Actions

Work Header

Ulang Tahun Reigen Arataka

Summary:

Tahun selanjutnya, Reigen menantikan untuk merayakan hari ulang tahunnya.

Timeline antara ultah dari S3 sampai Reigen OVA (manifesting)

Notes:

Udah lama nulisnya, tapi aku taro sini aja buat porto awkwkwkwk

Work Text:

Hari ini adalah hari ulang tahun Reigen Arataka.  Dia mungkin tidak menunjukkan bahwa dia sangat menantikan saat ini, tapi di dalam hatinya, percayalah, jantungnya menggebu-gebu penuh antisipasi. Tahun lalu, teman-temannya memberi dia kejutan di kantor Spirits and Such, dengan kue tart stroberi. Sayang saja, kue itu mendarat ke wajah tampannya yang berminyak, akibat Mob, bawahannya, iseng.

 

Bangun tidur, dia mematikan alarm yang di set lebih awal dari jadwalnya yang biasa. Reigen berencana untuk membersihkan kantornya, siapa tahu nanti ada yang mengadakan pesta dadakan buatnya, jadi sebisa mungkin Reigen harus memudahkan mereka untuk mempersiapkan areanya. Dia juga sengaja mandi sedikit lama untuk benar-benar membersihkan tubuhnya. 'Kan lucu kalo aku ultah, malah aku yang paling bau.' tegunnya di bawah shower.

 

Karena masa shower adalah masa overthinking, dia jadi merasa bahwa dia terlalu semangat akan sesuatu yang tak pasti. Dia berkali-kali berusaha untuk menurunkan ekspektasinya, tidak mau terbawa perasaan dan tidak mau mengharap ada pesta kejutan untuk kedua kalinya. Tapi wajahnya yang sekarang bersih dari belek dan garis iler semakin tampak berseri-seri. Dia sangat, sangat menunggu ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang disekitarnya. Ya, minimal itu.

Berangkatlah ia untuk bekerja, dengan baju rapi seperti biasanya, kemeja abu dan dasi merah muda babi, sepatu kulit yang di polesnya sehari sebelum kerja, dan sekantung garam dapur yang baru dia beli di supermarket.

 

Sesampainya di Spirits and Such, dia mulai membersihkan kantornya. Dia mengepel, mengoyak debu-debu di laci dengan kemoceng, memoles tanaman dengan solusi yang membuat daun terlihat kinclong, tidak lupa menyiraminya. Oh, dia pula juga membersihkan kamar mandi, pekerjaan yang biasanya dia berikan ke Serizawa, karena dulu ada satu dua kecoa yang tinggal disitu yang sekarang sembunyi entah dimana. Namun Reigen mencoba tidak acuh, dia tidak ingin menyusahkan, hypothetically, teman-temannya yang akan membuat pesta untuknya.

 

Baru, setelah itu, Serizawa datang. "Oh Serizawa! Pagi!" Seru Reigen berbinar-binar.

"Pagi bos, hari ini terlihat semangat ya?"

Reigen tertawa di kursi putarnya. "Moodku hari sedang bagus sekali, rasanya seperti 'lahir kembali'! Hahahahah," Tawanya sangat seperti bapak-bapak.

 

Serizawa terlihat senang juga melihat Reigen begitu semangat. Dia mengeluarkan sebungkus kotak bekal. Reigen sudah salah mengira itu kado untuknya, matanya terbelalak sebentar. "Itu buat siapa ya?" Tanyanya.

 

"Ini bekalku. Ibuku menyuruhku untuk membawa bekal, hahaha. Katanya sudah lama tidak membuat bento semenjak aku mengurung diri." Senyum Serizawa. Reigen mengangguk-angguk. 'Ah, kukira mau kasih bekal, lagian ngapain ulang tahun di kasih bekal?? Lucu kamu Reigen.' pikir si pirang. 

 

Serizawa membuka bekalnya hanya untuk melihat desain bentonya. Dia tersenyum sendiri melihat 3 onigiri dan telur manis, sayur, serta cemilan manisan di kertas cupcake. 'Ah... Sudah lama juga aku tidak makan bento ibu." Dia memasukkan bentonya kembali ke bungkusnya.

 

Reigen jadi ingat ibunya. Ah, mungkin ibu sudah mengucapkan ultah di emailnya. Maka ia membuka email di laptop. Belum ada kabar.

 'Oke, oke. Tenangkan dirimu Reigen. Ini masih jam 8 pagi. Semua orang pasti sedang sibuk melakukan aktifitasnya masing-masing. Sekarang fokus kerja dulu.'

 

Akhirnya, klien pertama datang, yang memang booking pagi-pagi. Ia datang bersama Tome, keduanya masih dengan seragam sekolahnya, namun baju si gadis itu terlihat kebesaran.  Seorang gadis itu berwajah begitu muram, matanya seperti berkunang-kunang, dan auranya begitu gelap dan negatif. Serizawa menunjukkan ekspresi cemas. Gadis itu pula membawa tas besar selain tas sekolahnya, entah untuk apa.

 

"Halooo Om Reigen," seru Tome riang.  "Jangan lama-lama ya, kita mau langsung ke sekolah habis ini."

 

Serizawa dengan cekatan berbisik ke Reigen. "Bos, yang ini beneran ada ruh jahat yang ganas." Serizawa sudah terlatih untuk mengindikasikan apakah kasus ini spekulasi saja atau bukan. Reigen mengangguk. "Serizawa, buatkan teh untuk mereka."

 

Si gadis itu membuka diri.

 

"Aku tiba-tiba merasa sakit, padahal dua hari kemarin tidak kenapa-kenapa. Suka demam mendadak, pundakku juga sangat berat sekali rasanya. Tubuhku juga semakin mengurus..."

Gadis ini menunjukkan foto dari handphone touchscreennya. "Ini fotoku dua hari yang lalu."

 

Reigen dan Serizawa mendelik. Gadis itu dulu sangat gemuk, hampir obesitas. Pantas saja bajunya terlihat kebesaran. "Kau yakin mau ke sekolah setelah ini?" Tanya Reigen.

 

"Hari ini aku sudah janji mau mengadakan pesta kejutan untuk temanku yang ultah di sekolah... Jika aku melewatkannya akan jadi sayang sekali."

 

Aah, lagi-lagi pesta ulang tahun. Tidak, kau harus fokus menyelamatkan gadis ini. 

 

"Serizawa, bagaimana?" Tanya Reigen meminta kesanggupan, lalu dibalas dengan anggukan. Serizawa mampu menolong gadis itu. "Tetapi..." ucap Serizawa. "Tome, kamu harus keluar dulu. Untuk antisipasi agar ruh ini tidak berpindah ke kamu."

 

"Aah tapi aku mau lihat," Dengus Tome sambil keluar ruangan.

 

"Bos, kau juga." Perintah Serizawa.

 

"Eh? Tapi.. oke deh." Reigen akhirnya keluar, sepertinya memang ganas sekali arwah itu.

Keduanya keluar dan hanya menunggu di depan pintu kantor. Tiba-tiba, suara teriakan dan lengkingan aneh menyengat kuping mereka. Suara tubrukan dan tundukan beradu-adu di balik dinding, lantainya sedikit bergetar oleh energi yang berlawanan milik Serizawa dan arwah tersebut. Akhirnya, ruangan tersebut tenang lagi. Serizawa akhirnya keluar kamar. "Ya, sudah selesai."

 

Tome dan Reigen keringat dingin. Tome berkeringat karena bersyukur dia nurut keluar ruangan, namun Reigen ada alasan lain. Rasanya ingin teriak karena usahanya membereskan kantor langsung kandas karena arwah jahat. Kantornya sudah mirip sekali dengan kapal pecah di tabrak gunung es. Bahkan tanaman yang dipolesinya sudah keluar dari potnya.

 

"Ah... Maaf bos. Aku sedikit salah perhitungan. Seharusnya di lakukan di lapangan..." Serizawa sedikit grogi. Dia kemudian menggunakan telekinesisnya juga untuk membereskan kantor itu dengan sekejap.

 

Si gadis wajahnya menjadi ceria lagi. Biarpun tetap kurus, dia sudah tidak terlihat seperti orang penyakitan lagi. Dia berterima kasih banyak kepada Reigen dan Serizawa karena telah menyelamatkannya. Dia juga berterima kasih ke Tome karena telah menyarankan tempat ini. Setelah membayar jasa eksorsis, ia memberi dua kue cupcake yang ia bawa dengan tas besar itu. Rupanya dia yang bertugas untuk membawa kue untuk acara ulang tahun kawannya, makanya dia sangat bersikeras untuk datang ke sekolah. Reigen jadi sedikit terharu. "Kebetulan hari ini hari ulang tahunku, hahaha!"

 

"HAH!?" Serizawa membengok kaget. "Ya ampun, aku lupa! Selamat ulang tahun, bos!"

 

"Nah kan, beneran pada lupa..." Reigen tersenyum masam.

 

"Kalau itu, aku sih ingat." Seru Tome. "Ini, titipan dari Mob dan Ritsu. Hadiah."

 

Aah... Bawahan lamaku, Mob. Tentu dia tidak lupa. Sebuah hadiah dengan bungkus kuning dan pita hijau, terselip sebuah kartu ucapan.

 

"Selamat ulang tahun, master. Ini hadiah dari aku dan Ritsu, kita patungan untuk membelinya, aku harap master menyukainya. Titip salam untuk Serizawa juga.

-Mob"

 

"Selamat ulang tahun, Reigen. Kuharap kau cepat tobat.

-Ritsu"

 

"Hadiahmu mana, Tome??" Lawak Reigen.

 

"Lho!! Klien ini aku lho yang nggaet?? Anggap aja hadiah dariku." Tome berbalik badan bersama temannya. "Dah ya! Kita nanti telat sekolah! Selamat ulang tahun, Reigen!"

 

"Yaa, ya. Makasih!" Seru Reigen. Dia sangat berbunga-bunga hatinya. Rupanya tidak sebegitu mengenaskan yang dia takutkan. Di pinggir ruangan, Serizawa sangat-sangat grogi, dia memainkan tangannya yang berkeringat. Dahinya mengernyit cemas. "Bos... Kalau mau, saya traktir makan di kafe atas? Sebagai hadiah dari saya?"

 

Reigen menepis udara di depan wajahnya. "Aah tidak usah. Sudah, tidak masalah kamu lupa tentang ulang tahunku. Toh kamu juga belum kerja lama disini."

 

"Aku masih merasa tidak enak, biarpun aku masih baru..."

 

"Yasudah, nanti kita beli burger saja. Gausah di traktir. Santai aja, Serizawa," Reigen tersenyum meyakinkan. Serizawa membalas senyumnya dengan anggukan kecil.

 

Saat kantor sudah tutup, Reigen pulang ke rumahnya. Ia berberes diri, mandi sebentar, dan mengenakan piyamanya yang jelek. Lalu, ia membuka kado pemberian Mob dan Ritsu. Yakni sebuah dompet kulit indah, dengan tutup klip magnet, terdapat banyak kantung untuk kartu penting, dan ada saku kecil untuk receh. Reigen tersenyum senang, meskipun tidak semeriah ulang tahunnya yang lalu, ia masih merasa dirinya penuh dengan kebahagiaan.

 

Dia mengecek email komputernya lagi. Seperti biasa, setiap tahun ibunya mengucapkan selamat ulang tahun. Ia mengirimnya agak siang, disaat Reigen sedang sibuk-sibuknya. Reigen akhirnya siap menutup harinya dengan tidur.