Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-02-24
Words:
478
Chapters:
1/1
Hits:
15

rekuiem teluk

Summary:

Kau, Lián, tidak pernah merasa asing dengan dingin yang berumah di jasadmu.

Work Text:

Kau, Lián, tidak pernah merasa asing dengan dingin yang berumah di jasadmu.

Dahulu, bilik di laboratorium selalu berada di temperatur rendah, sesak dengan aroma antiseptik dan cairan kimia yang diapit oleh dinding-dinding putih kusam. Bibirmu membiru ketika dikurung di sana, kain katun tipis bajumu tidak mampu menghalau udara yang menusuk dan keheningan tidak lebih berupa belenggu danyang; bisik-bisik para ruh orang mati teredam di sana, tidak ada ruang untuk okupansi di ekspansi tersebut. Jemari Dokter berbalut sarung tangan steril seringkali terasa membeku di kulitmu, begitu pula dengan pisau bedah yang membabit jisim milikmu. Dan kau pikir, tidak ada bedanya dirimu dengan mayat-mayat yang telah terbujur kaku redam di tempat itu. Darah mengering di lukamu yang terjahit kembali, tapi dingin masih tidak meninggalkan dirimu. Kau menggigil hebat.

Sama seperti saat ini, ketika Farrukh menghempas tubuhmu ke tanah dan menghujam belati ke ulu hatimu, kau merasakan dinginnya besi yang merobek dagingmu, begitu kontras dengan darah yang mulai menganakkan aliran dari ceruk rempakmu.

“Kau—bedebah.” Gigimu menggeretak, dan belati yang ia genggam mengoyak sariramu saat bilahnya dia benamkan di bawah tulang rusuk lebih dalam, merenggut erangan dari tenggorokanmu. Kau mencoba ‘tuk melepas dirimu dari cengkramannya; kepalan tinju bertubi-tubi kau hantamkan pada dadanya tetapi dia tetap bergeming, menjadikan usaha tersebut sia-sia dan rasa sakit semakin merepih habis kesadaranmu. Larik komando masing terngiang di kepalamu. Gemuruh pertikaian, segala tentang perang dan konfrontasi yang kini tengah bergejolak, mandat rasam tentang siapa yang menjadi musuhmu. Sehingga, apa yang bisa ia jadikan alasan untuk ini?

Napasmu memberat dan kau mengeraskan rahang. “Kenapa kau melakukan ini?”

Ia pun menggumam. “Kau tahu jika aku melakukan ini untukmu, Lián.”

Farrukh sudah kehilangan akalnya. Itu adalah konklusi yang kau ambil dan kau ingin menghentam tengkorak kepalanya sebab berani-beraninya ia terdengar sedih seakan bukan dia yang menujammu dengan sebuah belati. Farrukh, temanmu yang terkasih, memanglah suatu enigma; benang-benang yang tidak pernah berhasil kau urai. Farrukh yang senantiasa menyala seperti api di malam musim panas, sang kuasar mikro, dengan gemuruh tawa berbubuh limau madu dan kelakar nan tidak pernah usai memantik kejengkelanmu. Farrukh yang selalu lapar, dan kau tahu rasa hampa selalu mencabiknya dari dalam, ia harus makan. Makan, makan, makan.

“Kau gila.” Suaramu tercekat, air mata mengalir dan kau merasakan jarinya yang kemudian menyeka tangismu bak meninggalkan luka bakar pada bilah pipi yang ia sentuh.

“Tidakkah kau mengerti?” Ucapnya parau. “Aku melakukan ini untuk kebaikanmu. Demi kau.” Besi belati kini telah sepenuhnya terbenam di tubuhmu. “Aku tidak akan membiarkan kau memerangi perang yang tidak berkesudahan seperti ini.” Detik berjalan begitu lambat, tiap tarikan napas dan helaan yang jatuh darimu terhempas berkeping. Tubuhmu tidak dapat menisik luka jika seperti ini dan kegelapaan kini mulai mengalingi lembah kesadaranmu.

Kau selalu mengira jika kematian akan terasa dingin. Seperti suatu konsolasi, sebuah pengampunan. Seperti cahaya-cahaya halus yang berada di naungan bilik laboratorium ataupun kuil dengan abu setu.

Tubuh Farrukh yang merengkuh jasadmu terasa begitu hangat.