Work Text:
– Jakarta, 15 maret 2023
"Quite great skill for someone new" Haechan mengalihkan pandangannya setelah ia memukul bola golf dengan sticknya.
"Nah, just new for the place. Used to play at local golf club where i go for college" Haechan tersenyum. Ia berjalan ke arah dimana bola putih itu jatuh, diikuti oleh orang asing itu.
"Yang di ujung sana, dengan ibu Na. Itu ayah kamu?" Haechan mengangguk.
"Ah, orangtua kita berteman ternyata! Na jaemin" Sosok itu mengulurkan tangannya. Mata Haechan membulat.
"Wait, that's your mom?!" Haechan berseru. Lelaki yang mengenalkan dirinya sebagai Na Jaemin itu balas tertawa. Tak lama Haechan ikut tertawa karna ekspresi semangatnya yang ia sendiri tak sadari. Haechan lalu berbalik memunggungi Jaemin sambil mengambil ancang untuk memukul lagi bolanya.
"May I?" Pertanyaan dari Jaemin membuat Haechan memutar kepalanya. Dari matanya Haechan dapat melihat sebuah kerlingan nakal di sana. This is fun. Haechan mengangkat kedua pundaknya dengan acuh. Ia tahu sekali maksud dari pertanyaan retoris lelaki manis itu. Jaemin sendiri menganggap gerakan tubuh Haechan sebagai invitation, membuatnya bergerak mendekati Haechan.
"You smell exactly like what I imagined" Ucap Jaemin dengan suara rendah setelah ia memegang kedua tangan Haechan di stick golf nya, menghimpit badan yang lebih kecil di antara kedua lengannya.
"A stranger and while my dad standing there?! What a brave young man" Haechan menatap Jaemin. Dari jarak sedekat ini Jaemin dapat melihat jelas pipi penuh Haechan yang dihiasi titik hitam berbentuk rasi bintang itu.
"Those moles, can I see them more?"
"Wow, Na Jaemin. Putra dari Ibu menteri luar negri, are you flirting right now?" Haechan terkekeh kecil. Mata Jaemin masih asik menelisik tiap inci dari wajah lelaki yang baru ia kenali 5 menit lalu.
"This is how politics works, babe. So, Wolfgang Steakhouse at 7pm?" Haechan memasang muka angkuhnya. Tersenyum miring pada lelaki di hadapannya.
"It's a date!" Finalnya.
"Nice suit" Puji Jaemin saat Haechan menduduki kursi di hadapannya. Yang dipuji hanya tersenyum manis. Jaemin kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil
"Aku liat ini pas perjalanan ke sini. Reminds me of you" Lanjut Jaemin. Tangan Haechan lalu sibuk membuka kotak kecil berwarna hitam itu. Haechan terkesiap ketika melihat isi dari kotak kecil tersebut, jarinya menelusuri lekukan benda yang telah ia keluarkan dari kotaknya.
"The Bovet virtuoso, it must cost you a fortune" Tangan Haechan masih sibuk mengagumi jam tangan itu, membolak-baliknya seakan sedang memastikan keaslian jam tangan yang sudah lama masuk ke wishlist-nya sebelum ia mati. Jaemin tersenyum puas.
"What's the catch?" Lanjut Haechan tanpa mengalihkan pandangannya dari hadiah barunya. Jaemin berdeham penuh tanya.
"You think you're the only one who knows how politics works? Oh, honey walaupun papaku masih pejabat daerah, ini pasti hadiah yang perlu balasan lebih besar, am I right?" Jaemin terkekeh. Haechan sudah mengembalikan hadiahnya ke tempat semula. Ia lalu meraih tangan Jaemin yang berada di atas meja.
"Apa ibu Menlu mulai tertarik dengan pariwisata Lombok? Aah aku dengar kamu juga pengusaha. Are you interested in tobacco products now?" Jaemin balas genggam tangan Haechan yang masih sibuk mengoceh mengeluarkan teorinya sendiri.
"Hey, aku ga tertarik sama papa kadiv kamu itu, sayang. I believe the agreement has settled between them. How about we talk more about you, yeah?" Haechan mengangkat satu alisnya kebingungan. Ia masih mencurigai lelaki yang baru ia kenali tadi siang ini. Cliché sekali.
Walaupun ia masih mahasiswa semester 6, Haechan sudah paham dengan taktik kotor pemerintah pusat yang sibuk berusaha memonopoli tempat ayahnya bekerja. Ia dan ayahnya tidak suka cara seperti mereka, obviously. Tapi ayahnya selalu mengajarkan Haechan untuk bermain 'baik' dan tenang. Jadi ia tetap bergeming, menunggu kalimat yang akan dikeluarkan dari lawan bicaranya itu.
"Kamu ga percaya?" Lanjut Jaemin. Haechan masih bergeming sambil menatap yang lebih tua. Jaemin menghembuskan nafasnya sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.
"Fine, yes. there's something I need from you. But it's not political" Jaemin mengalah. Senyum Haechan melebar.
"I'm listening"
"Look, I know this is embarrassing. And probably stupid tapi aku baru putus."
"Let me guess, it's your fault?" Jaemin mengangguk.
"And you want me to pretend to be your boyfriend, terus mantan kamu cemburu and magically wants you back?" Muka Jaemin memerah. Tapi ia tetap mengangguk.
"Jaemin, jangan lupa jam 9 kita ada acara minum kopi dengan investor dari Batam" Obrolan keduanya diganggu oleh sosok dengan badan kekar yang entah muncul darimana mengingatkan jadwal Jaemin selanjutnya. Haechan menatap sosok itu dari atas ke bawah. checking out on him like a rich auntie who looking for an one night fun. Jaemin mengangguk lalu berucap untuk menunggunya beberapa menit lagi.
"Personal asisten kamu, siapa namanya?" Mata Haechan berbinar. Bertanya setelah lelaki kekar itu hilang keluar dari pintu ruangan vip mereka. Kini Jaemin yang mengangkat satu alisnya. Tersenyum miring menggoda Haechan.
"Ugh, quit it! Fine, I'll do it. only because your fancy gift and your sexy Personal assistant" Haechan memutar matanya dengan jengah.
"And..?" Jaemin menggantung pertanyaannya yang ia tujukan untuk menggoda yang lebih muda.
"And because you're hot as fuck, for God sake. besides, my friends will go crazy if they know I dated the foreign minister's son" Jaemin tertawa puas, seakan bukan dialah yang meminta pertolongan nyeleneh dari sosok yang tengah menggerutu didepannya itu.
"Pura-pura, Chan" Jaemin mengkoreksi ucapan Haechan dengan nada pelan. Yang dibalas dengan 'Whatever' oleh si Gemini. Jaemin lalu mengulurkan handphonenya dengan layar yang menunjukkan sosok yang tersenyum cerah ke arah kamera.
"Perjanjiannya sampai Renjun balikkan sama aku"
"Just one pic's on Instagram. that's it!" Keluh Haechan.
"Nama dan nomor pribadi personal asisten aku tapi sampai aku balikkan sama Renjun, deal?" Haechan menggigit bibir bawahnya sambil menimang tawaran Jaemin.
"Fine, deal. No feelings involved!" Final Haechan. Senyum Jaemin makin melebar, yang lebih tua lalu berdiri, berjalan ke samping kursi yang lebih muda. Jaemin kemudian mengambil tangan kanan Haechan, lalu mengecupnya pelan.
"unfortunately our date must come to an end, Darling. I'll see you shortly, okay?" Oke, baiklah. Harus Haechan akui bahkan dirinya pun tak sanggup menolak pesona Na Jaemin yang baru ia kenali 8 jam belakangan ini. Ia kembali tersenyum menggoda Jaemin.
"You promise?" Tanya Haechan. Jaemin mengangguk.
"Cari dimana aku kuliah. My flight is tomorrow at 4 in the afternoon" Jaemin menundukkan sedikit badannya Ia kembali mendekatkan wajah mereka, mencuri sebuah kecupan kilat pada pipi Haechan.
"I'm sure my personal assistant would love that information"
