Work Text:
Sebelum tidur, Kazuha sudah bertekad untuk bangun pagi dan membantu pekerjaan di rumah orang tua suaminya. Tapi kenyataannya, lagi-lagi ia terlambat bangun.
Udara pagi di rumah mertuanya membuai untuk tetap bergelung di atas kasur dengan selimut tebal dan pelukan suami. Jangankan menyentuh air kamar mandi, membuka kaus kaki dan menapak di atas lantai keramik saja Kazuha enggan. Ia bahkan langsung kena pilek dan masuk angin di hari pertama menginap di sana.
Dan pagi itu terhitung hampir seminggu Kazuha menginap, ia masih belum bisa beradaptasi dengan udara di daerah yang di tengah hari saja suhunya tak lebih dari dua puluh tiga derajat.
Kazuha hampir saja kembali memutuskan kembali mengarungi mimpi kalau saja tak ia rasakan kecupan di dahi dan suara berat di telinganya. “Bangun, tukang tidur.”
Kalau saja itu bukan suaminya, Kazuha tidak akan merengek dan melingkarkan tangannya di leher yang lebih tua. Kedua matanya masih lengket, ia masih ingin menguasai tempat tidur setidaknya sepuluh menit lagi.
Dan sebenarnya Alhaitham bukanlah tipikal orang yang mau direpotkan orang lain, lelaki itu merasa sudah cukup repot dengan mengurus dirinya sendiri. Namun segala anomali bagi Alhaitham kandas saat Kaedehara Kazuha masuk ke dalam hidupnya yang lurus-lurus saja. Asalkan itu tentang Kazuha, maka Alhaitham siap repot.
“Akang, aku sebenernya malu loh sama ibu.. bangunnya siang terus.”
Adalah Kazuha yang sudah lebih segar sesaat setelah wajahnya diusap air dingin oleh suaminya. Ia nampak lucu dengan satu set hoodie berwarna pastel dan sandal rumah berbulu, sangat cocok dengan kepribadiannya yang lembut dan manis. Bertolak belakang dengan Alhaitham yang isi lemarinya hanya memiliki satu dua warna dan kebanyakan sudah belel karena sering dipakai.
“Nggak apa-apa, badan kamu masih adaptasi.” Alhaitham menjawab dengan jawaban yang tak mungkin ia katakan jika lawan bicaranya bukan Kazuha.
Kazuha mencengkeram cangkir di tangannya lebih kuat, pagi itu lebih dingin karena disertai gerimis. Ia baru berpikir untuk mengambil selimut kecil di kamar sesaat sebelum Alhaitham menggeser duduknya lebih rapat padanya.
“Dingin.” Ucapnya pelan, “Di luar gerimis.”
Kazuha sebenarnya ingin meledek suaminya karena jelas-jelas lelaki itu hanya memakai kaos tipis pendek, tapi ia urung. Kazuha lebih suka membalasnya dengan keliman senyum dan pelukan melingkari tubuh besar lelakinya yang hangat dan wangi maskulin.
“Ngomong-ngomong,”
“Iya, Kang?”
“Itu ongol-ongolnya Akang yang goreng.”
Kazuha terkekeh, “Tau kok, kelihatan soalnya agak tutung.”
(ongol-ongol : pisang goreng yang pisangnya dipotong kecil-kecil, tutung : gosong)
Bagi Kazuha, pagi hari di pegunungan memang cukup dengan teh tawar panas dan gorengan manis. Sederhana saja, yang penting hangatnya menyebar memeluk tubuh seperti pelukan suaminya yang paling tampan, Alhaitham.
***
Omake
“Kenapa?”
“Apa?”
“Kenapa ngeliatin terus? Nanti mie-nya keburu dingin.”
Siang hari yang cuacanya hanya naik sedikit lebih hangat itu, Alhaitham mengajak belahan jiwanya untuk jalan-jalan ke salah satu tempat wisata yang lokasinya hanya lima belas menit dari rumah menggunakan sepeda motor. Sebenarnya ia bisa saja mengajak pengantinnya itu ke tempat yang lebih privat; keluarganya punya puluhan hektar kebun teh dan kentang, villa keluarga, dan (kalau Kazuha mau) kandang sapi. Tapi menurutnya tempat wisata mainstream lebih cocok dijadikan pilihan mengingat Kazuha adalah seorang pendatang baru.
Alhaitham mengerutkan keningnya, lelaki itu sama sekali tak menghentikan kegiatannya menatap wajah orang yang duduk di sampingnya, sibuk dengan mie instan yang mereka pesan.
“Kamu kalau dilihat dari dekat, cantik.”
Kazuha menoleh, hanya untuk bersirobok pandangan dengan Alhaitham yang keningnya masih berkerut-kerut.
“Kalau dilihat lama-lama juga cantik.”
Saat itu juga Kazuha menahan dirinya untuk tidak melemparkan suaminya yang ganteng ke kolam kecil di depan mereka. Ia melipat bibir sambil menahan napas, Alhaitham dan gombal memang kurang cocok tapi Kazuha tak bisa bohong kalau dadanya menghangat sampai ke puncak kepala.
Detik selanjutnya ia mengelim senyum, menyentuh puncak rambut suaminya dan menarik rambutnya main-main. Senyumnya makin lama makin lebar sampai kedua matanya ikut tersenyum.
“Iya, akang juga ganteng. Dilihat lama-lama bukannya bikin bosen tapi bikin aku makin cinta.”
Tamat.
