Work Text:
GOOD MORNING! Tsukasa Tenma sedang berbicara disini. Jadi pastikan kalian para pembaca berhenti terdistraksi pada hal-hal lain dan fokuslah pada WORLD FUTURE STAR ini!!! (Note: Kosakata Inggris dibaca dengan aksen Jepang untuk mendalami tutur Tsukasa yang pronounciation-nya jelek XD) Disaat burung-burung berkicau dan cahaya mentari masuk menembus dibalik serat-serat kain gorden jendela kamarku, kelopak mataku mengerjap-ngerjap sebentar lalu bangkit dari kasur.
HO-HO-HO. Diriku ini memang begitu fasih melantunkan kalimat-kalimat melankolis dengan indah nan memikat, BUKAN BEGITU? WAHAHA! Kalian sudah dipastikan terkesima dengan caraku menyampaikan kata demi kata karena sangat lancar, 'KAN!?
SUDAH CUKUP BASA-BASINYA! BUKAN SAATNYA MEMBAHAS KEHEBATANKU! Aku mau curcol. Ya. Benar. KAMU yang sepertinya salah satu penggemarku ini tidak salah membaca, sudah-sudah, jangan kucek-kucek mata kalau belum mencuci tangan!!
Sang Bintang Masa Depan ini tak sedang berjenaka, wahai para pembaca!!
Oh... dengarkanlah curahan hati lelaki pujangga ini..~!
Ini hari pertama seorang Tsukasa Tenma terbangun sebagai seseorang yang berstatus beda dari sebelumnya. Bukan hanya sekadar 'World Future Star' dan 'Pegasus Tenma' yang selama ini khalayak kenali. TIDAK, TIDAK-TIDAK-TIDAK! Bukan seperti status perjaka atau tidak perjaka! Pokoknya, ini hari pertama lelaki remaja itu terbangun sebagai pacar gadis bungsu keluarga Otori, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan Emu si kepala merah muda! Ah, maksudnya rambut.
Si cowok kepala--surai kuning gradasi jingga yang biasanya pagi-pagi buta sudah ngomong sendiri di depan cermin dengan pose narsis, "Wahai cermin, siapakah laki-laki yang setiap baru bangun tidur saja masih terlihat tampan, cerah, dan bercahaya?? Betul, ITU AKU, TSUKASA TENMA!!" seraya membatin: 'Anjir, keren amat suara gwejh' padahal kenyatannya nge-bass banget selayaknya bapak-bapak kecanduan ngerokok.
Tetapi hari ini, ia akhirnya dapat berkata BYE-BYE pada rutinitas produktif (Dibaca: Gak jelas) tersebut dan menyambut SELAMAT DATANG pada aktivitas barunya yaitu langsung meraih ponsel di samping tempat tidur yang di colok semalaman untuk mengecek notifikasi pesan dari si gadis pujaan hati. Beruntung sekali bahwa ternyata tadi malam, Tsukasa tak lagi lupa untuk mencolok batu cas pada stop kontak. Kalau lupa, berabe. Sengaja ditinggalin semalaman hasilnya malah zonk. #Seringkejadian #Tsukasabisaceroboh
Mari kita persingkat saja proses jadian dua sejoli heboh bin ajaib ini, intinya yang naksir duluan itu Emu. Tch, semua orang juga tau Nona Muda Otori sudah kesemsem sama si sulung Tenma itu semenjak audisi buat baito di Phoenix Wonderland. 'Ya 'kan!?
Ukhuk, balik lagi pada topik pembicaraan. Karena Emu suka sekali terang-terangan atau secara tidak langsung mengungkapkan afeksinya pada Tsukasa, tentu saja cowok itu kegeeran setengah mati! (Dipikir-pikir emang beneran suka sih, tapi pokoknya geer ajalah!) Terus awalnya Tsukasa cuma melontarkan gombalan-gombalan maut karena mau ngetes Emu doang, tapi lho kok sendirinya baper!? Anak aneh, pasti pas SMP Chuunibyou. Ngaku aja, Tsukasa!
Jadi deh, Tsukasa mau mengambil langkah serius untuk kejelasan hubungan mereka. Atau istilah trendi anak jaman sekarang, selangkah lebih maju meninggalkan HTS.
Tsukasa awalnya bertanya pada Rui soal kepanjangan dari singkatan tersebut (Ngapain googling kalau ada google ungu berjalan) yang dijawab ala kadarnya oleh pria tinggi itu, "Hmm~ HTS itu Harga Teman Setia, Tsukasa-kun." dengan nada bangga. Karena terdengar meyakinkan, Tsukasa mengangguk mengiyakan saja, sembari ber-'ooh' panjang.
"Setidaknya itu sih yang dibilang Mizuki-kun." Rui sedikit merendahkan suaranya, namun tetap saja tidak luput dari pendengaran tajam temannya. Tsukasa melunturkan kepercayaannya pada jawaban asal tersebut, "Kata Akiyama!? HUH! Jangan bawa-bawa jokes circle SMP-mu deh, Rui!" dari kejauhan nampak Nene yang sedari tadi menyimak interaksi kedua cowok itu pun menghampiri mereka.
Sindirnya, "Bagus, Tsukasa. Jangan percaya opini teman-teman aneh Rui." aduh, perkataannya menohok setajam silet. Belum lagi lengannya menyikut pinggang Rui tanda sebal. "Aw~ Oya-oya, berarti Nene tau dong kepanjangan aslinya?" Remaja jenius itu masih tidak kapok mencoba menggoda teman masa kecilnya. Sementara Tsukasa sudah berbinar-binar penuh harap karena betul-betul murni penasaran.
Sang diva WonderlandxShowtime menghela nafas kemudian kembali sibuk berkutat dengan RoboNene. "H-hey, tunggu Nene! Kalau memang nggak tahu bilang saja daritadi kek!" ledek Tsukasa, yang sebenarnya paksaan agar Nene menjawab pertanyaannya yang dipermainkan. Lagi-lagi setajam silet ia mendelik pada ejekan Tsukasa, kedua lelaki bergidik ngeri.
"HTS itu Hubungan Tanpa Status." ia mengambil jeda sebentar. "Kayak aku sama Rui."
Cowok yang paling tinggi diam mematung siluet gadis itu kian memudar, cowok yang tingginya tak sebanding berada disampingnya hanya dapat menaik-turunkan alisnya. "Ciyeh, kode."
Seketika, Rui yang biasanya tanpa malu-malu dan nyeleneh menjawab godaan semacam itu hanya dapat terdiam dan beranjak pergi sebelum Tsukasa membicarakan kejadian tadi terus menerus. "ITU NENE APA HANGER, DIGANTUNG TEROS!"
"Kata orang yang naksir anak dari keluarga yang punya Phoenix Wonderland. Daah~ jumpa lagi Tsukasa-kun~" balas Rui setengah teriak. "WOIII!!!"
Oh iya, mari kita kembali lagi pada pembahasan mengenai langkah berani seorang Tsukasa Tenma yang ingin menjedor alias menyatakan perasaan atau menembak gadis yang ditaksirinya! (Sebelum Tsukasa ngamuk)
Si blonde mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat terencana dan detail! Mulai dari tempat atau latar dimana ia akan mengajak Emu basa-basi dan jalan-jalan terlebih dahulu, terus nanti mereka makan makanan kesukaan Emu, lalu penembakan romantis yang dilihat semua orang! Yep! Tsukasa sudah dengan matang memikirkan bahwa Emu juga menyimpan perasaan yang sama.
T-tapi, saat Tsukasa sudah memiliki intensi untuk mengajak Emu kencan, malah ketahuan sama bodyguard (berkedok maskot) yang mengikuti Emu kemana-mana. Dan rencana Tsukasa malah sampai di telinga abangnya Emu. Gaswat banget! Pada akhirnya karena Tsukasa diancam-ancam akan penutupan theater, terpaksa mereka menjalani kencan itu masih disekitar wilayah Phoenix Wonderland. Dasar, hak kuasa dan duit orang-orang ber-marga Otori memang dahsyat.
Kembalilah sepasang remaja itu pada latar waktu dan tempat yang sama di bianglala kincir ria yang mereka berdua naiki beberapa waktu yang lalu (eh, udah lama banget kayaknya) untuk bernostalgia. Deja vu. "Heheee!! Tsukasa-kun ternyata masih ingat tempat bonding kita ya~!!" Emu dengan semangat menceritakan kembali percakapan mereka dulu, selagi mengingat-ingat hari dan tanggal kapan tepatnya.
Tsukasa masih ingat jelas apa yang mereka obrolkan. Mengenai kakek Emu, membuat semua orang tersenyum, dan senja begitu sendu merayu kala itu. Langit kuning yang menguning dipadu oranye, juga alasan Emu tidak suka pada pemandangan itu.
Kedua sudut bibir yang tertarik keatas ditemani bulir-bulir bening yang keluar dari iris merah muda itu masih terekam jelas di benak cowok penggila bintang tersebut. Bagaimana kedua bibir mungil yang mengatup untuk beberapa saat terbuka untuk berucap, "EMU NGGAK SUKA SORE HARI!" nada suaranya meninggi, meski begitu kesedihan masih tersirat didalamnya. Raut wajah Tsuka kebingungan. 'Hah? Tapi kenapa?'
'Mengapa Emu begitu membenci senja ketika dia justru terlihat jauh lebih indah saat sore hari?'
Terlalu memalukan bagi Tsukasa untuk keras-keras mengatakannya dihadapan Emu waktu itu.
Emu yang menangkap maksud dari sorot mimik cowok dihadapannya meneruskan pernyataannya. "Karena kalau aku menatap langit sore menjelang malam, aku bakal kepikiran terus. Apa iya hari esok akan se-WANDAHOY!! hari ini? Atau tidak? Atau mungkin lebih buruk? Atau mungkin lebih membahagiakan? Dan banyak sekali 'atau' lainnya!!!" Dengan sebal dan bibir cekung kebawah alias cemberut, gadis yang setiap hari bertemakan serba pink itu mengacak-acak rambutnya tiada henti.
Tsukasa masih belum berkomentar.
"Terus-terus, Emu nggak mau pagi dan siang hari dengan cepat berakhir, waktu-waktu yang Emu habiskan sama Tsukasa-kun, Nene-chan, dan Rui-kun!! Sebab kalau malam tiba, kita semua kembali berpisah." ia menundukkan kepalanya. "Jadinya, aku sempet mikir.. g-gimana kalau kalian bertiga, besoknya, nggak akan ketemu sama Emu lagi? Permanen ninggalin Emu sendirian disini!?"
Apa yang Tsukasa mau sampaikan tertahan di kerongkongan.
Gadis itu kembali menatap lurus pada sepasang mata didepannya. "Tapi, sekarang udah nggak papa!! SERIUS~!" Sinkron dengan perubahan tone suaranya menjadi lebih ceria, wajahnya juga kembali cerah. "Karena Tsukasa-kun yang bikin aku mengubah cara pandang tentang konsep sore menjelang malam, lho..!" Lelaki blonde itu terperanjat.
Masih serius mendengarkan, Tsukasa melembutkan suaranya. "Oh ya? Gimana tuh?" Terdengar sangat tulus. Padahal aslinya si cowok lagi menjerit dalam hati.
"Sejak kita sharing disini pas Emu ada niatan mau keluar dari WonderlandsxShowtime, langit sore yang jingga gatau kenapa bikin hati Emu hangat, nyut-nyutan terus keinget Tsukasa-kun terus, tau! Soalnya warnanya persis kayak rambut Tsukasa-kun, HEHE!"
"Tentang kekhawatiran aku soal yang tadi, sirna semuanya~! Malahan kalau udah sore, nggak sabar banget malam cepetan berlalu biar datang pagi hari besok biar bisa ketemu sama kalian bertig--Eh? Tsukasa-kun?" Menyadari pergerakan Tsukasa yang tiba-tiba memegang kedua pundaknya, Emu pun terkesiap. "A-ada apa?"
"O-OH! AKU KEBANYAKAN NGOMONG SENDIRI YA? MA-"
"Bisa gak sih, jangan gemes-gemes amat?"
"H-HUWE?"
"AKU SUKA SAMA KAMU, EMU!"
"H-HUWEEEEEE!?"
Akhirnya skenario yang diangan-angani Tsukasa dalam beberapa hari terwujud juga.
Seiring dengan tuntasnya hajat yang kesampaian itu, sepasang remaja itu turun dari bianglala dengan menyelipkan jemari mereka satu sama lain agar menyatu--bergandengan tangan. Mereka keluar dari wahana itu resmi sebagai dua sejoli.
Sudah cukup kilas balik kejadian kemarin, mari kita kembali fokus pada hari ini, sekarang ini.
"Onii-chan, sarapannya jangan dianggurin!" Saki sudah sibuk ngedumel pada abangnya yang tak berkutik dari meja makan, pandangannya lurus menatap LCD ponsel genggam sambil serius menatapi ruang chat dan PAP dari tau-lah-ya-siapa. "Iya-iya, SIAP ADIK MANIS!" Tsukasa akhirnya meletakkan handphone-nya walau memang masih menatap lekat-lekat layarnya, masih ngarep ada balasan.
Saki memicingkan matanya, ada rasa ingin mengintip. Tapi belum kelihatan jelas abangnya itu lagi chatan sama siapa. Setahu Saki, Tsukasa dan Rui memang dekaaat sekali. Hanya saja keduanya malah sombong dan kayak nggak kenal satu sama lain kalau di media sosial, sok-sokan dry texter deh kalau mereka sudah ngobrol di LINE! Palingan ngerencanain jadwal latihan.
Karena Saki dekat sekali dengan kakaknya, mau kontak fisik atau kontak batin, si adik tahu betul dari cahaya yang terdapat pada sorot mata Tsukasa bahwasannya itu orang yang spesial. Yang jelas bukan Rui gitu deh! Saat Tsukasa minta ditambahkan nasi dari mesin penanak, was-was Saki segera benar-benar melihat nama kontak yang dipandangi lamat-lamat oleh kakaknya.
"E-emu-chan!?" Saki menutup mulutnya dengan kedua telapak, diantara kaget dan senang, nggak tahu juga yang mana. Ekspresinya benar-benar campur aduk. "HAH!? Ibu, Saki kepo sama privasiku!!!" Seumur-umur, mana pernah dua Tenma bersaudara itu merasa terganggu pasal mengintip kolom chat di handphone masing-masing. Walau tidak sopan dan jarang-jarang terjadi, tapi Tsukasa benar-benar kelihatan malu dan kurang suka pada tindakan Saki saat ini.
"Ini waktunya sarapan, Tsukasa. Kamu juga salah." bela Nyonya Tenma seiring dengan gerakan gesitnya menyendoki nasi pada mangkuk kosong untuk diberi pada anak sulungnya. "Saki juga jangan diulangi ya. Ibu tahu kalian dekat, tapi abangmu itu juga cowok. Beri dia ruang ya?" Nyonya rumah memberi petuah dengan suara lembut dan menenangkan, mencoba tak seperti berat memihak kepada salah satu anaknya.
Sehabis menerima mangkuk yang kembali terisi penuh dengan butiran nasi, Tsukasa malu-malu meminta maaf pada Saki sambil menepuk ubunnya seperti biasa. "Maaf dek, refleks." Atmosfer yang tidak mengenakkan hilang dalam sekedip mata. Entah kenapa Tenma bersaudara itu malah ketawa-ketiwi sendiri sesudah melakukan kontak mata seusai berantem singkat itu.
Tanpa segan kembali menyinggung perkara tadi, Saki akhirnya bertanya. "Tumben sekali kakak pagi-pagi sudah chatan sama Emu-chan?" Tsukasa tersedak. "Eh, enggak juga tuh. Namanya juga sesama member troupe. Kakak juga sering tuh chatan sama Nene!!!" Saki menaikkan sebelah alisnya. "Tapi kakak biasanya paling nggak suka kalau waktu kumpul bersama ada yang megang gadget, selain mengganggu interaksi anggota keluarga gak higienis 'kan?"
Fakta.
Apa yang barusan dibilang Saki sepenuhnya benar.
Mau berusaha menyangkal bagaimana pun, Tsukasa tak dapat mengelak.
Sejak dini, Tsukasa sedikit sekali menghabiskan waktu dengan keluarganya meskipun sering berada dirumah disebabkan oleh Saki yang bolak-balik rawat inap dirumah sakit. Jadi, menurutnya waktu kumpul keluarga harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Daaan, Tsukasa sangat menjaga kebersihan karena khawatir soal infeksi kuman yang mudah menjangkiti Saki.
Ibu mereka terkekeh pelan, "Daritadi Saki nanya nya muter-muter terus, langsung pada intinya saja." wah, intuisi seorang ibu tak boleh diragukan. "Ehe~! Seperti yang ibu bilang, aku to the point saja deh kak. Apa Emu-chan pacaran dengan Nii-chan?!"
"HUMPH.. Sepertinya hal-hal semacam ini memang tak mungkin disembunyikan dari adikku tersayang." Tsukasa menyilangkan tangan di depan dada, kemudian menyisir rambutnya dengan sela-sela jari. "YA!!" sambungnya setelah itu. Mereka sudah biasa merasa menjadi penonton sementara si sulung Tenma layaknya berada diatas panggung, mendominasi aura superiornya. Refleks, kedua wanita itu bertepuk tangan.
"KAKAK HEBAAT~! Apa rasanya seperti menaiki tangga menuju kedewasaan!?"
"Percakapannya lanjut nanti malam saja, lihat ini jam berapa!"
"OH TIDAK, SEORANG BINTANG TAK BOLEH MENJADI PAHLAWAN KESIANGAN. AYO, SAKI!!!"
Dua bersaudara itu tergesa-gesa meraih tas yang sudah diisi bento untuk makan siang nanti disekolah, mereka berpamitan pada Nyonya residen Tenma untuk berangkat dan berpisah jalur untuk menuju pada sekolah masing-masing.
Ah, ya. Tadi sebelum memasukkan ponselnya ke kantong celana, Tsukasa sempat mengirimkan bubble chat terakhir untuk kekasihnya.
[EMU! KAKANDA MAU SARAPAN DULU, KUKABARI SAAT SAMPAI DISEKOLAH NANTI YA!1!1!1!1!]
Heboh, kayak orang yang gak mengerti fungsi caps lock off saja.
Pagi ini, ayah Saki dan Tsukasa memang tidak ikut sarapan. Berangkat duluan ke kantor. Istrinya menceritakan obrolan hari ini di keluarga Tenma tidak kalah jauh spesialnya dibanding hari-hari kemarin. Tetap seperti keluarga Tenma yang terkenal hangat, terbuka dan kekeluargaan.
Atau malah, lebih spesial ya?
***
Waktu istirahat pertama di Kamikou pun tiba juga. Tsukasa mengistirahatkan otaknya yang penat karena banyak mikirin jawaban soal-soal latihan dan cari perhatian sama guru mata pelajaran. Jangan salah lho ya, angkat tangan demi menjawab pertanyaan di papan tulis itu menguras tenaga! Apalagi guru-guru salah paham mengira Tsukasa cuma mau main-main saja, jadi jarang ditunjuk. Anehnya saat niatnya betulan pengen begitu, Tsukasa malah ditunjuk padahal nggak tau jawabannya.
Selesai mendinginkan otaknya yang mengebul, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang terlupakan.
Tapi, apa ya?
"TSUKASA-KUUUUUN~! ADINDA DATANG, WANDAHOI~!"
"EMU-CHAN, BERHENTI DISITU!" Selagi Tsukasa masih sibuk peluk-pelukan mesra menyambut pacarnya, tiba-tiba datang menyusul adik kelasnya yang familiar. Ia ngos-ngosan, seperti habis main kejar-kejaran sama Emu. "S-SHIRAISHI!?" Tsukasa meneguk salivanya, menyadari kalau gadis dari kelas 1-A itu adalah salah satu anggota OSIS Divisi Kedisiplinan yang sudah pasti ingin menegur pelanggaran.
Mereka jadi pusat perhatian teman sekelas Tsukasa, belum lagi mereka masih mencoba mencerna kenapa Tsukasa yang biasanya ogah-ogahan saat dipeluk (Baca: diserang) si cewek berkepala pink itu tiba-tiba malah membalas pelukannya dengan senang hati?
Dari belakang An, muncul lagi 2 cowok seangkatannya mencoba mencari tahu sedang ada kejadian apa disitu. "Ngapain lu disini, An?" tanya Akito modus. "Dih, lu yang ngapain disini? Ini area kakak kelas!" Muncul lagi deh bibit-bibit berantem. Toya menengahi keduanya.
"Tsukasa-senpai. Kami tadi melihat Otori dikejar oleh Shiraishi." Toya menyapa Tsukasa yang sudah lama dianggap abang sendiri. "OH, TOYA! A-AHAHA.. Jangan menatap begitu, aku malu deh~" sapa balik Tsukasa yang berpose pura-pura menunjukkan bahwa kejadian itu memalukan masih sambil mendekap Emu yang daritadi pipinya sudah dihiasi semburat merah muda.
"T-tsukasa-kun, aku ketahuan!?" bisik Emu panik. Tsukasa juga jadi bingung karena dikerubungi, padahal biasanya dia senang sekali kalau perhatian semua orang tertuju padanya.
"Walah, Senpai. Mengencani junior dari sekolah lain, menyuruhnya datang kesekolahmu, habis itu bermesraan di depan umum seakan-akan itu hal yang lumrah? Hukum saja dia, An." Akito nyengir-nyengir sendiri sambil menutup mulut Toya yang baru mau bilang 'Tapi Ak--' dan memperjelas karena Emu bukan baru kali ini datang ke sekolah mereka. An saja yang baru lihat sendiri.
Memutar bola matanya, An menunduk sedetik kemudian untuk meminta maaf atas kerusuhan yang ia besar-besarkan. "Senpai semuanya, maaf karena membuat keributan!" Kebanyakan kakak kelas tahu siapa An, disebabkan popularitasnya yang terkenal ramah pada siapa saja hanya membalas dengan senyum memaafkan.
Tsukasa yang sudah berniat kabur sambil ngajak ceweknya koprol jadi dihalangi sama An yang sepertinya masih ingin membicarakan sesuatu, akhirnya dua sejoli itu digiring seperti tahanan yang diborgol oleh An. "Ehm.. harus mulai darimana ya.."
"Anu, Tenma-senpai. Saya saranin nih, kalau Emu-chan mau nyamperin kesini janjian dulu jam berapa." An mencoba sesopan mungkin.
Bukannya malah makin kalem atau menunjukkan mimik sedih, keduanya malah sujud-sujud minta maaf sambil setengah teriak. "MAAF! KAMI NGGAK BAKAL NGULANGIN!"
Sampai-sampai Rui dan Nene yang sedang beriringan berjalan di koridor mendengar suara itu hanya dapat geleng-geleng, malu sendiri. Nene sampai bilang, "Bukan temanku itu," sementara Rui hanya senyum lemah lembut (yang keliatan flirty) sambil memaklumi. "Namanya juga Tsukasa-kun, makhluk yang haus akan atensi."
Tuntas sudah urusan cekcok dengan An Shiraishi, pasangan baru jadian itu langsung meluncur menuju rooftop untuk makan siang bersama. Nanti Rui dan Nene menyusul, mereka mau ngambil kotak bekal mereka dikelas dulu.
"Emu, sini!!" Tsukasa mem-puk-puk pahanya yang sudah duduk bersila, mengode Emu agar duduk dipangkuannya. "H-HE!? BENERAN BOLEH!? Yahohoy~♪" Emu kegirangan sendiri, lalu duduk dengan tenang dan mencari posisi nyaman, bersender pada dada bidang kekasihnya.
"Tsukasa-kun, Tsukasa-kun, tahu enggak!? Biasanya aku bawa taiyaki doang, tapi sekarang aku bawa bento lho..!!" Emu menginformasikan kepada pacarnya. Tsukasa mendengarkan dengan antusias dan selalu memasang wajah yang seakan membalas, 'Oh ya!?' dan itulah mengapa Emu selalu merasa senang menceritakan segala sesuatu mulai dari yang penting sampai tidak penting pada pujaan hatinya!
Sesekali Tsukasa menggamit tangan Emu saat selesai menggunakan sumpit untuk menyuap, lalu memakai hand sanitizer jika sudah ingin lanjut mengunyah. Ribet banget, apalagi Tsukasa harus melingkari lengannya pada pinggul kecil Emu untuk sekedar memegang makanannya. Yasudahlah, suka-suka mereka saja. Kalau ada yang susah kenapa harus yang mudah? Mungkin itu jadi motto hidup Tsukasa. Mungkin.
Rui dan Nene yang sudah beberapa waktu mengintip dari sela-sela pintu penghubung tangga dan rooftop awalnya mengurungkan niat untuk bergabung dan merusak momen pasangan itu, tapi karena Emu menyadari ada hawa keberadaan orang selain mereka, tetap jadi para anggota WonderlandsxShowtime menikmati waktu bersama-sama.
"Emu-kun, kalau disekolah sendiri makan siang bareng siapa?" Rui berinisiatif bertanya.
"Oh!! Sama teman sekelas, twiap hwari adwa ajya kwok ywang ngajwakyin." Masih dengan mulut penuh, Emu menjawab. "Kunyah dan telan dulu, hoi!!" tegur Tsukasa galak. "Aye aye sir..!!"
"Tapi Emu paling sering diajakin makan siang bareng anggota Leonii terutama Saki-chan~! Terus siapa lagi ya.. Haruka-chan.. Kohammy-chan.."
"Kohammy?"
"IYA!! Kohane-chan, dia punya peliharan ular terus dia mirip hamster, gemes banget..~!!"
Tsukasa dan Rui bersitatap. "Azusawa-kun yang pacarnya Aoyagi-kun bukan, Emu-kun?"
Nene yang sedari tadi sudah menghabiskan makanannya dan kekenyangan akhirnya bersuara. "Oh, aku baru tau dia punya cewek." Walau mata dan jemarinya sibuk memencet game konsol yang ia bawa kemana-mana, Nene tetap ingin nyambung dengan topik pembicaraan teman-temannya.
"Ah iya, Nene sekelas ya sama Toya.." Tsukasa mulai memasang pose berpikir, telunjuk dan ibu jarinya menempel pada dagu. "Kamu dekat dengan Saki?"
"Saki-chan adiknya Tsukasa-kun? IYA BANGET!! Orangnya manis banget ya?? Saki-chan pernah niruin WONDERHOY! ku lho~ minta diajarin gitu!" Emu menerangkan dengan ceria. "Fufu, Emu-kun udah minta restu sama calon adik ipar jauh-jauh hari, ya~" Rui menyenggol Tsukasa jahil.
Dan begitulah seterusnya percakapan ngalor-ngidul mereka berempat tak kunjung diberhentikan, apalagi tanggapan nyebelin Rui kalau mereka mau nge-jokes malah dijawab pakai teori ilmiah. Serius, gaada yang nanya Rui.
Kadang Tsukasa juga terheran-heran, kenapa Emu bisa kabur dari sekolah tanpa ada orang dewasa yang menyadari. Terus, kenapa nggak ada yang melapor? Apa mereka segan setelah mengetahui nama belakang gadis itu? Jadi dibiarkan seenak jidat? Wah, nggak boleh dibiarkan!
...Eh tapi kan, Tsukasa posisinya sekarang sebagai pacarnya Emu. Masa' iya tega ngebiarin Emu di-skors berhari-hari sebagai hukuman karena sering diam-diam menyelinap ke sekolah cowoknya. Belum lagi, sekolah Emu adalah sekolah khusus cewek yang terkenal elit. Sampai-sampai Tsukasa saja bangga adiknya diterima disana. Ingat sekali saat pengumuman penerimaan peserta didik baru dan ada nama 'Tenma Saki' yang tertera di layar laptop, Tsukasa langsung inisiatif menggelar makan malam dengan nasi merah sebagai perayaan.
Tapi nggak tahu juga sih bakal setega itu sama anak bungsu yang punya perusahaan Ootori apa malah tetep tunduk.
Bisa aja kan, sertifikat tanah sekolah Emu ternyata yang megang malah kakaknya.
Tsukasa mengibas-ngibaskan tangan kanannya, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh dan mendetil yang bisa-bisanya kepikiran saat lagi duduk di toilet untuk boker. Dasar Tsukasa, bukannya cebok malah overthinking.
Hari-hari berlalu, keduanya makin menempel satu sama lain.
Hal ini dipengaruhi oleh seberapa seringnya mereka bertemu, mau di sekolah, di Phoenix Wonderland, sleep call juga gaada habis-habisnya. Pokoknya menunggu salah satu terlelap dulu, handphone juga dianggurin, mati sendiri. Yang penting mereka berdua sudah bertukar "Aku sayang kamu lebih dari dunia!" secara beruntun setiap malamnya.
Ada saatnya Tsukasa bisa jadi cuek dan agak tsundere dalam menanggapi Emu, menurut pantauan maskot Kigurumi (dan kemudian dilaporkan pada kakak-kakak Emu lalu menjadi salah paham) jadinya kencan mereka berdua dibatasi sampai jangka waktu tertentu. Memang merepotkan berkencan dengan Emu, apa-apa mesti izin ke kakaknya. Lagipun, setelah izin masih saja dibuntuti oleh bodyguard Emu yang tidak terlalu pandai menyamar. Bahkan Tsukasa saja samar-samar merasakan pengamatan tajam mereka dari radius puluhan meter jauhnya.
Shousuke, yang paling sinis kalau sudah membahas cowok yang disebutnya 'bocil aneh berisik' yang sekarang sudah menjadi calon adik iparnya. Pasti membawa-bawa pembahasan impian Tsukasa menjadi bintang dan dikenal dunia, menyuruhnya fokus pada karier yang sekarang dan menganggapnya enteng untuk dihancurkan pendiriannya karena secara remaja usia begitu akan terombang-ambing pada mimpi dan romansa.
Akan tetapi, bukalah mata kalian!
Kita sedang membahas seorang Tsukasa Tenma, bukan hanya cowok remaja biasa. Dia juga kekasih hati Emu Otori!!!
Lelaki itu akan melakukan apa saja agar direstui abang-abang galak Emu, termasuk mendalamkan dedikasinya pada Wonderlands X Showtime. Ia akan mengadakan acara besar-besaran yang fantastis dan menyebarkan banyak promosi dan tiket nonton untuk membuktikannya pada semua orang, ia bisa menstabilkan kedua hasrat itu! Sembari menari, bermain peran, juga tak lupa bernyanyi bersama teman dan ceweknya, hidupnya imbang dan sempurna untuk saat ini.
Oleh karena itu, ia juga harus belajar menjadi gentleman sejati yang betul-betul masak mengenal Emu Otori, gadis yang setahun lebih muda darinya, tidak menodainya, menjaganya agar tetap menjadi Emu yang ia kasihi. Meskipun sering diisengin pakai mainan replika serangga sama pacarnya sendiri, tak masalah! Dalam hubungan ini, Tsukasa yang harus memimpin, Tsukasa yang harus dewasa.
Menerapkan kebiasaan "Ladies first," check!
Menarikkan kursi untuk cewek sebelum duduk juga check!
coretSalto untuk menyambut pacar juga check!coret
(Kepada Ananda Touya Aoyagi, jangan ditiru perangai Senpai-mu yang satu ini)
Peringatan: Amatir jangan coba-coba dirumah
Namun, ada satu hal yang dilewatkan dan tidak dikuasai remaja berusia 17 tahun itu...
M E N S T R U A S I.
Mungkin telah menjadi pengetahuan umum bahwa di kelas 2 SMA, biasanya mata pelajaran IPA mulai termasuk Biologi Bab Reproduksi. Ya, Tsukasa juga sudah mempelajarinya. Pelajaran kesukaan para cowok, corettermasuk Tsukasacoret.
Tapi suwer deh, Tsukasa berani bertaruh kalau yang ini, nggak ada tuh subtema yang mempelajari cara menangani cewek yang haidnya bocor sampai nembus ke rok. Tutorial YouTube juga adanya sosial eksperimen, kalaupun ada juga palingan orang-orang Prindapan baik yang ngasih kiat dan trik secara gratis. Tapi, lewat beranda doang sih, nggak dinonton sama Tsukasa. Dia ngerasa agak bersalah kalau menyinggung hal begini, apalagi adiknya perempuan. Nggak pernah lelaki itu kepikiran bakal punya pacar diumur segitu. Jadi dia merasa masih belum perlu belajar hal-hal yang mungkin terkesan basic buat standar orang pacaran itu harus begini-begitu dan bagaimana.
Situasi tak ter-antisipasi itu terjadi ditengah-tengah kegiatan shopping akhir pekan mereka. Semacam jadwal piket untuk kelengkapan suplay barang-barang untuk pertunjukan dan penampilan mereka diatas panggung. Kebetulan, Minggu ini dua sejoli itu kebagian jadwal berbelanja keperluan untuk memeriahkan panggung di supermarket.
Sementara Tsukasa sibuk mengecek bill belanjaan mereka, Emu sibuk mencoba macam-macam tester makanan dan minuman yang ditawari oleh SPG setempat. Mulai dari brownies, yogurt, buah--aduh. Masih banyak deh yang Emu cobain satu persatu!
Tadi, Emu maksa Tsukasa beliin sabun berbusa melimpah banyak (menurut testimoni takeline produknya) untuk membersihkan panggung teater. Alasannya sih gitu, tapi Tsukasa tau itu cuma omong kosong biar diizinkan. Aslinya Emu cuma mau ngabis-ngabisin dan mainan gelembung dan busa saat beneran bebersih. Akhirnya, pertengkaran pasangan--yang biasanya disebut sebagai istilah 'lovers quarrel' pertama mereka terjadi di dalam supermarket.
Sama-sama ngambek deh.
Tidak sampai muncul tembusan merah pekat dari bokong, ah, maksudnya bagian rok belakang Emu.
Seseorang menepuk bahu Tsukasa sedikit kencang, membuatnya terkejut sampai berseru tertahan ketika melihat bagian itu. "Dek, itu mbaknya.."
Asli deh, panik banget!
Bukan karena Tsukasa phobia darah atau apa, dia sering kok ngeliat kantong infus berisi darah saat mengunjungi ruangan Saki dirumah sakit. Tapi, duh! Situasi ini belum pernah dihadapi seorang Tsukasa Tenma, selama 17 tahun hidup di dunia!!!
Tsukasa mengode kasir dengan anggukan cepat untuk menitipkan trolly berisi barang-barang yang baru saja dibayar. Emu menengok terkejut saat Tsukasa melepas rompinya untuk mengikatkannya pada pinggul mungil Emu. Untuk saat ini, nggak ada kain lain yang dapat menutupinya.
"Emu, dengar ya! Tunggu disini, jangan kayak bocah tersesat. Aku beliin pembalut, OKE???" bisiknya keras. Emu meraba bokongnya, malu rasanya sampai pengen menangis. Mimik cemas Tsukasa juga semakin menjadi. Cuma sedetik, pelukan singkat dilepas olehnya. Tsukasa berlari kocar-kacir mencari display bagian kebutuhan wanita.
Saking nggak bisa berpikir jernih, bukannya bertanya malah dikelilingi.
Banyak banget yang bertumpuk di benak Emu seketika, mulai dari: "Tumben Tsukasa-kun bisa berlari secepat itu!? WHEEESHHH WHOOOSH! Kayak The Flash!" sampai: "Aduuuuh... rompi Tsukasa-kun bakal kena darah kotorku, padahal ada gambar ikan lucu di depannya. Semoga nggak nembus.." lirihnya dalam hati.
Alangkah lebih baik, Emu mengusir jauh-jauh pikiran-pikiran nggak perlu yang memenuhi kapasitas otaknya dan sabar menunggu.
"KETEMU!" Tsukasa menghentikan lari gesitnya hingga berbunyi seperti rem mobil, ckiiiiiiiiiiiiiiiit! Karena sangat tergesa-gesa, alhasil nos-ngosan ia sesampainya di rak-rak berisi banyak merek pembalut itu. Lagi, memasang muka cengo saat nampak wajah familiar yang pergerakannya sedang mengambil salah satu brand pembalut, tertahan.
"A-AKITO!?"
"A-ah, Senpai. Yo." Dengan canggung, lelaki bersurai ginger itu menyapa seniornya. "Ini buat teteh."
"O-oh. Tumben nggak ada Touya." Tsukasa mengepalkan tangan dan terbatuk, membersihkan tenggorokan. Saat memandang kedepan, ia bingung harus mengambil yang mana.
"Buat Otori?" Tsukasa mengangguk tersipu. Akito sedikit menyengir, jarang-jarang seorang Tsukasa Tenma yang suka percaya diri dalam segala aspek bisa jadi seperti ini saat kasmaran. "Kalau masih hari-hari pertama, beli yang ukurannya paling panjang saja. Sama pake sayap." terang Akito.
Tsukasa agak menyesal tidak sempat menanyakan ukurannya pada Emu, kalau nggak ada Akito mungkin dia sudah ambil semua merek biar nggak salah beli. "Kalau yang Daddy Poko Pants kayaknya lebih praktis nggak sih, Akito?" Baritone suaranya sengaja dibuat-buat berwibawa, soalnya Tsukasa sempat merasa citranya sebagai seorang yang lebih tua malah hancur hanya karena pengetahuan seperti ini malah juniornya yang lebih tau.
"...Itu jelas-jelas pampers bayi???" Tsukasa mematung.
'Emang salah kayaknya kalau gue khusnudzan ama duo goblok (Baca: Tsukasa dan Rui) Kamikou' Akito membatin.
Tsukasa akhirnya menentukan pilihannya: Hardtex, tak mau berlama-lama karena pasti Emu sudah muak menunggu. Basa-basi terakhirnya dengan pemuda yang setahun lebih muda darinya, "Banyak juga ya kamu tau soal beginian, HAHAHA!"
"Belum tau aja, Senpai mah. Teteh ku itu majikan, aku itu babu. Kata siapa anak bungsu itu dimanja?" Tsukasa jadi teringat Saki, yang sepertinya besar dan mengalami puber dirumah sakit. Kebayang serepot apa haid saat sedang perawatan intens. Yaah, Tsukasa juga dirumah terus jadi nggak pernah disuruh beli beginian. "WKWKW, makanya punya pacar!" responnya sombong (+masih aja pamer).
"Aamin. Ini juga lagi diusahain," gumam Akito (yang tiba-tiba muncul gelembung imajiner diatas kepalanya, bergambarkan gadis berambut galaxy).
"Apa?" Nggak kedengeran sama Tsukasa.
Untung aja nggak denger, jadi Akito pamit duluan tanpa mengucap apapun. Tsukasa juga bergegas menuju tempat sebelumnya.
Satu kemasan pembalut Hardtex ukuran sedang berisi 20 pcs, dengan sayap, panjang 29 cm itu dimasukkan kedalam kaos Tsukasa. Sialnya tadi ia lupa merogoh tempat menaruh barang belanjaan. Duh, kan malu banget diliatin bawa-bawa Hardtex cuma satu. Seharusnya tadi ia bawa totebag seperti kata Touya. Ia masih ingat percakapan Touya dan Saki tadi pagi, mengenai penggunaan plastik dan pemanasan global.
"EMU!!!"
"TSUKASA-KUUUN!!"
Mereka berpelukan dramatis di depan supermarket, sampai-sampai orang-orang hanya bisa geleng-geleng kepala. Kayak reuni--ah, bukan. Pasangan LDR yang terpisah bertahun-tahun. "Nih, cepat ke toilet umum!" Emu menurut.
Selang beberapa menit menunggu, nampaklah Emu dengan raut wajah lega. "M-maaf, aku ngerepotin ya??" ia teringat pertengkaran mereka.
"Nggak papa. Maaf juga ya, aku tadi sampai ngebentak. Kan biar Emu nggak boros." Tsukasa mengusap linangan air pada sudut mata Emu dengan lembut. "AKU SAYANG TSUKASA-KUN!" Emu mengeratkan peluknya. "AKU LEBIH SAYANG EMU!!!" jawab Tsukasa, membalas jeritan gadisnya.
"Tsukasa-kun nggak kedinginan pakai kaos doang?? PAKE MANTELNYA YUK..!" pinta Emu. Sekarang sudah pergantian musim menuju musim dingin. Keduanya sempat melepas saat masuk ke dalam supermarket. Tiba-tiba ada asap yang saaangat wangi. Mereka bersitatap sedetik dan mengikuti arah aroma lezat itu.
Ah.
Penjual taiyaki!
"Sebagai permintaan maaf, Emu traktir taiyaki!!" seru Emu dengan senyum kelihatan gigi. Wajah Tsukasa bersinar.
"Sebelum itu.." Emu mengambil pause."Lomba lari dulu, satu.. dua.. TIGA!!!"
"H-HOI! TUNGGU! EMU CURAAANG!" Pasangan itu berlarian tak karuan menuju gerai taiyaki bersama.
Mereka berjalan berdampingan, seiring dan seirama jalannya. Tsukasa menyesuaikan tempo jalannya dengan kecepatan langkah-langkah kecil Emu yang begitu imut. Tangan kiri memegang kantong belanjaan, tangan kanan memegang kantong kertas berisi taiyaki isi kacang merah dan ubi. Hangat banget, masih terlihat ada asap ngebul dari dalamnya.
Emu mengambil dua taiyaki, camilan berbentuk ikan kesukaannya dari kantong kertas. Memakannya dari sirip ekornya dulu, sambil sesekali menyuapi Tsukasa yang kelihatan keberatan menanggung beban dari belanjaan mereka. Mereka berbincang perihal pertunjukan yang akan diselenggarakan pada tanggal berikutnya.
"Tsukasa-kun, mite-mite! Ikannya ciuman, hehe. Lucu ya??" Emu menempelkan dua taiyaki dengan posisi bibir monyong ikannya bertemu. Tsukasa mengeluarkan semburat merah. Sial, menggemaskan sekali, pikirnya.
Pada saat itu juga, butir salju pertama mengenai hidung kemerahan Emu.
"TSUKASA-KUN, salj-hmpph!" Omongannya dihentikan paksa oleh pacarnya, yang rela melepaskan genggamannya pada kantong belanjaan untuk menyentuh kedua pipi tembam Emu dan mengecup bibir merah mudanya. Butuh waktu lama untuk kedua bibir itu terpisah sebab membeku kedinginan.
Keheningan sesaat setelah tindakan itu direalisasikan Tsukasa. Mata mereka berpaling.
Emu bersuara beberapa menit kemudian.
"Wan..."
"Wan..?"
"WONDERHOY!" Seperti biasa, ia memasang pose ikoniknya. Tsukasa tak bisa berlama-lama gengsi lagi kalau Emu sudah begini.
"WAHAHAHAHA!!!" Tsukasa dan Emu tak bisa menahan tawa.
Ciuman pertama mereka larut dalam salju musim dingin, berusaha mencari kehangatan yang terpendam ketika dua insan bersatu diantaranya.
Keesokan paginya, Emu nggak masuk sekolah. Nyeri haid luar biasa menyerang, sampe nggak bisa gerak dari tempat tidur sama sekali. Demam juga menghampiri gadis itu.
