Work Text:
Pertama kali melihat bantal berwarna merah muda yang lucu itu, kesan kasar mengenai Ahn Soo-ho yang menghabisi kakak seniornya langsung menimbulkan keraguan. Yeon Si-eun tidak pernah mengomentari apa-apa yang dianggap Soo-ho keren, ia selalu menyimpan ketidaksetujuan itu di dalam kepala dan memberi wajah pada Soo-ho. Semua hal yang bertolak belakang pada citra Soo-ho adalah sesuatu yang konyol dan bantal merah muda itu adalah sesuatu yang menurut Si-eun konyol. Si-eun memandang bantal merah muda yang selalu digunakan Soo-ho untuk tidur di kelas dengan tatapan serba salah.
Hal yang lain, yang berkaitan dengan Soo-ho, yaitu jaketnya yang berwarna merah dengan perpaduan warna abu-abu. Jaket yang mungkin terlalu sering digunakan sehingga aroma tubuh Soo-ho menempel permanen. Si-eun bukan orang mesum yang mengendus bau seseorang, ia selalu berdekatan dengan Soo-ho. Kemudian menyadari bahwa jaket yang terlalu sering dipakai ternyata dapat meninggalkan jejak Soo-ho di mana-mana. Si-eun tidak terlalu banyak berpendapat mengenai jaket ini, warnanya cocok dan Si-eun kerap kesurupan mengetahui bahwa itu sesuai citra Soo-ho.
Soo-ho di mata Si-eun itu ... .
Sebelum kepindahan, Si-eun diberikan waktu untuk membereskan loker dan mejanya. Kelas yang ramai diisi anak-anak menjadi sangat sunyi setelah penampilan berdarah Si-eun terakhir kali. Tak ada satu anak pun yang akan mengusik Si-eun karena tahu apa yang dilakukan Si-eun benar-benar tidak dapat dihentikan oleh anak-anak biasa seperti mereka. Si-eun bergerak ringkas karena ingin segera keluar dari tempat memuakkan ini. Tak ada barang-barang yang berkesan, kecuali semua buku terkait materi soal dan catatannya. Si-eun berkemas tanpa susah payah dan menatap loker itu tanpa kesan. Loker sederhana itu telah ditinggalkan, Si-eun segera mencabut papan nama dan menyimpan di sakunya.
Si-eun akan benar-benar keluar kalau pemandangan loker eksentrik Soo-ho tidak menghentikannya. Loker yang sangat sembrono, Si-eun menarik halus garis bibirnya dan memandangnya dengan banyak percikan. Loker itu berpenampilan seperti tidak pada tempatnya, ada banyak stiker kekanak-kanakan dan papan nama yang ditulis dengan kasar. Si-eun tidak keberatan berlama-lama, jadi ia menyimpan barang bawannya untuk mengambil papan nama loker Soo-ho dan menyayangkan ketidaktahuannya tentang kode.
Si-eun mengusap papan nama itu dan menemukan goresan halus di sisi yang berlawanan. Goresan itu mirip dengan penulisan nama Ahn Soo-ho dan itu ada kode yang disimpan dengan ceroboh. Matanya menunjukkan ketertarikan, Si-eun langsung memasukan kode untuk menemui kedua benda yang paling berkaitan dengan Soo-ho, yaitu bantal merah muda dan jaketnya.
Anak-anak di kelas tahu jelas bahwa hubungan Si-eun dan Soo-ho sangat dekat apalagi insiden kekacauan yang diciptakan Si-eun ada kaitannya dengan Soo-ho. Mereka tak berani menginterupsi Si-eun yang mengambil jaket dan bahkan memakainya dan membawa bantal merah muda yang bahkan tidak sesuai dengan citra Si-eun. Kalau di masa lalu, mereka akan berbisik mengenai penampilan Si-eun, kali ini mereka tidak ingin mencari masalah dengan meremehkan penampilan Si-eun dan mereka semua diam.
Si-eun tidak menyangka bahwa jaket ini benar-benar banyak menyerap aroma tubuh Soo-ho. Ukuran jaket lebih besar daripada milik Si-eun dan itu melewati garis tangannya bahkan Si-eun tidak repot untuk menggulungnya. Bahkan bantal merah muda itu masih empuk dan menggemaskan seperti yang terakhir kali dan Si-eun merasa pantas Soo-ho sangat sering menggunakannya. Seketika ia lupa dengan perasaan beratnya, Si-eun memutuskan untuk pergi menjumpai Soo-ho.
Pergi dengan jaket dan bantal yang masih dipenuhi aroma Soo-ho mengingatkannya pada malam-malam acak dimana Soo-ho membawanya keluar dengan mengendarai sepeda motornya. Saat itu, aroma tubuh Soo-ho tidak terlalu jelas karena bercampur angin malam. Si-eun juga tidak mengejar aroma tubuh itu, tetapi kehangatan punggung anak laki-laki lain yang menjadi sandarannya saat menembus dinginnya malam. Ia tak dapat menyembunyikan senyum mengingat ada banyak kenangan di kepalanya menuju tempat Soo-ho. Kedua benda ini membuat Si-eun dikelilingi oleh Soo-ho dan itu menenangkannya.
Ketika Si-eun sampai di sana, Soo-ho masih belum bangun dan neneknya tidak ada di sampingnya. Ini terasa asing. Si-eun menutup pintu sepelan mungkin khawatir mengganggu ketenangan dan menghampiri Soo-ho di samping setelah melepas tas dan buku-bukunya. Si-eun memangku bantal merah muda dan jaketnya masih ada disampirkan di tubuhnya. Pemandangan ini masih sangat asing dan baru bagi Si-eun untuk citra Soo-ho yang selalu aktif.
Soo-ho terlihat masih betah di dalam mimpinya dengan ditemani suara-suara mesin. Denyut nadinya ditampilkan di layar dan karena kesunyian di antara bunyi mesin, Si-eun bisa mendengar suara napasnya. Si-eun lama memperhatikan wajah yang lain dan mulai membayangkan ekspresi atau perkataan macam apa yang dilemparkan Soo-ho padanya.
Mungkin Soo-ho mentertawakannya dan berkata, “Aku tidak tahu kau sekecil ini? Di masa depan, makanlah lebih banyak dan berolahraga denganku untuk tubuh lebih tinggi.”
Atau Soo-ho yang mengusap hidungnya serba salah saat memandang Si-eun dan bantal berwarna merah mudanya yang lucu. “Oke, ternyata bantal ini lebih cocok kalau disimpan bersamamu, Si-eun. Kalian lucu.”
Si-eun menahan kegetiran di dalam hatinya. Ia menyadari bahwa setiap hari menjadi sangat berat dan ia semakin sering menangis di depan Soo-ho. Imajinasinya tentang Soo-ho yang meledek dan mentertawakannya atau apa saja tentang Soo-ho yang berkaitan dengan perilaku Si-eun. Ia bisa membayangkan akan jadi apa dan semua menjadi tidak masuk akal dan di pegang di kepalanya agar tetap waras.
Serangan emosi ini, Si-eun tidak begitu membencinya dan juga tidak menyukainya. Ia hanya tidak tahu harus berbuat apa sehingga menangis adalah hal yang paling normal. Si-eun mengatur napasnya yang acak-acakan, menghapus air matanya dengan kasar dan memandang Soo-ho dengan perasaan berat.
“Kau harus cepat bangun! Aku tak ingin menyimpan benda-benda ini terlalu lama, Soo-ho.”[]
