Actions

Work Header

and for the first time, what's past is past

Summary:

Ali tahu, ada cinta yang mampu merusak, menyakiti, dan menghancurkan seseorang. Ali learned that lesson hard.

But this time, Ali merasa dirinya ingin mencoba sekali lagi.

Notes:

A song fic based on Taylor Swift's Begin Again

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Took a deep breath in the mirror//

He didn't like it when I wore high heels//

But I do//



Ali meninggalkan ruang percakapan bersama Eva dan mengunci ponselnya. Ditariknya nafas dengan panjang. Ini adalah date Ali yang pertama setelah satu setengah tahun berlalu. Jika tidak karena tante-tante Queens dan Eva yang terus meyakinkan dirinya, Ali tidak yakin dia akan mau melakukan ini lagi.

Ini: Dating. Connecting with people. Opening up to other people. Giving them a chance to ruin him. Again .

Ali memandang penampilannya di satu-satunya cermin yang proper di apartemennya. Ali bisa membayangkan bagaimana Jeff ( bad-news Jeffrey, Eva used to call him ) akan mengernyitkan dahinya dan mendengus jika dia melihat kardigan hijau bermotif garis-garis yang dipakai Ali. Jeff tidak suka pakaian selain warna hitam.

It’s too much, dia akan bilang ke Ali. Ali is always too much.

Ali menggeleng dan mencoba tersenyum pada refleksinya di cermin. Mengingatkan dirinya; Ali is enough.



——————————————————————


Turned the lock and put my headphones on//

He always said he didn’t get this song//

But I do, I do//



Pintu apartemen sudah terkunci dan Ali memasang headphones-nya. Lagu 2DSD dari Peterpan terdengar lamat-lamat di telinga Ali. 

Spotify Ali banyak lagu berbahasa Indonesia. Bagaimanapun dia lahir dan besar di Indonesia. Semasa sekolah, dia dan teman-temannya mendengarkan berbagai lagu Indonesia yang sedang hits. 

Jeff punya aturan kalau Ali tidak boleh menggunakan akun spotify-nya di mobil. Jeff tidak suka lagu berbahasa Indonesia. Dia tak mengerti bahasanya jadi tidak bisa menikmati, katanya. As an aspiring and very-serious musician, Ali percayakan saja pada Jeff musik mana yang bagus.

(“ What decent singers discriminate based on language, Ali” Eva used to say. )

Dan Ali butuh asupan semangat untuk date ini. Drum seru Reza berdentum seirama bas Indra menyuntikkan keberanian bagi Ali.

Here goes.



——————————————————————


I walked in expecting you’d be late//

But you got here early and you stand and wave//

I walk to you//



Ali tidak kenal langsung teman kencannya hari ini. Ali hanya tahu namanya Raja, dia orang Indonesia juga. Pelanggan rumah makan tante-tante di Queens. Tinggi. Baik. Sopan. 

(“Dan yang terpenting dia suka rendang, Li. Tante udah curiga sama si Jepri-Jepri itu pas dia bilang ga suka rendang loh.”)

Eva kenal Raja. Temennya teman katanya. Eva juga yang swear it ups and downs that Raja is nothing like bad-news Jeffrey. Not even on the same planet. Ali percaya Eva.

Ali menemukan cafe tempat mereka janjian bertemu dan membuka pintu cafe. Ali tahu dia hampir terlambat dari waktu janjian. Padahal Ali adalah orang yang selalu senang datang 30 menit lebih cepat dari jadwal. Ini New York, you never knew what could make you late

Tapi Ali sengaja. Ali terlalu sering menunggu. Jeff hampir tidak pernah datang tepat waktu, dia bahkan bisa membatalkan janjian saat Ali sudah menunggu. Jadi Ali memutuskan kali ini, dia akan datang tepat waktu saja. Tidak ingin berharap banyak. Toh, bisa saja Raja berkelakuan yang sama, who knows.

Cafe tempat mereka bertemu hanya cafe biasa di Queens, tapi Eva bilang kopi-nya enak. Jam baru menunjukkan pukul empat sore namun langit sudah mulai gelap dan lampu-lampu di dalam ruangan sudah dinyalakan, memberi remang-remang cantik di dinding-dinding cafe. Ali berhenti sejenak di pintu cafe, tidak begitu ramai, tatap Ali bergerak mencari meja kosong.

Lambaian tangan dari dalam sudut ruangan membuat pandangannya berhenti. Oh . Raja sudah tiba.

Dengan hati yang berdegup kencang, Ali melangkah menghampiri Raja.



——————————————————————


You pull my chair out and help me in//

And you don't know how nice that is//

But I do//



“Halo, Ali, saya Raja,” 

Ali sudah tahu penampakan Raja. Selain foto yang diberikan oleh Raja langsung, Eva juga dengan semena-mena mengirimkan link akun instagram Raja kepadanya. Ali yang penasaran tentu saja membuka link itu walapun sambil bingung. Bisa-bisanya masih ada orang yang membiarkan profil instagramnya tersetting open to public .

Tapi setelah bertemu langsung, Ali harus mengakui, Raja could check all his boxes . Tinggi, mata yang teduh dan alis yang tegas, senyum yang ramah dan suara yang berat. Ali bisa nyaman memandangi Raja.

“Halo. Ali.” Ali menjabat tangan yang disodorkan Raja. Hangat. 

“Sini, sini, duduk dulu,” Raja menarik keluar kursi di depan Ali. Masih berdiri, Raja tersenyum kepada Ali seolah mengisyaratkan agar Ali duduk. Setelah Ali duduk, Raja kemudian membantu Ali menyesuaikan kursinya sebelum dia kembali duduk di kursinya sendiri. 

Ali tertegun, mengingat-ingat, kapan dia pernah diperlakukan seperti ini. Ali bukan cewek, jadi dia yakin dia tidak pernah dipersilahkan untuk duduk seperti ini. It felt really nice .



——————————————————————


And you throw your head back laughing//

Like a little kid//

I think it's strange that you think I'm funny, 'cause//

He never did//


—-


Setelah mereka memesan kopi dan kudapan, dan Ali berterima kasih pada waitersnya, Raja tersenyum dan bertanya, “tadi naik apa kesini?”

“Subway. Ga jauh tapi ko. Kalau…” Ali terdiam karena dia bingung harus memanggil Raja apa. Eva bilang kalau Raja lebih tua darinya, tapi Ali tinggal di New York, you don't have to put honorific when talking to older people here . Namun, Raja orang Indonesia, mungkin akan lebih proper jika Ali menggunakan panggilan yang tepat.

“Iya, Ali?”

“Anu.. Ali bingung.”

“Eh, bingung kenapa Ali?” Tanya Raja seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Ali.

“Um…Ali manggilnya apa ya?”

Mendengar pertanyaan Ali, Raja malah tertawa. Tawa Raja sangat lepas, seluruh wajahnya berubah drastis, matanya menghilang dan pipinya mengembang, dia terlihat seperti anak kecil yang baru saja dikasih mainan kesukaannya. So cute .

“Ih malah ketawa,”

Raja terkekeh-kekeh, “Habis, bingungnya ko lucu. Ya panggil nama aja boleh, Ali.”

Ali terdiam mendengar perkataan Raja. Ali tahu, dia bukan orang yang humoris dan pandai melemparkan jokes. Dan dia memang sedang tidak melucu. Tapi entah kenapa Ali merasa sangat puas mampu membuat Raja tertawa. Tawa Raja tidak terdengar meremehkan. Ali didn't feel like Raja laughed at him . He laughed with Ali. Ali hampir tidak pernah bisa membuat Jeff tertawa semudah ini.

“Eh bentar. Bukannya beda umurnya jauh ya dari Ali?” Tanya Ali.

“Lima tahun kalau kata Eva,”

“Kalau gitu Ali manggilnya mas aja. Biar sopan. Kata tante Biyah Ali harus sopan sama orang tua.”

Raja kembali tertawa.



——————————————————————


You said you never met one girl who had//

As many James Taylor records as you//

But I do//


—-


Setelah perkara panggilan selesai, suasana diantara mereka terasa lebih cair. Percakapan mereka mengalir dengan begitu saja. Ali merasa hampir seperti berteman lama, sudah lama tak bersua, tapi jika ngobrol sangat nyambung. 

Mereka bercakap tentang pekerjaan mereka di New York; Ali melanjutkan studi disambi fotografer freelance, Raja middle management di sebuah perusahaan printing. Kebencian dan kesukaan mereka di New York; Ali secretly love the Brooklyn bridge, Raja actually hate the subway station because it fucking smells. Childhood mereka di Indonesia, hingga hobi dan musik kesukaan mereka.

“Oh ya, mas sebenernya dulu pernah suka K-Pop,” Ujar Raja dengan enteng.

“Eh serius, mas? Sukanya apa?” Ali tidak menyangka Raja suka K-Pop. Dari semua ceritanya, Raja terdengar seperti seseorang yang sangat bertanggung jawab, he is stable, respectable and he got all his life together . Bukan seperti orang yang akan menyukai musik idols.

“Mungkin kamu ga kenal. Bukan grup yang lagi hits sekarang. Udah lama juga hiatus. Mana kemarin sempat kena skandal, jadi mas juga udah ga ngikutin lagi,”

“Ali suka K-Pop juga sih, ada satu grup yang Ali suka banget karna diracunin Zul, sepupu Ali.”

Satu yang disadari Ali, sepanjang mengobrol, setiap kali Ali menceritakan sesuatu tentang dirinya, Raja akan memandangnya dengan begitu serius. Sesekali Raja akan tersenyum, membuat wajahnya berbinar-binar. Seakan-akan cerita Ali ini adalah sesuatu yang menarik. Fun . Rasanya aneh mendapat reaksi ini dari teman kencannya, Ali tidak terbiasa. Jeff used to

“Ali koleksinya album siapa?” Tanya Raja, memotong memori Ali yang mulai kemana-mana. “Mas cuman sukanya satu grup ini aja sih. Gara-gara kakak mas Raja suka muter, terus mas jadi suka lagu-lagunya. Segala sampe beli album,”

“Oh, ya? Ali juga suka koleksi album! Ali saking sukanya sama grup ini, sampe punya semua albumnya.” Kemudian Ali menambahkan dengan suara kecil, “Tapi Ali udah lama ga ngikutin K-Pop juga sih,” 

Ali tidak ingin mengakui pada Raja bahwa salah satu alasan dia tidak lagi menyukai K-Pop karena mantannya adalah a very-serious musician. 

(“This trash again? Come on, Ali, I know you’re not a musician, and you didn't know better, but I can't listen to this anymore. Trust me, I can introduce you to true musics.”)

No . Focus , Ali.

“Grup mana sih, mas? Coba kasi tau Ali, siapa tau Ali jadi suka juga. Ali jadi kangen ingin dengerin K-Pop nih,”

“Namanya Bigbang, Ali pernah denger ga? Mas punya semua albumnya mulai dari awal debut sampe yang terakhir tahun 2015. Bahkan versi konsernya pun mas punya,”

Mata Ali membulat because, no way in hell .

“Mas, Ali juga punyanya Bigbang,”



——————————————————————


We tell stories and you don't know why//

I'm coming off a little shy//

But I do//


——


“Ini yang foto Ali?”

Setelah Ali memesan cheesecake untuk yang kedua kalinya, Raja memaksa Ali untuk menunjukkan portofolio-nya sebagai fotografer freelancer. Raja beralasan bahwa dia bekerja di bidang printing sehingga penting baginya untuk mencari fotografer berbakat yang bisa di- hire di perusahaan tempatnya bekerja.

Ali mengangguk ragu. Dia sebenarnya enggan menunjukkan hasil fotonya pada non client . Tapi dia menjustifikasi, anggap saja Raja calon klien. Jika Raja ternyata tidak suka, ya sudah, tidak apa-apa. Klien punya preferensi berbeda-beda.

“Bagus sekali. You have a way with capturing moments,” Kata Raja sambil masih scrolling akun instagram yang Ali gunakan untuk display portofolio. “Ali kaya lagi cerita, mas impressed banget nih. Ga semua orang bisa capture picture kaya gini. Di kantor mas aja, ga semuanya bisa.”

Ali menelan cheesecake-nya dengan susah payah. Bingung mau bilang apa. “Oh,”

Raja mengangkat wajahnya, memandang Ali dengan bingung, “Ali ga percaya ya?”

Ali hanya tersenyum kecil. 

“Ini mas ga bohong loh. Kalo soal ini, I can be a professional . Ali jadi ingin saya rekomendasikan ke bagian redaksi. Siapa tau bisa masuk roster fotografi kami,”

“Eh, emang sebagus itu ya, mas?” Ali gelagapan. Kok malah jadi seperti di interview kerjaan. “Kayanya masih banyak yang lebih bagus dari ini. Ali kan masi amatiran. Mana pake kameranya juga bukan yang spek dewa gitu. Terus moment yang Ali tangkap juga cuman everyday life gitu, bukan sesuatu yang wah. Ali juga ga pandai ngatur cahaya—”

Ali bisa mendengar suara Jeff dalam setiap perkataannya. It’s all the same exact words.

“Ali,” tatapan Raja kepada Ali melembut. “Ali ga biasa dipuji ya?”

Sendok Ali yang berisi cheesecake meleset sedikit dari mulutnya.

“Just take the compliment ,” ujar Raja sambil menyodorkan selembar tisu untuk menyeka kue yang mencemong pipinya. “ You’re that good .”



——————————————————————


I've been spending the last eight months//

Thinking all love ever does//

Is break and burn, and end//


But on a Wednesday in a cafe//

I watched it begin again


——


Raja sedang berada di konter, membayar pesanan mereka. “ This time it’s on me ,” katanya pada Ali sebelum pergi membayar, seakan-akan kencan kedua mereka sudah pasti akan terlaksana.

Jam di ponsel Ali telah menunjukkan pukul delapan malam. Ali tidak sadar waktu telah berlalu begitu cepat, padahal mereka hanya ngobrol tentang hal-hal tanpa alur yang jelas. Namun semuanya terasa menyenangkan.

Ali menyadari, di sepanjang pertemuannya dengan Raja, banyak sekali dia membanding-bandingkan. Dengan Jeff. Bad-news Jeffrey

Hubungannya dengan Jeff sedemikian toxic -nya hingga Ali sampai sekarang masih berusaha untuk recover . Ali menjadi lebih pendiam, pemalu, dan sulit untuk percaya. Hidupnya menjadi penuh keraguan. Ketakutan. He’s expecting the worst from people . Terbukti dengan berbagai prasangka dia pada Raja di sepanjang kencan mereka.

Ali tidak tahu apakah Raja deserved someone still so messed up like him. Ali bahkan tidak tahu apakah Raja menyukai dirinya yang masih berantakan ini. Mungkin dalam hatinya, Raja sedang menghakimi Ali? Bahwa Ali tidak pantas untuk dirinya?

No. This isn’t fair.

Tidak adil kepada Raja jika Ali masih bertanya-tanya seperti ini. Ali is making an assumption. Memutuskan impresi Raja secara sepihak, padahal Raja dari tadi tidak menunjukkan sikap apapun yang dapat meragukan Ali. Raja tersenyum setiap kali Ali menceritakan pengalamannya. Perhatian Raja selalu penuh setiap kali Ali menanyakan sesuatu padanya. Pertanyaan Raja selalu penuh rasa penasaran seakan dia ingin tahu semua jawaban Ali, semua tentang Ali.

Ali memandangi Raja yang sedang berdiri di konter, menunggu penjaga kasir yang sedang menghitung total pesanan mereka. Cahaya dari lampu-lampu cafe menyinari wajah dan rambutnya, membuatnya seperti dikelilingi halo. Ada desiran yang singgah di hati Ali melihatnya mengangguk dan tersenyum sopan pada apapun itu yang sedang dikatakan oleh penjaga kasir. 

Raja memberinya banyak rasa hangat hari ini. Obrolan mereka yang bisa tercipta begitu mudah; tawa yang begitu mudah dipancing walaupun dengan jokes yang sebenarnya lame ; dan betapa Raja bisa mengundang rasa aman bagi Ali, membuatnya tidak takut untuk menceritakan apapun, safe from snap judgement .

Ali tahu, ada cinta yang mampu merusak, menyakiti, dan menghancurkan seseorang. Ali learned that lesson hard

Tapi pertemuannya kali ini dengan Raja, di kafe dengan lampu-lampu yang memantulkan cahayanya di dinding, di hari Rabu sore, mampu membuat Ali berpikir bahwa mungkin ada cinta lain yang rasanya hangat, aman, membahagiakan.

Ali merasa dirinya ingin mencoba lagi. 



——————————————————————


And we walked down the block, to my car//

And I almost brought him up//

But you start to talk about the movies//

That your family watches every single Christmas//

And I want to talk about that//


And for the first time//

What's past is past//


——


“Mas anter ke stasiun ya,” Raja menawarkan sambil membenarkan letak jaketnya. Udara di luar sudah semakin dingin. Untunglah Ali ingat perkataan Eva dan membawa coat -nya sendiri.

Ali mengiyakan tawaran Raja karena jujur saja, dia masih belum ingin kencan ini berakhir.

Mereka berjalan beriringan ke arah stasiun tanpa ada percakapan. Raja diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa? Ali juga tidak tahu.

Suasana hening membuat Ali gelisah. Memang, ini adalah salah satu kelemahan Ali yang masih sedang dia diskusikan dengan terapisnya, dimana Ali selalu merasa harus mengisi kekosongan, no comfort silence for him. Sehingga Ali tanpa pikir panjang, begitu saja bilang:

Ali is on medication, mas, antidepressant,”

Ini membuat Raja berhenti melangkah, tatapannya terkejut.

Seketika Ali panik, tangannya gemetar. Oh no. Nonono— what did I say? Why did I say it? Demi tuhan, apa yang salah dengan Ali? Kenapa dia bodoh sekali. Ini masih date pertama mereka, isn’t it too much? Fuck, It’s too much . Mereka bahkan belum setuju untuk date kedua. Raja pasti berpikir kalau Ali aneh. Perkataan Jeff selama ini benar; Ali is too much. Ali is so dumb. Bodohbodohbodoh

“Ali mau cerita?” Ali merasakan Raja meraih tangannya. Menggenggamnya erat, reassuring . “Mas mau dengerin kalo Ali butuh cerita,”

Kepala Ali rasanya pening, “Mas Raja belum dengar ceritanya?”

Raja menggeleng, “Eva ga cerita apa-apa. Tante-tante kamu juga ga cerita. Cuman titip pesan kalau mas harus jaga sikap.” Senyum Raja disertai satu alisnya yang terangkat, tanda dia sedang bercanda.

“Oh,”

“Tapi kalo Ali belum ingin cerita juga ga apa. Mas masih ingin ketemu Ali lagi, jadi ceritanya bisa nanti-nanti. Kalo Ali udah siap aja,”

Ali tertegun. Dia tidak menyangka Raja akan semudah itu menavigasi blundernya malam ini. Ali baru saja memberitahunya bahwa dia sedang tidak baik-baik saja, bahwa Ali is actually, officially, a messed up. Dan Raja hanya bilang kalau dia ingin bertemu Ali lagi. 

“Ali mau kan, kalo kita ketemu lagi? Mas senang sekali ketemu Ali hari ini, jadi mas harap Ali mau,” 

For god sake, this man. Persetan dengan semua masa lalu Ali, persetan dengan semua caution Ali bahwa dia tidak ingin relationship lagi, persetan dengan semua baggage Ali. Ali ingin. Demi apapun itu, Ali ingin sekali.

“Mau,” Ali mengangguk. “Dan Ali akan cerita ya, mas. Nanti Ali pasti cerita,” katanya dengan yakin.

Senyum Raja mengembang dan tangannya menepikan rambut Ali ke belakang telinganya. “ Deal. It’s a date, then. ” Ujung-ujung jari Raja terasa dingin di telinga Ali.

Dan begitu saja, percakapan di antara mereka kembali dimulai. Raja bercerita tentang kebiasaan di keluarganya untuk menonton bersama tiap hari Minggu malam dan dia harus menginstall Rave agar bisa tetap ikutan. Tangan Raja menggenggam erat tangan Ali ketika dia bertanya rekomendasi film dari Ali, and Ali let him be, because it felt nice.

Ali tidak tahu, masa depan menawarkan apa untuk Ali dan Raja kedepannya. Maybe this is it, a masterpiece. Atau mungkin it wasnt gonna work out dan mereka hanya akan berakhir sebagai teman. Tapi Ali yakin, apapun itu, Raja wont let him down bad.

And , it’s gonna be so worth it to find it out.


(End)

Notes:

Cerita ini diposting di sini sebagai arsip dan sengaja secara anonim. Sudah pernah diposting di twt sebelumnya.