Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-01-30
Words:
973
Chapters:
1/1
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
108

Capek jadi Manusia

Summary:

Ini kisah singkat tentang dua sejoli. Ketika yang satu tengah lelah hati, dan yang satu selalu siap menjadi sandaran sambil menikmati secangkir kopi. Bersama, menikmati penghujung hari.

Notes:

Halo! Singkat cerita, fanfic ini ditulis berdasarkan prompt ini.
c/w obrolan para tokoh menggunakan bahasa tidak baku (gue-lo).

Last but not least, happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


 

Bagai Tom dan Jerry, Jiyuu dan Mona tidak pernah akur di mata orang lain. Keduanya selalu beradu mulut atau paling tidak saling tukar pandangan tajam. Entah masalah apa yang ada di antara mereka, karena yang diperdebatkan hanyalah hal-hal kecil yang sebenarnya tidak akan berpengaruh untuk pihak yang lain.

Bagai Tom dan Jerry juga, Jiyuu dan Mona sebenarnya bisa berkomunikasi dengan baik tanpa banyak sindiran dan cibiran ketika tidak ada mata orang lain yang menjadi mereka pusat atensi. Saat itu, dunia adalah milik keduanya tanpa kecuali.

 


 

“Gue capek, Mon.” Mendengar kalimat tersebut, perhatian Mona yang awalnya terpaku pada layar laptop lantas beralih. Netranya bertemu dengan milik Jiyuu yang nampak gelap. Hening adalah respon yang Mona berikan tanpa memutus kontak mata. Seolah-olah paham kalau sosok di hadapannya ini belum selesai berbicara dan tengah merangkai kata-kata dalam kepala.

Mona seharusnya sudah kembali ke rumah saat ini. Mengingat kelasnya berakhir kurang lebih tiga puluh menit lalu. Kala tungkai melangkah menuju halte, dering dari handphone membuat langkahnya melambat dan akhirnya berhenti kala melihat siapa yang menghubunginya. Jiyuu.

Ada tiga pesan yang dikirimkan dalam rentang waktu satu menit. Pesan pertama memanggil Mona. Pesan kedua menanyakan dimana dia saat itu. Dan pesan terakhir adalah ajakan bertemu di kafe yang kebetulan berseberangan dengan halte yang menjadi tujuan si puan. Dua menit adalah waktu yang diperlukan Mona untuk mencerna sekaligus membalas pesan tersebut. Memenuhi pinta dari kawan rasa lawannya itu dan menyebrangi jalan guna memasuki tempat perjanjian.

Dan disinilah dia sekarang.

“Gue capek.” Jiyuu mengulang sambil menghela nafas. Kepalanya menunduk hingga poni menutupi mata dan menghasilkan bayang-bayang. Mencegah Mona menyelam lebih jauh ke dalam pikiran guna mencari-cari apa yang membuat sahabatnya ini seolah-olah tengah memikul beban satu dunia di pundaknya.

“Gue capek pasang topeng. Akal-akalan siapa gue sampe diminta jadi humas BEM? Yang bener aja. Pokoknya gue muak.”

Kali ini, Mona yang menghela nafasnya.

“Gue ‘kan udah bilang kalo lo gak betah ya keluar aja, Ji. Gimana sih,” ada decak di ujung kalimat si puan yang kini tengah bertopang dagu. Setitik khawatir dalam netranya masih terlihat. Walau bersembunyi di balik kilat jengah yang mendominasi sorot pandang juga nada bicara. Toh, sarannya tidak bisa dinyatakan salah. Kalau memang tidak kuat untuk menjalani, buat apa bertahan hingga lelah hati?

Tapi melihat dari ekspresi Jiyuu yang tengah cemberut, nampaknya saran yang Mona berikan bertentangan dengan prinsipnya sendiri.

“Kalau gitu berarti gue ngaku kalah sama anggota lain. Gue gak suka.” Postur yang tadinya nampak loyo kini kembali tegak, bersandar pada kursi sambil melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya masih cemberut. Bibirnya mengerucut lucu kala memalingkan wajah.

Lagi-lagi Mona menghela nafas. Kali ini diikuti kekehan pelan yang membuat Jiyuu melempar lirik tidak suka dengan salah satu alis yang terangkat.

“Intinya gue capek jadi manusia-”

“Ya udah, jadi pacar gue aja.”

Jiyuu seketika menoleh dengan pandangan yang sejujurnya sulit dibaca. Sedangkan penerima pandang hanya memberikan endikkan bahu sambil turut menyandarkan diri pada kursinya. Tangannya bahkan sempat meraih cangkir kopi yang sempat diabaikan untuk diminum sekarang.

Atau mungkin sebagai alasan konkrit memutuskan kontak mata usai usulan gilanya tadi-

“Ayo.”

– yang ternyata disetujui hingga membuat Mona hampir tersedak.

 


 

Pertemuannya dengan Jiyuu tadi sore tidak benar-benar membuahkan hasil untuk kedua belah pihak. Sesudah Jiyuu menyetujui ajakan yang sebenarnya spontanitas itu, handphone miliknya berdering tiada henti. Ada sesuatu yang harus diurus secara langsung oleh Jiyuu, kata seseorang di ujung percakapan sana. Singkat cerita, kedua insan pun berpisah tanpa adanya kejelasan.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Mona nyaris berlayar ke pulau kapuk guna mengunjungi taman bunga mimpi kalau saja handphone nya tidak memecah sunyi. Orang gila mana yang menghubunginya semalam ini? Ah, bahkan tanpa perlu melihat nama siapa yang terpampang di layar handphone , Mona sudah punya tebakan akan siapa yang menghubunginya.

“Ha-”

“Megi.”

Suara di ujung sambungan telepon, Jiyuu, memotong sapanya. Hal itu membuat Mona mengernyit. Terlebih lagi karena panggilan yang didengarnya. Apa maksudnya?

“Mau apa lo nelpon gue jam segini?” yang diberi tanya tidak langsung menjawab. Ada hening panjang yang membuat Mona mengira lawan bicaranya menghubungi dengan keadaan setengah tidur dan sekarang sudah kembali terti-

“Gue cuma mau bilang kalo gue serius. Soal ajakan lo di kafe tadi.”

Seketika, keadaan berbalik dan hening kini mendominasi dari sisi Mona.

“Megi? ”

“Stop-” ada satu tarikan nafas dalam yang dilakukan oleh Mona guna menenangkan diri sebelum akhirnya dia bisa berbicara dengan Jiyuu tanpa hati yang berdebar tidak keruan.

“... Gue yang bercanda, Ji. Kalo lo capek jadi manusia, lo bakal lebih capek kalo harus ngurusin manusia lain.”

“Gue lebih percaya kalo lo bercanda saat ini, Megi. Lo sebenernya sadar gak sih kalo gue suka sama lo? Gue capek jadi manusia buat manusia lain. Tapi kalo buat lo, jadi boneka pun gue gak masalah.”

Mona terkekeh. Rasanya tidak sanggup berkata-kata mendengar pengakuan dari kawan rasa lawannya ini. Yang benar saja, ternyata selama ini perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.

“Ketawa lu.”

“Gimana gak ketawa kalo denger lo mau jadi boneka buat gue?” Mona mendengar ada helaan nafas di ujung sambungan. Mungkin lawan bicaranya sedikit frustasi karena arah pembicaraannya ternyata tidak berakhir sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya?

“Gue cuma mau bilang itu. Tapi besok gue bakal bilang lagi secara langsung. Besok gue jemput.” belum sempat Mona menjawab, sambungan sudah diputus. Lagi-lagi, puan itu terkekeh.

Sesungguhnya Jiyuu adalah sebuah enigma bahkan untuk seorang Mona Megistus. Pertemuan pertama mereka tidak baik, adu mulut yang melebar menyebabkan beberapa mahasiswa lain sampai terlibat untuk melerai mereka. Beruntung dosen tidak perlu turun tangan.

Pertemuan - pertemuan berikutnya kurang lebih sama. Adu mulut atau saling lempar sindiran. Tidak disangka-sangka, yang tumbuh diantara keduanya ternyata bukan benci.

Mona meletakkan kembali handphone nya di atas nakas usai mengirimkan satu pesan terakhir untuk orang yang baru saja mengakhiri sambungan telepon mereka secara sepihak. Dirinya butuh istirahat saat ini. Dan tentunya orang yang menjemputnya besok perlu tahu jam berapa dia harus berangkat, bukan?

“Jemput gue jam 8. Gue doain lu jadi sodaranya anabel kalo sampe telat.”

 


 

Notes:

Terima kasih sudah mampir! Semoga pity kita semua sehijau warna rumput!