Work Text:
Apa yang tidak bisa kulakukan? Akulah Ryu Baeksan. Aku yang mengajarimu kerendahan hati, aku pula yang mengajarimu untuk tahu pada tempatmu. Semua orang menundukkan kepala saat aku berjalan di hadapan mereka. Aku hanya tinggal melangkah ke panggung yang lebih besar karena aku sudah meraih segalanya di tempat ini ― sekolah.
Setidaknya itulah yang kupikirkan sebelum aku bertemu dengannya.
Rambut yang jatuh menutupi mata yang kelam itu menghantuiku dalam separuh kehidupanku. Aku tidak pernah berpikir akan menangis dan memohon untuk dilepaskan dari hujan tinju yang datang kearahku. Meskipun jadi satu-satunya yang memohon untuk dibiarkan hidup dari neraka di dunia itu, aku merasakan kebencian semakin berakar di dalam tubuhku.
Kau, iblis yang tak berperasaan, aku harap saat kita bertemu lagi, aku bisa memulangkanku ke rumahmu di neraka.
--
Aku merasa déjà vu. Dimana perasaan ini pernah kutemukan? Seakan-akan semua ingatanku dipaksa muncul ke permukaan. Rasanya terseret-seret seperti kaset rusak karena aku tak bisa menemukan ingatan itu dimanapun. Aku hanya bisa melihat dia, dengan matanya yang tak memancarkan apa-apa, membantai lawan di hadapannya.
Seseorang di sampingku bertepuk tangan. Aku hanya meliriknya dari sudut mataku. Tak berselang lama, dia menepuk bahuku dan menawarkan satu senyuman.
“Kau harus bisa mengalahkannya, Baeksan! Keberlangsungan family ini bergantung padamu!”
Aku belajar untuk tak mengungkapkan isi hatiku kepada orang lain. Ragu sedikit singgah padaku, tetapi urung kukatakan itu. Alih-alih aku bangkit berdiri dan berujar, “Aku pastikan untuk setidaknya membuat matanya buta sebelah.”
--
Ini semua salahku karena tak mendengarkan pelatihku untuk tetap tinggal di gym dan melatih tinjuku. Aku memilih untuk berjalan-jalan di luar dan sekarang lihat siapa yang kutemui di jalan.
Anak ajaib dari SMA, Yu.
Tentu saja aku tak mau menyapanya. Bukan hanya karena kami punya sejarah buruk saat masih menjadi pelajar, tapi kami juga akan segera bertemu di ring. Aku tidak mau dia mengganggu pikiranku dengan apapun yang akan keluar dari mulutnya itu.
Baru saja aku mau pergi, dapat kurasakan pergelangan tanganku digenggam. Aku menoleh kebelakang dan mendapati dia sedang memegang tanganku.
“Baeksan,” ucapnya.
Api itu muncul lagi. Kukira sudah padam sejak aku pergi dari sekolah, ternyata bisa hidup lagi saat melihat pemantiknya.
“Apa?,” balasku seadanya. Aku ingin cepat-cepat pergi dari hadapannya.
Dia menatapku lekat seakan ada kotoran yang menempel pada wajahku. Entah apa yang ada di kepalanya. Inikah anak yang berlagak hebat di SMA? atau Dia ini betul-betul sebuah kesalahan atau bahkan Aku bisa mengalahkan bajingan ini dengan mudah. Aku tak bisa memilih satu dari kemungkinan-kemungkinan tersebut.
“Kita bertemu lagi.”
Satu kalimat itu membuatku merubah ekspresiku. Bukankah seharusnya dia berucap hal lain selain itu?
“Apa kabar?,” sambungnya. Aku tak bisa menahan keterkejutanku. Apa ini masih orang yang sama dengan orang yang menghajarku habis-habisan di bangku sekolah?
Setelah mengumpulkan kembali kewarasanku, aku menarik tanganku dari genggamannya, lalu pergi dari hadapannya.
--
Sesaat sebelum pertandinganku dengan Yu dimulai, aku mendapatkan pesan dari seseorang.
‘Aku minta maaf.’
‘Aku harap itu tidak pernah terjadi.’
Alisku menukik tajam.
‘Siapa kau?,’ balasku.
‘Jangan lupa kalau kau pernah mencapai segalanya.’
Sudut bibirku berkedut geli. Mencapai segalanya, katanya. Aku tidak pernah mencapai apapun dalam hidup ini. Satu-satunya kebanggaanku sudah hancur saat aku SMA. Aku, Ryu Baeksan yang sangat berbangga diri di masa sekolah. Aku yang dulu pernah berjalan dengan dagu terangkat melewati murid-murid lainnya. Aku yang dulu mengajarimu kerendahan hati. Aku yang dengan bangga menyebut diriku Ryu Baeksan kini menyadari kalau aku bukanlah siapa-siapa.
Ironis, bukan?
