Work Text:
Souma hari ini sibuk membersihkan rumah. Jarang dia membersihkan rumah karena pekerjaannya baru-baru ini sangat sibuk. Tapi proyek perusahaan tempat dia bekerja baru saja selesai dan semua staf diliburkan untuk melepas penat.
Namun Souma tidak bisa beristirahat sama sekali. Karena rumahnya sangat berantakan. Kakaknya sudah menikah dan memiliki keluarga baru, karena itu pula tidak ada yang membersihkan rumah.
Walaupun ada penghuni baru beberapa waktu yang lalu, tetapi Souma masih ingin membersihkannya sendiri karena menurutnya tamu tidak harus melakukan pekerjaan rumah. Dia membereskan sampah kemasan makanan instan dan membuangnya, mengambil baju kotor untuk dicuci dan membersihkan debu dimana-mana dengan mesin penyedot debu.
Sore hari barulah selesai. Souma benar-benar ingin beristirahat sekarang namun hampir waktunya makan malam dan dia masih harus memasak. Dia bangkit dan menyemangati dirinya sendiri karena masih ada satu hari libur lagi besok.
"Shun-chan! Sudah mau pulang?"
"Um." Shun mengangguk dan ketika bertemu orang itu (Aoyama) dia merasa ingin berlari segera. Karena itu dia buru-buru melambaikan tangannya dan bergegas.
"Ada apa dia terburu-buru?" Tanya orang itu dengan heran.
(Ps : saya lupa nama teman Shun sejenak :'v)
"Kamu benar-benar tidak memiliki kesadaran diri." Temannya (Kida) disampingnya menyahutnya dengan sebuah fakta. Namun orang itu tetap tenang dan hanya tersenyum jahil. Sangat mengundang orang untuk memukul wajahnya.
Shun yang saat ini sudah jauh menghela nafas dengan lega. Dia terus berjalan, namun bukan menuju tempat dia dan saudara perempuannya tinggal namun di sebuah apartemen. Dia menekan lantai yang sudah dia hafal sebelumnya dengan akrab dan segera lift sampai di lantai tujuannya.
Shun segera keluar dari lift dan menuju apartemen. Dia menggesek kunci dan pintu terbuka. Kemudian aroma harum menyambutnya, membuat perut yang lapar bergemuruh.
Suara langkah kaki mendekat dan Shun sudah menebak siapa itu. Karena itu dia dengan santai melepas sepatunya dan mengucapkan kata-kata yang sudah dia lafalkan selama sebulan ini dengan akrab, "Aku pulang."
"Okaeri." Suara renyah membalasnya dan ketika Shun mendongakkan kepalanya dia melihat kepala merah yang sudah akrab.
"Mandilah dan kemudian kita bisa makan malam." ujarnya sembari menunjuk ke belakang dengan jempolnya. Shun merasa seperti melihat kakak perempuannya sekarang. Karena pria itu sedang memakai apron yang membungkus pinggang rampingnya. Shun tanpa sadar mengangguk dan dia dengan patuh mandi setelah meletakkan tas sekolahnya di kamarnya. Kamar yang dipinjam Souma.
Karena dia menginap disini. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, Shun belajar mati-matian dengan Hayate sebagai gurunya. Atau kadang ketika mereka berempat bisa berkumpul, semua orang yang lebih tua darinya akan menjadi gurunya mendadak secara bersamaan.
Shun merasa seperti mendapat tiket VIP namun dia sama sekali tidak senang tentang itu. Apalagi dengan Mima-san yang memperlakukannya seperti anak kecil berusia lima tahun. Shun dengan bersungguh-sungguh memberikan Hayate bintang lima untuk pelajarannya.
Walaupun dia merasa memalukan saat itu karena dia merasa menjadi yang paling payah diantara mereka berempat. Tapi karena itu juga dia bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi. Dan menjadi tempat pertama, tempat pertama dari terakhir. Karena itu juga dia menginap ditempat Souma. Karena Universitasnya jauh dari rumahnya, tapi dekat dengan apartemen kakak Souma.
Shun tidak ingin mengingat hal itu lagi dan segera menyelesaikan mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dengan handuk diatas kepalanya yang basah. Benar saja Souma sudah selesai memasak saat ini. Waktu yang tepat.
Shun segera duduk di kursi makan menunggu hidangan Souma siap.
"Shun, cobalah." Souma mendekatinya begitu melihat Shu sudsh selesai dengan madinya. Dia menyerahkan piring kecil berisi kaldu dashi pada Shun. Shun segera mencobanya.
"Enak."
"Kalau begitu coba ini selanjutnya." Souma menyerahkan gyudon yang disumpit didepan mulut lelaki yang lebih muda darinya itu. Shun memakannya dengan patuh, tapi wajahnya berubah kemudian.
"Air."
"Ada apa?"
"Pokoknya ambilkan air dulu." ujar Shun dengan wajah gelap.
"Aah, oke." Souma segera memberikan air pada Shun yang segera menghabiskannya.
"Setelah datang kesini aku curiga aku dijadikan bahan percobaan." Kata Shun tiba-tiba.
"Lidahku mati rasa." Imbuhnya kemudian sembari menghela nafas. Sedangkan sang oknum yang berulah terkekeh.
"Maaf. Haha. Bukannya aku sengaja."
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang melakukan kesalahan berkali-kali!"
"Jaa~ siapa yang berkali-kali lupa dengan tali ketika mengajak Sakura jalan-jalan?"
Shun tentu saja tersedak dengan air liurnya sendiri ketika mendengar sejarah kelamnya.
"Itu sengaja!"
"Hee~ apa maksudnya? Sengaja membiarkan Sakura lari? Hahaha...."
Keduanya terlalu asyik bertengkar dan ketika mereka puas bertengkar sup sudah surut dan gyudon sudah menjadi arang. Mereka berdua menatap panci dengan tatapan kosong.
"Ayo pesan takeaway." Saran Souma mengakhiri keheningan mereka berdua.
"Makan diluar saja. Terlalu lama menunggu takeaway."
