Work Text:
Suasana sunyi mengetuk studio rekaman hari itu. Minami masih memaksa dirinya untuk fokus pada sekumpulan kertas musik dengan headphone yang senantiasa bertengger di telinganya. Sesekali ia menganggukkan kepala mengikuti irama yang terdengar.
Pukul 7 malam, ia mulai meregangkan badannya yang terasa kaku akibat duduk selama berjam-jam, keasikan dengan dunianya sendiri. Niatnya setelah ini sih mampir ke kedai ramen dan menghabiskan sampai 3 porsi besar. Ah, Minami lapar hanya dengan membayangkan aromanya.
Touma keluar dari balik pintu studio lainnya. Kelihatannya baru saja menyelesaikan latihan.
"Oi, Mina!" sapa Touma sambil mengangkat tangannya. "Bagaimana dengan lagu yang sedang kau kerjakan itu?"
"Selamat malam, Inumaru-san. Aku hanya mengerjakan sedikit bagian. Kita masih punya banyak waktu sampai perilisan lagu selanjutnya, jadi aku putuskan untuk tidak terburu-buru."
Touma menganggguk paham, "Kau akan pulang?"
"Aku ingin mampir ke kedai ramen terlebih dahulu. Bagaimana denganmu?"
"Sepertinya ingin mampir ke suatu tempat juga, tapi aku masih harus menunggu Haru, ia bilang sebentar lagi selesai."
"Kalau begitu aku pamit duluan. Sampai jumpa, Inumaru-san."
"Berhati-hati lah, Mina."
Dengan itu, Minami pun tersenyum dan mulai melangkah keluar gedung agensi.
Pikirannya malam ini dipenuhi ramen lezat dan itu membuatnya semakin lapar.
Sesampainya di kedai ramen, ia mengambil tempat yang terpojok, sedang ingin menikmati makanannya dengan damai. Namun, ada segerombolan anak muda tak jauh dari tempatnya. Ia kenal mereka, IDOLiSH7.
Baru saja akan menyantap ramen hangat di hadapannya ini, matanya tak sengaja beradu pandang dengan salah satu anggota. Itu Nikaido Yamato. Minami tersenyum sebagai sapaan dan mulai menikmati makanannya. Jujur, ia agak malas meladeni tujuh orang itu, repot. Minami sedang ingin me-time hari ini. Tapi mau bagaimanapun, ia tidak bisa memerintahkan mereka untuk tutup mulut. Pada akhirnya, leader grup itu memanggil namanya. "Natsume-chan!" Yamato melambaikan tangannya, membuat anggota lain ikut melihat ke arah Minami. Minami pun menepuk jidatnya sebentar sebelum akhirnya balas tersenyum, ia juga melambai kecil.
Tolong! Minami ingin menjadi anti sosial sebentar saja!
Dengan perasaan yang mulai kesal, ia tetap melanjutkan makan. Minami sadar ada seseorang yang menghampirinya, tapi ia terkejut orang itu adalah Rokuya Nagi. Aduh! Malas sekali berurusan dengan orang ini.
"Ternyata kau memang senang menghabiskan waktu sendirian."
"Tidak perlu basa-basi, katakan maumu."
Minami membalas sembari mengunyah ramennya. Tidak peduli lagi dengan image kalem yang selalu ia jaga.
"Aw, galak sekali. Tidakkah si cantik ini merasa kesepian?"
"Uhuk!" Minami terbatuk, tersedak lantaran bule Northmeir di hadapannya ini asal ceplos.
"Sorry," kata Nagi sambil memberinya tisu, mencoba untuk membantu.
"Kembalilah ke tempat anggotamu yang lain, untuk apa menemaniku di sini?"
"Memangnya aku tidak boleh menghampiri kekasihku sendiri?"
Lagi-lagi Minami terbatuk dibuatnya. Seharusnya Minami pukul saja kepala orang ini.
"Bicara apa, sih? Pergi sana."
"Tidak mau, mana tega aku biarkan si cantik ini sendirian. Boleh, ya?"
"Aku sudah hampir selesai, mau pulang."
"Aku akan menemanimu pulang kalau begitu."
"Astaga, Rokuya-san, kenapa keras kepala sekali?"
Minami sakit kepala, malas melihat kelakuan orang ini.
"Padahal aku kan sudah mengabarimu kalau kami akan makan bersama di sini, karena aku tau kau pasti juga datang kemari. Tidak baca pesanku, ya?"
"Pesan apa?" kata Minami sambil meraba saku celana. Loh? Ponselnya tidak ada? Tas kecil di atas meja juga ia bongkar. Sepertinya ketinggalan di studio. Minami lupa!
"Ada apa, Natsume-shi?"
"Aku akan kembali ke studio setelah ini, ponselku tertinggal."
"Aku temani, ya?"
Minami semakin pusing. Nagi ini kepalanya terbuat dari batu, ya?
"Kalau aku bilang tidak pun kau pasti bersikeras. Sudahlah, terserah maumu."
Nagi tersenyum, wajahnya konyol, tidak seperti biasanya. Hari ini ia kelihatan seperti badut, tidak ada aura pangeran sama sekali.
Minami berjalan keluar setelah menghabiskan makanannya, diikuti Nagi yang sebelumnya sudah meminta izin kepada anggota IDOLiSH7.
"Malam ini dingin, bajumu juga tipis, boleh aku genggam tanganmu?"
"Tidak mau," kata Minami langsung menjauhkan tangannya.
"Ternyata yang dingin itu dirimu."
"Sebenarnya ada apa denganmu hari ini, Rokuya-san?"
"Tidak ada apa-apa. Hari yang menyenangkan, kami diberi day off, besok sudah harus bekerja lagi."
"Kalau begitu pulanglah, nikmati libur singkatmu."
"Justru karena aku sedang libur makanya aku ingin bersama kekasihku."
Sebenarnya Nagi sadar tidak, sih, setiap kali dirinya menyebut 'kekasih' atau 'cantik', suhu di wajah Minami langsung naik. Pipinya terasa panas, ia merona tersipu.
"Stop! Hentikan! Atau aku menendangmu ke tengah jalan."
Ternyata Nagi menyadarinya, karena itu ia sengaja menggoda Minami habis-habisan. Wajah pucat itu terlihat kontras dengan pipi merona. Kalau dilihat dari dekat, Minami semakin cantik.
Sudah hampir 15 menit mereka berjalan kaki, kini keduanya sudah sampai di gedung agensi Minami.
"Tunggu di sini, aku hanya mengambil ponsel." Nagi patuh. Ia mendudukkan diri di sofa lobi. Dilihat-lihat desain agensi ini bagus, kira-kira begitu pikiran Nagi yang terkesima memandang interior sekelilingnya.
Sementara itu, Minami sedang tergesa menuju studio yang ia tempati tadi, berharap ponselnya memang ada di sana.
Tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang karena berjalan terlalu cepat. Ternyata Utsugi Shiro, manajernya, manajer ZOOL.
"Utsugi-san? Sedang apa dari dalam sana?" tanya Minami.
"Ini milikmu, ya?" Pria berambut abu-abu itu menyerahkan ponsel yang memang benar adalah milik Minami.
"Terima kasih, Utsugi-san. Aku baru saja akan mengambilnya."
"Sama-sama. Tadinya aku pikir kau masih di dalam, ternyata hanya ada ponsel tanpa pemilik ini." Minami hanya terkekeh.
"Oh, maaf, tadi aku tidak sengaja membaca notifikasi pesan. Sepertinya ada yang mencarimu."
Minami putuskan untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan. Sial! Semua ini dari Rokuya-san! Artinya Utsugi-san tahu pesan-pesan memalukan ini.
"Jangan khawatir, aku tidak membacanya dengan sengaja loh, ya," Shiro tertawa setelahnya, dan Minami balas tertawa canggung.
"Sekali lagi terima kasih, Utsugi-san. Aku pamit." Minami membungkukkan badannya, kemudian segera pergi menghampiri Nagi.
"Ayo," katanya begitu sampai di depan Nagi. Ia langsung menarik tangan laki-laki itu untuk berdiri, bahkan sebelum si pirang membuka suaranya.
Nagi kaget, tapi hanya sebentar. Ia pilih untuk melepaskan pegangan Minami dan menggantinya dengan genggaman. Kali ini Minami yang balik terkaget. Dengan raut muka yang kembali kusut, ia malah mengeratkan genggaman tangan mereka. Nagi tertawa ringan. Lucu sekali kekasihnya ini. Kalau tidak sadar diri, pasti ia sudah mencium Minami sejak tadi.
"Sampai kapan mengikutiku terus?" tanya Minami, tetapi sedari tadi genggaman tangan belum dilepas.
"Aku akan menginap di tempatmu malam ini. Bukankah aku sudah mengirim pesan kepadamu soal itu?"
"Aku pulang sendiri saja."
"Loh, Natsume-shi?"
Nagi berjalan cepat menyusul Minami yang malah melepaskan genggaman mereka. Langsung ia rangkul bahu kekasihnya dan berkata, "Tidak usah malu, ini bukan sekali dua kali aku menginap."
Minami hanya memutar matanya, malas menanggapi.
Selama perjalanan, Nagi curi-curi pandang, tapi akhirnya kesampaian juga untuk mencium pipi itu.
Minami berdecak, sebenarnya tersipu.
"Ada rencana menikah?" Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Nagi, yang kemudian mendapatkan pukulan pelan di kepalanya.
"Tidak berminat," kata Minami tetap menjawab.
"Kalau menikah denganku, bagaimana?"
"Apalagi denganmu."
"Kau ingin tema yang seperti apa? Tradisional Jepang? Royal wedding?"
"Daritadi tingkahmu aneh, sebenarnya apa yang terjadi?"
Minami menghentikan langkah, lalu ia tangkap wajah Nagi dengan kedua tangannnya. Ia juga mengusap-usap pipi laki-laki pirang itu. Tapi Nagi malah melihat ini sebagai sebuah kesempatan. Ia dekatkan bibirnya dengan bibir Minami dan menciumnya. Minami terpaku dengan perlakuan Nagi yang tiba-tiba. Ia juga merasakan Nagi mulai melumat bibirnya. Minami melenguh, hampir terbuai. Kemudian sadar dan mendorong bahu Nagi untuk menjauh.
"Rokuya-san!"
"Aw, sayang sekali, aku pikir kita akan bercumbu di sini."
"Sudahlah, memang lebih baik aku pulang sendirian."
Minami merengut, merasa menyesal bertanya kepada Nagi yang ternyata memang tidak beres hari ini. Minami yakin baut kepala Nagi jatuh di suatu tempat. Ia melanjutkan langkah dengan cepat. Nagi pun sama, ia tetap mengekori Minami walau baru saja dimarahi.
Mereka tiba di apartemen Minami. Nagi mengulurkan sebelah tangannya untuk memeluk pinggang Minami. Yang dipeluk masih kesal dengan tindakan Nagi barusan.
"Izinkan aku untuk sebentar saja menemanimu."
"Sebentar bagimu, lama bagiku. Besok kau sudah harus kembali bekerja, pulang sana."
Nagi tidak mengindahkan perintah Minami. Begitu mereka masuk ke dalam, Nagi langsung menggendong Minami menuju sofa. Menjatuhkan tubuh laki-laki itu di atas pangkuannya. Kedua tangannya ia gunakan untuk meraih pinggang Minami, bermaksud mempersempit jarak di antara mereka. Minami memutar matanya, tapi pada akhirnya ia tetap mengalungkan tangannya ke leher Nagi. Kemudian mulai mencumbu bibir di hadapannya ini. Keduanya ditelan nafsu. Tangan Nagi sudah mulai kemana-mana, memberikan sensasi geli kepada Minami. Bibir mereka masih beradu dan suasana semakin panas. Hingga akhirnya Minami yang lebih dulu memutus kontak antara mereka.
"Tidak usah, ya? Kita sama-sama punya pekerjaan besok," kata Minami yang ternyata masih sadar akan kegiatan mereka barusan.
Nagi menghela napas, agak kecewa. Ia kembali memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah Minami. Yang diperlakukan seperti itu malah tersenyum. Minami pun menjauhkan diri dari pangkuannya dan duduk di sebelah pria itu. Minami ambil tangan kekasihnya untuk didekap ke wajah. Nagi tidak jadi kecewa, pemandangan di depannya saat ini lebih indah daripada kegiatan yang sebelumnya sudah ia pikir akan ia lakukan dengan Minami.
"Kalau semuanya sudah selesai, baru kita lanjutkan kegiatan yang tadi, ya?" kata Minami, dan langsung membuat Nagi kembali mencium singkat bibir itu. Rasanya candu sekali.
Jadi idol itu sulit, waktu untuk pacaran pun tidak ada.
Nagi jatuhkan kepalanya ke atas bahu Minami, ia ambil tangan sang kekasih dan ia ciumi berkali-kali. Minami terkekeh gemas dibuatnya.
"Sayang," panggil Nagi. Minami bersenandung sebagai balasan.
"Nanti akan aku pastikan kita menikah dengan tema kerajaan."
Minami tergelak, "Kerajaan? Memangnya kau bukan seorang pangeran? Bukannya sudah jelas kalau aku ikut denganmu nanti pasti kita akan menikah sesuai aturan kerajaan?"
"Tidak, kita akan menikah di sini, di tanah kelahiranmu."
Keduanya tersenyum. Mereka itu saling mencintai, dan mereka punya banyak mimpi untuk diwujudkan bersama. Jadi idol itu melelahkan, tapi bolehlah sesekali mereka berkhayal sebentar, hitung-hitung rencana untuk masa depan.
"Aku mencintaimu, Nagi-san," kata Minami, justru tidak membalas ucapan Nagi soal pernikahan barusan.
Nagi bingung, tapi ia tetap balas dengan, "Aku juga mencintaimu, Minami. Setelah ini kita menikah, ya?" Minami anggukan kepalanya sambil tertawa.
Cantik sekali bidadarinya ini. Pantas saja selama perjalanan tadi Nagi tidak melihat bintang, ternyata cahayanya ada di sini, di dekatnya, dan miliknya.
