Actions

Work Header

zamrud di telapak tanganmu

Summary:

Sebuah kilasan memori menghampirinya—petuah dari Armorer tiga bulan standar yang lalu.

Notes:

I’m glad I can make it before anything significant in canon starts to happen because I’ve had the drafts for two years, back to write this baby since last month and I managed to add new canon tidbits here and there—working on those are suprisingly fun! My only reference of writing fic in Indonesian now is teacupz’s Harvest Moon fic whirlwind (which I adored deeply—the first chapter is published in 2009 and still on-going. I miss ffn.net era where things in life were still simple). The vibe song for this fic is SPLAY’s Sora ni Utau. Anyhow, I hope you all enjoy!

Work Text:

Mentari telah tenggelam ketika Din tiba di Ossus. Horizon yang semulanya lembayung keemasan kini telah digantikan dengan nilakandi yang berbaur dengan lazuardi. Kelap-kelip bintang dan purnama berwarna kinantan—bagaikan manik-manik yang menghiasi cakrawala—sang pelita lebih cerah daripada malam-malam sebelumnya.

Sayup-sayup terdengar murid-murid Skywalker yang lebih muda usianya dari kawan-kawan seangkatan mereka bersorak-sorai sebelum lerengan The Devout terbuka seluruhnya. Din memikul kontainer kecil yang hampir mirip dengan kontainer telur-telur Wanita Katak di punggungnya; berbagai macam manisan fruit jelly tersusun rapi di dalam wadah yang memiliki pengaturan suhu dingin itu. Jetpack dan senjata-senjata miliknya dia tinggalkan di dalam pesawat, namun darksaber tergantung dengan kokoh pada pengait yang terdapat di pinggul kirinya.

Sudah setahun lebih semenjak Din resmi menerima jabatannya sebagai seorang Mand’alor. Menjadi raja dari suatu planet yang telah lama ditinggalkan lalu dihuni kembali demi terciptanya persatuan para Mandalorian memang bukan perkara yang mudah: renovasi dan rekonstruksi pusat kota Sundari yang porak-poranda akibat invasi Kekaisaran yang terjadi satu dekade yang lalu, masalah kesediaan pangan yang tidak mencukupi, hingga mengajak berbagai klan yang tersebar di seluruh penjuru galaksi agar berangsur-angsur kembali ke Mandalore, baik itu penduduk asli maupun para pengungsi seperti dirinya yang dulu bermukim di Nevarro.

Din menarik napas pelan-pelan, kedua tangannya menggenggam erat tali kontainer. Tujuannya kemari adalah untuk berkunjung ke Akademi Skywalker dan menjemput Grogu. Sebelum dia kembali ke Mandalore, Din ingin melupakan kewajibannya untuk beberapa saat.

Tatapannya tertuju pada penduduk lokal (agak mirip dengan spesies mendiang Kuill; Din tidak tahu apa sebutan spesiesnya) lalu-lalang membawa hidangan yang diletakkan di atas terpal panjang yang menjadi alas di atas padang rumput—yang dulunya tumbuh alang-alang yang lebat serta pepohonan bambu yang menjulang tinggi, tempat persembunyian anak-anak ketika bermain petak umpet setelah menghabiskan waktu dengan latihan mengayunkan kata maupun meditasi—telah dipangkas.

Din tidak kaget apabila mereka secara sukarela menjaga kebersihan di sekitar akademi. Kehadiran Skywalker dan murid-muridnya untuk mendirikan akademi di planet ini sepertinya memberikan kedamaian tersendiri bagi mereka yang sensitif terhadap kekuatan force—anak-anak mereka pun sering berinteraksi dengan para padawan dan youngling.

R2-D2 menyapanya dengan bahasa binary sambil membawa beberapa gelas plastik di atas nampan minum yang berada di sisi kanan dan kirinya. Tatapan Din akhirnya tertuju kepada Skywalker yang berjalan ke arahnya—tunik berwarna abu-abu muda yang dikenakan melayang-layang dilalui angin, membuat penampilannya sedikit berantakan namun tetap berwibawa. Skywalker memejamkan mata seraya menyeka keringat yang terdapat di belakang poninya dengan sarung tangan abu-abu tua yang Din berikan saat perayaan Life Day tahun lalu.

Mesh’la, Din membatin, postur tubuhnya tegak namun kegugupannya memuncak.

“Hai,” sapa Skywalker—Luke lembut. Parasnya cerah, senyumnya merekah—karisma sang Master Jedi tidak berlangsung lama ketika tatapannya tertuju pada kontainer yang dipikul oleh Din. Luke mengeluarkan suara keheranan, kedua tangan dilipat di depan dada. "Leia baru saja membawa pasokan bahan makanan siang tadi. Kau tidak perlu repot-repot membawa apa pun."

"… Aku mampir di Batuu beberapa waktu lalu, aku pikir tidak ada salahnya membawakan oleh-oleh untuk anak-anak." sanggah Din ringan lalu bergerak untuk melepaskan tali kontainer di bahunya; tiba-tiba dia terdiam saat merasakan kekuatan force Luke yang mengangkat kontainer, membuat kontainer tersebut melayang ke arah penduduk yang akan menghidangkan kudapan manis yang tentunya dinikmati setelah anak-anak menyelesaikan makan malam mereka. “Terima kasih.”

Padawan Luke yang tertua, seorang remaja Pantoran—Minaka, tengah berjalan ke arah mereka sambil menggendong Grogu. Grogu mendongak ke atas, berkomunikasi dengan Minaka lewat benak mereka. Din lalu memperhatikan pakaian Grogu yang dihiasi oleh remah-remah roti, yang selanjutnya hanya bisa melengos pasrah; di Mandalore, di Ossus, bahkan di mana pun (terkecuali satu anak lelaki di Nevarro yang tidak ingin membagi makaroni miliknya saat dia menitipkan Grogu di sekolah, Din mengingatnya kembali)—anak-anak senang memanjakan ad’ika-nya, secara sadar merelakan persediaan pencuci mulut mereka berkurang hanya untuk membuat Grogu tertawa girang.

Belum sempat Minaka meletakkan Grogu ke bawah, anak itu melompat ke arah ayahnya, merentangkan kedua tangannya luas-luas. Din dengan cepat membungkuk, menangkap Grogu dengan mudah. Dari penglihatan periferalnya Din melihat Luke tertawa lalu memegang bahu Minaka, samar-samar mendengar: “Apa yang kalian rencanakan, hmm?”

Bueee!”

“Halo juga untukmu, Nak," Grogu menepuk dua sisi helmnya, lalu memejamkan kedua matanya. Din pun melakukan hal yang sama, lalu mengarahkan kepala Grogu agar dahi kecilnya bertemu dengan dahinya yang tertutup oleh helm peraknya. "Kuharap aku tidak melewatkan apa pun."

“Halo, Pak Mando,” sapa Minaka ramah. Kedua mata jingga remaja itu bergerak menyamping, melirik ke arah The Devout yang mendarat tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang. “Tidak memakai starfighter kesukaan womprat kesayangan kita semua? Sebelum Anda turun dari atmosfer dia menggebu-gebu ingin menunjukkan keahlian ayahnya.

“N-1 sedang direparasi,” jawab Din singkat. Kedua telinga panjang Grogu sontak menurun, mendengar pernyataan ayahnya tersebut jelas dia kecewa. Kekecewaan Grogu tampaknya diproyeksikan kuat di dalam alunan force yang mengitari mereka, sayup-sayup dari alat pendengar jarak jauh yang terpasang di helm Din terdengar suara youngling yang hendak mendekati mereka bergumam “wah, ngambek, tuh.” bahkan penduduk yang sedang menata makan malam menoleh ke arah mereka, kebingungan. Menyadari ini, Din dengan sigap menangkan Grogu dengan meletakkan tangannya di atas kepala anaknya. “Maaf, Nak. Bagaimana kalau di perjalanan pulang kita mampir membeli telur rebus kesukaanmu?”

Lekas kedua telinga Grogu pun kembali naik, kedua mata bercahaya menimang pantulan kejora, jiwa predator kini kembali membara. Sungguh, ad’ika-nya terkadang merepotkan, namun Din sudah terlanjur sayang padanya, dan akhirnya memberi kelumrahan. “Patoo!”

Suasana malam itu kembali seperti semula. Kali ini angin melambai halus-halus di sekitar akademi, riuh tawa terdengar riang dan melanglang buana. Grogu meremas sarung tangan Din, menatapnya dengan penuh kasih. Di balik helmnya yang tampak monoton Din membalas pancaran kasih anaknya dengan setulus hati. Kedua matanya lalu melirik ke samping, mendapati Luke menatapnya lekat-lekat, menaikkan satu alis seraya merapikan rambut Minaka. Jemarinya cekatan menata kucir ungu muda yang sedikit acak-acakan karena dihembus terpaan angin sesaat sebelum Din berpijak di padang yang subur dan hijau, jauh berbeda dengan planet tempatnya memimpin—tandus dan kemuning. Mulut Luke melengkung naik, senyumnya semringah. “Jangan bilang kau ceroboh saat mengitari Beggar’s Canyon.”

“Tidak ada insiden, hanya saja Peli mendesak untuk mengganti beberapa suku cadang dan memperbarui sistem protokol agar R5 dapat mengakses navigasi lebih mudah.” Din terdiam beberapa saat, mengalkulasi. Gugup yang dia rasakan sebelumnya berangsur-angsur menghilang sementara dia memikirkan balasan untuk pria di hadapannya. Tidak berselang lama Din memiringkan helmnya—gurauan dibalas dengan gurauan pula, Jetii. “Peli menitip salam: ‘Kau masih berhutang kepadaku tiga hari jam kerja, Wormie.’

Dan betul saja, senyum yang menghiasi wajah Luke menghilang, namun tergantikan oleh pirus kembar yang terbelalak dan pipi yang memanas (Din menyukainya). Luke pun berjalan ke arahnya, tidak segan-segan memukul bahu Din yang tidak tertutup oleh beskar’gam (oke, sepertinya Luke agak kesal karena pukulan tadi cukup membuat bahunya terasa ngilu, terima kasih). Luke menggerutu kemudian berjalan menjauh, meninggalkan Din dan Grogu dan Minaka. Minaka menyengir ke arahnya sedangkan Grogu terkikik, sudah terbiasa dengan gelagat mereka akhir-akhir ini ketika bertemu. “Nikmati kemenangan sesaatmu, Pak Mando.”

(Din mungkin menang kali ini, namun kekalahan lebih berpihak kepadanya saat Peli memberitahunya ada seorang pemuda—Biggs Darklighter, yang dulunya sering menjumpai Luke kala bekerja sampingan di bengkelnya ketika sedang tidak memperbaiki vaporator pamannya Owen atau membantu bibinya Beru menjajakan air hasil destilasi kelembapan udara—perasaan pahit di tenggorokan ditelannya lamat-lamat).

"Hai, Pak Mando!” sapa To’un dan Ashim, seorang Mikkian dan seorang Zabrak, dua youngling yang sama-sama berusia sepuluh tahun. Di belakang To’un ada kakaknya yang baru saja dilantik sebagai Padawan Junior, Vo’unk. Din mengangguk kepada ketiganya, lalu mengusap kedua kepala To’un dan Ashim bergantian, pula berhati-hati agar tidak bersentuhan dengan sulur-sulur yang melingkar di kepala To’un dan tanduk-tanduk yang tersebar di kepala Ashim. "Halo."

Din melihat ke sekitarnya. Murid-murid Luke saat ini berjumlah enam orang, yang mana Grogu adalah pengecualian—anaknya saat ini memilih jalan sebagai seorang Mandalorian, namun bebas berkunjung ke Ossus untuk belajar mengendalikan kekuatan force tanpa mendedikasikan diri menjadi seorang Jedi. Mungkin puluhan atau bisa saja ratusan tahun kemudian, apabila Grogu sudah dewasa dan dapat memikirkan matang-matang, maka dia bisa menentukan kembali jalannya—entah itu tetap menjadi seorang Mandalorian, menjadi seorang Jedi, ataupun menjadi keduanya. Untuk saat ini Grogu hanya ingin berada di sisi Din agar dapat menghabiskan waktu dengannya, dan Luke menghormati keputusan itu. Berbicara tentang murid-murid Luke, dia tidak melihat satu padawan dan satu youngling yang biasanya bercengkerama dengan Vo’unk dan To’un. “Di mana Yumna dan Imayre?”

Offworld,” jawab Vo’unk tanpa melihat ke arah Din, kedua mata tertuju pada datapad miliknya. Swafoto Vo’unk dan Yumna terlihat di layar, di mana dua sahabat tersebut tersenyum gemilang. Vo’unk lalu mematikan alat komunikasinya sebelum To’un merengek untuk melakukan panggilan holovid dengan Imayre. “Ini jadwal mereka untuk pulang ke rumah.”

Din mengangguk. Dari semua murid-murid Luke, hanya empat orang yang memiliki keluarga kandung, sedangkan Ashim dan Minaka—Gigi-gigi Din bergemeretak, merasakan bulir-bulir amarah yang ditujukannya kepada orang-orang yang memperlakukan anak-anak itu meluap kembali—dia bersyukur Luke menemukan mereka sebelum terlambat. Ashim kemudian mengetuk-ketuk kom’rk miliknya, membuyarkan Din dari lamunan sendu. “Pak Mando! Jadi kapan kita bisa berkunjung ke Mandalore, Pak? Oh, oh! Aku juga ingin berkunjung ke Krownest! Karena di sini dan di Dathomir tidak turun salju!”

“Salju itu membosankan! Kau pasti akan kedinginan setiap saat,” balas To’un. Di alunan force Grogu mengiyakan, memproyeksikan petualangannya bersama ayahnya dan Wanita Katak saat terjebak di Maldo Kreis. Ashim pun bergidik, membayangkan gambaran tersebut nyata di hadapannya sementara To’un berdecak kecil. “Aku malah ingin berkunjung ke Niamos—yang aku dengar dari Imayre banyak arkade yang dibuka dekat pantai!”

Wahana-wahana permainan, ya.’ gumam Din dalam hati. Apabila pembangunan Sundari sudah cukup rampung mungkin dia bisa mengusulkan ke Fenn Rau agar mempertimbangkan pembangunan wahana bermain untuk anak-anak di sekitar pusat kota nantinya, yang mana kebanyakan dari klan yang memiliki bayi dan balita kandung maupun foundling bermukim sementara di dataran Kalevala. Di masa yang akan datang klan-klan tersebut akan menetap di Mandalore dan Din berharap anak-anak mereka bisa beradaptasi dengan segala kekurangannya, dan salah satu rencana jangka panjangnya adalah dengan menyediakan fasilitas yang mumpuni agar anak-anak senantiasa berkecukupan.

“Niamos tentu saja menarik, tapi seperti yang Imayre bilang: ini musimnya para turis berdatangan, saat ini pasti arkade-arkade sudah sangat membeludak,” bujuk Vo’unk, tahu bahwa mengatur tiga youngling yang memiliki rasa penasaran yang besar saat berkeliling di keramaian akan membuat mereka murid-murid yang lebih tua tidak bisa menikmati rekreasi dengan semestinya dan tentunya akan membuat guru mereka kewalahan. “Kita semua akan berkunjung ke sana saat sudah lengang, bagaimana? Tentunya dengan berdiskusi kepada Master Luke dan meminta izin kepada orang tua Imayre terlebih dahulu kalau ingin menginap di rumahnya.”

To’un dan Ashim serempak menghela napas panjang-panjang—mungkin mereka tidak memperlihatkannya secara gamblang tetapi anak-anak ini sangat ingin berekreasi, jelas jenuh dengan lingkungan alami yang ditawarkan Ossus. Din mengingat kembali pernyataan C-3PO bahwa pegangan kredit yang dimiliki Luke saat ini sepertinya hanya mencukupi sandang, pangan dan papan murid-muridnya, tidak lebih dari itu—Din bisa mengerti karena sang Master Jedi tidak menginginkan ada campur tangan Republik Baru. Yang terdengar sekarang hanyalah suara samar-samar penduduk lokal dan anak-anak mereka yang berlari-lari kegirangan dan Luke yang tengah berbicara kepada Kepala Adat sembari membantu menyiapkan hidangan di piring-piring. Tidak lama kemudian Din angkat bicara, mencairkan suasana. “Sundari belum bisa dikunjungi, tetapi kalau berkunjung ke daerah pegunungan sepertinya kondisi jalur pendakian sudah aman—dan di Krownest pun tidak seperti yang kalian bayangkan—saat ini cuacanya cenderung hangat. Apabila kalian masih merasa kedinginan kami akan menyediakan jaket wol sehangat surai Bantha. Bagaimana?”

Anak-anak itu pun melirik satu sama lain, lalu menatap Din dengan keinginan yang tak terbendung dan melonjak ketika Grogu tertawa sambil menepuk kedua tangannya berulang-ulang, bersemangat ketika membayangkan petualangan apa yang akan menanti mereka selama di Krownest ataupun di pegunungan Mandalore. Senyuman manis terukir di wajah Ashim sedangkan To’un mengangguk kecil, untuk sementara ini menerima pergantian rencana. Vo’unk lalu menoleh ke arah Din, raut wajahnya kurang yakin. “Terima kasih, Pak Mando, tetapi untuk berkunjung ke Krownest apakah Anda tidak perlu perizinan petinggi Krownest terlebih dahulu?”

“Kalau berkunjung ke Krownest untuk beberapa hari saja, sepertinya Lady Wren tidak akan keberatan,” Salah satu keuntungan menjadi seorang Mand’alor, batinnya. Din harus berterima kasih kepada Bo-Katan yang bersikeras menjadi tangan kanannya dan tanpa berpikir dua kali menunjuk Ursa Wren sebagai salah satu anggota dewannya. “Atau berkunjung ke Concordia?  Kalian bisa belajar bercocok tanam di sana.”

“Rekreasi yang sekaligus mengedukasi,” ucap Minaka mengangguk setuju, disusul oleh Vo’unk yang menyalakan kembali datapad miliknya, hendak mengabari Yumna dan Imayre tentang rencana rekreasi sepulangnya mereka ke Ossus. “Sebagai Padawan Senior yang tidak lama lagi akan dilantik menjadi Ksatria Jedi, memutuskan bahwa saya dan teman-teman sepakat untuk berkunjung ke Krownest. Dan kalau tidak ada halangan untuk mendaki ke pegunungan Mandalore mungkin kami juga akan mengusulkan diadakannya kunjungan ke monumen Tarre Vizsla, seorang Mandalorian-Jedi—itu jika Pak Mando selaku Mand’alor berkenan.”

Din mengangguk, tidak memiliki satu pun keraguan untuk tidak menyetujui rencana tersebut—di benaknya sudah terpeta perlengkapan apa saja yang dibutuhkan dan apa dalihnya ketika ada anggota dewannya yang tidak setuju dengan planet destinasi murid-murid Jedi—bahwa kunjungan ini adalah bagian dari budaya mereka, di mana Mand’alor Tarre Viszla adalah seorang Jedi sebagaimana beliau adalah seorang Mandalorian. Suasana malam itu kembali dengan rentetan percakapan ringan maupun canda tawa berisikan angan. Akhirnya Luke berdiri, lalu meneriaki murid-muridnya agar segera menghampiri. “Ayo anak-anak, waktunya makan malam!”

“Baik, Master Luke!” jawab murid-muridnya kompak. Vo’unk dan To’un tersenyum satu sama lain; ekspresi mereka menyiratkan kenakalan masa-masa belia. Din mendengus saat dua kakak beradik itu memberi gurunya salam hormat layaknya prajurit kesiangan sementara yang diberi hormat hanya memutar kedua bola mata. Din mengingat keluhan Luke beberapa siklus lalu: apabila Han Solo ikut berkunjung bersama saudari kembarnya maka pria itu tidak segan-segan memanggilnya Komandan Skywalker di hadapan murid-muridnya, entah apa maksud dan tujuannya. Din tidak bisa memberi Luke masukan yang berarti, namun mungkin saja kakak iparnya itu memiliki cara sendiri untuk menunjukkan rasa sayang, salah satunya dengan mengolok-olok sang Master Jedi dengan julukan yang sudah usang.

Din menggeleng, lalu melangkah hendak mengikuti barisan di depannya, namun Grogu tiba-tiba menarik jubah hitam yang melingkar di lehernya sembari menyebut beberapa huruf vokal dan konsonan yang belum dipahami. Din menoleh, mendapati Ashim di belakangnya cepat-cepat mendekati, lalu Din mengerti: akan dia berikan sebagian jatah fruit jelly milik Grogu untuk sang penerjemah dadakan itu sebelum dia pergi. “Apakah kau mengerti apa yang Grogu katakan?”

“Hmm… oh! Grogu sudah makan lebih awal—dia sangat lapar! Karena dia terus-terusan merengek Master Luke akhirnya memanggang katak-katak untuknya, dan aku membantu Master Luke menguliti katak-katak itu—aku sangat senang melihat Grogu begitu lahap saat makan!” jawab Ashim, terengah-engah. Grogu mengangguk-anggukkan kepala, tawanya membuncah.  “Grogu bilang dia sudah sangaaat kenyang!”

“… Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Ashim.” ujar Din halus, lalu hendak bergeming. Tidak merasakan pergerakan yang berarti Din menoleh ke belakang, menyadari bahwa Ashim elok-elok menatapnya, kedua mata kirmizi menerawang—seperti hendak mengulik apa saja yang terukir di relung hatinya saat ini. Tidak lama fokus anak itu goyah, lalu tersenyum lebar saat selesai menelaah. “Pak Mando dan Master Luke—”

“—Ashim, cepat ke sini!” panggil To’un. Kedua alisnya mengerut nanar, gerak-geriknya tidak sabar. Murid-murid Luke yang lain sudah duduk teratur di atas terpal-terpal panjang bersama dengan para penduduk sembari menunggu Kepala Adat mereka untuk memanjatkan doa. Ashim pun berbalik untuk berlari ke arah kerumunan, namun tidak lupa melambaikan tangan ke arah Din, yang dalam diamnya melewatkan salam perpisahan. “Dadah, Pak Mando!”

Din tidak sampai hati mengatakan kepada Ashim bahwasanya ucapan yang terakhir disampaikan tidak tertangkap di sensor pendengarannya—tolak ukurnya saat ini tengah mencerna makna yang terbesit karena Ashim belum sempat menyelesaikan kalimat yang dilontarkannya sebelum anak itu pergi, meninggalkannya mematung di tengah-tengah rapuhnya tatanan emosi yang rawan akan fraksi; seakan-akan mengetahui ada sebuah lubang tidak kasat mata yang terdapat di sekat jiwanya, seakan-akan mengetahui ada sebuah rasa

Dia dan Luke

Apa yang hendak dikatakan Ashim kepadanya?

“Mando?”

Layaknya bebas oleh kabut-kabut perisai yang mengekang jiwa, Din tersentak, lalu mendapati Luke—mendapati dua pirus milik pria di depannya berkedip lirih sedangkan anak yang dia pegang kukuh merintih. Tangan kiri pria yang lebih muda darinya itu hanya bisa mengambang tanpa menyentuh baju zirah, dalam diamnya mampu merasakan bahwa pemilik fragmen-fragmen perak pelindung raga tengah bersimpuh lelah.

Memalingkan helmnya ke bawah, Din melonggarkan kedua tangannya yang melingkar di badan mungil Grogu, secara tidak sadar telah mendekap anaknya sedikit lebih kencang dari biasanya. Birikad maupun pram melayang yang selalu disiapkan saat Clan of Two bepergian tertinggal di bilik kamar yang terdapat pada sebuah istana megah—yang senantiasa tidak berpenghuni kala sang raja dan pangeran cilik meninggalkan singgasana merah. Luke memegang tas punggung miliknya di tangan kanan, sabar menunggu Din hingga napasnya berangsur-angsur stagnan. “Kau tidak apa-apa? Kalau kau mau, aku bisa menggendong Grogu.”

“Tidak, aku… aku tidak apa-apa,” Din mengelak, kendati di balik helm translusens memeriksa Grogu dengan teliti. Apabila ad’ika-nya merasa tidak nyaman barusan dia tidak menampakkan; justru menorehkan seutas senyum hingga menggembungkan pipi terlepas dikulum. Tiga jari di masing-masing alat peraba Grogu menyusuri figur sang ayah, berusaha mencari jawaban apakah Din menyembunyikan luka yang tidak ingin disembuhkan olehnya. Ruam hangat menjalar dari kedua telapak tangan dan Din merasa dirinya seperti sedang mengarungi awan—tengah menopang kasih yang berjatuhan dari angkasa—hal yang sama sekali tidak dibayangkannya saat dia masih menjadi seorang beroya soliter yang sejatinya hanya ditemani oleh deringan pelacak buruan milik Greef Karga. “Maafkan aku, Nak—kau tidak perlu mencemaskanku; aku tidak sakit.”

Di kejauhan terdengar Kepala Adat mulai memanjatkan doa seraya kedua mata tertuju ke arah cakrawala. Suara bariton terdengar ringkih disusul dengan gumaman-gumaman pelan dari penduduk lokal, di mana murid-murid Luke juga ikut mengumandangkan lirik-lirik yang telah mereka hafalkan sehari sebelumnya. Decitan roda-roda milik R2-D2 memasuki sensor pendengarnya, dan tidak berangsur lama droid kuno tersebut datang di hadapan mereka sambil membawa keranjang yang berisikan beberapa roti isi. Luke menggantungkan keranjang itu di lengan kirinya sembari mengucapkan: “Terima kasih, Artoo,” lalu berlanjut: “tolong jaga anak-anak, ya.”

Masih dalam keadaan terperangah, Luke menuntun Din (dan Grogu) ke belakang pohon besar tempatnya biasa melakukan meditasi setelah merampungkan kelas—meskipun terhalang karena batang pohon dan dahan-dahan yang menjuntai namun atensi sang Master Jedi tidak luput mengawasi pergerakan khalayak ramai. Luke mengeluarkan gulungan terpal dari dalam tas, lalu membentangkannya sehingga mereka dapat mengistirahatkan kaki-kaki yang kebas. Posisi Din duduk membelakangi batang pohon, disusul oleh Luke sehingga keduanya saat ini tengah berhadapan. Luke meletakkan tasnya di sisi kanan dan keranjang berisikan roti isi di sisi kiri, Grogu di antara mereka. Harum kacang denta menguar dan keinginan Din untuk mencicipi kudapan asin itu melebar.

“Makanlah, baru saja dihangatkan.” aku tidak akan melihatmu saat kau menengadahi helmmu, ucapan yang tidak dikatakan menggantung dalam diam saat Luke dengan luwes memutarkan badannya menuju ke arah danau yang berada di depan mereka. Dan di belakang mereka tampaknya Kepala Adat telah selesai dengan ritualnya—disusul oleh bunyi berbagai pasang sendok-garpu berdentum dengan piring-piring yang di atasnya telah tersaji berbagai macam hidangan—bersamaan dengan suara-suara yang didominasi oleh gelak tawa tanda bersuka cita. Din melepaskan sarung tangan kanannya, lalu mengambil bungkusan tisu basah yang terakumulasi oleh disinfektan di kantong berbahan kulit yang terdapat di ikat pinggangnya. Dia lalu menengadah, membuka sedikit bagian helmnya hingga sejajar dengan ujung hidung, dan mulai mengunyah.

Satu, dua, tiga roti isi pun terlahap; Din tidak mengingat kalau dia selapar ini. Roti isi kacang denta yang benar-benar enak, mungkin dia bisa meminta Luke untuk membungkuskan sisa roti yang ada di dalam keranjang untuk dimakannya dalam perjalanan pulang.

Perjalanan pulang ke Mandalore namun Din merasa bahwa separuh hatinya tertinggal di Ossus.

“Sebelum kau menanyakan kenapa aku tidak ikut bergabung dengan mereka, alasannya sederhana saja: aku masih kenyang,” tutur Luke tiba-tiba, tatapannya masih tertuju ke arah danau dangkal yang mengitari dataran komunal. Din membersihkan mulut dan tangan kanannya dengan tisu sedangkan Grogu merangkak menuju tas milik Luke, membawa badannya masuk, lalu mengeluarkan suara-suara dengkuran pertanda suntuk.

Din membawa helmnya kembali menutupi mulut dan dagu—dia bisa melihat kedua telinga Luke berkedut saat mendengar helaan napasnya yang disamarkan oleh modulator. Din tertegun, lalu mencoba mengalihkan fokusnya ke topik lain; saat dia mendarat sudah terdapat rasa penasaran, dan pertanyaan yang tertahan di ujung lidah akhirnya diutarakan. "Pesta ini—dalam rangka apa?"

"… Terima kasih atas pertanyaannya." gumam Luke pelan, kembali memutarkan badannya untuk berhadapan langsung dengan lawan bicaranya. “Kami mengadakan syukuran kecil-kecilan. Malam ini gugus bintang Pleiades akan terlihat dan hal tersebut dipercaya sebagai hal yang sakral bagi penduduk lokal.

“Fenomena langit ini hanya terjadi di Ossus setiap tiga tahun sekali—tanda Sang Pencipta tengah memberkati ladang-ladang dan mengangkat wabah-wabah penyakit.” Luke memejamkan kedua matanya. “Itu kepercayaan mereka sejak lama, jadi kami tidak punya hak untuk menolak selain ikut andil dalam merayakan.” kedua mata pria di hadapannya pun kembali terbuka, pirus kembarnya mengarah pada Grogu yang kini tengah berbaring di dalam tas yang dipakai kala berlatih di Dagobah dengan Master Yoda yang jenaka.  “Diperbolehkan untuk bermukim di sini saja aku sangat bersyukur—karena aku tidak tahu lagi harus mencari ke mana.”

Sebuah tempat untuk bernaung hingga hayat tak lagi dikandung.

Din mengangguk, khidmat dalam mendengarkan. Dia pernah mendengar bahwa ada kepercayaan serupa di Aldhani, di mana penduduk asli meyakini bahwa hujan meteor merupakan berkat bagi mereka yang menyaksikan satu dari banyaknya fenomena langit tersebut. Din mendongak, dan benar saja, gugus bintang satu persatu tengah menampakkan cahayanya yang gemerlap—empat dari tujuh gugus bintang Pleiades belum terlihat, masih bersembunyi di antara lapisan adiwarna yang begitu pekat.

“Aku samar-samar mendengar percakapanmu sebelumnya dengan anak-anak—namun yang kutangkap hanya segelintir—sesuatu tentang kunjungan ke Krownest?”

“Itu benar.” melihat Luke mengerutkan alisnya Din dengan cepat memotong sang Master Jedi sebelum dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah diterka. “Aku dan Lady Wren—tidak, kami semua akan menanggung akomodasi kalian selama di sana,” dialog pun berlanjut, “dan jangan menganggap ini sebagai balas budi karena telah mengajari Grogu.”

Din tahu bahwa pria di depannya sungguh-sungguh mengajari Grogu tanpa pamrih. Sebelum Grogu menjalani pelatihan force kembali dia pernah bertanya mengenai masalah finansial untuk keberlangsungan akademi—baik itu dengan membayar iuran bagi anak yang memiliki orang tua ataupun secara sukarela—dan Luke secara halus menolak. Pria itu membiayai murid-muridnya dengan kredit pribadi miliknya. Hal itu membuat Din terkesima, dan pada saat itu juga dia merasa bahwa jantungnya lebih semarak bergema.

“Terima kasih—aku berhutang kepadamu.”

Din menggeleng—sungguh, dalam kurun satu tahun terakhir dia seharusnya sudah mengetahui watak Jedi yang sangat keras kepala ini—mau tidak mau dia meninggikan nada suaranya. “Justru aku yang mestinya berhutang—apakah kau tidak ingat dengan para foundling yang kautemukan di Bogano?” Din mengangkat tangan kirinya, menghentikan Luke sebelum pria itu kembali merendah—dan dengan tegas menyampaikan daulatnya. “Kau tidak berhutang apa pun kepadaku, Skywalker; aku tidak akan mengulangi perkataanku lagi.”

Keduanya pun bungkam, yang di mana pada saat itu hanya terdengar suara dengkuran yang teramat pulas—Grogu telah tertidur lelap. Bahan busa di dalam tas Luke yang empuk membuat anak itu tak kuasa menahan kantuk. Buaian halus-halus dari arah tenggara kini tengah membasuh peluh-peluh yang berjatuhan seraya memberi obat penawar pengusir kegundahan. Din dan Luke kembali menukar pandang, yang pada akhirnya menemukan titik terang. Kedua pirus kembar milik Luke kini terpijar, dan sebuah senyum simpul terajut di empunya mulut.   “… baiklah. Terima kasih sekali lagi, Mando.”

Aku hanya ingin kau tersenyum lebih banyak lagi—

“Din,” –dan aku ingin mendengar kau menyebut namaku. “… namaku Din Djarin.”

Kau sudah tahu itu.

“… Din Djarin.” hangat yang Din rasakan saat mendengar namanya terucap kali pertama oleh pria di hadapannya. Di balik helmnya dia tidak bisa membayangkan bagaimana lengkung senyum miliknya saat ini, tertutupi oleh kumis yang sudah seminggu belum dicukur rapi. “Senang bertemu denganmu, Din. Kau bisa memanggilku Luke.”

Dan aku juga sudah tahu itu.

“… Luke.” ujar Din pelan, lidahnya kelu saat menilik kedua mata pirus tengah mengekspansi, lalu menggeser pandangan untuk menyudahi interaksi. Din mawas diri bahwa tatapan yang sebelumnya diberikan sang Master Jedi kepadanya bukanlah sebuah afeksi.

Untuk saat ini Din hanya bisa berimajinasi dan tidak ingin berasumsi.

Lima gugus bintang Pleiades telah terlihat dan membuat area di sekitar akademi lebih kentara. Fokus Luke sekarang tertuju kepada murid-murid dan anak-anak penduduk lokal di belakang mereka yang tengah berbaring santai di atas terpal—berbagai pasang sendok-garpu dan piring-piring telah disingkirkan dan tengah dicuci oleh penduduk lokal di kolam penampungan air yang hanya berjarak beberapa meter, tempat Luke dan murid-muridnya biasa membersihkan peralatan makan dan pakaian—di mana mereka menyandarkan kepala mereka di atas bantal-bantal yang telah disiapkan sebelumnya untuk orang tua maupun kerabat kala berkunjung. Alunan force bersenandung tanpa satu pun nada sengau, menentramkan bagi mereka yang sedang menyaksikan atraksi memukau.

“Luke,” ujar Din kembali. Dia tidak mengindahkan bagaimana bahu Luke terperanjat saat Din kembali bersuara. “Aku tidak menjamin, tetapi mungkin saja kau bisa bertemu dengan Tano dan Bridger di Krownest.”

Mendengar nama Ahsoka dan Ezra sepertinya membuat pertahanan Luke melunak; seulas senyum terpatri barang sejenak.  “Kau bertemu mereka di sana?”

Din mengangguk, suasana hati tidak lagi berkecamuk. “Hanya sekilas. Sebelum mereka lepas landas aku sempat menyapa Tano dan Sabine tetapi Bridger tampak sibuk dengan seorang anak laki-laki. Dari yang kudengar saat ini mereka sedang berada di Lothal.”

“Aku kenal dengan Ibu dari anak itu—Hera Syndulla.

“Aku berkenalan dengan Hera saat Perang Endor tengah berlangsung, serta anaknya dan mendiang Ksatria Jedi Kanan Jarrus yang bernama Jacen. Dua tahun kemudian aku bertemu lagi dengan mereka dan merasakan bahwa Jacen sensitif terhadap force. Aku menawarkan diri kepada Hera untuk mengajari anak itu tetapi Hera menolak; dia ingin menunggu Ezra ditemukan oleh Sabine dan Ahsoka agar Jacen bisa diajari oleh murid mendiang ayahnya,” tutur Luke seraya menyenderkan badannya; kedua telapak tangan bertumpu di atas terpal agar dapat menyokong beratnya. “Aku sama sekali tidak keberatan, justru bersyukur—aku senang mendengar bahwa ada Jedi lain di luar sana—bahwa aku tidak sendirian.”

Celoteh To’un dan Ashim dan anak-anak penduduk lokal yang usianya hampir sama dengan mereka kini mereda karena mereka pun telah tertidur lelap, sedangkan Minaka dan Vo’unk yang berbaring di antara kedua youngling tetap terjaga seraya menyantap fruit jelly yang telah dibagikan seusai makan malam tadi. Waktu telah mendekati larut malam, dan dua dari tujuh Pleiades pun tak kunjung tampak. Sebuah pertanyaan pun kembali tertoreh di benak.

“Apakah kau kerasan menetap di sini?”

Suara dengkuran Grogu mengerumun di antara mereka yang sedang berteduh seraya meniti asa yang tengah berlabuh. Kilauan perak yang berasal dari baju zirah anaknya tidak sengaja menyilaukan kedua mata pirus, membuat Luke menengadah dan membiarkan angin malam membelai rambut klimisnya yang hampir tidak pernah terlihat berantakan. Leher jenjang yang sering kali tertutup oleh kerah hitam kini terpampang jelas di depan mata dan Din dengan sekejap mengalihkan pikirannya ke sesi latihan saber mereka di bulan-bulan terakhir. Sepertinya menerapkan disiplin saat ini adalah hal yang fana, pun ditambah kehadiran sang objek yang acap kali membuatnya terpana.

“Sejauh yang kudapatkan di sini hanyalah hijau yang terhampar, udara yang bersih, sumber air yang melimpah, kekuatan force yang begitu masif—bagaimana aku tidak kerasan?”

Di balik helmnya, Din menutup rapat kedua mata. Pernyataan Luke membawanya kembali di sela-sela waktu kala dia menyempatkan diri untuk mempelajari sejarah awal Mandalore—ada suatu masa di mana tanah Mandalore merupakan tanah yang masyhur; sepanjang mata memandang terdapat rerumputan maupun pepohonan yang asri beserta sungai-sungai yang jernih menopang ekosistem di setiap penjuru—untuk mengembalikan kejayaan Mandalore seperti sedia kala tentunya membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun; mungkin di saat itu dia sudah tiada namun kelak Grogu bisa mewakilinya untuk menyaksikan perubahan di masa depan yang lebih baik. Dan gagasan perubahan itulah yang bisa Din petik saat mempelajari masa-masa pemerintahan Mand’alor Satine Kryze; kakak dari Bo-Katan itu tidak menginginkan ada pertumpahan darah lagi di tanah Mandalore, baik dengan sesama Mandalorian ataupun menjadi boneka yang dikendalikan oleh senat Republik Galaksi dengan menjadi netral saat Perang Klon. Din bisa mengerti pergolakan yang dialami wanita itu.

Dari keempat alasan yang telah diutarakan oleh pria di hadapannya hanya tiga yang bisa Din rasakan secara langsung—dia berbohong kalau Ossus tidak mengingatkannya kepada Sorgan; apabila Omera menawarkan sebuah surga, justru Luke menawarkan sebuah oasis—sebuah tempat di mana dia bisa mengistirahatkan penat dan memuaskan dahaga tanpa perlu merasa terkekang—di titik ini dia telah berdamai dengan pribadinya, telah menerima kenyataan bahwa takdirnya lebih besar untuk sekedar menjadi seorang petani krill di planet antah berantah. Force membawanya kepada Grogu, membawanya kepada orang-orang yang telah membantunya untuk mengantar anaknya kepada Jedi, membawanya kepada Luke—darksaber yang terdapat di pinggul kirinya berdengung untuk beberapa saat, seakan-akan membenarkan frasa-frasa yang terpercik di benaknya—bahwa dirinya yang sekarang adalah seseorang yang pantas mengisi takhta Mandalore, dan sesuatu yang lebih besar menantinya; sesuatu yang lebih besar dari takdir, sesuatu yang berharga—masih banyak petualangan untuk ditelusuri pada jembatan kehidupan yang membuat dirinya berarti.

Meskipun begitu—

“Sepertinya mulai sekarang aku perlu menggalakkan program reboisasi Mandalore—karena melihat gedung-gedung pencakar langit di dalam dan tanah yang kelewat gersang di luar kubah terlalu sering membuat kepalaku pusing.”

“Kau bisa membawa beberapa bibit tanaman dari sini. Menanam bambu bagus untuk mengurangi polusi.” ujar Luke sembari tertawa kecil. Tangan kanannya bergerak mengambil sebuah botol kecil yang terdapat di saku tasnya, berhati-hati untuk tidak menyenggol badan Grogu. Hanya setengah botol yang terisi, dan dengan cepat minuman di dalam botol ditegak habis oleh pria di hadapannya itu.

“… susu biru? Yang benar saja.”

Luke tertawa lagi, dan kali ini menyikut betis Din dengan betisnya. “Ini hari yang agung bagi penduduk lokal, tidak sopan kalau aku kedapatan meminum spotchka.” Pria itu lalu menggeleng, dan berancang-ancang untuk berdiri. “Teh hangat juga ada, jika kau mau aku bisa mengambil—”

Tanpa berpikir panjang Din menarik tangan kiri Luke, menghentikannya. Tenggorokannya cekat, namun dia tidak merasa haus. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba saja memiliki keberanian untuk menyudahi kepayahannya. Hatinya kini bertalu-talu begitu kencang—malam ini Din ingin egois sedikit saja, untuk sekarang ingin memiliki Luke barang sebentar—dia pun menelan ludahnya. “Tidak perlu… nanti. Nanti, biar aku saja.”

aku ingin kau berada di sisiku.

“… baiklah.”

Keduanya tidak bergeming dari tempat di mana mereka berpijak. Din masih memegang erat tangan kiri Luke, membuat badan pria itu condong ke arahnya. Mereka masih menatap satu sama lain, terlambat menyadari bahwa tujuh gugusan bintang Pleiades kini telah terungkap seluruhnya, terlambat menyadari bahwa penduduk lokal yang masih terjaga kini sedang mengemukakan doa dengan bahasa mereka masing-masing, terlambat menyadari bahwa R2-D2 telah kembali ke bilik Luke untuk beristirahat sembari mengisi daya, terlambat menyadari bahwa Minaka dan Vo’unk kini tengah menggendong Ashim dan To’un agar bisa terlelap dengan nyaman di bilik mereka dan dengan satu tangan memegang holocam Vo’unk merekam fenomena langit tersebut agar bisa diperlihatkan kepada sahabatnya Yumna.

Terlambat menyadari bahwa kedua tangan mereka kini bersentuhan tanpa satu pun penghalang—Din lupa untuk mengenakan kembali sarung tangannya. Di balik helmnya yang tidak transparan dia terperanjat akan hangat yang meresap masuk ke dalam persendiannya, merasakan denyut nadi di pergelangannya kian berdebar tidak menentu. Ukuran tangannya lebih besar dari Luke, menyelimutinya. Dari samping dia bisa melihat guratan-guratan di telapak tangan pria itu meskipun tangan dominannya adalah tangan kanannya yang merupakan tangan artifisial.

“Din.”

Sekumpulan cahaya-cahaya pun beterbangan di antara wajah mereka, menyadarkan Din dari gejolak asmara yang begitu mengakar karena sudah dipupuk sedemikian lama. Desir yang berpusar di raganya perlahan-lahan memudar dan menghilang, seakan-akan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dirasakannya saat ini bukanlah perasaan sesaat—bahwa perasaan yang dirasakannya sekarang adalah sesuatu yang mutlak.

Kunang-kunang bermunculan dan keduanya masih mengindahkan sulaman alam, lantas mengulur waktu dengan menguraikan anomali yang mendekam. Membulatkan tekad, Din menarik Luke agar dapat bersandar di bahu kanannya.

“Tetaplah di sini, Luke.”

Tetaplah bersamaku.

Entah apa yang ditafsir oleh pria di sampingnya selagi keduanya kembali bersemayam di benak masing-masing, pun gagal dalam mencoba meredam dentuman bising. Dalam bungkamnya Din telah menyiapkan batinnya untuk mendengar penolakan—bahwa semua ini adalah suatu kesalahan, untuk membawa Grogu pergi dan memberikannya sebuah ultimatum agar tidak menapakkan kaki di tempat ini lagi karena Luke memegang teguh ajaran Jedi untuk tidak memiliki keterikatan—dan ekspektasi itu pun buyar di saat Luke menghela napas, membalas genggamannya, menautkan jemari dengan jemari, membawa badannya sedikit lebih dekat, lalu kembali merangkai kata.

“Kau lihat kunang-kunang ini? Aku membawa kunang-kunang ini kemari. Mereka berasal dari daerah kering di planet Felucia—aku membawa sekelompok kecil kawanan kunang-kunang tiga tahun yang lalu setelah menanam Pohon Force yang aku bawa dari planet Vetine di sana.” tangan kanan Luke terangkat, menggunakan kekuatan force miliknya untuk mengangkat tasnya—yang mana terdapat Grogu di dalamnya—lalu meletakkan tas yang berisikan anak itu di pangkuan Din. “Sekarang mereka sepenuhnya beradaptasi di semak belukar maupun rawa-rawa di sekitar sini."

Din memiringkan helm agar bisa melihat pria di sampingnya lebih jelas—wajahnya tampak lebih bercahaya karena tengah dikelilingi oleh kunang-kunang. Di belakang mereka gulungan-gulungan terpal telah tersusun rapi oleh penduduk lokal yang telah kembali pulang ke pemukiman, sementara Minaka dan Vo’unk sepertinya telah mendapatkan gambaran yang menyamai presisi dan memutuskan untuk memberikan mereka privasi. Tidak lagi mendengar derap-derap kaki Din melepaskan genggaman, lalu menggerakkan tangan kanannya untuk meraih bahu di sisi kanan, membuat Luke bersandar lebih dekat lagi sehingga tidak ada jarak yang melerai kedua insan.

“Cahaya mereka sama seperti kristal kyber yang ada pada lightsaber-mu.” cetus Din, dengan tangan kirinya mencoba untuk menarik perhatian beberapa dari hewan kecil itu. Seekor kunang-kunang hinggap di atas hidung Grogu, membuat anak itu menjadi gusar dalam lelapnya, lalu mengomel dengan bahasa yang masih tidak karuan sembari menggaruk hidungnya karena merasa gatal. Mereka berdua tertawa pelan melihat kelucuan itu.

“Kau benar. Cahaya kunang-kunang spesies ini berwarna hijau, berkilat seperti zamrud…” ujar Luke, dan dengan tangan kirinya pun pria itu mencoba untuk menangkup sepasang kunang-kunang yang berkeliling di sekitar kepalanya. “Aku tidak menyangka bisa melihat kawanan kunang-kunang pada saat ini.”

“Coba bertanya kepada mereka?” saran Din sembari menutup kedua mata, samar-samar mengingat pria di sampingnya pernah menjelaskan kepadanya mengenai filosofi sisi terang dari force yang dapat digunakan kepada hewan-hewan untuk meredam amarah maupun sebagai penunjuk jalan bagi mereka yang tersesat tak menentu arah, layaknya Grogu dengan kekuatan force miliknya dapat menidurkan seekor rancor; hal tersebut tak ayal untuk membuatnya kagum. Luke mengangguk, lalu tersenyum khusyuk.

“Ah… sepertinya kawanan ini salah sangka—cahaya dari gugusan bintang membuat mereka tertarik untuk keluar dari sarang; mereka berpikir ada kawanan baru yang datang ke habitat mereka.” kunang-kunang pun mulai mengedip-kedipkan lampu-lampu mereka, bak menghiasi namun tak luput membuat impresi. Din membuka kedua mata kembali saat mendengar Luke memanggil namanya. “Ada apa?”

“Kawanan kunang-kunang ini ingin berpamitan: ‘mereka akan pergi untuk menemukan pasangan mereka dan semoga… ” Luke tertegun, dan perlahan-lahan rona merah mewarnai wajahnya. “… semoga kalian menemukannya juga.’”

Dan dengan permainan kedipan cahaya-cahaya terakhir yang memesona kawanan kunang-kunang itu pun terbang beriringan, meninggalkan mereka dengan secercah harapan. Din menghirup napas panjang-panjang, menyadari bahwa penantiannya telah usai tatkala telunjuk dan ibu jari Luke melintas pada simbol mudhorn miliknya dan bertanya: “Apakah kau telah menemukannya?”

Sebuah kilasan memori menghampirinya—petuah dari Armorer tiga bulan standar yang lalu.

Pesawat kelas Lambda milik Luke akhirnya mendarat. Din dengan Grogu yang berada di dalam birikad, dan Armorer dan Paz serta foundling-nya Ragnar menemani mereka untuk bertemu sang Master Jedi di titik pertemuan terdekat yang berada di Glavis. Beberapa jam yang lalu Luke memberitahunya bahwa di Bogano dia menemukan lima anak-anak Mandalorian yang terlantar kurang lebih selama dua bulan di planet itu saat sedang mencari artefak Jedi.

Lerengan The Salvation terbuka seluruhnya dan Luke menuruni lerengan itu dengan anak-anak yang menempel di kedua sisinya. Kedua mata Din tertuju pada simbol yang terdapat pada bahu anak-anak itu—klan Awaud. Luke dengan sabar menurunkan anak yang paling muda dari gendongannya, sedikit merengek ketika sadar bahwa dia akan berpisah dengan Jedi itu.

“Pergilah. Mand’alor telah menjemput kalian. Kalian akan aman bersama mereka.”

Belum sempat Din mengucapkan terima kasih, Armorer yang berada di sampingnya lantang bersuara. “Anak-anak klan Awaud, di mana orang tua kalian?”

Anak yang paling tua pun menjawab. “Tolong jangan salahkan buir kami—mereka pergi untuk mencari nafkah. Mereka menyayangi kami, meninggalkan kami dengan persediaan makanan selama mereka pergi—mereka mencoba untuk menjadi tentara bayaran; dan sejak saat itu mereka tidak pernah kembali.”

Tanpa bersuara Din mengisyaratkan Paz dan Ragnar untuk mengajak anak-anak itu naik ke pesawat, meredakan kecemasan yang masih mereka rasakan dengan menghidangkan kue uj yang gurih-manis dan sup panas tiingilar yang telah disiapkan sebelumnya untuk disantap.

Tidak lama setelah itu Grogu melompat ke arah Luke dan memeluknya dengan erat. Sudah beberapa minggu Din dan Grogu tidak berkunjung ke Ossus karena sibuk dengan misi mereka untuk memulangkan kembali para Mandalorian—dan salah satu misi itu adalah sekarang. Luke tersenyum, tak lekang membuat anak itu tertawa saat pria itu memijit salah satu telinganya. “Halo, Grogu. Aku juga merindukanmu.” 

Layaknya sinar benderang yang menerangi jiwa, perasaan yang dimiliknya tak kunjung sirna saat Din melihat Grogu dan Luke bersama.

Tidak lama Din sadar bahwa Armorer masih berdiri di sampingnya, mengamati dalam diam. Saat ini dia bersyukur bahwa dia bukan lagi seorang pembelot, meskipun Bo-Katan tetap dengan pendiriannya bahwa sektenya dipenuhi orang-orang kolot. Armorer sudah lama dianggapnya sebagai saudari sendiri, dan itu membuatnya tidak segan untuk mencurahkan isi hati.

“Apa yang ada di benakmu, Din?”

“Akhir-akhir ini aku tidak bisa berhenti memikirkan segalanya tentangnya—menjalin hubungan dan membangun kehidupan bersama—namun dia adalah seorang Jedi dan pahlawan semesta alam.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.”

“Bukankah dia melakukan hal yang sama sepertimu, mengayomi dan mengasihi foundling-mu Grogu, dulu hingga sekarang?

Grogu mungkin tidak menjadi Jedi, namun Jedi itu—dia menatapmu seakan-akan kau adalah semesta alamnya.”

Din terhenyak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh saudarinya namun Armorer kembali bersuara.

“Wajar apabila seorang Mand’alor membutuhkan seorang aliit yang dapat menjadi contoh untuk ad’ika-nya—wajar apabila seorang Mand’alor mempunyai hasrat untuk memiliki seseorang yang terbaik menjadi riduur-nya.”

Luke pun menoleh ke arahnya—cahaya bintang terpantul di kedua mata tatkala pria itu menatapnya dengan senyum yang menawan.

“Kalau itu jalannya, maka jalanilah.” Armorer mengangguk, memberi restunya. “Jalani kata hatimu.”

“Ya,” jawab Din dengan penuh keyakinan seraya mendekatkan helmnya untuk bersentuhan dengan dahi Luke. “aku telah menemukannya.”