Actions

Work Header

Little Stranger

Summary:

Sukuna berniat pergi tawuran dengan SMA sebelah. Kamu berusaha menghentikannya.

Notes:

optional: listen to "little stranger" by dawid podsiadło while reading

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Banyak orang yang berkata bahwa masa SMA adalah masa yang paling indah. Masa-masa dimana remaja hormonal mengejar petualangan dan cinta, mendapatkan pengalaman tak terlupakan, dan berharap untuk segera dewasa dan terlepas dari aturan yang mengekang mereka selama dua belas tahun bersekolah. Waktu dimana siswa berseragam putih abu-abu mencari hal-hal untuk mewarnai hari mereka di sela-sela rutinitas sekolah yang membosankan.

 

Begitu pula yang kamu rasakan sekarang, siswi kelas 2 SMA lokal yang sedang menikmati semangkuk bakso di depan sekolah. Warung tenda seadanya dengan aroma kuah kaldu yang semerbak, meja kayu tua yang dilapisi terpal dan spanduk bekas, bau rokok dari murid berandalan di meja sebelah dan tukang bakso yang merokok sambil menyiapkan pesanan pelanggan lainnya. Bersama dengan teman-teman terdekatmu, kamu menikmati bakso dan bergosip dengan seru, sesekali menertawakan kejadian-kejadian lucu yang terjadi pada hari ini.

 

Tak ada yang bisa mengalahkan semangkuk bakso murah di depan sekolah, melepas penat bersama teman-temanmu setelah seharian belajar dari pagi sampai sore.

 

"Y/N, cuka dong." panggil Yuji, sahabatmu sejak masih TK yang duduk di sampingmu, menunjuk kepada botol cuka di sisi lain meja.

 

"Perasaan udah kamu kasih jeruk tadi."

 

"Kurang wah ternyata." balas Yuji.

 

"Buset dah."

 

Yuji hanya nyengir, meracik baksonya dengan lihai dan mengaduk semua saos dan sambal yang baru saja ditambahkan. Cowok di depanmu, Megumi, hanya bisa geleng-geleng melihat betapa merahnya isi mangkok Yuji saat ini. Mengerikan sekali.

 

Gadis di depan Yuji pun berkomentar, merinding sendiri melihat cowok rambut pink itu memasukan segala macam ke dalam baksonya. "Ji, serem amat kuahnya, buset. Gak takut kamu? Katanya kan sambal-saos sekarang itu pake pewarna tekstil, makanya jadi merah banget."

 

"Ehem." Abang bakso yang berdiri di samping gerobak pun batuk, melirik tajam ke arah Nobara.

 

"Eh… maap, Bang Jogo… Hehe."

 

"Ya gimana lagi, baksonya bang Jogo enakan disambelin yang banyak." kata Yuji, menyeruput kuahnya sedikit. "Apalagi kalo sama jeruk, mantapnya gak karuan."

 

"Gak bakal digratisin dek, cepet abisin sana."

 

"Setidaknya gratisin gorengnya satu lagi dong bang."

 

Kamu pun cuma bisa tertawa mendengarnya. Benar, bakso bang Jogo memang kurang enak kalau polosan, tapi karena harganya yang cukup murah dan lokasinya yang persis di depan sekolah, warungnya sangat ramai dan jadi pilihan anak-anak sekolah untuk makan siang setelah jam sekolah. Lagipula, tempat ini juga sarang gosip para murid dan guru, jadi lebih mudah untuk mendapat isu dan berita sekolah terbaru sambil makan bakso daripada lewat mading sekolah. Hanya saja, yah, memang banyak sekali jenis murid yang makan disini, termasuk yang pacaran dan berandalan, jadi resiko terganggu atau risih ditanggung sendiri.

 

Seperti di meja sebelahmu ini, penuh dengan murid-murid berandalan yang sering bolos sekolah untuk nongkrong merokok di depan gang.

 

Kalian berempat sebenarnya sudah terganggu dari tadi oleh mereka, gara-gara suara mereka yang lantang sewaktu bicara, dan asap rokok mereka yang menyebar kemana-mana. Belum lagi tubuh mereka yang sering tidak sengaja (ataupun sengaja) menendang atau menyenggol orang-orang disekitar mereka. Si empunya warung pun tidak peduli, asalkan mereka tetap bayar makanan mereka, jadi Bang Jogo sedari tadi hanya diam saja sambil ikut merokok.

 

Mau protes pun susah, mereka murid-murid bandel yang bisa dibilang preman sekolah. Belum lagi kamu juga tahu kalau beberapa dari mereka adalah senior kelas 3, jadi tidak bisa sembarangan melabrak. Salah-salah, malah nanti kalian yang di- bully habis-habisan sampai lulus.

 

Dilihat-lihat lagi, sepertinya mereka itu geng yang terkenal di satu sekolah. Kamu mengenali cowok rambut putih di meja sebelah, Satoru Gojo. Dia anak konglomerat kota dan senior, dan kamu juga yakin dialah ketua geng yang sedang mengganggu kenyamanan kalian saat ini. Satoru cukup terkenal karena parasnya yang tampan dan penampilannya yang terlihat seperti bule , didukung dengan rambutnya yang putih bersih dan orang tuanya yang sangat kaya. Banyak sekali siswi yang tertarik dengannya.

 

Di samping Satoru, ada sahabatnya yang tidak kalah terkenalnya di kalangan siswi sekolahmu. Suguru Geto, cowok gondrong yang rambutnya dicepol kecil dan sering kena masalah dengan guru karena panjang rambutnya itu. Jarinya memegang sepuntung rokok, sepertinya sudah terbiasa sekali sambil makan bakso. Suaranya lembut, tutur katanya baik, tapi ya memang dia termasuk playboy yang punya pacar di sana-sini. Dengar-dengar aslinya dia termasuk murid teladan sewaktu jadi junior, namun sejak bergaul dengan Satoru sepertinya dia malah jadi siswa nakal yang sering melanggar peraturan sekolah. Nilai-nilainya masih tetap bagus sih.

 

Kamu tidak terlalu mengenal berandal lainnya di meja sebelah, namun kamu yakin mereka masih satu geng dengan Satoru. Seharusnya ada siswa yang kamu kenal di gengnya, namun tidak ada tanda-tandanya sama sekali di warung. Apa dia sudah pulang? Tapi sepertinya tidak mungkin dia tidak ikutan nongkrong dengan gengnya.

 

"Oh iya, itu! Udah siap belum?" Kamu tiba-tiba mendengar dari meja sebelah. Tadi sepertinya Satoru yang bicara.

 

"Sukuna yang lagi ngurus. Sekarang dia lagi ngumpulin orang sama Mahito."

 

Sukuna masih di sekolah?

 

Kamu tiba-tiba menelan ludah, perasaanmu mulai tidak enak. Yuji sendiri mulai angkat bicara, kaget mendengar nama saudara kembarnya disebut oleh berandalan sekolah, namun kamu menghentikannya dan menyuruh Nobara dan Megumi untuk diam dan memperhatikan. Kamu butuh konsentrasi untuk mendengar perbincangan mereka lebih lanjut. Buat apa mereka mengumpulkan orang?

 

"SMA sebelah udah berani-beraninya ngambil wilayah kita. Kita kasih mereka pelajaran sekarang."

 

Tawuran!? Mereka mau berantem lawan murid dari SMA lain?

 

Kamu buru-buru berdiri, pamit kepada teman-temanmu yang masih menyantap makanan mereka. Tanganmu merogoh saku bajumu, tergesa-gesa membayar bakso ke Bang Jogo. Yuji pun memanggilmu, bingung antara lanjut makan atau mengejarmu yang langsung berlari ke sekolah lagi, meninggalkan tasmu.

 

"Y/N! Tunggu!"

 

Kamu tidak peduli, yang ada dipikiranmu sekarang hanya mencari Sukuna. Teman masa kecilmu yang sedari masih TK sudah bersama, temanmu yang sering main ke rumahmu bersama kembarannya sembari menunggu kakak mereka pulang sekolah. Sukuna, cowok berandalan yang sangat dingin kepadamu sejak kalian mulai masuk SMA.

 

Kakimu lelah, badanmu pegal dan matamu berat karena kurang tidur. Kemarin kamu menghabiskan waktu untuk melanjutkan novel yang sedang kamu baca sambil menelpon Yuji, membuatmu lelah karena keasyikan ngobrol sampai larut. Namun hal itu tidak menghentikanmu untuk berlari mengelilingi sekolah, mencari cowok berambut pink nakal yang katanya akan ikut menyerang SMA lain. Harusnya mudah menemukannya, kalau Satoru bisa dipercaya pasti Sukuna sedang mencari anak-anak berandalan di sekolah untuk bergabung.

 

Atau mungkin…

 

Kalau dicari tidak ada sedari tadi, mungkin Sukuna sedang mencari sesuatu untuk dibawa. Apapun yang bisa dijadikan senjata. Ada gudang tua di balik sekolah yang biasanya dipakai untuk menyimpan perkakas dan meja kursi tua yang sudah tidak terpakai lagi, dekat tembok belakang sekolah. Tempat itu sepi, gelap, kotor dan berdebu, jadi jarang ada yang melewatinya. Gudang itu tempat yang tepat untuk menyembunyikan sesuatu kalau tidak ingin disita, atau jadi tempat bercumbu dua sejoli yang bolos mata pelajaran.

 

Kamu buru-buru pergi ke gudang, melewati kerumunan murid di kantin yang sedang berbincang sehabis sekolah. Ada gang sempit di samping genset, jalan pintas menuju gudang. Hanya cukup untuk dilewati satu orang.

 

Tentu saja, kamu melihat Sukuna yang sedang berkutat dengan kotak perkakas besi di depan gudang.

 

"Sukuna!"

 

Si kembar yang kedua pun melihat ke arahmu, mengunci kembali kotak perkakas di tangannya setelah mengambil sesuatu di dalamnya. Kunci inggris.

 

"Apa, anak kucing?" tanyanya, setengah kesal dan juga setengah mengejek.

 

Sekarang, kamu yang malah bingung harus bilang apa. Bagaimana juga caranya meyakinkan temanmu ini untuk tidak ikutan? Rasanya tidak mungkin bakal didengarkan. Dia saja sudah tidak mau berbicara denganmu sejak kalian mulai masuk SMA. Harus mulai dari mana?

 

"Aku dengar tadi di warung bakso… katanya kamu mau ikut menyerang SMA sebelah… Itu beneran?" tanyamu pelan,  

 

Sukuna menghela napas, memalingkan wajahnya menghindari tatapanmu yang khawatir. Secara tidak sadar, tangannya mencoba untuk menutupi kunci inggris yang baru saja dia ambil. "... Bukan urusanmu, unyil."

 

"Sukuna, kita pulang aja ya? Yuji lagi nyariin kamu, kita berdua khawatir—"

 

"Ini nggak ada hubungannya sama kamu sama Yuji. Pulang sana." sela Sukuna, berbalik menuju ke arah gudang. Sepertinya masih banyak barang yang bisa dibawa di dalam. Kamu buru-buru menghadang Sukuna, menghalangi pintunya supaya dia tidak masuk lagi.

 

Sukuna menatapmu dengan kesal, tatapannya menyeramkan sampai kamu sendiri merinding. Tapi mau bagaimana lagi, kamu cuma ingin Sukuna pulang. Terlalu bahaya kalau dia ikut tawuran yang kamu bahkan tidak tahu dia akan tetap selamat atau tidak.

 

"Minggir, kecil." gertak Sukuna, membuatmu kaget. Dia tidak pernah sampai marah seperti ini sebelumnya. Tapi kamu harus tetap tegas.

 

"Janji dulu kamu pulang sekarang dengan aku dan Yuji."

 

"Sudah kubilang ini bukan urusanmu."

 

"Yaudah aku nggak mau minggir."

 

Tangan Sukuna pun mencengkeram pundakmu, mendorongmu ke samping supaya dirinya bisa lewat. Kamu hanya bisa diam, shock karena Sukuna tetap bersikukuh sampai dia mendorongmu seperti itu. Tak terasa matamu mulai panas, air mata pun menitik jatuh ke pipimu.

 

Cowok berambut pink itu hanya diam, membongkar beberapa kotak dan kardus untuk mencari-cari barang, sebelum menemukannya di sela-sela kaki meja rusak. Kamu mulai terisak, masih berusaha menghalangi Sukuna untuk pergi, dan berharap kata-katamu akan didengarkan kali ini.

 

"Sukuna, kumohon… Pulanglah denganku dan Yuji…" isakmu, air matamu berlinangan dan jatuh ke lantai kotor gudang tua. "Aku— Yuji dan aku nggak mau kamu kenapa-napa…"

 

Sukuna tidak mengindahkan, menarik linggis panjang berkarat dari kolong meja.

 

"Apa kamu nggak kasihan sama Bang Cho...? Tiap hari Bang Cho kerja keras buat nyekolahin kamu sama Yuji dan kamu malah—"

 

"Diem, Y/N! Gak usah bawa-bawa abang!"

 

Seketika kamu kaget, takut bercampur dengan shock saat kamu melihat raut wajah Sukuna saat ini. Sedih, frustrasi, marah, cowok rambut pink itu mendecakkan lidahnya, tatapannya tertuju pada lantai. Tangannya menggenggam erat linggis tua itu, kamu tidak tahu apa dia akan menyerangmu apa tidak, dan kamu jadi takut memikirkan kemungkinan itu.

 

"Kamu tahu apa soal perasaanku? Nggak usah sok-sokan mengerti. Kamu sama Yuji sama saja, tahu nggak!?" teriak Sukuna, "Selama ini Yuji, Yuji saja yang diperhatikan, percuma mencoba baik denganku. Aku sudah muak."

 

"Buat apa kalian peduli denganku sekarang? Apa tujuanmu, hah? Kalau kamu cuma mau mempermalukanku, mending kamu pulang. Nggak guna aku ngomong sama kamu."

 

Kamu merinding, ini pertama kalinya kamu melihat Sukuna semarah ini. Selama ini dia hanya bersikap dingin, tidak pernah berteriak denganmu, bahkan sampai mendorongmu seperti tadi. Kalian bertiga awalnya sangatlah dekat, kenapa malah jadi begini hubungan kalian?

 

"Sukuna, aku nggak mau kamu terluka! Siapa yang tahu apa yang akan terjadi kalau kamu ikut tawuran!?" teriakmu balik, air matamu semakin deras mengalir. "Persetan soal orang lain yang tidak peduli padamu, aku cuma mau ketemu kamu besok pagi!"

 

Sekarang giliran cowok rambut pink itu yang terdiam, terkejut mendengar perkataanmu barusan. Mata merahnya hanya menatapmu yang terisak di hadapannya, tanganmu menyeka air mata yang terus-terusan mengalir tanpa henti. Matamu merah, suara isakanmu bergema di ruangan kosong tua itu, dan Sukuna hanya bisa menatapmu, bingung harus melakukan apa.

 

"Tolong mengertilah… Aku, Yuji dan Bang Choso pun... tidak ingin kamu kenapa-napa… Karena itu, tolong jangan pergi…" Kamu sudah siap untuk memohon, bahkan berlutut kalau perlu, supaya Sukuna tidak pergi.

 

Kamu teringat kata-kata Choso, kakak si kembar waktu kamu mampir untuk kerja kelompok. Kebetulan waktu itu dia sedang mengambil cuti, mengambil hasil tes darahnya dari lab. Kesehatannya mulai menurun karena kelelahan bekerja dari pagi hingga malam.

 

"Akhir-akhir ini abang sering lihat Sukuna bergaul dengan anak-anak nakal. Itu lho, yang biasanya nongkrong di dekat bengkel." kata Choso sambil menghela napas, menyeruput segelas teh manis yang kamu buat untuknya. Kamu sudah terbiasa membantu Choso di rumahnya, seakan kamu adiknya sendiri. "Kuharap dia tidak macam-macam saja sih, abang khawatir sekali kalau dia malah bergaul dengan teman yang salah."

 

"Tolong awasi dia ya waktu abang kerja?"

 

Tanpa kamu sadari, Sukuna sudah ada di hadapanmu, tangannya yang kasar menyentuh pipimu dengan lembut, membasuh air mata di pipimu. Untuk sesaat tangismu terhenti, bingung apa yang sedang dilakukan. Sukuna yang biasanya dingin dan yang dari tadi marah-marah padamu, tiba-tiba jadi lembut? Ada apa sebenarnya?

 

Cowok berambut pink di hadapanmu menunduk, bibirnya menempel lembut mengecupmu. Kamu kaget, bingung, tidak menyangka ciuman pertamamu diambil oleh cowok yang setahun lebih sudah mengacuhkanmu. Namun kamu juga merasa… senang? Lega? Puas? karena Sukuna yang sekarang bersamamu. Susah menjelaskannya, kamu sendiri masih tidak mengerti.

 

Ciumannya terasa sangat lama, seperti dunia terhenti, dan tidak terasa matamu sendiri juga terpejam. Tidak ingin momen ini berakhir.

 

Tidak lama kemudian, Sukuna melepaskan bibirmu, jarinya masih mengusap pipimu dengan lembut, sambil menunggumu membuka mata. Tatapannya sedih, senyumnya seperti menyembunyikan kesedihan — perasaan pahit yang tidak bisa disampaikan dengan kata-kata. Sukuna melepaskan jaketnya, jaket hoodie hitam dengan print gambar harimau di punggung, dan memakaikannya di badanmu. Jaketnya terlalu besar untukmu, kamu seperti dibalut kain panjang, dan Sukuna hanya bisa tertawa kecil dan tersenyum pahit menatapmu.

 

"Langsung pulang sama Yuji, ya. Jangan lewat lapangan."

 

Tangannya mengusap rambutmu, lembut dan penuh perasaan, sebelum dia meninggalkanmu sendiri, tangannya menggenggam linggis dan kunci inggris yang tadi dicari-cari. Kamu cuma bisa menatapnya pergi, punggungnya terlihat kuat dan bidang saat dia berjalan pergi ke arah kantin. Suara Yuji terdengar dari kantin, dan air matamu mulai menetes lagi. Kamu takut kehilangan Sukuna, dan kamu gagal untuk memintanya pulang.

 

Yang tersisa hanyalah jaket hangat miliknya yang memelukmu pulang ke rumah.

Notes:

I tried to make it without using the word "love" "sayang" "cinta" "suka" but I guess that didn't really work out lol i had fun making this after i stopped writing for months