Actions

Work Header

Ya Bidadariku, Ya Bidadariku.

Summary:

Jadi kini aku sendiri ya bidadariku, berdiam pada sudut-sudut kota dengan kecapi yang pernah berbunyi hanya untukmu, hanya untukmu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Ya bidadariku, ya bidadariku.

Wanita yang bersiramkan sinar bulan, permaisuri semesta, yang dielu warga; engkau ya bidadariku, yang bermandikan bunga dan segala hal yang indah, engkau. Barisan cahaya tak ayalnya mengorot, mempertontonkan indahmu pada dunia. Biar semua orang tahu, biarkan mereka tahu. Biarpun aku tak ingin bagi dirimu dengan ribuan orang diluar sana, ya bidadariku, engkau Ialah harapan dunia. Yang bersinar dan terang dan nyaman, masyur di segala penjuru bumi.

Maka nanti, sekalipun kucari segala hal yang apik di dunia, kutelisik semuanya hingga ujung-ujung bumi, tak akan juga kudapat apa yang kucari itu. Sebab engkau ialah yang elok dan manis, dengan parasmu yang ayu. Melebihi apapun yang ada di bumi. Dengan gada yang kuat, menjaga rakyatmu tanpa hilang satu lembutmu. Menjaga mereka di kala lelap dan bangun, layaknya ibu kepada anak-anaknya.

Bidadariku, ya bidadariku, aku bersumpah bahwa seabad hingga nanti semesta ini hancur dan rapuh, engkau akan seterusnya kekal. Menjadi nyata dan ada, terus jadi cahaya bagi dunia. Hingga gelap dan ramai sekalipun, di dalam keramaian itu rakyatmu akan temukan cahaya yang dalam rupa kamu.

Maka katakanlah ya bidadariku, Guizhong, ya bidadariku. Mengapa tidak juga engkau kekal sepertiku? Membiarkan aku berkelana sendiri seperti dulu ada masanya sebelum engkau. Masakan aku lebih layak menerima kehidupan ini dibandingmu? Dari segala tuhan yang ada di dunia, mengapa engkau yang takdirnya naas dan hampa? Sebab tanpamu Guizhong, bidadariku, hidup ini tidak lagi sama dari pandang mataku. Menjadi hilang dan tak bertujuan, kehilangan sepenuhnya akan alasan.

Pernah kau kata suatu kali, bahwa hidup ialah sebentar dan sekelebat. Hingga nanti, pada waktu ajalnya itu akan datang, Ia akan memberikan bekas-bekas nyata dalam bentuk duka pada yang bersusah hati. Namun nanti lagi, bekas-bekas itu akan sembuh dan menjadi baru, layaknya seorang yang dilahir kembali. Namun bagiku, ya bidadariku, Ia akan terus kekal dan hidup. Duka yang bercampur cinta ini akan. Cintaku ini tidak luput sama sekali dari hati dan kalbu. Bersemayam di hatiku dengan setia dan laranya, menjadi mutlak dengan segala ingatku tentangmu. Semuanya itu tinggal dan diam, hingga buatku lupa apa yang dimaksud dengan duka pun cinta, menjelma jadi satu. Menjadi kasih yang tidak sepenuhnya bersih namun yang utuh, tidak berkesudahan walau nanti aku habis dimakan waktu.

Kini, janji yang pernah berbalas itu bagai dialog drama, yang rasanya tidak nyata dan khayal. Namun tidak, semuanya itu tidak akan luput dari pikirku, sebab semuanya itu nyata. Sebab lagu ini, yang aku nyanyikan untuk dirimu, tidak lagi bertuan seperti ada masanya. Maka bidadariku, katakan, katakanlah.

Siapa lagi, kepada siapa lagi akan kunyanyikan lagu ini?

Yang selaras dengan jiwaku, engkau yaitu, kini sudah pupus dan hilang dari eksistensi. Maka siapa? Harus lari kepada siapa lagi aku ini?

Ya bidadariku, tua dan renta aku kini. Masih berdiam dimana engkau bertaruh nyawa, menarik tiap senar yang jadikan cintaku padamu ini lebih nyata. Jadikan tiap nada yang terlantun itu duka namun juga kasih.

Ya bidadariku, bangsa yang dulu kau impi itu kini nyata dan ada dan bahagia. Menjadi realisasi dari seluruh harapmu. Namun aku ya bidadariku, Guizhong, ya bidadariku.

Aku akan berdiam pada sudut-sudut kota, berduka untuk mengingatmu, hidup untuk mengingatmu; sebab itulah tugasku.

Notes:

hello, thank you for dropping by my first fic! please leave feedbacks, maaf juga karena my lazy ass nggak terbiasa nulis lebih dari berapa-ratus-kata..... tapi selain dari itu, aku harap tulisanku yang self indulgent ini bisa dinikmati :]