Work Text:
Pintu lift membuka di lantai dasar.
Ali melangkah gontai, sengaja membiarkan orang-orang yang ingin sampai di rumah lebih cepat mendesak tubuh mungilnya saat keluar dari lift. Mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang terbawa bersama maraton rapat hari ini, ia terseok membawa tubuhnya menuju ke lobi.
Hari ini tepat seminggu setelah hubungannya berakhir. Tidak ada perubahan yang signifikan selain dari pipinya yang semakin tirus, bungkus-bungkus mi instan yang ia seduh untuk makan setiap malam, sampah tisu kotor di pojok kamarnya, dan cuti sakit satu hari yang ia ambil untuk tiduran dan menangis sepuasnya (sakit hati dihitung juga, kan? pikirnya).
Menurut konselornya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena ia hanya sedang berada di tahap pertama dari lima fase kedukaan. Semua orang berduka dengan caranya masing-masing, kalimat itu masih terngiang. Nggak perlu terus-terusan menyalahkan diri sendiri kalau kamu masih ngerasa sedih dan marah. Ali sudah paham itu; alih-alih merasa sedih, ia justru lebih kasihan terhadap dirinya sendiri (kalau yang ini fase keberapa kedukaan, yah? pikirnya letih).
Atasannya pun begitu, yang sudah berkali membujuknya untuk mengambil cuti lebih lama. Ia kerap memergoki Ali termenung bak kehilangan akal di depan jendela. Atau di depan mesin kopi, bahkan hingga gelasnya terisi penuh dan bunyi mesinnya menjerit-jerit.
Sore ini, di antara tatapannya yang kosong, Ali seperti melihat fatamorgana. Ia sampai harus mengusap matanya beberapa kali untuk meyakinkan bahwa apa yang ada di depannya ini nyata.
"Ucup?"
Pemuda yang merasa terpanggil itu lantas menoleh ke arahnya, melambaikan sebelah tangannya. Ia kemudian beranjak dari posisi bersandarnya. Langkahnya melenggang santai, seolah satu lantai gedung ini milik bapaknya.
"Lo ngapain di sini?" Ali mengedarkan pandangan ke sekeliling, sedikit heran bagaimana Ucup bisa masuk ke lobi tanpa melewati perdebatan sengit dengan satpam di pos depan. Hoodie, celana jeans belel, dan sandal kulitnya membuat penampilannya terlihat kelewat kasual. Seperti alien di antara karyawan-karyawan yang berduyun hendak kembali ke rumah.
“Jemput lo. Mau ngajak main.” Ucup menenggak sisa rootbeer di botol kacanya sebelum melemparkannya ke tempat sampah terdekat.
“Kenapa nggak kabarin gue dulu? Kan, bisa chat atau apa, gitu. Biar gue bisa mikir-mikir dulu.”
“Nah, justru itu. Kalau gue ngabarin dulu, yang ada nanti lo kelamaan mikir terus kita nggak jadi pergi.” Cengiran lebar sontak membentang di wajahnya.
Ali sampai merasa perlu menyentuh dahinya, memastikan Ucup benar-benar sengaja ke sini dan bukannya hanya lupa arah pulang akibat terlalu linglung. “Sehat kan, lo?”
“Sehat lah, anjir.” Ucup menurunkan sebelah tangan Ali dalam gerakan yang halus. “Buru, Li. Gue udah laper, nih.”
"Kirain," Ali berkilah. "Abis putus mendadak sinting."
"Elo noh, abis putus menyedihkan," Ucup meledek, dengan sengaja menunjuk kantung matanya yang tampak sembap. "Pasti nangis mulu tiap hari, kan? Udah lah, kita seneng-seneng aja makanya."
Ali tersenyum masam, malas menimpali Ucup lebih lanjut. Mengiyakan akan sama dengan mengundang dirinya sendiri untuk terlibat dalam sesuatu yang masih jadi misteri. Tapi memangnya, ia punya alasan apa untuk menolak?
Jadilah Ali berjalan mengikuti Ucup ke basement gedung, menghampiri Cherokee kesayangan Ucup yang terparkir gagah di salah satu sudutnya. Sesaat setelah Ali membuka pintu depannya, hidungnya langsung berkerut. Ada aroma pekat pengharum ruangan wangi kopi yang bercampur dengan… bau-bauan lain yang sukar diidentifikasi. Ia menoleh ke kursi belakang takut-takut; tampak ada beberapa benda mencurigakan saling menumpuk di sana.
“Sorry, itu jualan gue,” terang Ucup sambil cengengesan. “Gue udah lama nggak beres-beres mobil.”
Ali mengerti. Sekali lagi, pandangannya memutari interior mobil tersebut; SUV milik Ucup ini terasa sedikit lebih lengang dibandingkan mobil tipe hatchback Raja, terlepas dari segala bau-bauannya. Pikiran ini segera menyadarkan Ali bahwa Ucup dan Raja berbeda, sekalipun mereka berbagi wajah yang serupa.
Iya. Hari ini perginya kan, sama Ucup.
--
Sampai detik ini, Ucup masih tidak menyebutkan hendak membawa Ali pergi ke mana. Ali sendiri tidak bertanya, ia hanya duduk manis tanpa protes. Kedua matanya berbinar membiaskan cahaya dari lampu dan gedung; toh, ia bersemangat diajak ke mana saja.
Jalanan di awal malam begini masih cukup ramai. Buruh kerah biru berbondong ingin kembali ke rumahnya dalam berbagai moda transportasi, sejenak ingin lupa besok masih harus ke kantor pagi-pagi.
Ucup mencoba mencari jalan tikus yang tidak muncul di peta (masih tanpa memberitahu Ali destinasi mereka), sementara sesekali, ia bercerita tentang dirinya. Tentang bisnis ilegalnya, pengalamannya jadi buronan polisi, "proyek" pemalsuan dan pencurian lukisan pertama gengnya, hingga ruangan-ruangan di dalam rumah sengketanya.
Ali mengangguk-angguk sambil mendengarkan atentif meskipun kepalanya mulai pening. Kalau gue temenan lebih lama sama si Ucup, ini kayaknya tinggal nunggu aja siapa yang gila duluan.
Anggota komplotan Ucup tentu tak lupa diabsennya satu per satu; Gofar dan Tuktuk masih menekuni bisnis bengkel mereka. Masih suka dimarahi Om Marwan, namun kini untuk alasan lain (jangan karena stop ikut judi di balapan, kalian malah jadi beli nomor togel, dong! Ucup menirukan ekspresi Om Marwan saat marah-marah). Sarah melaju ke babak final, sedang mengikuti persiapan intensif untuk kompetisi internasional pertamanya. Fella mulai bekerja kantoran, katanya, lama-lama bosan juga mengorganisasi acara judi liar (gue taruhan, dia cuma betah enam bulan di sana, tebak Ucup). Dan Piko.
Hanya Piko yang tidak dijelaskan gerangannya.
Mungkin Ucup tidak tahu. Mungkin Ucup menolak mencari tahu. Kalimatnya berakhir menggantung setelah nama itu disebut.
Ali pun maklum dengan hening tersebut. Ia memilih untuk melihat-lihat ke luar jendela saja.
"Li, lo mau ke… situ, nggak?" Ucup tiba-tiba angkat suara. Ia menunjuk baliho besar di pinggir jalan sementara mobilnya melambat, kalau-kalau Ali menyetujui idenya. Tulisan dalam huruf kapital bertetesan darah yang tercetak berbunyi, NOW SHOWING: JANDA IBLIS GOYANG NGEBOR. Only at Drive-in Cinema, Inc.
"Nggak dulu, Cup," Ali menggeleng lesu.
"Kenapa? Lo takut film setan, ya?" Ucup mengerling, nada suaranya meledek.
"Itu bukan film setan ya, Cup. Film esek-esek sih, menurut gue," sergah Ali malas. "Gue dulu suka ke bioskop drive-in bareng Mas Raja. Jadi kayaknya gue belum bisa ke tempat kayak gitu sekarang."
"Oh," Ucup tergugu beberapa saat, menyadari suasana yang berubah melankolis. Akan tetapi, bukan Ucup namanya apabila ia tidak punya rencana cadangan, sekalipun referensinya patut dipertanyakan.
"Ya udah, kita ke tempat lain aja. Gue tahu tempat yang asyik."
--
Ucup memarkir mobilnya di pinggir jalan, mengikuti kendaraan-kendaraan lain secara kolektif diistirahatkan sejenak di sana. Pandangan mata Ali berkelana mengenali bangunan-bangunan di sekitarnya. Tempat yang asing.
"Ini di mana?" Ali bertanya polos.
"Kota Tua. Lo nggak pernah ke sini?"
"Oh…" Ali mengintip ke luar jendela, sedikit tak sabar untuk mengetahui apa yang akan menyambutnya di luar sana. "Banyak yang direnovasi, ya? Gue belum ke sini lagi sejak balik dari New York."
Ucup mengangguk, memutar tubuhnya ke arah Ali sambil bersandar di kursinya. "Banyak… terutama daerah yang di depan stasiun Jakarta Kota. Area pejalan kakinya jadi luas banget. Sama yang di pinggir kanal itu, sekarang udah lebih rapi."
"Mau!" Ali melonjak semangat. "Mau ke sana."
Ucup tertawa kecil menanggapi Ali yang tampak antusias. "Tapi kita makan dulu, ya?"
Ucup lalu menunjuk pujasera liar yang berderet di tepi kali. "Itu dulunya pedagang yang di Kota Tua, habis revitalisasi pada pindah ke sini."
Ucup berinisiatif memesankan mereka berdua beberapa hal sekaligus agar bisa mencicipi banyak jenis makanan. Satu per satu pesanannya diantarkan ke jendela mobil: bakso, sate taichan, fuyunghai, dan es teler.
“Lo pernah nggak, makan bakso di Jakarta 12 ribu aja harganya?” tanya Ucup dengan mulutnya yang penuh.
“Bakso apaan 12 ribu? Udah sama mi? Beneran isinya daging?” Ali menanggapi sambil melahap sebutir lagi bakso utuh dari mangkuknya.
“Ini bakso yang lo makan, 12 ribu doang," ujarnya ringan. Menyadari fakta baru ini, dahi Ali tampak berkerut sedikit dan kunyahannya mendadak melambat, namun ia hanya mengangguk-angguk sangsi.
“Dia tuh, punya bumbu rahasia yang bikin makin enak,” jelas Ucup, kini sibuk memuntir mi kuning dan bihun dengan garpunya. “Katanya dari mangkuknya yang dicuci pake air dari kali.”
“Ucup!” Ali memukul bahunya kencang. Ucup tertawa keras seperti tanpa dosa. Seolah tidak memedulikan Ali yang masih memberinya tatapan curiga, Ucup malah meraih piring lainnya yang lalu disodorkan ke arah Ali.
"Nih, fuyunghai yang best in town menurut gue. Cobain."
Ali masih menatap curiga, namun ia tetap menghabiskan semuanya (ya gimana, laper juga soalnya). Ali dan Ucup tentu pernah beberapa kali makan bersama dalam acara double date bersama Raja dan Piko, namun memang tidak pernah ada bahasan mendalam mengenai preferensi mereka masing-masing. Ucup hanya mengikuti usul Piko dan Ali suka apa yang Raja suka. Ternyata, mereka cukup cocok pergi kulineran berdua.
Ali dan Ucup sama-sama setuju bahwa fuyunghai paling enak adalah yang teksturnya padat dan lembut, sementara bagian luarnya tetap garing dan gurih. Mereka juga adalah partner in crime ideal dalam menghabiskan seporsi sate taichan—Ali suka pedas namun tidak suka kulit ayam, Ucup tidak kuat makan pedas namun suka kulit ayam. Mereka memang banyak bedanya, jelas. Akan tetapi, bagi Ali, banyak hal terasa lebih menyenangkan disantap bersama Ucup karena pemuda itu selalu menghabiskan bagian yang kurang ia suka.
"Lo rajin masak, ya? Gue nggak bisa relate, soalnya gue nggak jago masak. Dulu gue sama Piko jajan mulu di luar, kita sampe udah hafal mana yang enak sama yang zonk." Ucup menyendok sepotong alpukat dari gelas sebelum mengangsurkannya kepada Ali.
"Hmm… nggak papa, ngomongin Piko?" Ali berucap hati-hati, menyadari nama itu tersisip dalam kalimat barusan. Ucup terdiam sejenak; tampaknya, ia bahkan tidak sadar saat menyebut Piko tadi. Seperti semuanya terjadi secara otomatis.
Piko hampir jadi pusat hidupnya selama beberapa tahun ke belakang; sebagai teman maupun kekasih, sebagai hal paling konstan dalam rutinitasnya. Rasanya masuk akal jika di ingatannya, Piko akan selalu tersemat sebagai imbuhan yang janggal saat ditanggalkan. Semua orang juga tahu kalau di mana ada Ucup, pasti di situ juga ada Piko.
"Santai aja," Ucup kemudian mengangkat bahunya ringan.
"Lo nggak kayak orang sedih, deh," komentar Ali sambil tersenyum tipis.
Ucup balas tersenyum sembari merapikan piring-piring mereka. "Bukan berarti gue nggak sedih tapi ya, Li."
"Eh, bukan…" Ali cepat-cepat mengoreksi. Ada sedikit rasa bersalah karena Ucup tampak tidak sepakat dibilang demikian. "Sori, gue nggak maksud. Yang tadi tuh, pujian. Hebat.
Soalnya gue belum bisa kayak gitu."
"Aneh, pujian lo," Ucup terkekeh pelan, sebelah tangannya mendorong dahi Ali bercanda. "Nggak papa. Nanti ada waktunya. Sedihnya juga butuh waktu."
Ali merengut sebal sambil memegangi dahinya, tidak suka Ucup memperlakukannya seperti sasaran empuk untuk disentil. Di saat yang sama, samar-samar, Ali bisa melihat Ucup berusaha menghalau sendu di wajahnya.
"Udah, ah, jangan sedih-sedih dulu. Kan, masih mau jalan-jalan di Kota Tua?
Yuk, turun. Sekalian cari minum."
--
Setelah mengecek seluruh isi kulkas di minimarket, Ali masih tidak menemukan minuman yang menggugah seleranya. Akhirnya, mereka menghampiri abang-abang starling yang mangkal di depannya. Satu es teh cekek (yang lebih banyak air dan esnya dibandingkan tehnya) untuk Ali dan satu soda gembira untuk Ucup.
Mereka berjalan menyusuri pinggiran kanal, melambaikan tangan pada bus air yang tidur tertambat pada tiangnya masing-masing, juga sesekali berusaha menghindar dari kejaran hantu jadi-jadian yang menghampiri mereka (katanya kalau berduaan doang, orang ketiganya kan setan, Bang, jelas Hantu Noni Belanda).
“Lo tahu nggak sih, Li. Ada pintu rahasia buat masuk ke Museum BI.” Ucup tiba-tiba berujar misterius. Ali hanya mengangkat alisnya skeptis, namun mengangguk-angguk agar Ucup melanjutkan ceritanya.
“Tahu Masjid Museum BI, kan? Nah, itu di sampingnya ada pintu kecil. Kalau masuk lewat situ, ada tembusan langsung ke mini theater. Mini theater nih, satu-satunya ruangan di Museum BI yang nggak ada CCTV-nya soalnya di dalam sana nggak ada koleksi. Jadi, masuk lewat sini itu ngasih advantage tersendiri.
Eh, lo dengerin gue nggak sih, Li?”
“Dengerin, kok!” Ali mencebik tidak terima.
“Abis, lo diem doang dari tadi.”
“Oke…” Ali berusaha menahan tawa sambil menggigit ujung sedotannya. “Nih, gue ngomong. Terus, kalau udah masuk ke situ, lo mau ngapain, Cup?”
“Masuk ke ruang koleksi, lah. Emas di display-nya emang replika aja, tapi di sana banyak koleksi uang-uang edisi lama. Cuma gue masih nyari tahu titik-titik CCTV di ruang koleksinya ada di mana aja.”
“...lo nggak lagi mau melibatkan gue dalam kegiatan heist lo di sini dan sekarang juga, kan?” Ali mulai curiga.
“Enggak, lah,” kekeh Ucup. “Tapi kadang gue kepikiran aja, sih. Makanya gue suka iseng masuk ke database sama server mereka, siapa tau ada informasi menarik.”
“Ucup!” Ali melotot (lagi, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini) sambil mendorong bahunya. Memang Ucup ini sungguhan punya otak kriminal rupanya. "Obrolan lo selalu kayak gini kalau lagi sama anak-anak komplotan?"
"Hmm… enggak. Tapi sama Piko iya."
Biarpun suasana berubah sedikit muram, Ali sengaja tidak berkomentar. Untuk yang kali ini, kelihatannya Ucup cukup sadar saat berucap. Mungkin Ucup memang sungguhan ingin bercerita.
"Hal-hal kayak gini nih, yang bikin gue sempet down banget abis putus. Tahu-tahu udah nggak orang yang bisa diajak ngobrol nggak jelas kapan aja."
Ali tersenyum kecil. "Kalian emang sedeket itu, ya?"
"Yah… gitu mungkin, ya…" Ucup tertawa hambar. Ia menunjuk bangku panjang di pinggir jalan, mengisyaratkan kepada Ali untuk menemaninya duduk di sana.
“Setelah gue putus, gue sebenernya jadi bingung definisi 'deket banget' tuh, apa. Gue suka bilang gue deket banget sama Piko. Kita udah temenan dari lama, bahkan sebelum Piko kenal Sarah.
Kalau deket banget, harusnya udah kenal banget juga nggak, sih? Harusnya gue bisa ngerti dia, kan? Tapi makin sering kita berantem, kayaknya makin banyak hal yang gue nggak ngerti tentang dia.
Lama-lama capek juga."
Menyerupai refleks, sebelah tangan Ali terjulur ke bahu Ucup. Menepuknya lembut dan sesekali, mengusap perlahan. Ucup mengerling ke arahnya, senyumnya samar.
"Tapi… gimana, ya. Gue dulu udah naksir Piko dari pas dia masih sama Sarah. Kadang, gue suka ngerasa ini karma aja buat gue karena gue sejenis… ngerebut dia dari Sarah. Sekarang, udahlah kehilangan pacar, kehilangan sahabat juga.
Dibandingin ngerasa sedih, akhir-akhir ini gue lebih banyak ngerasa bersalah. Aneh, ya?"
"Enggak," Ali berujar lembut. "Kalau ceritanya kayak yang lo bilang tadi ya, nggak aneh."
"Gitu, ya…" Ucup mengangguk-angguk, matanya lurus ke aspal di kakinya. "Obatnya ngerasa bersalah tuh, harus apa, ya? Kalau sedih kan, ya udah... tinggal ditangisin aja."
"Emang, di situasi lain, lo biasanya ngapain kalo ngerasa bersalah?"
"Minta maaf, lah!"
"Sekarang, bisa minta maaf ke siapa?"
Ucup tercenung.
Piko? Jelas bukan. Sarah? Gadis itu pasti akan memberinya tatapan heran, buat apa mengungkit sesuatu yang sudah terjadi hampir empat tahun yang lalu?
"Gue nggak tahu, Li." Ucup mereguk liurnya. Tatapannya berubah masygul. "Gue nggak tahu harus minta maaf sama siapa biar gue bisa ngerasa lebih baik."
Tangan Ali yang sedari tadi bertengger di bahunya perlahan turun, lalu berhenti di dada Ucup. Ia mengetuk-ketukkan jarinya ringan. "Sama yang ini.
Minta maaf ke diri lo sendiri."
"Tapi… gimana?"
"Terima aja dulu kalau lo pernah bikin salah. Dan… ya udah, lo bikin kesalahan karena lo juga manusia. Semua orang bikin salah.
Itu dulu aja sekarang. Nggak semua orang bisa nerima fakta kalau mereka bisa ngelakuin hal jahat ke orang lain, Cup. Kalau lo bisa, itu hebat banget."
Ali membiarkan Ucup meraih tangannya; menggenggamnya erat dan menempelkannya lebih kuat ke dadanya, seperti ingin membagi derap detak jantungnya. Dari sini, Ucup terdengar seperti menahan banyak hal dalam dirinya.
Sesak.
Penuh.
Saat ia menghela napas, derunya terdengar berat. Tangan Ali dalam genggamannya mulai bergetar pelan.
"Take your time, ya?" Ali mengafirmasi. Tatapannya hangat, tidak menolak maupun membatasi.
Ucup akhirnya mengangkat kepalanya. Saat ia mengangguk kecil, air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuknya turut berguncang, namun tidak satu bulir pun luruh.
Ucup masih menahan dirinya dan Ali memilih untuk memberinya ruang.
"Sori ya, padahal tadi bilangnya mau ngajak lo seneng-seneng. Tapi lo malah jadi dengerin gue curhat gini."
"Yah, Cup," Ali tertawa santai. "Namanya juga sama-sama baru putus.
Udah, mending lo kasih tahu gue aja, mana pintu rahasia masuk ke Museum BI yang lo bilang tadi?"
--
Puas menghabiskan waktu di Kota Tua, sesuai janji Ucup, ia mengantar Ali ke indekosnya. Dan sesuai permintaan Ali yang tidak ingin cepat-cepat tiba di indekos, Ucup sengaja memilih rute yang lebih jauh. Dilewatinya jalan-jalan besar agar Ali bisa menghibur dirinya dengan melihat gedung-gedung tinggi yang berkelap-kelip, juga jalan-jalan layang yang memutar dan melintang.
Jalanan memang sudah tidak sepadat saat mereka berangkat tadi, jadi mobilnya bisa membelah lalu lintas dengan leluasa. Sejak tadi, kendaraan yang berpapasan dengan mereka dapat dihihtung jari. Ucup sengaja memacu mobilnya lebih cepat tatkala memasuki jalan layang yang tampak lengang.
"Lo kalau lagi kesel gitu biasanya ngapain?" tanya Ucup, selagi fokus dengan jalanan di depannya.
"Nangis," Ali menjawab singkat. "Masak. Meditasi. Yoga. Duduk di taman sendirian biar tenang." Ucup melengos, memberinya tatapan, gak asik, lo.
"Pernah ngomong kasar, nggak?"
"Pernah, lah."
"Coba gue tes, menurut lo omongan paling kasar tuh, apa?"
Ali berpikir sejenak. "Hmm… 'ngentot'."
Ucup tertawa sangat keras hingga ia tidak sengaja membunyikan klakson mobilnya sendiri. "Aduh… sori, sori. Lucu banget kalau lo yang ngomong. Emang kenapa menurut lo itu kasar?"
"Nggak tahu, kayak… kasar aja gitu. Terus kalau ngomongnya itu sambil marah-marah, rasanya puas banget. Ngentot!" Ia mencontohkan penuh semangat, tangannya mengepal seperti patriot.
Lagi, Ucup terpingkal-pingkal. Raut polos Ali membuatnya terdengar dua kali lebih lucu. "Coba ngomong 'kontol', puas juga, nggak?"
"Kurang," jawab Ali mantap. "Kalau ngomong 'ngentot' kan, belakangnya huruf T, jadi lidah lo ketahan gigi dan harus kayak… stop! Gitu. Rasanya… ya udah, semua kemarahan lo terkumpul di satu titik. Nggak kayak kontol yang belakangnya huruf L.
Coba aja ngomong sendiri."
"Ngentot!" seru Ucup.
"Ngentot!" Gantian Ali.
"Kontol!"
"Ngentot!"
"Apaan sih, Cup, nggak jelas banget kita!" Ali tertawa kesal. Kok, mau-maunya gue diajakin yang enggak-enggak sama Ucup…
"Lo yang mulai duluan ngomong 'ngentot'!"
"Lah elo, 'kontol'!"
Tawa keduanya meledak bersamaan. Ya ampun, sepertinya Ucup hampir lupa rasanya tertawa selepas ini. Diliriknya Ali di kursi sebelahnya, bahunya berguncang akibat tawa.
Rasanya, Ali tak pernah secerah ini. Pipi gembilnya terangkat tinggi saat dua sisi bibirnya tertarik ke atas, kedua matanya berubah jadi garis saat ia tertawa terlalu lebar, wajahnya merona merah jambu.
Ia mendadak paham mengapa Raja bisa secepat itu jatuh hati kepada Ali.
"Eh, Li. Tadi kan, ngomong kasar.
Kalau teriak-teriak sambil ngomong kasar, pernah, nggak?" celetuk Ucup setelah mereka puas tertawa. Maksudnya, sedang mengalihkan percakapan.
"Yang bener aja lo, Cup."
"Ih, gue serius." Ucup lalu menurunkan kaca mobilnya, kepalanya setengah terjulur ke luar. Ali lantas tergesa menarik Ucup agar segera duduk dengan normal, pasalnya ia tidak yakin biaya pengobatan untuk kecelakaan lalu lintas akibat kebodohan diri sendiri dapat ditanggung asuransi.
"Ucup! Yang bener-bener aja, lah!"
"Ini kalau lo teriak kayak gini, nggak akan ada yang denger!" serunya ke luar jendela. "Ayo teriak kayak gue!
ANJIIIIING! KAMPAAAANG! BERAK KUDAAA!"
Ali hanya bisa menatap horor saat Ucup melanjutkan aksinya, sekarang ditambah memamerkan koleksi umpatannya yang lain. Ia berharap-harap cemas mobil yang mereka naiki tidak mendadak hilang kendali dan terguling menabrak pembatas jalan.
“Ali, ayo!” bujuk Ucup lagi. “Lo nggak akan mau melewatkan momen kayak gini.
KONTOOOL!”
Ucup berseru lagi sambil tertawa, ia sampai terbatuk-batuk karena tersedak suaranya sendiri.
Mungkin, itu Ucup yang tampak bebas, yang tawanya berderai dan lepas. Ucup yang wajah sampingnya dibasuh temaram cahaya malam saat suaranya timbul-tenggelam. Ucup yang menoleh sedikit ke arah Ali lalu ribut sendiri, cobain, Li, enggak ada kata kapan-kapan. Ucup yang ajakan nyelenehnya sulit diabaikan.
Ali akhirnya menurunkan kaca jendelanya lalu mengikuti Ucup, menjulurkan sebagian tubuhnya keluar. Kedua tangannya berpegangan takut-takut pada sisi-sisi jendela, sementara ia memekikkan kosakata pilihannya yang sejak tadi sudah meronta ingin keluar,
"BANGSAAAAT!"
"KURANG KENCENG, LI! ITU MAH, YANG DENGER SEMUT DOANG!"
"BANGSAAAAT! BAJINGAN!"
Ucup terbahak-bahak saat Ali kembali duduk di kursinya, dadanya naik-turun terengah. "Gimana rasanya?"
Ali mengangguk-angguk semangat, sisa tawanya masih keluar sedikit-sedikit. Dadanya terasa lebih ringan. “Mendingan.
Tapi itu tadi jatah ngomong kasar gue seminggu.”
--
“Cup, Cup,” panggil Ali sambil mencolek-colek bahunya. “Minggir ke kiri.”
“Hah? Apaan?” Ucup masih tidak paham. Mereka tinggal sekitar satu kilometer lagi dari indekos Ali, namun tiba-tiba ia memintanya berhenti. Baiklah, Ucup menurut saja. Mobilnya ditepikan ke kiri, lampu seinnya dibiarkan berkedap-kedip. Ali lalu menunjuk bangunan kecil di tepi jalan. Ternyata, itu sebuah bar bergaya Jepang dengan fasad yang didominasi kayu.
“Minum, yuk!” ajaknya riang, seperti sedang mengajak tetangganya bermain bola bekel di pekarangan rumah.
“Li, gue nggak bisa minum,” Ucup menjelaskan hati-hati, sebenarnya tidak bermaksud menolak ajakan tersebut. “Gue kan, nanti mesti nyetir lagi ke rumah. Tapi kalau lo mau gue temenin minum, nggak papa.”
Denting bel angin menyambut mereka saat pintu kayu itu didorong, sedikit kontras dengan hingar-bingar band yang sedang memainkan musik-musik jazz fusion Jepang di tengah ruangan. Ali kelihatan sudah familiar dengan tempat ini, jadi Ucup memutuskan untuk mengikutinya saja. Mereka duduk di kursi depan bar yang terletak di lantai dua; menurut Ali, suara musiknya tidak terlalu kencang di sini.
“Anjir, gue kira lo ngajakin ke tempat Jepang-Jepangan gini mau minum sake atau apaan gitu, mabok gaya Jepang. Ternyata mesennya minuman Eropa juga,” Ucup mencibir setelah bartender mengambil pesanan mereka.
“Amerika Latin,” Ali membetulkan sambil bertopang dagu di atas meja. “Black rum yang Bacardi tuh, dari Kuba, Cup.”
Ucup mendengus. Untuk bagian yang ini, Ali sangat mirip dengan Raja. Kerap mengekspos pengetahuan umumnya yang jeblok dan menjelaskan hal-hal tanpa diminta. “Oke, Mr. New York.”
“Mr. New York apaan sih, elah!” Ali menyenggol bahunya sambil tertawa kesal. Tawanya menular; Ucup ikut tergelak bersamanya.
"Tapi lucu, sih," celetuk Ucup lagi. "Kelakuan lo buat hal kayak gini mirip banget sama si Raja. Sama-sama suka nunjukin kalau gue bego banget soal pengetahuan umum. Pantesan kalian awet banget."
Ucup butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa air muka Ali segera berubah pias. Ucup bego, tolol, dongo… goblok! "Eh… sori. No offense." Ia cepat-cepat menambahkan.
"Chill. Offense not taken," Ali menjawab, setelah helaan napas yang terdengar berat.
Mereka berdua tampak salah tingkah. Ucup diam saja, ragu memantik percakapan lebih lanjut karena merasa hubungan mereka masih berjarak. Beruntungnya, pesanan mereka segera datang. Sebotol rum Bacardi Carta Negra berukuran 750ml pesanan Ali dan sekaleng soda rasa sarsaparila pesanan Ucup. Secara khusus, Ucup juga meminta tambahan es batu dalam gelas yang disajikan terpisah.
“Lo yakin mau minum segitu banyak? Gue nggak bisa bantuin, lho. Minuman di bar nggak bisa dibungkus kayak lagi di restoran nggak, sih?” Ucup mencetus polos sambil meraih gelasnya, meskipun tersisip sedikit rasa khawatir dalam suaranya. Jujur saja, ia takut Ali keracunan alkohol yang mengakibatkan mereka harus berakhir di UGD dan batal bersenang-senang. Ali meraih botol besar rum itu lalu mulai membukanya.
“Gue biasanya minum segini sendirian juga abis. Tenang aja.”
“Yakin, nggak mau ngebir aja?” Ucup memastikan lagi. Kaleng sodanya dibuka hati-hati, kemudian isinya dituangkan ke gelas penuh es batu.
“Kalau bir doang mah, beli di minimarket juga bisa,” kekeh Ali sambil menuang minumannya. “Cheers dulu, nggak?”
Sedikit ragu, Ucup mengangkat gelasnya. “Cheers. ”
Mereka mulai minum dalam diam. Ali minum cukup cepat, satu gelas kecil itu dihabiskannya dalam beberapa tegukan saja. Gelasnya segera diisi ulang; untuk gelas kedua ini, ia tidak setergesa yang sebelumnya. Sepertinya, Ali hanya ingin menikmati rasanya pelan-pelan.
"Lo sering ke sini, ya?" Ucup membuka pembicaraan.
Ali mengangguk sambil menyesap minumannya. "Lumayan. Gue suka vibes-nya.
Mirip kayak bar yang dulu suka gue datengin bareng Mas Raja pas kita masih di New York."
Sekali lagi, Ucup ingin menghajar dirinya sendiri sebab entah mengapa, ia menggali kuburannya sendiri berkali-kali. Lagian, aneh banget si Ali. Nonton drive-in theater nggak mau, tapi ngajak ke bar yang suka didatengin bareng Raja. "Eh, kalau lo nggak mau ngomongin soal Raja, nggak papa, loh."
"Nggak papa." Ali menghabiskan minumannya, lalu memenuhi gelasnya lagi. "Dulu kita suka ke bar ala Jepang soalnya… mereka jual nasi. Pas lagi kangen masakan Asia tapi males masak, terus pengen minum juga, ya udah, kita ke sana aja.
Enak… lumayan. Bar langganan kita waktu itu lumayan lengkap menunya."
Ucup mengangguk-angguk paham. "Gue kira, lo bukan tipe yang suka minum-minum gitu."
"Gue sama Mas Raja tuh, baru mulai minum pas kita di New York," tanggap Ali. Wajahnya mulai memerah meskipun perangainya masih tampak berakal. "Pas balik ke Jakarta lagi juga rasanya agak aneh mau minum-minum. Kayak… ngerasa bukan tempatnya aja."
Ali melanjutkan sambil tertawa. "Mungkin karena di Jakarta gue cukup anak rumahan kali, ya. Terus di sini orang-orang minumnya malem, pas dugem gitu, kan. Kalau di sana yang day drinking juga banyak. Orang-orang kantor gue dulu pada gitu. Ngirim undangan di Google Calendar, kirain apaan, eh, isinya ngajak mabok."
Mereka bertukar beberapa cerita setelahnya, diselingi Ali yang terus-menerus mengisi gelasnya. Ucup sendiri akhirnya memesan air mineral untuk menemani Ali minum (di samping mulutnya yang mulai terasa kebas dari terlalu banyak minum soda hari ini). Ali bercerita tentang konsentrasi studinya di New York, pengalaman menghisap ganjanya yang pertama (Ucup sudah tahu yang ini, pasalnya pemuda itu selalu menceritakannya dengan bangga kepada semua orang), beberapa hal tentang mamanya, dan sisanya tentang Raja. Tentang awal pertemuan mereka, ciuman pertama mereka di balkon apartemen Raja, agenda hiking rutin mereka (wow, sangat tidak gue, komentar Ucup), debat panjang mereka sebelum membeli air fryer dan robot vacuum cleaner, hal-hal memalukan yang dilakukan Raja, hingga mimpi-mimpi yang mereka pernah bagi berdua.
Kalau boleh jujur, jika ini orang lain, Ucup pasti sudah mencabut hak bicaranya sepihak akibat membeberkan terlalu banyak hal personal. Akan tetapi, Ucup punya dispensasi untuk Ali. Rasanya, ia tidak akan bosan mendengarkan Ali mengoceh seharian. Pemuda itu memang terkenal pemalu dalam kesehariannya, namun siapa sangka ia sangat ceriwis saat membicarakan hal-hal yang penting baginya.
Terutama saat itu menyangkut Raja.
Ali sayang Raja; sangat. Ucup bahkan tidak perlu berpikir dua kali untuk mencapai kesimpulan ini.
Di ujung ceritanya tentang pertengkaran hebat terakhir mereka, Ali mengusap matanya. Ucup sigap menegakkan badannya, kalau-kalau Ali butuh perhatian lebih.
"S-sori," tukasnya pedih. "Gue… gue seneng banget ngomongin soal Mas Raja. Gue jarang bisa ngomongin ini sama orang lain, makanya pas ketemu orang yang bisa dan mau dengerin, pasti gue bocor banget.
Gue sayang banget sama Mas Raja, Cup."
Ali mulai terisak-isak sambil menuang isi botolnya yang tinggal sedikit itu. "Kenapa, ya… emangnya nggak bisa diomongin lagi?
Dia sendiri yang bilang kalau ada apa-apa tuh, diomongin. Kalau emang ada apa-apa kan, tinggal bilang aja. Emangnya gue bakal marah?"
"Li…" Ucup mencoba meraih botol rum di tangan Ali. "Udah ya, lo minumnya udah kebanyakan. Minum yang lain aja, ya? Nih, air gue masih banyak."
Di luar dugaannya, Ali menampik tangannya kasar. "Diem! Lo tuh, nggak ngerti gue."
Ucup seketika membeku di tempat. Pandangannya berubah kosong dan lidahnya kelu. Masih membekas di benaknya, kejadian minggu lalu.
Piko mengatakan hal yang sama di tengah pertengkaran besar mereka. Mantan kekasihnya itu bahkan lancang berteriak di depan wajahnya setelah Ucup menyatakan kesungguhannya untuk selalu belajar memahaminya. Seperti semua hal yang Ucup lakukan tak pernah cukup.
Kalimat itu terus menggaung di kepalanya, sementara Ali tak henti mencerocos sendiri sambil menghabiskan minumannya. Pusing, Ucup meraba kepalanya sendiri.
Hilang.
Ucup mulai kesulitan merasai dunia di sekitarnya. Ia seperti melayang bermil-mil jauhnya di luar angkasa, di dunia yang tidak terjangkau matahari dan sinyal satelit.
Jauh.
"...gue masih nggak bisa nerima fakta dia doang yang kelihatan baik-baik aja setelah kita putus, tapi gue menyedihkan banget begini.
Gue nggak tahu sampai kapan harus kayak gini terus…" Suara Ali mulai mengetuk telinganya lagi. Juga sayup-sayup musik fusion dari lantai satu.
Ucup perlahan terangkat menapaki realitas kembali. Tayangan di depan matanya masih sedikit buram akibat terlalu banyaknya hal berseliweran di kepalanya, namun ia sudah lebih tahu harus apa.
"Ali, udah, ya. Udah abis juga minumannya." Dengan tegas, Ucup menarik botol kosong tersebut. Tangisan Ali makin menjadi, kali ini seperti anak kecil yang mainannya direbut. Sedikit panik, Ucup mengangkat tangannya, berusaha menarik perhatian sang bartender .
“Mas, minta bill-nya. Maaf, ini saya mesti jagain temen saya, takut dia guling-guling di lantai. Nanti mesin EDC-nya dibawa ke sini aja bisa, kan?”
--
Selepas kericuhan kecil tersebut, Ucup akhirnya berhasil mengajak Ali meninggalkan bar. Ia yakin betul sebenarnya Ali masih sanggup berjalan, namun entah mengapa pemuda itu seperti enggan menggerakkan kakinya saat ia berusaha memapahnya. Akhirnya, ketimbang harus menanggung malu saat menyeret Ali sampai ke pintu, Ucup memilih untuk menggendongnya di punggung sekalian.
Ali bergumam kecil sambil memeluk lehernya dari belakang. “Hmm… bau.”
Ucup melengos. “Minimal makasih, Li. Udah ditalangin dulu minumannya sama digendong balik ke mobil, juga.
Abang Gowcar lu mana ada ngasih servis begini.”
Ali tidak menjawab. Masih sambil melantur, kepalanya sengaja disandarkan di bahu Ucup. Di antara kalimat-kalimatnya, Ucup menangkap satu kali Ali berucap amat lirih di telinganya, seakan sedang berbicara kepadanya.
“Mas…”
Hati Ucup seketika mencelos. Ali terdengar begitu… menyedihkan, hingga ia tidak sampai hati memintanya berhenti bicara atau sekadar membetulkan, ini Ucup, bukan Raja. Satu-satunya yang mampu ia lakukan adalah berusaha mengusir suara tersebut dari pikirannya sendiri.
Ucup membuka pintu mobilnya, lalu mendudukkan Ali perlahan di kursi depan. Setelah memastikan Ali duduk dengan benar, ia berusaha menemukan ujung sabuk pengaman. Di tengah kasak-kusuknya mencari-cari dalam kegelapan, tiba-tiba tangan Ali sudah ada di wajahnya. Jemarinya meraba setiap jengkal kulitnya, gerakannya hati-hati dan terkalkulasi.
Heran bercampur kaget, Ucup terburu-buru mengangkat kepalanya. Ada wajah Ali di depannya, nyaris sejajar dengan arah pandangnya. Mata bambinya yang basah mengerjap lugu, hidung merahnya kembang-kempis. Bibirnya bergetar tiap ia mencoba membuka mulutnya.
Ini pertama kalinya Ucup melihat Ali seperti ini, rapuh dan bisa kapan saja menjelma jadi buih. Ia tertegun beberapa saat, membiarkan Ali mendekat.
"Mas…" Ali lalu berbisik di depan bibirnya. Masing-masing tangannya menangkup sisi wajah Ucup sementara matanya menelisik, seperti berusaha mencari sesuatu di wajahnya. "Jangan… tinggalin Ali… ya?"
Sudah kesekian kalinya panggilan sayang untuk Raja disebut Ali dalam kalimatnya, namun yang ini sukses membuat rambut di tengkuk Ucup meremang. Di mata Ali ada rindu. Juga mungkin, sebagian hal-hal lainnya yang mungkin kerap terlewat.
Mendikte diri sendiri harus merasa apa memang di luar kapasitasnya, namun Ucup tetap bertanya-tanya. Apakah seharusnya ia merasa kecewa karena diam-diam, Ali berharap ini adalah acara jalan-jalan bersama Raja dan bukan dirinya? Akan tetapi, mengapa rasanya seperti bukan masalah?
Ucup membalas tatapan Ali, memilih untuk menahan lidahnya saja. Sebelah pipi Ali diusapnya lembut. Mungkin, seperti Ali tampak mencari Raja di matanya, ia juga tak sadar sedang mencari Piko di mata Ali.
“Ali,” panggil Ucup, usai menamatkan pergulatan rumit dalam dirinya. "Satu tambah satu berapa?"
"Hah?" Ali merespons setelah sedikit jeda, alisnya diangkat sebelah dan kepalanya dimiringkan.
"Jawab gue," Ucup tidak dapat menahan senyumnya. Ali dalam mode dungu begini terlihat berkali lipat lebih menggemaskan. "Berapa, satu tambah satu?"
"Sepuluh, ya!" jawab Ali penuh percaya diri.
"Tetot, salah." Ucup menggosokkan telapak tangannya pada wajah Ali, membuat pemuda itu mengaduh kegelian. "Maaf, Anda tereliminasi. Nggak jadi bawa pulang 1 milyar.
Jadi sekarang, Saudara Ali harus pulang, ya?"
Ucup mengencangkan sabuk pengamannya, memastikan Ali sudah terikat dengan aman di kursinya. Ali merengut tidak setuju sambil mengigau tidak jelas; Ucup hanya mengawasinya sambil terkikik geli.
Hari ini, Ucup bersumpah tidak akan meninggalkan Ali sendiri.
--
Ucup tertatih memapah Ali yang setengah sadar masuk ke rumahnya. Ia tidak tahu persis di mana alamat indekos Ali, pun seandainya ia tahu, rasanya keberhasilan memulangkan Ali ke tempat tinggalnya tidak sepadan dengan kerusuhan kecil yang akan terjadi dalam prosesnya. Di mana kunci kamarnya? Kamarnya nomor berapa? Dengan siapa ia akan berhadapan saat menekan bel pagarnya? Kamu siapa? Gembel dari mana, mukanya kayak orang nggak mandi seminggu? Habis nyulik Ali terus ini anaknya mau dipulangin, ya?
Kadung malas masuk DPO lagi dan dicecar dalam interogasi, Ucup memilih jalan pintas: membiarkan Ali menginap di tempatnya.
Ketika lampu ruang tengahnya menyala, ia segera tersadar entah sudah berapa lama rumahnya dibiarkan berdebu dan menyedihkan begini. Untung Ali nggak sadar, batinnya karena ia mulai malu sendiri. Sofanya sudah sejenis tidak layak ditempati dengan banyaknya bekas makanan yang terserak di sana. Satu-satunya pilihan tempat untuk beristirahat adalah ranjang di kamarnya, yang mau tak mau harus mereka bagi berdua.
Ucup tidak punya sedikit pun agenda berpeluk-pelukan dengan Ali—setidaknya sampai bayang-bayang Piko berhenti menghantuinya. Jadi, setelah ia merebahkan tubuh Ali dengan hati-hati, Ucup memanjat sisi lain ranjangnya lalu menyamankan dirinya.
Sebelum bergelung membelakangi Ali dan benar-benar memejamkan matanya, Ucup mencuri pandang lagi, kembali mengecek Ali untuk memastikan ia baik-baik saja. Sayangnya, tampaknya tidak.
Ada garis tipis air mata yang luruh di pipinya. Bibirnya bergetar sementara kedua bahunya berguncang lemah, seiring dengan isaknya yang sesenggukan. Ali meringkuk sambil memeluk lututnya, tangisnya tidak lagi dapat dibendung.
“Mas… Mas Raja…” Setiap nama itu meluncur dari bibirnya, sedu-sedannya semakin keras dan menyayat hati. Ucup tidak paham apa yang sedang terjadi di pikiran Ali, namun melihatnya begini membuat dadanya terasa sakit. Tubuhnya yang jompo dan jarang diajak olahraga tentu pernah merasakan berbagai jenis sakit (pegal linu karena terlalu lama duduk, leher kaku akibat salah bantal, perut melilit akibat GERD kambuh), namun ini salah satu jenis sakit yang paling tidak nyaman. Rasanya nyeri, seperti ditusuk jarum-jarum tipis, sukar dikendalikan, dan bagian paling menyedihkannya: tidak ada yang tahu pasti penawarnya.
Tidak tahan melihat Ali menderita sendiri, Ucup akhirnya bergerak hati-hati ke sisi ranjang lainnya. Tangannya mengusap lembut punggung Ali yang masih naik-turun tak beraturan.
“Bukan Raja. Ini Ucup,” ujarnya menenangkan. “Nggak papa, lo tidur aja, ya?”
Ali terus menangis, di antara sadar dan tidak, namun ia mengangguk.
Ucup tidak begitu ingat kapan persisnya ia jatuh tertidur. Satu hal yang ia ingat, tangannya masih berada di punggung Ali.
--
Ali terbangun dengan pening-pening di kepalanya.
Sekarang jam… 7? 8? Ali tidak dapat mengira pastinya, berhubung jendela kamar Ucup tertutup tirai hampir sepenuhnya. Tampaknya, laki-laki itu memang senang hidup gelap-gelapan.
Sambil mengusap kepalanya sendiri yang berdenyut-denyut, Ali susah payah mendudukkan dirinya di ranjang. Ia tidak banyak ingat soal kejadian kemarin, namun ia ingat bagaimana rasanya. Perjalanan ia dan Ucup semalam tak ubahnya mimpi orang yang sedang demam tinggi.
Delusif. Disruptif… mungkin fiktif.
Apa pun itu, hal-hal yang mereka lakukan bersama mampu membuat jantungnya berdegup antisipatif.
Saat Ali masih disibukkan dengan isi kepalanya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ucup muncul dengan dua gelas air di tangannya.
"Gue... ngajak lo ke rumah soalnya gue takut malah jadi ribet kalau harus nanya-nanya orang kosan lo tengah malem. Nih, minum dulu," Ia mengangsurkan satu ke genggaman Ali. "Lo kalo hangover gitu biasanya makan apa?"
"Hmm…" Ali memulas senyum tipis. "Bubur Mekdi."
"Harus Mekdi banget?" Ucup tergelak, sedikit gemas mendengar preferensi Ali yang terlampau spesifik. "Bubur Sunda di depan gang kompleks gue, mau? Sama-sama bubur.
Kalau yang ini rahasianya ada di panci buburnya. Di bawahnya ada kolor bekas abangnya."
"Ucup!" Ali lantas melotot, menolak membuka harinya dengan membayangkan yang tidak-tidak. Ucup membalas dengan tawa keras, tampak puas melihat ekspresi Ali.
"Minggu depan… pulangnya tenggo kayak semalem juga, nggak?" tanya Ucup setelah tawanya mereda, sementara ia seperti tidak bisa memilih ingin bercakap atau minum terlebih dahulu. Sebagai hasilnya, ia berbicara dengan gelas di depan mulutnya sambil meneguk air di sela kalimatnya.
"Ngomong yang jelas, jangan kayak kumur-kumur gitu."
"Fine," tukas Ucup, kini sambil menurunkan gelas dalam genggamannya. "Minggu depan, kalau lo nggak keberatan, gue mau ngajak lo jalan lagi. Nanti gue jemput di kantor lo kayak semalem, makanya gue tanya lo balik jam berapa.
Gitu ya, Ali Widjanarko? Udah cukup jelas, belum?"
Ali terbahak kecil. "Lo gabut banget, ya?"
"Eits, enak aja. Ini bukan gabut, ada istilahnya.
Flexi hour," lanjut Ucup sambil menaik-turunkan kedua alisnya dengan jenaka.
"Ya udah, jadi gimana, Li? Mau nggak?"
Ali bergumam sambil mengulum senyum. Kali ini, ia tidak butuh banyak waktu untuk menjawab. "Boleh.
Tapi gantian gue yang nentuin ya, kita bakal ke mana?"
