Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-02-09
Completed:
2023-02-16
Words:
14,270
Chapters:
12/12
Kudos:
12
Bookmarks:
4
Hits:
703

Love in Moscow

Summary:

Kisah klasik tatkala larangan dilanggar karena cinta tidak pernah permisi dan tidak juga pandang bulu.

Notes:

This is a remake. You can find the original one with the same title on this site too.

Chapter 1: Under the Red Moon

Chapter Text

Hari ini giliran Taeyong yang berjaga malam di Cieri Hostel. Tepat ketika gerhana bulan total terjadi. Ada alasan kenapa Jeno lebih suka berjaga dari pagi hingga sore. Bukan, bukan karena ia tidak suka berjaga malam dan tidak ingin waktu tidurnya terganggu, hanya saja ia ingin menikmati fenomena-fenomena alam yang terjadi di malam hari.

Jeno baru meninggalkan Cieri Hostel setelah membantu membersihkan ruang tamu. Ada matryoshka di dalam lemari kaca yang ia tidak ingat kapan pernah membelinya. Dan ketika membersihkan boneka itu, ia tidak bisa menemukan boneka yang terkecil. Seharusnya ada satu boneka lagi yang kepalanya sama sekali tidak dapat dibuka, boneka terakhir, tapi ia tidak bisa menemukannya di mana pun. Entah mungkin jatuh atau ada kesalahan dalam produksinya. Jeno tidak ambil pusing, ia ingin segera ke tempat tujuannya.

Sejak beberapa hari yang lalu, surat kabar dan media lainnya sudah memberitakan bahwa akan ada gerhana bulan total hari ini. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Ini gerhana bulan total pertama di tahun ini, dan Jeno tentu tidak akan melewatkannya begitu saja. Apalagi jika itu berkaitan dengan peninggalan kedua orang tuanya, Cieri Hostel.

Cieri berarti gerhana bulan dalam bahasa Latin. Jika dilafalkan, akan terdengar seperti ceri. Ditambah fakta gerhana bulan total dan ceri memang sama-sama berwarna merah. Jeno pikir, kedua orang tuanya sangat jenius menamai usaha mereka seperti itu. Sang ibu sangat menyukai buah ceri, sementara sang ayah sangat mengagumi gerhana bulan total. Alasannya karena gerhana bulan masih bisa dinikmati dengan mata telanjang, sementara gerhana matahari tidak. Dan merahnya pun terlihat indah dalam jelaga malam.

Tentu ini bukan kali pertama Jeno menikmati gerhana bulan, tapi kali ini, ia ingin menikmatinya dari tepi Sungai Moskva. Jika ia melihatnya dari sana, tidak akan ada yang menghalangi pandangannya. Tidak ada gedung-gedung tinggi sejauh mata memandang, ia bisa puas memandangi fenomena alam ini, ditambah pemandangan sekitar Sungai Moskva yang memang indah.

Jeno hampir sampai di spot favoritnya saat ia melihat seseorang sudah lebih dulu berada di sana. Seorang pria. Rambutnya berwarna pirang kecoklatan, dari helainya yang menari indah tertiup angin malam pun terbayang lembutnya.

Pria itu membelakanginya, namun saat ia menengok ke samping, Jeno bisa melihat bahwa ia adalah warga lokal dari garis wajahnya. Iris kelabunya juga sedikit menyala dalam gelap. Saat jarak mereka semakin dekat, iris itu akhirnya bertemu dengan netra teduh Jeno.

Jeno merasa sorot itu tidak asing, tatapannya akrab, seakrab dirinya dengan kota Moskow. Seolah ia pernah mengenalnya, sudah pernah menatapnya, entah kapan dan di mana. Sejauh otaknya dapat mengingat, ia sama sekali tidak bisa menemukan jawabannya dalam tumpukan memori. Teman sekolahnya waktu kecil kah? Sesama pelanggan kafe yang sering ia kunjungi? Atau mungkin orang itu pernah menginap di guesthouse-nya? Ada bagian di kepalanya yang terasa sakit semakin ia mencoba untuk mengingatnya, semakin ia mencoba menerka-nerka.

Yang paling aneh adalah ia merasakan adanya kerinduan dalam kedua bola mata itu. Tapi rindu karena apa? Bukankah ini pertemuan pertama mereka? Namun ia sendiri juga merasakan rindu yang sama dalam palung hatinya. Seolah nuraninya berbisik bahwa ia juga sudah menunggu momen ini sejak lama. Entah sejak kapan pastinya.

Jeno ingin menanyakan siapa sebenarnya lelaki itu. Apa alasan yang membuatnya merasa tidak asing begitu tatapan mereka bertemu? Apa yang pernah terjadi di antara mereka? Apakah mereka terkena sihir lalu seluruh ingatan mereka menghilang? Namun lidahnya terasa kelu. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.

Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Selain rindu, kini dari mata itu Jeno juga bisa melihat sendu. Apa yang membuatnya begitu sedih? Apa yang membuatnya semurung ini? Namun jauh di balik rindu dan sendu itu, Jeno masih bisa melihat seberkas kelegaan dan bahagia.

Segalanya terasa senyap dalam sekejap. Atau mungkin ia yang mendadak tuli? Suara mobil di kejauhan, suara air di sungai, serta suara kapal yang melintasinya seakan teredam. Mungkin ada sesuatu. Banyak. Ia tahu banyak pertanyaan sedang berlalu-lalang, tapi ia ingin memusatkan seluruh perhatiannya pada saat ini.

Angin di perbatasan antara musim panas dan musim gugur meniup semua hangat yang didapat kala siang. Lagi pula ini Moskow, dingin tidak pernah benar-benar meninggalkan tiap sudutnya. Mungkin sedikit menggerakkan tubuh bisa membawa hangat kembali? Dengan berdansa mungkin? Berdansa sebersamaan dengan gerhana bulan total.

Didorong oleh suasana yang ada serta instingnya, tangan Jeno terulur, meminta untuk disambut oleh lelaki sebaya di hadapannya. Ajakannya disambut dengan sedikit keraguan yang menghiasi wajah pria itu. Terdengar bunyi sepatu mereka mengetuk-ngetuk paving block di jalan setapak dekat Jembatan Bolshoy Kamenny. Kaki-kaki mereka seolah disihir untuk terus bergerak tanpa ada yang sadar hitungan yang digunakan. Mereka hanya berputar, berputar, dan terus berputar.

Tangan mereka saling menggenggam erat, seolah renggang sedikit saja, salah satunya akan langsung menghilang terbawa angin malam. Yang mengajak berdansa, merangkul pinggang pasangan dansanya. Menuntun tubuhnya mengikuti lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka, mengayun bersama angin.

Jeno tidak melepaskan pandangannya dari manik indah pria di hadapannya. Tidak ketika ia bisa merasakan kenyamanan. Tidak ketika ia bisa merasa dirinya utuh. Dan ia juga tidak ingin melepas genggaman tangan dan rangkulannya pada pinggang pria ini. Rasanya semua begitu tepat. Jika boleh, ia ingin terus seperti ini. Jika boleh, ia ingin menyimpannya dalam memori.