Work Text:
Jeno berusia dua puluh sekian saat menyadari, ada yang lebih menyebalkan dibanding kecoa yang tiba-tiba muncul dari pojok kamar mandi; menjadi dewasa.
Atau lebih tepatnya, orang dewasa yang—tidak punya pilihan lain selain jadi—biasa-biasa saja.
Benang-benang kusut dalam kepalanya terlalu rumit untuk sesosok mas-mas yang kelihatan hanya sedang menikmati sepiring pisang goreng berminyak bikinan sendiri di sore hari.
Kalau ditanya hal apa yang sedang mengganggu pikirannya, sejujurnya Jeno kebingungan untuk memberi jawaban. Rasanya terlalu banyak dan mungkin bagi orang lain tidak terlalu penting hingga ia tak tahu bagaimana merangkainya dalam sebuah kalimat untuk bisa diceritakan tanpa perlu mendapat ejekan.
Sepasang mata seindah bulan sabit terpejam erat, menikmati semilir angin yang lembut membelai surai gelapnya. Dibanding berjalan-jalan ataupun berbelanja, Jeno memilih menghabiskan waktu luang yang sangat jarang ia miliki dengan duduk melamun di teras belakang rumah. Berusaha meredam berisik dan cemas yang akhir-akhir ini makin gencar mengganggu tidurnya.
Jeno membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di lantai setelah mengabari sang adik tentang uang saku yang baru saja dikirim. Balasan terima kasih yang baru saja ia terima adalah satu-satunya alasan Jeno untuk bertahan hingga saat ini. Jika tidak memikirkan bocah manja dan cerewet itu akan hidup sebatang kara, mungkin sekarang Jeno hanya sekedar nama yang dengan mudah akan dilupakan.
Entah sudah berapa lama Jeno termenung sendirian, berteman dersik dedaunan dan deru motor yang lamat-lamat tertangkap telinga. Jeno menyukai kegiatan ini; bercumbu dengan sepi.
Jeno tidak menyadari kapan tepatnya ia mulai membatasi diri dari kumpulan manusia yang dulu dilabeli nama teman. Pun sebenarnya dia juga tidak dengan sengaja ingin menarik diri dari pergaulan. Hanya saja, rasanya tak nyaman melihat banyak pencapaian saat dirinya sendiri masih saja berlari di tempat yang sama, tidak berjalan ke mana-mana.
Apalagi jika berhadapan dengan teman semasa sekolah yang jelas tahu bagaimana Jeno saat remaja, si pintar nan ambisius yang seolah mampu menaklukan dunia, akhirnya berakhir jadi pekerja biasa yang memeras keringat tiap hari hanya untuk menyambung hidup tanpa tujuan.
Sembilan dari sepuluh orang pasti pernah mendengar ‘masa remaja adalah masa paling indah.’
Dulu Jeno akan berteriak paling keras menyatakan ketidaksetujuan. Tidak ada yang indah dari kehidupannya yang hanya berkutat pada belajar, belajar dan belajar.
Namun sekarang Jeno mulai berpikir kalimat itu ternyata ada benarnya. Jika bisa, dia juga mau kembali ke masa di mana masalah terbesar dari hidupnya hanya lupa menambahkan satuan pada jawaban ujian fisika.
Potongan pisang goreng berminyak ketiga masuk ke dalam mulut saat Jeno mendengus geli mengingat dirinya di masa remaja.
Terlalu naif mengamini bualan para motivator tentang usaha keras pasti akan membuahkan hasil yang sama baiknya. Terlalu lugu meyakini hidupnya secara magis akan berubah setelah ia menginjak kepala dua.
Nyatanya hingga sekarang Jeno masih sama payahnya. Bahkan Jeno remaja mungkin lebih baik dibanding dirinya sekarang. Bocah ingusan itu setidaknya punya stock semangat hidup tak terbatas, yang entah dari mana ia dapatkan. Mungkin karena dulu ia masih punya segudang mimpi sebagai bahan bakar—yang saat ini sudah dipadamkan tak bersisa oleh kenyataan.
———
Jeno berusia dua puluh sekian saat menyadari, menjadi dewasa rasanya sesepi dan semenakutkan ini.
Suara berat familiar yang sebenarnya lebih cocok dimiliki bapak-bapak beranak satu menggedor ruang dengarnya, “Jajan doang, nggak ada minumnya nih, Bang?”
Tanpa perlu membuka mata, Jeno sudah paham siapa manusia yang seenaknya masuk ke rumahnya tanpa permisi. Pria pemalas dan punya ratusan alasan untuk tidak mandi ini bernama Jaemin. Jeno mengenalnya sejak mereka masih belum bisa menulis namanya sendiri. Mereka sempat terpisah lama karena Jaemin dan sang ibu pernah mengungsi beberapa tahun ke kampung halaman saat ayahnya pergi, namun bisa kembali akrab dengan cepat karena banyak persamaan yang mereka miliki.
Sama-sama suka menonton film di situs ilegal hingga tengah malam dibanding bersosialisasi dengan orang banyak. Sama-sama lelaki biasa yang tak punya hak istimewa untuk memilih jalan hidup sesuai keinginan. Dan satu persamaan mereka yang paling penting; sama-sama sakit jiwa.
Okay, ini mungkin terdengar jahat dan tidak masuk akal, but somehow it feels good to know that there’s someone as insane as you. Atau bisa dibilang, tak apa-apa jika sedikit gila, asalkan kita tidak sendirian. Karena persis seperti yang ia katakan, menjadi dewasa nyatanya benar-benar membuat Jeno merasa kesepian.
Jeno mengamati lelaki yang selepas lulus kuliah memilih menghabiskan waktu dengan membantu sang ibu menjaga kios buah di ujung pasar. Menerka alasan apa lagi yang ia katakan hingga bisa kabur dari tanggung jawab untuk menemuinya.
“Pisang goreng gosong begini beli dimana sih?”
“Lo pernah ngerasa nyesel nggak sih, Jaem?”
Pertanyaan Jeno yang tiba-tiba membuat pisang goreng di tangan Jaemin kembali jatuh ke piring, meninggalkan bekas minyak di jari serta kerutan bingung di dahi.
“Hah?”
Menghiraukan tingkah jorok Jaemin yang seenak dengkul mengusap jemari kotornya ke celana pendek hitam yang ia kenakan, Jeno melanjutkan, “Hidup.”
Pria yang lebih muda empat bulan darinya itu terdiam. Matanya menerawang langit yang warnanya mulai berubah kekuningan. Tanpa perlu bertanya, Jeno sudah bisa menerka apa yang ada dalam kepala kosong Jaemin saat ini; Jerman.
Hanya Tuhan yang tahu berapa kali Jeno mendengar celotehan pria itu mengenai Deutschland, his admirable Aerospace Engineering, and the well-known quotes “To most people, the sky’s the limit. For those who love aviation, it’s home.”
Dan hanya Tuhan juga yang tahu, sesering apa Jeno berdoa agar harapan Jaemin tidak hanya berakhir sebagai harap.
Karena Jeno pikir, akan lebih baik jika hanya dirinya yang berakhir sebagai pecundang. Dan menilik dari nilai dan ketekunan, kesempatan Jaemin meraih mimpinya memang jauh lebih besar.
Namun sayang, sayang sayang sayang, entah berapa kali kata itu harus diulang. Jika ada orang yang berkata imagining the things you want can help you to get it, maka Jaemin adalah saksi nyata bahwa untuk sebagian orang, khayalan hanya sebatas khayalan.
Bocah yang sejak pertama kali mengenakan seragam putih abu-abu tak pernah lelah menyerukan mimpi besarnya itu mau tidak mau harus merelakan keinginan dan cintanya pada aeronautika. Selain karena biaya, Jaemin juga tidak bisa pergi terlalu jauh dari kota kecil mereka ini karena sang ibu yang sudah tak memiliki siapapun lagi selain dirinya.
Jeno berusia dua puluh sekian saat menyadari, dia dan Jaemin hanyalah dua di antara jutaan manusia di dunia. Mereka tidak istimewa.
Lelaki dengan senyum secerah mentari itu menatapnya dengan wajah—dibuat-buat agar tampak—serius, “Lo mau denger kata-kata motivasi dari gue?”
Jeno bergegas menggelengkan kepala tanpa pikir panjang, “Ogah.”
Tawa puas yang jadi respons dari lelaki itu selalu terdengar menyebalkan meskipun sudah ratusan kali hinggap di telinga. Lagipula siapa yang mau mendengarkan kalimat sok bijak dari bibir pecandu Pop Ice varian vanilla blue yang rasanya ewh tidak jelas.
“Nggak apa-apa tau Jen,” katanya singkat lalu kembali menyedot minuman dingin berwarna biru yang pasti didapatkannya cuma-cuma setelah merayu Tante Ina, pemilik warung sebelah rumah.
“Nggak apa-apa kalau umur segini dan kita masih nggak tahu banyak hal, toh emang nggak ada buku panduan yang bisa ngajarin kita semua perkara ‘kan?”
“Kalau temen kita udah pada pamer harta sedangkan kita nggak punya tabungan karena gaji kita habis buat kehidupan sehari-hari, itu juga nggak apa-apa. Hari ini bisa makan dan tidur nyenyak aja gue udah bersyukur.”
Jawaban Jaemin yang terdengar asal-asalan melahirkan senyum tipis di bibir. Entah sejak kapan standar bahagia di hidup mereka jadi sesederhana ini. Tapi jika dipikir-pikir, mungkin bagi orang seperti mereka, pola pikir tidak muluk-muluk ini adalah yang terbaik.
“Emang lo nggak ngerasa … takut gitu?”
Karena Jeno saat ini merasa sangat ketakutan untuk hal yang tidak ia ketahui dengan jelas penyebabnya. Jeno takut untuk terus bertahan hidup, tapi kematian juga membuatnya takut.
“Ya takut lah, bego!” sergah Jaemin seakan Jeno baru saja menanyakan hal paling konyol yang pernah ia dengar.
Semua orang pasti merasa takut jika tiba-tiba dipaksa harus mampu memutuskan pilihan untuk dirinya sendiri, punya tanggung jawab penuh untuk dirinya sendiri, serta bisa disalahkan karena pilihannya sendiri. Apalagi bagi sebagian orang, termasuk Jeno dan Jaemin, tidak akan ada coba lagi untuk kegagalan atau kesalahan yang mereka perbuat. Sekali salah langkah, boom! Hidup mereka yang sudah pas-pasan ini akan jadi semakin tak karuan.
Seakan mampu mendengar suara berisik dalam kepala yang lebih tua, Jaemin lantas menggenggam jemari lentik Jeno dengan tangan yang entah kenapa selalu terasa hangat, “But it’s okay.”
“It’s okay kalau kita masih sering takut dan ngerasa tolol. Kita semua sebenernya sama-sama bingung kok sama hidup masing-masing, cuma pinter-pinternya manusia aja buat nutupin.”
Tangan besar yang entah mengandung berapa juta bakteri itu mengusak pucuk kepala Jeno penuh sayang, “Jadi stop mikir kalau semua orang lari, berarti lo juga harus begitu. Kita jalan sama-sama ya? Pelan juga nggak masalah, kalau perlu ngesot ngesot deh kita barengan.”
Kekehan geli tak ayal terlolos dari bibirnya. Bocah bodoh ini bisa-bisanya membuat Jeno ingin menangis dan tertawa di saat bersamaan.
“Nggak perlu mikir harusnya gue begini, harusnya bisa begitu. Lo masih hidup sampai sekarang aja udah cukup buat gue.”
“You did well, Jeno. You are enough and I’m so proud of you,” ucap Jaemin final sambil bubuhkan cium di dahi sahabatnya.
Jeno berusia dua puluh sekian saat menyadari bahwa kalimat yang mungkin orang lain pikir sederhana, bisa menyelamatkan satu nyawa; Jeno contohnya.
———
“Jaemin?”
“Hm?”
“Abis Jisung lulus kuliah, kita nikah aja apa ya?”
“UHUK UHUK UHUK!”
