Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-01-11
Words:
1,114
Chapters:
1/1
Kudos:
12
Hits:
156

Perlahan, Tapi Pasti

Summary:

Bulannya indah sekali, bukan?

Notes:

NOTE : Nama Wanderer dalam fic ini adalah Shinichi. Pembaca silakan membayanginya dengan nickname Wanderer kalian masing-masing :>

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Genshin Impact © Hoyoverse

Penulis tidak mengambil keuntungan apapun dari tulisan ini


Lumine mengangkat kedua lengannya sebagai peregangan. Siang pun berganti malam, hari ini kemudian akan berakhir seperti hari-hari sebelumnya. Mengerjakan komisi dari guild, berkeliling Sumeru demi peti-peti kecintaan seluruh petualang, dan mengumpulkan material yang dibutuhkan oleh rekannya demi semakin kuat.

Ya, rekan yang disebutkan saat ini berdiri di belakangnya. Melipat kedua tangannya, membuang mukanya, sementara wajahnya terlihat sinis. Lumine hanya bisa pasrah dengan kelakuannya itu. Namun, karena juteknya sang rekan yang membuatnya betah untuk bertualang bersama. Meskipun sedikit, Lumine bisa melihat keimutan dari pemuda berlidah tajam itu.

“ Akhirnya, hari yang membosankan berakhir juga.” Sang rekan akhirnya bersuara setelah kedatangan mereka di kota Sumeru untuk beristirahat. Seperti biasa, kalimatnya yang terlalu jujur diucapkan dengan nada yang angkuh. Begitulah sifat bawaannya, Lumine tidak bisa merubahnya.

“Shinichi, kau bisa ke penginapan duluan. Ada yang perlu kulakukan dengan semua material ini,” suruhnya dengan menunjukkan sekantong material yang sudah mereka kumpulkan.

Yang dipanggil mendengus sebal, “huh, siapa kau yang menyuruh-nyuruh seenaknya.” 

Sikapnya memang menyebalkan, tapi Shinichi tetap menuruti kata-kata Lumine dan beranjak ke penginapan. Dalam hati, sang pengembara yang datang dari dunia lain itu tertawa.

Shinichi, nama yang telah diberikannya untuk sosok Wanderer. Nama baru dari seseorang yang dulu bernama Scaramouche, The Balladeer, Kabukimono, dan Kunikuzushi (sampai sekarang, Lumine tidak habis pikir dengan daftar nama yang dimilikinya). Entah bagaimana, Lumine merasa bahwa nama itu cocok dengan Wanderer. Sesuatu yang baru. Setidaknya, Wanderer yang sekarang lebih baik dari seorang Harbinger yang sudah melakukan kekacauan di Inazuma dan Sumeru (meskipun kadar menyebalkannya masih sama).

 

Setelah keduanya berpisah di Sanctuary of Surasthana, Lumine kembali menjalani hari-harinya di Teyvat seperti biasa. Komisi, keliling, makan, tidur, ulangi. Hingga suatu ketika ia tidak sengaja bertemu dengan Shinichi di jembatan kayu tak jauh dari kota Sumeru. Entah apa yang merasuki pemuda itu yang membuatnya menyetujui permintaan iseng Lumine untuk menemaninya berpetualang. 

Waktu terus berjalan hingga mereka sudah bersama selama dua minggu. Shinichi semakin menunjukkan perkembangannya dalam menguasai vision Anemo barunya. Begitu pula dengan hubungan mereka. 

Seluruh kata-kata yang keluar dari mulutnya terkesan sarkastik dan mencemooh, tapi tindakannya terlihat jelas kalau Shinichi sesungguhnya peduli. Sedikit demi sedikit, Shinichi mulai membuka dirinya. Sepertinya, Nahida telah merawatnya dengan sangat baik. Dewa Kebijaksanaan memang tidak bisa diremehkan.

 

“Hei.” Lumine menengok ke arah belakang. Dilihatinya Shinichi yang berdiri dengan berkacak pinggang. 

“Kau tidak datang-datang, kupikir kau diculik oleh perampok atau bagaimana. Ternyata kau disini, benar-benar membuang waktuku saja.” Ah, dia membuang mukanya lagi. Lumine hanya tersenyum simpul.

Ia merasa tidak mengantuk, jadi Lumine memutuskan untuk duduk sebentar di sebuah kursi yang menghadap ke sebuah sungai. Malam ini langitnya cerah, menunjukkan bulan purnama yang begitu indah. Sayang sekali kalau ia melewatkannya.

“Ah, maaf. Bulannya terlalu indah, aku sampai tidak sadar kalau duduk terlalu lama. Bagaimana dengan Paimon?”

“Huh, si kecil melayang itu nyenyak sekali tidur setelah menyantap makanannya.” Tawa kecilnya lolos ketika mendengar perihal partner kecilnya itu. Paimon tetaplah Paimon.

Tanpa diduganya, Shinichi kemudian duduk tepat di sampingnya. Sepi mengisi ruang mereka. 

“Kau ke sini karena memang melihat pemandangan, atau karena tidak bisa tidur karena kehadiranku?” Shinichi menyeringai dengan sudut pandang yang lagi-lagi seolah mengoloknya. Lumine yang sudah lelah dengan perangainya hanya bisa menhela napas.

“Aku masih belum mengantuk, itu saja.”

Sebuah tawa sinis lolos dari rekan barunya. Sudah kesekian kalinya Lumine menghela napas menghadapi pemuda di sampingnya. Dari siang tadi ketika dia menghabisi sekumpulan jamur dengan brutal, hingga malam ini. Kesabarannya dalam menghadapi Paimon ternyata berguna juga untuk Shinichi.

 

“Bulannya indah, ya.” Lumine mencoba memecah keheningan dengan mengangkat topik pemandangan purnama yang bercahaya tanpa gangguan awan sedikit pun. Ia melirik lewat ekor matanya, Shinichi hanya diam melihati langit tanpa meresponnya. Sebal? tentu saja. Siapa pun akan merasa kesal ketika tidak ditanggapi, apalagi oleh seseorang dengan perwatakan seperti Shinichi.

Ketika ia merasa akan menerima respon, yang datang hanyalah sebuah dengusan tanda tak tertarik. Lagi, Lumine menghela napas, menyerah untuk membuka percakapan di antara keduanya.

 

“Bulannya… indah, bukan?” 

Tanpa diduganya, Shinichi tiba-tiba berbicara dengan sedikit jeda. Sang pengembara jelas lah bingung, kenapa Shinichi malah mengulang kalimatnya barusan.

Netra emasnya kembali menengok ke arah Shinichi. Betapa terkejutnya ketika melihat pemuda itu mengeluarkan ekspresi yang di luar karakternya. Meskipun pencahyaan di luar agaknya remang-remang, Lumine dapat melihat jelas rona merah di pipi Shinichi. Seakan sadar dengan perubahan di wajahnya, dia menarik topinya untuk menutup wajahnya yang sedang malu.

Lumine sejenak bertanya-tanya, kenapa Shinichi berubah setelah ia mengucapkan kalimatnya tadi. Respon yang berbeda dari konteks ucapannya, yang seharusnya tidak bermakna ganda.

Atau, memang bermakna lain.

Sesuatu dari kepalanya mengingatkan kembali bahwa Shinichi awalnya diciptakan di Inazuma oleh sang Archon, Raiden Shogun sebagai wadah untuk menyimpan gnosis. Lalu, apa kaitannya dengan kalimat tadi?

Tanpa sengaja, ingatannya dibawa ke sebuah tulisan dari buku yang pernah dibacanya di Inazuma. Tentang kalimat tersirat dalam menyampaikan sesuatu dengan cara yang puitis.

Salah satunya berhubungan dengan bulan.

Bulan.

Bulannya indah sekali.

Bulannya… indah, bukan?”

Dalam bahasa Inazuma, kalimat itu bisa memiliki makna yang lain. Sebuah tutur kata yang dapat berarti, aku mencintaimu.

Seketika, Lumine menemukan benang merahnya. Pengucapan dengan jeda, ekspresi yang mengisyaratkan perasaan malu, kalimat dengan makna tersirat.

Disinari oleh cahaya purnama, wajah sang pengembara ikut memerah setelah mengerti semuanya.

Apakah Lumine senang? tentu saja. Terlepas dari kelakuannya, Lumine merasa nyaman dengan kehadiran Shinichi di sampingnya. Namun, kenapa tiba-tiba Shinichi mengatakan hal itu, ia tidak paham. 

Shinichi yang mencari dirinya karena tidak kembali ke penginapan, kemudian duduk dan secara tidak langsung menemaninya untuk menikmati malam yang cerah. Meskipun tertutupi perkataan sarkastiknya, Lumine bisa merasakan kalau Shinichi benar-benar khawatir.

Ah, mungkin Lumine mulai paham. 

Meskipun Shinichi bilang sendiri kalau dia hanya berbicara apa adanya, tapi tetap saja ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkannya dengan baik. Dimulai dari persetujuannya dalam mengembara bersama, kekesalannya karena Lumine yang tidak kembali, dan sebuah pernyataan mendadak.

Mungkin saja kalimatnya tadi tidak benar-benar bermakna pernyataan cinta. Aku ingin bersamamu? barangkali makna itu yang berusaha diucapkannya, terdengar cukup dekat. Tetapi apapun itu, Shinichi masih sulit untuk mengungkapkannya.

Sang boneka yang manusiawi itu ingin mencoba lebih dekat dengannya, tetapi ia tidak tahu harus melakukan pendekatan semacam apa. 

Semakin dipikirkan, semakin lebar pula senyuman Lumine. Hingga akhirnya ia tertawa. Shinichi memang sosok yang menyebalkan. Namun, karena itu lah, ia senang bersamanya.

 

“Kau benar. Mungkin karena aku melihatnya bersamamu, Shinichi.” Bukannya menatap ke arah sang rembulan, Lumine membawa netra emasnya untuk bertatapan dengan Shinichi yang masih malu-malu.

Sepertinya Shinichi menyadari maksud respon Lumine dan bagaimana tatapannya pada dirinya, topi yang digunakannya semakin diturunkan untuk menutupi wajahnya yang merah padam. Sementara lengannya yang bebas menyikut Lumine yang sedang menggodanya. Lumine hanya tergelak karena berhasil membuat sosok sinis berwatak seperti berandalan itu dibuat takluk oleh kalimatnya sendiri.

Perlahan, tapi pasti. Lumine berdoa dan berharap, ia dan Shinichi akan semakin dekat lebih dari ini.[]





Notes:

AKU NULIS APAAN
pengen nulis moment scaralumi dengan kalimat famous "the moon is beautiful, isn't it?", dan lahirlah tulisan ini. aku merasa karakterisasi Wanderer di fic ini agak kurang TvT, tapi tak apalah. semoga fic scaralumi-ku yang lainnya punya karakterisasi yang lebih bagus lagi :D

as always, terima kasih sudah membaca, hope u guys like it :D
-Ayase