Work Text:
Dalam pikirnya, Jisung diam-diam berhitung. Sudah berapa kali tepatnya ia bertemu dengan lelaki yang bersanding di sebelahnya. Semua terjadi begitu cepat, terasa asing dan penuh keraguan, namun anehnya belum terlintas di pikiran Jisung untuk mundur dari situasi yang rumit ini.
Pertama kali, pada acara resepsi ulang tahun Gongwon Group yang ke 40. Jisung ingat betul ekspresinya saat mereka bertemu pandang untuk saling berkenalan. Lebih tepatnya dikenalkan. Jabat tangan seadanya, raut wajah penuh kebosanan dengan kedua keluarga saling basa-basi tentang usia mereka yang sebaya dan potensi untuk menjalin pertemanan.
Kedua kali, saat acara makan malam keluarga mereka yang 'katanya' untuk beramah-tamah. Padahal ujung-ujungnya membicarakan partnership serta rencana proyek properti dan perluasan pemasaran lini bisnis furniture ke negara tetangga juga. Jisung dan lelaki ini hanya saling bertegur sapa dengan anggukan kecil dan senyum simpul.
Kali ketiga, waktu keluarga Jisung diundang ke Shanghai untuk peresmian gedung headquarter Zhong Holdings yang baru. Kedua orang tua mereka memberikan waktu ekstra bagi Jisung dan lelaki ini untuk lebih mengenal satu sama lain, membiarkan mereka berdua bersantai di taman rooftop gedung pencakar langit Shanghai dengan pemandangan indah, meskipun berakhir dengan obrolan seperlunya dan saling berdiam diri di sudut favorit masing-masing. Jisung lebih memilih untuk mendengarkan lagu dengan airpod dan si lawan bicara pun kembali fokus dengan game di ponselnya.
Jadi, saat ini adalah pertemuan kali keempat bagi Park Jisung dan Zhong Chenle.
Banyak orang berkata, angka empat adalah angka yang melambangkan kesialan. Entah benar atau tidak, Jisung sudah tidak peduli lagi dengan apa yang selanjutnya akan terjadi diantara mereka.
[---]
Sepanjang dua puluh enam tahun hidupnya, Jisung baru bisa merasakan leganya kebebasan saat ia lulus dari sekolah dan memutuskan untuk tinggal sendiri.
Ingin menjadi lebih mandiri dan bertanggungjawab hanyalah sebuah alasan kosong yang ia lontarkan pada orangtuanya, meskipun sang ayah tetap ngotot untuk menyediakan tempat bekerja baginya di perusahaan keluarga mereka.
Jisung pun mengalah dengan syarat beliau, asalkan ia bisa memulai karir sebagai staf biasa dengan identitas yang disembunyikan dengan aman.
Park Jisung, usia 22 tahun, baru saja lulus dari universitas swasta dan tinggal seorang diri di apartemen studio yang sederhana. Bekerja pukul sembilan pagi sampai lima sore sebagai karyawan biasa. Merasakan sendunya perjalanan pulang-pergi dari rumah ke kantor seperti orang-orang pada umumnya, sembari menatap keramaian jalan dari dalam bus dan memikirkan menu makanan yang akan ia beli nanti. Bertemu dengan beban pekerjaan yang datang silih berganti, juga omelan atasan ataupun celoteh teman-teman seruangan.
Rutinitas selama empat tahun ini berjalan dengan membosankan namun nyaman.
…Sampai tiba saatnya Jisung mendengarkan ocehan gosip para staf saat makan malam akhir tahun bersama di sebuah restoran yang cukup ramai. Dengungan suara obrolan dan dentingan botol bir di sekitar Jisung pun tak memudarkan fokusnya untuk mencari lebih tahu tentang kabar burung yang beredar.
"Guys, lo udah denger gosip terbaru tentang proyek joint venture di China belum?"
"Lah, bukannya Jepang? Yang tahun lalu kantor kita sempet kedatengan timnya Nakamoto Construction itu?"
"Bukan anjir, yang itu sih ga jadi deal. Ini beda lagi, sama Zhong Holdings. Gila, ga main-main partnernya kali ini. Gue denger sebagian staf kita yang kebagian handle project ini bakal dimutasi ke Shanghai dengan fasilitas komplit. Tinggal nunggu kiriman surat cinta aja dari HRD deh."
"Ooo…iya tau. Gue juga denger kabar proyek ini jalan gara-gara anak CEO yang ditumbalin kan ya?"
Terdengar kekehan kecil mereka yang masih sibuk mengobrol dengan lirih.
"Maksudnya ditumbalin?"
"Ya apalagi kalo bukan dinikahin ke Zhong Holdings. Jelas jalan lah bisnisnya, kan ujung-ujungnya sama besan sendiri."
"Lo liat deh bentar lagi bakal ada announcement, sekalian acara makan-makan mewah lagi gara-gara royal wedding ini."
Zhong Holdings?
Pernikahan kedua keluarga untuk melancarkan rencana perluasan bisnis?
Entah mengapa dada Jisung mendadak terasa sesak dan perutnya menjadi mual.
Di tengah hingar-bingar suasana akhir tahun yang meriah, Jisung merasakan kehampaan mendalam.
Selamanya ia tak akan pernah bebas menjalani hidupnya sendiri seperti yang Jisung impikan.
Hari berjalan begitu cepat, tahun pun berganti. Tiba saatnya Jisung menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah ia siapkan demi meredam gosip yang beredar sebelum identitasnya terungkap, dan berusaha membesarkan hatinya sendiri untuk menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi.
[---]
Sekitar dua jam sebelum acara berlangsung, mereka tak sengaja bertemu di taman belakang yang letaknya bersebelahan dengan grand ballroom hotel, tempat acara mewah ini dihelat. Tak ada pilihan tempat lain bagi Jisung untuk meredakan kekhawatiran atau bernapas sejenak, mengingat ramainya media yang berusaha meliput setiap gerak-geriknya semenjak berita partnership antara Zhong Holdings dan Gongwon Group resmi dirilis sebulan yang lalu.
Tak hanya urusan proyek joint venture dan perluasan target pasar, para anak bungsu dari kedua keluarga taipan tersebut dijodohkan untuk melanggengkan ikatan bisnis mereka.
"Lambat laun kita harus ngebiasain diri untuk bersama." Ujar Chenle, tuan muda keluarga Zhong yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Jisung hanya bisa menghela napas lelah, dalam hati menertawakan jalan hidupnya yang makin hari makin aneh.
"Lo ga perlu khawatir, gue ga akan nuntut hal yang aneh-aneh meskipun status gue sebagai suami lo bakal sah sebentar lagi, dan gue harap kita masih bisa bersahabat. Pada akhirnya, kita cuma punya satu sama lain untuk saling support. Ya kan?"
Tangan Chenle yang hangat menggenggam jemari Jisung dengan erat, seolah ia bisa membaca suasana hatinya yang rumit. Jisung mengalihkan pandangannya ke si lawan bicara, tak menyangka akan bertemu dengan tatapan ramah yang menenangkan.
Setidaknya Jisung yakin bahwa Chenle adalah orang yang baik dan bisa ia andalkan kedepannya.
Waktu terus berjalan dan lamunan Jisung terpecah saat tiba saatnya mereka untuk mengucapkan janji pernikahan.
Hatinya diam-diam bertanya, masih adakah kesempatan untuk lari dari situasi dan kembali menjadi Park Jisung yang normal?
Park Jisung tanpa sorotan media, hanya seorang staf keuangan di Gongwon Group, lulusan universitas lokal yang selalu menyembunyikan jati dirinya sebagai orang biasa-biasa saja?
Sayangnya Jisung tak punya nyali sebesar itu untuk nekat kabur dan menyudahi semuanya.
Sesuai dengan yang sudah direncanakan, ia dan Chenle pun saling berhadapan dan mengucap janji dengan lancar layaknya aktor yang fasih melafalkan dialog untuk bermain peran.
Ciuman pertama mereka sebagai pasangan terasa begitu dingin tak bernyawa.
