Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-01-06
Words:
1,209
Chapters:
1/1
Kudos:
25
Bookmarks:
3
Hits:
378

About Love

Summary:

Sepulang dari kegiatan kencan keduanya berbincang. Di dalam gerbong kereta, yang hanya berisi mereka berdua.

Work Text:

Ada yang berbeda dari perjumpaan mereka kali ini. Di dalam sebuah gerbong kereta yang beroperasi pada jalur rel layang, kedua anak adam disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Pemuda yang lebih tinggi menaruh atensi sepenuhnya ke luar jendela. Menyaksikan matahari yang semakin menipiskan jarak pada garis cakrawala. Membuat langit serta awan-awan yang menggumpal di angkasa berubah sepenuhnya menjadi kuning kejinggaan. Decakkan kagum yang terdengar sampai di telinga pemuda yang lain sukses mendapat kekehan pelan.

Kepalanya ditorehkan ke samping, menemui sepasang iris mata bewarna cokelat yang kini tampak bersinar sebab terkena terpaan sinar matahari. Seokmin tahu, bahwa sosok di hadapannya itu gak bisa tahan berlama-lama terkena cahaya. Andaikan mata Seokmin adalah sebuah kamera, gak akan cuma sekali dia memotret keindahan yang tercipta berkat perawakan pemuda yang lebih tua. Hong Jisoo, namanya.

Tangan Seokmin berusaha menghalangi sinar yang menembus kaca, tujuannya supaya wajah Jisoo enggak kepanasan. Alih-alih Jisoo yang ngucapin makasih, justru Seokmin yang bakal berucap demikian. Karena asli, tangannya sekarang dipegang. Ditahan oleh Jisoo. Sentuhan fisik yang disengaja itu bukan tipikal Jisoo banget, kalau gak salah ingat, perlu ratusan hari bagi Seokmin buat berhasil menggenggam telapak tangan Jisoo yang sangat halus itu. Ditautkan jemari mereka jadi satu. Tapi sekarang, tanpa dia minta pun Jisoo tahu-tahu malah melakukannya.

Kedua sudut bibir pemuda yang lebih tua naik. Gak sadar melawan arah gravitasi. Begitu aja, setelah melihat air muka Seokmin yang berubah tegang. Lucu. Mereka sama sekali gak buka suara, hening masih menyelimuti gerbong kereta yang surprisingly isinya cuma ada dua anak manusia.

“Hari ini jalan-jalannya seru gak?” Jisoo bertanya. Basa-basi.

Mereka masih saling berhadapan, tetapi tangan Seokmin udah enggak dipegang lagi. Yang ditanya mengangguk cepat. Kemudian mata Seokmin melirik-lirik ke satu arah, mengisyaratkan sesuatu kepada Jisoo. “Boleh?”

Jisoo ikut mengangguk, menepuk pundak kirinya beberapa kali sebagai tanda bahwa dirinya mempersilahkan kepala Seokmin untuk dijatuhkan disana.

Dengan pelan, yang lebih muda menempatkan kepalanya pada perpotongan leher Jisoo. Wangi parfum manis yang sering Seokmin sangka sebagai bau cokelat itu menyeruak keluar. Harum, tapi enggak memabukkan. Enak, karena meski Seokmin yakin badannya sekarang sudah bau keringat, Jisoo masih tetap segar seperti habis mandi.

“Seru. Anjingnya lucu-lucu.”

“Kapan-kapan mau kesana lagi?"

Ditanya begitu, Seokmin menggeleng. Bukannya nggak mau, tapi ada baiknya mereka melakukan eksplorasi ke tempat lain daripada pergi ke tempat yang sama dua kali.

Contohnya adalah cafe anjing yang tadi mereka datangi. Rekomendasi dari teman Seokmin, yang belum lama ini juga melakukan kencan disana. Tempatnya bagus, bersih, wangi, serta makanannya pun juga enak disantap sambil bermain dengan anjing-anjing yang berlalu lalang. Tapi Seokmin merasa nggak enak karena cuma dia yang bersenang-senang. Pacarnya cuma ngeliatin dari kursi tempat mereka makan, sambil kadang ngetawain Seokmin yang diseruduk beberapa kali sama pasukan anjing pomeranian. Disitu pula Seokmin mikir, mungkin Jisoo bukan orang yang into animal, tapi dia berusaha buat ikut nimbrung biar Seokmin gak kesepian main sendiri.

“Terus maunya kemana?”

“Kemana aja boleh, asal ada kamu.”

Asal ada kamu.

Seokmin berani bersumpah, setelah dia berkata barusan, telinganya mendengar suara degup jantung Jisoo membesar. Saat menoleh agar bisa melihat ekspresi yang lebih tua pun matanya teralikan pada leher Jisoo yang sedang menelan ludahnya sendiri.

“Kak?”

“Hm, iya? Kenapa Seok?”

“Grogi ya?” Seokmin ketawa. Merah mendominasi wajah Jisoo. Sekarang, mantan kakak kelas sekaligus pacar enam bulannya itu terlihat seribu kali lebih cantik. Lebih indah. Daripada langit yang kadang semburatnya bewarna pink keunguan.

“Sok tahu, kamu.”

Hidung bangirnya dijepit oleh telunjuk serta jari tengah Jisoo. Walaupun Seokmin lebih sering usil, tetapi sekalinya Jisoo berbalik iseng, jantungnya dibuat nggak sehat sama sekali.

“Kapan nyampe sih? Lama banget perasaan daritadi nggak nyampe-nyampe,” gerutunya. Kepala Seokmin udah gak senderan lagi karena malu habis dicubit.

“Sabar, sebentar lagi nyampe. Emangnya kamu enggak mau manjain mata, Seok? Awas loh nanti nyesel gak liatin pemandangan di luar jendela yang cuma bisa dilihat di tempat yang tertentu.”

“Gak bakal nyesel, kak,” katanya. “Liatin lu tiap hari juga sama aja manjain mata, tau.”

Mata Jisoo yang melengkung seperti bentuk bulan sabit membuat pemuda itu semakin mirip sama kucing. Padahal Seokmin itu dog person, tapi kalau disuruh pilih anjing atau kucing modelan Jisoo yakali dia nolak kucing.

“Eh, eh, udah nyampe.”

Seokmin langsung berdiri begitu kereta dirasa-rasa sudah berhenti total. Jisoo ngekor di belakang, memperhatikan punggung pemuda yang nggak pernah kehabisan energi itu berlarian dari ujung gerbong ke ujung yang lain.

Dan baru kali ini, seluruh badannya gak merasakan letih sedikitpun setelah seharian berkegiatan di luar rumah. Yang muncul malah semangat yang menggebu ketika menyaksikan pintu gerbong terbuka otomatis, serta tangan Seokmin yang terulur padanya.

Dia senyum. Lagi. Tapi kali ini disusul sama isak tangis yang gak sengaja lolos dari celah bibir.

Bahunya bergetar lalu buru-buru diseka kasar dengan tangannya yang sekarang ikut basah kena air mata.

Jisoo nangis. Karena terlalu senang. Terlalu bahagia.

“Kak Jisoo kenapa?” seru Seokmin. Kaget, karena gak pernah seumur hidup liat Jisoo nangis.

Nggak ada jawaban, Jisoo melangkah keluar disusul Seokmin yang masih bertanya-tanya di dalam benak.

Jisoo malu karena mendadak merasa emosional. Terhadap sosok yang lebih muda, yang sebelum izin pergi kencan dia kenalkan pada orang tuanya sebagai pacar. Melalui kacamata Jisoo, Seokmin layaknya matahari. Dia..... bersinar. Senyumnya tetap cerah meski lelah. Wajahnya bercahaya, walaupun di tempat gelap. Dan pelukannya..... hangat. Jisoo suka, dengan Seokmin yang selalu dikelilingi aura positif sehingga apapun yang pemuda itu lakukan terlihat begitu menyenangkan.

“Kenapa kak? Capek ya hari ini?”

Yang berputar seperti kaset rusak di dalam otak Jisoo bukan jawaban, melainkan akan seberapa cepatkah dirinya menghampiri Seokmin dari tempatnya sekarang berdiri lalu memeluk pemuda itu. Ternyata, perbedaan tinggi yang enggak begitu jauh agak menyulitkan Jisoo buat membenamkan wajah di dada Seokmin.

Jisoo adalah orang yang mengabaikan gengsi. Dia nggak peduli penumpang LRT yang hendak naik atau turun dari gerbong lain akan melihat dan bertanggapan apa terhadap sepasang anak adam berpelukan dikelilingi cahaya matahari yang hendak terbenam. Maka, Jisoo menerjang tubuh kekasihnya lalu dipeluk. Erat, seakan gak bakal bisa dilepas meski Seokmin sendiri yang meminta.

“Aku nggak capek,” ucapnya. Kepalanya bertumpu pada pundak Seokmin yang lebar. “Aku senengggg banget.”

“Kenapa? Karena jalan sama aku?”

“Iya, karena jalan sama kamu.”

“Terus kenapa nangis?”

“Terlalu seneng, Seokmin. You've taken a lot of spaces in my heart. Cringe ya? Tapi aku bener-bener gak bisa deskripsiin seberapa besar rasa sayang aku ke kamu. I think my love for you means more that just a word to describe. Makasih untuk satu hari ini.”

Pelukan mereka dilepas. Sekarang mereka berhadapan lagi, dengan obsidian yang saling menatap lekat satu sama lain.

“Berduaan di gerbong kereta bikin kamu jadi showing off your bucin for me, ya?”

“Bukan gitu, jelek.”

Lagi-lagi Seokmin jadi korban. Pipinya ditarik sama Jisoo. Pelan aja, biar gak nyakitin Seokmin karena tadi di dalam kereta hidungnya udah dijepit.

“Aku ngerasa selama ini jarang banget ngungkapin lewat kata-kata kalau aku sayang kamu. I know sometimes, we need validation so that we wouldn't be insecure just because the things we felt are never spilled out from our mouth.

“Oh gitu?”

“Ih!” Teriakan Jisoo menimbulkan tawa yang berderai dari bibir Seokmin.

“Yaudah sekarang mau pulang nggak?”

“Kemana?” tanya Jisoo. Gak tau maksudnya lagi ngegodain Seokmin atau pure nanya.

“Rumah aku.”

“Aku maunya pulang ke rumah aku.”

Satu alis Seokmin terangkat. “Rumah kamu jauh, mending ke rumah aku. Nginep, gratis.”

“Aku gak bawa sikat gigi.”

“Pake jatah sikat gigi baruku.”

“Aku juga gak bawa baju gan—”

“Gak usah pake.”

“Seokmin!”