Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of 💙about first love and little things that goes along the way💚
Stats:
Published:
2023-01-28
Words:
858
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
8
Hits:
152

datang padaku dengan cinta

Summary:

hanya chitanda, oreki, ruang klub, suasana sebelum pulang sekolah, dan hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Work Text:

chitanda tidak tahu mulai sejak kapan ia menganggap oreki begitu menarik perhatian.

padahal biasanya, ketika ia dan ketiga anggotanya berkumpul di ruang klub sepulang sekolah, chitanda tak pernah menahan tatapnya pada oreki lebih dari lima detik. selalu ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya dibanding oreki. tapi kali ini... tidak ada. jendela ruang geografi yang menampilkan pepohonan berdaun kuning tanda musim gugur tidak bisa membuatnya berpaling. catatan tentang misteri yang harus dipecahkan, bahkan kerangka antologi tahunan pun sama sekali tidak berpengaruh apapun. oreki masih tetap membuat tatapannya terpaku.

apa ada sesuatu yang aneh pada lelaki itu? chitanda menggeleng. oreki setiap hari selalu berpenampilan sama.

apa ada yang ingin ia sampaikan? chitanda lagi-lagi menggeleng. walaupun sejujurnya, ia ingin sekali mengarang cerita atau asal tunjuk pada sesuatu di luar jendela supaya ia dan oreki punya obrolan, dan ia tak perlu takut ketahuan kalau saat ini ia sedang memperhatikan oreki.

"chitanda, oi."

gadis berponi itu langsung terkesiap sambil membelalak. gawat, oreki sedang menatapnya tidak senang. kenapa bisa sampai ketahuan sih, eruuu, keluhnya pada diri sendiri.

"eh, iya. kenapa, oreki?"

"harusnya aku yang tanya. kenapa dari tadi kamu memperhatikanku terus?"

"ah, itu. um, maaf...?"

"aku tanya 'kenapa', tuan putri. bukan mau marah ke kamu."

"hehehe, maaf oreki. aku... tidak bisa bilang."

oreki mengedikkan bahu, mungkin menyerah untuk mengorek apa alasan chitanda memperhatikannya lekat-lekat seperti sekarang. padahal biasanya, dengan terdiam selama lima belas detik cukup untuk oreki menyimpulkan berbagai kemungkinan dan petunjuk yang ada. chitanda kini penasaran, kenapa oreki tidak penasaran?

"kamu... penasaran, oreki? tentang kenapa aku memperhatikanmu terus." chitanda bertanya lagi, karena sejujurnya ia penasaran sekali dengan reaksi oreki.

"antara iya dan tidak. kalau memang tidak ada yang ingin kamu sampaikan, atau tidak ada yang aneh dariku, harusnya kamu tidak lama-lama menatapku."

"memang... kalau aku lama-lama menatapmu, kenapa?"

"ehm, aku merasa kurang nyaman saja." oreki berdeham sambil menarik kerah bajunya.

"tapi kalau aku tidak bilang, apa tidak apa-apa?"

"...kenapa kamu bersikap seperti ingin sekali ditanya padahal kamu tidak mau memberi tahu jawabannya?"

chitanda terkesiap. "oke, maaf!" gadis itu kembali duduk sambil menenggelamkan diri di balik tasnya.

ruang klub sore itu hanya terisi mereka berdua, sebab fukube dan ibara sedang sibuk dengan klubnya masing-masing. maka suasana canggung yang menyelimuti saat ini cukup membuat oreki gerah. ia akhirnya bangkit dari kursinya.

"eh, mau kemana?" tanya chitanda.

"pulang. sudah mau jam enam."

"ah, oke. aku ikut!"

"ikut aku pulang?"

"eeeh, bukaaan!" chitanda menggelengkan kepalanya kuat sambil membuat gestur 'tidak' dengan kedua tangannya. "ikut kamu ke gerbang sekolah, maksudnya!"

"ya, terserah. omong-omong, kamu aneh hari ini." oreki kemudian berjalan ke arah pintu sambil terkekeh. "walaupun setiap hari juga aneh sih."

"ih, oreki jahat!" seru chitanda sambil menggembungkan pipinya. "kamu juga sering memperhatikanku, kok! jangan kamu pikir aku tidak sadar lho!"

oreki terdiam. tatapannya lurus ke arah chitanda. "...kamu menyadarinya?"

"...em, menyadari apa? kalau kamu memperhatikanku?"

"iya."

"aku sempat menyadarinya beberapa kali," balas chitanda sambil meletakkan jari telunjuk di dagu, berpikir. "tapi aku tidak terlalu pikirkan sih, kamu juga sering memperhatikan mayaka dan fukube kok."

"menurutmu, hal apa yang bisa menarik perhatianku?" tanya oreki sembari keduanya menuruni tangga.

"hal-hal penuh misteri? atau ketika kamu ingin tahu jawaban dari pertanyaan di otakmu? atau saat ada hal kecil yang tidak disadari orang lain tapi jadi hal besar untukmu?"

"wah, wah. kamu rupanya benar-benar penggemar sejatiku."

"o-re-kiiii!" chitanda berseru kesal sambil melotot. namun, cepat-cepat ia mengalihkan tatapan ke arah sepatunya. ia menyadari wajahnya memanas, dan akan sangat gawat kalau oreki melihatnya seperti kepiting rebus saat ini.

"tapi ya, benar sih. kalau hal-hal di sekitarku tidak cukup menarik, aku tidak akan mempedulikannya."

"lalu apakah kostum saturnus-nya fukube dan kostum cosplay-nya mayaka termasuk dalam kategori 'menarik'?"

"sama sekali tidak." oreki mendelik heran, kenapa chitanda bisa menanyakan hal seperti itu.

"pertunjukan saat festival budaya?"

"tidak juga. terlalu ramai."

"...jadi, kamu suka hal-hal seperti apa? kalau tidak suka terlalu ramai, tidak suka yang unik, lalu?"

oreki menghentikan langkahnya tepat sebelum mereka mengambil sepatu masing-masing di loker. chitanda pun turut berhenti, sedikit gugup menunggu jawaban oreki.

"jawabanmu tadi sudah benar. saat ada hal yang membuatku bertanya-tanya, aku pasti akan memperhatikan itu. termasuk ketika memperhatikanmu."

"eh, memangnya apa yang sudah kuperbuat sampai membuat kamu bertanya-tanya?"

"cukup banyak. tapi anehnya, beberapa kali pertanyaan itu justru muncul sebelum kamu berbuat sesuatu. seperti, aku yang ingin tahu reaksimu terhadap ucapan yang kita dengar bersama. aku yang ingin tahu ekspresimu saat ada hal yang membuatmu bersemangat. singkatnya, kamu membuatku ingin tahu banyak hal tentangmu."

chitanda berkedip cepat, ia masih merasa pertanyaannya belum terjawab tapi respon dari oreki membuatnya tak mampu lagi menyembunyikan semu di wajahnya.

"mungkin, aku harus katakan kalau kamu mencuri perhatianku. dimana seharusnya aku penasaran pada hal lain, tapi mataku terus tertuju padamu." oreki mengatupkan bibir, berharap chitanda tak merasa ucapannya ini aneh.

chitanda akhirnya tersenyum simpul sambil berjalan ke arah sepedanya, diikuti oreki. "dan kurasa, itulah yang menjadi alasanku belakangan ini memperhatikanmu terus."

"...apa aku juga berhasil mencuri perhatianmu?"

chitanda menaiki sepedanya sambil tertawa pelan. "mungkin? hehe, sampai jumpa besok, oreki!"

jika ada satu hal yang diingat chitanda dengan jelas bahkan sampai pada saat-saat sebelum ia tertidur malam itu, adalah matanya yang tak sengaja menangkap senyum tipis yang ditunjukkan oreki saat chitanda mulai mengayuh sepedanya meninggalkan sekolah.