Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-02-09
Words:
1,593
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
107

Selamat

Summary:

Sore itu sangat cerah. Langit biru berawan dengan merah yang memercik di beberapa bagian menaungi kota dengan damai, membawa Kuroo pada masa lalu yang selalu tersimpan di hatinya dan tangan takdir yang bekerja dengan begitu indahnya

Notes:

Based on Selamat (Selamat Tinggal) by Virgoun ft. Audy

Click the link to listen to the song!

Happy reading!

Work Text:

Sore itu sangat cerah. Langit biru berawan dengan merah yang memercik di beberapa bagian menaungi kota dengan damai. Kuroo sedang berjalan santai dengan Sakusa, baru keluar dari toko roti setelah memenuhi janji Sakusa untuk membelikan Kuroo croissant kesukaannya. Yang habis dibelikan roti tak bisa menanggalkan senyum dari wajahnya, terlalu gembira, ditambah aroma roti bercampur kopi yang baru saja meninggalkan indera penciumannya.

 

“Cerah banget, ya. Aku suka jalan-jalan sore kayak gini.” Sakusa—yang terkenal selalu pelit senyum—di sebelahnya berkata dengan senyum tersungging, terlihat kalau dia sangat menikmati waktunya.

 

“Asal jangan tiba-tiba hujan aja,” Kuroo terkekeh.

 

“Ramalan cuaca bilang, bakal cerah sampe besok kok.” Sakusa menggandeng tangan kekasihnya. “Ke taman itu, yuk? Kamu ga lagi buru-buru, kan?”

 

Kuroo menjawab dengan anggukan. Sebelum ingatan kuat soal taman itu membanjiri ingatannya.

 


 

Saat itu sore hari, Kuroo kebetulan baru selesai mengantar titipan untuk toko roti tempat temannya bekerja. Temannya memiliki urusan mendesak hingga tidak sempat mengantarkannya sendiri. Dari toko itu, Kuroo berjalan santai menuju taman yang saat itu baru saja diresmikan oleh pemerintah daerahnya. Taman yang masih baru, asri, dan bersih, sangat cocok untuk menyegarkan pikiran pasca kelas yang suntuk hari ini. Kuroo ingin otaknya sudah segar dulu sebelum lanjut mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk di kamarnya.

 

Saat itulah takdir mempertemukannya dengan seseorang yang akan menjadi sosok penting di hidupnya. Cara mereka bertemu sangat unik. Tertukar ketika mengambil pesanan es krim dari truk es krim yang mangkal di situ. Rasa es krim yang mereka pesan sama, membuat orang itu mengambil pesanan Kuroo yang sudah pesan lebih dulu.

 

Orang itu bernama Bokuto.

 

Setelah perdebatan kecil yang sedikit membuat jeri anak-anak kecil yang sedang membeli es krim, dan tukang es krim yang melerai, akhirnya Bokuto meminta maaf tanpa henti. Hal itu membuat mereka duduk bersama di kursi taman dan mengobrol sampai senja bertamu.

 

Ternyata takdir mereka tidak sampai di situ saja. Beberapa hari setelahnya, mereka kembali dipertemukan di toko buku, sedang membeli serial favorit mereka. Obrolan kembali mengikat mereka, membuat mereka berdua saling bertukar kontak.

 

Hingga satu bulan kemudian, takdir mengarahkan mereka pada hubungan yang lebih erat. Mereka resmi menjadi sepasang kekasih yang sangat bahagia, pasangan yang saling mendukung satu sama lain. Genap lima tahun mereka menjalani hubungan yang dibilang orang sangat sempurna itu. Sampai akhirnya perdebatan besar yang terpantik oleh timbunan masalah kecil membuka retakan besar di antara mereka.

 

Semua masa damai itu seketika berakhir dengan caci dan makian. Mereka tidak bertemu untuk beberapa waktu, sampai Bokuto sendiri datang kepada Kuroo, meminta maaf atas tindakan emosionalnya waktu itu. Maaf memang sudah terbentang, tetapi mereka sepakat untuk tetap berpisah.

 

Kata pisah yang selama ini selalu mereka hindari setiap ada masalah, selamat tinggal yang selalu dikesampingkan setiap ada celah untuk keluar, akhirnya menduduki singgasananya. Membuat dua insan itu berbelok ke arah yang berbeda, meniti jalan sendirian.

 


 

Tiba-tiba saja Kuroo sudah duduk di kursi taman. Aroma espreso yang baru saja disesap Sakusa menyadarkannya dari mantra kilas balik yang dipunya taman itu. Segera Kuroo mengambil croissant miliknya untuk dikudap.

 

Entah mantra memori taman itu terlalu kuat atau ingatan Kuroo yang terlalu terangsang keluar, saat ini Kuroo merasa dapat mendengar suara Bokuto dengan jelas. Suara tawa Bokuto, salah satu dari sekian banyak bunyi-bunyian yang disukai Kuroo. Orang berkata, biasanya jika kita rindu seseorang maka kita dapat mendengar suara orang itu berseliweran di otak kita. Tetapi saat ini Kuroo tidak merasa sedang merindukan Bokuto.

 

Kecuali Bokuto memang sedang berada di situ.

 

Insting Kuroo membuatnya menoleh ke arah lapang rumput tempat anak-anak bermain. Di sanalah, sumber semuanya, berdiri, tertawa riang dengan laki-laki berambut pirang dan putri mungil di tengah-tengah mereka, ikut sumringah bahagia.

 

Kuroo amati anak perempuan yang sedang berlarian sambil dikejar kedua pria besar itu. Anak perempuan yang cantik dan ceria, mengingatkannya pada Bokuto. Matanya yang lebar dan hidup benar-benar jiplakan dari mantan kekasihnya itu. Dahi Kuroo berkerut, berusaha menebak fakta apa yang bisa ditarik dari pemandangan itu. Kuroo pikir pria pirang itu pasangan Bokuto. Tetapi kenapa ada anak perempuan di situ?

 

“Kenapa?” Sakusa ternyata melihat ekspresi wajah Kuroo yang kebingungan.

 

“Eh, gapapa. Itu, aku tadi denger suara Bokuto. Ternyata ada orangnya di situ. Mau nyamperin ga? Udah lama ga ketemu.” Jawab Kuroo.

 

“Itu yang lagi main sama anak kecil?” Kuroo menjawab dengan anggukan. “Oke. Ayo.”

 

Kuroo dan Sakusa menghampiri tiga manusia yang sedang menikmati waktu mereka. Bokuto menangkap kedatangan orang lain ke arahnya, langsung melihat siapa yang mendekat. Awalnya dia sedikit terbelalak, tapi kemudian senyuman langsung mekar di bibirnya.

 

“Kuroo?!” Bokuto melambaikan tangannya. Itu membuat pria pirang dan anak kecil itu ikut menoleh ke arah datangnya Kuroo dan Sakusa.

 

“Hai! Lama ga ketemu.”

 

Bokuto menyambutnya dengan tawa. Lalu dia berinisiatif mengenalkan siapa saja yang ada di situ kepada Kuroo.

 

“Kenalin, ini Atsumu. Ini Kirei.” Lalu Bokuto beralih menghadap ke arah Atsumu dan Kirei. “Ini Om Kuroo. Terus ini…”

 

Bokuto menunjuk ke arah Sakusa.

 

“Oh, ini Sakusa.” Kuroo buru-buru menambahkan. Sakusa hanya mengangguk. Sebaliknya, Atsumu langsung sumringah, mengulurkan tangannya pada Kuroo.

 

“Oh, ini Kuroo, ya? Halo, saya Atsumu. Bokkun suka cerita soal Kuroo, sih, jadi tau hahaha.”

 

“Hahaha, halo, Atsumu. Salam kenal.” Kuroo membalas jabat tangan Atsumu. “Halo, Kirei cantik!! Seneng banget, ya dari tadi mainnya? Kirei umurnya berapa?”

 

Kuroo yang memang selalu mudah akrab dengan anak kecil langsung berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan Kirei. Yang disapa langsung menjawab dengan ceria.

 

“Halo, om! Umur aku 10!!” Katanya sambil mengacungkan lima jari.

 

“Ngawur kamu. Umurnya masih empat tahun. Cuma dia suka pengen ikut-ikutan tetangganya yang suka main sama dia. Umurnya 10 tahun.” Bokuto meluruskan sambil mengusak rambut Kirei.

 

Kuroo membalasnya dengan tawa. Baru saja dia ingin mengajak ngobrol lagi, tetapi Kirei sudah berlari mengejar kupu-kupu yang kebetulan lewat. Atsumu dengan sigap ikut mengejar si kecil.

 

“Dia anak kamu, Bo?” Tanya Kuroo setelah berdiri, ingin rasa penasarannya segera terjawab.

 

“Iya. Anak aku sama mendiang istri aku.” Jawab Bokuto. Senyum tidak pernah meninggalkan wajahnya.

 

“Oh, maaf.” Kuroo benar-benar tidak mengira kalau Bokuto sudah menikah.

 

“Gapapa. Maaf, ya, aku ga ngundang kamu waktu nikahan. Soalnya aku nikah di negara istri aku, bukan di sini.” Bokuto menjelaskan satu fakta lagi. Walaupun menurut Kuroo seharusnya Bokuto tetap memberitahu Kuroo soal pernikahannya.

 

“Terus, Atsumu?” Kuroo bertanya lebih lanjut. Terlihat warna merah samar di pipi Bokuto.

 

“Dia temen kantor. Waktu itu aku sempet kerja di luar kota. Terus ngerasa pengen tinggal di sini lagi aja. Akhirnya pindah. Terus ketemu dia hehe.”  Mata Bokuto berkeliling ke hal lain. Tangannya menggaruk rambut yang Kuroo tahu tidak gatal. Kentara sekali kalau dia sedang malu-malu.

 

Kuroo senang mengetahui fakta bahwa kehidupan Bokuto terlihat baik-baik saja setelah kejadian memilukan yang dia sebut tadi. Dia merasa ikut bahagia.

 

“Aku pikir pacar.” Kuroo menggoda.

 

“Belum. Waktunya belum pas. Lagian aku masih belum tau Kirei mau punya dua papa atau engga…”

 

Kuroo menepuk pundak Bokuto. “Semangat. Kelihatannya Kirei suka sama Atsumu, tuh.”

 

Bokuto mengangguk. Dia melirik Sakusa, berpikir untuk mengubah arah pembicaraan.

 

“Semoga. Makasih, by the way. Kalian berdua… pacaran, kan?”

 

“Ahh, iya.” Kuroo dan Sakusa tersenyum. “Udah lama.”

 

“Dan masih lama.” Sakusa menambahkan. Bokuto tertawa.

 

“Kalian cocok. Ini lagi jalan-jalan?”

 

“Iya. Kebetulan lewat sini, terus tadi Sakusa ngajak ke sini dulu. Eh, ada kamu.” Jawab Kuroo. “Kamu sendiri sering ke sini?”

 

“Cuma kalo weekend aja. Sekalian ngajak Kirei jalan-jalan. Kalo weekdays ketemunya cuma sebentar soalnya. Jarang ada quality time.”

 

Kuroo mengangguk paham.

 

Di ufuk barat, matahari mulai tergelincir. Warna merah mulai merajai angkasa. Dengan kembali bergabungnya Kirei di lingkaran obrolan, menandakan waktu mereka untuk berpisah tiba.

 

Kuroo dan Sakusa pamit. Mereka berjalan menjauh dengan Sakusa merangkulkan lengannya di pinggang Kuroo. Bokuto memandangi rangkulan itu dengan perasaan hangat di dadanya.

 

“Bokkun?” Suara Atsumu meminta perhatiannya. “Kenapa?”

 

“Gapapa. Aku seneng Kuroo punya tempat bersandar yang dia suka sekarang. Semoga mereka bahagia.”

 

“Papa!! Aku mau makan ayam!!” Perhatian Bokuto segera teralih. Dia menggendong putri kesayangannya sambil menyuruhnya memilih untuk makan ayam dimana.

 

Di sisi lain, Kuroo sedang termenung. Jadi begini takdir bekerja. Perpisahan yang dulu Kuroo pikir bukan jalan keluar dari suatu masalah ternyata adalah jalannya menuju takdir baik lain. Dia tidak akan bertemu dengan Sakusa yang selalu mengerti dirinya, mengerti apa yang terbaik yang harus Kuroo dapatkan, mengerti bagaimana memperlakukannya, selalu bisa menjadi teman, guru, dan cintanya di saat bersamaan, jika perpisahan itu tidak terjadi. Kuroo mau menghabiskan hidupnya dengan Sakusa. Kuroo sangat bersyukur karena berhasil menemukannya.

 

Jika Kuroo dan Bokuto tetap menghindari perpisahan, Bokuto juga tidak akan bertemu dengan mendiang istrinya dan memiliki Kirei, juga tidak akan bertemu Atsumu. Baik Kuroo maupun Bokuto, saat ini terlihat bahagia dengan siapa mereka hidup. Jika perpisahan itu tidak terjadi, bisa saja mereka terus menjalani hubungan yang hambar dan menusuk dari dalam itu hingga sekarang. Satu hal pasti, mereka tidak akan bahagia. Takdir baik menuntun mereka menuju kebahagiaan yang pantas mereka dapatkan.

 

“Kenapa tuh? Senyum-senyum habis ketemu mantan.” Sakusa mencibir, bergurau.

 

“Seneng, dong.”

 

“Seneng ketemu Bokuto?”

 

“Seneng karena dulu aku sama Bo milih udahan. Jadi bisa ketemu kamu.” Jawab Kuroo sambil tertawa dan menggenggam lengan Sakusa. Wajahnya benar-benar bersinar di gelapnya senja, membuat Sakusa terpaku sebentar.

 

Sakusa mendengus.

 

“Curang.” Padahal dia masih ingin meledek Kuroo yang habis bertemu mantan. Tetapi mana bisa setelah melihat wajah cantik itu.

 

“Dih, apaan yang curang? Aku ga ngapa-ngapain.” Kuroo yang effortlessly menawan tidak tahu apa yang sudah dia perbuat.

 

Kedua pasangan itu juga berjalan menuju tempat tinggal mereka dengan damai. Berharap semua kebahagiaan ini bisa berlangsung lama, kalau bisa sampai nyawa mereka semua berpisah dari raga.

 

Bokuto selalu menjadi orang penting dalam hidup Kuroo. Tidak mungkin lima tahun bisa hilang dengan mudahnya. Tetapi kali ini Kuroo punya Sakusa. Baik Bokuto maupun Sakusa kini selalu bisa menyunggingkan senyum di bibirnya. Momen dengan mereka berdua akan selalu memiliki tempat di memorinya. Sekarang, Kuroo tinggal menikmati hidup stabilnya dengan seseorang yang dia sayang.