Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-01-02
Words:
2,894
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
63
Bookmarks:
4
Hits:
512

an idiot's guide to dating your best friend

Summary:

Ucup dan Piko mencoba melakukan hal-hal yang lebih seperti orang pacaran untuk spice things up dalam hubungan mereka yang baru seumur jagung.

Pilihan Ucup jatuh kepada tidur bareng.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Semuanya berawal dari beberapa pekan silam. 

Ucup dan Piko berjalan bersisian setelah pulang dari minimarket, masing-masing membawa satu tas kain besar berisi berbagai makanan ringan dan minuman berperisa. Konteksnya adalah Fella lupa membeli kudapan untuk movie night dalam perjalanannya ke rumah Ucup, lalu tidak ada yang mau bergerak setelah semuanya duduk nyaman di ruang tengah. Akhirnya, wheel of names—solusi untuk semua momen ketika mereka tidak bisa memutuskan sesuatu—menunjuk Piko untuk pergi belanja.

Ucup? Tidak ada yang menunjuk, ia hanya menawarkan dirinya sendiri. Sekalian pacaran tipis-tipis, bunyi akal bulusnya.

“Cup, lo suka ngerasa awkward nggak, sih?” Di antara langkah-langkah mereka, Piko tiba-tiba membuka pembicaraan dengan sebuah keluhan.

"Maksud lu?"

"Ya… kayak ini," Piko menggoyangkan sebelah tangannya yang berada dalam genggaman Ucup.

"Maksudnya awkward kalo pegangan tangan sama gue?" Ucup balas bertanya. "Ih… lu jijik sama gue, ya… tenang aja, ini gue pegangan tangan bukan pakai tangan yang bekas coli."

"Bukan gitu maksudnya…"

"Terus gimana?"

“Aneh nggak sih, kalau gue bilang kadang rasanya suka awkward karena belum kebiasa pacaran sama lo?”

“Hmm… enggak juga, sih,” Ucup bergumam sendiri. Beberapa hal memang butuh waktu, kan? Terdengar cukup masuk akal baginya. “Tapi gue agak nggak ngerti, maksudnya lu masih ngelihat gue sebagai temen gitu atau gimana, Pik?”

Piko malah bungkam. Ia bingung bagaimana harus menjelaskannya. Semenjak resmi mengubah status dari teman menjadi pacar beberapa minggu silam, Piko dan Ucup sudah melakukan beberapa hal:

  • Pergi keluar berdua (yang rasanya hampir tidak ada bedanya dengan ketika mereka masih menjadi sobat kental dulu), sudah. (ini kencan, kan? Kencan beneran? Piko mengulang-ulang untuk memastikan)
  • Go public ke komplotan lainnya, sudah. (tuh kan, gue bilang apa. Lu semua kalah taruhan, masing-masing gocap ke gue, sini, ujar Fella, beberapa detik setelah Ucup dan Piko mengumumkan hubungan mereka. Memang nalurinya sebagai bandar judi sudah mengakar.)
  • Soft launching pacar di story Instagram, sudah. (kamu kalau nge-post pilih-pilih, lah, masa udah nggak kelihatan mukanya, akunya lagi minjem jaket ojol punya si Tuktuk… emangnya kamu pacaran sama kang ojek, protes Ucup)
  • Berpegangan tangan, sudah. Menurut mereka berdua, ini adalah jenis kontak fisik romantis paling ringan yang tidak mungkin mereka lakukan sebagai teman. Kali pertama Ucup mencoba meraih tangan Piko, mereka berdua sama-sama berjengit geli sendiri karena terlalu gugup.
  • Mengirimkan pesan selamat pagi dan selamat malam, sudah. Menurut mereka berdua juga, ini tidak mungkin dilakukan oleh dua orang teman.
  • Memanggil satu sama lain dengan “Sayang”, sudah. Kalau yang ini, dari deskripsi aktivitasnya saja sudah cukup menjelaskan tentang mengapa ini tidak sebaiknya dilakukan oleh dua orang teman.

"Jadi Cup, maksudnya tuh, menurut gue ini rasanya kurang kayak orang pacaran…" Piko melanjutkan hati-hati. Ia buru-buru menambahkan sebelum raut wajah Ucup berubah sedih, "bukannya gue nggak seneng pacaran sama lo! Gue sayang banget… gue sayang sama lo, Cup, cuma yang kita lakuin selama ini nggak beda jauh sama pas kita masih temenan dulu. We need to… apa, ya… spice things up? Mungkin?"

"Pik, ulang lagi coba."

"...spice things up? Ngerti, kan?"

"Bukan, yang sebelumnya. Yang ada sayang-sayangnya itu."

Piko mendelik malas. Sebuah siaran ulang dalam slow motion akhirnya ia tampilkan agar pemuda itu puas. "Gue sayang sama lo, Cup."

Ucup menyeringai senang. "Gue juga sayang sama lu, Pik." 

"Ya udah, balik ke topik awal… tadi lo ngerti kan, maksud gue apa?"

"Ngerti… maksudnya, kita mesti nyoba ngelakuin hal-hal yang lebih kayak orang pacaran, ya?"

“Iya… biar kita lebih terbiasa pacaran, terus jadinya nggak awkward lagi, gitu. Tapi apaan, ya? Kita nge-date juga udah sering, pegangan tangan juga udah.”

“Oh… gue tahu.

Gimana kalau kita tidur bareng aja, Pik?” Ungkapan tersebut tentu saja membuat Ucup dihadiahi sebuah pukulan—sedikit diniatkan untuk sungguhan menghajar, namun lebih banyak sayangnya—tepat di kepalanya. 

“Lo bisa nggak sih, nggak mikirin gitu-gituan seenggaknya pas matahari masih ada, gitu?"

"Ih, bukan… maksudnya, nggak tidur yang… gitu…" Ucup membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu mengarahkan telunjuk lainnya keluar dan masuk. Piko cepat-cepat menghalaunya kasar sebelum rating fanfiksi ini berubah.

"Enggak, Pik. Kita tiduran bareng di tempat yang keren. Pasti nanti lu suka. Seumur hidup gue, secara personal, gue nggak pernah kepikiran ngajak temen gue ke sana.

Tapi kalau ngajak pacar, gue nggak akan mikir dua kali."

Piko berharap jawabannya bukan trotoar di pinggir flyover, hotel cinta bintang dua, parkiran rest area, atau tempat-tempat aneh lainnya, namun ia percayakan agenda tidur bareng-nya kepada Ucup. “Ya udah, Cup. Gue ikut lo aja.”

--

Ucup mengusap matanya yang masih lengket. Buah pinus sialan! Ia masih bisa tidur lebih lama jika saja buah itu tidak tiba-tiba memutuskan untuk jatuh persis di atas hidungnya. Ia mengerang malas, meluruskan tubuhnya, lalu berguling ke samping. Tepat di sisi wajahnya, ada Piko yang sedang tertidur damai.

Betul, Ucup menepati agenda tidur bareng-nya. Tempat pilihannya adalah Kebun Raya Bogor. Jadi, di sinilah mereka sekarang.

Sejujurnya, Ucup tidak ingat juga bagaimana ceritanya mereka bisa sampai tidur pulas begini. Satu hal yang ia ingat, setelah menghabiskan bekal mereka, Ucup sibuk bermain game di ponselnya sambil tiduran. Sementara, Piko masih melanjutkan sketsa Kolam Teratai di buku kecilnya. Saat ia tiba-tiba terbangun, ia sudah disambut pemandangan kekasihnya yang sedang lelap.

Ucup tidak bisa menahan senyumnya. Piko sepertinya jatuh tertidur tanpa persiapan. Buku sketsanya tergeletak di sisi kepalanya, masih dalam keadaan terbuka. Pensil-pensilnya terserak sembarangan. Jaketnya tersampir di atas pinggangnya, seperti hendak dikenakan sebagai selimut namun ia terlalu mengantuk untuk itu.

Dengan hati-hati, Ucup meraih jaket itu, yang lalu dihamparkannya menutupi tubuh dan lengan Piko, kalau-kalau ada nyamuk yang kepikiran untuk mendekat. Mereka sempat membicarakan seberapa besar potensi perjumpaan dengan nyamuk kebun di sini, namun nyatanya, dari tadi mereka lebih banyak bertemu tawon. (Ucup lebih banyak berseru pahit-pahit-pahit dibandingkan Piko, tadi Piko menghitung)

Piko saat tidur sayang untuk dilewatkan, kenapa Ucup baru sadar sekarang? Mereka memang pernah beberapa kali tidur bersama sebelum berpacaran dulu, namun seringnya, Ucup tidur lebih dulu. Atau cahaya ruangan terlalu gelap sehingga Ucup kesulitan mengamati apa pun pada wajah Piko. Atau ada Gofar yang tiba-tiba berguling dalam tidurnya dan berakhir di antara Ucup dan Piko, membuat Ucup kehilangan jejak Piko (yang ini ketika mereka tidur ramai-ramai di ruang tengah).

Ucup menghela napas panjang. Ini pertama kalinya ia punya kesempatan mengamati Piko yang sedang tidur di siang hari dari jarak sedekat ini. Anak-anak rambut Piko yang berantakan disisirnya lembut, dirapikan sehingga tidak menghalangi matanya. Kedua alisnya sesekali berkerut, entah apa yang terjadi dalam mimpinya. Piko tidak mengigau saat tidur (setidaknya, tidak lebih sering dibandingkan Ucup), namun bibirnya suka bergerak kecil seperti sedang merapal sesuatu tanpa suara. Kadang-kadang, Ucup suka berpura-pura menanggapinya dengan, hmm, gitu, ya? atau terus, terus… oh… gitu, meskipun ia juga tidak yakin pemuda itu sungguhan sedang mengutarakan sesuatu. Lucunya, kadang Piko akan mengangguk-angguk samar, seperti mengiyakan tanggapan Ucup.

Memang lucu. Semua tentang Piko.

Setelah dipikir-pikir lagi, selain kekenyangan selepas makan dan angin sepoi-sepoi yang membuat nyaman, sepertinya faktor lain yang membuat mereka cepat mengantuk adalah kelelahan setelah berjalan kaki beribu langkah. Ucup dan Piko sudah memutari tempat ini dari depan hingga belakang; masuk ke Rumah Anggrek yang megah, melihat kantung semar di Kebun Nepenthes, mengikuti plang bertuliskan Rafflesia arnoldii hanya untuk tidak melihat apa-apa (karena ternyata bunganya sudah tidak mekar lagi), menyusuri jalanan rindang di tepi Kolam Gunting yang mengarah ke Istana Bogor, hingga duduk-duduk di Taman Akuatik. 

Ucup sudah menawari Piko untuk menyewa skuter saja, namun pemuda itu menolak dengan alasan, mau bisa pegangan tangan sama Ucup (Ucup sudah siap melarikan dirinya ke toko emas terdekat untuk membeli cincin). Mereka akan berhenti di beberapa sudut, lalu Ucup membiarkan Piko mengambil foto-foto dengan ponselnya untuk dijadikan referensi saat menggambar. Sekali waktu mereka melewati tanaman-tanaman yang terlihat menarik, Piko akan bertanya kepada Ucup, kalau bisa terlahir kembali jadi tanaman, kamu mau jadi apa?

Ucup menjawab, akasia, sambil menunjuk pohon berbatang tebal dan kokoh itu. Soalnya dia diem doang di tengah hutan. Adem. 

Piko mengernyitkan dahinya, semua tanaman juga diem aja kali, Cup.

Saat kaki mereka sedikit lagi menyerah (ini fix nanti sampai rumah gue mau pakai koyo yang banyak, gerutu Piko), Ucup menunjuk area kecil di bawah pohon, tidak jauh dari Kolam Teratai. Ucup selalu ingat tempat ini dari salah satu memori masa kecilnya, yaitu ketika ia ketiduran di atas tikar sehabis disuapi spageti yang sudah berbentuk kotak mengikuti wadahnya oleh ibunya. Memori yang baik, terlepas dari apa-apa yang terjadi setelahnya. Karenanya, ia sudi mengulanginya lagi bersama Piko. 

Masih sambil menguap, Ucup mengecek ponselnya yang sedari tadi tergeletak di dekat kepalanya. Hah, udah jam setengah empat?

“Heh, bangun!” Ucup menyikut Piko yang masih berbaring sambil memejamkan matanya. Pemuda yang disenggol hanya tertawa kecil, masih sambil memejamkan mata.

“Masih pengen tiduuur…” balasnya setengah merengek. Ucup menatap gemas saat pemuda itu malah membenarkan posisi tidurnya. Ia segera memindahkan bekas minuman mereka, takut-takut Piko menyenggolnya sambil mengigau.

“Lu mau digrebek Satpol PP di sini?”

“Yakeles, mana ada Satpol PP jaga di sini.”

“Ada lah, kan, deket Istana Bogor. Kan, presiden suka ke sini.”

“ITU PASPAMPRES!”

“Ya… ya udah, kan mirip!”

“Nggak, lah! Lagian mau ngapain kita digrebek?”

“Kan, kita abis tidur bareng.”

“…tiduran bareng...”

“Ya… tapi kan, secara teknis, tidurnya barengan.”

Piko menggumam sebal. “Terserah.”

“Nggak Pik, tapi serius. Udah mau jam empat. Katanya masih mau ke Museum Zoologi? Tempatnya kan, jauh dari sini.”

“Mmm… kapan-kapan aja, deh,” erangnya malas. Ucup langsung menampilkan wajah cemberutnya. Sebenarnya, harus diakui bahwa ialah yang lebih ingin ke museum dibandingkan Piko. Sedari pagi, ia sudah membayangkan akan berjalan di bawah replika tulang-belulang paus, lalu menebak-nebak cerita di balik diorama hewan. Sepertinya, Piko hanya terlalu ahli mempromosikan tempat itu kepadanya. 

Kendati demikian, kerutan di wajah Ucup cepat-cepat hilang, digantikan seringai kecil. “Oh, gitu. Biar bisa ke sini lagi sama gue, ya?”

Piko akhirnya membuka matanya, melirik Ucup sambil tersenyum sebal. “Iya, deh. Biar lo seneng.”

“Iya, gue seneng, kok. Lu seneng, nggak?”

Biasanya, Piko akan melakukan segala hal untuk menampik pertanyaan Ucup; untuk mengalihkan dirinya dari keharusan menjawab pertanyaan Ucup. Kali ini, ia tidak mengelak. Piko hanya tersenyum kecil sambil mengangguk-angguk. Ucup tidak menanggapi dengan apa pun, ia hanya merebahkan dirinya lagi di sebelah Piko, namun sambil bertelekan dengan sikunya.

“Ya udah, tidur lagi aja,” Ucup berujar lembut sambil menyisir anak-anak rambutnya.

“Udah nggak ngantuk lagi, Cup. Gimana, nih?”

“Yah, aneh lu, kucing dielus-elus tidur, lu malah bangun.”

“Ya karena gue bukan kucing…” 

Ucup tertawa geli mendengarnya. “Kalau dicium, tidur apa bangun?”

Piko terdiam. Ia mau bersumpah dalam hati bahwa Ucup terdengar sangat menggelikan. Sialnya, pemuda itu menatapnya dengan serius, ia jadi tidak enak hati untuk tertawa. Akhirnya, Piko mengambil jalan tengah dengan memejamkan matanya lagi.

“Coba cari tahu sendiri aja,” ucapnya pendek. Beberapa saat kemudian, ia dapat merasakan jemari Ucup mengusap pipinya perlahan. Lalu, anak-anak rambutnya yang ditepikan. Terakhir, Ucup yang mengecup bibirnya lembut. Piko tidak dapat menahan tawanya.

“Kok, ketawa?” Ucup protes.

“Itu tuh, namanya lagi seneng,” Piko masih tersenyum, matanya terpejam. “Nggak suka banget lihat orang seneng, ya?”

“N-nggak gitu,” Ucup lantas berusaha membela diri, terdengar salah tingkah. Padahal bukan kali pertama mereka berciuman, namun reaksi Piko yang kelewat santai diam-diam membuatnya gugup. 

Ucup akhirnya turut berbaring di sebelah Piko. Mendadak, semua rencananya menghabiskan sisa waktu hari ini kalah serunya dibandingkan tidur-tiduran di atas alas piknik bersama Piko. 

"Ini kita jadinya tidur bareng aja nih, sampai tempatnya tutup?" Piko memastikan, meskipun terdengar canda dalam suaranya.

“Kalau tidur barengnya sama lu, gue rela digrebek paspampres, deh.” Ucup cekikikan sendiri.

“PASPAMPRES BUKAN TUKANG GREBEK, UCUUUP!”

--

"Gimana Pik, hari ini?"

"Capek," Piko menjawab pendek, sedikit tidak jelas karena mulutnya dipenuhi bakso. Ucup ingin menegur, habisin dulu baru ngomong, namun ia juga sama saja, berbicara dengan mulut penuh.

Mereka sudah duduk nyaman di salah satu ujung kursi kereta, menghabiskan bakso tusuk dalam plastik yang dibeli di depan stasiun dengan sedikit terburu karena khawatir ditegur petugas. Sebenarnya, mereka sadar ada larangan makan di kereta, namun Ucup berdalih, kan, keretanya belum jalan.

“Tapi seneng, kok,” Piko menambahkan, masih dengan mulutnya yang penuh. Ucup sudah tidak tahan melihat daun bawang yang menempel di pinggir mulut Piko sejak tadi. Akhirnya, dengan hati-hati, ia menyekanya dengan ibu jarinya. Piko meringis geli, namun ia sudah menerima fakta bahwa ia sering celemotan saat makan.

“Makasih Cup, udah ajakin aku ke sini. Seneng banget. Enak. Tidur di bawah pohon aja padahal tapi pewe banget.” Piko lanjut mencerocos sambil berusaha menusuk baksonya. Ucup tertawa geli karena Piko tidak biasanya begini. Piko sering terlihat sendu dan serius; itu membuat Ucup ingin melindunginya. Ternyata, melihat Piko yang cerah seperti ini semakin membuatnya ingin menjaga agar senyum di wajahnya tak perlu memudar.

“Tadi tuh, lo milih spot di deket Kolam Teratai karena kebetulan kosong di situ aja atau emang lo tahu di situ yang enak buat tiduran?” Piko bertanya polos.

“Dulu gue suka ke sana bareng nyokap gue,” jawab Ucup santai. Dari sudut matanya, ia bisa melihat perubahan raut wajah Piko sepersekian detik kemudian; pemuda itu mendadak menusuk-nusuk baksonya tanpa minat, seperti menyesal telah tidak sengaja memantik topik ini. Mereka berdua sama-sama kurang suka membahas soal orangtua, namun Piko tahu persis Ucup lebih menghindari topik tersebut dibandingkan dirinya.

Ucup menepuk lembut paha Piko, mengisyaratkannya bahwa ia tidak masalah membahas masa kecilnya sedikit.

“Lu pernah nggak sih, pergi sama ortu yang piknik gitu? Terus dibawain bekel? Gue pernah… dulu gue menu wajibnya spageti. Spagetinya pake saos tomat sama garem DOANG… gue masih inget banget. Soalnya gue dulu nggak bisa makan pedes. Sekarang juga masih nggak bisa, sih…" Ucup tertawa kecil sambil melirik plastik bakso di tangan Piko. Warna kuahnya sudah tidak karuan dari campuran sambal, kecap, dan cuka. Sementara, kuah dalam plastik Ucup berwarna bening tanpa tambahan apa pun.

“Dulu kita selalu piknik di spot yang tadi. Gue disuapin spageti yang bentuknya udah jadi kotak soalnya kelamaan ditaruh di tempat makan… terus abis makan gue ketiduran. Nyokap gue nggak tega bangunin, terus biasanya gue baru dibangunin sejam kemudian pas kita udah harus siap-siap balik.

Good old times.” Ucup tersenyum tipis sambil menoleh ke arah Piko, seolah berkata, gue nggak papa bahas ini, kok, sumpah. Masih ada setitik sesal di wajah Piko, namun setelah sebuah helaan napas yang panjang, ia memilih untuk menuturkan ceritanya juga. Mungkin bisa membuat Ucup merasa tidak sendiri, pikirnya.

"Kalau dulu, bokap gue ngajaknya piknik di Ancol,” ujarnya. Kepalanya disandarkan sedikit pada bahu Ucup, sementara ia kembali menghabiskan baksonya. “Jadi, pagi-pagi buta dia goreng nugget sama sosis curah, yang warna merahnya mencurigakan itu sama banyakan tepung daripada dagingnya. Terus masak mi goreng sama bikin teh manis anget yang dimasukin ke termos. Terus semuanya dimasukin ke keranjang plastik yang gede itu… lu tahu nggak, sih, yang bolong-bolong, terus warnanya hijau mentereng.

Terus kita ke Ancol naik motor pagi-pagi buta biar dapet sunrise. Gue pasti masih ngantuk, jadinya diiket ke badan Bokap pakai selendang. Udah kayak jamu gendongan.”

“Terus lu tiduran di mana?” Ucup membalas geli, mulai tertarik pada cerita masa kecil Piko yang ini.

“Hmm… kita sewa tikar di abang-abang gitu, terus milih tempat yang nggak jauh dari pinggir pantai sama ada pohonnya. Bokap gue pasti ngejar-ngejar gue buat nyuapin gue, soalnya gue suka keasyikan main pasir.” Ia tergelak sendiri mengenang Piko kecil yang terlalu fokus bermain pasir sampai menolak makan dan menyusahkan papanya.

"Ya udah, yuk? Next kita ke Ancol?"

"Hah?" Piko langsung mengangkat kepalanya yang tadinya sudah nyaman bersandar, terperanjat. Pasalnya, Ucup kerap tiba-tiba mencetuskan sesuatu tanpa aba-aba.

"Iya, kan, hari ini kita habis mengunjungi tempat dari masa kecil gue. Berikutnya gantian lu, dong. Nanti gue bawa mobil deh, biar kita bisa sekalian keliling-keliling Ancol,” jelas Ucup tenang. “Nanti gue ajak lu naik gondola juga biar kita bisa ciuman di atas laut.”

Ucup kembali dihadiahi toyoran penuh kasih sayang di kepalanya. Piko… tidak akan menolak juga, sih, ia hanya takut ada anak di bawah umur di dekat mereka yang sedang mencuri dengar hal-hal yang tidak seharusnya. Lalu mereka akan digiring ke luar gerbong dengan tuduhan perencanaan tindakan asusila.

“Bagus kan, ide gue?” Ucup membela diri, tawanya masih berderai.

"Boleh,” Piko tersenyum setuju, meskipun masih tidak habis pikir dengan banyaknya konten jorok di kepala Ucup. “Sekalian goreng nugget sama sosis, nggak?"

"Iya, tapi jangan yang curah, lah. Lu kan, udah punya duit sendiri. Bisa lah, beli yang mahalan dikit. Merek Silver Farm oke tuh, cincai, lah…” Mereka berdua tergelak-gelak, mengingat honor pertama Piko dari kerja sampingannya langsung digunakannya untuk membeli nugget stick Silver Farm ukuran setengah kilo. Sebulan penuh, setiap hari Piko makan nugget

Menyedihkan lu, kayak orang nggak pernah makan nugget, ledek Ucup waktu itu.

Biarin, emang nggak pernah makan yang ini. Kata orang-orang enak. Piko tidak menggubris, sibuk melahap nugget dengan nasi putih panas.

"Ternyata, meskipun udah bertahun-tahun temenan sama lo, masih ada hal-hal yang gue nggak tahu soal lo, ya." Setelah tawa mereka mereda, Piko kembali memandangi Ucup. Seperti pemuda itu adalah keajaiban paling besar yang pernah terjadi di hidupnya. Kadang, ia tak habis pikir, apakah memang butuh selamanya bagi mereka untuk bisa saling mengenal? Atau mungkin, itu bukan hal yang seharusnya ia pusingkan karena bagian dari membangun hubungan adalah selalu belajar mengenal orang yang sama setiap harinya?

"Lu juga gitu. Banyak amat, rahasia lu." Ucup terkekeh. Bekas plastik bakso tusuk di tangan Piko diambilnya, lalu dijejalkannya ke plastik berisi sampah yang mereka kumpulkan sepanjang perjalanan tadi. Plastik itu diikat, kemudian dimasukkan ke tas ransel Ucup.

“Ngaca, Cup.” Piko menanggapi dengan malas sambil melipat tangannya. Kereta sudah mulai berjalan perlahan, derak-derak rodanya mengguncang tubuh mereka lembut. Masih sekitar satu jam lagi menuju tujuan akhir mereka.

Piko menoleh ke arah Ucup yang sudah asyik memainkan ponselnya. Ia lalu bersingsut sedikit, berusaha menyandarkan kepalanya pada tubuh Ucup lagi. "Cup, ngantuk. Pinjem bahu." 

"Tidur aja, Sayang. Nanti kalau udah sampai, aku bangunin."

Notes:

Happy #MRSdiNetflix, folks!

Ini adalah daur ulang draft tulisan gue dari tahun 2018 yang belum pernah dirilis di mana-mana, dengan banyak perubahan dan tambahan. Ceritanya juga mirip-mirip, mengeksplorasi transisi hubungan dua sahabat yang baru jadi pacar, jadi gue ngerasa dinamikanya cocok sama HKFG. Surprisingly, nulis ini seru dan lancar banget HAHAHA. I looove romcoms.

Personally, gue suka sedikit bahasan soal masa kecil mereka. Kayak, gimana meskipun mereka agak enggan ngebahas soal keluarga, tapi mereka juga sepakat bahwa tetap ada hal-hal menyenangkan yang bisa diingat dari hubungan mereka sama orangtuanya. Karena, ya... seringnya, hubungan kita sama orangtua juga gitu nggak, sih?