Work Text:
Apa satu hari lagi pada akhirnya sudah berlalu?
Pertanyaan itu kerap kali terngiang dalam telinga sang boneka cantik saat ia masih terkurung di dalam sangkarnya yang bagai abadi. Di bawah naungan pohon maple merah yang tidak habis daunnya berguguran, ia terus merenung dan bertanya. Bergerak maupun diam sama saja. Waktu seakan tidak jua berlalu, tapi juga terasa sudah lama banyak waktu berlalu tanpa ia sadari.
Segalanya terasa konstan di sini. Abadi dan statik. Tidak pernah berubah. Siang dan malam tidak terjadi. Musim tidak pernah berganti. Orang-orang tidak datang dan pergi. Ia terjebak dalam senja abadi dengan pohon yang tidak pernah mati dan langit yang tidak pernah berganti.
Mungkin inilah kehendak penciptanya.
Keabadian seperti ini yang Dia inginkan. Keabadian ini yang tidak bisa dirinya berikan, maka dari itu ia dicampakkan ke sini.
Jika itu benar, keputusan penciptanya mungkin … tidak seberapa salah. Karena ia sendiri nyatanya sekarang … tidak menyukai keabadian ini.
Sang boneka merasa keabadian ini begitu kosong. Tidak terasa berlalu, tapi juga tidak terasa aman berakhir. Menjemukan dan terasa menyiksa bahkan untuk dirinya yang tidak punya hati.
Sang boneka cantik kerapkali menghabiskan waktunya dengan memejamkan mata, karena hanya dengan itu, waktu terasa sedikit—secuil—lebih cepat berlalu dibanding saat ia membuka mata.
Kenapa ia terbangun? Kenapa ia tidak kembali tidur saja seperti saat ia dibuang ke mari?
Dalam lelapnya, sang boneka cantik terus berharap.
Jika nanti saat bangun, ia masih sadar di bawah pohon maple itu lagi, lebih baik dirinya tidak terbangun lagi.
***
"Eh? Kau tidak tahu kapan ulang tahunmu?" Katsuragi bertanya satu hari.
Kabukimono menggeleng, tapi tidak merasa sedih. "Saya hanya boneka. Ulang tahun tidak terasa penting bagi saya, Katsuragi-san."
"Hmm…." Ketika sang boneka berhenti bicara dan sadar, Katsuragi sudah berpikir keras.
"Katsuragi-san?" Kabukimono mencondongkan badan mendekat kepada pria paruh baya itu. "Katsuragi-san! Anda mendengar saya?"
"Eh? A-ah, dengar, dengar!" Katsuragi lantas mengalihkan pandang ke arah pintu, tepat ketika bel berbunyi nyaring di luar sana. Bel pertanda jam kerja telah dimulai untuk para penempa. "Nah, jam kerja sudah dimulai! Ayo, segera kita ke bengkel."
Kabukimono heran, tapi merasa mungkin pembicaraan mereka memang sudah selesai. Sehingga ia pun mengangguk dan menuruti saja kemauan Katsuragi.
Andai ia tahu betapa keliru ia waktu itu.
***
Setelahnya, selama dua hari berturut-turut, Kabukimono kadang mendapati orang-orang saling berbisik. Laki-laki maupun perempuan. Tua maupun muda. Anehnya, mereka bubar setiap kali ia menghampiri. Apa pun yang mereka bicarakan tadi, tidak pernah lagi diungkapkan. Tidak di hadapannya.
"Apa sedang ada pembicaraan penting di desa, Nagamasa-sama?" Kabukimono yang gelisah akhirnya bertanya pada satu hari saat jam istirahat.
Saat hanya tersisa dirinya dan Tuan Nagamasa di bengkel. Sementara para pekerja lainnya termasuk Tuan Niwa, entah pergi ke mana.
Sekali lagi, tidak biasa.
Biasanya saat makan siang, mereka akan duduk bersama menyantap bekal mengelilingi meja atau duduk di tatami di ruang istirahat para pekerja. Hari ini dan dua hari sebelumnya, mereka tidak melakukannya.
Jelas ada sesuatu.
"Hm? Kenapa kau berpikir begitu?" Tuan Nagamasa menyahut dengan tenang.
"Semua orang tampak sibuk." Kabukimono menjawab dengan hati-hati.
Dan seolah tidak mau melibatkanku, imbuhnya tanpa bersuara.
"Apa saya mengganggu sesuatu?"
Nagamasa tertawa pelan. Suaranya yang berat terdengar bergema saat Beliau tertawa. "Apa mereka selalu bubar saat kau datang?"
Kabukimono mengerjap kaget. "Benar."
Bagaimana bisa Tuan Nagamasa menebaknya dengan benar?
"Dan kau takut apa pun yang mereka bicarakan, enggan disampaikan saat kau hadir, karena terganggu oleh keberadaanmu?"
"Benar, Nagamasa-sama."
Apa dugaannya memang benar?
Keberadaannya mengganggu?
"Sudah dua hari, ya. Hmm … mereka agak lama juga." Wakil dari Tuan Niwa itu terkekeh. "Oh, pasti mereka menyiapkannya dengan sangat cermat."
"Menyiapkan? Menyiapkan apa?" Tanpa bisa dikendalikan, Kabukimono bertanya penasaran. Kemudian ia sadar. "Nagamasa-sama, dari tadi tebakan Anda benar dan … Anda bahkan tahu kalau lama waktunya…."
Padahal ia tidak ingat sudah menyampaikan bahwa kejadian ini sudah berlangsung dua hari lamanya.
Mendengar keterkejutan di nada bicara sang Kabukimono, Tuan Nagamasa hanya memberi senyum menenangkan kepadanya.
"Apa pun yang terjadi nanti, kau harus menerimanya, ya." Tiba-tiba Tuan Nagamasa menepuk pundaknya tiga kali. Seperti … seperti berusaha memberikan keberanian kepadanya. "Mereka sudah berusaha sebaik mungkin."
"Me-menerima? Saya? Mereka?" Seperti kehilangan fungsi dasar bicara, Kabukimono mendadak terbata. "Na-Nagamasa-sama, sungguh, kesalahan apa yang kiranya sudah saya buat?"
Kabukimono langsung bersiap sujud. "Apa pun itu, saya—saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya! Karena itu saya mohon…."
"Tidak, tidak, astaga, sampai kapan kau mau salah paham?" Kali ini Tuan Nagamasa sampai menghela napas. Tapi Beliau langsung kembali tersenyum. "Apa pun yang akan terjadi nanti, aku berani bersumpah atas namaku, mereka tidak akan berbuat jahat kepadamu."
Kata-kata itu memberi kelegaan sedikit ke benak Kabukimono.
"Apa … apa itu artinya saya tidak membuat kesalahan?"
"Kesalahan?" Tuan Nagamasa tertawa. "Satu-satunya kesalahan adalah mereka tidak berhasil menyembunyikannya darimu."
Masih tidak paham, Kabukimono pun terdiam. Mungkin, karena melihat kekhawatiran yang tidak kunjung menghilang dari wajah sang boneka, Tuan Nagamasa kembali bicara:
"Kita nantikan saja," ujar Beliau. "Jika mereka siap, mereka pasti akan menghampirimu."
Menghampirinya, kata-kata itu akhirnya membuat Kabukimono justru semakin resah, gelisah dalam penantian.
***
"Kabukimono? Sini, sini! Ke arah sini! Ikuti saja aku, ya!"
"Nyonya Katsuragi, sebentar, kita—kita mau ke mana?" Dalam keadaan mata ditutup, Kabukimono dituntun oleh Nyonya Katsuragi ke satu tempat. Setelah dirinya pulang bekerja dan Katsuragi tidak ada di rumah. Hanya ada sang nyonya yang sudah bersiap dengan satu penutup mata di tangan.
"Ikut saja! Ah, kita sebentar lagi sampai!" Hanya beberapa langkah kemudian, Nyonya Katsuragi berhenti. "Nah, sampai!"
"Nyonya Katsuragi, sebenarnya ada apa…." Kata-kata Kabukimono lenyap tak bersisa ketika Nyonya Katsuragi melepas penutup matanya.
Dan membiarkan Kabukimono berdiri terdiam nan canggung di depan seluruh penduduk Tatarasuna yang tersenyum dengan ratusan lilin menerangi. Cahaya remang-remang gemerlap menerangi tepi pantai Kannazuka malam itu.
"Selamat ulang tahun, Kabukimono!"
Kabukimono tidak percaya pada apa yang ia lihat. Seluruh warga desa, penempa, para wanita dan anak-anak serta orang tua, bahkan sampai para petinggi di bengkel tempa, semuanya hadir tak terkecuali di pantai malam ini. Menyambutnya. Merayakan … ulang tahunnya.
"Semuanya…."
Api unggun menyala terang di tengah-tengah kerumunan yang mengelilingi, memberi kehangatan di tengah musim dingin yang menjelang. Anehnya malam itu, badai di laut seakan mereda, merestui acara ini. Sehingga jamuan dan minuman yang tersedia di tenda-tenda kecil yang dibangun, masih utuh tak tersentuh. Mengepul hangat dan tampak sangat mewah.
"Semua ini untukmu." Dari barisan depan kerumunan, Tuan Niwa maju dan bersuara lebih dulu. "Kabukimono, aku sudah dengar dari Katsuragi-san, kau tidak tahu kapan ulang tahunmu. Tapi, karena hari ini kau resmi satu tahun bergabung menjadi bagian dari Tatarasuna, Katsuragi-san mengajukan rencana acara ulang tahun ini."
Saat itu, Kabukimono melirik Katsuragi yang tersenyum semringah di tengah kerumunan. Tampak tersenyum bangga kepadanya. Kabukimono langsung salah tingkah.
"Aku sudah mendiskusikan ini dengan Nagamasa-san." Tuan Niwa melirik ke arah kerumunan ke arah pria tua yang berdiri di sisinya tadi. "Dan semuanya setuju. Tapi … kami belum mendengar pendapatmu dan malah langsung mengadakan pesta ini saking semangatnya."
"Semua ini … untuk saya?"
Rasanya kasih sulit dipercaya. Dia diberi sesuatu semewah ini. Kabukimono tidak merasa memiliki apa pun untuk diberikan. Apa pun untuk ditawarkan kembali, tapi ia justru mendapat hadiah seperti ini. Di hari yang tadinya … bagi dirinya, akan sama seperti hari-hari yang lain.
"Benar," Tuan Niwa mengangguk. "Jadi bagaimana pendapatmu? Apa kau setuju kau kami menjadikan hari ini hari ulang tahunmu?"
Saat itu Kabukimono tidak begitu mengerti perasaan yang ia rasa. Ia ingin menolak, mengatakan bahwa semua ini berlebihan dan ia tidak bisa menerima sesuatu semewah ini, tapi kehangatan yang ditunjukkan, senyum semua orang kepadanya, dan ucapan yang serentak diucapkan tadi, membuat semua kerisauan yang tidak diperlukan itu menguap begitu saja.
Dengan lega, Kabukimono mengangguk. "Ya, tentu saja boleh, Niwa-sama! Semuanya!"
Sambutan itu diiringi sorak Sorai dari semua warga. Sebuah malam meriah di tepi Utara Kannazuka pun diadakan malam itu, sampai lewat tengah malam.
***
"Niwa-sama? Anda belum akan bersiap pulang?" Kabukimono melangkah ke pantai, melihat sosok yang familier justru berdiri di pinggir debur ombak, melayangkan pandangannya jauh ke batas horizon di ufuk. "Malam semakin dingin. Tidak baik untuk kesehatan."
Tuan Niwa tertawa ringan. "Tidak perlu kamu seperti itu. Besok sudah diputuskan menjadi hari libur." Jawaban itu membuat Kabukimono terhenyak. "Semuanya sudah bekerja keras dua hari ini. Sudah seharusnya aku memberi mereka libur yang layak."
"Ah, karena saya…."
"Hei, orang yang berulang tahun, tidak boleh pasang wajah sedih, tidak ketika semuanya berbahagia menyambut semua kerja kerasmu selama satu tahun ini."
Diingatkan lagi soal itu, membuat senyum kecil muncul di wajah Kabukimono. Tanpa ia ketahui, Tuan Niwa juga tersenyum melihatnya menyembunyikan kebahagiaan kecilnya dengan malu-malu.
Kemudian tiba-tiba Kabukimono menggeleng.
"Ta-tapi itu bukan alasan untuk bermain air di saat cuaca dingin begini!" Kabukimono kembali tegas.
"Tenang, aku pakai sepatu tebal. Lihat?" Tuan Niwa menunjukkan sepatunya. Sepatu yang memang khusus untuk musim atau cuaca dingin. "Aku hanya tidak ingin melewatkan pemandangan malam di kala santai seperti sekarang."
"Pemandangan … malam?"
"Kau pernah melihatnya?" Niwa bertanya dan Kabukimono menggeleng.
"Saya pernah berkeliling tapi … tidak begitu memerhatikan…." Karena saat itu ia merasa tidak ada yang berarti untuk dipedulikan.
Satu tangan lantas terulur ke hadapan Kabukimono. Mendongak, Tuan Niwa-lah yang mengulurkan tangan sembari tersenyum. Sosoknya tampak berpendar di bawah sinar rembulan.
"Ayo, akan aku tunjukkan padamu," ajaknya. "Kau percaya padaku?"
Selama sesaat, Kabukimono hanya menatap tangan yang terulur itu.
"Saya percaya Anda, Niwa-sama." Kabukimono tidak punya alasan untuk tidak memercayai Tuan Niwa. Sepenuhnya, ia percaya. Maka, ia pun meraih tangan itu, merasakan kehangatan menenangkan yang sama yang selalu ia rasa—sampai detik ini—kala menyentuh tangan Tuan Niwa. Merasakan suhu tubuhnya menular ke tubuhnya sendiri. Menghangatkannya. "E-eh?! Akh, Niwa-sama!"
Diiringi suara tawa Tuan Niwa, tubuh Kabukimono ditarik ke arah ombak yang bergulir. Deburnya membawa serta kemilau biru yang misterius, menyala sepanjang pantai. Tubuh Kabukimono oleng, tapi tangan Tuan Niwa dengan cepat meraih tubuhnya ke dalam pelukan. Lengannya di pinggang Kabukimono, mendekatkan tubuh mereka dengan erat.
"Aku memegangimu," Saat itu, suara Tuan Niwa berubah semerdu deburan ombak. "Berpeganganlah padaku."
Mendengar permintaan itu, Kabukimono merasa telinganya memanas.
"N-Niwa-sama, saya tidak bisa … oh." Protes itu segera terhenti ketika Kabukimono menunduk, mencoba menghindari tatapan Tuan Niwa yang sudah pasti terarah ke wajahnya. Tapi alih-alih sekadar melihat air yang pecah di daratan, ia melihat jutaan partikel biru yang menyala, mengikuti langkahnya. Ada di sekeliling kakinya sepanjang ia melangkah. "Cantik sekali."
Di sisinya, Tuan Niwa juga bergerak, melangkah perlahan. Cahaya biru yang sama mengikutinya.
"Lihat, aku juga sama." Kabukimono mengangguk. "Kita berdua sama."
Kabukimono melirik, menaikkan pandangannya, menyaksikan Tuan Niwa memandang kaki mereka dengan senyum bahagia.
"Tidak ada Manusia maupun boneka. Hanya ada dua orang, menikmati waktu bersama." Senyum Tuan Niwa berubah sendu, dan ia pun melirik Kabukimono. "Karena itu kau tidak perlu risau. Aku serius saat bilang, kau juga Manusia."
Kata-kata hangat itu membuat Kabukimono tertegun. "Niwa-sama...."
Kemudian dengan segera, Niwa tersentak, dan membawa Kabukimono ke dalam pelukan erat sekali lagi. "T-tolong jangan lihat wajahku dulu … aku—ugh…."
Meski sudah dibilang begitu, Kabukimono tetap mengintip dan melihat telinga Tuan Niwa memerah. Semburat yang sama terlukis di pipinya.
"Niwa-sama … Apa Anda sedang … tersipu malu?"
Orang yang biasa tegas, meski sangat baik hati, orang yang senantiasa menyambutnya dengan tangan terbuka ini … Kabukimono masih tidak percaya.
Meski memang ada saat ketika Tuan Niwa tampak malu dan tidak bisa berkata-kata, seperti sekarang, rasanya masih saja lucu untuk dibayangkan. Tanpa sengaja, tawa lolos dari bibir Kabukimono.
Tuan Niwa mengerang pelan. "Aku tahu aku tidak akan berani mengungkit ini lagi di depanmu nanti."
"Kenapa?" Kabukimono bertanya dengan polos. "Apa akan ada seseorang yang memarahi Anda nanti?"
"Tidak ada…." Rasanya masih ada kata yang ingin disampaikan setelah itu, tapi entah Tuan Niwa tidak lagi bisa menyampaikan atau memang ia sudah tidak bisa berkata-kata, gantian Kabukimono yang bersuara.
"Bagi saya ini momen berharga yang sangat tidak akan pernah saya lupa. Saya benar-benar bahagia," ujarnya. "Apa Niwa-sama juga bahagia?"
"Sangat…." Tuan Niwa mengangguk. "Malah ... lebih dari sekadar bahagia."
"Kalau begitu…." Kabukimono berhenti sejenak, menimbang, sebelum menambahkan dengan berani. "Tidak perlu malu … kan?"
Setelah pertanyaan itu keluar, Tuan Niwa langsung mengerang frustrasi.
"Aakh, baiklah!"
"Eh?! Niwa-sama, apa yang…." Kata-kata Kabukimono terhenti ketika tubuhnya diangkat dengan mudah oleh Tuan Niwa. Beranjak dari dinginnya air laut, kedua kaki Kabukimono melayang. Tangan Tuan Niwa terselip di betisnya, menopang punggungnya tegak sementara menjadikan lengan Tuan Niwa sebagai bantalan yang menyangga, membiarkan Kabukimono melihat ekspresi Tuan Niwa dengan jelas dari atas. Tepat di hadapannya.
Tuan Niwa tersipu dengan wajah merah merona.
"Apa wajahku sudah cukup terlihat sekarang?" Dengan suara bergetar menahan malu, Tuan Niwa bertanya.
Kabukimono tertawa senang. Tangannya meraih wajah kemerahan itu ke dalam genggaman tangan. "Ya, sangat jelas, Niwa-sama."
"Tubuhmu ringan sekali." Tuan Niwa tiba-tiba berkomentar. "Kau makan dengan teratur, kan? Kenapa pinggangmu rasanya…."
"Saya makan dengan teratur. Bagaimana dengan Anda sendiri? Apa Anda makan dengan teratur tanpa perlu diingatkan?"
"Kadang…." Tuan Niwa menjawab dengan ragu.
"Anda sebaiknya mulai mengubah kebiasaan itu, Niwa-sama," Kabukimono tersenyum hangat tepat di depan wajah Tuan Niwa. "Tidak ada yang ingin melihat Anda sakit."
"Tidak ada?" Tuan Niwa membeo, entah kenapa … wajahnya terlihat mendekat. Apakah Kabukimono yang tanpa sadar menariknya ataukah Beliau yang mendekat sendiri? Tidak ada yang tahu.
Mereka berdua hanya tahu, mereka tidak bisa merusak momen ini.
"Termasuk … dirimu?"
Pelan, Kabukimono mengangguk. Kali ini ia bahkan tidak berusaha menjauh. "Ya, termasuk saya … Niwa-sama."
Dalam kesunyian yang seolah hanya menyisakan mereka berdua di dunia, wajah keduanya semakin dekat. Napas Tuan Niwa terasa menghangatkan wajah Kabukimono. Keduanya tenggelam dalam lautan netra satu sama lain dan tenggelam semakin dalam….
"EHEM!"
Dan langsung mendadak terpisah.
Baik Kabukimono maupun Tuan Niwa memelesatkan mata ke arah yang sama. Tepat ke arah kerumunan yang kini sedang menonton mereka. Para anak ditutup matanya oleh para orang tua yang tersipu malu, para pekerja memalingkan muka ke berbagai arah dengan canggung, sementara Tuan Nagamasa dan para sesepuh menggeleng.
Mendadak saja, Kabukimono jadi sangat sadar pada situasi.
"T-t-tunggu—tunggu! A-aku bisa jelaskan!" Meski tergagap dan mendadak grogi, Tuan Niwa tidak sekalipun melepaskan pelukannya dari Kabukimono.
"Niwa-sama, dengan segala hormat, ada anak-anak di sini." Tuan Nagamasa menjadi yang pertama kali menegur.
"Saya tahu akan tiba saatnya Kabukimono kami jadi dewasa." Katsuragi gantian bicara. Kabukimono mengerjap heran. Baru kali ini ia melihat wajah Katsuragi berkerut-kerut seperti itu. "Tapi kalau dia diambil pria yang hobi memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, saya juga tidak akan tinggal diam, sekalipun itu Anda, Niwa-sama."
"Pria yang—memanfaatkan dalam apa—tidak tunggu, tolong jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan!"
Sementara para pria menatap dengan pandangan mengkritik, para wanita justru tersenyum aneh sembari memegang kedua pipi sendiri yang merah merona.
"Astaga, aku tidak menyangka akan melihat saatnya Niwa-sama menemukan tambatan hati…."
Kabukimono melirik, menyaksikan Tuan Niwa di sisinya tampak kalah. Tidak berdaya.
"Semuanya … tolong kendalikan diri kalian…."
***
Bahkan sampai acara telah selesai, jamuan telah habis, dan semua tamu telah pulang, Tuan Niwa masih belum selesai menjelaskan pada Tuan Nagamasa. Di pinggir, Kabukimono hanya bisa menonton kemalangan Tuan Niwa bersama Katsuragi yang anehnya, mendengkus puas.
"Apa saya benar-benar tidak diizinkan membantu?" Kabukimono bertanya dengan iba.
"Biarkan. Kalau dia ingin membawamu, dia harus berani dan pantang mundur!" Katsuragi berkata dengan nada tegas, tidak seperti biasanya.
Kabukimono hanya berharap Tuan Niwa bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.
"Kabukimono."
"Hm? Ada apa, Katsuragi-san?"
Beliau diam sejenak, lalu menghela napas.
"Aku tahu, ulang tahun mungkin akan banyak kau lalui dan mungkin … suatu saat nanti akan lelah dan menjadi hari yang kau benci tapi…." Senyum membayang di wajah Katsuragi. Ia melirik Kabukimono penuh sayang. "Ingatlah kalau setiap hari kau ada di sini, kami sangat mensyukurinya. Setiap tahun kau berada di sini, kami akan merayakannya. Bukan sebagai sekadar ulang tahun, tapi sebagai rasa syukur kami karena kau masih mau tinggal di sini. Bersama kami."
Ah, jadi begitu rupanya.
Benak Kabukimono mendadak saja dipenuhi kelegaan. Bukan sekadar mengingat tahun yang telah berlalu, tapi masa yang telah ia habiskan di sini. Kabukimono tersenyum.
"Saya sangat berterima kasih, Katsuragi-san," ujarnya tulus. "Kepada Anda, Nagamasa-sama … Niwa-sama … semuanya…."
Kabukimono menggenggam ornamen bulu emas di balik pakaiannya. Pengingat bahwa ia tidak dibutuhkan. Sekarang, ia dibutuhkan. Ia memiliki tempat berpulang. Ia memiliki orang-orang yang senantiasa bersamanya.
Ia benar-benar bersyukur.
"Terima kasih … untuk segalanya."
***
