Actions

Work Header

hold my hand and you will be okay

Summary:

Park Seojin mencoba untuk mengurangi kegugupannya sebelum memulai audisinya tapi selalu saja gagal. Ahn Sunghoon, yang sudah pernah berada di posisi Seojin berkali-kali, memutuskan untuk membantu pria yang lebih muda itu untuk menghilangkan rasa gugup dari dalam dirinya.

Saat tangan Seojin digenggam oleh Sunghoon, semua rasa gugup juga takut hilang begitu saja dari tubuh dan pikiran Park Seojin.

Selama ada Sunghoon, Seojin akan merasa baik-baik saja.

Work Text:

Park Seojin menghela napasnya dalam diam.

Bola matanya bergulir kesana kemari, tanda ia gelisah. Ruangan itu dipenuhi oleh sesama penyanyi. Baik yang baru saja memulai maupun yang sudah lama menyelam di industri permusikan ini. Ada beberapa yang ia kenal, ada juga yang asing di matanya.

Menjadi bagian dari active duty department merupakan sebuah anugerah dan juga kutukan secara bersamaan. Penonton banyak yang sudah mengenal mereka dan berharap mereka akan melakukan yang terbaik. Tapi, ya, mereka juga menanggung ekspektasi orang-orang yang super tinggi. Para anggota departemen active duty A di musim sebelumnya banyak yang berhasil dan mengangkat nama mereka kembali di industri yang kejam ini, bahkan tiga anggota mampu masuk ke 7 peserta teratas saat babak final. Termasuk sang juara dan juara kedua. Mau tidak mau, para anggota departemen yang sama harus bekerja keras agar bisa memenuhi ekspektasi para audiens.

Ada delapan orang yang menjadi bagian dari departemen ini. Beberapa pernah menjadi peserta musim satu, tapi gagal dalam perjalanan mereka untuk masuk final.  Seojin menjadi salah satu dari delapan peserta itu. Ia mengenal beberapa wajah familiar di departemen tersebut, karena pernah bekerja bersama. Dirinya merasakan ratusan pasang mata melihat ke arahnya saat ia masuk ke dalam studio, serta bisikan-bisikan yang terdengar sangat jelas. 

 

Hei, lihat, bukankah itu Seojin senior? 

Eh, betul juga. Kok ikut acara ini, ya?

Wah, ada Seojin senior! Tak ku sangka aku ada di ruangan yang sama dengan dia.

Apakah dia akan bersaing dengan kita? Ah, aku akan kalah dengan God of Janggu. Levelnya terlalu tinggi!

 

Tangannya ia kepalkan, dengan harapan getaran yang mengganggunya itu segera berakhir. Para peserta masuk satu persatu dan diarahkan oleh produser untuk mengambil rekaman yang akan digunakan untuk pembukaan setiap episode yang tayang. Dada Seojin berdebar sangat cepat dan kencang. Walaupun sudah sering sekali dirinya berada di depan kamera, tapi kali ini rasanya berbeda. Matanya memindai sekelilingnya dan berhasil menangkap salah satu peserta yang pernah bertemu dengannya di salah satu acara beberapa tahun yang lalu. Tanpa ragu, Seojin berjalan ke arahnya (melawan arus dan tak sengaja menabrak banyak orang dalam proses) dan menepuk pundaknya, sampai ia menoleh secara perlahan.

“Hai, Sunghoon hyung.”

Pria berkacamata itu tersenyum saat mendengar namanya.

“Hai, Seojin! Lho, bukannya tempat kamu di sana tadi?”

“Seojin enggak terlalu kenal sama yang ada di sana, kebetulan ada Sunghoon hyung yang aku kenal. Jadi kesini deh.”

Sunghoon tertawa pelan, membiarkan Seojin ada di sebelahnya untuk beberapa waktu. Tak ada pembicaraan diantara mereka sampai akhirnya pria yang lebih muda itu memutuskan untuk membuka pembicaraan.

Hyung , rasanya waktu audisi di depan master-nim pertama kali seperti apa?”

“Rasanya, ya… Tentu gugup dan takut. Apalagi waktu itu hyung baru saja kembali memulai karir hyung sebagai penyanyi. Setelah delapan tahun.”

“Tak usah khawatir, Seojin. Kan kamu ada janggu ! Jadi, rasa takut itu bisa ditutupi dengan permainan janggu -mu yang apik itu.”

Seojin hanya menggeleng. Tidak membenarkan perkataan Sunghoon tadi.

“Aku tidak bawa janggu untuk Mr. Trot, hyung. Aku akan bernyanyi sendiri di atas panggung. Tanpa janggu .”

Sepasang mata Sunghoon di belakang kacamata bulat itu membesar, bulat seperti bingkai kacamata yang ia pakai. Sunghoon sedikit terkejut. Seorang Park Seojin tidak tampil dengan janggu miliknya?

Tapi Sunghoon hanya mengangguk-anggukkan kepalanya setelah diberi informasi tersebut oleh pria yang lebih muda enam tahun itu. Tak mau membuat Seojin kehilangan kepercayaan dirinya yang sudah lenyap entah kemana. Terdengar dari suaranya yang ada tanda-tanda keraguan.

“Kalau ada apa-apa, bilang kepadaku ya. Nanti aku bantu sebisaku.”

“Kamu pasti bisa, aku yakin sekali.”

Seojin mengangguk, kembali ke posisi asalnya karena produser sudah memberikan isyarat untuk meneruskan rekaman untuk episode awal. Ia menghela napas, lagi. Semoga saja semuanya berjalan baik-baik saja. Setidaknya pada saat audisi.

 

Ia kembali ke ruangan tempatnya beristirahat dengan rekan setimnya. Tim active duty A berbagi ruangan dengan departemen lain, yaitu champions department. Tim yang dipenuhi oleh pemenang beberapa acara audisi trot yang lain. Ia sempat bercengkrama dengan beberapa orang yang sukses meredakan rasa gugup yang sedari tadi menghantui dirinya. Mencoba melupakan fakta bahwa ia akan bernyanyi di depan para master-nim yang juga rekan kerja di industri ini. Tepat saat ia sudah agak tenang, seorang staf masuk ke dalam ruangan dan membuat semua orang menoleh ke arah pintu.

“Tim active duty A , silakan masuk ke dalam studio.”

“Semangat, semuanya!”

“Semangat, tim active duty ! Sapu bersih all heart dari master-nim, ya!”

Delapan orang yang berjalan ke arah studio itu sama-sama merasa gugup, termasuk Seojin. Mereka berbaris dengan rapi di panggung yang akan bergerak dan membawa mereka ke hadapan para master-nim yang sudah menunggu di dalam studio.

Suara riuh tepuk tangan yang berasal dari juri memenuhi pendengaran Seojin. Semua anggota tim ini mengerti, mereka membawa ekspektasi yang sungguh tinggi, dan beban yang ada di pundak mereka sangatlah berat. Mereka tak ingin mengecewakan semua orang. Mulai dari juri yang menyaksikan langsung sampai semua penonton yang menyaksikan dari layar televisi. 

Mereka dipersilahkan untuk duduk di kursi yang disediakan sembari mempersiapkan penampilan mereka nanti. Nama Choi Woojin tertera dengan jelas di layar, menandakan bahwa ia lah yang pertama kali akan menampilkan sesuatu yang telah ia siapkan di depan para master-nim . Untung saja, ia diberkati oleh all heart , bahkan sebelum lagu yang dibawakan selesai. Song Minjun menjadi peserta kedua yang maju ke atas panggung. Terlihat seperti penyanyi yang memang profesional, tidak gugup sama sekali dan menyajikan penampilan yang sungguh luar biasa. Tak heran jika ia juga diberi all heart dari para master-nim .

"Sekarang, oh! Giliran Park Seojin yang akan maju ke depan!"

Seketika dunia berhenti berputar bagi Seojin. Tangannya bergetar dengan hebat, jantungnya berdebar sangat kencang. Staf memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mempersiapkan semuanya sebelum berjalan ke arah panggung. Kawan-kawannya memberikan semangat untuk dirinya, tapi tidak cukup untuk mengurangi rasa gugup yang menghantui pikirannya sedari tadi. Seojin menghela napasnya berkali-kali. Frustrasi karena ia tak bisa tenang. 

Seketika jantungnya berdebar lebih pelan, kembali ke normal. Tangannya tak bergetar sehebat sebelumnya. Ia merasakan punggung tangannya bersentuhan dengan telapak tangan milik orang lain, yang ternyata meredakan rasa gelisah yang membuncah. Ia menoleh ke arah kirinya, dan ternyata tangannya digenggam oleh Ahn Sunghoon. Beberapa kali, pria yang lebih tua itu meremas tangan dingin Seojin, mengusir rasa gugup, rasa takut, dan keraguan dari pikirannya. Seojin menoleh ke arah Sunghoon, tersenyum sebagai tanda terima kasih kepada pria berkacamata itu. 

Dirinya berjalan ke arah panggung. 

Melihat para master-nim yang bertanya-tanya karena ia tak membawa janggu kali ini.

Tangannya masih bergetar. Memegang mikrofon pun harus dengan dua tangan.

Lagu pun mulai dimainkan, bersamaan dengan suara teriakan dari arah tempat duduk peserta. Seojin memejamkan matanya.

“Semangat, Seojin-ah! Kau pasti bisa!”

Selang beberapa menit, lagu pun selesai. Ia bisa mendengar seruan dari depan maupun dari samping. Setelah ia menoleh ke arah layar besar yang ada di belakangnya, dirinya tak mampu menahan air mata yang sudah membendung di kelopak matanya.

Ah , dirinya baru saja mendapatkan all heart dari para juri.

Ia pun merasakan lelehan air mata yang menyapu kulit pipinya. Menangis terharu. Seojin membungkuk ke arah juri, berterima kasih karena memberinya kesempatan untuk lanjut berkompetisi di acara ini. Setelah mendengar pujian dan masukan dari master-nim , dirinya berjalan kembali ke tempat duduk para peserta, dimana ia disambut dengan ucapan selamat dari rekan-rekannya. 

Dan sebuah pelukan dari Sunghoon, yang mana ia balas. Secara erat.

“Benar apa kataku, kan? Kau pasti bisa, Park Seojin.”

 

Sekarang Seojin mengerti.

Selama ada sosok Ahn Sunghoon di hidupnya,

semuanya akan baik-baik saja.