Actions

Work Header

clocean : pilu membiru

Summary:

Yang tak mereka tahu, sang rembulan selalu mendambakan eksistensi cantik eloknya sang mentari.
Sang rembulan selalu memupuk rindu terberatnya kepada sang mentari.

Walau sang rembulan tahu harus menerima kenyataan terberat bahwa sang mentari tak akan pernah memancarkan cahaya yang sama lagi.

Notes:

Tulisan ini hanya fanfiksi belaka yang tercipta dari salah satu Minecraft roleplay milik ElestialHD yang berjudul Viva Fantasy.

Yang namanya fanfiksi, berarti seluruh kejadian yang tertulis di sini tidak ada hubungannya dengan canon lore yang ada pada Viva Fantasy. Diharapakan kalian bisa bijak untuk membedakan kenyataan dan khayalan yang ada.

Juga, saya bukan seorang rps (real people shipping), karena hal itu adalah tindakan yang sudah berlebihan di shipping culture yang ada pada banyak fandom. Termasuk Viva Fantasy fandom. Di sini, saya hanya menggunakan karakter mereka sebagai pairing stuff, dan bukan pemain aslinya yang memainkan tokohnya masing-masing.

Terima kasih atas pengertiannya. Literasi itu penting!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

I : Kala itu, cantik eloknya senja di Elheims

 

   “Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,”

 

   Begitu pola pikir Ayon, Raja Ayon; penerus tahta Elheims sampai takdir merenggut segalanya, seluruh seluk beluk semesta dan seisinya, terutama dirinya sendiri.

 

   Tadinya, sih, pola pikirnya tidak begitu. Namun, kehadiran seseorang di kehidupannya yang entah mengapa dan bagaimana mampu membuatnya merangkai pola pikir yang lebih sehat, katanya.

 

   Ya, seperti yang mereka tahu, Raja Ayon adalah seorang pemimpin yang gigih dan teguh dalam melakukan segala hal demi mencapai tujuannya. Akan tetapi, Raja Ayon melupakan satu hal, yaitu; dirinya sendiri.

 

   Bagaikan sang peraih mimpi dengan semangat membaranya yang berusaha untuk mencapai bintang tertinggi tanpa kenal penatnya, terus jatuh dan jatuh tiada lelahnya, lalu menghiraukan satu hal yang menjadi kunci utamanya, yaitu; istirahat sejenak.

 

   Dan, ya, Raja Ayon menghiraukan kunci utamanya. Raja Ayon tak peduli akan betapa berharganya kesehatan jiwa raganya sendiri jika terus-menerus dipaksa bekerja dan terus bekerja. Masa bodoh sudah dengan karunia semesta dan seisinya yang diperoleh oleh eksistensinya seorang.

 

   Berita baiknya, hal itu tidak terjadi lagi.

 

   Ia bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa ia akan senantiasa menepati janjinya untuk; tidak melakukan kesalahan yang sama, serta tak menyepelekan hal-hal kecil yang begitu berarti baginya.

 

   Dia, Nevin, Master Nevin; kawan seperjuangannya, yang selalu memberikan dekapan terhangat di masa terpuruknya, serta senantiasa memberikan validasi terbaik yang selalu didambakannya, segalanya.

 

   Master Nevin adalah segalanya untuk Raja Ayon.

 

   Dia, Nevin, Master Nevin; yang eksistensinya memiliki seribu makna bagi Raja Ayon.

 

   Semenjak kehadirannya, Raja Ayon merasa bahwa Elheims tidak begitu buruk untuk disinggahi.

   Ternyata, Elheims tidak begitu buruk untuk jiwa raganya yang sedang berada di ujung penghabisan

 

   “Ayon,”

 

   Ah, dia lagi.

 

   “Ayolah, nikmati waktu istirahatmu dengan baik. Lagipula, kau sudah berjanji untuk tidak menyepelekan segala hal walau tampaknya kecil, ‘kan? Langitnya sedang indah, nih. Kau yakin ingin melewatkan momen berharga ini dengan sesi merenungmu yang tidak ada habisnya itu?”

 

   Mendengar kalimat itu, yang diajak bicara; Raja Ayon, sontak langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sampai-sampai, bulir-bulir air laut selepas sparring yang masih tersisa di surai biru sebiru lazulinya mendarat ke sembarang arah. Bukannya bermaksud untuk menolak saran dari kawannya yang sudah membuatnya tertunduk tak berdaya di bawah teriknya matahari, akan tetapi, bermaksud untuk tersadar dari lamunannya yang tidak ia sadari sedari tadi. Entah sudah berapa lama ia tenggelam dalam lamunannya, masa bodoh akan hal itu.

 

   Melihat kawannya yang lagi-lagi menyia-nyiakan waktu istirahatnya dengan sesi merenung tiada akhirnya membuat Master Nevin menghela napasnya dengan berat. Semakin diuji pula kesabarannya saat bulir-bulir air laut dari surai biru kawannya mendarat ke wajahnya yang sebelumnya dibubuhi oleh keringat selepas sparring.

 

   Raja Ayon, kawan seperjuangannya, tampak seperti pecundang. Batinnya.

 

   Tanpa banyak basa-basi dan mengeluh pada segala hal, atensi mereka berdua kemudian tertuju pada cantik eloknya swastamita; pemandangan terbenamnya matahari. Indah, cantik, menawan, mengagumkan, menenangkan hati dan pikiran.

 

   Aneh, biasanya, pemandangan terbenamnya matahari tak pernah terasa semenakjubkan ini. Entah kenapa, yang kali ini jauh berbeda. Yang kali ini jauh lebih istimewa, lebih menawan, lebih damai dan tentram, lebih dari apapun itu yang mendeskripsikan definisi kesempurnaan sesungguhnya.

 

   Ombak samudera menerpa bebatuan karang dengan derasnya, corak jingga kekuningan terlukis di dalam indahnya bentangan cakrawala, deru angin laut menerpa surai kedua insan yang sedang mengagumi cantik eloknya swastamita dalam diam.

 

   Sekilas, tampak pula cantik eloknya mahakarya semesta tiada tandingannya, tepat di sebelahnya; Nevin, Master Nevin, kawan seperjuangannya. Tampak sepasang netra biru sebiru cakrawalanya yang indah, cantik, serta memikat hati. Rasanya seperti melihat bentangan cakrawala berwarna biru dengan awan putihnya langsung di daratan untuk pertama kalinya. Begitu pula dengan surai mahoninya yang diterpa derunya angin laut. Cantik, begitu cantik. Semakin tampak pula sepasang netranya walau dari kejauhan karena surai mahoninya diterpa derunya angin. Terima kasihku sebanyak-banyaknya untuk jasamu, deru angin laut.

 

   Ah, ya, jangan lupakan pula betapa menawannya senyumannya yang terukir di bibir ranumnya.

 

   Akhirnya aku lihat lagi

   Sederhana tanpa banyak celah

   Berlalu

 

   Cantik. Sekali lagi kuucapkan, begitu cantiknya mahakarya tandingan semesta yang didambakan oleh diriku seorang.

 

   “Biasa aja, dong, liatnya, Yon. Berasa jadi ancaman aja akunya.”

 

   Dan, lagi. Atensinya tertuju pada diriku yang sedang tenggelam ke dalam damainya lamunan tiada makna.

 

   Tunggu, tidak. Sekali lagi, kutarik ucapanku; tidak. Yang kali bermakna, begitu bermakna. Anganku dihantui oleh bayangan cantik elok parasnya, membuatku kesulitan untuk mendeskripsikan perasaan mendebarkan yang kurasakan setiap kali atensiku terkunci padanya. Terutama saat sepasang netra kami bertemu, bertukar pandang pada satu sama lain.

 

   Berita buruknya, hal itu benar-benar terjadi.

 

   Sepasang netra kami bertemu tanpa kami sadari, bertukar pandang pada satu sama lain. Netra biru samuderaku bertemu dengan netra biru cakrawalanya. Sungguh, hal ini begitu canggung. Bisa hilang sudah akal sehatku kapanpun sel otakku mau karena tak kuat mengolah informasi asing yang lagi-lagi terjadi karena netraku bertemu dengan netranya yang cantik tiada tandingannya. Apalagi dengan senyuman manisnya yang terukir di bibir ranumnya.

 

   Sungguh, semua yang ada pada dirinya begitu mengagumkan. Pula memabukkan.

 

   Payah, pecundang. Raja Ayon dalah definisi pecundang sebenarnya.

 

   Napasku tercekal, “kalau kamu beneran jadi ancamanku gimana, Vin?”

 

   Manisnya senyuman yang terukir di bibir ranumnya seketika memudar, “hah?” Master Nevin mengerjapkan matanya berulang kali, pertanyaan yang sama terus terbesit di dalam pikirannya. “Maksudmu?”

 

   “Ya.. kalau misalnya kamu, Nevin,” Raja Ayon menyeringai, iseng, “jadi ancaman utama warga Elheims gimana? Termasuk menjadi ancaman utama untuk pemegang tahtanya saat ini, gimana? Apa yang akan kamu lakukan?”

 

   Sekali lagi, Master Nevin mengerjapkan matanya berulang kali, “eh, Yon, maksudmu gimana, sih?” Master Nevin menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, “aku beneran jadi ancaman Elheims mulai detik ini? Kenapa begitu? Karena aku ngalahin kamu di sparring lagi? Atau kenapa? Aku ada salah ‘kah ke kamu?”

 

   Raja Ayon mencoba sekuat tenaga untuk meredam amarahnya karena pernyataan pertamanya. Juga, Raja Ayon mulai merasa iba saat melihat kawannya yang tampak kebingungan karena dihantui oleh kepanikan dan ketakutan yang berlebih. “tidak, Nevin, tidak. Semua tebakanmu ga ada yang benar.” Napas Raja Ayon tercekal, “mulai detik ini, kamu, Nevin, Master Nevin, kawan seperjuangan seorang pemegang tahta Elheims generasi terakhir, menjadi ancaman utama untuk Elheims karena parasnya yang cantik mampu menjadi distraksi Raja Ayon akan keadaan sekitarnya. Sekian, terima kasih.”

 

   Bukannya segera merespon kalimat pernyataan yang dilontarkan kepadanya, justru, semakin dibuat bingung dirinya karena tak memahami makna kalimat teraneh pula termanis yang dilontarkan oleh kawan seperjuangannya.

 

   Melihat kawannya yang tampak kebingungan setelah dihujani afirmasi membuat Raja Ayon menghela napasnya dengan berat, “itu pujian, Nevin.”

 

   Oh, ya, tentu saja. Sudah jelas itu adalah afirmasi. Sudah jelas itu adalah pujian. Astaga, bodohnya dirimu, Master Nevin. Tak semuanya dapat kau anggap dengan serius.

 

   Setelah itu, hanya ada kekehan Master Nevin yang terdengar. Menertawai dirinya sendiri karena selalu membawa candaan atau apapun itu dengan serius. Tidak ada lagi senja yang sunyi dan hampa kala itu. Rasanya, damai, tentram, penuh gelak tawa.

 

   Sesekali, ia menutupi kekehannya dengan telapak tangannya, sesekali juga, ia menepuk pundak Raja Ayon karena afirmasi manisnya yang cukup menghibur. Apapun itu, jika Master Nevin senang, maka Raja Ayon pun akan ikut senang.

 

   Melihatnya tersenyum sudah cukup untuk membuatnya bahagia.

   Melihatnya tenggelam dalam gelak tawa juga sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia.

 

   Akhirnya aku lihat lagi

   Jemarimu yang bergerak bebas

   Seiring

   Tawamu

 

  Cantik. Sekali lagi, dia cantik.

  Segala hal yang ada pada dirinya adalah definisi sempurna sebenarnya.

 

   Ah, bagaimana bisa paras maupun jiwa raganya seorang mampu menandingi cantik eloknya kesempurnaan semesta dan seisinya?

 

   Tampaknya mustahil.

   Namun, tidak untuknya.

 

   Yang mengejutkannya lagi, seseorang yang sebegitu menakjubkannya sekarang berada tepat di hadapanku, bersamaku, hanya denganku. Yang tenggelam dalam gelak tawanya yang sedikit teredam karena halangan telapak tangannya, seakan seluk beluk semesta dan seisinya adalah miliknya seorang.

 

   Master Nevin, eksistensimu begitu menakjubkan.

   Berandai bahwa jiwa ragamu adalah hak milikku sepenuhnya.

 

   Seperti yang tertulis dalam sejarah; senja kala itu mengukir banyak memori karena kehadiran eksistensimu yang mampu menandingi cantik eloknya seluk beluk semesta dan seisinya.

 

II : Takdir sang rembulan dan keselarasanmu di Elheims

 

   Mungkin, definisi kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda. Entah dari hal kecil, seperti; menikmati racikan teh tradisional yang rasanya melekat di indra pengecap sebelum memulai hari. Atau mungkin seperti hal yang lebih merepotkan, berlebihan, dan tidak masuk akal, seperti; menunggangi beruang madu bersayap kupu-kupu untuk mengelilingi cincin saturnus sebanyak tujuh putaran.

 

   Dan mungkin, Raja Ayon sedang mengalami keduanya secara bersamaan.

 

   Permasalahannya adalah; Raja Ayon sangat suka menikmati megahnya cahaya rembulan. Sangat, ia sangat menikmatinya. Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda, ada sesuatu yang terasa janggal, begitu kosong nan hampa. Dan, Raja Ayon tidak menyukainya. Butuh seseorang untuk mengisi kekosongan hatinya, butuh seseorang untuk mengisi kehampaan hatinya yang belum terpenuhi sepenuhnya.

 

   Namun, takdir sang rembulan telah mempertemukannya dengan seseorang yang telah lama didambakannya; seseorang yang akan mengisi kehampaan hatinya yang selama ini begitu menyiksa walau tak menyisakan bekas goresan. Dia, Nevin, Master Nevin; yang didambakannya sejak dahulu.

 

   Dengan begini, semua mimpi buruk itu tak akan kembali berlangsung bila kau memiliki jiwa raganya dengan sepenuhnya, ‘kan?

 

   Namun, bila kau terus menunggu dan menunggu, akan sampai kapan mimpi buruk ini terus berlangsung? Kau ulur semua waktumu karena merasa tak pantas untuk memiliki jiwa raganya dengan sepenuhnya, begitu?

 

   Pecundang, Raja Ayon adalah seorang pecundang.

 

   Ah, masa bodoh. Jika eksistensinya masih singgah secara nyata hingga detik ini, kenapa harus khawatir? Lagipula, hal bodoh seperti apa yang akan merenggut eksistensinya yang lebih bodoh dari segala hal-hal bodoh yang ada di dalam seluk beluk dunia ini? Hal bodoh seperti apa yang akan meleburkan paras cantik tiada taranya? Hal bodoh seperti apa yang akan menghancurkan anugerah semesta yang nyaris sempurna dan senantiasa melengkapi kekurangan hidup sang rembulan yang cahayanya meredup; Raja Ayon, dan selayaknya dirinya, sang mentari yang tak pernah lelah menyinarkan cahayanya; Master Nevin.

 

   Menurut Raja Ayon; Master Nevin adalah seseorang yang berkepribadian bodoh dalam segala hal. Bahkan, lebih bodoh daripada definisi kebodohan sesungguhnya.

 

   Meski begitu, Raja Ayon tetap mengaguminya, tanpa pengecualian apapun.

   Juga, Raja Ayon mencintai Master Nevin dengan sepenuh hatinya.

 

   Sekarang, siapa definisi bodoh sesungguhnya?

 

   Kala itu, seseorang yang didambakannya sedang berdiri tepat di tengah area sparring; tempat di mana Raja Ayon mengayunkan pedangnya untuk pertama kalinya. Ia melebarkan lengannya seperti burung dara yang sedang terbang setinggi mungkin seraya berputar dengan anggunnya, seolah sedang menari dengan deru angin malam yang diiringi oleh irama sang ombak yang menerpa karang dengan derasnya. Cahaya sang rembulan menyinari paras cantiknya, angin malam yang menari bersamanya menyeka sebagian surai mahoninya, memperlihatkan bulu mata lentiknya yang tampak begitu cantik walau samar-samar dari kejauhan. Oh, ya, jangan lupakan pula senyuman manisnya yang terukir di bibir ranumnya.

 

   Cantik, Master Nevin begitu cantik. Raja Ayon bisa mengaguminya setiap saat, setiap waktu, selamanya.

 

   Saat deru angin malam tak lagi berhembus dengan lantangnya, Master Nevin sontak menghentikan gerakannya. Di saat itu juga, Raja Ayon yang sedari tadi memperhatikannya merasa hampa, merasa kehilangan akan sesuatu. Entah apa alasannya, ia tidak mengerti.

 

   Yang pasti, ada rasa kehilangan yang begitu berat. Dan, Raja Ayon tidak menyukainya.

 

   Di waktu yang sama, cahaya rembulan tak lagi semenarik seperti sebelumnya. Indahnya hanya sesaat saja. Setelah itu, tak ada yang dapat dikagumi lagi, pikirnya.

 

   Master Nevin melangkahkan kakinya ke tempat duduk Raja Ayon. Tak butuh banyak basa-basi, ia langsung duduk di sebelah kawanya seraya meregangkan tubuhnya.

 

   Sekilas, raut muka menyedihkan yang telah lama ia pahami tampak kembali di wajah kawannya yang sedang menunduk tak berdaya; Raja Ayon. Sungguh, Master Nevin selalu merasa iba bila raut muka itu tampak di wajah seseorang, terutama bila raut muka itu muncul di wajah seseorang yang begitu berarti baginya; Raja Ayon. Karena, Raja Ayon yang sedang tenggelam dalam lautan lara selalu tak bersemangat dalam melakukan segala hal. Jauh berbeda dengan Raja Ayon yang selalu bersemangat setiap berada di sisinya. Dan, Master Nevin sangat tidak menyukainya bila Raja Ayon tampak seperti seorang pecundang yang terus meredam kesedihannya seorang diri tanpa meminta bantuan.

 

   Juga, Master Nevin merindukan sosok Raja Ayon yang penuh dengan canda tawa.

 

   Master Nevin merindukan sosok Raja Ayon yang periang.

 

   “Ayon,”

 

   Raja Ayon memalingkan kepalanya ke arah lawan bicaranya, “iya, kenapa?”

 

   “Sebelumnya, maaf. Aku mungkin terlalu sibuk dengan diri sendiri sedari tadi, sampai-sampai, aku melupakan tujuan utamaku untuk ke sini, ke Elheims, menemuimu.” Master Nevin menjeda kalimatnya sejenak dengan tarikan napas yang dalam dan helaan napas yang berat. Merasa bersalah kepada dirinya sendiri. “Jadi, ada apa? Kamu baik-baik saja, ‘kan? Tetapi, perasaanku setiap kali melihat wajahmu yang murung sepertinya berkata lain. Jadi, kenapa? Ada apa? Kamu boleh cerita apapun dan kapanpun kamu mau. Aku akan senantiasa mendengarkanmu.”

 

   Raja Ayon menghela napasnya, “Nevin, harus berapa kali kuulangi ucapanku kalau aku sedang baik-baik saja?” Raja Ayon sontak menunjukkan senyumannya yang.. sedikit dipaksakan, mungkin. “Apakah yang kali ini masih belum bisa membuktikan kalo aku memang baik-baik saja?”

 

   Tanpa pikir panjang, Master Nevin langsung menggeleng; tanda tak percaya, “tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengernyitkan dahinya saat sedang tersenyum, Yon.” Master Nevin menjentik dahi Raja Ayon, kemudian terkekeh. Tindakan itu ia lakukan karena ia menyadari kebohongannya.

 

   Raja Ayon menghela napasnya, lagi. Kali ini, ia pasrah dan memutuskan untuk mengalah dan mengakui kebohongannya.

 

   Menyadari kawannya yang tampak semakin murung seraya menahan urat malunya membuat Master Nevin memunculkan ide cemerlang yang terbesit dalam benaknya.

 

   Ia yakini tekadnya sekali lagi secara bulat-bulat; tak akan ada lagi Raja Ayon yang tenggelam dalam lautan lara sampai hari esok.

 

   Master Nevin berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan senantiasa mengembalikan tulusnya senyuman milik Raja Ayon seperti semula. Bagaikan sang mentari yang bersumpah kepada sang semesta dan seisinya bahwa ia akan mengembalikan cerahnya cahaya sang rembulan yang senantiasa mengusir gelap gulitanya malam yang mencekam.

 

   Master Nevin bangkit dari duduknya, ia mengulurkan tangannya kepada Raja Ayon dengan penuh semangat dan percaya diri, “Ayon, ayo, berdiri!”

 

   Raja Ayon sontak menengadahkan kepalanya dengan ekspresi kebingungan, “apalagi yang kau mau? Bodoh.”

 

   “Ayo, kita berdansa!”

 

   Raja Ayon mengedikkan bahunya, masih memproses setiap kata yang kawannya ucapkan. Takut bila salah dengar, pikirnya.

 

   Master Nevin menggerakkan uluran tangannya, meminta arahan dari kawannya untuk menerima uluran tangannya dan segera bangkit dari duduknya, “apalagi yang kau tunggu, Yon? Ayo, bangkitkan tubuhmu yang menyedihkan dari kursi usangmu itu! Kemudian berdansalah bersamaku!”

 

   Kali ini, Raja Ayon mengerjapkan matanya berulang kali. Di saat itu juga, wajahnya terasa lebih panas, hatinya semakin menggebu-gebu, aliran darahnya terpompa kuat ke seluruh penjuru tubuhnya. Rasanya seperti menunggangi kuda tergagah di perlombaan berkuda musim panas. Namun, yang kali ini berbeda, yang kali ini jauh begitu menantang, pula memacu adrenalin. Apapun itu sebutannya, Raja Ayon menyukai perasaannya. Raja Ayon menyukai gejolak adrenalinnya yang semakin menggebu-gebu.

 

   Masih dengan permintaannya yang menggantung karena tak segera direspon, Master Nevin sontak menghela napasnya, lagi. “Gini, Yon, aku persingkat biar lebih jelas, ya?” Master Nevin menunjuk ke arah area sparring, “aku, kamu, berdansa di sana.”

 

   “Kita?”

 

   “Kita.”

 

   “Tapi, untuk apa?”

 

   “Kamu sedang tidak baik-baik saja, Yon. Aku paham akan hal itu. Dan kamu perlu lepas dari perasaan burukmu itu. Karena kamu tidak mau mencurahkan isi hatimu kepadaku, jadi, lebih baik kita berdansa. Kegiatan seperti ini bisa membuatmu lepas dari perasaan buruk yang kamu rasakan saat ini, Yon.”

 

   “Nevin, kamu tau ‘kan kalau aku tidak bisa berdansa?”

 

   Mendengar itu, Master Nevin dengan segera menundukkan badannya, kemudian mengelus jari jemari Raja Ayon dengan perlahan. Berusaha menenangkan isi pikiran Raja Ayon dengan sentuhan lembutnya agar ia mampu menautkan jari jemari miliknya ke jari jemari milik Raja Ayon tanpa penolakan darinya. “Kamu mau tau sesuatu tidak? Kenyataannya, aku juga sama payahnya sepertimu, Yon. Yang tadi itu hanya gerakan asal yang tercipta dengan perasaanku saja. Maka dari itu, kita belajar sama-sama, ya?”

 

   Nyatanya, walau Raja Ayon tersadar pun, ia tak akan pernah menolak tautan jari jemari Master Nevin yang hangat untuk jari jemarinya yang dingin.

 

   Wajahnya tampak lebih dekat dari sini, seluruh detail lekukan wajahnya tampak semakin cantik pula jika dipandang dari jarak dekat. Kulit putihnya yang terihat bersih dan sehat walau terpapar sinar matahari dan polusi setiap harinya, surai mahoninya yang hampir menutupi seluruh bagian dahi dan daun telinganya, bentuk hidungnya yang mancung, bulu mata lentiknya yang begitu memukau, bibir ranumnya yang mengukir senyuman termanis yang pernah tampak di Elheims, serta sepasang netra biru sebiru cakrawalanya yang keindahannya mampu mengingatkannya pada cantik eloknya cakrawala saat sedang berada di daratan untuk pertama kalinya.

 

   Tak ada yang seindah matamu

   Hanya rembulan

 

   Sungguh, Raja Ayon mengagumi segala hal yang ada pada dirinya; Master Nevin.

 

   Tanpa aba-aba, Master Nevin menarik lengan Raja Ayon ke tengah area sparring dengan senyuman tengilnya, “jangan terlalu serius untuk mencoba memahami apa yang seseorang katakan, ya, Yon. Nanti kamu jadi lengah seperti ini.” Kemudian, Master Nevin terkekeh.

 

   Raja Ayon mengatur napasnya yang tak beraturan, masih terkejut dengan tindakan tak terduga beberapa detik sebelumnya. “Nevin, yang tadi itu apa-apaan? Kamu ini tidak ada moralnya, ya? Bodoh, kamu orang bodoh.”

 

   “Ha! Sudah terlambat untuk mengeluh. Tatapanmu tadi kuanggap sebagai persetujuan, Yon. Kamu tampaknya tidak sabar untuk berdansa bersamaku, ya? Haha!”

 

   “Tunggu, sejak kapan aturannya jadi begitu? Kalau sudah begini, ini namanya pemaksaan, dan bukan persetujuan, Vin. Lagipula, kau ingin membangunkan warga Elheims dengan irama piringan hitam, ya? Di mana akal sehatmu, Nevin?”

 

   “Siapa bilang kita akan menggunakan piringan hitam?”

 

   Raja Ayon mengerjapkan matanya, “aku tak pernah mengerti isi pikiranmu di dalam kepalamu yang kosong itu, Vin. Sekarang, ide bodoh apalagi yang kau punya?”

 

  Master Nevin melepaskan pegangan tangannya, kemudian mengarahkan lengannya ke pundak Raja Ayon dengan perlahan, “selain menjadi orang pertama yang berdansa di lantai area sparring di Elheims, kita juga akan menjadi orang pertama yang berdansa dengan iringan irama terpaan ombak yang menerpa karang, Yon.” Setelah itu, Master Nevin memposisikan lengannya di Pundak Raja Ayon senyaman mungkin. Juga, ia tak ingin membuat Raja Ayon merasa keberatan dengan tingkah lakunya

 

   Yang diajak bicara tak merespon apapun selain berinisiatif menurunkan kedua lengannya ke pinggang ramping lawan bicaranya. Kemudian, ia menatap lawan bicaranya yang masih sibuk memposisikan lengannya di pundaknya yang lebar. Dalam, ia menatapnya begitu dalam. Dan akhirnya, sepasang netra mereka bertemu. Atensi mereka tertuju pada satu sama lain. Perlahan, dalamnya tatapan itu membentuk rasa percaya kepada satu sama lain. Hingga akhirnya, gerakan demi gerakan terbentuk dengan kepercayaan yang terbangun pada satu sama lain, menyeiramai derasnya terpaan ombak laut yang menerpa karang begitu derasnya, hembusan angin malam, dan hitungan dentuman detak jantung.

 

   Sesekali, Master Nevin membuka matanya yang sedari tadi berusaha untuk fokus pada pergerakan untuk melihat pergerakan pasangan dansanya; Raja Ayon. Sesekali juga, ia membalas kontak matanya.

 

   Yang ia sadari; sepasang netra biru sebiru samudera milik Raja Ayon tampak begitu cantik dan mengagumkan bila dipandang dari jarak dekat. Seolah-olah, membuatnya merasakan rasanya mengarungi tujuh samudera dalam waktu yang bersamaan.

 

   Atensi Raja Ayon yang tak kunjung lepas membuat Master Nevin terkekeh, “aku tau matamu cantik, Yon. Tapi, jangan tatap aku seperti itu, dong. Tanpa kau menatapku seperti itu, aku sudah menyadari cantiknya matamu, ‘kok.” Setelah itu, Master Nevin tertawa lepas. Tak kuasa menahan tawanya sedari tadi.

 

   Tak ada yang selembut sikapmu

   Hanya lautan

 

   Ah, tawanya, menggemaskan, cantik. Pula afirmasinya, tulus, juga cantik.

 

   Sekali lagi, Raja Ayon mengagumi segala hal yang ada pada Master Nevin. Raja Ayon mengagumi segala hal yang tak seorang pun miliki sedemikian rupa layaknya Master Nevin.

 

   Segala hal yang ada pada dirinya adalah anugerah terbaik yang semesta dan seisinya miliki.

 

   Malam itu; jari jemari saling menyeimbangi tubuh, ketukan telapak kaki bergema ke seluruh penjuru area sparring, kedua jantung milik masing-masing insan berseirama detakannya. Tak ada lagi malam yang sunyi dan hampa kala itu.

 

   Pula, tak ada lagi Raja Ayon yang terus tenggelam dalam lautan lara tiada hentinya.

 

   Kini, sang rembulan kembali menyinarkan cahayanya ke seluruh penjuru bumi berkat jasa sang mentari.

 

   Seperti yang tertulis dalam sejarah; kala itu, sang rembulan ditakdirkan menjadi saksi bisu keselarasan gerakan mereka berdua di lantai pijakan yang sama. Tubuh yang saling menyeimbangi gerakan, dalamnya tatapan yang mengandung seribu makna, tulusnya senyuman dan gelak tawa, semuanya. Semuanya terukir dalam memori jangka panjang

 

   Juga, Raja Ayon mencintai Master Nevin dengan sepenuh hatinya.

   Begitu juga dengan Master Nevin.

 

III. Tidak ada Elheims

 

   Hari pertama di musim semi setelah peperangan besar akhirnya telah tiba.

 

   Corak warna yang beragam di daratan tak pernah gagal untuk memikat hati pengagumnya. Terutama untuk mereka yang sedang berada di lima fase kesedihan; penolakan, amarah, berharap, depresi, dan penerimaan.

 

   Cakrawala biru terbentang luas begitu indahnya, sang mentari menyinari seluk beluk bumi dari kelamnya kegelapan, pepohonan serta rerumputan terlihat begitu subur dan asri, aroma khas embun pagi yang menetes dari dedaunan, kupu-kupu yang terbang bersama hembusan deru angin, serta bunga-bunga yang beragam coraknya. Jika sudah begini, orang aneh mana yang dengan relanya menolak untuk menikmati cantik eloknya semesta dan seisinya di musim semi?

 

   Sekilas, tampak bunga-bunga bercorak biru lazuli yang tumbuh begitu suburnya di dekat pancuran air. Cantik, menawan, mengagumkan, mengingatkannya akan eksistensi seseorang yang pernah singgah di halaman kisah hidupnya untuk mengusir kelamnya kegelapan; Master Nevin.

 

   Ya, Nevin, Master Nevin, hanya Master Nevin seorang; sang pengagum mahakarya semesta dan seisinya. Pula, sang pengagum segala detail kecil yang ada pada seluk beluk semesta dan seisinya.

 

   Semesta, betapa beruntungnya engkau. Engkau harus tahu bahwa ada seorang pengagum rahasia yang ternyata mengagumimu dengan sepenuh hatinya. Layaknya diriku yang juga mengagumi eksistensinya dengan sepenuh hati tanpa pengecualian apapun. Bahkan, walau badai besar menghantamku, walau gemuruh petir menyambarku, walau hukuman mati mengusik tentramnya hidupku, tak akan pernah menyerah diriku untuk terus mengaguminya.

 

   Tak akan pernah dan tak ada pengecualian apapun.

 

   Jari kelingking sudah bertaut, menciptakan janji yang tak berhak untuk diingkari.

 

   Di sini, janji yang pernah ditulis dengan tinta terbaik di kertas yang menguning kembali terucap. Di sini, di ladang bunga yang berisikan bunga-bunga forget-me-nots yang tumbuh dengan suburnya, menjadi saksi bisu bahwa anganku teringat kembali akan dirimu yang telah kembali ke pelukan semesta. Forget-me-nots; bunga kesukaanmu, bunga yang sama cantiknya seperti jiwa ragamu, bunga yang tak pernah gagal untuk menyesakkan dadaku bila dipandang terus menerus. Menciptakan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan dengan puisi berbait.

 

   Forget-me-nots; bunga dengan corak biru lazulinya yang mencolok. Merepresentasikan rasa kasih sayang dan kesetiaan yang abadi untuk mereka yang kembali ke pelukan semesta lebih dulu. Selain itu, bunga ini juga merepresentasikan memori abadi. Dengan harapan bagi mereka yang menerimanya atau merawatnya agar tak melupakan memori yang pernah terukir bersama sebelum akhirnya takdir merenggut segalanya yang pernah hadir.

 

   Cantiknya bunga ini memikat perhatian banyak kupu-kupu. Terutama, kupu-kupu bersayap biru yang hinggap seorang diri di sana. Kupu-kupu yang paling mencolok coraknya. Seolah seluruh atensi di dunia hanya tertuju padanya.

 

   Cantik, kupu-kupu tercantik yang pernah kulihat.

 

   Sekilas, teringat diriku akan ucapanmu dalam tautan jari kelingking kala itu.

 

   “Yon, jika seandainya aku pergi lebih dulu, aku akan datang menghampirimu dengan wujud kupu-kupu bersayap biru tercantik yang pernah kamu lihat. Aku akan menghampirimu di masa terpurukmu, di kala kamu memupuk rindu terberatmu kepadaku. Ingat janjiku, ya? Itu pun jika kau benar-benar merindukanku, haha.”

 

   Selalu, Nevin, Master Nevin. Selalu.

   Akan senantiasa kuingat selama takdir merenggut segalanya.

 

   Karena, janji yang pernah terucap adalah janji yang harus ditepati.

 

   Tak tergantikan oh

   Walau kita tak lagi saling

   Menyapa

 

   Seperti yang tertulis dalam sejarah; setetes air mata dengan rasa rindu yang memupuk menggenang di pelupuk matanya. Hingga akhirnya, menetes juga dengan rasa pilu membiru yang mendominasi. Kala itu, Elheims ditakdirkan menjadi saksi bisu bahwa Raja Ayon akan senantiasa mencintai Master Nevin dengan sepenuh hatinya tanpa pengecualian apapun. Bahkan, sampai takdir merenggut segalanya.

 

   Yang tak mereka tahu, sang rembulan selalu mendambakan eksistensi cantik eloknya sang mentari.

   Sang rembulan selalu memupuk rindu terberatnya kepada sang mentari.

 

   Walau sang rembulan tahu harus menerima kenyataan terberat bahwa sang mentari tak akan pernah memancarkan cahaya yang sama lagi.

 

FIN.

Notes:

Terima kasihku sebanyak-banyaknya untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca ini :)

Terima kasihku juga untuk beta readers yang kusayangi dan kubanggakan; vertaphosis dan chaelkel_ (all on Twitter) <3

Semoga fanfiksi ini bisa menjadi hiburan kalian di lembaran baru tahun ini. Love you, guys.