Chapter Text
Silver terbangun dari tidurnya.
Semuanya serba biru, cahaya biru, tembok biru, bantal biru. Ia dengan cekatan bangkit dari tidurnya, lalu matanya yang berbinar indah mendelik mengelilingi sudut ruangan. Lantainya berserakan kotak-kotak kardus berisi paket yang setengah dibuka, dan tumpukan manga berceceran berlintangan dengan kabel yang menyilang sana-sini di atas karpet yang… berwarna biru juga. Ditembok banyak ditempeli poster-poster game, idol, dan anime yang Silver sama sekali tidak tahu keberadaannya. Ia melihat layar computer hologram yang terlihat seperti menginstall game.
“Ah… Sialan.”
Silver ingat kenapa dia ada di sini. Semestinya, ia hendak menjemput Idia untuk hadir di rapat antar kepala dorm atas perintah Malleus. Sebek bersikeras untuk bertahan di posisinya karena Leona terus-menerus menantang Malleus untuk duel sambil menunggu Crowley hadir, maka Silver pergi sendiri. Namun di tengah perjalanannya, hendaknya Silver berjalan mengetuk pintu kamar Idia justru ia ambruk dikarenakan kantuk yang mendadak. Ia ingat betul, kepalanya menghantam keras pintu tersebut dan terkapar di depannya. Kemungkinan besar Idia atau Ortho yang memasukkannya ke kamar.
“Dimana dia?”
Pemilik kamar tersebut sedang tidak ada. Begitu pula adiknya. Sepertinya mereka memang sedang keluar, semoga saja menuju ruang rapat. Ia menghela nafas kecewa, lagi-lagi tugas sedemikian mudahnya ia kacaukan karena tertidur. Silver hendak berangkat pulang ke ruang rapat, namun dia merasakan pinggangnya agak sedikit lebih ringan dari biasanya: Batonnya hilang.
Mulailah ia mencari-cari batonnya. Pertama, dia mengobrak-abrik kardus-kardus Idia. Isinya hanya paket permen, snack cokelat, serenteng energy drink, komik yang masih dibungkus dengan jumlah 12 volume, perintilan-perintilan mesin semacam gir dan per besi beserta alat-alat perkakas, majalah anime edisi Halloween, dan entah kenapa sepatu baru yang sepertinya belum pernah dipakai. Ia carilah kemudian di lemarinya yang penuh buku. Selain bacaan hanya ada beberapa figure dan boneka plushy, tak ada tanda baton. Akhirnya ia mencoba menggali kasur, tapi tak ada pula.
Di antara lautan lazuardi ini seharusnya mudah untuk Silver mencari baton hijau menterengnya, tapi… aah berantakan sekali tempat ini. Maka dari itu, Silver memutuskan untuk merapikan kamar Idia agar ia bisa lebih mudah mencari batonnya.
Ia sabet kasurnya dengan sihir, agar debunya lepas. Lalu ia susun bantalnya. Ia organisir barang-barangnya di kardus, tidak memilah isinya namun hanya menyusun barang di dalamnya agar tidak mencuat kemana-mana. Ia rapikan manga-manga yang bertebaran bak ranjau, dan dijadikan satu tumpukan rapi di atas meja. Silver tidak mau macam-macam dengan kabel yang melintang kemana-mana, karena dulu dia pernah tidak sengaja mencabut kabel computer ayahnya di tengah boss battle. Akhirnya, Silver malah keterusan merapikan kamar Idia.
Namun saat ia hendak mengumpulkan beberapa kertas yang berserakan, ia menemukan satu kertas yang menghentikan aktifitasnya.
Sebuah sketsa pensil dengan wujud Silver, saat ia tertidur di meja kelas.
Silver memandang lamat-lamat gambar tersebut. Sungguh tipis tarikan-tarikannya, goresannya lirih, seakan terecoki akan gesekan granitnya sendiri. Seperti malu-malu. Biar begitu, di karenakan itu wujud Silver yang menggunakan lengannya sebagai bantal memancarkan ketenangan. Tidurnya seakan tidak akan diusik apapun. Gambar itu seperti cahaya matahari yang menembus dedaunan, lembut, syahdu.
“Maksudnya, kalo rapatnya emang gak penting-penting amat kan tinggal pake tablet kan bisa, Ortho!”
Silver secara refleks melipat gambar tersebut dan memasukannya ke dalam kantong celana.
“Hehehe, menurutku sih penting, kak. Karena kakak jadi bisa keluar kamar akhirnya…”
Silver merapikan pakaiannya dan berlagak normal.
Pintu terbuka.
“Hah! Tadi pun aku sedang di luar kamar! Keluar kamar juga aku sering, tau. Kamunya aja yang gak liha- UAAAAAGHHHH?????”
Idia, yang tingginya hampir dua meter, meringkuk di balik robot adik kecilnya.
“Kak Silver sudah bangun!” Ortho tertawa manis.
Silver terdiam. Ia melihat Ortho, lalu pelan-pelan memandang Idia. “Iya.”
“Kenapa kamu di sarangku?! Ka-kamarku… Kamu beresin kamarku??” Idia mendengik. Pita suaranya bergetar kacau karena shock.
“Maaf, karena aku dari tadi mencari batonku. Aku pikir kalau aku rapikan kamarmu sedikit akan lebih mudah ditemukan.”
Ortho terbang menuju meja Idia. “Aah, batonmu aku taruh di sini! Karena ujungnya runcing, aku takut badanmu bisa tertusuk tanpa sengaja.” Ortho meraih baton tersebut. Ternyata selama ini batonnya tertutup layar hologram sehingga batonnya terlihat seperti biru juga…
“Kau yang memasukkan aku ke sini, Ortho?” Tanya Silver sambil menerima batonnya.
“Iya, tadi aku sedang belajar mandiri di kamar, tiba-tiba ada suara dentuman di pintu. Ternyata Kak Silver jatuh tidur, dan karena Kak Silver aku baru tahu kalau hari ini ada rapat penting, jadi aku buru-buru membawamu masuk dan menyuruh Kak Idia untuk cepat-cepat hadir… Maaf ya aku tidak sempat membangunkanmu…”
“Tidak apa-apa. Justru aku yang harusnya berterima kasih, Ortho. Aku ke sini memang untuk menjemput Kak Idia. Tapi, Bagaimana kamu tahu hari ini ada rapat?”
“CCTV!”
Ortho dan Silver berbasa-basi biasa, sedangkan Idia bertindak sesuatu. Dengan acuh akan tamunya, Idia berjalan menuju kertas-kertas berserakan di lantai yang Silver tidak sempat bereskan. Ia mencoba untuk tidak terlihat mencurigakan, tapi gerak-geriknya seakan sedang mencari sesuatu. Silver otomatis bungkam, dan ia akhirnya unjuk pamit.
“Aku harus segera kembali melanjutkan tugasku. Sekali lagi, terima kasih Ortho dan Idia.”
“Jangan ketiduran lagi, Silver!” Seru Ortho menggemaskan. Idia tidak bicara apa-apa. Silver menjawab dengan anggukan dan kembalilah ia.
Baru setelah Silver benar-benar pergi dari pandangan mereka berdua, Idia jongkok dan memungut satu-satu kertasnya. Ia membuka-buka kertas-kertas tersebut dengan cekatan dan-
“Aaaah! Ah syukurlah. Syukurlah.” Seru Idia. Ia tidur telentang di lantai.
“Kenapa kak?”
“Sepertinya dia nggak lihat gambarku itu…”
“Ah, yang gambar Kak Silver itu? Kakak buang kah?”
“Aku… gak ingat aku taruh dimana gambar itu. Udah lama banget. tapi seingatku sudah aku selipin di salah satu bukuku di lemari bagian terdalam. Atau memang sudah ku buang? Fu hihihi…”
“Sayang sekali kalau dibuang!”
“Tidak, tidak. Itu cuman gambar. Kebetulan posenya dia lagi bagus, dan aku merasa sedikit terinspirasi saja. Tidak begitu spesial.”
Yang Idia tidak tahu, menjelang tidur malam, Silver sedang memandang gambar itu dengan seksama, namun kepalanya hiruk-pikuk akan khayalan. Ia membayangkan Idia sedang diam-diam menggambarinya di kesempatan ia lelap. Ia membayangkan mata kuning tajam Idia fokus menangkap detail-detail wajahnya yang tersungkur lelah di meja. Ia membayangkan tangannya yang ragu menggoreskan pensil di bukunya, berusaha untuk tidak membangunkannya. Ia bayangkan wajah Idia diseliputi merah, berpikir ‘aah kenapa aku memutuskan untuk menggambar Silver tidur?’. Dan setelah gambar itu selesai, ia bayangkan Idia, juga memandang gambar tersebut lamat-lamat, tersenyum lembut, lalu pergi meninggalkan Silver untuk melanjutkan tidurnya.
Jantung Silver berdebar. Ia bisa merasakannya, tangannya ikut berdebar, denyutnya menjalar keseluruh tubuhnya. Silver tidak bisa berhenti menghayal, hingga akhirnya kantuknya yang menbubarkan.
