Actions

Work Header

A Dream Upon a Dream

Summary:

"Saat aku tidak berada di sisimu, apa kau merindukanku?"
"Setiap detiknya."[]

Work Text:

"Lesser Lord Kusanali."

Mendengar panggilan itu, sosok mungil berambut putih yang duduk di lantai itu menoleh ke dengan anggun. "Hm? Sesuatu mengganggu pikiranmu lagi, Pengelana?"

Sosok mirip Shugenja berpakaian serba biru di sisinya terdiam. Tidak langsung menjawab pertanyaan sang Dewi. Matanya yang indah memandang ke langit jauh, melampaui langit-langit cerah dari Vanarana. Sejenak, matanya terpejam, berharap sisa angin yang berembus di mimpinya tadi kembali, tapi tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang kembali.

"Apa kau butuh berjalan-jalan keluar?"

Sang Pengelana terdiam. Sang boneka cantik itu tidak berkata-kata. Biasanya itu adalah sikap yang ia tunjukkan ketika ia sedang marah, tapi kali ini tidak ada kemarahan di wajahnya.

Hanya ada … gejolak emosi yang bercampur aduk, seperti kolam yang keruh dengan pusaran pasir keruh di dasar, tercermin di wajahnya.

"Aku tidak yakin sinar matahari dan kehangatan adalah yang aku butuhkan sekarang ini," Sang boneka berkata tanpa memandang Kusanali. "Apa kau akan mengawasiku lagi?"

"Kita sudah sepakat soal batasan, jadi aku tidak akan melanggarnya, tapi selama kau ada di Sumeru, kau aman ada dalam perlindunganku," Sang Dewi berwujud anak kecil itu tertawa. "Meski … aku yakin bukan perlindungan yang paling kau inginkan saat ini."

Sang boneka mendengkus pelan. "Kau dan cara bicaramu yang kadang penuh teka-teki. Apa seseorang pernah mengkritikmu soal itu?"

"Beberapa, ya," Lesser Lord Kusanali mengaku. "Tapi teka-teki adalah cara bagus untuk melatih cara berpikir. Karena tidak semua di dunia ini dijabarkan sejelas tulisan dalam makalah."

"Maksudmu mimpi?"

Lesser Lord Kusanali terdiam sejenak. "Kau mau menceritakannya?"

Sesuai dugaan, Sang Dewi bahkan sudah bisa menebak pertanyaan sang boneka bahkan sebelum ia bertanya. Mungkin malah, dari awal sang Dewi sudah tahu.

"Katakan padaku ... apa kau bisa mengendalikan mimpi?"

"Kalau yang kau maksud mengendalikan mimpi adalah menginjeksikan sedikit kebahagiaan dan menyisipkan pesan ke dalamnya, ya, aku bisa melakukannya," ungkap Lesser Lord Kusanali. "Tapi jika yang kau maksud mengendalikan adalah memproyeksikan keinginanku ke dalam mimpi seseorang atau mengubah isi mimpi itu sendiri, maaf, aku tidak bisa melakukannya."

Sang boneka diam dan mendengarkan.

"Sama seperti kesadaran, mimpi memiliki akarnya masing-masing, tertanam dalam setiap pikiran individu. Mengganggu jalinan serumit dan serapuh mimpi sama saja mengendalikan seseorang di luar kehendak mereka," Lesser Lord Kusanali menggelar napas. "Aku tidak pernah melakukannya."

Tidak pernah, sang pengelana menandai. Bukannya tidak bisa.

"Jadi itu bukan ulahmu, ya." Sang boneka terdengar setengah kecewa. "Aneh sekali, bagaimana boneka sepertiku masih bisa bermimpi."

"Mimpi yang seperti apa?"

Sekali lagi diam. Sang boneka menikmati embusan angin yang pada akhirnya kembali bertiup. Ia memejamkan mata, membayangkan kembali mimpi yang baru saja berlalu itu. Mimpi yang entah kenapa … terasa sangat panjang.

"Aku tidak tahu harus menamai mimpi itu seperti apa," ungkapnya. "Mimpi itu tidak begitu buruk, tapi juga mustahil menjadi nyata, jadi itu bukan mimpi yang indah juga. Hanya … mimpi yang aneh."

Sang pengelana lantas mengingat kembali, setiap momen dalam mimpi yang masih ia kenang.

Dalam mimpi itu, ia bukanlah boneka. Ia seorang yang fana. Ia terlahir sebagai Manusia. Ia tumbuh dan bertambah dewasa. Ia memiliki jantung … dan cinta.

Ia lahir di bawah pohon Irminsul. Ia lahir dengan cara yang istimewa dan penampilan yang cantiknya luar biasa.
Ia, dengan pakaian yang jauh berbeda dari dirinya yang sekarang, hidup begitu berbeda.

Bersama orang yang … saat ini tidak ada di sisinya.

***

"Sayang?"

Perlahan, ia terbangun. Menyadari pelupuk matanya yang basah. Tangannya meraba ke bawah mata, merasakan tetesan dingin di ujung jari jemarinya. Ia menangis. Kelihatannya, menangis dalam tidur.

"Sayang, apa kau baik-baik saja? Kau merasakan sakit di mana? Aku bisa bantu apa?" Baru saja bangun, ia langsung dihujani rentetan pertanyaan dari sosok pria tampan di hadapannya. Pria berambut coklat dengan siluet kemerahan segera duduk di sampingnya, tampak begitu khawatir pada dirinya.

Kekhawatiran yang tulus.
Berbeda dari orang-orang di mimpinya tadi yang memandangnya penuh ketakutan.

"Aku tidak apa-apa." Ia menjawab. "Aku hanya baru saja … memimpikan sesuatu … mimpi yang sangat panjang. Sangat lama."

"Mimpi burukkah?" Tangan hangat sang belahan jiwa menyentuh matanya yang basah dengan penuh sayang. "Kau menangis dalam tidurmu."

Ia menikmati sentuhan ini. Oh, betapa ia sangat merindu. Rasanya seperti sudah ratusan tahun lamanya, ia tidak merasakan kehangatan tangan cintanya sampai ia tanpa sadar menitikkan air mata sekali lagi. Merasakan sisa kesedihan dan kehilangan dari mimpinya tadi. Begitu terasa. Begitu memilukan.

"Sa-sayang, ada apa? K-kenapa kau menangis lagi?" Kekasihnya itu langsung terperanjat. "Apa aku tidak sengaja menyakitimu?"

Sebelum sang kekasih sempat melepaskan diri, ia menarik tangan itu mendekat, dalam diam memintanya untuk melakukan lebih dengan menaruh tangan itu tepat di wajahnya. Membenamkan diri dalam elusan penuh sayang itu.

"Rasanya sudah berabad-abad lamanya aku tidak menyentuhmu seperti ini." Air matanya menitik tanpa bisa dihentikan. "Sangat, sangat lama."

"Sshh, aku di sini. Kau hanya tertidur beberapa saat." Sang kekasih merangkulnya dalam kehangatan. "Aku ada di sisimu."

Ia mengangguk. "Rasanya tadi aku sempat kehilangan dirimu. Dan kehilangan itu berlangsung sangat lama."

Kali ini sang kekasih terdiam.

"Aku tidak menemukanmu. Tidak berusaha mencarimu. Kau musnah. Tidak ada lagi di sisiku. Dan aku … anehnya aku sangat marah padamu," ujarnya pilu. "Entah kenapa, aku bisa memikirkan hal-hal mengerikan itu."

"Jika aku tidak ada di sisimu…" Sang kekasih berkata. "Artinya kau juga tidak ada di sisiku. Itu benar-benar menakutkan."

Ia mengangguk. Memang mimpinya tadi sangat mengerikan.

"Tapi pastinya aku melakukan sesuatu sampai kau tidak ada di sisiku," Sang pria berkata lagi. "Jika ada yang berbuat salah, kemungkinan besar akulah orangnya."

"Jangan katakan itu!" Ia sedikit meninggikan nada suaranya. "Kau tidak bersalah! Aku … aku di mimpi itu saja yang bodoh … mementingkan amarah, padahal setiap kali teringat padamu, aku akan selalu merasa rindu….!"

"Rindu?" Sang kekasih mengerjap. "Bahkan ketika aku tidak ada di sisimu dan membuatmu marah … kau masih merasakan rindu?"

"Setiap detiknya," Ia menjawab tanpa ragu, sekali lagi berlinang air mata karena teringat perasaan kehilangan itu. "Setiap kali mengingatmu."

"Mengingat … ku. Dari tadi, kau terus menggunakan kata itu…."

"Karena aku memang tidak mengingatmu sepanjang waktu." Ia berkata dengan suara sangat sedih. "Dalam mimpi itu, seseorang … membantuku melupakanmu. Dalam banyak kesempatan, kau hanya wajah yang muncul di pojok terdalam pikiranku. Tidak berharga untuk ditangisi. Tidak berharga untuk dirindukan maupun diingat kembali. Tapi pada saat tertentu, saat paling sepi, saat paling menyakitkan … aku akan teringat padamu. Pada ketiadaan dirimu di sisiku dan saat itu pula … aku akan sangat merindukanmu."

Kerinduan yang disertai kekecewaan, ia mengingat. Diiringi dengan kemarahan. Ia tidak tahu bagaimana bisa emosi-emosi gelap seperti itu ada mengiringi pikirannya untuk sang belahan jiwa. Ia tidak mau tahu alasan lebih lengkapnya. Apa pun itu, ia pasti tidak akan suka.

"Dan itu berarti kau tetap setia mengingatku, meski aku sudah membuatmu marah. Meski aku tidak ada lagi di sisimu." Sang kekasih meraih dahinya, mengecupnya lembut. "Dan cukup seperti itu, aku merasa sangat bersyukur … telah dicintai olehmu sebegitu dalamnya."

Ia menggeleng. "Justru aku yang merasa senang kau mau ada di sisiku...."

Di bawah pohon putih besar yang indah dan teduh, ia duduk bersama kekasihnya. Saling berpegangan tangan. Saling menguatkan. Sementara daun-daun putih berguguran di atas mereka, perlahan dan dengan indah, tertiup angin. Kehidupan di sekeliling mereka pun berjalan tanpa henti.

***

Sang boneka mengingat sekali lagi salah satu momen paling ia ingat dari mimpi panjang itu.

Ketika ia mendadak menjadi pengamat dan bukan lagi orang yang terlibat. Ketika ia melihat sosok ramping tinggi berambut indigo gelap yang sangat panjang, meraih sesuatu dari dalam keranjang bambu yang mengingatkannya pada keranjang bayi yang digunakan orang-orang untuk menina bobokan keturunan mereka yang masih kecil.

Dari keranjang bayi tadi, sosok berambut indigo gelap itu meraih satu bayi yang menangis. Semakin lama, suara Isak tangis itu semakin kencang.

"Ssh, ssh, kau merindukanku, Nak? Aku ada di sini. Kau aman bersamaku." Sayup-sayup, sang boneka mendengar suara lembut bergumam di antara angin.

Sosok yang tampak anggun itu sama sekali tidak terdengar kesal. Sang boneka melihat sosok itu menurunkan tudung serupa kain Kazuki yang menutupi kepalanya sampai memayungi sang bayi kecil, menghalaunya dari sinar matahari yang mungkin terlalu menyilaukan. Kemudian, ia mendengar nyanyian merdu keluar dari mulut sosok anggun jtu. Sang bayi pun perlahan terlelap. Berhenti menangis.

Di dekat sosok itu, siluet lain muncul. Semakin lama semakin jelas. Mereka bergerak lincah, tampak sangat hidup.

Empat orang anak dalam berbagai usia, laki-laki dan perempuan, berambut panjang maupun pendek, berlarian di dekat seorang pria yang duduk menemani mereka di bawah naungan pohon. Dua anak berkejaran dan jatuh ke atas rumput, tapi mereka tetap tertawa. Satu anak lain mendengarkan sang ayah membacakan cerita, sementara anak yang lain menghampiri sosok anggun itu dengan wajah bahagia.

Sosok anggun itu berjalan mendekati mereka dengan bayi dalam timangan. Jubah panjangnya jatuh di atas rumput saat ia berjalan, mengikutinya. Kemudian, ia pun duduk di sisi sang pria yang langsung merangkulnya hangat.

Awalnya, sang boneka merasa dua sosok itu tampak tidak begitu asing. Ia merasa pernah bertemu sang pria, tapi ia tidak bisa mengingatnya.

Baru ketika sang sosok anggun duduk dan berbalik, menghadap ke arah dirinya, sang boneka mengenali mereka berdua.

Wajah sang sosok anggun mungkin sedikit berbeda: sedikit lebih dewasa dengan rambut panjang tergerai dan pakaian dengan gaya yang sangat asing dengan gaya pakaian Teyvat sekarang. Tapi ia tidak akan pernah salah mengenali wajah yang senantiasa ia lihat di pantulan air dan cermin.

Wajah dirinya sendiri. Sosok anggun itu memiliki wajah dirinya.

Sementara sosok sang kekasih, sosok pria itu … meski dalam rambut panjang, wajah dewasa dan jubah panjang yang asing, senyuman hangat itu tidak akan bisa dia lupakan dengan mudah.

"Niwa…." Tanpa sadar, nama itu keluar dari mulut sang boneka. Tangannya bahkan sudah terulur, tanpa sadar hendak meraih ke dalam pemandangan indah itu.

Tapi urung ia lakukan.

Tidak seperti dirinya di sisi Niwa di dalam mimpi, dirinya di dunia nyata, sudah melakukan banyak hal buruk. Tangannya yang kotor hanya akan memberi pengalaman buruk kepada Niwa yang ini.
Niwa yang begitu murni dan bersih….

Sang shugenja memejamkan mata, menundukkan kepala dan pemandangan di hadapannya berubah.

***

Pohon yang menghijau berubah memerah karena musim gugur. Sosok dirinya sudah tua kini. Sudah tampak letih dan renta. Ia seorang diri sekarang. Niwa sudah tidak ada lagi di sisinya.

Sekilas tampak sebuah makam di hadapan dirinya di sana. Tapi makam itu dengan cepat lenyap, berganti keramaian yang penuh anak-anak kecil dan pasangan orang dewasa yang menimang mereka.

Sebuah keluarga besar.

Dirinya yang di sana telah tua. Meski kehilangan sang belahan jiwa, sama sekali tidak tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut. Ia memang sedih dan kesepian kala seorang diri. Tapi keberadaan keluarga yang senantiasa ada di sisinya dan teman serta kerabatnya yang tidak henti peduli, membuat semua luka itu perlahan terobati.

Hingga ia tidak membuka matanya lagi pada suatu hari. Sepenuhnya terlelap dalam tidur abadi, tepat ketika ia berziarah ke makam sang kekasih untuk terakhir kalinya.

Tidak ada penyesalan terasa. Tidak ada rasa bersalah. Hanya ada kebahagiaan dan rasa syukur yang entah bagaimana bisa terasa oleh boneka meski ia tidak punya hati untuk merasakan emosi seperti halnya manusia.

Entah kenapa, ia merasakan koneksi kuat antara dirinya di sini dengan yang ada dalam mimpi. Seperti terhubung oleh jalinan imajiner. Nyata terasa tapi sama sekali tidak bisa terlihat.

Entah itu hanya imajinasinya yang bodoh atau memang mimpi dan penguasanya sedang bermain keji padanya.

Yang mana pun yang benar, sang boneks tidak peduli. Seluruh kesadarannya terserap ke dalam keindahan yang tersaji di depan matanya.

Ketika perlahan, makam dan sosok tua dirinya di dalam mimpi itu menghilang dan sebagai gantinya, di tempat makam itu berada, tumbuh sebuah pohon putih besar yang lain.


Tanpa ia ketahui, jiwanya terserap masuk ke dalam pohon putih besar itu. Ia yang lahir di bawah naungan pohon putih, akan kembali ke pangkuannya nanti. Terdiam di sana dan mengikuti arus dunia.

Sampai jauh di masa depan nanti, seorang Archon yang sedang berduka, menghampiri pohon tempatnya bersemayam dan mulai membuat tubuh boneka dari pohon itu.

Dan sang Archon kebingungan, tubuh yang seharusnya sempurna … kenapa memiliki mata yang bisa menangis?

Seolah … wadah yang ia ambil dari pohon itu, memiliki jiwa yang masih hidup.


"Beritahu aku, Lesser Lord Kusanali," Lama terdiam, sang boneka bersuara sekali lagi.

"Ya? Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Apa di luar sana … ada dunia lain? Dunia tempat diriku yang lain hidup dan menjalani kehidupannya yang berbeda?"

Kusanali berpikir sejenak. "Maksudmu seperti kemungkinan yang berdiri independen dari dunia ini?" Sang Dewi terdiam cukup lama. "Aku tidak yakin. Konsep seperti itu belum pernah aku lihat terbukti nyata. Jadi, maaf … aku belum bisa mengatakannya dengan pasti."

Sang boneka mendengkus. "Jadi bahkan di dunia ini, ada yang tidak kau tahu dengan pasti."

"Pengetahuan itu selalu berubah, aku hanyamengatakan apa yang "aku" sekarang ini bisa beri sebagai jawaban," ujar Sang Dewi. "Di masa depan, mungkin aku bisa memberikan jawaban yang berbeda jika memang ada yang bisa mematahkan pendapatku yang sekarang ini. Tapi, aku tidak bisa menyangkal, pemikiranmu menarik sekali untuk diselidiki."

Binar penasaran yang tidak biasa, alih-alih wajah tersinggung justru muncul di wajah sang Dewi yang kini tampak riang bak anak kecil yang baru saja memperoleh mainan baru. Sang Dewi menyenangi pengetahuan. Baik dan buruknya dunia, semua ia terima dan dengan sesuai, ia berdiri di atas keduanya. Menerima keduanya dan melihat kedua sisi dari perspektif yang berbeda.

Sebuah esensi hidup dari kebijaksanaan.

"Satu pertanyaan tersisa untukmu, Pengelana."

"Apa?"

"Jika pemikiranmu terbukti nyata…." Sang dewi mendadak bertanya lagi. "Apa yang akan kau lakukan?"

Sang pengelana terdiam. Pertanyaan itu tidak menyinggung. Murni hanya sebuah rasa penasaran. Tapi rasa penasaran pun berakar dari sebuah prasangka.

"Kau langsung mengasumsikan yang paling buruk, ya?" Sang pengelana terkekeh. "Sayang sekali harus mengecewakanmu. Aku tidak bermaksud merebut atau bertukar tempat dengan diriku di dunia lain itu ... Jika pun dia ada."

Kusanali terdiam, jelas yakin Sang boneka masih memiliki jawaban yang diaembunyikan. Sang boneka pun menghela napas.

"Aku tidak punya tenaga yang tersisa lagi untuk hal semacam itu."

Tidak, sungguh, tidak hanya karena itu, sebenarnya. Tapi ia tidak mungkin berkata jujur. Ia tidak mau bilang dengan begitu menyedihkan, bahwa dia tidak ingin merebut tempat bagi dirinya yang lain itu.

Mungkin di suatu tempat di dunia ini, ada dirinya yang lain yang hidup, entah sebelum, berdampingan, atau sesudah dirinya ini kelak. Mungkin, dirinya di dunia lain hidup lebih bahagia. Mungkin ia hidup bersama orang yang dia cinta dan mendapat semua kebahagiaan yang sekarang hanya bisa menjadi angan bagi sang boneka. Tapi cukup dengan itu … cukup mengetahui—menduga—bahwa dirinya di suatu tempat di dunia ini, merasakan begitu banyak kebahagiaan … dengan Niwa yang hidup di sisinya. Bersama, tidak terpisahkan, bahkan memiliki keluarga mereka sendiri … cukup dengan itu saja, sang pengelana sudah bahagia.

"Aku mungkin tidak familier dengan istilah yang kau gunakan, wahai pengelana." Lesser Lord Kusanali kembali bicara. Sang Dewi mendongak ke arah dedaunan raksasa yang memayungi mereka. "Tapi bisa saja, apa yang kau lihat itu … adalah dirimu di samsara sebelumnya, kan?"

Sang pengelana memasang sikap defensif sekarang.

"Pertama, aku tidak pernah menceritakan soal itu, jadi dari mana kau dapat kesimpulan begitu?" Ia bertanya dengan nada menuduh. "Dan kedua, kau mau bilang, bahkan sebelum aku terlahir sebagai Kabukimono, aku memiliki inkarnasi lain?"

"Itu hanya kemungkinan. Apa pun bisa terjadi," ujar sang Dewi. "Bahkan para archon pun … tidak sejak awal ada di dunia ini. Ada masa yang tidak bisa kami tengok. Ada masa ketika kami belum tercipta yang tidak ada dalam ingatan dan pengetahuan kami."

Sang Dewi tersenyum ke arah sang pengelana. Tersenyum begitu hangat.

"Mungkin di masa-masa yang belum terekam itu, hidup dirimu di samsara yang lain … samsara yang telah lama berlalu."

Kata-kata itu sekali lagi membuat sang boneka terdiam. Ia tertegun. Mungkinkah….?

Pakaian yang tidak sama, lingkungan yang tampak berbeda … jika mencocokkan dengan kata-kata sang Dewi bijak, mimpi tadi sedikit terasa lebih masuk akal.

Tapi itu tidak menjawab kenapa mimpi itu bisa datang kepadanya sekarang. Ah, sekarang ia mulai berharap mimpi itu datang lagi, lebih jelas dan detail, agar ia bisa menangkap petunjuk lain.

Tidak.

Sang boneka segera menepis pikirannya sendiri. Ia tidak mau memikirkannya lebih jauh. Itu semua hanya sekadar mimpi bagi dirinya yang sekarang. Mimpi yang terasa begitu indah dan membuatnya tidak bisa pergi, tapi juga terlalu sempurna untuk ia anggap sebagai sesuatu yang nyata.

Dan mendapati bahwa dirinya tidak bisa beranjak dari mimpi itu bahkan ketika ia tahu itu hanya mimpi, sang pengelana merasa begitu bodoh.

Itu samsara yang telah lama berlalu. Tidak lagi berarti. Tidak bisa diingat lagi, bahkan tidak ada catatannya.

Tapi jika sampai dirinya di samsara lain itu … tidak memiliki penyesalan sampai akhir … dan tidak dirundung keputus asaan setelah cintanya terpisah maut, ia bisa yakin bahwa dirinya di samsara itu mengalami hidup yang begitu membahagiakan.

Sangat bahagia tanpa penyesalan.

"Maksudmu, di samsara sebelumnya aku bisa saja adalah Manusia fana yang bisa menua dan mati?" Bahkan memiliki hati dan keluarga yang menyayangi? "Bukankah itu terdengar konyol?"

"Dan aku bisa saja hanya sebatang ranting dari sebuah pohon besar yang jauh berguguran daunnya. Apa pun bisa terjadi, Pengelana," sang Dewi mengungkapkan. "Kau mungkin belum mengalaminya karena siklus samsara-mu kali ini begitu panjang."

Karena ia terlahir sebagai boneka.

"Tapi bukan berarti kau terjebak dalam lingkar samsara yang sama, kan?" Sang Dewi menutup buku di pangkuannya. "Jatuh dan terluka, membenci dan bangkit, menerima dan bergerak maju. Semua pengalaman itu di setiap inkarnasi dan samsara yang berbeda. Dalam satu hal, kau seperti seseorang yang sudah terlahir berkali-kali dalam samsara yang berbeda."

Sang boneka merenung.
Terlahir kembali, sampai sekarang sang pengelana masih menemukan kata itu sebagai sesuatu yang aneh.
Daripada terlahir kembali, ia lebih merasa dirinya tumbuh dan menerima nasib. Semua yang menjadi beban dan dosanya di masa lalu, ia siap meanggungnya. Tidak lagi lari maupun membuat orang lain menanggungnya. Hanya ia sendiri.

"Dengan pendapatku tadi, bukannya tidak mungkin, kan…." Dengan senyum penuh arti, sang Dewi menambahkan: "Orang-orang yang kau temui di samsara sebelumnya, akan bertemu lagi denganmu suatu hari nanti?"

"Di samsara yang berbeda, maksudmu?" Seketika sang pengelana teringat Niwa.
Sosok Niwa di mimpinya yang hidup dan meninggal dengan damai, sangat berbeda dengan kematian keji yang diderita Niwa di kehidupannya sebagai Kabukimono.

Ah, setiap mengingatnya ia selalu kesal sendiri. Niwa yang tidak pantas mati dengan keji, semua teman-temannya di Tatarasuna yang tidak pantas meninggal dengan cara menyedihkan….

"Konyol sekali."

Sang pengembara mendengkus, kemudian sekali lagi memejamkan mata. Mulutnya mungkin menyangkal dengan ketus, tapi dirinya yang lain tidak demikian. Di sudut hati, ia berharap memimpikan mimpi indah yang tadi, hanya untuk satu kali lagi. Biarpun hanya sekejap, ia ingin melihatnya lagi.

Bagaimana kehidupan dirinya tanpa ada Dottore, tanpa ada duka dan kehilangan.

Di mana pun orang-orang yang ia kenal dulu, siapa pun mereka di samsara ini, ia hanya berharap … orang-orang baik seperti Niwa dan para penduduk Tatarasuna yang lain, tidak akan perlu bernasib malang lagi.

Tidak perlu berurusan lagi dengan seseorang seperti dirinya.

Dengan tulus, ia berharap semua semua orang yang dikenalnya di masa lalu hidup bahagia di mana pun mereka berada, saat ini.

***

Angin sejuk berkebun membelai leher seorang samurai pengembara di lain tempat. Pengembara itu mendongak, menatap ke belakang ke arah angin itu berembus. Angin yang terasa hangat, tapi sejuk saat menyentuh kulitnya.

Membawa serta sebuah perasaan aneh yang mekar di dada. Seperti sebuah kerinduan.

"Oi, Kazuha? Ada apa?" Seorang rekannya di samping menepuk pundak sang samurai pengembara.

"Ah, tidak ada apa-apa," Pemuda bernama Kazuha itu menggeleng sopan. "Aku permisi sebentar. Aku perlu mencari barang-barang yang diminta Beidou."

"Ah, baiklah, hati-hati!" Rekannya sesama Crux Fleet itu pun melambaikan tangan, mengantar Kazuha dengan satu ucapan untuk senantiasa hati-hati dan waspada. Nasihat yang sangat didengarkan Kazuha.

Tapi diam-diam, sang samurai pengembara tersenyum tipis dari balik topi lebarnya.

"Angin yang membawa rindu, hmm…." Ia menggumam. "Apa aku akan bertemu seseorang yang aku kenal di Inazuma hari ini?"

***

Series this work belongs to: