Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-02-12
Words:
1,432
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
15

he who blooms even in frozen land and she who blooms almost in year

Summary:

Plum yang mekar di atas tanah beku dan fukujusou yang merekah tak jauh darinya. (Tentang dua orang yang saling memuja di atas pegunungan bersalju, menepis dingin dengan saling bersisian). / RnR?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Title : he who blooms even in frozen land and she who blooms almost in year

Disclaimer : World Trigger milik Daisuke Ashihara. Saya tidak mendapat keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini kecuali kesenangan batin.

Warning : yume ship, original female characters/sona, OOC, saltik, dan berbagai kekurangan yang tak terjabarkan.

Hope you enjoy it!

.

.

“Plumnya berbunga!”

Azuma menoleh, tanpa sadar mendorong pintu mobilnya hingga menimbulkan bunyi ‘bluk’ yang sedikit keras. Pria itu meringis tanpa suara, setengah berharap tak bakal ada kerusakan atas kecerobohan kecilnya. Kendaraan itu sudah tua dan ia tak berniat mengeluarkan sebagian tabungannya buat memperbaiki mobil tuanya.

Seolah melupakan eksistensi sang pria, gadis yang baru melompat dari kursi mobil tadi, kini mengoceh tanpa arah. Sejatinya, perempuan cilik itu memang perampas atensi. Bukan dalam artian buruk—tentu saja. Namun, sang Sniper Pertama Border kerap lengah; pada segala yang bersangkut paut dengan kekasihnya.

Akari menganga, sibuk menghayati kekaguman pohon plum yang berada di parkiran kemah. Rintik salju masih menghujan, menoreh putih pada dahan-dahan kurus. Namun, sebagian kuncup yang bertahan pada ujungnya memberontak, memekarkan diri dan merobek putih dengan merah muda. Netra cokelatnya kembali berbinar, seolah merampas debu kosmik yang mestinya tengah mengambang di antara orbit—agar kemilaunya tak hanya dapat dinikmati para penjelajah luar angkasa.

Azuma mengunci mobilnya, kemudian mendekati gadisnya, membiarkan jejak botnya terukir di atas salju. “Apa plumnya begitu menarik?” Sampai kau lupa padaku.

Akari menoleh, masih dengan kerlip gemintang dalam matanya. Bibirnya memamerkan senyum lebar, meluncurkan tawa kecil yang sepolos bocah. “Plumnya berbunga, Azuma-san!” ia bersorak lagi, menunjuk ke arah pohon yang sama dan memalingkan muka—tak ingin melewatkan secercah keajaiban yang baru ia temukan. “Aku pernah baca kalau plum memang bisa berbunga di musim dingin. Tapi, ini pertama kali aku melihatnya langsung!”

Pria berambut legam sebahu itu menghela napas pendek, menatap sayang lawan bicaranya. “Apa yang tidak pernah kamu baca?” Lelaki itu menggoda.

Perempuan itu menoleh lagi padanya, memamerkan cengiran yang lebih lebar diikuti semu sewarna delima di sepanjang pipinya. “Masih kalah dengan yang pernah Azuma-san lihat!” tandasnya, tak sadar telah menaikkan tempo dentum lelaki yang bersamanya.

Akari melangkah maju, mencoba menyentuh tubuh pohon yang masih dikaguminya, mengetuk pelan lapisan terluarnya. Kulit luarnya memang mengelupas di beberapa bagian, tetapi melihat ukuran tubuhnya yang lebar, sepertinya kondisi pohon itu teramat jauh untuk dikhawatirkan. Mungkin juga usianya sudah menua dan dirinya tak sempat menyaksikan masa primanya; saat badan pohon itu menjulang kokoh dan ratingnya menaungi wisatawan, memamerkan sekumpul bunga kemerahan yang merekah megah. Apapun itu, kunjungannya sekarang terasa ajaib bagi sang dara.

Pria berambut legam itu meloloskan tawa singkat, melepaskan jaketnya dan menyampirkannya ke bahu sang dara. “Tunggu lima belas menit. Aku perlu membangun tenda sekarang atau kita mesti bermalam di mobil,” katanya.

EH!?” Gadis itu kelabakan, beruntung tangannya masih memegangi jaket pria itu, mencegahnya agar tak meluncur jatuh dari bahu kecilnya. “Kalau begitu aku—”

Lelaki itu mengibaskan tangannya, tertawa kecil sebelum berujar, “Ini pertama kalinya kamu berkemah, kan?”

Kepala Akari menggeleng, memberi kejutan kecil pada kekasihnya. “Aku pernah beberapa kali berkemah waktu Sekolah Dasar,” akunya.

“Dari sekolah?”

Gelengan lagi. “Dengan ayah dan beberapa koleganya.”

“Kauingat cara mendirikan tenda?”

“....”

Bibir mungil kemerahan itu mengatup rapat dan warna plum yang mekar seolah berpindah pada wajah sang puan. Sadar akan jawaban dari gadis itu, Azuma kembali tertawa, geli sekaligus takjub dengan tekad si gadis cilik. Sebagian dalam dirinya mengulang kembali kepercayaan Tachikawa; hanya mengandalkan semangat tak akan berpengaruh pada jalannya pertarungan.

Ia tak bisa mengatakan itu sepenuhnya benar; toh, kemampuan seseorang hanya dapat terpoles dengan latihan serta pengalaman. Pernah saja tidak cukup, kemampuan seorang ahli sekalipun dapat berkarat jika tak mengasah pisaunya. Namun, sebagian dalam dirinya sontak menepis; kadang ‘semangat’ seseorang—terutama yang bernas sekeras baja—cukup menghibur untuk disaksikan.

“Bagaimana kalau begini,” lelaki itu berbalik, membuka kunci mobil dan mengeluarkan perlengkapan kemah dari bagasi—lantas menggulirkan matanya sesaat untuk mencuri pandang pada kekasihnya dan melempar senyum sejuta rahasia padanya, “... aku akan mencoba membuatnya dan Akari bisa menonton. Jadi, saat kemah kedua, kaubisa membantuku, hm?”

Debu kosmik itu kembali berkilatan, mengisi netra cokelat terang yang disusul cercah sukacita. “Oke!”

Azuma tersenyum, menghirup samar arogansi dalam udara beku. Ia sudah menduga respons Akari sebelumnya dan segalanya berjalan sebagaimana gambaran di kepalanya.

Lelaki itu menyimpan kembali keangkuhannya, memulai pekerjaannya tak jauh dari pohon plum. Akari berjongkok, mengamati pria itu membuka ritsleting tas, mengeluarkan kerangka tenda dan menyusunnya. Bola mata cokelat itu membulat antusias, menggelitik Azuma walau sang pria sudah berusaha mengabaikannya.

“Omong-omong, Akari,” pria itu memecah senyap di antara mereka, “apa plum bunga favoritmu?”

Mmnn …,” gadis itu menatap salju di bawah kakinya, meragu sebelum membalas, “… mungkin? Ah—maksudnya … aku suka semuanya—kurasa?”

Tawa kembali meluncur dari bibir Azuma. “Apa yang tidak kausuka?” Sedikit terdengar seperti sinisme, walau lelaki itu tak berniat terdengar demikian.

Mmnn ...,” gadis itu mengabaikan aroma satiris sang pria, Akari justru menyeriusi tanya kekasihnya—menekuk turun bibirnya dan mengernyit hingga sebuah jawaban terbersit di kepalanya, “... aku tak suka tomat.”

Pria itu menahan tawanya, memamerkan cengiran kecil seraya meneruskan pekerjaannya, “Ada lagi?”

Mmnn ... saus tomat?”

Itu berbeda?”

“Bentuknya? Kalau dimakan mentah terasa lembek dan sausnya kadang asam—oh!” Gadis itu mendadak teringat. “Kalau Azuma-san?”

“Yang tidak kusukai?” Pria itu bertanya.

Gelengan menjadi jawaban sang pria. “Bunga favorit!” Perempuan itu sedikit memekik, gemerlap cahaya masih berpendar di matanya. “Aku belum tahu.”

Hmm …,” lelaki itu tersenyum tipis, mencoba mengurutkan bebungaan apa saja yang pernah ia kagumi. Mawar? Terlalu awam. Sakura? Astaga—yang benar saja.

“Aku …,” jeda tarikan napas, “... tidak yakin—aku bukan pengamat andal sepertimu yang bisa menemukan keistimewaan khusus pada hal semacam itu, Akari. Tapi,” ia menghentikan kalimatnya lagi, “... aku paling sering melihat yang kelopaknya keemasan di tahun baru.”

Oh!” Kernyit di dahi dara itu lenyap, diikuti dengan kembalinya debu kosmik dalam netra cokelat terangnya. “Fukujusou!” Akari memekik lagi, tampak semringah karena mengenali bunga yang disebut sang pria.

Ya.” Azuma melempar senyum kecil padanya. Tendanya mulai terbentuk, sepertinya ia mulai memecahkan rekor. Terakhir berkemah, tendanya baru terbentuk sekitar sebelas menit—dia makin tua, ia menyadarinya.

Yang tidak lelaki itu duga, Akari akan kembali menyuarakan tanya. “Kenapa?”

Sniper itu mengatupkan bibir, menarik napas panjang. Ia tak punya alasan. Bunga itu terpintas sekilas di kepalanya dan ia pilih begitu saja untuk tanya barusan. Tak ada alasan khusus. Namun, warna kuning kelopaknya mengingatkan lelaki itu pada binar dalam bola mata Akari, pada kerlip debu kosmik yang memancarkan keemasan bahkan dalam lorong gulita.

Keberuntungan dan umur panjang—ia pernah mendengar itu dari orangtuanya. Dalam legenda, Adonis teramat indah. Aphrodite dan Perspephone mencintainya, dan kematiannya membuat sang dewi cinta dan ratu dunia bawah patah. Fukujusou lahir dari ajalnya. Tragis.

Tetapi, yang paling mengingatkannya dengan sang dara adalah arti lain yang dibawa si puspa keemasan; pembawa kebahagiaan, kebahagiaan abadi, kenangan—Akarinya. Fukujusou yang tumbuh berkelompok di pegunungan, yang memiliki spesies dari musim semi hingga musim gugur—yang hampir dapat mekar dalam mendung, bahkan mungkin sepanjang tahun. Yang mampu mekar hampir sepanjang tahun.

“Kalau Akari?” Azuma membalas, sadar tak dapat menjawabnya dan melempar tanya baru pada sang dara—memutar beban jawaban itu pada kekasihnya. Oh, ia masihlah bajingan—lelaki itu tertawa dalam hatinya. “Kenapa kausuka plum?”

Netra cokelat itu mengerjap, diikuti gumam panjang sebelum dibalas kelewat simpel. “Karena bisa berbunga meski musim dingin.”

Hahaha!” Azuma mengguncang tendanya yang telah terbentuk, mengecek ulang kekokohannya. “Apa sepenting itu—buat berbunga di musim dingin?”

Gadis itu mengangkat bahu, menelengkan kepalanya sebelum membalas, “Tidak juga, sih. Tapi ....”

“Ya?”

“Kelihatan keren.”

Seperti Azuma-san. Akari tak menyuarakan setengah akhir kalimatnya. Kesetiaan dan kesabaran—sederet arti bunga itu menyeruak dari kepala sang dara. Kuat; menerabas dingin juga menjulang tinggi. Jangan lupakan buah hingga bunganya yang dapat dimanfaatkan serta menoreh sejarah panjang. Periode Nara menjadikan mekar bunganya sebagai tanda musim semi, sebelum diganti sakura pada periode Heian; tertoreh dalam tinta puisi, hanafuda, sampai mahjong. Terlalu Azuma-san—atau mungkin memang pria itu memanglah personifikasi dari plum sendiri. Akari tak akan terkejut.

Tak peduli waktu yang menggerus, pada akhirnya lelaki itu mengangumkan—buatnya, selalu.

“Akari,”

Gadis itu terlonjak, membelalak kala menemukan tenda hijau toska telah berdiri di sebelah Azuma. Pria itu melempar senyum padanya, menghempaskan sisa lamunan sang dara ke antah berantah. “Perlengkapan memasaknya masih di bagasi. Mau mengambilnya bersama dengan kantung tidur?”

Jeda selama sepuluh detik dan Akari kembali semringah, mengembuskan gemerlap cahaya keemasan di tengah area bersalju. “Ya!”

Keduanya kembali bersisian, berjalan beriringan, melempar topik tentang bunga yang mereka mulai di awal konversasi—menggantinya dengan hal lain.

“Azuma-san ingin teh atau susu jahe?”

“Teh kedengaran menyenangkan.”

“Dimengerti!”

Hahaha. Apa yang akan kaumasak nanti?”

“Tebak!”

Hmm ... sesuatu dari ikan?”

Ya! Lagi!”

Hmm … apa, ya?”

 

( Mekarlah sepanjang tahun, Sayangku. Tapi, jangan memaksakan dirimu. Saat musim terlampau dingin untuk merekah, kaubisa berlindung. Aku yang akan mengurus tanah bekunya. )

.

.

.end.

.

.

Notes:

a/n: Baik fukujusou maupun plum adalah birth flower tanggal 3 Januari yang merupakan tanggal lahir Azuma dan Akari.

Fukujusou secara umum memiliki arti ‘mengundang kebahagiaan’, ‘kebahagiaan abadi’, dan ‘memori sedih’. Pada periode Edo, tahun baru dirayakan dengan bertukar pot berisi bunga ini. Warna kuningnya juga dianggap sebagai pembawa keberuntungan dan umur panjang.

Sementara itu, plum memiliki arti ‘kebangsawanan’ (nobility), kesetiaan, dan kesabaran. Ungkapan mekarnya plum sebagai pertanda tibanya musim semi mulai pada periode Nara (710-794 M), tapi berganti menjadi sakura sejak periode Heian (794-1185) hingga masa sekarang. Sering juga disebut dalam haiku (puisi pendek Jepang), termasuk dalam dua belas jenis hanafuda (diasosiasikan dengan burung uguisu yang kicauannya sebagai pertanda musim semi) juga terdapat pada balok mahjong (tapi fungsu baloknya tergantung pakai aturan apa dulu: Jepang kah, Korea kah, atau yang lain—tiap style punya fungsi unik tertentu, seingat saya. Di mahjong Taiwan, mendapatkan delapan bunga dan musim otomatis dianggap menang). Empat balok bunga terdiri dari plum, anggrek, bambu, dan krisan.

Anyway, fukujusou nggak mekar tiap tahun (HAHA /INJEK), tapi dia punya jenis berbeda di tiap musim, seingat saya. Dan dia juga sensitif sama terik matahari dan kelopaknya bakal berguguran kalau di musim panas. Sepengetahuan saya juga, ada festival yang semacam ‘merayakan’(?) bunga ini saat berguguran sebagai peringatan akan kematian Adonis, tapi saya kurang yakin benar atau tidak.

Terima kasih lagi bagi yang sudah membaca! Saya awalnya ingin mendedikasikan ini untuk event #ValenHaze – Day 5: Hanakotoba. Tapi, mengingat ini di-post sudah berganti hari, saya tidak yakin ini diterima so, let it be HAHAHAHA XD

Anyway, sudah lama sekali saya tidak bikin fanfik and it was fun! Thank you for the prompt dan sampai jumpa di karya saya yang lain! ;)

Fanfiksi ini bisa di-retweet di SINI ! :D

-Salam-
Profe_Fest