Work Text:
Title : scent from the past, everlasting stardust on your eyes
Disclaimer : World Trigger milik Daisuke Ashihara. Saya tidak mendapat keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini kecuali kesenangan batin. Didedikasikan untuk Paint Your Dream!: A Yume Fanfiction Event (#PYDyumefic).
Dalam fanfiksi ini, tema utama yang digunakan adalah warna sepia (cokelat kemerahan yang diasosiasikan dengan warna fotograf pada abad ke-19; melambangkan usang) serta kuning (melambangkan sesuatu yang benderang, awal yang baru), sedangkan sub-tema wajibnya adalah Siapkah ‘Tuk Jatuh Cinta?
Warning : yume ship, original female characters/sona, OOC, modern!au mepet lokal!au, saltik, dan berbagai kekurangan yang tak terjabarkan.
Hope you enjoy it!
.
.
“Lho?”
“Eh—!”
Akari membekap mulutnya yang menganga, tak siap dengan kejutan yang dibawa jagat semesta padanya. Matanya yang besar membulat lebar, melekat lurus pada sosok yang baru ditemuinya sejak keluar dari parkiran—yang ia pikir mustahil dapat ia temui ulang. Pada dasarnya, gadis itu memang mengamini ungkapan romantis yang sering dicelotehkan orang dan pujangga; dunia ini terlampau luas. Namun, sebagian dalam dirinya baru tersadar, sisa idiom yang mengikutinya bukanlah isapan jempol semata; tetapi, di saat yang sama, kadang isinya dapat terasa sempit.
Berjarak dua langkah di sebelahnya, Azuma ikut mematung, takjub menjumpai kebetulan yang sejenis menemukan sebuah jarum dalam tumpuk jerami. Gadis mungil di depannya sekarang masih sesegar dalam ingatan. Tentu; ada beberapa perubahan pada sosoknya, nilai manusia sejatinya terletak pada perkembangannya. Namun, tak peduli berapa kali netra obsidiannya memerhati, gadis ini tetaplah Akari yang ditemuinya semasa kuliah.
Sejurus setelahnya, tawa meluncur dari bibir sang pria, menguarkan aroma nostalgia pada dara mungil di sebelahnya. Akari menahan napas, membunyikan gema masa lalu; pada tawa lepas yang dinaungi petang, langkah kaki yang beriringan, juga hangat kertas yang baru keluar dari mesin fotokopi. Gadis itu terbang dalam laut memori, lupa bahwa kakinya masih memijak bumi.
“Astaga.” Pria itu meredakan tawanya, melunakkan sorotnya sembari menyunggingkan senyum lembut yang memelototkan kawan lelaki yang datang bersamanya. “Lama tak bertemu, Akari,” sapa Azuma tenang, mengabaikan total kernyit ganjil yang terukir di dahi temannya.
Perempuan berambut legam bergelombang itu tak langsung membalasnya. Bagaimanapun, kejutan ini terasa seperti memutarbalikkan lajur dunianya. Akari sudah terlalu lama mendekam dalam memori, membeku bersama rutinitas harian yang terlampau jarang berganti. Pertemuan dengan karib lamanya semasa kuliah di pernikahan teman kerjanya mengguncang seluruh agenda yang gadis itu susun sejak seminggu lalu; asing, ganjil, tetapi ia tak bisa membencinya.
“Oh—ya! M- maaf!” Akari membalasnya gelagapan, memetik tawa kecil dari lawannya, memerahkan wajah dara yang lebih mungil darinya.
Perempuan berambut legam itu menarik napas panjang, berharap empasan kenangan dapat segera meredam. Tenang. Debar jantungnya memelan, bertukar dengan kepercayaan diri yang meningkat perlahan. Dagunya menengadah, menatap balik lawan bicaranya bersukacita, merekahkan senyum girang yang menyegarkan foto lama. “Lama tak bertemu, Azuma-san! Aku senang Azuma-san sehat-sehat saja!” ujarnya riang.
Azuma merasa tarikan napasnya memberat, tetapi dengan sigap menyamarkannya—membalas senyum yang mengembuskan debu kosmik itu sama tulusnya. “Aku juga senang kau sehat-sehat saja, Akari.”
Kau masih tak berubah.
.
.
Pada dasarnya, Azuma hanya melakukan apa yang ia inginkan; tak mengejar apapun secara mutlak, memilih mengarus dan memasrah pada sirkulasi rotasi dunia. Lelaki itu jauh dari kata ambisius walau sederet jabatan hampir pernah ia duduki, secara naluriah mengambil peran pemimpin dan dipercayai hingga akhir. Koneksinya berkembang seiring tambahan kegiatannya dan lelaki itu berpikir; begini juga tidak buruk.
Fuyushima, senior lebih tua yang setingkat dari angkatannya, pernah mengoloknya. Kau memang cocok jadi budak korporat—lalu tertawa dan baru berhenti usai dihadiahi jotosan tepat di kepala. Fakta Azuma adalah pemegang medali maraton berkala seringkali terlupa dari kepalanya, tertutup gunung dokumen yang memberatkan kantung matanya.
Yang terlupa oleh lelaki itu adalah; jemari takdir lebih jahil daripada yang dicelotehkan mulut pujangga. Bagaimanapun, rotasi dunia tidaklah sedatar tikan laporan.
Kesehariannya tersentil pada penerimaan mahasiswa baru di kampus mereka. Azuma, yang selalu berusaha menarik diri dari lampu sorot, berakhir dicecoki jabatan ketua. Lelaki itu mulai absen dari sesi pertemuan mahjong dan kamarnya terus menyala hingga pukul dua. Puncaknya terjadi pada siang terik di musim semi, kantuk memeluk lelaki itu dalam peluk mimpi, memudarkan ingatannya bahwa ia masih berada di kelas tak terpakai. Namun, sebelum benar-benar mencapai nyenyak, suara derak pintu merebak, instan mengembalikan sang mahasiswa pada realitas.
Obsidian lelaki itu membeliak, kepalanya buru-buru menengadah; dan itu menjadi awal dari pertemuannya dengan sang dara—yang tak dapat tanggal sekalipun tahun telah melarut.
Gadis itu terlonjak, sadar kedatangannya telah mengusik tidur singkat sang pria. Beberapa kotak makan siang yang dibawanya berguncang kecil, beruntung tak satupun dari bawaannya yang menyentuh lantai.
“Oh—m- maaf!” Perempuan mungil itu menoleh ke sana-sini, berharap mendapati seorang lagi hadir di dalam ruangan. Nihil—dan kecanggungan kian gamblang tergambar dalam gurat ekspresinya. “Ah ... um ... aku ke sini untuk mengantar makan siang!” jelasnya kelabakan.
Azuma membenarkan posturnya, bersikap lebih tenang walau penampilannya sekarang jelas lebih berantakan daripada sang dara—tertidur dalam ruang kosong yang disesaki tumpukan dokumen. “Aku bisa melihatnya,” katanya pelan, menyembunyikan fakta bahwa ia masih setengah sadar dari mimpinya.
Gadis itu tak membalas, mematung canggung dengan gurat kelabakan. Tangannya masih membawa setumpuk kotak makan yang hampir menutupi setengah tubuhnya, siapapun yang bertatapan dengannya pasti bakal meragukan status kemahasiswiannya. Tinggi dara itu lebih mungil dari gadis SMA yang bertetangga dengannya, sedangkan matanya besar dan berwarna cokelat terang. Rambut legamnya sedikit bergelombang di ujungnya, dibiarkan tergerai hingga menyentuh bahu, diikuti jepitan bunga kuning kecil yang bertengger di poni bagian sebelah kirinya. Gayanya lebih mirip untuk gadis yang baru menginjak remaja, walau Azuma sedikit-banyak mengaku itu cukup cocok untuknya.
Dara itu masih mematung canggung, tetapi akhirnya meneruskan pekerjaannya yang tertunda. Netra Azuma mengekorinya, membisu selama memerhati sang dara mendekati meja dan meletakan kotak makan yang dibawanya kikuk. Beberapa kali gadis itu berhenti, kemudian merombak ulang susunan kotakan yang telah ia letakkan—entah buat apa.
“... ini pertama kalimu mengantar ke sini?” Azuma menyeletuk, menyadari kecanggungan yang kentara dari gestur sang dara.
Perempuan mungil itu kembali tersentak, tetapi segera menyamarkannya dengan tawa kaku. “A-ah ... itu ... um ...,” tangannya meletakkan kotakan yang dibawanya ke meja, kemudian memilin ujung rambutnya gugup, “... s-sebenarnya aku terbiasa bekerja sebelum acara. Hari ini ada kesalahan teknis saat pengantaran dan semua terlalu lelah—jadi aku yang mengantar kemari ....”
Senyum lelaki itu kembali terbit, lembut tanpa berupaya menghakimi sang dara. Mungkin dia memang begitu? Masih terlalu dini untuk menilai sikapnya. “Aku paham,” Azuma menyahut, kemudian menyetir konversasi mereka dengan basa-basi, “Omong-omong, apa menu makan siang hari ini?”
Mengejutkannya, gadis itu mampu menjawab kelewat lancar, semudah mengabsen susunan abjad. “Nasi putih, rolade daging, tumis sayur, dan puding karamel untuk penutup.”
Ganti Azuma yang tercenung, hampir tak menduga jawaban yang akan diterimanya. “… aku tak tahu ada pengantar yang bisa menghapal seluruh menu,” balasnya takjub meski susunan katanya terdengar sinis.
Gadis itu tergelak, hampir tak memikirkan kemungkinan lelaki itu tengah menyindirnya. “Sebenarnya, aku yang merekomendasikan tempatnya—ah!” Tangannya meraih kembali kotakan terakhir yang sempat ia letakkan, kemudian mendekati Azuma yang masih bergeming di tempatnya duduk dan menaruhnya tepat di depan sang mahasiswa. “Silakan, Senpai!”
Lelaki itu terdiam, berusaha tak tertawa mendengar panggilan yang disematkan sang dara. Sudah lama ia tak ada yang memanggilnya demikian dan terpaan perbedaan umur mendadak tengah menamparnya. “Azuma saja—Azuma Haruaki,” ia memperkenalkan diri.
Perempuan itu tampak semringah, memercik kerlip yang tak semestinya hadir dalam bola matanya. “Azuma-senpai atau Azuma-san?”
“Kuserahkan padamu, tapi …,” Azuma sengaja memberi jeda pada kalimatnya, membiarkan lawan bicaranya menyimak lebih lekat, “… kau lebih muda dariku?” ia mengangkat alisnya.
Anggukan menjadi jawaban pertamanya. “Tahun ini aku 20,” ujar sang dara, menjelaskan tanpa diminta.
“Mengejutkan.” Lelaki itu menyelipkan tawa singkat sejenak sebelum melanjutkan, “kita hanya berbeda dua tahun.”
Kernyit samar terbit di dahi sang dara, tak mengerti arah perbincangan mereka. “Itu mengejutkan?”
“Aku kira kau lebih muda dari itu.”
Gadis itu kembali melepaskan tawa, agak terlalu keras hingga bahunya berguncang—terlalu alami untuk sebuah tawa pura-pura. “Berlebihan, ah!” kekehnya sembari meredakan tawa.
Azuma tak membalasnya, merasakan dinding pembatas yang sempat mengelilingi sang dara mulai memudar dan ia diperbolehkan masuk lingkar yang lebih dalam. Usai tawa itu mereda dan sang dara cukup tenang sebelum melayangkan tanya baru. “Dan kau—siapa namamu?”
“Oh, ya!” Dara itu kembali teringat, terkikik geli untuk yang kesekian kali. Azuma teringat pada keponakan yang ditemuinya di musim dingin lalu—gadis di hadapannya sedikit-banyak memiliki keluguan yang sama; mulai dari lengkung senyum hingga guncang tawanya. “Aku Shimizu Akari. Salam kenal!”
“Kalau begitu; Shimizu-san, Shimizu-kun atau ... Akari, mungkin?”
“Apapun tak masalah!” Gadis berambut legam bergelombang itu menyahut cepat, Azuma bahkan ragu gadis itu memikirkan jawabannya. “Lagi pula, Azuma-san lebih tua.”
“Apa kau baru mengingatkanku pada umurku?” Azuma berkelakar, melempar senyum miring yang meluncurkan tawa baru dari lawan bicaranya.
Mereka bertukar beberapa kalimat sejenak sebelum Akari undur diri, mengabaikan netra Azuma yang mengekori punggungnya hingga ditelan pintu ruangan. Hari berikutnya, Azuma menemukan perempuan lain yang mengantar makan siang ke ruangan mereka. Tangannya lebih cekatan dan berulang kali mata sang dara mencuri pandang ke arahnya. Mahasiswa itu berpura-pura tak menyadarinya, kembali melayangkan tanya basa-basi yang kemarin ia lontarkan.
“Apa makan siang kali ini?”
Tak seperti sehari sebelumnya, mahasiswi itu hanya mengendikkan bahu. “Entahlah. Aku tak terbiasa menanyakannya,” ujarnya.
Oh. Lelaki itu mengatupkan bibir, memerlukan tiga detik lebih lama sebelum berterima kasih dan menyaksikan sang mahasiswi keluar. Sepenggal kejanggalan berhasil menyusup tanpa diizinkan, mengherankan Azuma pada detik berikutnya.
Kenapa ia merasa ada yang kurang?
Lelaki itu tak menemukan jawabannya hingga berminggu-minggu lamanya.
.
.
Inukai Kande mengunyah steak di piringnya bahagia, melambatkan tiap gigitannya hingga menuai tatapan sinis Izumi Eiko—yang ditepis tanpa acuh oleh si tertua dari Inukai bersaudara. Akari memandangi keduanya sayang, mendengus geli menyadari ketiadaan perbedaan dari tingkah dua karibnya; kendati beberapa kali tampak saling mencela, mereka tak pernah menutupi apapun yang berkelindan dalam kepala mereka. Blak-blakan, tetapi sama sekali tak melunturkan sayang.
Tak berniat ikut andil dalam konversasi, Akari menoleh, mengitari seluruh ruangan dengan matanya. Untuk sebuah gedung klasik, ruangan utama yang tengah mereka tempati memang kelewat luas. Dinding bata merah kecokelatannya tak ditutupi kain atau papan putih untuk menegaskan aura pernikahan. Sebaliknya, penyelenggara acara memilih menghiasi dinding dengan lampu rambat dan hiasan dedaunan, menyulap ruangan seolah berada dalam bangunan klasik dengan nuansa terbengkalai yang magis.
Kala gadis itu kembali menyapu ruangan, matanya berlabuh pada sosok pria yang ditemuinya di parkiran. Sebagian besar meja para tamu berbentuk bundar, tetapi untuk dua banjar terdekat dengan meja mempelai berbentuk persegi—seolah menegaskan kedekatan yang terjalin di antara mereka. Azuma duduk di banjar kedua; tepat di depan meja sepupu pengantin pria, terlampau jauh dari tempatnya duduk. Lelaki itu menyimak tiap konversasi yang terus bergulir dengan bibir terkatup, menanggapi seperlunya, dan kadang tertawa kala lelucon dilontarkan di tengah perbincangan.
‘Jauh.’ Akari berbisik, mengakui jarak yang membentang. Ada berat getir yang menyusup ke dalam dadanya, tetapi berhasil ditepis pada detik ketiga. ‘Itu bagus. Lagi pula, Azuma-san kelihatan senang.’ Dara itu menambahkan.
Mereka memang tak pernah menjadi apapun di masa lalu dan Akari bersyukur karenanya. Jika mereka pernah melangkah lebih dari itu mungkin sang dara tak akan mampu menyapanya seperti barusan. Gadis itu mengagumi Azuma dalam diam, ya. Tetapi, untuk menggeser rasa itu menjadi sesuatu yang lebih dari kawan hanya akan membuatnya berkeringat dingin. Seperti ini saja sudah lebih dari cukup—Akari meyakinkan diri, merelakan sesuatu yang tak pernah ia mulai.
Namun, sebelum gadis itu berpaling, manik obsidian Azuma mendadak bergulir, bersirubuk dengannya tanpa diminta. Perempuan bermanik cokelat terang itu menahan napas, mematung walau kepalanya riuh rendah selama beberapa ketuk. Saat nalarnya kembali, gadis itu sontak tersentak, tergugu, hendak menunduk sebagai gestur permintaan maaf—dan tercengang manakala Azuma justru lebih dulu memberinya senyum lembut, mendentamkan nada yang tak semestinya masih bergemuruh.
Gadis itu membulatkan mata, lantas memalingkan wajahnya yang menghangat merah. Tidak, tidak. Gadis itu menepis, menolak keras ide usang yang pernah mengudara di kepalanya. Kekagumannya memang masih tersisa, tetapi itu tak boleh lebih seperti bata merah-kecokelatan di dekatnya; sebagaimana lembaran halaman album yang melapuk, berisikan sekumpulan foto berwarna sepia.
Tak peduli meski di kemudian hari, hanya sesal yang akan menggerogotinya.
.
.
Akari ingat ia pernah menjadi pemberani. Saat matanya bersipandang tak terencana dengan Azuma, bibirnya akan melengkungkan senyum semringah, membalas ketidaksengajaan itu dengan sukacita. Dan Azuma, sebagaimana lelaki yang diidolakan hampir setengah penghuni kampus mereka, akan membalasnya dengan cara yang sama; tersenyum lembut dengan manik obsidian yang mengirim sorot lunak.
Mereka selaiknya teman—dan Akari secara sepihak menganggapnya demikian. Azuma juga tampak menikmatinya, larut dalam jalinan relasi tak berdinding yang mereka pintal. Berulang kali lelaki itu menanyakan keberadaannya, berkirim pesan elektronik untuk pergi ke suatu tempat berdua, bahkan tanpa segan muncul untuk sekadar menanyakan makan siang. Akari tak pernah mempertanyakan ulang apa pertemuan mereka terencana atau hasil rancangan jemari dugal semesta. Tiap menemukan mahasiswa jangkung itu dalam jarak pandangnya, Akari akan melambai dan menyambutnya dengan sukacita, lupa bahwa ada batas sebagai teman yang mestinya tak dilangkahi.
.
.
“Jangan pulang tanpa memberitahu kami, lho!” Eiko berpesan setengah mengancam sebelum keluar dari meja, menyambut ajakan seorang pria untuk berdansa dengannya. Kanade yang memang lebih populer dari mereka, telah lebih dulu pergi dibawa pria tinggi berambut cokelat.
Akari hanya terkekeh geli, melambaikan tangannya hingga keduanya ditelan keramaian. Ruangan yang sebelumnya mereka gunakan untuk makan bersama tengah dibersihkan dan seluruh tamu diarahkan ke aula tengah yang lebih lapang. Mempelai pengantin telah lebih dulu melaksanakan dansa mereka, barulah tetamu yang hadir diizinkan untuk bergabung.
Akari terdiam, menyaksikan yang berdansa di aula sembari bersandar pada dinding. Senyumnya terulas tipis, diikuti kekeh kecil manakala netranya menemukan dua kawannya di antara selusin pasangan yang menyesaki aula. Kanade tampak lebih lentur dalam menyamai gerakan pasangannya, tetapi Eiko sedikit kesulitan selama mengimbangi partner dansanya.
Gadis itu menahan tawanya, membiarkan bahunya berguncang samar, terbenam oleh lantun musik. Sekilas, Akari menangkap kasak-kusuk kecil tak jauh darinya, mengabaikannya tanpa berpikir ulang—tetap berfokus pada dua karibnya hingga melupakan sekitarnya.
“Tak ikut berdansa seperti dua temanmu?”
Perempuan mungil itu tersentak, lantas menoleh dan menemukan Azuma telah bersandar di sebelahnya. Akari mengatupkan bibir, menyesap hangat nostalgia yang kembali menyeruak, tergagap selama beberapa saat.
“A—um ...,” gadis itu memalingkan wajah, ganti memilin tepi rambutnya yang bergelombang, berharap gugup dalam kepalanya mereda, “... itu ... aku tak mahir melakukannya, kurasa aku hanya akan menyusahkan partner dansaku,” ia beralasan.
“Aku bisa mengajarimu kalau mau.” Azuma membalas kelewat enteng, sekali lagi mendentumkan nada yang mestinya telah meredup.
“T—tidak perlu, sungguh!” Akari kembali menolaknya gugup, mencoba bertanya demi mengalihkan pembicaraan mereka ke luar dansa. “Ah—itu ... Azuma-san sendirian saja?”
Lelaki jangkung itu mengangguk, meneguk sejenak sampanye yang sejak awal ia bawa tanpa mengalihkan pandang. “Akari datang kemari bertiga?”
Gadis itu merasa keringatnya mulai jatuh, menyadari ketololan dalam tanyanya—yang disuarakan balik oleh Azuma tanpa beban. Jelas saja dia sendirian, kau juga lihat itu di parkiran. Kepalanya menyalak galak.
“I—iya … hahaha ….” Akari kembali memainkan rambutnya, ganti menatap lantai yang tengah ia pijak. Keramiknya berwarna hitam keabuan, memantulkan gemerlap lampu gantung di tengah ruangan. Warna yang sama dengan mata Azuma-san. Sedetik usai komentar itu terbersit, gadis iru mendadak ingin menampar ulang pipinya. Kendati telah berusaha sekeras mungkin untuk mundur, semesta masihlah menghadirkan lelaki itu dalam tiap jejaknya.
“Hmm ....” Azuma bergumam pelan, meletakkan gelasnya pada kusen jendela sebelum bertanya. “Siapa yang kaukenal dari kedua mempelai?”
“Ah ... um ... pengantin wanitanya teman satu divisi dengan kami.” Akari bimbang, meneguk ludah sejenak sebelum memilih melanjutkan. “Beberapa kali dia bertanya tentang bekalku dan kami pernah memasak bersama.”
“Aah ….” Pria itu mengangguk paham, seutas senyum samar mengukir bibirnya. “Jadi, Akari masih hobi memasak, eh? Saat masih kuliah yang paling sering berbagi bekal denganmu hanya kucing kampus.”
“Ehehe.” Gadis itu menggaruk pipinya dengan telunjuk, menampik cercah sindiran yang tersusun dalam kalimat lawannya. “Aku terlalu pemalu, sih,” ia beralasan, mengesampingkan bisik keji yang mengoreksinya; bukan pemalu—kau pengecut.
Azuma tak segera membalasnya, masih tersenyum samar sebelum menyambung, “Ah, aku harap kau tak tersinggung dengan yang tadi. Aku tak bermaksud menyindirmu.”
Akari mengibaskan tangannya cepat, tertawa dalam lantun yang selaras dengan Azuma. “Aku tahu, kok! Azuma-san terlalu khawatir, ya?”
Pria itu menghela napas panjang, menguarkan sesal yang terasa dibuat-buat. “Saat iri, aku sering lupa untuk menjaga ucapanku,” akunya.
“Huh?” Perempuan mungil itu mengerjap, mengabaikan aroma sandiwara di balik gestur lawan bicaranya, dan menelengkan kepala. “Iri? Pada?”
Azuma tak membalasnya, geming menatap lurus bola mata kecokelatan yang mengerlipkan buih sampanye yang baru ia teguk. Keingintahuan dan kepolosan masih menggenang dalam keping cokelatnya, membangkitkan ambisi lama yang dipendam sang pria. Akari merasa mengecil selama kekosongan mencekam, dipaksa tunduk hanya dengan sorot dari tanggul arang tak berdasar. Mata Azuma mendengungkan misteri dan keingintahuan dalam barisan di lembar kekuningan, memutar kembali aroma rerumputan yang bersaing dengan harum bekal makan siang.
.
.
“Ayolaah ….”
Akari mengangkat bekalnya hingga di atas kepala, menekuk bibir dan memicing sengit pada kucing berbulu oranye yang mengais bagian depan kemejanya. “Aku kan sudah memberimu karage kedua tadi,” keluh sang dara seraya melirik sisa bekalnya. Masih ada satu hamburger mini, dua potong karage, dan sejumput kecil potongan wortel dan kol dengan mayones. Ia bisa menghabiskan bekalnya dengan satu lauk dan sayuran yang tersisa, tetapi sebagian dalam dirinya tak bisa menerima pilihan tersebut.
Azuma menahan tawa di sebelahnya, lantas menurunkan buku teks yang tengah ditekuninya sebelum berkomentar. “Itu akibatnya kalau kau terlalu murah hati, Akari.”
Gadis di sebelahnya mengernyitkan dahi, menekuk samar bibirnya, memperjelas ketidaksetujuan dari pendapat sang pria. Sayangnya, intimidasi tersebut malah meluncurkan tawa lain dari mahasiswa di sebelahnya, menegaskan ketiadaan cercah ngeri dari wajah sang dara. Sadar tindakannya sia-sia, wajah Akari menghangat, tergerogoti malu yang tumbuh tanpa tahu tempat.
Azuma meredakan tawanya, mencuri pandang ke arah sang dara. Sebuah ide mendadak terbersit dalam benaknya, membuatnya kembali bersuara, “Bagaimana kalau begini?”
“Ya?”
Azuma menutup bukunya, meletakkannya di atas rerumputan sebelum meraih makhluk berbulu yang sejak awal mengganggu sesi makan siang sang dara. “Akan kualihkan perhatiannya sampai Akari selesai, bagaimana?” tawarnya, tak memberi celah untuk disanggah.
Namun, Akari masihlah jauh dari kata peka, tak menyadari desakan tak kasatmata yang mengudara dan menyuarakan kecemasannya tanpa berpikir ulang. “Jangan! Azuma-san sedang belajar, kan? Itu—”
“Hanya mengulang materi,” lelaki itu menyela, masih berupaya agar gadis itu menerima tawarannya. “Lagi pula, ini tidak gratis,” lanjutnya tanpa menatap lawan bicaranya, sibuk mengelus sayang hewan di pangkuannya—mengalihkan atensi kucing itu sebagaimana yang ia janjikan.
Kebuntuan ganti mendominasi sorot sang dara, kehilangan arah ke mana konversasi mereka hendak berlabuh. “Tidak gratis?” ia mengulang.
“Aku minta karage yang sebelumnya akan dimakannya.”
Akari tak bersuara, membiarkan bibirnya sedikit membuka sebelum terbahak keras, setengah tak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Kalau cuma itu sih, Azuma-san bisa minta tanpa membantuku, lho!” tandasnya.
Lelaki itu mengerling, mendepak sisi sarkastik yang hendak mengambil alih lidahnya. “Dan kau tak apa jika aku menjadi pencuri bekal kedua?” balasnya, mengingatkan dengan kalimat yang lebih lunak; aku bisa sama tak tahu dirinya dengan makhluk yang tengah kupegang.
Gadis itu mengabaikannya, kembali tertawa dengan mengerlapkan cahaya yang dibawa kunang-kunang—samar, tetapi terlalu mencolok untuk diabaikan. “Kalau kuizinkan kan bukan mencuri namanya,” ia berkilah, tak sadar telah membungkam lawan bicaranya telak.
Azuma tak membalasnya, membiarkan dara mungil tersebut menekuni kotak bekalnya, menimbang apa yang hendak diberikan pada lelaki di sebelahnya. Manik obsidiannya memicing, mengamati tiap detail yang hadir dari sang dara; bagaimana netra cokelatnya terisi kerlip yang dimiliki gemintang, merampas kuning yang direkahkan kelopak kanigara. Namun, alih-alih melayu, warna asfarnya tak jua meredup kendati musim bergulir dan mentari tak lagi menyengat kepala mereka—menjadi penerang yang dapat didekap, menunjukkan setapak yang dilingkupi gelap.
Bahkan setelah Azuma mempertontonkan ambisinya secara transparan, Akari tak jua berjengit. Tak tersentuh takut dan justru merengkuh gertakan yang terpampang nyata, mengasihi seluruh yang bernyawa meski itu adalah monster dalam kuliat manusia sekalipun.
“Azuma-san!”
Seruan itu mengembalikan sang mahasiswa secara instan, memaksa lelaki itu untuk menengadah—hanya untuk menemukan binar fajar. Sebanyak apapun mereka bersipandang, Azuma hanya menemukan gugusan rekata, seolah netra cokelat sang dara adalah tempat untuk memetakan tata surya yang tak pernah terjamah.
Tak sadar dengan perubahan pada wajah lawan bicaranya, Akari menyodorkan kotak bekalnya dengan sukarela, melanjutkan tanpa mengurangi cercah semringah di wajahnya. “Silakan!”
Lelaki itu bergeming, tak membalas dan melengkungkan bibir. Tanpa menjawab, Azuma mengangkat kucing liar yang tengah mendengkur dalam elusan tangannya. Gadis itu kelabakan, panik manakala tersadar tangan lelaki itu terlalu sibuk untuk sekadar mengambil makanan.
Bahu Azuma berguncang, bergerak mengikuti tawa meluncur dari bibirnya. Akari menatapnya selaiknya momok lama, panik belum surut dari kepalanya dan kekeh pelan lawan bicaranya menambah malu yang berledakan dalam dirinya. Sebelum gadis itu menarik diri, Azuma membuka mulutnya, memberi gestur siap untuk menerima suapan.
Sadar arti dari gestur kawannya, kepanikan sang dara memuncak, diikuti dentam jantung yang memelesat. Namun, berkebalikan dengan yang tak tertangkap mata, seluruh sendinya mengaku, ekspresinya kian kalang kabut, dan semu sewarna mawar makin kentara di wajahnya—mengingatkan lelaki berambut sebahu itu pada merah yang melekat dalam nama sang dara. Dia persis membawa namanya.
Butuh semenit penuh bagi sang dara untuk menepati kata-katanya. Jemarinya memegang sumpit gemetaran, tetapi Akari bersikeras mengapit karage yang telah mendingin dari kotak bekalnya sebelum mengarahkannya pada Azuma. Lelaki itu tak langsung menerimanya, memicing dengan cara yang asing pada sang dara.
( Apa kamu akan terus menjadi mentari yang murah hati? Yang benderang dan menangkis mendung agar dirgantara tetap biru jernih? Apa kebaikanmu ini akan melimpah selamanya? Apa rasa dermawanmu akan selalu jatuh pada sesiapa saja? )
Betapa menjengkelkannya. Azuma menggigit karage yang disuapkan Akari padanya, melahapnya dan membiarkan dirinya dibuai khayal. Sementara kamu menganggap ini kejutan yang mesti dianggap lumrah, aku di sini mengharap kehangatanmu hanya buatku seorang saja.
.
.
“Ah, ya!” Akari mendepak keingintahuannya seketika, membelokkan arah konversasi mereka dengan menyuarakan tanya, “Azuma-san kenal siapa di pernikahan ini?”
Azuma melunakkan lengkung asimetris bibirnya, menyimpan geli menyadari gadis di sebelahnya mulai menggunakan trik picisan yang juga ia gunakan. “Aku pernah menjadi mentor pengantin prianya,” jawabnya tenang, mengikuti ke mana gadis itu hendak menghanyutkannya.
Gadis itu ternganga, sesaat tak bersuara hingga tawa kecil teruntai dari bibirnya. “Entah kenapa sangat Azuma-san,” katanya di sela kekehannya.
Lelaki itu mempertahankan senyumnya, berdeham ringan sebelum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. “Yakin tidak mau mencoba dansanya? Kukira kau terbiasa melakukannya sejak exchange ke luar dulu,” usilnya.
Akari berjengit, nyaris tersedak ludahnya sendiri. “A- aku tak melakukannya selama di luar. Azuma-san, tolong jangan menggodaku begitu …,” elaknya dengan semu sewarna mawar pada pipinya.
“Kau terlalu mengerdilkan dirimu,” Azuma membalas, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membangun fondasi atas dalihnya. “Aku masih ingat cuma kau dan dua orang lain yang lolos babak akhir dari puluhan pendaftar.”
“I- itu cuma beruntung, kok!” Dara berambut legam bergelombang itu kembali berkilah, mengulang gestur yang telah ratusan kali ia lakukan di depan Azuma; menyisir rambut dan menggelung ujungnya tergesa. Matanya kembali menghindari sorot Azuma dan lawan bicaranya lebih dari sadar bahwa mekanisme tersebut dilakukan Akari demi meredakan kegugupannya, terutama tiap disanjung orang lain.
Azuma menghela napas pendek, tak segera membalas dan memilih memerhati ulang lawan bicaranya. Gaun terusan Akari berwarna lembayung teduh, berlengan panjang selutut dengan motif bunga seroja pada tepi roknya. Hati yang murni—itu cocok buatnya. Azuma memendam bisik itu dalam pikirannya.
“Kan.” Pria itu memecah jeda di antara mereka, tersenyum miring sembari mencari keping kecokelatan milik sang dara. “Kau mengerdilkan kemampuanmu lagi.”
Akari mendesah pendek, tersenyum kaku tanpa diminta. Ia masih tak terbiasa menerima pujian orang, terutama dari lelaki yang pernah memintal masa lalunya. Mereka tak pernah menjadi apapun selain teman, tetapi itu bukanlah hal yang perlu disesalkan—setidaknya buat sang dara. Karena kalau lebih dekat lagi, aku tak yakin ke mana harus melarikan diri.
“Azuma-san selalu bilang begitu,” Akari kembali bersuara, mengakhiri tatapannya dengan manik arang lelaki tersebut demi memandangi ujung sepatunya. “Aku ... cuma ... melakukan hal biasa, kok.”
Pria itu meloloskan tawa tertahan, sengaja agar atensi sang dara kembali padanya. “Tahu tidak? Aku pernah dengar kalau orang yang paling berusaha keras juga yang paling sering mengecilkan usaha mereka,” katanya.
“Bukannya itu lebih mirip Azuma-san?”
“Hahaha! Apa aku seperti itu di matamu?”
Akari tersenyum lebar, melunakkan sorotnya, dan terpaku total pada pria di sebelahnya. Sinar mentari menyorot wajah lelaki itu dari jendela dan Akari mesti menahan napas—takjub menyaksikan betapa serasinya lelaki itu ternaungi sinar keemasan. Menyilaukan dengan cara terlembut, merobek musim dingin dan memekarkan kembang plum yang mencabik putih salju, menderangkan tanda bahwa musim semi telah kembali.
“Ya!”
Sengat tembaga menyelinap dalam nostalgianya, memaksa Akari kembali pada peluk luka, diingatkan secara tak kasatmata; yang kaulihat sekarang adalah apa yang kaulepaskan di masa lalu—rantai kebebasan yang kaupalingkan.
Akari melunakkan sorotnya, membiarakan memorinya memutar bilur yang ia cabik dengan tangannya sendiri, memaksanya tunduk pada kungkung baret yang tak kunjung pulih; apapun yang terjadi, kau tak boleh bersamanya.
Dan sebagaimana pengecut, gadis itu tersenyum pada intimidasi tersebut, merengkuh dan menerima seluruh caci makinya kelewat erat.
( Aku mengerti. )
.
.
Saat Akari sadar, rumor itu sudah menggelinding di kampus sejak sebulan lamanya; kabar angin bahwa ia dan Azuma diam-diam memiliki hubungan di luar status teman.
Pertama kali mendengarnya, Akari merasa dunianya terbalik. Saat itu bulan telah memasuki musim panas, tetapi sang dara merasa dirinya berada di tengah kota dengan suhu di bawah titik beku. Perutnya sontak terlilit, dan sebelum ia dapat berpikir jernih, kakinya telah memelesat ke kamar kecil.
Gadis itu memuntahkan makan siangnya di lubang toilet, tak berhenti meski isi perutnya telah melompong. Kenapa? Dari mana awal kabar itu berembus? Di mana kakinya salah melangkah hingga gosip itu muncul? Otaknya berkejaran, berusaha memutar ulang ingatannya sejak pertemuan pertamanya dengan lelaki itu. Nihil. Ia tak mendapat benang merah apapun dari memorinya.
Harusnya tak begini.
Tungkai dara itu memaku di lantai, lupa akan kemungkinan noda dapat menempel pada roknya. Seluruh pikirannya buyar, tubuhnya gemetar—dan Akari tak lagi ingat ia masih punya kelas usai makan siang.
Sudah lama gadis itu mengabaikan dengung nyamuk yang mengitarinya, menulikan telinga dari realitas sembari menekuni hari-hari dalam stagnansi. Pada akhirnya, Akari lebih dari sadar, tak ada yang berubah dari dirinya; ia masihlah pengecut yang membiarkan sesiapa saja berkomentar sesuka mereka—penakut yang tak mampu mengusir riuh redam berduri dari bibir orang.
Tapi, kalau begini tidak boleh. Gadis itu menggeleng kuat, menggigit bibir merasakan ngeri kian dalam menikam tengkuknya. Aku tak bisa membiarkan Azuma-san ikut terjerat dalam lumpur.
Lelaki itu sebagaimana mentari di matanya; sosok yang akan selalu berada di depannya, eksistensi yang mustahil tergapai tangannya, bukan seseorang yang dapat bersisian dengannya—itu gila.
Akari tak bisa—memikirkan lelaki itu mesti beriringan dengannya sepersis menenggak ratusan jarum. Dada gadis itu kembali sesak, menekan kuat bagian yang terasa tertikam, berharap oksigen dapat terjaring inderanya. Delusi akan dosa tanpa alasan kembali menghinanya, memaksanya mengiba pada iblis yang berkeliaran di kepalanya. Jangan sekarang—kumohon, setidaknya jangan sampai tumbang.
Butuh dua menit penuh hingga Akari berhasil mendapatkan kembali tarikan napasnya, kemudian mengembuskan napas sekeras yang ia bisa. Deru napasnya masih berlarian, kadang tersendat dan menghasilkan nada sumbang. Pada menit ketiga, lari napasnya barulah mereda, diikuti tempo jantungnya yang makin menyurut ke batas normal.
Sekarang bagaimana?
Tak satupun jawaban berhasil mampir di kepalanya, membiarkan getir menyusup dalam pancaindranya. Jika ia menghindar terang-terangan, ia akan melukai pria itu—dan entah apa yang akan dilakukan Azuma padanya. Lelaki itu memang lembut, tetapi kucing saja dapat menggigit jika tak diperlakukan dengan hormat—apalagi lelaki dengan segudang koneksi dan serentet reputasi?
Tidak bisa.
Akari meneguk ludah, nyaris bertekuk lutut pada nasib yang menuntunnya pada jurang gulita. Mustahil menghindar, tetapi di saat yang sama, jika itu tak dilakukan, kasak-kusuk mereka akan membesar. Ia harus ‘menghilang’ dengan cara yang sama saat kucing menyadari kematiannya mendekat; menjauhi ‘pemiliknya’ dan lenyap tanpa jejak—
Sebelum gadis itu kembali tersadar, pintu biliknya diketuk dari luar. Bersamaan dengan kembalinya ingatan dan indera sang dara, sebuah suara feminin mengikuti ketukan barusan.
“Maaf, apa kau baik-baik saja?”
Akari tak langsung menjawabnya, lebih dulu menormalkan deru napasnya yang berkejaran dan membalas lemah, “... aku baik-baik saja ... maaf sudah mengkhawatirkanmu.”
“Kau yakin?” Gadis di luar toiletnya bertanya lagi, menemukan ketidakselarasan dari jawaban yang ia terima. “Aku bisa memanggil seseorang, tapi aku perlu pergi secepatnya untuk mendaftar program exchange—
Sisa kalimat gadis anonim itu tak pernah sampai di telinga Akari. Dara berambut bergelombang itu kembali menolak tawaran penolongnya, kali ini dengan menghaluskan nadanya; menguntai dusta pada lidah yang terbiasa menuturkan kejujuran, merobek imaji kepolosan yang tak pernah tanggal dari sosoknya.
Akari baru dapat bernapas lega usai gadis itu meninggalkannya dengan berat hati. Akari tak mengindahkannya, tujuannya mengusir dara itu tercapai, dan ia kini punya waktu untuk membenahi pelarian dirinya. Gadis bermanik cokelat itu mengguyur sisa muntahannya, mencuci kilat wajah dan tangannya sebelum kembali mengurung diri di toilet yang sama. Tangannya mengeluarkan ponselnya dari saku, sibuk menekan layarnya sembari menulikan diri dari dunia. Pada laman kampusnya, informasi mengenai pertukaran pelajar terpampang bagian terdepan; mengingatkan batas pengumpulan berkas.
Netra cokelat Akari bergulir dari huruf ke huruf, merekam konstan baris dokumen yang mesti ia berikan, dan menghela napas panjang.
Masih sempat.
Maka, dara itu membuka pintu biliknya, lantas melangkah keluar dengan rahang mengatup rapat. Pendar keemasan yang menghujan dari dirgantara telah meredup, bersamaan mentari yang beringsut menuju ufuk. Senyum di bibirnya tanggal, diikuti gelap yang merangkak—mengeruhkan asfar yang benderang, memudarkannya hingga kecokelatan.
—dan kanigara yang mestinya masih berdiri tegak di tengah Agustus melayu, digantikan setapak yang disesaki kerucut lancip pinus; melintangi keputusan batu sang dara, menertawainya di balik embus musim gugur yang mestinya masih lama tiba. Akari tak meragu, memantapkan langkah kendati hatinya dapat berdarah, merengkuh gerbang destruksi yang ada di depan matanya.
( Apapun asal dia tetap berada dalam benderang. )
.
.
Dua minggu setelah Akari menghindarinya, Azuma menemukan kucing oranye kampus sendirian di bawah pohon dekat perpustakaan. Kucing itu melingkarkan tubuhnya di dekat akar, mendengkur seraya memejam—memanggil memori lain yang tersimpan di kepala sang mahasiswa; saat bersama Akari, kucing itu selalu terlelap sambil memeluk sang dara, mengklaim gadis itu sebagai sandaran terpercaya.
Lelaki itu memutar badan, mendekati kucing tersebut dan berlutut di dekatnya. Tanpa izin, jemarinya mengelus puncak kepala makhluk berbulu itu lembut, matanya yang telah mengatup kembali membuka dengan sayup.
“Hei, mana pemilikmu?” Lelaki itu bertanya enteng, menaikkan sudut bibirnya sesaat menyadari ia telah terlalu banyak mengopi Akari yang memperlakukan semua yang bernyawa setara.
Kucing itu tak menjawab. Mulutnya menguap lebar, mendengkus pendek sebelum kembali mendengkur—hanyut dalam usapan tangan Azuma, seolah lama tak dimanja. Lelaki itu mengendurkan tarikan bibirnya, menghirup dingin di tengah siang terik. “Begitu ....” Kau juga belum bertemu dengannya.
“Apa kau kesepian?” Lelaki itu bertanya lagi, tak menyudahi kegilaan yang mengungkung, membiarkan dirinya mengarus dalam penghiburan semu.
Dan saat kucing itu mengeong lagi—lirih seperti tengah membagi pedih—Azuma mulai menyadari kemiripan di antara mereka; ditinggal, menghampa akibat kesepian, kehilangan presensi cahaya yang selalu mengusir beku.
“Aku juga.”
( Siapa sangka kaubisa sebegini kejam? )
.
.
Azuma baru mengetahui kabar penerimaan Akari dalam program pertukaran itu seminggu lamanya, itupun tidak melalui mulut yang bersangkutan. Lelaki itu mendengarnya dari desas-desus orang di lorong, dalam pusaran fakta dan dusta; bahwa ada gadis tak dikenal dari departemen lain yang lolos ke babak final, bahwa gadis itu dilansir berasal dari keluarga terpandang, bahwa gadis itu punya kemungkinan menggunakan kekuasaan yang tak semestinya demi terpilih—yang Azuma tahu hanya bualan semata.
Laman sosial gadis itu kosong seperti biasa, tetapi saat Azuma menanyakannya secara pribadi, Akari mengiyakan keberhasilan seleksinya—juga meminta maaf karena tak mengabarinya langsung. Kan memalukan kalau bercerita tetapi gagal di tengah jalan—itu alasan yang diberikan sang dara padanya. Namun, Azuma lebih dari mampu mencium dusta yang disembunyikan gadis itu di balik tirai.
Tak butuh waktu lama hingga obrolan mereka mengering, tergantikan hening, kemudian berakhir tanpa pernah kembali terjahit—sampai semesta secara usil mempertemukan keduanya lagi.
.
.
“KYAAAA! AWAS!”
Teriakan itu dibarengi dengan sekelebat benda yang mengayun ke atas kepala keduanya. Akari sontak meringkuk dan melindungi kepalanya, tetapi Azuma lebih tangkas dan berusaha menangkapnya. Namun, sebelum dapat tergenggam, tangannya tergelincir, kemudian jatuh dalam peluk sang dara.
Keduanya mengerjap sesaat, baru tersadar bahwa yang merobohkan reuni kecil mereka adalah buket bunga yang dilempar mempelai wanita. Kepalanya mendongak, lantas terjajah panik manakala tersadar telah menjadi pusat perhatian. Mempelai wanita yang di acara tersebut masih di tengah lantai dansa, menganga bersama dengan sekumpulan tetamu wanita yang telah berbaris rapi—siap menangkap buket yang dilempar.
“Siapa? Siapa?”
Beberapa perempuan melongok dari barisan, menilik identitas yang berhasil merengkuh buket bunga, menambah antrian atensi serta guyur kepanikan di kepala Akari.
“A—ini ... bukan—!” Gadis itu mencoba berkilah dengan terbata, gelagapan mengoper buket yang ia peluk pada pria di sebelahnya. “I—ini untuk Azuma-san saja!”
“Eh?” Ganti Azuma yang terkejut, nyaris gagal memprediksi ke mana pikiran sang dara mengarah. “Kenapa aku?”
“T—tadi kan buketnya hampir ditangkap Azuma-san!” Perempuan mungil itu bersikeras. Kepalanya menoleh ke segala penjuru, berharap menemukan pelarian diri. Nihil—bahkan dua karibnya sama sekali tak terlihat.
Pria itu menahan tawanya, berusaha tetap tenang sekalipun menggelitik. Akari masihlah sepersis memorinya—seolah ketiadaan konversasi dalam tahun-tahun dingin itu hanyalah fatamorgana, sebagaimana anak kecil yang memperlakukan dunia sebagai taman bermainnya. “Hampir saja artinya belum tertangkap, Akari.” Seperti dulu—hanya ‘hampir’.
Kegugupan menderas dalam gurat wajah sang dara. Siapapun pasti tahu apa arti dari menangkap buket yang dilempar pengantin baru wanita—dan mengingatnya hanya menambah momok dalam tengkuk Akari. “A—aku tak butuh! Sungguh! L—lagi pula kurasa ini lebih berguna untuk Azuma-san—”
“Kenapa Akari berpikir begitu?”
“I—itu ….” Keringat dingin menderas dari pelipis sang dara, teringat pada alasan awalnya menghindari sang pria. Kendati demikian, dara itu menolak mundur, tak sadar sebagian kelopaknya berjatuhan ke lantai.
Azuma dengan gesit mengangkat tangan sang dara—berniat menjauhkan buket tersebut darinya. “Hati-hati. Kelopaknya lebih rapuh dari kelihatannya,” peringatnya seraya melepaskan tangan lawan bicaranya.
Akari menahan napas, sontak mundur sembari memeluk buketnya ke dada. Dentam jantungnya mengeras dan gadis itu cemas degupnya dapat terdengar kawan lamanya. “M- maaf—” ia mengalihkan wajahnya, menyadari atensi dalam ruangan sudah tak lagi terarah padanya. Dara itu lantas berdeham, kemudian menyerahkan buket itu untuk kali kedua—menolak mundur walau rasa malu masih membuncah dalam dirinya, “... p- pokoknya ini untuk Azuma-san saja!”
Lelaki itu tertawa, terkesan dengan kegigihan lawan bicaranya. “Kalau sudah di tangan Akari tidak boleh diberikan pada orang lain, lho?”
Sadar konversasi mereka hanya berputar, Akari mengerucutkan bibir—tak tahu ekspresinya hanya menggelitik kawan lamanya. “Kenapa Azuma-san tidak mau?”
“Akari sendiri—kenapa tidak mau menerimanya?” Azuma membalas, terlampau cerdik untuk mengaruskan perbincangan mereka sesuai kemauannya.
Sempat tak ada balasan. Namun, dara itu akhirnya menghela napas, takluk dalam tanya yang dilontarkan sang pria. “Um … ini agak personal, tapi …,” jeda tarikan napas, Azuma menunggu hingga Akari melengkapi kalimatnya, “… s-sebenarnya aku … tak berniat menikah.”
Balasan itu sontak mengejutkan sang pria. “Kukira kau sudah punya pacar.”
“K—kenapa Azuma-san bisa terpikir begitu!?”
“Akari manis. Kau juga terlihat lebih muda—masih sama seperti kuliah dulu—siapapun pasti ingin menjadi pacarmu, kan?”
“S—sembarangan, ah! Azuma-san selalu bilang begitu ….” Akari memukul pelan lengan sang pria dengan sebelah tangan, memejam manakala mendengar tawa dari bibir lawan bicaranya.
Butuh semenit penuh sampai tempo jantung dara itu kembali dan Akari melontarkan ulang pertanyaan yang baru diajukan Azuma. “K—kalau Azuma-san? M—maksudnya, Azuma-san kan populer saat kuliah dulu, pasti sudah punya, kan?”
“Belum, tuh?” Pria itu tertawa singkat. “Yaah, aku terlalu sibuk juga, jadi belum terpikir sejauh itu.”
“Eeeehh?”
“Hm? Kenapa Akari terdengar kecewa?”
“B—bukan, kok! Sama sekali bukan!”
“Hahaha! Tenang saja, aku cuma menggodamu.”
“Oh—Azuma-san!”
“Hahahaha!”
Merasa kesempatan di depan matanya, gadis itu menyambar konversasi mereka—melanjutkan kalimatnya. “T- terus—ada kucing yang harus kuurus! Jadi, ini untuk Azuma-san saja!”
Pengakuan gadis itu kembali menambah gurat keterkejutan di wajah sang pria, meniupkan gelombang nostalgia tanpa diminta. “Kau memelihara kucing sekarang?”
“B—bukan pelihara! Um …,” Akari langsung menyesali pilihan katanya, gelagapan mesti menjelaskan dari mana, “… singkatnya … umm … ada kucing liar yang suka berkeliaran di dekat apartemenku dan kuberi makan diam-diam. Aku takut bunganya beracun untuk kucing.”
Azuma mendengarkan gadis itu dengan sabar, kian hanyut dalam kenangan. Gadis itu memang tak berubah; berani mendekat, tetapi terlampau takut untuk merekat. Mungkin gadis itu sendiri tak pernah sadar pernah mematahkan lusinan harapan untuk saling bergenggaman tangan—termasuk dirinya, tetapi yang itu masih rahasia. “Aku tak tahu ada bunga yang beracun untuk kucing,” pria itu membalas, memperpanjang basa-basi.
Akari membulatkan bibirnya, menelusuri rangkaian mahkota bunga di tangannya sebelum menunjuk dahlia merah di antara susunan mawar merah, aster merah, dan mawar putih. “Yang ini. Kudengar dahlia bisa memengaruhi pencernaan kucing. Belum diketahui pasti—tapi, lebih baik menghindarinya sebelum terlambat, kan?”
Azuma tak membalas, bergumam ‘humm’ panjang sembari mengangguk samar. Butuh sepuluh detik lebih lama hingga lelaki itu membalas, melontarkan tanya baru tanpa beban, “Berapa lama kau memberinya makan?”
“Um …,” dahi dara itu mengernyit, menghitung di atas kepala, “... tiga bulan, kurasa?”
“Itu cukup lama.” Pria itu memandang lurus lawan bicaranya, merekahkan senyum demi menyembunyikan ambisi tak kasatmata. “… bagaimana kalau Akari memeliharanya di tempatku?”
Ganti Akari yang tertelan hening, membeku tanpa dapat memproses rangkaian informasi. “... huh?”
“Bagus, kan?” Azuma mengabaikan tanya gadis tersebut semudah mengerjap mata. “Apartemenku terbuka untuk binatang peliharaan dan kaubisa menyimpan buket bunganya—tidak buruk, kan?”
Kali ini gadis berambut legam bergelombang itu tak lagi dapat berkata-kata—tersesat dalam ketakjuban, terkesima pada kebuntuan. Semenit usai mereka berkawan bersama senyap, dara mungil itu tertawa, melunturkan cekam dan melebarkan lebar senyum lawannya. “Azuma-san ... entah kenapa ... masih sama—"
“Kau sudah bilang itu, Akari.”
“Mm ... maksudnya ... sama yang—benar-benar ‘sama’?”
“‘Sama’ seperti?” Lelaki itu memperpanjang konversasi mereka, merogoh kedua saku celananya bersamaan dan meraba tekstur logam dingin di salah satu sakunya. Kunci mobilnya di bagian saku kanan.
“Baik.”
Azuma melupakan sisa rencana yang berkelibat dalam kepalanya, menoleh dan menatap lurus mata bulat cokelat terang lawan bicaranya. Tak ada keraguan dalam sorotnya, sebaliknya tatapan itu terlampau lembut, mengerlipkan debu kosmik di musim gugur. Akari tersenyum samar, tak sadar kian memangkas logika lawan bicaranya hanya dengan menggeser lengkung bibir.
“Azuma-san baik.” Akari mengulang, lurus tanpa memalingkan pandangnya, menegaskan tanpa pembelaan; aku tak bohong padamu.
Pria itu tercekat sesaat, baru tersenyum usai buncah dadanya menyurut. Kau juga—kau baik, kau tak berubah. Masih seterang gemintang, menyinari sesiapa saja tanpa pamrih, memperlakukan sesiapa saja tanpa mendiskriminasi—makanya aku ingin menggenggamu (lagi), sampai kau tak bisa melepaskanku seperti dulu.
“Kalau begitu,” lelaki itu mengulurkan sebelah tangannya, meminta izin agar Akari menggenggamnya, “... bisa kita pergi sekarang untuk menjemput kucingmu?”
Lawannya terkikik geli, merekahkan senyum yang lebih memikat daripada nektar bunga. “Azuma-san, kan sudah kubilang—bukan kucingku, belum,” koreksinya sembari menerima uluran tangan kawan lamanya.
“Meski belum, tapi kucing cukup pemilih buat berdekatan dengan orang, lho,” Azuma menyanggah, lantas menggenggam erat tangan yang lebih mungil nan halus dari miliknya, menuntun dambaannya sejak masa kuliah ke luar gedung. “Terutama saat dia menempel terlalu lama. Biasanya dia sedang menandaimu sebagai miliknya.”
“Oh!” Netra gadis itu berbinar lagi. “Aku juga pernah dengar itu!”
“Kan?” Azuma terkekeh singkat. “Kucing itu memang posesif untuk ukuran hewan.”
“Hmm—AH!”
Akari melepaskan genggamannya sesaat, menderingkan alarm di kepala Azuma yang langsung membalikkan badan. Mereka tengah menuruni tangga yang menghubungkan bagian depan gedung dengan lahan parkiran—hanya sedikit lagi.
Apa gadis itu akan kembali meninggalkan—
“Maaf, Azuma-san! Aku harus mengirim chat dulu pada Kanade-san dan Eiko-san! Bisa gawat kalau mereka mencariku. Sebentar—!”
Kelegaan membasuh lelaki itu untuk kesekian kali. “Tentu—silakan. Kabari temanmu,” kata lelaki itu sembari menyimak Akari membalikkan badan dan mengeluarkan ponsel.
Merasa kurang ajar jika mengintip, Azuma membalikkan badan hingga memunggungi Akari. Hujan keemasan mentari telah luntur dari cakrawala, digantikan senja jingga yang berpadu merah darah. Mungkin memindahkan kucing itu akan makan waktu sampai malam.
“Azuma-san!”
Sang pemilik nama berbalik, sama sekali tak menghirup kecurigaan. Namun, manakala tubuhnya berputar, kelopak bunga kemerahan bertebangan—bertiup searah angin—ke arahnya. Azuma tercekat, matanya membulat, dan sekilas pendar meas mentari seolah tengah berdiri di hadapannya.
Berjarak dua anak tangga yang lebih tinggi darinya, Akari memamerkan deretan giginya, melantunkan tawa sepolos malaikat. Buketnya masih utuh, dan hanya sebagian kembangnya yang dikorbankan untuk merampas tarikan napas sang pria. Tak sadar perlakuannya menguatkan katalis atas cinta yang pernah terpendam.
“Supaya Azuma-san juga merasakan bunganya! Kan, sempat terkena Azuma-san juga!” tegas sang dara ceria.
Azuma menghela napas pendek dan meluncurkan tawa singkat, menjadi saksi atas keindahan dalam golden hour yang memugar warna sepia dalam kenangan keduanya.
“Terima kasih. Sekarang, jadi jemput kucingmu?”
“Ya!”
.
.
.tamat.
.
.
