Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-02-05
Words:
1,104
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
55
Bookmarks:
2
Hits:
1,442

'Bout to risk it all, baby if you want to.

Summary:

SoundWin - WinSound festival date.

Notes:

Title from Love Again - New Hope Club!

Work Text:

Setiap kali Sound ingat kalau mereka—dia dan Win—memasuki tahap ‘mencoba’ sebenarnya dia selalu merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Dan itu selalu muncul di kepalanya di waktu-waktu paling tidak terduga; ketika dia sedang melakukan live di sosial media dan memainkan gitar sambil berinteraksi dengan penggemarnya, misalnya, ada saja komen yang menyatakan kalau beberapa kali Sound memperlihatkan pandangan yang begitu lembut secara tiba-tiba. Atau misalnya chinzilla sedang latihan, Sound bisa tiba-tiba beradu pandang dengan Win, dan hatinya selalu berbunga setiap melihat sang lawan pandang mengirimkan senyuman.

Sound belum pernah mengalami rasa suka sampai begini, jujur saja.

Rasa takut selalu ada di sana, tentang betapa besarnya rasa suka yang dia rasakan pada Win, tentang seberapa besar kemungkinan Win kemudian menyatakan kalau dia ternyata sama sekali tidak merasakan apa-apa kepadanya. Tentang tingginya rasa yang ada di hatinya dan betapa sakit nanti kalau dia jatuh. Yang sama sekali tidak dia duga, Win adalah sumber sekaligus pengikis rasa takutnya. Dengan semua senyuman lembut dan perhatian yang tidak pernah Sound duga bisa berada untuknya. Win memang belum bilang kalau dia juga menyukainya atau membalas perasaannya, tapi setiap hari Sound selalu merasa semakin disayangi.

(Yang tentu saja lucu, hubungan tanpa status dalam rangka mencoba ini membuatnya juga memperhatikan dengan lebih baik apa yang terjadi di sekelilingnya. Tentang Tinn yang selalu muncul di setiap sudut dengan apapun yang Gun butuhkan. Tentang Tiwson… yang mencurigakan, namun nampak tenang dalam lirikan matanya yang entah untuk siapa.)

“Aku ada tiket nonton festival sekolah sebelah, jalan yuk?” Ujar Win kepadanya suatu hari, di ruangan klub musik sembari menanti para anggotanya lengkap untuk latihan. Sekaligus mencuri-curi waktu untuk berduaan, tentunya.

“Kamu ngajak aku kencan?” Tanya Sound, mengangkat alisnya, “tumben amat.” Lanjutnya lagi.

“Aduh aduh, jangan ngambek dong, kita kan sibuk, toh ini cuma ke sekolah sebelah.” Ujar Win, “lagian kalo ada yang nanya bisa aja kita bilang mau mata-mata band sekolah mereka. Kan sama-sama masuk final tuh.” Lanjut Win sambil nyengir, “masa kamu nggak mau lihat saingan?”

Sound, yang selalu terkesima menatap Win dan senyumannya bahkan setelah berminggu-minggu menyadari perasaannya, hanya mencibir. Namun kemudian menganggukkan kepala. Mendengar tawa Win, dengan tangannya yang terasa sedikit kasar dampak permainan bassnya mengelus pelan rambut Sound.


Kalau boleh jujur, Sound ingin sekali bisa menghentikan degupan jantungnya yang selalu berdetak terlalu cepat setiap berada dekat dengan Win. Apalagi dengan keadaan mereka sekarang. Tentu saja seharusnya mereka tau kalau yang namanya festival, sudah pasti penuh dengan keramaian. Entah inisiatif dari mana, Win tanpa peringatan langsung menggamit tangannya, kemudian menariknya untuk mencari tempat yang lebih nyaman menonton panggung.

Telapak tangan Win yang terasa sedikit kasar itu juga terasa begitu hangat. Sound hanya bisa memandangi belakang kepala pemuda yang dia sukai sambil bersusah payah menahan rasa panas yang menjalari lehernya tersebar hingga ke kepalanya. Sulit sekali baginya untuk menahan senyuman, sayangnya.

“Kenapa? Panas ya?” Ujar Win, sedikit keras karena riuhnya sekeliling, “leher sampai pipi kamu merah banget.”

“Hah?” Respon Sound dengan bodohnya, tangannya yang bebas meraba lehernya sendiri.

“Eh atau kamu malu nih pegang-pegangan begini?” Ujar Win sambil tertawa kecil. Tangannya menggenggam telapaknya lebih erat. Padahal situasi sudah tidak begitu ramai. Sound hanya memberikan tatapan tajam ke arah Win; sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melepaskan pegangan tangan mereka.

Band sekolah tempat festival yang mereka datangi memang sama sekali tidak buruk. Apabila Chinzilla yang melawan mereka adalah Chinzilla yang dulu, Sound tidak yakin mereka keahlian mereka bisa diadu, namun Chinzilla yang sekarang merupakan kebanggaannya. Dia berani bertaruh kalau band mereka bisa lebih baik daripada yang sedang bermain di atas panggung.

“Gitarnya jagoan kamu,” ujar Win tiba-tiba di telinganya, Sound tertawa kecil tapi menganggukkan kepala. Bukan masalah sombong atau besar kepala, hanya sebuah kenyataan.

“Harus bilang Pat buat jaga ritme, drummernya lumayan oke soalnya,” balas Sound.

“Overall ya bagusan kitalah,” timpal Win dengan nada sedikit puas, “nggak sia-siakan kita studi banding ke sini?” Kekehnya lagi. Ingin sekali rasanya Sound bilang nggak ada yang sia-sia kalau dia bisa dekat dengan Win tanpa rasa khawatir, tapi dia hanya menggangguk.

Seselesainya penampilan band, panggung diambil alih oleh penampilan lain yang mereka setujui sama-sama tidak terlalu menarik. Jadilah Win mengarahkan mereka berdua untuk duduk di bawah salah satu pohon di dekat tempat mereka berdiri. Sound masih memandangi tautan jemari mereka berdua yang sedari tadi belum dilepaskan. Benar-benar masa bodoh dengan sekeliling mereka.

(Sialannya, jantungnya juga tidak kembali ke ritmenya semula. Tetap dengan degupan yang terlalu cepat berdetak kencang di dadanya.)

“Ini nggak dilepas juga takut ilang apa gimana sih.” Ujar Sound ketika akhirnya mereka duduk.

Tempat ini sedikit tersembunyi dari kerumunan, dengan pencahayaan yang hanya tersedia di salah satu sisinya. Pohon besar rindang yang pastinya menyebalkan untuk dibersihkan kalau musimnya daun gugur sudah tiba.

Sound mendengar Win tertawa kecil.

“Nggak usah dilepaslah, anget kan?” Jawab Win. Ibu jarinya mengusap buku-buku jari Sound. Sementara si empunya tangan rasanya sudah mau teriak saja di depan muka Win. Sialan juga. Mentang-mentang tau Sound suka dengannya.

“Ini mendingan dipukul di bahu apa di muka?” Ujar Sound, dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin alih-alih menjawab.

(Iya, hangat. Hangat sekali. Tolong jangan pernah dilepas. Sampai kapanpun.)

“Idih kejam amat.” Ujar Win dengan tawa yang semakin kencang. Tidak tahan, Sound menoyor sedikit kepala Win yang malah terlihat semakin girang.

Kemudian hening menyelimuti mereka berdua. Keheningan yang menyenangkan dan tanpa beban. Sound senang mengetahui kalau mereka cukup dekat untuk menghasilkan ketenangan ini. Dengan bunyi dengung keramaian festival yang masih berada di sekitar mereka. Sayup lagu yang terdengar dari arah panggung. Para penjual yang meneriakkan dagangannya di kios-kios.

“Win?”

“Hm?”

“Makasih ya.” Ujar Sound. Kemudian memberanikan dirinya memberikan kecupan di pipi pemuda di sebelahnya ringan. Tidak tau juga datang darimana keberanian itu. Sound merasakan Win terkesiap di sampingnya, kemudian tertawa kecil sebelum menempelkan pipinya ke pundak Sound.

“Kalo kita menang, aku request di bibir ya.” Bisik Win kemudian.

Tidak ada yang bicara kemudian. Keheningan yang menyenangkan dan tanpa beban. Sound merasakan perasaannya membuncah begitu tinggi. Dengan berat tangan Win bertautan dengan jemarinya. Dengan berat kepala Win di bahunya. Dengan aroma segar kolonye Win yang selalu berada di sekitarnya.


(Sepulangnya mereka dari festival, dengan Win mengantarnya dengan motornya, tentu saja. Masih bersikeras memasangkan helm untuknya walaupun tangan Sound sudah kembali normal. Masih juga dengan Win yang memaksa melingkarkan tangan Sound di pinggangnya—walaupun kali ini dia dengan senang hati juga menempelkan badannya kepada Win.

Sound terduduk di tempat tidurnya. Mengusap-usap leher dan pipinya dengan senyuman yang terlampau lebar. Sebelum tanpa sadar mengendus kaos yang dia kenakan. Dengan aroma Win yang menempel pekat di sana. Menghirupnya dalam-dalam. Lamat-lamat. Menyimpan semuanya dalam daftar kenangan yang dia masukan dalam memorinya.

Dia tidak sabar untuk bisa menggamit dan bertaut jemari lagi dengan Win. Mungkin akhirnya mengecup bibir pemuda itu tidak hanya ada dalam imajinasinya.)