Actions

Work Header

Drunk

Summary:

you really can't predict what is going to happened.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Embun membasahi kaca jendela. Tampaknya hujan masih setia melimpahkan airnya turun ke bumi. Seorang lelaki baru saja terbangun dari tidurnya. Tangannya terulur meraih ponsel pintar di nakas meja. Pukul tujuh pagi. Tidak biasanya dia terbangun lebih awal. Taeyong memejamkan matanya lagi. Ditempatkannya lengan tangan kiri di dahinya. Dia merasa sedikit pusing.

Apakah aku mabuk lagi semalam?

Taeyong memijat pelipisnya. Rasa pusing seketika menyerangnya saat dia beranjak bangun dari ranjang. Pemuda itu tak ingat apa pun. Dia mengumpat dalam hati. Diraihnya ponsel dan diperiksa panggilan masuk dan keluarnya.

Tertulis nama 'My Bae' di panggilan keluar sebanyak dua puluh kali. Durasi panggilan terakhir sekitar lima menit. Sedangkan panggilan masuk dari nama kontak yang sama hanya satu kali dengan durasi kurang dari semenit. Ia melemparkan ponselnya ke kasur.

Apa yang sudah ku lakukan?

Taeyong menggigit kukunya dengan cemas. Dirinya segera bangkit dan meraih coat tebal dari gantungan baju. Dengan panik dia keluar dari unit apartemennya. Taeyong menekan tombol lift untuk turun ke lantai dasar.

Pikirannya benar-benar buntu saat ini. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Kumohon.. Aku tidak ingin terlihat lebih memalukan dari ini.

Begitu pintu lift terbuka, Taeyong bergegas melangkah dan berlari keluar dari gedung apartemennya. Sesampainya di halte bus terdekat, dia buru-buru naik ketika salah satu bus menepi untuk menurunkan penumpang.

Taeyong memandangi pemandangan jalan dari luar kaca. Dirinya merogoh sakunya, bermaksud ingin mencari dompet untuk membayar ongkos bis. Namun dirinya kemudian menyadari sesuatu. Ponselnya tertinggal.

Ah sial! Sial sial...

Ya, begitu lah Taeyong. Dia akan lupa sesuatu jika sedang terburu-buru seperti itu. Dia terbiasa memiliki seseorang yang akan mengingatkannya untuk memeriksa kembali seluruh barang bawaannya.

Setibanya di tempat tujuan, Taeyong segera membayar dan turun dari bus. Berjalan melewati beberapa pepohonan dan taman, kemudian ia sampai di sebuah apartemen kecil. Taeyong melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga, hingga sampai di lantai 5.

Kini ia berada di depan pintu kamar nomor 503. Diulurkannya tangannya untuk memencet bel. Namun Taeyong menarik lagi tangannya. Dia ragu. Apakah kedatanganya tidak akan mengagetkan pemilik rumah?

Cukup lama Taeyong berdiri disana. Lima menit kemudian, Taeyong hampir terlonjak kaget karena pintu itu terbuka dengan sendirinya dari dalam. Si pemilik yang baru saja ingin melangkah keluar dengan sekantong sampah di tangan kirinya, tak kalah kaget saat melihat Taeyong yang berdiri di hadapannya.

"T-Taeyong?"

"Hai, Tennie.." Taeyong tersenyum kikuk. Yang dipanggil Tennie hanya diam. Lantas membukakan pintu untuk Taeyong.

"Masuklah dulu. Aku akan buang sampah ini. Tak akan lama."

Taeyong pun mengangguk dan memasuki rumah Ten. Dirinya melangkah memasuki ruangan yang sangat familiar baginya. Dia lalu mendudukkan diri di sofa, sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Bagaimana menjelaskan situasi ini sekarang? Taeyong benar-benar bingung. Entah apakah Ten akan menerima alasan kedatangannya yang tiba-tiba ini. Konyol. Tentu saja. Taeyong hanya ingin tahu apa yang terjadi kemarin malam. Mendapati dirinya terbangun di kamar apartemen miliknya, itu sangatlah aneh. Dia ingat sedang minum-minum di suatu bar sendirian. Bagaimana bisa dia pulang sendiri dengan ajaib?

Taeyong dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka. Ten yang baru kembali dari membuang sampah melepaskan jaketnya, lalu menggantungkan di balik pintu. Ten tersenyum kecil kepada Taeyong, lalu duduk di sampingnya.

Sial. Bagaimana aku mengatakannya?

"Jadi ada perlu apa kemari?" Ten bertanya pelan.

"A-aku hanya ingin minta maaf, sebelumnya— aku pasti sudah merepotkanmu semalam.."

Ten menggelengkan kepalanya. Dirinya tersenyum. Senyuman yang Taeyong tahu dipaksakan.

"Itu bukan apa-apa. Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian disana..."

"J-jadi kau benar-benar mengantarkanku pulang?"

"Tentu saja... Kau sangat kacau sekali tadi malam..."

"B-bae— ah maksudku Tennie.." Taeyong yang kelepasan memanggil panggilan 'lama' Ten kini terbata-bata.

Ten tidak mengatakan sepatah kata pun dan bangkit dari duduknya. Dia lalu melangkah menuju bagian dapur.

"Aku akan mengambilkan minuman dulu."

Taeyong merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kini potongan-potongan kejadian tadi malam mulai muncul di kepalanya.

(Flashback)

Taeyong mengusap air matanya yang keluar perlahan. Setelan kemejanya yang tadinya tampak rapi kini sudah menjadi berantakan. Dirinya meneguk satu gelas miras lagi, lalu bingung saat gelas itu tampak kosong.

"Hei! Aku ingin tambah lagi!" teriaknya pada seorang bartender bar itu. Lelaki paruh baya yang melayaninya pun menuangkan kembali segelas alkohol di gelasnya. Taeyong merebut botol miras dari tangan pelayan itu, kemudian langsung meminumnya dari botol. Lelaki itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Taeyong, lalu berlalu untuk melayani pelanggan lain.

Bukan tanpa alasan Taeyong minum-minum sendiri dengan menyedihkan seperti ini. Sudah lewat lebih dari tiga bulan pasca hubungannya berakhir dengan kekasihnya yang manis. Ten memutuskannya setelah Taeyong mengatakan dengan jujur jika dia merasa bosan dengan hubungan mereka. Alih-alih ingin memperbaiki dan membicarakannya dengan baik. Taeyong mengatakan hal-hal kejam yang dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa dia katakan kepada Ten. Semenjak saat itu, Taeyong tidak pernah melihat Ten lagi. Taeyong merasa lega karenanya. Dia takut karena Ten akan merasa sakit jika harus memaksakan hubungan yang dia rasa tak akan berjalan dengan baik. Namun sepertinya Taeyong terkena karmanya sendiri.

Hari-hari tanpa Ten terasa sangat berat baginya. Bahkan, ia rasa malam itu adalah puncaknya. Ketika sepulang dari bekerja, dirinya malah mampir ke bar dan berakhir dengan kacau seperti ini.

Kepalanya kini terasa sangat berat. Taeyong yang sudah sangat mabuk meraih ponselnya yang tergeletak di meja bar. Jarinya menekan panggilan dengan nama 'My Bae'. Ya, Taeyong bahkan belum mengubah nama kontak mantan kekasihnya itu. Dibuatnya panggilan berulang kali. Ketika suara operator yang menjawab, Taeyong justru menangis. Dirinya merasa jika berakhirnya hubungan ini adalah salahnya.

Kenapa dia tidak mendengarkan Ten? Bahkan jika mereka bisa memperbaikinya, akankah semua akan kembali seperti semula?

Taeyong menekan panggilan untuk Ten lagi setelah sekian kalinya. Rupanya, dewi fortuna sedang berpihak padanya. Ten mengangkat panggilan itu setelah sebelumnya tidak terangkat.

"Ya?" Taeyong membelalakkan matanya mendengar suara yang sangat dia rindukan.

"Ten.... Tennie..." suara parau Taeyong menjawab dengan sedikit terisak.

"A-apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"

"Aku.. aku merindukanmu..."

Hening. Ten tidak membalas ucapannya. Taeyong yang sudah sangat putus asa pun meracau. Menumpahkan segala perasaannya yang terpendam.

"Aku tahu jika perbuatanku tidak termaafkan. Aku mengatakan hal kejam dan membuat hatimu terluka.. tapi... aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku menjadi seperti itu.. Tennie... My bae.."

Taeyong mulai menangis lagi. Walau suara tangisannya sedikit teredam oleh suara bising bar.

"Aku tahu jika kau baik-baik saja tanpa ku—"

"Ya... itu sebelum aku mengatakan jika aku merindukan dirimu yang dulu." Ten menjawab dengan nada dingin.

"Aku juga.. aku juga merindukanmu... tapi kau harus tahu jika aku masih disini jika kau membutuhkanku. Aku tahu kau juga mungkin tidak ingin menemuiku lagi—"

"Aku tidak pernah bilang begitu, Lee Taeyong."

"Aku tahu.. itu hanya asumsiku semata... kurasa pikiranku sudah sangat kacau sekarang.. ahh.. kepala ku pusing sekali.."

"Kau minum-minum?" tanya Ten. Kini suaranya bergetar. Tak dapat menutupi jika dia khawatir kepada Taeyong.

"Yah... tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan....." Taeyong lalu meletakkan kepalanya di meja. Ponselnya tergeletak dengan masih tersambung oleh panggilan Ten.

"Heii! Aish.. Katakan dimana kau sekarang?"

"Aku? Aku sendiri tidak tahu, Bae... aku..."

Panggilan mereka lalu terputus karena Taeyong menutup panggilannya dengan tidak sengaja. Dia memejamkan matanya karena rasa sakit kepala yang mulai menyerang. Ponselnya kini kembali berdering. Tanpa membuka matanya, Taeyong meraih ponselnya dan mengangkat panggilan masuk itu.

"Kau! Dasar! Tunggu disana dan jangan pergi kemana-mana!"

"Kau siapa?" Taeyong semakin melantur seraya memejamkan matanya. Dia seperti akan kehilangan kesadaran.

"Ini aku Ten yang baru saja kau hubungi tadi bodoh! Haish.. sial.. kenapa aku punya mantan kekasih yang menyedihkan begini, sih?" Ten menggerutu dan mengakhiri panggilan dengan cepat.

Taeyong hanya bergumam dan meletakkan ponselnya kembali, Tidak butuh waktu lama baginya untuk berpindah ke alam bawah sadar. Taeyong bahkan masih tertidur ketika Ten sampai di bar itu dengan panik.

"Taeyong? Taeyong??" Ten mengguncangkan badan Taeyong yang tertidur pulas.

"Aaah!! Menyusahkan!" ujar Ten kesal. Dirinya lalu pergi ke kasir dan membayar untuk minuman yang Taeyong sudah habiskan. Setelah berbicara dengan salah satu pelayan untuk beberapa saat, pelayan itu lalu setuju untuk membantu Ten membopong tubuh Taeyong menuju taksi yang sudah dipesan Ten.

Terang saja. Badan kecil Ten tidak akan sanggup memapah badan Taeyong sendirian. Setelah mengucapkan terima kasih, Ten lalu ikut masuk ke dalam taksi. Dia mengatakan tujuannya ke gedung apartemen Taeyong pada sang supir.

Ten menghela nafasnya. Dia merasa sangat lelah. Tentu saja dia awalnya sebal karena Taeyong terus melakukan panggilan ke ponselnya berulang kali. Karena merasa kasihan, awalnya Ten berniat untuk memarahi Taeyong. Tetapi dia mengurungkan niat saat mengangkat panggilan terakhir itu. Ten merasa kasihan. Tetapi dia sendiri tidak ingin membahas untuk melanjutkan hubungan yang bahkan bagi Taeyong tidak ada artinya. Setidaknya itu lah yang Ten pikirkan.

Taeyong yang masih tertidur pulas dalam perjalanan menuju apartemennya menggeliat dalam tidurnya. Dia kemudian memeluk lengan Ten yang duduk di sampingnya. Ten ingin sekali menjitak kepala Taeyong. Namun dia masih merasa kasihan jadi dia membiarkan Taeyong yang mendengkur itu memeluk lengan kecilnya.

Akan ku bunuh kau nanti, Lee Taeyong.. Ten membatin kesal dalam hati.

(Flashback end.)

Taeyong terperanjat mendengar cerita Ten. Dia benar-benar merasa malu dengan dirinya sendiri. Ten hanya terdiam sambil meminum teh yang dia buat untuk dirinya sendiri— selain gelas untuk Taeyong.

"Maafkan aku, Ten—"

"Kau tidak perlu meminta maaf, lagi pula aku sendiri yang ingin melakukan itu."

"Tapi tetap saja—"

"Ah kenapa kau cerewet sekali, Taeyong? Aku sudah bilang bahkan jika kau tidak memintanya, aku akan tetap datang. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Itu kebiasaan jelek," Ten kini mengomelinya panjang lebar. Dan Taeyong mendengarkan tanpa membantahnya. Setidaknya yang Ten katakan mungkin ada benarnya.

Dia menunduk. Dirinya lalu menatap Ten yang terdiam sambil menggenggam gelasnya. Ten sepertinya juga merasa menyesal karena memarahi Taeyong.

"Ten...." panggil Taeyong pelan.

"Apa?" jawab Ten dengan cuek.

"Mungkin aku benar-benar sangat brengsek.. Aku mengakuinya.." tangan Taeyong terulur untuk mengenggam tangan Ten. Ten hanya terdiam, masih mendengarkan kalimat Taeyong.

"Aku tidak seharusnya mengatakan ini. Tapi aku juga benar-benar masih peduli padamu. Aku akan selalu ada untukmu. Yah, mungkin aku terlihat baik-baik saja. Tapi aku sadar sesuatu.."

Ten ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Taeyong, tetapi Taeyong masih menggenggamnya dengan kuat.

"Aku menyadari jika aku sebenarnya tidak baik-baik saja. Aku mulai gila. Aku benar-benar sedih ketika memikirkanmu. Jadi aku hanya ingin kau tahu jika kau butuh bantuan.. bahkan jika nanti kau sudah memutuskan untuk bersama dengan orang lain, datanglah padaku jika memang kau membutuhkanku."

Ten terdiam. Hening. Tangan Taeyong mulai terasa dingin. Ten kemudian melepaskan tangannya perlahan dari tangan Taeyong.

"Aku rasa itu tidak perlu. Bahkan jika nanti aku mendatangimu, lalu apa gunanya itu?"

"Tennie, aku—"

"Aku tidak ingin melanjutkan ini lagi. Ku rasa pembicaraan kita juga cukup sampai disini. Jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, bisakah kau pergi sekarang?"

Taeyong lalu terdiam. Dia merasa ingin mentertawai dirinya sendiri. Mungkin memang sampai disini saja. Ia akan menganggap ini adalah karma karena dia memperlakukan Ten dengan buru sebelumnya.

Ten masih terdiam ketika Taeyong bangkit dan memandang ke arahnya.

"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang.."

"Hati-hati di jalan," ucap Ten pendek. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali kepada Taeyong.

Taeyong tersenyum getir dan melambaikan tangannya, yang dia tahu itu sia-sia karena Ten tidak melihatnya. Dia meraih knop pintu apartemen Ten dan akhirnya dengan berat hati meninggalkan apartemen mantan kekasihnya tersebut. 

Notes:

Inspired by Why Don't We song, the title is For You.

Hope you guys like it!

 

Also posted on my X: @yourbirthday10