Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of This and That
Stats:
Published:
2023-02-11
Words:
1,425
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
58
Bookmarks:
1
Hits:
774

The Premonition of Feelings

Summary:

Tanpa sadar, tangan Jisung segera beralih untuk menggenggam jemari Chenle yang mungil dan terasa begitu pas dalam tautannya.
Tatapan Jisung tidak beralih dari cincin pernikahan mereka yang saling bersentuhan.
Perlahan tapi pasti, Chenle dan Jisung menemukan rumah untuk batinnya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Sepanjang dua puluh tujuh tahun hidupnya, Chenle tidak pernah merasakan perasaan seaneh ini. 

 

Seolah nalar dan logikanya jauh terhempas ke dasar lautan yang dalam, terhanyut dalam pusaran ombak entah terbawa kemana.

Serasa tubuhnya mengambil kendali dengan agresif saat ia terbuai dalam dekapan Jisung.

 

Jemari di tangan kirinya menyisir helaian rambut halus di kepala Jisung, sesekali menekannya dengan penuh hasrat untuk saling mendekatkan wajah mereka yang terlarut dalam rangkaian kecupan. Tangan kanan Chenle secara reflek mengusap kulit punggung Jisung dari dalam t-shirtnya, diiringi sentakan kecil si lawan bercumbu yang sensitif oleh sentuhan telapak Chenle yang dingin.

 

Dalam hatinya Chenle menertawakan diri sendiri yang sejenak bertingkah seperti remaja dengan pengaruh hormon yang membuncah. Ia pun memejamkan matanya, bagai tersihir oleh intimasi yang membara saat Jisung mulai menyatukan tubuh mereka lebih erat. Kedua raga bergerak lambat namun penuh dorongan hasrat, seirama dengan pagutan Jisung yang memanas seiring berlanjutnya detik demi detik. Suara lenguhan saling bersahut dengan lirih dan nafas yang perlahan tersengal pun tak menghentikan Jisung dan Chenle untuk mengejar kenikmatan mereka. 

 

Tangan kanan Jisung yang semula memeluk pinggang Chenle perlahan menyusuri kulit lembutnya dan bersinggah pada dada bidang sang suami. Terasa detak jantung yang berdebar pada telapak tangan Jisung, sementara jemarinya sibuk memainkan putingnya yang sensitif, terdengar desahan yang tertahan karena ciuman dan gelinjang kecil tubuh Chenle dalam kungkungannya. 

 

Jisung dan Chenle terlarut dalam gairah, tubuh mereka semakin hilang kendali dalam stimulasi yang memenuhi indera oleh berbagai sentuhan dan gerakan sensual hingga keduanya sejenak menegang pada puncak pelepasan nafsu. 

 

Chenle kembali membuka matanya seolah tersadar dari hipnotis tak berujung.

Erangan Jisung terasa hangat di telinganya.

Ia kembali melepaskan nafas yang panjang dan memejamkan mata dengan rileks ketika Jisung menghujani ujung rahang dan lehernya dengan kecupan. 

 

Jemari kaki Chenle terasa nyaman terbenam dalam lembutnya pasir pantai, selembut belaian dan ciuman Jisung yang menenangkannya. 



[---]




"Jisung…"

 

Keduanya masih duduk terdiam di pantai saat Chenle membuka obrolan tiba-tiba. Detak jantung mereka mulai berangsur menjadi tenang seperti semula. 

 

Pandangan mereka terpaku ke riak ombak yang bermain dengan pasir pantai, menyapu perlahan dengan semilir angin laut yang lembut. 

 

"I'm sorry."

 

Jisung menoleh dan menatap Chenle lekat-lekat, seolah mencari jawaban tak tersirat dari kedua netranya. 

 

"For what? Untuk apa yang baru aja terjadi?"

Nampak kilasan tatapan kecewa dari lawan bicara Chenle.

 

"No! I mean…" tanpa sadar Chenle meninggikan suaranya karena tak ingin Jisung salah paham dan terluka.

 

"Jisung, I'm sorry for being this impulsive. And rude. Harusnya gue nanya dulu ke lo sebelum…main cium seenaknya aja."

Chenle mengacak rambutnya, jengkel karena bingung harus mengungkapkan perasaannya yang begitu rumit. 

 

Chenle belum menyadari senyum yang perlahan muncul di bibir Jisung. Tangan kecilnya yang masih saja menyisir rambut dengan sebal tersentak kaget ketika beradu sentuhan dengan jari Jisung yang bertaut erat menggenggamnya.

Jisung membawa sepasang kumpulan jemari mereka yang menyatu ke atas pangkuannya, tangan yang lain merapikan helaian rambut Chenle dengan sayang. 

 

"Can't believe that we just made out openly in your backyard but I definitely won't regret it. At all. Gue bahkan mau ngelakuin lagi sekarang kalo lo ga keberatan dan nyuruh gue."

Chenle terkekeh dengan ucapan Jisung baru saja dan gemas pada wajah suaminya yang perlahan memerah. Jisung pun ikut tertawa malu setelah beradu pandang, perutnya terasa bergetar geli dipenuhi kupu-kupu yang ramai berterbangan. 

 

"So…what are we now? Jujur, gue ga pernah secepat ini untuk tiba-tiba getting intimate gitu di relationship sebelumnya." Tanya Jisung penasaran dan ditanggapi dengan tatapan heran Chenle, dahinya mengernyit karena sewot.

 

"Dude, seriously? Semalem kita udah nikah dan ngadain resepsi gede-gedean, in case lo lupa. Terus lo masih nanya lagi status kita sekarang?"

Mata Jisung mengerjap sekali dua kali sambil berpikir dan memandang fokus ke wajah Chenle, kemudian beralih melihat ke arah cincin yang melingkar di jari manis tangannya sendiri. 

"Lah iya, ngapain gue bingung ya…"

 

Chenle tiba-tiba menarik lengan baju Jisung dan menciumnya sambil tertawa kecil, lanjut mendorong bahu pasangannya dengan iseng dan beranjak meninggalkan tempat mereka bersantai.

 

"Chenle, kok gue ditinggalin sih?"

 

One more eye roll from his husband.

 

"Perut lo barusan bunyi by the way. Gue mau mandi dulu, lalu masak untuk makan siang kita. Lo yakin ga mau bebersih after what we did and released earlier?" 

 

Chenle terbahak saat telinga Jisung semakin memerah mengingat apa yang mereka lakukan sesaat lalu. Suara keluhannya terdengar kencang meskipun wajahnya tertutup kedua telapak tangan yang besar dan hangat karena malu.

 

Cute. 



[---]




Pandangan Jisung tertuju pada bayangannya di cermin kamar mandi yang berembun. Sesegar apapun yang Jisung rasakan setelah melepas penat dengan berendam di air hangat yang nyaman, letihnya masih nampak tersirat dalam sepasang netra yang menatap sendu.

 

Hampa dan dingin.

 

Tak terpikirkan apa yang akan ia lakukan setelah lepas dari karir dan hidup monoton nan tenang, kemudiam memilih untuk terekspos pada publik sebagai anggota keluarga Zhong yang baru. 

 

Cincin pernikahan yang tergenggam pada telapaknya terasa seperti beban yang menyesakkan. 

 

Jisung tak bisa melepaskan benaknya dari senyum bangga kedua keluarga Zhong dan Park ketika janji pernikahannya dan Chenle disahkan di hadapan para undangan semalam. 

 

Anak bungsu keluarga Park yang selalu menyembunyikan diri, jauh dari sorotan karena ketidakbecusannya dalam segala hal sekecil apapun, setidaknya sudah menyumbangkan sesuatu yang berguna untuk bisnis keluarganya sendiri. 

 

Andai saja Jisung memiliki jalan hidup yang berbeda.

 

Andai saja Chenle dan Jisung bisa bertemu karena situasi yang lebih lazim layaknya orang biasa, mungkin Jisung tidak akan merasakan pahitnya konflik yang berkecamuk dalam batin. 

 

Mungkin ia bisa merasakan jatuh cinta pada Chenle dengan lebih mudah. 

 

Nafas Jisung terhembus dengan berat saat memandang ukiran nama Chenle pada sisi dalam cincin pernikahan miliknya. 



[---]




Chenle masih sibuk menumis irisan bokchoy dengan bawang putih dan minyak wijen yang wangi ketika mendengar langkah kaki Jisung menuruni tangga dari lantai kamarnya dan menuju ke dapur. 

 

Ia sudah merampungkan masakan pertama, yaitu tumis telur tomat yang mudah dimasak dan juga merupakan menu favorit Chenle untuk menggugah selera makan. Sembari memasukkan potongan fillet daging ayam yang berbalur dengan adonan tepung ke dalam minyak panas, Chenle kembali menyelesaikan tumisan sayurnya dengan sigap. 

 

"Ada yang bisa gue bantuin, Le?" ujar Jisung yang berjalan mendekat ke arahnya sambil menengok penasaran akan masakan yang Chenle kerjakan. 

"Lo bisa masak atau biasa ngerjain sesuatu di dapur kah?" Balas Chenle yang kemudian ditanggapi dengan gelengan kepala Jisung. 

 

Right, as expected , batin Chenle dalam hati sambil tersenyum sendiri. 

 

"Kalo gitu bantuin gue siapin piring-piring dan alat makan lainnya aja deh. Gelas sama piring ada di kabinet atas sebelah kiri lo dan sendoknya ada di laci bawahnya. Thanks a lot, husband."

 

Terdengar suara dentingan nyaring beberapa perabot makan yang baru saja Jisung pegang. Chenle mendengus karena reaksi suaminya yang segampang itu salah tingkah karena keisengannya yang sepele.

"Minimal kasih aba-aba dulu kek…" Gerutu Jisung dengan lirih, disahuti dengan gelak tawa Chenle. 

 

Tak lama kemudian Chenle menghampiri Jisung yang menantinya sabar di meja makan dengan segala perlengkapan makan yang tertata rapi. Wajah Jisung tampak sumringah melihat ketiga hidangan beraroma wangi nan hangat yang Chenle bawa. Tumis telur tomat, bokchoy tumis dengan bawang putih dan minyak wijen, serta chicken karaage yang renyah dengan nasi hangat tersaji dengan indah. 

"Lo mau minum apa, biar gue yang ambilin." ujar Jisung yang tiba-tiba berinisiatif beranjak menuju ke kulkas. "Barley tea dingin, tolong bawain botolnya sekalian kesini. Ada bir sama cola juga kalo ga salah, ambil aja sesuka lo. Thanks, Jisungie."

Jisung menanggapi ucapan Chenle dengan senyuman. Hatinya terasa berbunga ketika merasakan momen yang sederhana namun nyaman seperti ini. 

 

Perlahan tapi pasti, Jisung menemukan rumah yang baru untuk batinnya. 

 

Jisung dan Chenle menikmati makan siang mereka dengan tenang, sesekali mengobrol kecil tentang hidup pribadi masing-masing untuk saling mengenal lebih dekat. Perbincangan tentang kilasan cerita masa kecil, hal-hal favorit, hingga kebiasaan sehari-hari pun terus mengalir dengan natural.

Mereka harus mulai menyesuaikan diri untuk hidup bersama.

"No pressure, just think of me as your new roommate later. Kita bakal tetap punya ruangan pribadi masing-masing, I'll respect your boundaries and privacy. Gue pingin setidaknya lo masih ngerasa nyaman waktu kita bersama." Ucapan Chenle baru saja menyentuh hati Jisung dalam-dalam.

"Jisung…meskipun lo berpikir ga ada cinta sama sekali di pernikahan aneh ini, gue tetep pingin lo bahagia. Gue tetep pingin lo hidup dengan bebas, apapun jalan yang akan lo pilih ke depannya."

Tanpa sadar, tangan Jisung segera beralih untuk menggenggam jemari Chenle yang mungil dan terasa begitu pas dalam tautannya.

 

"Thank you, Chenle. It's kind of strange for me, in a good way, tapi ga tau kenapa gue juga pingin hal yang sama untuk lo. Gue pingin kita baik-baik aja untuk seterusnya." Ibu jari Jisung mengelus punggung tangan Chenle dengan penuh afeksi, tatapannya tidak beralih dari cincin pernikahan mereka yang saling bersentuhan. 

 

"Apakah gue boleh belajar untuk pelan-pelan jatuh cinta ke lo, Chenle?"



Notes:

Thanks for dropping by. Kudos and/or comments are appreciated.

Series this work belongs to: