya, langkah kaki Youngho keluar. Melangkah menuju kebun belakang di ikuti Jaehyun yang masih menatap khawatir anaknya yang tak henti menangis. Cukup khawatir Minhyung akan pusing setelah ini karena menangis terlalu lama.
Mereka berhenti di dekat tanaman-tanaman hijau milik Youngho yang sudah ia rawat sejak pertama kali mereka memutuskan untuk menempati rumah ini.
“Lihat, itu pohon ajaib Minhyungie.”
Minhyung cepat-cepat menegakkan kepalanya saat mendengar tanaman kesayangannya disebut oleh ayah. Matanya mencari ke sekeliling dan berakhir menatap Youngho kebingungan.
Yang ditatap hanya terkekeh pelan dan menunjuk kedepan dengan dagunya.
Tepat di depan mereka kini terdapat pohon jeruk Minhyung yang sudah tak sekecil pertama kali Minhyung meletakkannya di dekat jendela.
“Ayah pindahkan kesini, supaya pohon ajaib Minhyungie bisa tumbuh dengan baik seperti Minhyungie.”
Total, tangisnya berhenti. Sebuah senyum kembali muncul di bibirnya walaupun matanya masih sembab.
Tubuhnya bergerak ingin minta diturunkan dari gendongan dan buat ayah menurunkan Minhyung yang langsung menyerbu pohon kecil itu. Di tatapnya lekat-lekat pohon ajaib yang ternyata tidak jadi menghilang itu.
“Minhyung senang?”
Minhyung mengangguk, masih dengan pandangan tertuju ke arah tanaman di depannya.
Jaehyun memperhatikan, itu bukan anggukan seolah ia setuju dengan pertanyaan yang ayahnya buat.
Minhyung hanya sedang menutupinya.
;
Malamnya Minhyung tidur di kamarnya, berbalut dengan piyama tidur nyaman bermotif awan dan kaus kaki lembut bergambar tuan dino biru.
Tubuh kecilnya bergerak gelisah didalam selimut tebal bergambar Pororo itu, menendang kesana-kemari hingga buat selimutnya tersingkir jauh di ujung kasur.
Matanya menatap lurus ke arah jendela kamar yang biasanya terisi oleh pohon ajaib, dan kini telah kosong kembali seperti sedia kala.
Bibirnya melengkung, ia tak benar-benar tidur saat papa selesai membacakannya dongeng tentang serigala dan penggembala. Minhyung hanya sedang berpura-pura karena tahu Papa sudah amat lelah hanya dengan membacakannya dongeng. Membaca itu melelahkan, setidaknya itu yang ia tangkap setiap kali bu guru menyuruhnya membaca kata demi kata di papan tulis ataupun di buku.
Minhyung rindu pohon ajaibnya, ia selalu memandangi pohon kecil itu setiap kali ia ingin pergi tidur bahkan jika bisa, ia ingin membawa pot pohon ajaibnya mendekat dan memeluknya. Tapi pasti papa akan marah besar karena pot itu kotor sekali.
Tubuhnya masih terus bergerak gelisah, mencoba berpindah posisi dan mengalihkan pikirannya ke hal lain selain pohon ajaib, ia ingin segera tidur sungguh.
“Minhyung?”
Tubuh kecil itu tersentak kecil mendengar suara yang tak asing menyapa gendang telinganya.
Kepalanya menoleh ke arah pintu, sudah tangung jika ingin melanjutkan drama berpura-pura tidurnya lagi.
“Papa?”
Jaehyun keluar dari balik pintu kamar yang ia buka sedikit, menghampiri Minhyung yang menatapnya dari tengah-tengah kasur yang berantakan.
“Minhyungie belum tidur?”
Gelengan kecil didapat dengan bibir yang melengkung ke bawah.
“Tidak bisa tidur.”
Lengannya terangkat, memberi isyarat bahwa ia ingin di peluk sang papa.
“Eum, bagaimana dengan segelas susu dan obrolan serius sesama orang dewasa?”
Minhyung mengangguk antusias, ia sangat senang jika dirinya dianggap dewasa. Menurutnya, menjadi dewasa itu menyenangkan. Bisa melakukan apa saja, bisa keluar kapan saja dan melihat dunia luar. Ia sangat ingin cepat-cepat menjadi dewasa, dan papa kadang-kadang berbicara seperti ia adalah seorang yang dewasa. Minhyung sangat suka setiap kali papa melakukan itu. Ia akan berlagak seperti ayah yang memperhatikan materi ketika rapat di ruang guru. Minhyung pernah melihatnya sendiri omong-omong.
;
Segelas susu hangat mendarat dengan selamat dihadapan Minhyung yang langsung menempelkannya jarinya ke sisi gelas, mengecek apakah ia bisa langsung menikmatinya atau masih harus menunggu sedikit lebih lama. Papa mengajarinya seperti itu, agar Minhyung bisa memperkirakan untuk tidak melukai lidahnya.
“Jadi, kenapa Minhyung tidak bisa tidur?”
Bocah itu menunduk, jarinya bertaut dan dahinya berkerut.
Senyap, di dapur itu tidak ada suara apapun selain kulkas yang berbunyi samar dan deru air conditioner di dapur.
Kaki Minhyung yang menggantung di kursi karena masih terlalu pendek untuk menggapai lantai berayun kedepan dan kebelakang.
“Minhyung rindu pohon ajaib.”
Ucapan pelan putranya tak ayal menimbulkan senyum tipis di bibir sang papa. Sudah di duga, bocah itu sebenarnya tidak suka terpisah dengan pohon kesayangannya.
“Lalu? Minhyung bisa melihatnya besok kan? Sepanjang hari.”
Minhyung mengangkat kepalanya menatap papa yang duduk di hadapannya.
“Tidak, Minhyung ingin melihatnya sebelum tidur.”
“Kenapa tidak bilang papa? Papa akan membawa Minhyungie ke halaman belakang.”
Anak itu terlihat sedikit kesal, raut wajahnya menunjukkan semuanya. Jaehyun hanya terkekeh kecil melihat perubahan demi perubahan yang anaknya lakukan di wajahnya.
“Tidak papa, Minhyung tidak mungkin meminta papa untuk menemani Minhyung melihat pohon ajaib setiap malam.”
Kini giliran yang lebih dewasa berkerut bingung. “Jadi?”
“Papa tak akan mengerti.” Minhyung menghela nafas panjang, tangannya pergi ke pipi dan menariknya ke bawah, buat pipi gembul itu tertarik kebawah bersama dengan bibirnya yang ikut tertekan.
“Kalau begitu, buat papa mengerti little man.”
“Minhyung sebenarnya tidak suka dengan ide ayah.” Minhyung berkata pelan, sedikit ragu untuk mengungkapkan isi hatinya terhadap sikap sang ayah yang memindahkan pohon ajaibnya tanpa persetujuan dirinya.
“Minhyung ingin merawatnya di kamar Minhyung sendiri, bukan di halaman belakang.”
“Tapi Minhyung menyukainya?”
Gelengan ragu-ragu keluar dari Minhyung yang tidak berani menatap papanya.
“Kenapa tidak bilang dengan ayah bahwa Minhyung tidak menyukai idenya?”
“Minhyung takut ayah sedih jika tahu Minhyung tak menyukai idenya memindahkan pohon ajaib.”
Jaehyun menggeleng pelan menanggapi alasan putranya, sedikit lucu sebenarnya.
“Minhyungie mau berbicara dengan ayah dulu?”
“Tidak! Tidak apa-apa, jika ayah bilang bahwa memindah pohon ajaib ke halaman belakang adalah yang lebih baik, Minhyung akan belajar untuk terbiasa.”
Jaehyun hanya mengangguk-angguk mengerti dan setelahnya menyuruh Minhyung menghabiskan susu hangatnya yang sudah mulai mendingin.
;
Pagi itu suasana meja makan sangat sepi, si kecil Minhyung belum terbangun dari mimpi indahnya dan hanya terdapat kedua orang tuanya yang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Kamu tahu, semalam Minhyung cerita kalau dia tidak suka dengan ide mu memindahkan pohonnya.”
Youngho tersedak dari kegiatannya menyesap kopi dari cangkir kesukaannya.
“Hah?”
Jaehyun mengangguk, kemudian berjalan mendekat ke tempat Youngho duduk termangu.
“Dia bilang, dia tidak suka dengan ide mu memindahkan pohonnya tanpa seizin dirinya. Dia tidak ingin terpisah dengan pohon ajaib.”
Laki-laki dewasa itu masih terdiam, menunggu Jaehyun yang duduk di hadapannya melanjutkan ucapannya.
“Lagipula jujur saja, aku juga tidak suka dengan sikapmu. Kamu mengajarkan Minhyung untuk selalu meminta izin kepada barang yang bukan miliknya, tapi kamu sendiri bagaimana?”
Youngho menggaruk kepalanya canggung, dirinya jadi merasa bersalah sudah bertindak semena-mena.
“Yah, aku minta maaf. Aku kira dia akan senang jika tahu tunas kecil itu akan tumbuh lebih baik jika berada di luar pot. Ternyata aku salah.”
“Tapi kenapa Minhyung bilang bahwa dia menyukai ideku?” Youngho melanjutkan kalimatnya saat ada satu pertanyaan tertahan di tenggorokannya, mendesak ingin di utarakan.
“Karena dia tidak ingin membuatmu sedih.”
;
“Little man? Kamu didalam?”
Ketukan pintu dan suara ayahnya membuat Minhyung yang sedang tengkurap di lantai kamar dengan tangan yang sibuk menggoreskan krayon di buku gambar menoleh ke arah pintu dimana sang ayah sudah menyembulkan kepalanya ke dalam.
“Ya ayah? Ada yang bisa Minhyung bantu?”
Merasa mendapatkan respon baik dari anaknya, membuat Youngho melangkah lebih dalam ke dalam kamar.
“Ayah ingin menunjukkan sesuatu, mau ikut?”
Minhyung tampak berpikir, terakhir kali ayahnya berkata demikian, hasilnya tidak sesuai harapan. Tapi Minhyung rasa, tidak ada salahnya juga untuk saat ini. Jadi ia mengangguk dan bangkit dari posisinya saat ini.
Mereka berjalan bersisian melewati ruang tengah, dapur, dan akhirnya pintu belakang.
Youngho meminta Minhyung menggunakan sandalnya yang besar agar kaki anak itu tidak kotor terkena tanah di halaman belakang.
Minhyung berjalan seperti bebek yang kesusahan karena demi apapun sandalnya benar-benar besar seperti ayah. Minhyung terkikik geli saat membayangkan ada sandal sebesar ayahnya.
Mereka berjalan memutari rumah dan tiba di halaman yang berada tepat di depan kamar Minhyung.
“Minhyungie?”
Balita itu menoleh, memandang sang ayah yang baru saja memanggil namanya.
“Ayah minta maaf, boleh? Ayah minta maaf jika sikap ayah membuat Minhyung sedih.”
Minhyung mengerutkan dahinya bingung. “Ayah kenapa minta maaf?”
Youngho menarik Minhyung mendekat, tangannya bergerak menunjuk satu tempat dimana ada sebuah tumbuhan kecil di sana. Tubuhnya berjongkok menyamai tinggi badannya dengan sang anak.
“Ayah minta maaf karena sudah memindahkan pohon ajaib tanpa persetujuan Minhyungie” Youngho terdiam sebentar, melihat reaksi anaknya yang hanya diam saja menatap dirinya. “Ayah pindahkan pohon ajaib Minhyungie disini, supaya Minhyung bisa melihatnya setiap saat. Karena pohonnya sudah cukup besar untuk di pindahkan ke tanah, jadi ayah tidak menaruhnya lagi kedalam pot. Ayah minta maaf ya sayang?”
Minhyung masih diam, sementara Youngho was-was menanti reaksi apa yang akan Minhyung berikan.
Tak lama sebuah kikikan geli terdengar, Youngho mengalihkan pandangannya dari pohon kecil itu ke arah putranya yang sedang menatap ke arahnya dengan senyum lima jari.
“Ayah terima kasih.” Tubuh besar Youngho hampir terjatuh ke belakang jika saja ia tidak segera menyeimbangkan tubuhnya kembali karena sebuah tubrukan antara tubuhnya dan sang anak yang kini tengah memeluknya sangat erat.
Senyum kembali menyapa Youngho, tangannya terangkat mengusap kepala dengan rambut hitam itu lembut.
“Sama-sama, little man.”
