Chapter Text
Bekerja itu seperti mengadu nasib.
Yusuf Hamdan tidak pernah benar-benar memahami arti kiasan tersebut, setidaknya sampai ia lulus dari bangku kuliah. Pasalnya, itulah juga yang sungguhan ia lakukan: mengadu nasibnya sendiri. Mencari tahu ke arah mana sebuah pekerjaan baru bisa membawanya. Menebak-nebak apakah hidupnya akan jadi lebih baik setelah ini, atau malah semakin bingung harus ke mana?
Setelah memutuskan bahwa back-end programmer bukan untuknya, Ucup mengadu nasibnya dengan menjajal posisi lain, yakni product manager. Tidak semua orang seberuntung ia yang langsung klop di percobaan pertama, namun salah satu sarannya akan selalu sama untuk masalah kegamangan karier: coba career-switching deh, tapi jangan lupa cari info dulu, ya.
Setelah nyaman dengan pekerjaannya yang sekarang, bukan berarti nasibnya tidak pernah diadu lagi. Bahkan, sekarang semuanya terasa lebih rumit. Pilihan-pilihan paling remehnya sekalipun bisa membawanya ke situasi yang tak pernah ia duga sebelumnya. Seperti pilihan yang belum lama ia buat ini.
Ucup hanya sedang bosan tadi dan pekerjaannya sudah selesai, jadi ia memutuskan untuk keluar sejenak. Smoking lounge jadi tujuan awalnya karena ia memang berniat untuk merokok, namun sayangnya, tempat itu tampak cukup padat siang ini. Seperti semua orang dari berbagai lantai mendadak ingin merokok di saat yang sama.
Ia lalu teringat rooftop gedung, yang kata beberapa orang cukup nyaman untuk dijadikan tempat merokok. Apalagi saat langit sedang cukup teduh dan angin banyak berembus. Jadilah sekarang ia tertatih menapaki tangga darurat menuju ke rooftop, berpikir akan jadi satu-satunya orang di sana.
Saat ia membuka pintu baja yang mengarah ke rooftop, lagi-lagi nasibnya sedang diadu.
Di kejauhan tampak sudah ada orang lain. Itu Piko, yang beberapa menit lalu masih satu ruangan dengannya dan meminta izin untuk smoke break. Laki-laki itu terlihat sama kagetnya dengan dirinya, dua jarinya yang sudah mengapit rokok bahkan membeku sejenak.
“Lho, ternyata lo ke sini?” Ucup tergelak sambil menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati.
"Lho, gue emang selalu ke sini, Men,” Piko berseloroh ringan. “Lo tumben, ke sini?”
Dibandingkan dirinya, Piko memang lebih sering tiba-tiba menghilang dari ruangan di jam kerja dengan dalih smoke break. Akan tetapi, setiap Ucup kebetulan pergi ke smoking lounge di basement, Piko tak pernah terlihat di sana.
Ternyata, nyebatnya di sini, toh.
“Bosen gua,” kilah Ucup. “Mau cari angin bentar.”
Menyadari Ucup yang beranjak menghampiri dirinya di pinggir birai, Piko bergeser sedikit, seperti membagi secuil ruang personalnya.
"Yah, gimana, sih. Udah jauh-jauh naik tangga, ketemunya temen satu squad juga. Mana ketemu hampir tiap hari juga, lagi." Bertemu Piko di puncak gedung kantornya sungguh di luar rencananya, jadi Ucup mencoba berkelakar sedikit untuk mencairkan suasana.
"Bosen lo, ketemu gue?" Piko terkekeh. "Kata Bang Raja waktu itu, proyek yang ini bakalan lebih lama daripada biasanya, kan.
Ketemu mulu, deh. Sampe mampus."
"Kebalik, kali. Lo yang bosen. Waktu itu lo yang bilang kan, gua berisik banget tiap meeting?"
"Iya, lo bacot soalnya,” terang Piko pendek, sekarang sudah menjepit rokoknya di antara bilah bibirnya. Sebelah tangannya bergerak merogoh saku celananya, mencari pemantik.
"Itu namanya gua cuma lagi menjalankan tugas dengan profesional, Pik."
Piko mendengus menahan tawanya. Berdebat dengan Ucup pastilah akan memakan waktu lama, bisa-bisa izin smoke break-nya habis terpakai hanya untuk debat kusir tidak berguna.
“Lo ngerokok?” Piko akhirnya membuka topik percakapan baru sebelum kembali disibukkan dengan kegiatan menyulut rokoknya. “Gue kira lo nge-vape doang.”
Cuaca hari ini memang sedikit lebih berangin dibandingkan biasanya, membuat bara apinya hilang-timbul. Entah mengapa ia tetap memilih untuk berada di rooftop.
“Kadang ngerokok,” jawab Ucup santai. “Lebih sering kalo ada temennya, sih.”
Piko mengangguk-angguk sambil menghirup rokoknya. “Jadi, ke sini nyari temen juga apa gimana?”
"Tadinya sih, mau sendiri aja," Ucup bersandar pada birai dengan ekspresi wajahnya yang jahil, "tapi berhubung tiba-tiba ada lo, jadinya harus ngobrol, deh."
Piko hanya tersenyum masam. Ia memilih untuk mengiyakan saja.
“Apaan, tuh?” tanya Ucup yang kini perhatiannya sudah teralihkan.
“Cup, sumpah," Piko tidak dapat menahan tawanya sendiri. "Kalau lo lagi nggak mau ngobrol, gue nggak keberatan kok, diem-dieman aja sama lo."
“Eh, jangan gitu, dong! Gua beneran pengen ngobrol sama lo. Emang kalo sama lo, gua pernah basa-basi?” Ucup lantas menegakkan tubuhnya, khawatir Piko sungguhan tersinggung dengan celetukannya barusan.
Piko terbahak, sebelah bahu Ucup didorongnya main-main. Lucu bukan main memang koleganya saat salah tingkah begini. “Ya elah, canda, Cup. Mau nanya apaan tadi?”
“Itu rokok lo, merek apa.”
“Oh,” Piko menarik keluar sebuah kemasan rokok dengan aksen ungu kehijauan dari saku celananya. “Camel ungu… apa sih, ini.” Kedua matanya menyipit sedikit untuk membaca tulisan kecil itu.
“Camel Activate Purple Mint,” Ia membaca pelan-pelan.
“Enak?”
“Hm… lumayan. Boleh, lah.”
“Kok, gitu sih, responsnya?” Ucup tergelak kecil. “Baru pertama kali nyobain yang ini emangnya?”
Piko mengerling sedikit dari ujung matanya, senyumnya tipis. “Nggak, sih. Enak kok, tapi bukan favorit gue aja. Cuma ya, pengeluaran lagi banyak, jadi ini yang biasa gue beli kalau lagi mau ngirit.”
Ucup mengangguk-angguk. “Rasanya gimana?”
“Manis.” Ia lalu menjauhkan sejenak batang nikotin itu dari bibirnya. Dahinya berkerut-kerut dari berpikir keras. “Kayak… anggur gitu. Tapi rasa anggurnya baru keluar kalau udah dicetekin kapsulnya. Kalau nggak dicetekin lebih dominan rasa mentolnya.
Lumayan lah, buat harga segini. Manis-dingin gitu.”
Piko melirik Ucup sekilas, gerakan tangannya hampir menyerupai refleks, mau nyobain? Akan tetapi, ia cepat-cepat menahan diri. Piko tidak pernah bermasalah dengan berbagi rokok, namun ia sudah menjatah asupan nikotinnya secara ketat selama dua minggu ke depan. Maaf ya, Cup.
“Udah cukup menjelaskan, nggak?” Piko tertawa kecil, berusaha menutupi gerakan janggalnya barusan. “Gue jarang merhatiin rasa rokok sampai segitunya, tapi intinya yang ini enak.”
“Enak, ya…” Ucup tersenyum tipis. “Gua boleh nyobain, nggak?”
“Yah, Cup. Sori banget. Ini rokok udah yang murah banget, terus gue jatahin sehari satu soalnya gue lagi hemat.” Piko mengembuskan asap rokoknya lagi, kini dengan tatapan tidak enak hati. Piko bukan orang yang dermawan, namun jika ada seseorang meminta sesuatu dan ia tidak bisa memberikannya, rasanya tetap tidak nyaman.
Ia pun bukan orang yang mudah mengumbar janji, jadi sebuah kapan-kapan, ya di ujung lidahnya itu juga ia tahan.
“Oh, nggak papa. Santai aja.” Ucup yang masih bersandar pada sisi birai sekarang memilih untuk menarik kotak rokok dari saku jaketnya. Tentu saja Marlboro Filter Black kesayangannya. Ucup hampir tidak pernah bergonta-ganti. Saat ia menyukai sesuatu, ia akan menyukainya sepenuh hati.
Akan tetapi, ia cukup penasaran dengan apa pun yang Piko sedang nikmati saat ini, kendati tidak yakin juga bagian mana yang jadi alasan. Mungkin, itu deskripsi rasa manis yang diterangkan Piko barusan. Marlong (Marlboro bolong—sebutan akrab Marlboro Filter Black karena ada rongga di tengah filternya) favoritnya juga manis, tentu, namun tidak ada rasa manis yang identik, kan?
Atau mungkin, itu hanya sosok Piko yang tampak atraktif saat menghela asap rokoknya, membiarkan residunya beterbangan dan dihalau angin menjauhi wajahnya. Ucup tidak akan menolak tuduhan mengenai ia yang sering mencuri pandang ke arah Piko di sela pekerjaan mereka, dan ia berencana untuk terus melakukannya. Setidaknya sampai ia punya hal yang lebih berani untuk dilakukan.
Piko saat serius di depan laptop, Piko yang kelaparan setelah sprint planning beruntun lalu akhirnya dihadapkan pada nasi padang kesukaannya, Piko yang menggerutu saat bertemu user menyebalkan; Ucup sudah pernah melihat semuanya. Oh, tambahan, Piko yang mengantuk saat Ucup sedang memaparkan product requirement design yang sudah dirampungkannya (biasanya, Ucup akan melemparinya dengan gumpalan post it bekas) (kalau sedang tidak ada Raja, ia akan menambahkan, woi, bangun, anjing).
Mereka bilang, kamu hanya menampilkan hal-hal terbaik di tempat kerja, namun Ucup rasa Piko adalah pengecualian. Piko cukup jujur dengan dirinya sendiri dan Ucup tidak keberatan dengan itu.
Pendek kata, Ucup penasaran. Dan hanya dirinya yang tahu hal-hal apa saja yang mampu dilakukannya untuk memuaskan keingintahuannya.
“Gua masih penasaran tapi Pik, sama rasanya," Suaranya berubah merajuk. "Kalo gua kepikiran mulu terus nanti siang nggak fokus pas meeting, gimana?"
Piko tergelak-gelak. "Beli lah, anjir. Di warung banyak. Samperin aja noh, warungnya si Mamang yang di kantin basement. Pasti jual dia."
Disarankan demikian, Ucup malah merengut sebal. Piko yang sejak tadi mengamatinya tertawa semakin keras. Ia masih terus tertawa saat hendak menghirup rokoknya hingga hampir tersedak napasnya sendiri.
"Kalau males banget ke bawah, mau nyobain dari bibir gue? Penasaran rasanya doang, kan?" tawar Piko ketika tawanya perlahan mereda.
Kali ini, Ucup sungguh-sungguh menoleh. Ia bahkan sampai memutar tubuhnya. "Maksudnya… lo ngajak ciuman?"
"Ya… kalau lo nggak masalah tapi, ya." Piko menanggapi ringan sembari mengangkat kedua bahunya.
"Gue… gue nggak masalah,” Ucup hampir tidak berpikir dua kali. Kendati begitu, sejujurnya jantungnya bisa copot kapan saja di situasi semacam ini.
Ucup tahu Piko tidak punya masalah dengan mencium laki-laki ataupun perempuan. Piko memang tidak pernah berterus terang mengenai orientasi seksualnya, namun ia juga tidak berusaha menutupinya. Beberapa kali di tengah percakapan saat makan siang bersama kolega mereka, Ucup mendengar laki-laki itu dengan santai menyisipkan selentingan semacam, dulu cowok gue pernah ada yang suka lagu itu juga, atau, mantan gue ada tuh, yang pas SMA masuk sekolah khusus cewek.
Ucup sendiri tidak keberatan mencium seseorang yang bukan pacarnya. Masalahnya, Piko di hadapannya ini bisa-bisanya terdengar sangat santai. Seolah ini hanya perkara uji coba saintifik dan bukannya ajakan berciuman tanpa konteks.
Piko turut memutar tubuhnya, sekarang berhadapan dengan Ucup. Rokok itu ia hirup sedikit lebih kuat dibandingkan sebelumnya, lalu asapnya ia embuskan ke wajah Ucup. "Sini."
Ucup, dengan sisa-sisa keberanian dalam dirinya yang entah mengapa sangat sok banyak ide hari ini, berjalan mendekat. Meretas jarak di antara mereka.
Ini bukan kali pertamanya mencium seseorang, namun ini tentu bukan ciuman yang romantis. Seharusnya, tidak perlu ada tambahan adegan menggenggam tangan, merengkuh tubuh, atau mengusap tengkuk, kan? Plis jawab iya, batinnya meronta. Kedua tangannya sudah sangat kaku sekarang.
Ini kan, hanya tentang dua orang yang ingin berbagi rasa rokok. Setidaknya, begitu caranya meyakinkan dirinya sendiri.
Ucup memejamkan matanya. Ciuman itu diniatkannya terjadi sekilas saja (gue cuma mau tahu gimana rasanya!), namun Piko menahan bibirnya dan mencumbunya lebih lama, seperti mengundangnya untuk menerka rasa-rasa yang tersisa.
Seperti ini sesuatu yang serius dan bukan ajakan iseng belaka.
Gila. Ucup mendadak lupa apa alasannya naik ke rooftop siang ini. Rokok miliknya saja bahkan belum sempat ia sulut sebatang pun. Pedulinya hanya tentang ciumannya dengan koleganya ini, yang membuatnya meleleh karena ternyata juga disertai hal-hal di luar ekspektasi.
Ucup mungkin sedikit tidak punya malu saat mengiyakan tawaran Piko tadi, namun ternyata rasanya sepadan. Sepertinya, setengah nyawanya terbawa bersama ciuman yang barusan.
Bibir menjauh lalu mata terbuka; Ucup masih menatap tidak percaya.
"Gimana?" tanya Piko, polos.
Gimana apanya? Rasa rokoknya? Rasanya ciuman sama lo?
"Hm… enak," Ucup menjawab jujur, meskipun tidak yakin itu jawaban untuk anak pertanyaan yang mana. Ia lalu menjilat bibirnya sendiri. "Manis."
"Bener kan, kata gue. Lumayan lah, buat rokok yang sebungkusnya nggak sampai 20 ribu." Piko mendengus lucu sebelum kembali menghisap rokoknya yang sudah pendek itu.
Ucup hampir-hampir tidak mengerjap. Piko yang tampak tenang cukup membuatnya terintimidasi dan Ucup menerima kekalahannya dengan lapang dada.
"5 menit lagi ya, Cup. Nanggung. Abis itu kita balik."
Ucup sungguhan lupa tujuan awalnya berada di sini. Ia hanya sanggup mengangguk, bungkus rokok di sakunya ditenggelamkan lagi. Nyebatnya nanti aja. Tiba-tiba udah nggak pengen.
Sebenarnya, Ucup tidak sebodoh itu. Sudah jelas berciuman setelah merokok tidak akan membuatnya merasakan apa pun selain pahit. Manis, manis. Manis dari Hong Kong. Muka lu tuh, manis.
Oke... mungkin ada manisnya. Tapi sangat sedikit. Tetap terlalu samar untuk bisa diindra. Mungkin, baru berasa manisnya di lidah kali, ye? Untuk bagian yang itu, sayangnya Ucup sudah tidak bisa memastikan apakah masih termasuk tahapan selanjutnya dari uji coba saintifik mereka atau sudah memasuki ranah akal bulusnya saja.
Hal lain yang tidak ia sadari adalah bahwa Piko juga tidak sebodoh itu.
–-
Saat Piko dan Ucup kembali ke ruangan, Raja menyambut mereka dengan kedua alis yang terangkat. “Tadi izin keluarnya sendiri-sendiri, kok, baliknya barengan?”
Mereka hanya bisa saling melempar tatapan bingung. “Hm… ketemu di lorong,” Piko menjawab asal. Ucup mengiyakan dengan tampang serius meskipun masih tidak berani menatap balik Raja. Ini bukan soal dimarahi Raja karena atasannya itu memang tidak pernah marah untuk hal-hal sepele seperti ini.
Ini soal rahasia yang mereka bagi berdua di rooftop tadi. Mereka ulang adegan tersebut di kepalanya masih membuat Ucup mengawang sendiri. Ia jadi sulit berpikir jernih karena entah mengapa, ia seperti takut orang lain bisa membaca isi pikirannya saat ini.
“Tadi gue bilang 15 menit, kan?” Raja melanjutkan, kini sambil mengintip arloji yang melingkari lengannya.
Piko cengengesan, kini sudah duduk kembali di kursinya sambil buru-buru membuka laptopnya. “Gue seneng banget deh, bisa kerja lagi buat project Bang Raja. Soalnya tektokannya enak, terus suka dibolehin smoke break, lagi."
Biarpun Piko sedang bergurau, diam-diam ia memang menikmati bekerja di bawah arahan tim yang dibentuk Raja. Proyek apa pun akan punya brief yang jelas dan memadai, salah satunya karena product manager terkaitnya pasti sudah satu suara dengan Raja. Sebagai designer yang pernah beberapa kali menangani proyek di bawah bos selevel VP yang berbeda, ia bisa mengatakan bahwa Raja adalah salah satu yang terbaik di kelasnya.
“Nggak usah gombal,” Raja mendengus bercanda. “Mana hasil yang dari brief minggu lalu?”
“Tenang, Bang. Udah beres. Bentar.” Piko cekatan menyambungkan laptopnya ke proyektor, menampilkan hasil kerjanya di layar.
“Jadi…” Piko menggerakkan kursornya. “Menindaklanjuti agenda rebranding layanan dan revamp platform utama, yang lagi gue kerjain sekarang sesuai brief terakhir adalah desain icon baru. Gue bikin enam varian dengan desain dan color scheme yang berbeda, nah, ini. Kalian bisa lihat di sini.”
Semua pasang mata di ruangan itu tertuju ke layar. Raja mengangguk-angguk puas. Sama seperti Piko yang barusan berusaha merayunya, sebenarnya Raja juga selalu antusias mengajak Piko bekerja untuk proyeknya. Hasil kerjanya selalu sesuai ekspektasi dan komunikasi mereka berjalan lancar. Ditambah lagi, Piko dan Ucup—project manager langganannya—sudah dianggapnya seperti dynamic duo.
Hampir tak ada satu pun proyek garapan Ucup yang tidak dilewatinya bersama Piko.
“Gimana, Cup? Udah sesuai?” Tentu saja, pada akhirnya Raja akan mengembalikan segala keputusan kepada Ucup sebagai product manager. Perannya memang hanya mengawasi dari atas.
“Oke sih, Ja. Variasinya dapet, terus nggak terlalu beda kalo disandingin satu sama lain. Next step, kita jadwalin wawancara ke beberapa pengguna aplikasi buat minta pendapat mereka soal draft awal icon ini. Masih on track. Bisa mulai jalan besok.” Ucup mengecek kalender mereka.
“Pik, lo mau turun sendiri atau minta bantuan anak research?” Ia lalu mengonfirmasi lagi.
“Aman. Gue udah koordinasi sama si Sarah, dia bisa bantu buat yang ini. Dia udah dapet database pengguna juga.” Piko lalu menampilkan dokumen linimasa proyek mereka. “On track, ya. Kalau udah fix, nanti langsung gue siapin file-file-nya.”
“Oke. Gitu Ja, kira-kira,” ujar Ucup, sembari menoleh ke arah Raja yang tampak sedang berpikir.
Raja mengangguk-angguk sambil mengangkat tubuhnya dari kursi. “Oke. Good job, guys. Ucup, kawal terus, ya.
Sori, gue bukannya nggak percaya sama lo, tapi berhubung revamp ini masif banget, kayaknya gue bakal sering dateng ke rapat-rapat kalian buat mantau aja. Soalnya gue sering diminta buat report ke atas juga, nih.”
“Nggak papa, anjir. Gue juga takut merugikan perusahaan kalo kenapa-kenapa. Dateng aja Ja, bawa makanan juga kalo bisa." Ucup beranjak dari kursinya hanya agar ia bisa menepuk-nepuk bahu Raja.
"Yeee, ngelunjak lo." Raja berkelit, lalu Ucup dihadiahinya dengan sebuah pukulan ringan pada tengkuknya. Biar otaknya yang miring itu lurus dikit, begitu kata Raja selalu. Ucup, seperti tidak ada kapok-kapoknya, tentu saja hanya menampilkan cengirannya yang paling lebar. Atau sebagaimana Piko kerap menyebutnya, nyengir sok ganteng.
"Udah, ah. Bubar sono padaan. Makan siang dulu."
–-
Bekerja itu seperti mengadu nasib.
Atau mungkin, bagi Piko Subiakto, seluruh hidupnya adalah tentang mengadu nasib semenjak ayahnya dijebloskan ke tahanan akibat kasus pembobolan bank. Samar dalam ingatannya, ada hari-hari ketika ia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk setidaknya, masih memiliki keinginan untuk menyaksikan satu lagi matahari terbit. Syukurnya, hari-hari tersebut sudah lewat.
Piko sebenarnya sudah ada di pantry sejak tadi. Hanya saja, ia termenung cukup lama hingga sempat melupakan niatnya bertandang ke mari. Oke, harus diakui, memang ia yang memulai semua ini dengan menawarkan percobaan ciuman tanpa syarat di rooftop barusan. Akan tetapi, Piko juga bukan seseorang yang akan mencium sembarang orang. Ia pasti punya pertimbangan, setrivial apa pun itu.
Mungkin masalah utamanya adalah seperti sebagian besar candaan, Piko tidak pernah menyangka untuk ditanggapi secara serius. Ini cuma bercanda, kan? Kenapa Ucup serius banget, deh?
Bagaimana pun, Piko sudah menjatuhkan pilihannya dan kini nasibnya siap diadu lagi.
Piko menghela napas panjang, kemudian berjongkok untuk mencari gelasnya di lemari bawah. Bahkan, interaksi mereka sekembalinya dari rooftop tidak banyak membantu. Sekali waktu Ucup membuka pembicaraan, ia memilih untuk menanyakan perkembangan proyek yang sedang mereka tekuni. Seolah menolak memperjelas situasi mereka beberapa menit yang lalu. Bukan cuma dirinya yang diam-diam salah tingkah, kan?
Oke, kalau Ucup diem aja, ya udah, gue diem aja juga.
"Pik!"
Piko nyaris terlonjak dan menyendokkan terlalu banyak bubuk kopi ke dalam gelasnya. Entah dari mana datangnya, Fella tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya. Sekarang sedang cekikikan sendiri mendapati reaksi Piko yang seperti baru saja tertangkap basah berbuat yang tidak-tidak.
Piko masih kaget, namun bisa bernapas lega setelah menyadari kejutan ini datang dari seseorang yang ia kenal dekat. Ia sedang tidak punya tenaga untuk basa-basi sok akrab. "Buset, dari mana aja lo? Bukannya lagi ketemu klien di luar?"
Fella menyandarkan tubuhnya di dinding pantry sambil mengerling jenaka. Tumbler di tangannya lalu digoyangkan, membuat batu es di dalamnya terantuk-antuk. "Udah balik. Nih, gue abis jajan minuman di mal depan."
“Ooh, gitu,” Piko bergumam kecil. Wadah kecil berisi bubuk kopi itu lalu ia kembalikan ke lemari atas. “Anak-anak AE lagi pada gabut, ya?”
“Enak aja,” Fella mencibir tidak terima. “We work hard and play harder, dong. Nanti sore mau ada meeting sama klien lagi, ini lagi nyiapin pitching deck sambil santai.”
Piko mengangguk-angguk, bibirnya membentuk huruf o tanpa kata. Sambil membawa gelasnya, ia lalu beranjak menuju ke dispenser di ujung pantry. Fella mengekorinya.
“Pik,” Fella memanggil lagi.
“Iya, Fel.”
"Jadi, kan? Jadi, dong…”
"Apaan sih, Fel? Gue lagi mau nuang air panas, nih."
"Ih, yang waktu itu gue bilang. Nongkrong sama temen SMA gue. Ya? Ya?” Fella mulai membujuknya.
Haduuuuh, dibahas lagi yang ini. Fella sudah ribut sendiri soal ajakan nongkrong tersebut sejak beberapa hari yang lalu dan meskipun Piko sudah tahu jawabannya (tentu saja ia akan menolak 100 persen, untuk berbagai alasan), ia masih sungkan berterus terang.
Mereka bilang, kolega di tempat kerja bukan sahabatmu, namun sepertinya, Piko bisa membuat pengecualian untuk Fella. Sejak mereka tersesat bersama di gedung kantor, dua anak baru yang berusaha menemukan lokasi ruangan untuk onboarding, Piko dan Fella sudah saling membantu layaknya teman lama. Biarpun Fella terlihat matang dan tahu banyak hal untuk perempuan seusianya, sejatinya ia adalah new player yang belum terlalu paham tentang bagaimana industri bekerja. Piko akhirnya membagikan beberapa hal yang ia pahami dari pengalaman kerjanya yang sebelumnya. Piko melakukannya dengan senang hati karena toh, Fella memang mampu belajar secara cepat. Sementara, saat Piko tidak sengaja bercerita tentang tunggakan satu bulan uang kosnya karena harus membayar cicilan ayahnya, Fella sampai memaksanya untuk menerima pinjaman darinya dulu.
Menggunakan perasaan sungkan sebagai dalih, secara tidak sadar, mungkin Piko terlihat seakan menghindari Fella. Tentu saja perempuan itu jadi berganti mengejarnya.
"Emangnya lo masih kontakan sama temen SMA lo? Solid juga ya, kalian.” Piko mencoba bercanda meskipun selipan tawanya terdengar hambar.
"Masih lah, emangnya elo. Kayak nggak punya minat bergaul. Makanya nih, gue ajakin main bareng temen-temen gue."
Bukannya enggak minat bergaul, lagi terlalu sibuk nyari duit aja! Piko menghela napas panjang, enggan. Main sama temen-temennya Fella? Yang bener aja! Membayangkannya saja sudah membuatnya malas. Ia terlalu takut untuk bahkan sekadar menghitung uang yang mungkin harus dikeluarkannya saat berpesta semalaman bersama gerombolan itu. Bisa-bisa lebih dari setengah harga sewa per bulan kosnya.
"Ya masa gue main sama temen-temen lo sih, Fel. Mereka juga mau ngobrolin inside jokes kali, udah lama nggak ketemu. Gue malah takut ganggu." Piko mencoba berkelit lagi, kali ini menggunakan pendekatan yang lebih halus.
"Mereka pada bawa temen-temennya lagi, Pik. Circle kita emang selalu open sama orang baru. Makanya gue ngajak elo… ikut ya, Pik? Ya? Masa ngga mau sih, kenalan sama temen baru? Lumayan lho, siapa tahu ada yang nyantol.”
"Duh, gimana ya, Fel…" Piko mengulum bibirnya ragu. Ia berusaha menghindari tatapan Fella dengan memilih fokus pada kopi di gelasnya. Kopinya sudah siap, namun entah mengapa sekarang tidak lagi terlihat menggugah selera. Meskipun ini bukan perkara di antara hidup dan mati, Piko tetap tidak suka terdesak. Bertahun-tahun hidup tidak berdaya sudah membuatnya muak. (sekarang, ia sedang belajar bahwa didesak dalam situasi-situasi yang tidak berbahaya itu sebenarnya tidak apa-apa)
Fella mengesah. Kedua tangannya dilipat. Sejurus kemudian, senyum penuh artinya terbit. "Bills on me. Masih ada alasan nolak?"
Piko memutar bola matanya malas. "Hhh… lo tuh, ya. Bener-bener. Ngeyel."
“I’ll take it as a yes,” Fella menepuk pelan bahu Piko sebelum bersiap melenggang pergi. “Nanti gue share detail lokasinya di chat, ya! See you this weekend!”
Come on... Fella never takes no as an answer. Merasa sedang dijebak, Piko hanya bisa tersenyum pasrah.
Saat ia menyerukan sebuah “oke”, lagi-lagi nasibnya sedang diadu.
