Work Text:
Sejak keadaan berhasil dikuasai sekitar satu jam yang lalu, sirine milik empat mobil Kepolisian Kota New York masih belum berhenti melaung-laung. Tokoyami duduk pada tepian trotoar 9th Avenue, tepat di pelataran kedai Starbucks yang atapnya keropos, tapi tetap melayani beberapa pengunjung yang didominasi oleh buruh kantoran dan pria berseragam (kapitalisme betul-betul penyakit kronis). Satou yang tak kuat menahan kantuk menumpukan dagu pada Ojirou di sampingnya.
Mentari sudah setengah naik ke getanya, membasuh mereka dengan kehangatan dan cemerlang aurum yang menyilaukan. Dua gelas kopi terangkum dalam genggaman Tokoyami; satu americano sudah ia sesap sedikit-sedikit, sementara punya Hawks yang ekstra susu belum disentuh karena ia masih sibuk bergumul dengan johan dan polisi setempat.
Terkadang Tokoyami heran, tidak paham bagaimana cara Hawks mengatur segalanya, mulai dari tugas kepemimpinannya di agensi, pekerjaan-pekerjaan rahasia berskala multinasional, aksi-aksi menegangkan di Kyushu, sampai perkara administrasi; apakah dia pernah tidur?
Tidak selama tiga hari terakhir, itu yang pasti. Tokoyami belum melihat kepala Hawks terantuk apa pun sama sekali. Dan semalam ia masih cekatan menghadang antek-antek Flect Turn sembari mengarahkan bulunya untuk membuang bom picu jauh-jauh dari peradaban.
Tokoyami terheran-heran, juga takjub.
Bagaimana caranya agar ia dapat bekerja seperti Hawks nanti?
“Oi, anak-anak UA! Ah … lihat kantong-kantong mata itu. Kalian pasti capek sekali.” Lima belas menit kemudian, Hawks kembali dan menyapa mereka, tidak sadar diri dengan keadaannya yang tak kalah berantakan. Ia menjatuhkan diri di sebelah Tokoyami dan segera menerima kopi pesanannya. “Sepertinya aku masih harus menunggu sampai orang-orang ini selesai memeriksa area. Kalian kembalilah ke hotel dan tidur. Tugas kalian sudah selesai.”
Satou terperanjat karena dagunya meluncur dari penopangnya. Dayanya lindap, mungkin sampai tidak bisa tertolong dengan sesuatu yang manis. “Uh ….” Dia berkedip, mengumpulkan kesadaran. “Tapi Hawks-san belum—”
“Nu-uh, kalian akan pingsan kalau menungguku. Beristirahatlah. Ini perintah dan aku tidak menerima protes.”
Patuh akan arahan tersebut atau mungkin memang lantaran sudah tak tahan, Satou dan Ojirou bangun dan membereskan perlengkapan mereka. Tokoyami ikut berdiri, tapi ia tidak berjalan menjauhi Hawks. Alih-alih, dia menunduk pada mentornya yang asyik menghirup kopinya sembari memperhatikan satuan aparat Amerika membenahi kota mereka yang berantakan. Dark Shadow mengeluarkan cicip rendah nan bingung.
“Tokoyami?” Ojirou memanggil beberapa meter dari arah utara.
Hawks mendongak, baru sadar kalau Tokoyami tidak ikut menjauh. “Tsukuyomi, kenapa kau masih di sini?”
“Hawks-san, izinkan aku tetap tinggal di sini dan membantumu. Aku bisa belajar beberapa hal lagi kalau kau mengizinkan.”
Separuh alis Hawks melancong ke pertengahan dahinya. “Memangnya kau tidak lelah? Teman-temanmu nyaris mendengkur di pinggir jalan tadi. Kau tidak mengantuk?”
Tokoyami tidak punya alasan yang pas, jadi ia cuma menggoyangkan gelas plastik yang sudah setengah surut, berharap hal itu akan menjelaskan kenapa ia tidak selemas teman-temannya. Mulanya, Hawks cuma mengamati dengan skeptis, namun Tokoyami tiba-tiba membungkuk, sembilan puluh derajat besarannya, diikuti oleh Dark Shadow yang akhirnya mengerti akan motivasi inangnya, berharap itu bisa melelehkan hati Hawks yang terbangun dengan pondasi kelewat kukuh.
“Oke, oke. Baiklah. Kau boleh tinggal. Tidak usah formal begitu.” Hawks melambaikan tangannya ringan. Dia menepuk-nepuk tempat yang ditinggali Tokoyami. “Berhenti membungkuk dan sini duduk lagi.”
Memirsa insiden tersebut, Satou dan Ojirou konstan memutar tumitnya, muncul lagi di hadapan Hawks dan Tokoyami sambil menggaruk tengkuk mereka. Giliran Ojirou yang bertanya dengan hati-hati setelahnya, “Kalau Tokoyami tidak kembali ke hotel, haruskah kami juga menunggu sampai Hawks-san selesai …?”
“Inikah yang disebut plus ultra? Atau kalian cuma segan padaku?” Hawks terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. “Tidak, tidak. Kalian tidurlah. Cukup satu anak magang yang plus ultra dalam satu hari. Giliranmu menggangguku—” Ia menunjuk Satou, “—adalah besok ketika kita study tour ke Patung Liberty. Dan kau, Monkeyman, lusa di Broadway.”
Satou dan Ojirou masih saling bertatapan, tapi hal itu membuat Hawks mendecak tak sabar. Ia akhirnya berdiri, lalu mengalungkan lengannya di bahu mereka, menepuk dada keduanya beberapa kali dari posisi belakang. Sayap merahnya mengembang di belakang punggung, ancang-ancang serius jika berhadapan dengan musuh, walau Tokoyami tahu kali ini ia tidak berintensi jahat.
“Aku serius. Kalian harus pergi ke hotel. Salah satu tugasku adalah menjaga kalian agar tetap utuh lahir dan batin sampai kita pulang ke Musutafu. Paling tidak jangan menambah sakit kepalaku,” geramnya dengan nada rendah, penuh ancaman. Tokoyami bertanya-tanya soal sisi lain Hawks yang berbahaya, sisi lain yang pasti Hawks miliki, tapi tidak pernah ia tunjukan di kantor ataupun mata publik. “Kalau kalian tidak pergi, aku akan menerbangkan kalian sendiri ke hotel.”
Paling tidak, gertakan berbalut keuntungan tersebut mujarab membuat Satou dan Ojirou merayap terseok-seok kembali ke hotel. Hawks benar; mereka terlihat lebih kacau dari Tokoyami. Berjalan saja tidak lurus.
Hawks mengawasi keduanya sampai hilang di belokan, lalu menoleh lagi pada para polisi, dan akhirnya melayangkan pandang ke sekeliling. Sang wira menghela napas sedikit. “Ah … urusan ini sepertinya akan berlangsung agak lama.” Dia bersedekap, lalu berputar dan menatap Tokoyami yang balas memandangnya dengan polos. “Kalau kau tidak mau tidur, paling tidak aku harus memberimu pakan.”
Pakan, seperti Tokoyami adalah seekor hewan piaraan.
Diam-diam, Tokoyami mendengus. Ia yakin Hawks menangkapnya; melihat bagaimana cengir di bibirnya melebar signifikan, puas berhasil mengganggu muridnya, bahkan di di negeri asing, di tengah kesibukan yang sedang berlangsung. Luar biasa.
Tak menunggu lama, Hawks mulai mengayunkan tungkai, dan meninggalkan tempat kejadian perkara. “Ayo, Bebek Kecil. Ikuti aku,” ajaknya tanpa menoleh.
Lekas-lekasi, Tokoyami bangkit dan membuntuti. “Ke mana?”
“KFC?” Jempol Hawks menunjuk ke gerai lain tak jauh dari posisi mereka. Tirainya sedang digulung ke atas. Sekali lagi, kapitalisme benar-benar penyakit yang tak tertolong. “Kid’s menu cukup untukmu atau aku harus membelikan porsi orang dewasa?”
Mentornya memang keren, tapi harus Tokoyami akui kadang dia bisa benar-benar menyebalkan.
Hawks berakhir memesan dua combo popcorn nuggets dan classic meal menu untuk di makan di tempat. Juga, dua bucket berisi enam belas ayam yang akan dibawa kembali ke hotel untuk oleh-oleh buat Satou, Ojirou, serta dua sidekicks-nya yang tergabung dalam rombongan misi.
Jika tidak masuk dalam gugusan ini, Tokoyami yakin ia tidak akan pernah punya kesempatan berpelancong ke Amerika. Dan ia tidak akan tahu kalau mereka menyajikan ayam dengan kentang tumbuk dan biskuit di Negara Paman Sam ini. Jepang lebih ramah dengan kentang goreng atau burger sekalian, walaupun mungkin menu kentang tumbuk memang lebih cocok untuk panganan saat Natal tiba.
Keduanya mengambil tempat duduk di tepi jendela agar Hawks masih bisa mengawasi para petugas di seberang jalan, kalau-kalau mereka butuh bantuannya lagi.
“Kau tahu apa yang lebih menyebalkan dari terjun ke lapangan untuk menangkapi perampok cap teri di sana-sini?” Sekonyong-konyong Hawks mengusik hening, berbicara di sela gigitannya pada ayam yang masih panas dan berasap.
Oh, dia tahu yang ini. Asisten Hawks pernah bercerita kalau pria itu paling malas mengisi daftar-daftar yang berkaitan dengan kronologi aksinya. Minta tanda tangan untuk persetujuan pun agak sulit, kadang malah bisa diundur sampai lebih dari seminggu. Maka, apalagi yang lebih Hawks benci selain, “Administrasi?”
“Pintar,” sanjung mentornya sambil mengangguk dengan penuh kebesaran diri. Dark Shadow mendengkur kesenangan karena mendapat validasi. “Aku bisa menangkapi seratus perampok cap teri dalam satu hari. Tapi, pengurusan dokumen-dokumennya akan memakan waktu lebih dari dua minggu. Menyebalkan. Itu kenapa aku ingin dunja ini cepat-cepat damai. Supaya pekerjaanku ringan sedikit."
"Atau kau bisa menyerahkan tugas-tugas remeh pada bawahanmu?"
"Tidak sesederhana itu, tapi idemu bagus untuk awalan. Kalau begini terus, kau bisa punya agensi sendiri di masa depan, tahu? Atau mungkin kau mau meneruskan agensiku sementara aku pensiun?”
Tokoyami mendengar gelak Hawks yang tak serius; atensinya lebih berfokus dalam usaha menyendok kentangnya yang diselimuti kuah daging. Dark Shadow bergelung di dalam jubahnya. Tokoyami bisa merasakan letih yang dimiliki sang bayangan, mirip dengannya, walau Dark Shadow punya tendensi untuk bergajak lebih kekanak-kanakan daripada dia. Tokoyami menggeleng, setelah suapannya tandas.
“Aku tidak akan bisa memimpin sebuah agensi sepertimu, Hawks-san.”
Respons tersebut membuat Hawks berhenti mengunyah. Kepalanya terteleng sekian derajat, menginvestigasi. “Kenapa tidak bisa?”
“Aku tidak sehebat dirimu.”
Tawa lain meloncat dari mulutnya. Hawks tampak seperti menahan rasa geli yang teramat sangat. “Kau pikir aku hebat?”
“Semua orang pikir kau hebat.”
“Ah, Tokoyami-kun,” Hawks memanggil nama aslinya dan bukan nama pahlawannya. Tokoyami mendongak demi menemukan kerlip jenaka di mata pria itu. “Kupikir kita sudah lebih dekat daripada semua orang.”
Lagi-lagi, Tokoyami tidak bisa mencerna apa yang dimaksud oleh Hawks. Tidak mengerti seperti apa pria itu memandang dirinya sendiri.
Ada kalanya, Hawks berperangai selayaknya enigma. Ada sebuah misteri yang terkubur dalam-dalam jauh di balik persona yang ringan dan memukau. Silap mata, Hawks terbersit penuh percaya diri, mungkin malah agak arogan. Akan tetapi, Tokoyami bisa melihat sesuatu yang disamarkan. Mungkin karena ia seringkali berpikir terlalu banyak soal hal-hal yang tidak perlu dipikirkan atau akibat firasatnya yang kuat. Tapi begitulah impresi yang ia terima dari Hawks sejak hari pertama ia menginjakkan kakinya di Kyushu awal musim panas yang lalu.
Tak ingin menyentuh hal-hal yang kelewat personal, Tokoyami tidak bertanya atau menanggapi. Dan Hawks malah melanjutkan perkataannya; “Percayalah, Tokoyami-kun, kau lebih hebat dariku. Aku bisa melihatnya.”
Menakutkan bagaimana pujian dari seseorang yang kau teladani bisa membuatmu berbesar hati sekaligus takut. Bagaimana jika suatu saat Tokoyami tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut? Bagaimana kalau ia berakhir mengecewakan mentornya? Dark Shadow memukul perutnya pelan. Dia bisa mendengar omelan sang bayangan dalam kepalanya. Barangkali, itu soal nanti. Sekarang, ia cukup menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih.
Ini Hawks. Satria Nomor Dua se-Jepang Raya. Dan ia memberikan Tokoyami kesempatan untuk belajar banyak dari agensinya, membongkar sangkar yang selama ini mengurungnya, memberikannya dukungan dan penguatan yang tak pernah terlintas dalam kepalanya. Tentu saja Tokoyami sangat merasa dihargai.
Itu dulu yang penting.
Biarkan dia menyerap kebanggan yang memerciki jutaan sel dalam tubuhnya.
“Kadang ….” Tokoyami mengaduk-aduk kentangnya, mendadak merasa seperti bocah lima tahun di hadapan ayahnya.
“Hmm?”
“Kadang aku bertanya-tanya bagaimana kau melakukan semuanya.” Tokoyami menunduk, kehangatan menjalari wajahnya. Hawks menunggu dengan sabar, sampai Tokoyami berani merajut kontak mata dan mengelaborasi apa yang ia maksud. “Kau bisa menjalankan semuanya dengan baik, Hawks-san. Kau belum tidur selama tiga hari dan kau masih bisa berfungsi dengan sempurna. Bagaimana caranya?”
“Oh! Hmm, pertama-tama; aku tidak sempurna. Tapi, ini akibat kebiasaan saja. Pelatihanku di komisi dulu agak lebih intens dari pelatihan-pelatihan di sekolah pahlawan, tahu?” Hawks mengedikkan bahu cuek. Tokoyami merinding. Sekeras apa pelatihan yang dimiliki Komisi Keamanan Publik jika Hawks bilang intensitasnya jauh melampaui UA? Bagaimana caranya Hawks bertahan? Setangguh apa ia sesungguhnya? “Jam terbang juga berpengaruh. Kau akan mengalaminya nanti, setelah kau lulus. Tapi, untuk sekarang, paling tidak nikmati dulu masa-masa muda yang kau miliki. Kau akan merindukannya nanti.”
Pertanyaan selanjutnya terlontar tanpa saringan, tidak sengaja menyentil bagian-bagian yang sebelumnya Tokoyami hindari. “Apakah kau juga merindukan masa mudamu?”
Kali ini, sebuah ekspresi tak terbaca melintas di wajah Hawks. “Ah, itu … sedikit?" Tapi, dengan segera Hawks sukses menguasai gerak-geriknya lagi. "Makanya kau jangan pusing-pusing dulu. Latihan yang banyak, belajar yang baik. Hal-hal di luar itu bisa kau serahkan pada yang lebih profesional, sampai tiba saatnya kau harus menggantikan kami. Plus ultra, tapi jangan terlalu berlebihan, oke?”
Entahlah. Advis itu terdengar dangkal tapi juga cukup baik, jadi Tokoyami mengangguk saja. Mereka melanjutkan sarapan sambil mengamati burung merpati yang mulai berdatangan untuk mematuki apa saja yang tercecer di aspal yang memanas. Sirine akhirnya berhenti dibunyikan, namun kini ada barikade-barikade yang dibangun, diikuti dengan kedatangan beberapa mobil pemadam kebakaran dan para wartawan untuk meliput situasi pasca bencana.
Seorang hero setempat menyeruak dari kerumunan yang terbentuk, lalu melambaikan tangan pada Hawks; memberi gestur ke kiri, di mana sekelompok jurnalis mulai mengatur arah kamera dan menyambungkan pengeras suara mereka dengan alat pendengar yang menggantung di telinga. Hawks menyelesaikan gigitannya pada nugget terakhir, lalu mendesah lirih. Akan tetapi, sejurus kemudian netranya jatuh pada sosok Tokoyami dan anak itu bersumpah ia bisa melihat sebuah bohlam menyala di atas kepala sang wira.
“Tsukuyomi! Kau punya laporan untuk dikumpulkan sepulang dari misi ini, ‘kan?”
“Tentu saja.”
“Hmm, sudah belajar soal hubungan masyarakat di sekolah?”
Ya. Mount Lady tiba-tiba muncul di depan kelas dan membuat sandiwara bertajuk wawancara palsu dengan berbagai skenario. Bukan materi favorit Tokoyami. Dia mungkin akan sebisa mungkin menjauhi wartawan jika nanti terjun sebagai profesional. Kendati demikian, mereka semua pun sudah diwanti-wanti kalau bagian ini sama pentingnya dengan pelatihan bertarung dan bertahan.
Oh …. Oh, tidak. Seringai timpang di bibir Hawks itu gawat. Tokoyami hampir bisa melihat roda-roda yang berputar dalam kepalanya. Ujaran selanjutnya menjadi bukti yang valid atas prasangka Tokoyami; “Bagaimana kalau kau berlatih memberikan keterangan pada pers?”
“Hawks-san?”
“Kau bilang mau belajar dariku, ‘kan?” Hawks berdiri, mengelap tangannya pada tisu yang masih bersih, mencangklong dua ember ayam goreng lainnya. Tokoyami bahkan tidak sempat menyelesaikan ayamnya—tahu-tahu sudah diseret pergi dari tempat duduknya menuju kesibukan yang terjadi. “Bilang saja kau juru bicaraku dan semua akan baik-baik saja.”
“Tapi, aku belum pernah wawancara dengan jurnalis sungguhan dan—”
“Ingat ini: Hal terpenting dalam jumpa pers adalah menyampaikan informasi-informasi yang kita miliki secara jujur dan teratur, tapi tidak memberikan keseluruhan data. Kau mengerti?” Dua puluh langkah. Hawks menyodorkan Tokoyami pada si hero lokal yang memakunya sangsi. Pria itu tak gentar, mengangguk dengan yakin sambil mempromosikan Tokoyami dengan baik.
"Hawks-san, kau yakin?"
“Seratus persen yakin! Kau adalah anak magang kepercayaanku. Lagi pula, hasil beritanya bisa kau masukan dalam laporan nanti. Aku yakin bisa jadi nilai tambah dalam tugas sekolahmu.” Hawks mendekat, lalu menambahkan penawarannya dengan bisikan di telinga Tokoyami, "Dan ... kalau kau berhasil melakukannya dengan baik, aku akan mengabulkan keinginanmu pergi ke Jekyll and Hyde besok, sehabis dari Liberty."
Oke. Itu .... Oke. Penawaran yang amat menggiurkan. Tak ada ruang untuk mengelak sekarang. Tokoyami harus mengunjungi Jekyll and Hyde selagi mereka di New York. Lebih-lebih, para jurnalis sudah mengerubungi mereka bak gagak yang gila bangkai. Sebagian memandangi Hawks yang mencoba melebur dengan manusia-manusia di sekitar, walau sayap merahnya tidak bisa disembunyikan, dan menyodori Tokoyami dengan pertanyaan-pertanyaan dalam bahasa Inggris yang cepat.
Setengah dari Tokoyami masih curiga kalau Hawks melakukan ini karena ia sama malasnya berhubungan dengan media, tapi paling tidak Tokoyami beruntung sudah mengikuti pelajaran Present Mic dengan baik, sehingga ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang tanpa mempermalukan diri sendiri.
Keesokan siangnya, sembari menunggu boarding kapal feri menuju Patung Liberty, Hawks dengan kacamata hitamnya yang trendi tiba-tiba menghampiri Tokoyami yang sibuk bermain gim. Di layar ponselnya, terpampang foto Tokoyami yang memberikan eksplanasi di bilangan 9th Avenue, dengan ulasan yang menyebut bahwa ia akan menjadi satria Jepang masa depan yang menjanjikan, serta diharapkan bergabung dengan liga dunia untuk misi-misi global.
Hawks terbahak-bahak, menampar punggungnya sambil bercengir. Dark Shadow mengguncang-guncang bahunya dengan bersemangat.
“Jekyll and Hyde for you, Little Duck," ujarnya dalam bahasa Inggris. Dalam arti lain: Aku bangga padamu.
Perjalanan pulang dengan pesawat masih dua hari lagi, tapi rasanya Tokoyami sudah lepas landas.
