Actions

Work Header

Benda Milik Ahn Soo-ho

Summary:

Dua hal yang berkaitan dengan Ahn Soo-ho yang melekat di ingatan Yeon Si-eun adalah bantal karakter lucu berwarna merah mudah dan jaket merah dan abu-abu yang penuh aroma.

Si-eun tidak menyangka akan terlibat dengan kedua benda ini untuk menghadapi Soo-ho.

Notes:

Halo! Selamat malam!

Kali ini aku hadir dengan fanfict SuShi yang baru, yuhuuu~!

Mohon untuk memerhatikan tag karena khawatir ada yang tidak perhatian di sana dan merasa kecewa.

Oya, ini didasarkan oleh Ahn Soo-ho versi drama dan versi webtoon. Mungkin ada yang membaca karya asli dan tahu bagaimana Ahn Soo-ho melakukan sesuatu tentang mode dan mengatakan pada Yeon Si-eun itu keren. Jadi, aku sedikit berlandaskan pada ingatan tentang itu dan mencampurnya dengan Ahn Soo-ho versi drama yang ternyata tidak jauh berbeda, ya? Hehehe. Oya, Yeon Si-eun juga aku ambil dari versi drama dan versi webtoon karena pemikirannya tentang mode Soo-ho. Kalau kalian belum mengerti, coba baca webtoon-nya! Aku sangat merekomendasikan!

Selanjutnya, selamat membaca dan terima kasih atas semua dukungan diam-diamnya!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pertama kali melihat bantal berwarna merah muda yang lucu itu, kesan kasar mengenai Ahn Soo-ho yang menghabisi kakak seniornya langsung menimbulkan keraguan. Yeon Si-eun tidak pernah mengomentari apa-apa yang dianggap Soo-ho keren, ia selalu menyimpan ketidaksetujuan itu di dalam kepala dan memberi wajah pada Soo-ho. Semua hal yang bertolak belakang pada citra Soo-ho adalah sesuatu yang konyol dan bantal merah muda itu adalah sesuatu yang menurut Si-eun konyol. Si-eun memandang bantal merah muda yang selalu digunakan Soo-ho untuk tidur di kelas dengan tatapan serba salah. 

Hal yang lain, yang berkaitan dengan Soo-ho, yaitu jaketnya yang berwarna merah dengan perpaduan warna abu-abu. Jaket yang mungkin terlalu sering digunakan sehingga aroma tubuh Soo-ho menempel permanen. Si-eun bukan orang mesum yang mengendus bau seseorang, ia selalu berdekatan dengan Soo-ho. Kemudian menyadari bahwa jaket yang terlalu sering dipakai ternyata dapat meninggalkan jejak Soo-ho di mana-mana. Si-eun tidak terlalu banyak berpendapat mengenai jaket ini, warnanya cocok dan Si-eun kerap kesurupan mengetahui bahwa itu sesuai citra Soo-ho.

Soo-ho di mata Si-eun itu ... .

Sebelum kepindahan, Si-eun diberikan waktu untuk membereskan loker dan mejanya. Kelas yang ramai diisi anak-anak menjadi sangat sunyi setelah penampilan berdarah Si-eun terakhir kali. Tak ada satu anak pun yang akan mengusik Si-eun karena tahu apa yang dilakukan Si-eun benar-benar tidak dapat dihentikan oleh anak-anak biasa seperti mereka. Si-eun bergerak ringkas karena ingin segera keluar dari tempat memuakkan ini. Tak ada barang-barang yang berkesan, kecuali semua buku terkait materi soal dan catatannya. Si-eun berkemas tanpa susah payah dan menatap loker itu tanpa kesan. Loker sederhana itu telah ditinggalkan, Si-eun segera mencabut papan nama dan menyimpan di sakunya.

Si-eun akan benar-benar keluar kalau pemandangan loker eksentrik Soo-ho tidak menghentikannya. Loker yang sangat sembrono, Si-eun menarik halus garis bibirnya dan memandangnya dengan banyak percikan. Loker itu berpenampilan seperti tidak pada tempatnya, ada banyak stiker kekanak-kanakan dan papan nama yang ditulis dengan kasar. Si-eun tidak keberatan berlama-lama, jadi ia menyimpan barang bawannya untuk mengambil papan nama loker Soo-ho dan menyayangkan ketidaktahuannya tentang kode.

Si-eun mengusap papan nama itu dan menemukan goresan halus di sisi yang berlawanan. Goresan itu mirip dengan penulisan nama Ahn Soo-ho dan itu ada kode yang disimpan dengan ceroboh. Matanya menunjukkan ketertarikan, Si-eun langsung memasukan kode untuk menemui kedua benda yang paling berkaitan dengan Soo-ho, yaitu bantal merah muda dan jaketnya.

Anak-anak di kelas tahu jelas bahwa hubungan Si-eun dan Soo-ho sangat dekat apalagi insiden kekacauan yang diciptakan Si-eun ada kaitannya dengan Soo-ho. Mereka tak berani menginterupsi Si-eun yang mengambil jaket dan bahkan memakainya dan membawa bantal merah muda yang bahkan tidak sesuai dengan citra Si-eun. Kalau di masa lalu, mereka akan berbisik mengenai penampilan Si-eun, kali ini mereka tidak ingin mencari masalah dengan meremehkan penampilan Si-eun dan mereka semua diam.

Si-eun tidak menyangka bahwa jaket ini benar-benar banyak menyerap aroma tubuh Soo-ho. Ukuran jaket lebih besar daripada milik Si-eun dan itu melewati garis tangannya bahkan Si-eun tidak repot untuk menggulungnya. Bahkan bantal merah muda itu masih empuk dan menggemaskan seperti yang terakhir kali dan Si-eun merasa pantas Soo-ho sangat sering menggunakannya. Seketika ia lupa dengan perasaan beratnya, Si-eun memutuskan untuk pergi menjumpai Soo-ho.

Pergi dengan jaket dan bantal yang masih dipenuhi aroma Soo-ho mengingatkannya pada malam-malam acak dimana Soo-ho membawanya keluar dengan mengendarai sepeda motornya. Saat itu, aroma tubuh Soo-ho tidak terlalu jelas karena bercampur angin malam. Si-eun juga tidak mengejar aroma tubuh itu, tetapi kehangatan punggung anak laki-laki lain yang menjadi sandarannya saat menembus dinginnya malam. Ia tak dapat menyembunyikan senyum mengingat ada banyak kenangan di kepalanya menuju tempat Soo-ho. Kedua benda ini membuat Si-eun dikelilingi oleh Soo-ho dan itu menenangkannya.

Ketika Si-eun sampai di sana, Soo-ho masih belum bangun dan neneknya tidak ada di sampingnya. Ini terasa asing. Si-eun menutup pintu sepelan mungkin khawatir mengganggu ketenangan dan menghampiri Soo-ho di samping setelah melepas tas dan buku-bukunya. Si-eun memangku bantal merah muda dan jaketnya masih ada disampirkan di tubuhnya. Pemandangan ini masih sangat asing dan baru bagi Si-eun untuk citra Soo-ho yang selalu aktif.

Soo-ho terlihat masih betah di dalam mimpinya dengan ditemani suara-suara mesin. Denyut nadinya ditampilkan di layar dan karena kesunyian di antara bunyi mesin, Si-eun bisa mendengar suara napasnya. Si-eun lama memperhatikan wajah yang lain dan mulai membayangkan ekspresi atau perkataan macam apa yang dilemparkan Soo-ho padanya.

Mungkin Soo-ho mentertawakannya dan berkata, “Aku tidak tahu kau sekecil ini? Di masa depan, makanlah lebih banyak dan berolahraga denganku untuk tubuh lebih tinggi.”

Atau Soo-ho yang mengusap hidungnya serba salah saat memandang Si-eun dan bantal berwarna merah mudanya yang lucu. “Oke, ternyata bantal ini lebih cocok kalau disimpan bersamamu, Si-eun. Kalian lucu.”

Si-eun menahan kegetiran di dalam hatinya. Ia menyadari bahwa setiap hari menjadi sangat berat dan ia semakin sering menangis di depan Soo-ho. Imajinasinya tentang Soo-ho yang meledek dan mentertawakannya atau apa saja tentang Soo-ho yang berkaitan dengan perilaku Si-eun. Ia bisa membayangkan akan jadi apa dan semua menjadi tidak masuk akal dan di pegang di kepalanya agar tetap waras.

Serangan emosi ini, Si-eun tidak begitu membencinya dan juga tidak menyukainya. Ia hanya tidak tahu harus berbuat apa sehingga menangis adalah hal yang paling normal. Si-eun mengatur napasnya yang acak-acakan, menghapus air matanya dengan kasar dan memandang Soo-ho dengan perasaan berat.

“Kau harus cepat bangun! Aku tak ingin menyimpan benda-benda ini terlalu lama, Soo-ho.”[]

Notes:

Wah, aku menulis ini dengan sangat cepat dan memikirkan ceritanya dua hari!

Aku juga menangis untuk bagian terakhir dan merasa tertekan. Ini angst, YA! Aku ingin menyakiti diriku dan mungkin pembaca lain dan mohon jangan marah padaku karena aku merasa ingin menulis hal-hal tentang ini.

Selanjutnya, aku sangat berterima kasih pada fanart yang aku temukan di twitter! Kalian bisa periksa dan berikan RT pada artis-nya dan jangan repost untuk menghargai secara langsung dengan akun artist-nya!
https://twitter.com/imwoya1/status/1608430292351717379?s=19

Hm, oya, terima kasih untuk kudos dan sudah membaca fanfict-ku!