Actions

Work Header

Mengenang Seroja

Summary:

Seroja mati di sebuah musim semi. Hari itu juga dia membawa hati Rashmi pergi ke kuburannya.

Notes:

Kim Seungmin as Seroja
Lee Minho as Rashmi

Please read the tags first before reading.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Seroja lahir di sebuah musim semi, di hari Kamis, pukul sepuluh pagi. Seroja meninggal di hari Kamis, pukul sepuluh pagi. Dia lahir dan mati di hari dan waktu yang sama persis. Matinya karena bunuh diri dengan menenggak obat-obatan yang sampai sekarang tidak mau Rashmi cari tahu namanya. 

 

Hari ini tepat perayaan kematiannya yang keempat. Harusnya Seroja berusia dua puluh lima tahun ini, sudah lulus kuliah pastinya, mengingat kecerdasan otaknya yang suka dia ragukan. Mungkin bekerja sebagai ahli diet atau konsultan gizi, pastinya pekerjaan yang bergengsi mengingat lelaki itu punya ambisi buat meningkatkan derajat keluarganya. Kemungkinan besar masih tidak punya kekasih mengingat dia punya trauma, lebih-lebih soal berpasang-pasangan dan menjalin relasi sosial. Kemungkinan besar tinggal di apartemen yang bersih dan beraroma buah, dengan bajunya yang rata-rata biru tua atau hitam—mengingat Seroja tidak mau punya rumah yang terlalu besar karena dia bilang dia masih mau menjelajahi dunia dan dia tidak mau terikat di satu tempat, dia orang yang resik, dan warna kesukaannya berpatok antara skema hitam-biru-merah tua. 

 

Rashmi kembali ke rumahnya buat menemui kedua orang tuanya yang renta dan kakak laki-lakinya yang pulang dari Sumatera khusus untuk hari ini. Ibu Seroja terlihat bersusah payah berkompromi dengan kehilangan, beliau masih begitu setelah empat tahun Seroja pergi. Siapa di ruangan itu yang tidak sedang berekonsiliasi dengan duka? Jelas bukan Rashmi

 

"Tadi siang, ada beberapa temannya Seroja yang datang." Ibu Seroja berkisah, "Terima kasih, ya, Nak Rashmi. Selalu datang setiap tahunnya. Seroja pasti senang kalau tahu."

 

Tidak. Seroja akan mencerca. Si bajingan yang tidak pernah bisa mencerna kalau dia penting dan berharga itu, pasti mendorong Rashmi keluar dari rumahnya, menceracau bahwa Rashmi tidak usah sok peduli padanya dan bahwa Seroja sudah berkawan baik dengan kesendirian dari lama. Seroja tidak melakukannya karena dia sudah mati. Sejak empat tahun lalu, Rashmi lebih memilih Seroja menendangnya keluar dan menghardiknya berkali-kali, daripada kesunyian yang terlalu pekak mendeklarasikan bahwa Seroja tidak akan melawan lagi. Dia sudah mati.

 

"Seroja pasti sudah kerja kalau sekarang dia masih ada." Ayah Seroja tiba-tiba buka suara, "Jadi dokter gizi. Jadi yang dia mau. Pintar anak itu. Bapak kurang memuji dia pintar selama dia ada di sini." Bapak Seroja tidak pernah benar-benar mengerti bidang karir yang Seroja geluti, yang dia tahu anaknya bekerja di ranah sains yang erat dengan kemanusiaan. Jadi dia antara jadi apoteker atau dokter, itu saja. Padahal, Seroja itu lulusan Ilmu Gizi. 

 

"Bapak masih bisa memuji dia saat ini. Seroja selamanya anak Bapak."

 

Ayah Seroja terisak sedikit mendengar kalimat itu.

Empat tahun dan luka itu masih terasa seperti baru. Ayah Seroja, menurut cerita Seroja, adalah pribadi yang keras dan temperamental, namun semenjak kematian Seroja, Rashmi tidak pernah melihat ayahnya seperti itu. Beliau lebih banyak menangis dan merenung, meredam kesedihannya sendiri dengan membeli es krim dan jajanan kesukaan Seroja yang dibeli untuk berkawan dengan kesedihannya sendiri. Melahapnya di teras sembari meratapi kematian anak bungsunya yang masih terasa baru. Rashmi rasa bapak juga kehilangan dirinya sendiri dalam kepergian Seroja empat tahun lalu. Lagu-lagu yang Bapak dengar selalu lagu lama berbahasa mandarin atau lagu barat tahun 90-an, tetapi semenjak Seroja memilih buat mengubur dirinya sendiri, Bapak memilih mendengar lagu dari band kesukaan Seroja. Diputarnya berkali-kali, supaya mereka merasa Seroja masih bernapas di antara jeda dan ketukan dalam lagu-lagu tersebut. 

 

"Kalau Seroja ada, mungkin dia sudah punya pacar."

 

"Habis perempuan itu diminta peluk setiap hari," Kakak Seroja membalas dengan kekehan yang terasa dipaksakan, "Seroja anak manja. Dia senang sekali dipeluk."

 

Satu hal yang masih jadi rahasia Seroja sampai mati adalah dia menyukai laki-laki. Dia juga punya trauma dalam menjalin relasi sosial karena hampir semuanya kacau dibabat pikiran jahatnya sendiri. Seroja kemungkinan besar belum pacaran dan memilih pergi ke terapis seorang diri, tetapi sekarang Seroja tidak punya kesempatan untuk memulihkan trauma yang menjangkitinya dari masa sekolah itu. Dia keburu pergi.

 

Seroja tidak pernah tahu bahwa yang pergi dari muka bumi ini bukan cuma keberadaannya, melainkan juga kewarasan dan keinginan keluarganya buat meneruskan hidup. Ada suatu kekuatan yang mematahkan tulang belulang Ibu ketika Seroja dinyatakan meninggal karena overdosis obat-obatan, ada suatu ingatan yang akan selamanya membayang di belakang kepala Ayah Seroja mengenai Seroja yang terbaring dan tidak pernah sadarkan diri, ada suatu perjalanan pulang menuju Jakarta yang membuat Kakaknya mau mati satu hari itu. Ada kehilangan dimana-mana semenjak Seroja pergi dan itu belum semuanya. Ada kawan yang kehilangan sahabatnya, guru yang kehilangan muridnya, bolpoin yang kehilangan penggenggamnya, kasir konbini yang bertanya-tanya kemana perginya seorang anak lelaki dengan senyum bodohnya, kasur yang kehilangan maknanya, seragam yang kehilangan pemakainya, sepatu yang kehilangan tuannya, ruangan yang kehilangan hayatnya—Seroja pasti bakal menyuruhnya diam jika Rashmi bercerita soal dampak apa yang dia perbuat kepada orang lain setelah dia menghabisi dirinya sendiri. Akan tetapi, diam-diam, Seroja bakal berdoa di malam sebelum dia mati agar yang dia simpan dalam hati bisa peroleh kebahagiaan setelah dia bunuh diri. 

 

Seroja berpikir seolah dia adalah penyumbat wastafel yang jadi penghalang buat setiap inci rasa syukur dan gembira yang hendak menumpahi, tetapi Rashmi pikir, dia salah. Seroja selalu salah. Seroja adalah sinar rawi yang membuat tumbuhan mau hidup dan membikin kunang-kunang mau bercahaya. Seroja tidak pernah mau berpikir panjang soal ini karena dia skeptis soal cinta, terutama kepada dirinya sendiri. Rashmi tak apa kalau dia tak mau percaya, tetapi Seroja bisa diam-diam belajar mengolah cinta itu jadi sesuatu yang menahannya tetap hidup.

 

Semuanya terlambat empat tahun, lagi-lagi.

 

Di dalam hati Rashmi, ada debar jantung yang keras sekali, tetapi kosong. Debar jantung itu merangsek dan menghajar dinding dadanya dengan begitu tidak tahu diri, seolah setiap dari debar itu mengharapkan Seroja kembali. Setiap dari pompa aliran darahnya, Rashmi ingin Seroja hidup kembali. Orang mati bakal selalu kembali dalam wujud paling tidak masuk akal berupa angan-angan yang tidak akan terpenuhi dan kenangan yang menderu deru seperti badai angin. 

 

Mendengar Yasmin dan Larisa datang siang tadi, Rashmi pikir, Seroja tidak tahu bahwa dia dicintai. Seroja pikir, seharusnya mereka melakukan ini semua ketika Seroja masih ada. Seroja takut pada cinta seperti Seroja takut pada gemuruh petir, gelegarnya mengingatkan Seroja akan bentakan dan pukulan ayahnya ketika Seroja berusia enam tahun. Seroja takut dan malu bahwa selama ini konsep cinta yang dibentuk kepadanya semata-mata adalah ekspektasi untuk jadi diam dan penurut, kodependensi semata, dan orang-orang yang selalu berbalik badan setiap Seroja mencoba membongkar rusuknya.

 

"Rashmi, nggak apa-apa kalau mau menangis."

 

Rashmi baru sadar bahwa wajahnya basah dan memerah setelah kakak Seroja mengimbaunya. Kalau dia tidak mencintai Seroja, dia tidak akan berada di sana. Kalau Seroja tidak berarti apa-apa buatnya, Rashmi tidak akan berada di sini untuk menangisinya. Kematian selalu membawa orang-orang berkumpul dan bertukar cerita. Kematian Seroja tidak akan berarti apa-apa kalau Rashmi tidak mencintainya. 

 

"Rindu Seroja."

 

Cuma dua kata itu yang Rashmi ucapkan dan dia menutup mata. Dia tidak mau melihat Ayah-Ibu Seroja meregang nyawa menahan tangis buat putra bungsu mereka, tidak mau melihat mata kakak Seroja yang jadi kosong dan tidak bernyawa. Rashmi menangis deras sekali. Aneh sekali karena setiap Rashmi menangis, selalu Seroja yang memeluknya, menenangkannya, dan membersihkan wajah Rashmi dengan tisu yang selalu dia bawa di tasnya. Aneh sekali karena sekarang rumah ini sudah tidak pernah mendapati kepulangan Seroja selama empat tahun. Empat tahun lalu, mungkin dia baru saja pulang dari kosnya di Bandung, mencopot sepatunya, dan meletakkan tasnya di teras. Sekarang, Seroja tidak akan pernah pulang lagi. 

 

Hari itu, Rashmi membiarkan dirinya menangis lama sekali untuk Seroja. Mengeksekusi semua upayanya untuk tidak menangis dan bersikap Seroja bukanlah sesuatu yang penting buatnya karena sesungguhnya, Rashmi cuma tidak tahu caranya mengakrabkan diri dengan sungkawa, kecuali dengan menjauhkan dirinya.

 

Seroja mati di sebuah musim semi. Hari itu juga dia membawa hati Rashmi pergi ke kuburannya.

 

Notes:

thank you for reading.

 

curiouscat

 

twitter