Work Text:
“Seperti yang telah kalian ketahui, tiga juara akan bersaing dalam turnamen, satu juara dari masing-masing sekolah yang berpartisipasi. Mereka akan dinilai berdasarkan bagaimana prestasi mereka dalam masing-masing tugas, dan juara yang mengumpulkan jumlah nilai terbanyak setelah pelaksanaan ketiga tugas akan memenangkan Piala Triwizard. Ketiga juara akan dipilih penyekesi yang tidak berpihak: Piala Api.”
“Siapa saja yang berminat mendaftarkan diri sebagai juara harus menuliskan nama dan sekolahnya dengan jelas di atas secarik perkamen dan memasukkannya ke dalam piala. Para peminat punya waktu dua puluh empat jam untuk memasukkan nama mereka. Besok malam, Halloween, si piala akan mengembalikan tiga nama yang dinilainya paling layak mewakili sekolah masing-masing. Piala ini akan diletakkan di Aula Depan malam ini, supaya mudah dicapai oleh siapa pun yang ingin ikut bertanding.”
******
Pagi Halloween kali ini tidak sama seperti sebelum-sebelumnya. Aula Besar yang biasanya cukup sepi anak-anak tapi ramai dengan hiasan bertema Halloween, kini ramai diisi oleh anak-anak kelas satu sampai kelas tujuh yang bersemangat membicarakan tentang Turnamen Triwizard dan menebak-nebak siapa yang akan menjadi juara dari Hogwarts.
Di Aula Depan, beberapa anak tampak duduk dengan antusias di kursi-kursi panjang yang mengelilingi Piala Api yang diletakkan di tengah aula, di atas bangku yang biasanya menjadi singgasana Topi Seleksi. Semua anak tampak bergairah, tak terkecuali Jinguji dan Genki yang duduk di kursi paling atas.
Genki Iwahashi, anak Slytherin kelas empat, memakai celana training berwarna hitam dan kaos lengan pendek berwarna kuning, cukup kontras jika mengingat bahwa Genki adalah anak Slytherin. Di sebelahnya, Yuta Jinguji, anak Hufflepuff kelas tiga, duduk sembari menyeruput jus labu yang tadi diambilnya dari Aula Besar. Jaket hijau tuanya yang agak besar menyembunyikan pandangan semua orang dari kaosnya yang sedikit kotor. Jinguji belum mandi.
Sepuluh menit yang lalu seluruh anak Durmstrang yang dipimpin oleh Karkaroff, kepala sekolah Durmstrang, masuk ke Aula Depan dan secara bergantian memasukkan nama mereka ke dalam Piala Api. Viktor Krum adalah yang paling pertama memasukkan namanya. Hampir seluruh siswa di Aula Depan bergumam kagum, tak terkecuali Jinguji yang bahkan sedikit menjerit saat melihat Krum berjalan masuk. Maklum, Jinguji adalah penggemar berat Krum yang merupakan Seeker utama tim Quidditch Bulgaria.
Di dua kursi di depan Jinguji dan Genki, anak Gryffindor kelas tiga bernama Sophie sedang duduk. Tak lama, Ron Weasley datang dan bertanya pada Sophie.
“Sudah ada yang memasukkan nama?” tanya Ron pada Sophie dengan bersemangat.
“Semua anak Durmstrang,” ujar Sophie. “Tapi aku belum melihat anak Hogwarts satu pun.”
Jinguji dan Genki mencuri dengar percakapan Ron dan Sophie. Keduanya bertukar pandang.
“Menurutmu siapa yang akan jadi juara Hogwarts?” tanya Genki. Ia menggigit roti bakar selai cokelat kemudian mengulurkan tangannya yang lain untuk menawarkan roti bakar pada Jinguji.
“Entahlah,” Jinguji menggeleng, menolak roti bakar dari Genki. Menurutnya, rasa roti di Inggris cukup aneh. “Tapi kuharap seseorang dari asramaku. Siapa pun itu, dia harus lebih keren dariku.”
“Tunggu sebentar,” Genki menelan roti bakarnya lalu memandang Jinguji dengan tatapan geli. “Memangnya kau keren?”
“Menurutmu aku tidak keren?” Jinguji balik bertanya.
Genki tertawa sampai terbungkuk-bungkuk. Jinguji mengangkat alis kirinya, menatap temannya itu dengan tatapan aneh.
Percakapan Jinguji dan Genki terhenti saat Fred Weasley, George Weasley, dan Lee Jordan memasuki ruangan dengan tatapan kemenangan. Fred memberitahu Ron bahwa mereka bertiga baru saja meminum Ramuan Penua (Genki harus menjelaskan khasiat Ramuan Penua pada Jinguji) dan sangat yakin bahwa mereka bisa mengelabui Lingkaran Batas Usia yang digambar oleh Dumbledore. Fred, George, dan Lee belum berusia tujuh belas tahun, dan mereka bertiga memutuskan untuk menuakan usia mereka beberapa bulan sehingga bisa ikut memasukkan nama mereka.
Fred melangkah melewati garis, kemudian diikuti oleh George. Keduanya mengeluarkan pekik kemenangan dan melakukan tos, saat tiba-tiba terdengar bunyi desis keras dan si kembar terlempar dari dalam lingkaran emas seakan mereka dilontarkan oleh hantaman tongkat golf yang tak kelihatan. Mereka mendarat kesakitan sejauh tiga meter dari lingkaran di lantai batu yang dingin, dan sebagai tambahan rasa sakit yang mereka derita, terdengar bunyi plop keras, dan di dagu keduanya muncul begitu saja jenggot putih panjang yang identik.
Aula Depan dipenuhi tawa keras. Bahkan Fred dan George ikut tertawa. Tak lama Profesor Dumbledore masuk, ikut tertawa melihat si kembar, dan menyarankan keduanya untuk pergi menemui Madam Pomfrey di rumah sakit di sayap kastil.
“Kalau tidak ada peraturan hanya siswa berusia tujuh belas tahun yang boleh mendaftar,” ujar Jinguji, arah pandangnya mengekor si kembar dan Lee yang berjalan keluar Aula Depan sambil terbahak-bahak. “Aku pasti akan mendaftar. Aku bisa saja mengalahkan cumi-cumi raksasa di Danau Hitam kalau aku mau.”
“Ngarang kau,” Genki terbahak-bahak. “Minggu lalu saja kau gagal melawan boggart!”
“Hei! Dia berubah jadi kecoak raksasa. Semua orang lari!” kata Jinguji tak terima.
Hari berjalan cepat dan langit tiba-tiba sudah berubah gelap. Seluruh siswa, baik dari Hogwarts, Durmstrang, maupun Beauxbatons, sudah mengambil tempat duduk mereka masing-masing di Aula Besar. Seluruh guru dan staff juga hadir untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
Setelah pesta Halloween berakhir dan piring-piring emas kembali kosong dan berkilau bersih, Dumbledore bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Piala Api yang sudah dipindah dari Aula Depan ke Aula Besar. Sekarang saatnya penentuan juara.
Saat Piala Api memuntahkan potongan perkamen yang pertama, semua orang menahan napas. Aula Besar kembali riuh saat Dumbledore meneriakkan nama Viktor Krum sebagai juara Durmstrang.
“Sudah kuduga!” pekik Jinguji. Ia bertepuk tangan sangat keras saat Krum berjalan menuju pintu di samping meja guru, seakan ingin mengalahkan suara tepuk tangan seluruh sekolah. Genki memandang Jinguji yang duduk di sampingnya, kemudian bertukar pandang dengan Shintaro yang duduk di sisi lain Jinguji.
“Hati-hati, Genki. Lama-lama Jinguji bisa lebih memperhatikan Krum daripada kau.”
“Oh, diamlah, Shintaro.”
Piala Api memuntahkan potongan perkamen yang kedua. Kali ini adalah juara Beauxbatons. Gadis cantik bernama Fleur Delacour dengan rambut pirang keperakan yang panjang berdiri lalu berjalan di antara meja Ravenclaw dan Hufflepuff.
“Kudengar dia keturunan Veela.” Shintaro mencondongkan tubuhnya ke kiri kemudian berbisik lebih kepada Genki dibandingkan kepada Jinguji yang lebih dekat dengan tempat duduknya. Veela adalah makhluk cantik setengah manusia, dia muda, berkulit putih, dan sangat pintar menari. Kecantikannya mampu menarik setiap laki-laki untuk memandangnya.
“Kau dengar dari mana sih?” Genki bertanya heran. Ia tidak mengerti bagaimana Shintaro si anak Gryffindor bisa lebih tahu dari dirinya yang sering mencuri dengar percakapan Draco Malfoy dengan antek-anteknya di ruang rekreasi asrama Slytherin, dan tidak ada yang punya gosip lebih banyak dibandingkan Malfoy!
“Hei! Aku tahu segalanya!”
Suasana semakin tegang di Aula Besar. Semua orang memandang Piala Api dengan harap-harap cemas. Tersisa satu juara lagi, dan kali ini adalah juara dari Hogwarts. Saat lidah api berwarna merah muncul dan menari di atas Piala Api, semua orang menahan napas. Kemudian sepotong perkamen dimuntahkan oleh Piala Api. Dumbledore mengulurkan tangannya untuk menangkap perkamen gosong itu.
“Juara Hogwarts,” ucap Dumbledore, “adalah Cedric Diggory!”
Suara teriakan bagaikan gemuruh terdengar di Aula Besar. Semua anak Hufflepuff telah berdiri, berteriak-teriak dan mengentak-entakkan kaki, ketika Cedric berjalan melewati mereka, tersenyum lebar, menuju ruangan di belakang meja guru. Jinguji ikut bersorak dan meninju udara, karena akhirnya ada kesempatan untuk Hufflepuff tampil sebagai juara. Ia cukup sedih karena beberapa tahun belakangan hanya Gryffindor atau Slytherin yang bisa memenangkan Piala Asrama.
“Aaaah kenapa dari Hufflepuff. Padahal aku berharap juaranya dari Slytherin.” Genki melipat tangannya dan memandang Cedric yang hilang di balik pintu dengan sedikit cemberut.
“Hei. Asramamu sudah beberapa kali memenangkan Piala Asrama. Kau tidak kasihan pada asramaku?” protes Jinguji.
Genki memutuskan untuk tidak menghiraukan Jinguji dan memilih untuk mendengarkan kata-kata penutup dari Profesor Dumbledore. Tapi mendadak, api di dalam piala kembali berubah merah. Bunga api berterbangan. Lidah api panjang tiba-tiba meluncur ke atas, dan pada puncaknya ada secarik perkamen lagi.
Genki menelan ludah. Dari apa yang sudah terjadi selama tiga tahun belakangan, sepertinya ini bukan pertanda bagus.
Dumbledore mengulurkan tangannya dan menyambar perkamen yang dimuntahkan Piala Api. Dia memeganginya dan menatap nama yang tertulis di atasnya. Hening lama, sementara Dumbledore terus menatap perkamen di tangannya, dan semua orang di dalam aula menatap Dumbledore. Dan kemudian Dumbledore berdeham dan membacanya…
“Harry Potter.”
Hati Genki mencelos. Harry terlibat dalam suatu turnamen yang seharusnya tidak diikutinya merupakan pertanda buruk. Tahun pertama, ada Troll dewasa masuk ke kastil. Tahun kedua, tiba-tiba banyak siswa kelahiran muggle (bukan penyihir) yang membatu. Tahun ketiga, tahanan dari Azkaban kabur dan Hogwarts harus dijaga oleh Dementor. Sejak Genki masuk sekolah, tidak ada satu tahun pun yang terlewati dengan tenang.
Kedua bahu Genki turun.
“Oh ayolah. Aku butuh satu tahun yang tenang.”
******
Minggu-minggu berikutnya dilewati seluruh siswa seperti biasa. Hanya saja kali ini ada beberapa kegiatan baru yang mereka lakukan, salah satunya menebak-nebak tugas pertama yang akan dihadapi para juara. Genki sempat mendengar salah satu murid kelas dua dari Ravenclaw berkata bahwa para juara diharuskan melawan cumi-cumi raksasa untuk tugas pertama, dan Genki menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lelah saat mengingat Jinguji yang berkata bahwa dia bisa menang melawan cumi-cumi raksasa dengan mudah.
Meskipun Hogwarts memiliki dua juara, tapi sebagian besar murid Hogwarts memihak Cedric. Bahkan seluruh anak Hufflepuff memihak Cedric, tidak ada satu pun dari mereka yang memihak Harry. Alasan utamanya adalah karena ini seharusnya saat untuk Hufflepuff bersinar, tapi Harry mengambilnya. Tidak ada yang suka pada Harry, terutama karena usianya baru empat belas tahun sementara batas minimal usia yang boleh mendaftar adalah tujuh belas tahun. Desas-desus di sana sini mengatakan bahwa Harry meminta anak kelas atas untuk memasukkan namanya ke Piala Api.
Terus terang saja, Genki tidak peduli. Genki bahkan menatap aneh pada Jinguji saat ia datang menghampiri Genki di meja Slytherin di Aula Besar saat sarapan dengan dua lencana kuning cerah bertuliskan ‘DUKUNGLAH CEDRIC DIGGORY JUARA ASLI HOGWARTS!’ di tangannya. Tapi sesaat setelah Jinguji meletakkan lencana itu di atas meja, tulisan itu lenyap, digantikan tulisan hijau menyala bertuliskan ‘POTTER BAU’.
“Aku membawakannya untukmu.” ujar Jinguji sembari menyeringai. Genki mendongak menatap Jinguji yang mendudukkan diri di sampingnya.
“Serius? Kau memakai barang aneh seperti ini?” Genki memandang jijik lencana di atas meja. Ia mengambil buku Kitab Mantra Standar Tingkat 4 oleh Miranda Goshawk, lalu mendorong lencana yang memancarkan tulisan hijau menyala itu menjauh darinya dengan ujung buku.
“Aku harus mendukung juara dari asramaku. Memangnya kau mau mendukung Potter?” Jinguji mengambil satu lencana dan menyematkannya di bagian depan jubahnya.
“Yah, tidak juga sih,” Genki mendengus kesal. Ia masih tidak rela juara Hogwarts bukan dari Slytherin. “Tapi aku tidak mau memakai itu. Jelek betul.”
“Ini juga bisa digunakan sebagai senter saat malam. Glow in the dark!”
“Jinguji, kalau kau lupa, kita penyihir,” Genki menghela napas. Jinguji adalah penyihir kelahiran muggle, kedua orang tuanya bukan penyihir, dan terkadang Jinguji lupa bahwa ia bisa melakukan banyak hal hanya dengan lambaian tongkatnya. “Kita bisa pakai mantra Lumos.”
“Tapi tetap saja. Bagaimana kalau saat aku menggunakan mantra Lumos, tiba-tiba ada yang menyerangku? Aku tidak bisa menggunakan mantra Stupefy dan mantra Lumos bersamaan kan?”
“Terserahlah.” Genki mengibaskan tangannya tak peduli. Ia sedang tidak ingin berdebat, lebih tepatnya tidak ingin berpikir. Ada alasan kenapa Topi Seleksi tidak memasukkannya ke Ravenclaw.
“Ngomong-ngomong, aku dengar sesuatu dari Shintaro,” Jinguji mengambil ayam goreng dan meletakkannya di atas piring kosongnya. Genki berhenti menulis PR Mantra-nya kemudian menengok menatap Jinguji yang kemudian melanjutkan, “Katanya akan ada pesta dansa sebulan setelah tugas pertama.”
“Sebulan setelah tugas pertama… Kalau tugas pertama dilaksanakan minggu depan, berarti pesta dansa akhir Desember?” tanya Genki. Jinguji mengangguk. “Tapi apa kau yakin Shintaro bisa dipercaya?”
“Shintaro kan berteman dengan Juri. Aku yakin info ini valid.” ujar Jinguji. Tanaka Juri adalah anak Gryffindor kelas lima. Tampilannya sedikit tidak meyakinkan, tapi dia tahu seluruh rahasia di sekolah. “Lagipula, sekolah menyuruh kita membawa jubah pesta kan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk pesta dansa Turnamen Triwizard?”
Genki mengetuk pena di tangannya ke atas perkamen, mencerna informasi yang diberikan Jinguji.
“Kalau begitu, pastikan tidak ada yang mengajakmu. Karena kau akan pergi denganku ke pesta dansa.”
Otak Genki berhenti bekerja saat kata-kata yang diucapkan Jinguji masuk ke telinganya. Matanya mengerjap-erjap, berusaha mencerna kalimat Jinguji yang kali ini terasa lebih ajaib dari biasanya. Saat Genki akhirnya sadar, ia menutup buku Mantra yang dipegangnya sedari tadi kemudian berbalik menatap Jinguji.
“Sebentar. Apa?”
“Kau akan pergi denganku ke pesta dansa.”
Mulut Genki ternganga. Kalimat Jinguji menimbulkan efek kejut pada dirinya. Dia? Dan Jinguji? Pergi ke pesta dansa berdua? Bukankah biasanya pasangan dansa di pesta dansa itu adalah perempuan dan laki-laki?
Tunggu dulu. Bukankah biasanya pesta dansa itu dihadiri oleh pasangan?
“Tunggu, Jinguji. Kurasa kau salah paham,” kata Genki sedikit panik. “Pesta dansa itu, adalah pesta dimana dua orang melakukan dansa. Dan, biasanya, pasangan dansa itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kan kita―”
“Memang apa salahnya kalau kita berdua pergi ke pesta dansa? Ada yang melarang?” tanya Jinguji.
Genki menggigit bibir bawahnya. Matanya diselimuti kilat panik.
“Tapi kan―”
“Oh aku lupa kalau tadi Amu berjanji akan mengajariku mantra Riddikulus dengan benar sebelum kelas. Bye, Genki!” Jinguji menyambar ayam goreng yang belum sempat ia makan kemudian melesat meninggalkan Aula Besar.
Napas panjang lolos dari mulut Genki. Sebelum ini, ia sama sekali tidak memikirkan apa-apa selain apa kira-kira tugas pertama dari turnamen. Tapi sekarang, setelah Jinguji mengatakan bahwa mereka akan pergi ke pesta dansa bersama, otak Genki menjadi bising. Ia tidak tahu apakah dua laki-laki bisa menghadiri pesta dansa bersama atau tidak, dan ia juga bertanya-tanya apakah ada yang akan melihat mereka dengan tatapan aneh kalau mereka benar-benar pergi berdua ke pesta dansa. Genki menggigit bibir bawahnya sekali lagi. Ia merasa tidak tenang karena sebenarnya…
Genki menyukai Jinguji.
Tidak, bukan rasa suka yang seperti itu. Saat kelas dua, Genki pernah tercebur di Danau Hitam. Ternyata, tidak jauh dari tempat itu, Jinguji, yang masih kelas satu, sedang duduk dan bicara dengan kura-kura. Jinguji panik saat melihat ada anak yang tercebur dan segera berlari memanggil Hagrid, penjaga binatang sekolah sihir Hogwarts. Untungnya, saat Hagrid dan Jinguji (yang kehabisan napas karena harus berlari sangat cepat untuk menyusul Hagrid yang tingginya hampir tiga kali tinggi Jinguji) sampai di tepi Danau Hitam, Genki sudah dibawa ke tepian oleh para duyung. Sejak saat itulah Genki dan Jinguji berteman.
Jinguji dan Genki sering menghabiskan waktu bersama. Meski Jinguji berusia satu tahun lebih muda dari Genki, tapi dia sama sekali tidak bertingkah seperti seorang adik. Genki beberapa kali berusaha untuk menggoda Jinguji seperti bagaimana Genki menggoda adik perempuannya, tapi tidak berhasil. Entah kenapa di mata Genki, Jinguji bersikap lebih dewasa. Padahal saat ini usianya baru tiga belas tahun!
Genki mengusak rambutnya frustasi. Pikiran tentang ancaman bahaya yang mungkin terjadi karena Harry terpilih sebagai juara Hogwarts mendadak hilang dari otaknya.
Satu minggu terlewati begitu saja dan hari ini adalah hari pelaksanaan tugas pertama Turnamen Triwizard. Genki, Jinguji, dan Shintaro berjalan beriringan menuju tepi Hutan Terlarang. Di sana telah dipasang tenda untuk para juara dan tribun besar yang muat untuk seluruh orang. Saat mereka bertiga tiba di tribun, Genki bisa melihat bahwa tengah-tengah arena sudah berubah menjadi permukaan berbatu. Genki mengernyitkan dahinya karena masih tidak mengerti apa yang akan dihadapi para juara untuk tugas pertama, dan tiba-tiba ia mendengar seseorang memekik.
“Aku melihat naga di luar sana!”
Tugas pertama adalah naga.
Turnamen berlangsung seru, dan sangat menegangkan. Genki sudah hampir menangis saat Cedric, juara pertama yang berhadapan dengan naga, hampir terbakar seutuhnya saat naga yang awalnya mengejar anjing Labrador (Cedric men-Transfigurasi batu di arena menjadi anjing Labrador) memutuskan bahwa mengejar Cedric adalah kegiatan yang lebih mengasyikkan dan menyemburkan napas api sesaat setelah Cedric mengambil telur emas dari sarang telur naga di tengah arena. Genki menolak untuk menyaksikan jalannya tugas pertama dengan mata terbuka. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan mengintip dari sela-sela jari tangannya.
“Dan kau bilang kau akan mendaftar turnamen kalau saja mereka tidak membatasi umur para pendaftar!” Genki memekik pada Jinguji setelah tugas pertama usai. Mereka berjalan kembali ke kastil dengan disinari cahaya matahari sore.
“Tapi aku pasti terlihat keren kok.”
“Aku tidak peduli kau akan terlihat keren atau tidak, Jinguji. Kau bisa saja terbunuh! Kau tidak lihat tadi separuh wajah Cedric kena semburan api si naga? Dan Potter hampir tergilas ekor naga yang berduri― oh astaga aku tidak bisa membayangkan kalau kau ikut turnamen.” Genki terus meracau. Jinguji menatapnya dengan iba.
“Kau khawatir aku terluka?”
“Aku khawatir kau mati, Yuta! Jangan pernah berkata akan ikut pertandingan seperti ini lagi. Aku ngeri membayangkannya.” Genki tampak marah kemudian berjalan lebih cepat menuju kastil sembari menarik lengan jaket Jinguji. “Ayo cepat. Aku lapar.”
Shintaro yang sedari tadi berjalan di belakang mereka hanya bisa menggeleng sembari mendecakkan lidah. “Haduh. Benar-benar ya mereka berdua ini.”
******
“Pesta dansa Natal adalah bagian dari tradisi Turnamen Triwizard.”
Seluruh anak Slytherin dari kelas empat sampai kelas tujuh duduk di satu ruangan. Profesor Snape, kepala asrama Slytherin, berdiri di tengah ruangan. Rambutnya yang lurus seleher dan berminyak sedikit berkilat ditimpa cahaya api dari obor-obor di dinding. Jubah hitamnya yang panjang menyentuh lantai tampak berkibar dramatis saat Snape berjalan menyeberangi ruangan. Genki selama ini selalu bertanya-tanya apakah Snape memantrai jubahnya sehingga selalu berkibar atau memang seperti itu cara Snape berjalan. Dramatis.
“Dan karena Potter menjadi salah satu juara Hogwarts,” terdengar nada getir dalam suara Snape, “pesta dansa ini akhirnya dibuka untuk anak-anak kelas empat ke atas. Anak kelas tiga ke bawah boleh ikut, hanya jika ada yang mengajak mereka.”
Bisik-bisik terdengar di dalam ruangan. Genki bisa melihat Pansy Parkinson, anak perempuan kelas empat, tersenyum malu-malu ke arah Draco Malfoy yang sedang sibuk tertawa dengan antek-anteknya, Crabe dan Goyle.
“Jubah pesta yang kalian bawa itu akan kalian pakai di pesta dansa. Pesta dimulai pukul delapan malam pada Hari Natal, berakhir tengah malam di Aula Besar. Pertemuan ini selesai. Urus dansa kalian sendiri. Aku tidak akan mengajari kalian.”
“Tapi,” Snape berhenti mendadak sebelum mencapai pintu, “Aku harap tidak ada yang mempermalukan nama Salazar Slytherin.”
Dan Snape pergi meninggalkan ruangan dengan jubahnya yang berkibar dramatis.
Genki mengerang. Kalau anak kelas tiga ke bawah hanya boleh ikut kalau ada yang mengajak mereka, berarti Genki harus mengajak Jinguji?
Seseorang menepuk pundak Genki.
“Iwahashi, kau mau mengajak siapa?” Blaise Zabini, anak kelas empat berkulit hitam dan bertubuh tinggi yang duduk di belakang Genki itu sedikit membungkuk ke arahnya. Theodore Nott, anak kelas empat, dan Adrian Pucey, anak kelas enam, sedang berdebat di belakang Blaise tentang siapa yang akan maju lebih dulu untuk mengajak Fleur Delacour ke pesta dansa.
“Um… tidak tahu. Memangnya siapa yang akan kau ajak?” tanya Genki, dan Blaise nyengir lebar.
“Aku akan mengajak Daphne.” Ujar Blaise. Daphne Greengrass adalah anak perempuan kelas empat berambut pirang panjang yang duduk di samping Pansy, keduanya terlihat berbisik satu sama lain dan sesekali terkikik.
“Oh… oke.” Genki bergumam lirih. Dalam diam, Genki melirik ke kanan kiri, mencoba untuk mencuri dengar percakapan teman-temannya. Hati Genki mencelos.
Semua anak laki-laki berencana untuk mengajak anak perempuan ke pesta dansa.
Genki terduduk lemas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ketika semua orang pergi meninggalkan ruangan, Genki ikut bangkit dan berjalan keluar. Tanpa terlalu memperhatikan sekitar, Genki berjalan keluar dari ruang rekreasi, melewati Baron Berdarah begitu saja (Baron Berdarah, hantu asrama Slytherin, bergumam, “Anak-anak ini memang harus diajari sopan santun” sambil bersungut-sungut), dan menaiki tangga batu menuju Aula Depan. Tanpa diduga, Genki hampir bertabrakan dengan Yuta Kishi, anak Hufflepuff kelas lima, saat akan berbelok ke Aula Besar.
“Oh hai, Genki!” sapa Kishi riang. Ia selalu senang ketika bertemu dengan sesama murid Asia di Hogwarts. Saat Genki tak merespon, Kishi sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Genki lebih jelas. “Kau tidak apa-apa?”
Genki mendongak menatap Kishi dengan kedua bibirnya yang terlipat dan membentuk kurva terbuka ke bawah. “Kishiiiii.”
Dan Genki menceritakan seluruh keluh kesahnya pada Kishi. Mereka berdua duduk di meja Hufflepuff. Langit-langit Aula Besar hari ini tidak secerah kemarin. Beberapa petir muncul di langit-langit dalam lima belas menit terakhir.
Kishi mengangguk-angguk sambil mendengarkan Genki yang tak berhenti bicara. Sesekali Kishi mencuri pandang ke koran Daily Prophet yang tergeletak tak jauh darinya.
“Kau tahu, Genki? Tidak semua yang datang ke pesta dansa adalah pasangan romantis. Catat kata-kataku, tapi aku yakin Filch akan membawa Mrs. Norris ke pesta dansa.” Kishi memandang ke arah pintu masuk Aula Besar, dimana Mr. Filch, penjaga sekolah, baru saja lewat dengan dibuntuti oleh kucingnya, Mrs. Norris. “Salah satu dari Weasley bersaudara juga bisa mengajak adik mereka, Ginny, ke pesta dansa. Tapi aku yakin mereka tidak akan mau.”
“Jadi,” lanjut Kishi. “Sebenarnya tak ada salahnya kau dan Jinguji pergi bersama ke pesta dansa. Toh benar kata Jinguji, tidak ada yang melarang.”
“Apa kau yakin? Tapi bukankah aneh, kalau dua laki-laki pergi ke pesta dansa?” Genki bertanya dengan khawatir. Ia masih tidak yakin.
“Lebih aneh mana, mengajak anak laki-laki atau mengajak kucing?” Kishi balik bertanya. Genki tertawa, akhirnya.
“Kata-katamu ada benarnya juga.” Genki terkekeh. “Tapi tetap saja, kenapa jadi aku yang harus mengajaknya, padahal dia yang awalnya ingin aku pergi dengannya.”
“Kalau itu sih, bicarakan saja di antara kalian. Aku tidak ingin ikut-ikutan.”
“Memangnya siapa yang akan kau ajak?” tanya Genki dengan penasaran.
“Entahlah. Mungkin aku bisa mengajak Granger.” ucap Kishi sekenanya.
“Hermione Granger? Oh, sadarlah, Kishi. Semua orang tahu kalau Krum sudah melirik Hermione dari sejak awal dia datang ke Hogwarts!” Genki memukul kawan satu Asia-nya itu dengan koran Daily Prophet yang diambilnya sejak lima menit lalu. Kadang-kadang Kishi memang tidak sadar diri.
******
Desember datang dan udara menjadi semakin dingin. Permukaan Danau Hitam mulai membeku, dan salju mulai menumpuk di ranting-ranting Pohon Dedalu Perkasa. Menjadi anak Slytherin selalu menyenangkan bagi Genki, terutama karena dia lebih menyukai musim dingin dibandingkan musim panas. Tapi tinggal di asrama yang terletak di bawah Danau Hitam menurutnya cukup berlebihan. Dinding asrama berwarna hijau gelap, cenderung hitam, dan ada beberapa jendela yang membuat mereka bisa melihat ke dalam Danau Hitam. Musim dingin di sini sangat dingin, dan lokasi asrama Slytherin membuat segalanya terasa lebih dingin.
Genki mengenakan syal berwarna putih di lehernya. Tangannya yang hampir tertutup lengan bajunya yang panjang sibuk membalik halaman koran Daily Prophet, berusaha mencari berita yang menarik (Berita paling menarik hari ini adalah aksi demo para goblin dan pengumuman tanggal konser grup band Weird Sisters). Profesor Flitwick telah menyihir langit-langit Aula Besar pagi-pagi sekali, dan sekarang salju-salju sihir berjatuhan ke arah meja-meja panjang yang kemudian hilang sebelum menyentuh kepala anak-anak.
Jinguji muncul dari balik pintu Aula Besar dengan syal kuningnya. Ia berlari ke arah Genki yang duduk di meja Slytherin, kemudian mengalungkan tangan kirinya ke bahu Genki yang terkejut dan tersedak jus labu yang tengah diminumnya.
“Jadi kapan kau akan mengajakku ke pesta dansa?” tanya Jinguji setelah Genki selesai marah-marah. Genki sontak membeku saat mendengar pertanyaan Jinguji, kemudian segera memalingkan wajahnya ke kiri, menghindari tatapan Jinguji.
“Kau bicara apa sih?” gerutu Genki.
“Hei, aku hanya bisa ikut kalau kau mengajakku. Kalau aku yang mengajakmu ya percuma.” kata Jinguji. Ia menusuk sosis goreng di hadapannya dan menggigitnya.
“Aku ada PR Ramuan. Aku harus pergi.” dengan tergesa-gesa, Genki membereskan tasnya lalu pergi ke ruang bawah tanah, meninggalkan Jinguji yang bahkan belum menelan sosis gorengnya.
Jantung Genki berdebar tak karuan dan ia tidak tahu mengapa. Sepanjang ia menuruni tangga batu, yang bisa ia dengar hanyalah suara degup jantungnya. Lorong gelap yang hanya diterangi oleh cahaya obor itu sangat sunyi, karena sebenarnya bel pertama baru akan berbunyi tiga puluh menit lagi.
Beberapa hari setelahnya, Genki terus menghindar dari Jinguji. Setiap kali Jinguji muncul, Genki akan segera membereskan barang-barangnya dan pergi ke arah yang berbeda. Sementara anak-anak lain di sekitarnya sangat bersemangat untuk membahas tentang siapa yang berhasil mereka ajak, atau akan mereka ajak, Genki sama sekali tidak berpikir untuk mengajak siapa pun. Sebenarnya ada beberapa anak perempuan yang mengajaknya untuk datang bersama ke pesta dansa (kemarin ada anak Ravenclaw kelas tiga yang menghampiri Genki saat ia berjalan menuruni tangga dari kelas Ramalan. Karena terkejut, Genki justru langsung berlari meninggalkan anak perempuan itu). Tapi entah kenapa Genki lebih memilih untuk menghindari Jinguji dibandingkan memikirkan siapa yang harusnya dia ajak ke pesta dansa minggu depan.
Hari ini adalah hari Sabtu dan biasanya Genki sudah bersiap-siap mengemasi barangnya untuk pulang ke London esok harinya menggunakan kereta Hogwarts Express untuk berlibur natal di rumah. Keluarga Genki adalah keluarga penyihir berdarah-murni yang berasal dari keluarga penyihir Jepang dan keluarga penyihir Eropa. Mereka selalu berkumpul bersama dan Genki jelas harus ikut pulang, terutama karena ini adalah hari ulang tahunnya.
Burung hantu berterbangan masuk ke dalam Aula Besar, membawa pos pagi ke masing-masing pemilik mereka. Beberapa koran Daily Prophet dijatuhkan ke beberapa anak, sementara lainnya membawa bungkusan yang diikatkan ke kaki mereka. Genki mendongak, tepat saat seekor burung hantu berwarna cokelat karamel meluncur ke arahnya. Burung hantu itu mendarat tepat di samping mangkuk serealnya, dengan kotak putih kecil terikat di kakinya. Genki membuka ikatan di kaki burung hantu miliknya itu, menawarinya roti bakar, mengelus badannya, kemudian membiarkan burung itu kembali terbang meninggalkan Aula Besar. Genki membuka kotak putih yang baru saja diantarkan padanya lalu tersenyum saat melihat sebungkus cokelat dan sekotak kalung di sana.
Kemudian Genki tersadar.
“Oh, shit. Ini hari ulang tahunku. Yuta pasti mencariku.” Genki segera mengemasi barang-barangnya, memasukkannya ke dalam kantong mantelnya, kemudian berlari keluar dari Aula Besar menuju perpustakaan. Jinguji tak akan mungkin mencari Genki ke perpustakaan.
Perkiraan Genki salah.
Genki berjalan menuruni tangga setelah menghabiskan dua jam di perpustakaan dengan membaca buku Hewan-Hewan Fantastis dan Dimana Mereka Bisa Ditemukan oleh Newt Scamander. Genki cepat-cepat menyembunyikan bungkus cokelatnya saat ia mendengar langkah Madam Pince, kepala perpustakaan, mendekat. Saat Genki berbelok ke lorong di arah kanan, Jinguji tiba-tiba muncul dan memblokir langkah Genki. Tinggi mereka yang persis sama membuat Genki terkejut saat tiba-tiba ia melihat kedua mata Jinguji di hadapannya.
“Demi Tuhan, Jinguji, kau sedang apa?!”
“Kenapa kau menghindar?” tanya Jinguji menyelidik. Genki hanya bisa terdiam sembari memandang sahabatnya. Genki memutus kontak mata dan menunduk memandang lantai batu. Jinguji mendecakkan lidahnya dengan kesal lalu menekan pipi Genki agar kembali menatapnya.
“Apa sih, Jin?”
“Kenapa kau menghindar?”
“Kau bakal begini terus sampai aku mengajakmu ke pesta?”
“Kau tidak menyukaiku?”
Suara Genki berhenti di kerongkongannya. Pertanyaan Jinguji barusan menyihirnya dan Genki terdiam begitu saja. Mereka berpandangan cukup lama sampai akhirnya Jinguji menghela napas pasrah.
“Ya sudahlah. Aku menunggu karena toh cuma kau yang punya wewenang untuk mengajakku, sementara aku tidak bisa mengajakmu. Aku yakin ada banyak anak perempuan yang menunggumu untuk mengajak mereka. Maaf.”
Wajah Jinguji tampak kecewa. Ia berbalik dan melangkah meninggalkan Genki yang terpaku di tempatnya. Setelah Jinguji menghilang dari pandangannya, Genki kemudian membiarkan dirinya untuk kehilangan keseimbangan dan bersandar pada dinding batu di sebelahnya. Semuanya menjadi begitu kabur. Kalimat terakhir Jinguji terus terngiang di kepalanya. Hanya jika Genki bisa menjawab pertanyaan Jinguji dengan jujur…
Tapi Genki tidak berani. Tanpa sadar, Genki membiarkan kakinya melangkah membawanya menuju halaman Menara Jam. Ia mendudukkan dirinya di tepi kolam air mancur yang dingin dan berselimut salju. Kalung pemberian orang tuanya yang tadi pagi dikirimkan padanya tampak tergantung di lehernya, bandulnya berkilat tertimpa sinar matahari.
Hati Genki terasa berat. Di satu sisi, ia ingin sekali mengajak Jinguji ke pesta dansa. Tapi di sisi lain, Genki merasa begitu ketakutan. Tentu, Genki percaya pada teori Kishi tentang Filch yang akan membawa Mrs. Norris ke pesta dansa, tapi itu adalah perkara yang jelas berbeda dari dirinya. Membawa binatang peliharaan, atau saudara, jelas berbeda dengan membawa sesama murid laki-laki ke pesta dansa. Tapi jujur, Genki cukup terkejut saat Jinguji menanyainya apakah ia tidak menyukai Jinguji. Apakah itu artinya, Jinguji menyukai Genki?
Genki menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Ia jelas tahu bagaimana populernya Jinguji di kalangan siswa kelas tiga. Sementara Genki hanyalah murid yang keberadaannya antara ada dan tiada. Jinguji hanya mengatakan itu karena Jinguji sudah menganggap pertemanan mereka seperti saudara. Jinguji adalah anak tunggal, wajar bagi dirinya untuk mencari sosok kakak di orang lain. Rasa suka yang dipunya Jinguji adalah rasa suka pada saudara. Dan seharusnya Genki juga mendefinisikan rasa sukanya sama seperti itu.
Entah berapa lama Genki duduk di sana. Jari-jari tangan Genki sudah berubah merah saat tiba-tiba butiran salju tak lagi menghujani rambut Genki yang sudah semakin basah. Genki mendongak dan mendapati Jinguji tengah berdiri di hadapannya, memegangi buku Quidditch dari Masa ke Masa di atas kepala Genki, melindunginya dari hujan salju yang semakin lebat.
Genki mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sesaat sebelum Jinguji menurunkan lengannya dan memukul pelan puncak kepala Genki dengan buku yang cukup tebal itu.
“Aku benar-benar harus mempelajari Legilimency agar bisa membaca pikiranmu. Kau itu sulit untuk dibaca, kau tahu?” Jinguji menghela napas panjang kemudian meraih lengan mantel Genki menariknya. “Ayo masuk. Kau kedinginan. Lama-lama kau bisa membeku di sini.”
Jinguji membawa mereka ke dapur. Ia sebenarnya ingin membawa Genki masuk ke ruang rekreasi asrama Hufflepuff untuk menghangatkan diri, tapi Genki menolak mentah-mentah karena para siswa tidak diperbolehkan masuk ke area asrama lain. Dan lagipula Genki adalah anak Slytherin, itu menambah poin buruk dari dirinya dan bisa-bisa anak Hufflepuff langsung menyihirnya menjadi pastel goreng kalau ia berani masuk ke dalam asrama mereka.
Jinguji akhirnya menyerah dan membawa Genki menemui beberapa peri rumah untuk meminta minuman hangat dan beberapa camilan. Para peri rumah dengan senang hati menawarkan cokelat panas kepada keduanya karena mereka mengenal Jinguji yang merupakan anak Hufflepuff yang setiap hari melewati dapur, dan juga karena mereka melihat kulit putih Genki yang berubah kemerahan karena kedinginan.
Genki dan Jinguji duduk di salah satu meja di pojok dapur. Para peri rumah memperbolehkan mereka duduk di sana sampai Genki merasa baikan. Kedua anak laki-laki itu kembali tenggelam ke dalam pikiran mereka masing-masing sampai akhirnya Genki buka suara.
“Maaf.” ucap Genki lirih. Jinguji melirik Genki yang kedua tangannya masih berada di cangkir cokelat panas.
“Kau tidak salah. Aku yang seharusnya minta maaf.”
“Tidak, tidak. Aku memang bersalah, karena…” Genki menelan ludahnya, “sudah terlalu takut untuk mengiyakan ajakanmu.”
Jinguji menaikkan pandangannya lalu menoleh pada Genki yang sama sekali tidak memandangnya. Mengiyakan ajakannya?
“Dan karena peraturan yang berlaku adalah anak kelas tiga boleh ikut hanya jika ada anak kelas atas yang mengajak, itu artinya aku yang harus mengajakmu. Tapi aku terlalu takut…”
“Maaf aku terlalu membebanimu, Genki.” Jinguji memutar cangkir cokelat panas di tangannya. “Tidak apa kalau kau keberatan.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Suara peri rumah yang saling mengobrol dan wajan yang saling beradu terdengar semakin keras. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Genki memutuskan bahwa tidak baik untuknya terus diam seperti ini.
“Yuta,” panggil Genki. Jinguji mendongak, menatap kedua mata Genki yang memandang cangkir di tangan Jinguji dengan lekat. “Kalau… kalau aku mengajakmu ke pesta dansa Natal, apa kau mau?”
Detik-detik berikutnya kembali dihabiskan dengan keheningan. Jinguji berusaha mencerna kalimat Genki sejenak, sebelum akhirnya ia tersenyum hangat.
“Tentu.”
Genki tersenyum dan semakin menunduk. Kedua pipinya terasa panas, mungkin efek dari cokelat panas yang habis diminumnya lima menit yang lalu.
“Dan,” lanjut Jinguji. Ia menarik tangan kiri Genki ke arahnya dan menyingkap lengan mantel Genki, memperlihatkan pergelangan tangan Genki yang kurus. Jinguji mengambil tongkat sihirnya dan mengayunkannya di atas tangan Genki.
“Orchideous.”
Untaian bunga dan ranting muncul di tangan Genki, melingkar di pergelangan tangannya. Genki mengerjap-erjapkan matanya dan memutar tangannya di depan matanya. Beberapa bunga berwarna merah muda dan biru kini tengah memeluk kulit tangannya.
“Selamat ulang tahun.” Jinguji tersenyum pada Genki yang terus mengagumi ciptannya.
“Dari mana kau belajar ini?” tanya Genki.
“Mm… Profesor Sprout.” Jinguji mengangkat kedua bahunya. Profesor Sprout adalah kepala asrama Hufflepuff sekaligus guru pelajaran Herbologi.
Genki tampak girang kemudian melempar badannya ke depan untuk memeluk Jinguji yang tampak terkejut. “Terima kasih, Yuta.”
Jinguji tersenyum senang dan membalas pelukan Genki. Jantung Jinguji sebenarnya berdegup kencang sedari tadi. Dan kini, saat semuanya jelas dan sesuai rencana, Jinguji merasa lega. Saat pesta dansa nanti, Jinguji akan pergi dengan manusia favoritnya, dan itu adalah Iwahashi Genki.
******
Genki membanting buku Ilmu Hitam: Penuntun Pertahanan Diri miliknya menutup. Para guru memberikan begitu banyak PR untuk dikerjakan pada libur Natal kali ini sekalipun mereka tahu bahwa pada Natal ini ada pesta dansa yang artinya murid-murid pasti akan sangat sibuk. Jika Genki bisa pulang ke rumah, ia pasti bisa mengerjakannya PR-nya dalam tenang di halaman rumahnya. Tapi saat ini Genki berada di ruang rekreasi Slytherin, duduk di salah satu meja di dekat perapian dengan beberapa anak Slytherin lainnya. Genki memandang sekelilingnya, ke banyak anak Slytherin yang tampak menikmati liburan mereka seakan tidak terbebani PR, lalu memutuskan bahwa perpustakaan akan menjadi pilihan yang lebih baik.
Setelah memasukkan buku Ilmu Hitam: Penuntun Pertahanan Diri, Kitab Mantra Standar Tingkat 4, buku Menyingkap Kabut Masa Depan, beberapa gulung perkamen baru, sebotol tinta, dan dua pena bulu, Genki beranjak dari kursi yang didudukinya sejak dua jam lalu dan berjalan keluar dari ruang rekreasi Slytherin menuju perpustakaan.
Di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi, Genki berjalan pelan sembari membaca tiap tulisan yang tercetak di punggung buku yang berjejer rapi. Jemarinya berhenti di depan buku tebal berjudul Kutukan dan Kontra-Kutukan oleh Profesor Vindictus Viridian kemudian menariknya dan membawanya kembali ke rak dimana tasnya berada. Genki membuka buku yang baru saja diambilnya tepat di halaman berjudul Kontra-Kutukan dan mulai menulis jawaban PR untuk Profesor Moody.
“Kau berhasil mengajak Jinguji?”
Pena bulu Genki berhenti bergerak saat telinganya menangkap nama Jinguji. Ia mendongak dan mengintip dari balik buku-buku di hadapannya. Di rak sebelah, ada dua anak perempuan yang tengah berdiri membelakangi arah pandang Genki.
“Tidak. Katanya dia sudah punya teman kencan. Sial, siapa yang jadi teman kencannya?” ujar anak perempuan berambut cokelat lurus yang menghentakkan kakinya ke lantai.
“Serius? Dua minggu lalu Millie juga meminta Jinguji untuk menjadi pasangan dansanya dan Jinguji bilang dia sudah punya teman kencan, tapi kupikir itu cuma omong kosong. Dia itu kelas tiga! Berarti yang mengajaknya anak kelas empat?” temannya yang berambut hitam lurus sebahu menoleh, menunjukkan raut wajah tak senang.
“Cih. Kupikir sainganku cuma anak kelas tiga. Siapa yang berani-beraninya mengajak Jinguji duluan?”
Genki kembali terduduk di kursinya secara perlahan. Genki baru benar-benar mengajak Jinguji ke pesta dansa tiga hari lalu, tapi Jinguji sudah memberitahu siapapun yang mengajaknya kalau dia sudah punya teman kencan sejak dua minggu yang lalu. Apakah itu artinya Jinguji sejak awal yakin bahwa mereka pasti pergi bersama? Atau mungkin Jinguji memang berniat untuk menunggunya?
Kata-kata dua anak perempuan barusan yang Genki yakin adalah anak kelas empat membuat Genki melupakan PR-nya yang menggunung. Ada banyak perempuan cantik yang mengajak Jinguji pergi ke pesta dansa, tapi Jinguji justru pergi dengannya. Terasa tidak benar, jika Genki harus mengaku. Jinguji seharusnya pergi dengan salah satu dari mereka dan menikmati pesta dansa Natal, bukan dengan Genki yang bahkan tak tahu bagaimana harus menghadapi teman-temannya nanti.
“Ugh….” Genki mengerang, menjatuhkan kepalanya ke atas buku tebal yang terbuka di hadapannya.
Dan sama seperti tiga minggu belakangan, Genki kembali menghindari Jinguji. Tingkah aneh Genki tentu tertangkap mata Jinguji yang membuntuti gerak gerik Genki dengan kedua matanya dari meja Hufflepuff. Genki bersikeras untuk tidak melihat ke arah meja Hufflepuff, dan berjalan kembali ke asrama Slytherin segera setelah ia menghabiskan makanannya.
Ini sudah satu hari sebelum Natal dan Jinguji sudah muak.
Genki baru saja berjalan turun dari kamarnya saat ia melihat dua anak kelas dua tertawa di dekat perapian. Di sela-sela tawa mereka, Genki bisa mendengar kata “Cowok Hufflepuff aneh” dan “Jaket hijau tua itu benar-benar tidak cocok untuknya”. Mata Genki melebar dan ia segera berlari menuju pintu masuk asrama Slytherin. Tepat di depan pintu, ia melihat Jinguji sedang bertengkar dengan Prefek Slytherin.
“Sudah berapa kali kubilang? Kau tidak boleh masuk ke dalam!”
“Tapi aku perlu menemui temanku!”
“Astaga kau itu bodoh ya? Tidak heran kau masuk Hufflepuff.”
“Jinguji!”
Genki buru-buru memegang lengan Jinguji yang tampak berang, membungkuk minta maaf kepada Prefek Slytherin, lalu menarik Jinguji pergi dari lorong bawah tanah. Baru setelah mereka tiba di jembatan batu di lantai satu, Genki melepaskan tangan Jinguji.
“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?” tanya Genki kesal. Bertengkar dengan Prefek Slytherin bukanlah langkah bijak untuk seorang Hufflepuff.
“Kenapa kau menghindariku lagi? Sebenarnya kau ini kenapa sih, Genki?” Jinguji balik bertanya dengan nada marah. Dadanya naik turun, menandakan bahwa Jinguji benar-benar marah. Genki menghindarinya setelah setuju untuk mengajaknya ke pesta dansa. Darimana masuk akalnya itu?
Melihat Genki yang terdiam membuat Jinguji semakin berang.
“Kalau kau memang ingin pergi dengan orang lain, bilang! Jangan menghindariku seperti ini berharap aku mengerti isi kepalamu yang super rumit itu! Kau pikir aku bisa membaca pikiranmu kalau kau tidak bicara apapun, hah?!” Jinguji meledak marah. Untungnya semua orang sedang sibuk di Aula Besar untuk sarapan, jadi tidak ada yang sedang berada di dekat mereka untuk menguping pembicaraan.
“Iya! Aku memang tidak mau pergi denganmu!” Genki berteriak dan seketika hati Jinguji mencelos. Dilihatnya kedua pundak Genki mulai gemetar. Genki menangis. “Tidak seharusnya kau pergi denganku. Ada banyak orang yang mengajakmu. Kau seharusnya pergi dengan mereka ke pesta dansa. Bukan denganku! Kau seharusnya memilih satu dari banyak perempuan cantik yang mengajakmu.”
“Tapi aku hanya ingin dirimu.” kata Jinguji cukup keras, memotong kalimat Genki. Ia memastikan suaranya cukup keras untuk didengar Genki di sela-sela isakannya. “Aku ingin dirimu, bukan mereka.”
“Kenapa?” Genki menatap Jinguji dengan tatapan tak percaya. Kenapa orang seperti Jinguji yang gampang berbaur dengan siapapun dan punya teman di semua asrama dari berbagai kelas lebih memilih pergi dengannya? Genki mulai merasa sedikit setuju dengan Prefek-nya, bahwa Jinguji ditempatkan di Hufflepuff karena dia bodoh.
“Karena aku menyukaimu! Apa lagi alasannya?”
Genki membatu di tempatnya berdiri. Matanya tak berkedip menatap kedua mata Jinguji, dan bodohnya ia tampak konyol tanpa disadarinya karena kedua matanya terbelalak seusai Jinguji menjawab pertanyaan Genki.
“Maaf.” Lanjut Jinguji. “Maaf aku harus mengatakannya seperti ini. Awalnya aku mau memberitahumu saat pesta dansa. Tapi sepertinya ini tidak bisa menunggu.”
Jinguji menatap Genki dengan perasaan bersalah, kemudian menunduk dan memandang kedua kaki Genki yang masih mengenakan sandal.
“Maaf aku membuatmu tak nyaman. Seharusnya aku tahu kalau aku tidak bisa memaksamu seperti ini, Genki. Kau jelas bingung, aku tidak menyalahkanmu. Dan kau selalu memikirkan apa yang akan dikatakan orang, seharusnya aku ingat itu sebelum memaksamu untuk mengajakku ke pesta dansa.”
Jinguji menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Maaf. Kau tidak perlu menungguku besok. Kau bisa pergi dengan orang lain. Maaf.”
Jinguji berbalik dan sudah berjalan beberapa langkah saat Genki memanggilnya.
“Yuta…”
Suara Genki bergetar, entah karena kedinginan atau karena ia menangis, atau mungkin keduanya. Jinguji ingin sekali berbalik dan melihat Genki, tapi ia takut. Ia takut Genki akan menolaknya dan ia akan menangis di depan Genki.
“Aku… aku juga ingin pergi ke pesta dansa denganmu.” Genki berujar lirih. Kedua tangannya terkepal, mengingatkannya untuk terus bicara. “Aku tidak percaya diri, karena kupikir kenapa seorang Jinguji mau pergi denganku kalau dia bisa pergi dengan perempuan lain? Aku juga takut orang akan membuat gosip aneh tentangku, dan tentangmu, kalau kita terlihat pergi bersama. Tapi sebenarnya… aku juga ingin pergi bersamamu.”
Genki mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Jinguji berbalik dan tengah menatap Genki dengan tatapan sendu yang seakan berkata apa-kau-serius. Sebelum Jinguji sempat membuka mulut, Genki melanjutkan pengakuannya.
“Aku… juga menyukaimu…”
Kali ini giliran Jinguji yang membatu di tempatnya. Kedua matanya melebar saat ia mendengar kata-kata Genki. Otaknya mencoba memproses apa yang baru saja didengarnya, berakhir dengan suara Genki terus terngiang di kepalanya.
Selama beberapa menit, suasana menjadi cukup canggung.
“Um… Jin―”
“Genki.”
“Huh?”
“Boleh aku memelukmu?”
Tanpa menunggu jawaban Genki, Jinguji melangkah maju perlahan. Jarak keduanya semakin dekat sampai akhirnya Jinguji berdiri tepat di depan Genki. Jinguji mengangkat kedua tangannya, kemudian melingkarkannya di leher Genki, memeluknya erat. Genki secara reflek menempatkan dagu di atas bahu Jinguji dan melingkarkan tangan di pinggang Jinguji. Tersenyum, Genki membenamkan wajahnya ke bahu Jinguji. Rasanya nyaman, dan mereka berdua menyukainya.
Mereka berdua berpelukan cukup lama sampai akhirnya Jinguji mengusulkan untuk mereka sarapan bersama. Genki mengiyakan dan keduanya berjalan beriringan menuju Aula Besar.
Hari berjalan cepat dan tiba-tiba hari sudah berubah gelap. Jinguji dan Genki berpisah di tangga batu dari Aula Depan menuju ruang bawah tanah. Genki berbelok ke kanan, menuruni undakan menuju lorong yang menjadi jalan ke pintu asrama Slytherin, sementara Jinguji berbelok ke kiri menuju dapur untuk tiba di pintu masuk asrama Hufflepuff.
Genki terbangun di pagi Natal dengan hati yang ringan. Salah satu keuntungan menjadi anak Slytherin adalah kau tidak akan pernah terbangun karena sinar matahari yang terlampau terang. Yah, meski kadang kau bisa saja terbangun oleh teriakan anak kelas satu yang bersumpah mereka melihat duyung berenang melewati jendela asrama mereka.
Di ujung tempat tidur Genki, beberapa kotak hadiah sudah tersusun rapi. Sepertinya semalam saat semua orang tidur, para peri rumah berkeliling untuk mengantarkan hadiah Natal kepada masing-masing anak. Di antara kotak-kotak hadiah itu, ada satu kotak kecil berwarna biru toska yang dililit dengan pita berwarna merah muda. Agak norak, mungkin, tapi Genki segera bangkit untuk mengambil kotak itu dan membukanya.
Sebuah gelang perak silver polos ditempatkan di dalam kotak, dibungkus dengan kertas putih yang ditulisi huruf G cukup besar. Genki tersenyum lalu mengambil gelang itu dan memakainya. Gelang itu memeluk pergelangan tangan Genki dengan sangat pas.
“Aku tidak mengerti kenapa dia selalu tahu apa yang bagus kupakai.” Gumam Genki dengan riang. Theodore yang baru saja masuk ke dalam kamar bersiul dan memuji gelang di tangan Genki.
Jinguji dan Genki berjanji untuk bertemu jam setengah delapan malam dan saat ini jam di dinding kamar asrama sudah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit. Kepanikan kembali menguasai Genki, dan sejak satu jam yang lalu ia terus meracau, berharap cumi-cumi raksasa menabrak dinding asrama Slytherin kemudian melahap semua isinya, termasuk Genki.
Hampir seluruh anak Slytherin sudah meninggalkan ruang asrama bersama pasangan dansa mereka, atau pergi untuk menemui pasangan dansa mereka dari asrama lain, sedangkan Genki masih berada di dalam kamar, mematut dirinya di depan cermin besar. Genki memakai setelan tuksedo berwarna hitam dengan kemeja berwarna putih. Ia mengenakan dasi berwarna biru tua dengan garis-garis putih. Genki juga mengepang rambutnya yang berada di sebelah kiri, membuat dua kepang kecil dan menyisakan rambut yang biasa ia jadikan sebagai poni.
Genki memejamkan matanya dan menghembuskan napas panjang, meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah mengamankan tongkatnya di dalam saku, Genki berjalan menuju pintu kamar dan melongok ke luar. Setelah memastikan tak ada orang, Genki keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga menuju ruang rekreasi. Genki melihat beberapa anak Slytherin, tapi memang hampir semua yang ikut pesta dansa sudah berangkat. Genki menaiki tangga batu melingkar menuju pintu asrama, bertanya-tanya apakah Jinguji sudah menunggunya di Aula Depan.
Tangga dari ruang bawah tanah menuju Aula Depan tampak cukup ramai. Mata Genki awas memperhatikan setiap orang yang dilewatinya, takut-takut kalau ia bertemu dengan anak Slytherin. Saat tersisa beberapa anak tangga lagi, Genki akhirnya bisa melihat Jinguji yang sedang berdiri di depan pilar. Jinguji mengecek jam tangannya, sepertinya merasa khawatir karena Genki belum kelihatan juga. Ketika Jinguji mendongakkan kepalanya dan menemukan Genki tengah berjalan ke arahnya, Jinguji tersenyum.
Jinguji memakai setelan tuksedo putih dengan kemeja berwarna biru dan dasi abu-abu gelap. Ia menyisir rambutnya yang ujungnya sudah mencapai tengkuknya itu dengan rapi. Jinguji nyengir saat melihat Genki menatapnya tak percaya.
“Pangeran berkuda putih? Serius?” Genki bertanya dengan nada mengejek.
“Aku memakainya karena aku yakin kau menyukainya. Ini sebenarnya milik ayahku, dan harus kukecilkan sedikit supaya muat. Tapi cocok kan?” Jinguji tersenyum senang. Ia ingat Genki sangat tertarik saat ia menceritakan kisah tentang pangeran berkuda putih, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk suatu saat mengenakan baju yang sama seperti di kisah yang diceritakannya.
“Cocok kok. Aku suka.” Puji Genki. Biasanya Genki bisa dengan leluasa mengolok atau memuji Jinguji, tapi kali ini rasanya sangat malu dan ia bisa merasakan pipinya memanas.
“Um… kalau begitu kita masuk ke dalam?” Jinguji mengulurkan tangannya pada Genki yang, dengan senyuman paling manis yang pernah Jinguji lihat, langsung melingkarkan tangannya di tangan Jinguji. Lalu keduanya berjalan bersama masuk ke Aula Besar yang telah disulap menjadi sangat cantik.
Dinding aula ditutup bunga salju perak berkilauan, dengan beratus untaian mistletoe dan sulur yang bersilang-silang di bawah langit-langit hitam berbintang. Meja-meja asrama telah lenyap, dan sebagai gantinya ada kira-kira seratus meja kecil berlilin menyala, masing-masing dikitari selusin anak.
Di belakang mereka, tepatnya di area di depan kastil, area itu telah diubah menjadi semacam gua penuh cahaya peri, yang mana artinya berarti ratusan peri asli sedang duduk di semak mawar hasil sihiran, dan berterbangan di atas patung yang tampaknya seperti patung Santa Claus dan rusanya.
Jinguji dan Genki duduk di meja yang paling ujung dekat pintu masuk Aula Besar, tepat saat The Weird Sisters naik ke atas panggung. Para juara dan pasangan mereka berdiri dan bersiap untuk membuka pesta dansa. The Weird Sisters memetik nada pelan merana, dan para juara beserta pasangan mereka mulai menari. Setelah beberapa lama, pasangan-pasangan dansa lain ikut memenuhi lantai dansa. Jinguji mengajak Genki untuk bergabung ke lantai dansa tapi Genki menolak karena ia tidak bisa berdansa di lagu lambat.
Lagu pertama selesai. The Weird Sisters kembali memainkan alat musik mereka dan kali ini lagu dengan beat cepat berjudul ‘Do The Hippogriff’ terdengar. Hampir semua orang berlari ke depan untuk ikut menyanyi dan melompat-lompat. Jinguji menarik tangan Genki yang akhirnya menyerah dan ikut ke dalam kerumunan. Genki tertawa saat Jinguji mengajaknya melompat-lompat kemudian menarik tangannya dan memutar tubuhnya. Genki lupa tentang semua ketakutannya, dan itu membuat Jinguji lega.
Tiga lagu selesai dibawakan dan kaki Genki mulai merasa pegal. Ia dan Jinguji berjalan kembali ke meja mereka saat Malfoy secara tiba-tiba memanggil nama Genki.
“Tak bisa menemukan pasangan dansa sehingga kau membawa teman muggle-mu, Iwahashi?” Malfoy duduk di meja tak jauh dari Genki dan Jinguji. Pansy Parkinson yang memakai jubah merah jambu pucat penuh rimpel duduk di sebelah Malfoy, tertawa mengejek ke arah Genki.
“Jangan hina temanku hanya karena orang tuanya muggle, Malfoy.” Genki menggertakkan giginya. Ia ingat betul bagaimana Malfoy menghina Hermione dengan sebutan Mudblood―Darah-Lumpur, sebuah hinaan paling rendah bagi penyihir kelahiran muggle yang biasanya diucapkan oleh para penyihir berdarah murni. Bukan tak mungkin Malfoy juga memanggil Jinguji dengan panggilan yang sama.
Malfoy mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak mengatakan apa-apa, Iwahashi. Tapi lumayan menyedihkan rupanya melihat orang sepertimu, penyihir berdarah murni dari Asia dan Eropa, tidak bisa menemukan teman kencan. Sungguh ironis, kau tak punya pilihan lain selain temanmu yang,” Malfoy memandang Jinguji, yang balik menatapnya dengan tatapan tak suka, dari kepala sampai kaki, “seperti ini.”
Darah Genki mendidih oleh amarah.
“Diam, Malfoy. Jinguji ini t―”
Tarikan kuat di lengan jas Genki membuatnya berhenti bicara.
“Genki, ayo pergi.” Jinguji berujar lirih. Dan tanpa memandang ke arah Malfoy, mereka berdua pergi meninggalkan Aula Besar.
Jinguji melepaskan tangan Genki saat keduanya tiba di tangga pualam. Wajah Genki tidak tampak ramah sama sekali, ia langsung menyilangkan tangannya di depan dada dan bersandar pada pilar.
“Malfoy kurang ajar. Dia selalu seperti itu terhadap yang bukan berdarah murni. Bahkan darah murni sekalipun akan dia hina kalau tidak sesuai dengan standar yang dia anut.” Genki bersungut-sungut. Jinguji yang duduk di anak tangga mendongak menatap Genki.
“Dan kau tadi hampir memberitahunya bahwa aku adalah teman kencanmu.” Kata Jinguji. Genki melirik ke arah Jinguji sesaat, kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke dua baju zirah yang tengah berdansa di ujung lorong. “Dan aku tahu, kau pasti akan menyesal tiga jam kemudian karena sudah memberitahu Malfoy, Genki.”
Genki menunduk. “Maaf.”
“Tak apa. Aku mengerti. Hal ini memang susah untuk diungkapkan ke publik.” Jinguji mendongak menatap Genki yang ternyata juga sedang menatapnya. “Aku tidak marah. Aku serius.”
“Tapi kita jadi tidak bisa kembali ke Aula Besar, padahal acaranya masih berlangsung.” Genki menghela napas panjang. Jinguji bangkit, menepuk celananya untuk membersihkannya dari debu, kemudian meraih tangan Genki.
“Aku tahu tempat yang akan kau sukai.”
Jinguji membawa Genki menuruni tangga pualam dan keluar lewat pintu depan. Mereka berjalan menyeberangi jembatan kayu, masuk kembali ke dalam kastil, berbelok ke kiri saat bertemu tangga menara menuju kelas Ramalan, lalu menaiki tangga menara Astronomi. Keduanya terus menaiki tangga sampai tiba di anak tangga paling atas. Langit bersinar cerah dan, meskipun malam ini turun salju, Genki bisa melihat bintang-bintang dengan jelas.
“Aku tahu kau akan menyukainya.” Ujar Jinguji bangga. Ia melepaskan tangan Genki, membiarkan pemuda yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu berkeliling.
“Aku menyukainya…” Kata Genki lirih. Saat ia masih mengagumi pemandangan dari atas menara Astronomi, sebuah alunan musik terdengar dari arah belakang. Genki menoleh, dan Jinguji sedang terlihat memegang radio.
“Aku memang sudah menyiapkannya di sini.” Kata Jinguji saat melihat wajah bertanya-tanya Genki. “Dan, oke, sekarang sudah pas.”
Jinguji meletakkan radio di atas lantai. Suara musik mengalun indah dari radio hitam yang dipinjam Jinguji dari teman satu asramanya.
Bintang-bintang berkelip indah saat Jinguji memegang pinggang Genki dan menariknya mendekat, membuat anak Slytherin itu terkejut. Jinguji meletakkan tangannya di sisi kanan dan kiri pinggang Genki, dan Genki secara perlahan mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di atas bahu Jinguji.
Musik mengalun lembut, seiring dengan Jinguji dan Genki yang berdansa dengan ritme lambat. Keduanya saling menatap ke mata masing-masing, terhanyut ke dalam perasaan yang tak mereka ungkapkan. Genki berputar, dan saat ia kembali ke posisinya semula, Jinguji meletakkan tangan kirinya di belakang pinggang Genki, membuat jarak mereka semakin dekat. Genki tertawa, disusul oleh Jinguji yang ikut tertawa. Mereka menempelkan dahi satu sama lain, menyesapi aroma manis dari perasaan yang tersampaikan malam ini.
Di pesta dansa Turnamen Triwizard yang kembali diadakan setelah seratus tahun lamanya, dua insan dari dua asrama berbeda berdansa di bawah sinar rembulan di puncak menara, mencurahkan perasaan mereka dimana tak ada satu pun mantra sihir yang dapat mengubahnya.
"Aku menyukaimu"
"Aku tahu"
"Hei"
"Aku juga menyukaimu"
