Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-01-08
Words:
995
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Hits:
146

Upgraded

Summary:

Pengakuan tak disengaja seorang Sakusa Kiyoomi berhasil mengubah hubungannya dengan sahabat kecilnya.

Work Text:

Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas malam. Lagi-lagi aku pulang kemalaman. Kegiatan-kegiatan yang kuikuti selama di kampus sangat menyita waktu. Bahkan aku hampir rapat setiap hari untuk mengatur acara-acara tersebut agar berjalan dengan lancar. Meskipun aku harus hanya bisa tidur tiga jam sehari, tapi aku senang melakukannya. Aku senang bertemu orang-orang, dan juga berpartisipasi dalam event-event kampus.

Di lobi kampus hanya tinggal aku sendiri, karena aku harus mengurus beberapa hal sebelum pulang. Suasana kampus yang biasanya sangat ramai kini terlihat sangat sepi. Suasana ini terasa sangat asing sekaligus menyeramkan. Jujur saja ini mirip dengan latar di film-film horror yang biasa kutonton.

Kucoba menyalakan ponselku untuk memesan ojek online. Sayangnya keberuntungan tidak berpihak kepadaku, karena ternyata ponselku mati. Aku menghela nafas kasar. Kalau saja mobilku tidak ada di bengkel, pasti sekarang aku sudah sampai di kosan dengan selamat. Sepertinya berjalan kaki juga bukan ide yang bagus, mengingat rawannya daerah kampusku di malam hari. Semoga saja Kiyoomi tidak tahu aku belum pulang.

Aku memutuskan untuk berjalan ke arah pos security, biasanya mereka masih berjaga hingga dini hari. Tapi sebelum aku sempat meninggalkan gedung kampus, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan lobi dan membunyikan klakson. Aku tau siapa pemilik mobil ini. Pasti dia si ikal temanku sejak kecil.

“Cepat masuk!” teriak si pemilik mobil setelah menurunkan jendela mobilnya.

Berdecak kesal, aku pun mematuhinya dan masuk ke dalam mobil. Aku disambut oleh muka jutek Kiyoomi.

“Kok kamu tau aku belum pulang?”

Sambil menyetir, Kiyoomi menjawab pertanyaanku.

“Kamu itu kalo batere hapenya ngedrop, ya dicharge dong. Jangan bikin orang-orang panik. Tadi Yachi telfon aku berkali-kali katanya kamu belum pulang dan nggabisa dihubungin. Untung tadi Yukie tahu kamu ada dimana.”

Sudah kuduga, Kiyoomi pasti bakal mengomeliku habis-habisan. Sekarang aku harus mendengarkan segala omelannya tanpa membantah satu kata pun. Itu adalah jalan keluar terbaik dari situasi ini.

“Kalo dibilangin tuh jangan cuma diem aja! Coba kalo kejadian lagi kayak gini dan aku gaada? Siapa yang mau jemput kamu?”

Banyak! Ada Kak Tanaka, Kak Kita, Kak Akaashi, dan lainnya. Tapi aku tidak berani untuk menjawab Kiyoomi yang sedang berada di mode marah. Bisa-bisa aku habis nanti.

“Aku pernah beliin kamu powerbank kan? Kenapa nggak dipake? Ngga dibawa? Atau rusak?”

Powerbank itu habis dayanya, dan aku lupa mengisinya lagi. Jadi tadi kutinggalkan saja di kosan.

“Kamu mau aktif di kampus itu boleh, mau ikut event ini-itu juga boleh, tapi kamu juga harus tahu batasan dong. Masa setiap hari pulang tengah malem terus, kasian badan kamu. Abis ini pokoknya kamu jangan daftar-daftar kepanitiaan sama organisasi lagi.”

Setelah itu, Kiyoomi berhenti mengomel. Kami saling diam di mobil selama beberapa menit. Sepertinya amarahnya sudah mulai mereda.

“Omi...”

Yang dipanggil hanya bergumam, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

“Maaf.”

Selama beberapa saat, permintaan maafku tidak dijawab.

“Kamu pasti belum makan kan?”

Walaupun luarnya jahat, sebenarnya Kiyoomi itu sangat perhatian dan peduli kepadaku. Tanpa aku harus berkata-kata, ia sudah bisa membaca apa yang aku pikirkan. Satu-satunya orang yang tidak bisa kubohongi di dunia ini adalah Sakusa Kiyoomi.

“Iya, maafin aku.”

“Yaudah kita mampir drive thru aja ya.”

Banyak orang lain bingung dengan hubungan kami. Aku dan Kiyoomi terlampau dekat jika hanya dilihat sebagai sahabat, tapi sayangnya kami tidak lebih dari itu. Bahkan beberapa kali kami juga pacaran dengan orang lain, walaupun masih saling kontak satu sama lain. Tapi kenapa akhir-akhir ini aku merasa berbeda setiap ada di sebelahnya? Semua yang dia lakukan untukku membuat kupu-kupu di perutku beterbangan. Tidak seharusnya aku merasakan hal seperti ini dengan sahabatku sendiri. Tidak jika aku tidak mau hubungan kami hancur.

Kiyoomi menyodorkan burger dan mcflurry kepadaku dan memarkirkan mobilnya agar kami bisa makan dengan nyaman.

“Kenapa nggak dimakan? Katanya belum makan?” suara Kiyoomi membuatku tersadar dari lamunan tadi.

“Eh, iya ini mau aku makan.”

Sambil makan aku terus mencari jawaban dari permasalahanku. Aku tidak tahu apakah perhatian yang Kiyoomi berikan kepadaku itu hanya sebatas sahabat atau lebih. Tapi aku ingin kejelasan dari hubungan kami.

“Omi?”

“Hm?”

“Kamu lagi deket ato suka sama cewek lain?”

Pertanyaaku membuat Kiyoomi tersedak. Dengan cepat aku memberikan botol minumku kepadanya, yang langsung saja ditenggaknya sampai habis.

“Kenapa memangnya? Aku nggak mau ya dijodoh-jodohin sama temanmu lagi.”

“Sebenernya aku lagi suka sama cowok, tapi aku nggak tahu dia suka balik atau engga. Menurutmu aku harus kejar nggak?”

Kiyoomi mengalihkan pandangannya kepadaku. Tanpa bisa kuprediksi, Kiyoomi tertawa kecil. Tawanya terdengar seperti tawa miris.

“Pada akhirnya kayak gini lagi ya,”

“Omi? Maksudmu apa?”

“Iya, kayak gini. Aku yang harus mengalah demi kebahagiaanmu. Bisa nggak sekali aja kamu liat aku sebagai cowo? Aku tahu kita udah berteman lebih lama, dari kecil. Tapi emang kamu ga sadar perlakuanku ke kamu itu spesial?”

Pengakuan Kiyoomi membuat dadaku berdebar kencang. Tidak mungkin kan maksud Kiyoomi itu dia suka aku?

“Aku nggak pernah mau jemput mantan aku kalo mereka minta jemput. Aku juga ngga pernah mau jalan berdua doang sama mereka. Dan aku selalu taruh kamu di nomor satu prioritasku!”

Kiyoomi mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Kalo aku ngga pengen kamu deketin dia, boleh nggak?” ujar Kiyoomi dengan suara pasrah.

Jujur aku terkejut dengan pernyataan impulsif ini. Aku tidak pernah menyangka Kiyoomi akan menyatakan perasaannya seperti ini.

“Omi, kamu yakin?”

Kiyoomi memandangku dengan tatapannya yang sendu.

“Lupakan, anggap percakapan ini tidak pernah terjadi.”

Aku memegang tangan kiri Kiyoomi dan mengusap-usapnya.

“Omi, aku tanya kayak tadi biar kamu ngga nyesel. Aku takut kamu nyesel buat larang aku deketin dia, Omi. Kamu sendiri belum tahu kan dia siapa?”

“Pasti bukan aku.” Kata Kiyoomi dengan senyum sedih.

“Sakusa Kiyoomi, I’m glad that you always be there for me. Aku seneng setiap kamu putus sama mantan kamu. Aku seneng setiap kamu perhatian sama aku. Dan aku seneng aku selalu punya kamu di samping aku. But I want more, Omi. Tapi aku terlalu takut itu bakal merubah pertemanan kita.”

Tanganku berpindah untuk menangkup kedua pipinya.

“Now I know that the feeling’s mutual. What about upgrading our relationship status into something more?”

Kiyoomi terkejut dan membeku mendengar pengakuanku. Tangannya menggenggam tanganku dan meremasnya pelan, seakan mencari kepastian.

“It is true, Omi. I love you.”