Actions

Work Header

Warna-Warni Kisah Mereka

Summary:

Lima Kali Jaemin dan Renjun membantah kalau mereka pacaran. Satu Kalinya Jaemin akhirnya membenarkan.

Notes:

Ditulis untuk event #PelanginyaRenjun @jaemrentalk

Projek mangkrak yang akhirnya ditulis ulang tepat setahun kemudian. Better late than nothing, right? :)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Chenle - Laut - Mint Green

___ Keping 1 : Start.

Tidak banyak yang perlu Renjun bawa untuk trip kali ini. Mereka rencananya hanya akan menginap dua hari satu malam. Renjun hanya perlu; satu pasang piyama beserta kaos kaki, satu pakaian lengkap untuk keesokan harinya, perlengkapan mandi dan beberapa kudapan. Renjun rasa semua itu sudah lebih dari cukup.

“Bawa segini aja nggak apa-apa kali, ya?” Suara Renjun terdengar pelan. Bukan suatu monolog. Karena pada dasarnya Renjun berharap pria yang duduk di sebelahnya menjawab pertanyaan remehnya. Hanya dia.

Mendengarnya, Jaemin yang sebelumnya duduk memainkan ponsel di sebelah Renjun mengubah arah atensinya. Ia melongokkan kepalanya sebentar ke dalam tas ransel yang masih dipegang Renjun. Dua stel pakaian tersusun rapi, satu tas kecil, satu bungkusan dan beberapa kudapan. Dan sama seperti Renjun. Jaemin rasa itu semua itu sudah lebih dari cukup.

Yah, kalau boleh jujur, sebenarnya Jaemin tidak terlalu peduli dengan kegiatan ‘ packing ’ ini. Segala yang mereka butuhkan untuk trip kali ini sudah pasti tersedia di minimarket terdekat. Mereka hanya perlu ponsel dengan paket data yang berlimpah untuk melakukan semua transaksi atau kalaupun tidak bisa melakukan pembayaran secara online, Jaemin sudah menyisihkan uang tunai. Tidak perlu rasanya untuk merepotkan diri dengan hal-hal yang Jaemin pikir ada solusi cepatnya.

Hal ini mungkin yang menjadi salah satu pembeda dirinya dengan Renjun. Bagi Renjun segalanya sudah harus tersedia sebelum mereka memutuskan untuk berangkat.  

Kembali Jaemin ubah arah pandangnya. Ia tatap wajah Renjun yang masih menantikan jawaban darinya. Kening Renjun tertekuk, dua alisnya beradu, bibir sewana ceri itu mengatup rapat, dan mata itu… mata sedalam palung mariana itu menatap Jaemin balik dengan binar ekspektasi yang meruah. Dua ujung bibir Jaemin tidak bisa tidak menukik ke atas melihat itu semua.

Lucu.

“Jaemin?”

Tersentak. Jaemin lupa akan jawaban yang masih ditunggu Renjun. Selalu seperti itu. Teori relativitas waktu yang dicetuskan Einstein bagi Jaemin bukanlah sebuah teori belaka. Waktu benar-benar terasa berhenti ketika matanya bersirobok dengan dua manik gelap Renjun. Dua manik yang dengan gampangnya menghisap kesadaran Jaemin bagai penyedot debu.  

Tersenyum, Jaemin ikuti oktaf suara Renjun, “Harusnya udah, sih.” 

“Yakin?”

“Kalau ada yang kurang, gampang lah. Kan bisa beli di sana aja ‘ntar?”

Setiap beberapa bulan sekali, jika tidak ada aral melintang, grup pertemanan mereka yang terdiri dari tujuh orang; Mark, Jeno, Haechan, Chenle, Jisung, Jaemin dan tentu saja Renjun memutuskan untuk pergi berlibur. Kadang menginap di villa salah satu kenalan mereka, kadang hanya sekedar menginap bersama di salah satu kediaman mereka atau kadang hiking ke bukit di belakang kampus mereka. Semua tidak jadi soal. Asal mereka pergi bersama itu sudah cukup.

Namun, untuk trip kali ini —atas rekomendasi Jaemin— mereka memilih untuk menghabiskan liburan di pulau. Lumayan jauh dari tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi. Tapi, walaupun demikian, pulau tersebut masih belum bisa dikatakan terpencil. Jadi, kalaupun ada yang ketinggalan, Jaemin pikir akan sangat gampang untuk mencari penggantinya.

“Yeuuu, itu mah kamu,” Masih dengan nada rendah Renjun dorong tubuh Jaemin menjauh. Tubuh Renjun kini menyerong membelakangi Jaemin.

“Ah, ngomong-ngomong ini apa?” Jaemin ambil tas kecil dengan gambar tokoh kartun kesukaan Renjun yang masih teronggok di sebelah ransel.

“Hmm? Oh, itu perlengkapan kamu,” Tas kecil itu kemudian berpindah tangan ke Renjun yang kemudian ia selipkan di antara celah barang-barang lain yang telah tersusun rapi di dalam ransel. “Kamu kebiasaan deh beli-beli di sana. Ini sudah aku sisihkan sikat gigi sama kaos oblong dan celana panjang buat kamu. Kalau sampo, sabun bisa pinjam punya aku ‘ntar.” 

Sebelah alis Jaemin terangkat. Iseng ia lempar tanya, “Kolor?”

Gerakan tangan Renjun terhenti. Ia putar bola matanya malas sebelum Renjun berbisik pelan, “Udah juga. Kemarin sengaja aku beli lebih.”

“Lah, kirain pakai punya kamu juga?” 

Kepada pertanyaan itu, jari telunjuk Renjun terarah cepat ke bibir Jaemin yang seketika mengatup, “Ini mulut perlu banget disumpal kolor bekas, ya? Sembarangan banget kalau ngomong.”

Setelahnya derai tawa mengalun lepas dari bibir Jaemin. Konversasi lirih yang mendominasi di ruangan 3 x 3 kamar kosan Renjun tadi tergantikan oleh gelak Jaemin yang begitu bebas. 

Tawa itu semakin keras membahana ketika Jaemin menyadari Renjun pasang wajah datar melihat polah Jaemin. Mata Jaemin menyabit, tulang pipinya terlihat lebih jelas, pun kepalanya menjelangak tak beraturan. 

Dan karena itu Jaemin mungkin tidak menyadarinya; setelahnya ada senyum di wajah Renjun yang mengiringi gelak Jaemin.

“Pantai di sana emang beneran bagus, ya?” tanya Renjun setelah yang tersisa dari Jaemin hanyalah perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa.

Jaemin kembali tersenyum, “Banget!”

“Iya? Beneran warna lautnya mint?”

“Hijau mint.”

Benar-benar hijau mint. Jaemin sudah memastikan beberapa minggu sebelumnya. Setelah mendengar Renjun yang berkeinginan untuk mencari suasana baru untuk ‘trip’ selanjutnya, Jaemin dengan inisiatif sendiri melakukan acara jalan-jalannya sendiri untuk menentukan tempat rekreasi mereka selanjutnya.

Dan akhirnya pilihannya jatuh pada pantai yang akan mereka kunjungi nanti. Pantai dengan air lautnya yang hijau mint. Warna kesukaan Renjun.

“Hijau mint? Beneran hijau mint? Memangnya ada warna laut hijau mint?” Pundak Renjun kemudian tegak penuh antisipasi. Wajahnya mendadak sumringah. Gemerlap sorot mata membayang di lapisan iris Renjun. Jaemin gigit bibir bawahnya menahan gempita yang tertahan di segala sistem tubuhnya atas reaksi yang ditunjukkan Renjun.

“Ada. Makanya kamu harus lihat,” Jaemin raih sejumput rambut Renjun yang terlepas untuk diselipkan di balik telinga Renjun “Seperti warna masker yang biasa kamu pakai.”

Sepasang alis itu bertemu di tengah, “Itu bukan hijau mint, Jaemin.”

But close enough.

Senyum Renjun makin lebar. Einstein sekali lagi benar dengan teori relativitasnya. Detik melambat di ruang waktu Jaemin. Jaemin seperti melayang namun tidak benar-benar melayang. Dan semua itu hanya karena satu senyum itu. Mati-matian Jaemin tahan apapun emosi yang membenam jauh di dirinya. 

Jaemin geser atensinya menjauh dari senyum itu. Ia melongok sekali lagi ke dalam tas Renjun, “ Charger? ” 

“Ah, iya lupa! Tadi dipinjam Haechan. Aku ke kamar dia dulu, ya?” Renjun bergegas menarik diri meninggalkan Jaemin.

Jaemin hela nafas panjang. Ia sandarkan tubuhnya di kaki ranjang. Matanya mengawang melihat langit-langit dengan taburan bintang sintetis sewarna hijau mint. Sudah menahun dan apa yang Jaemin kira akan terkikis dimakan waktu, malah mengendap bagai sedimen yang menumpuk. 

Hampir saja…  

“Gini amat ya nasib para jomblo ngeliatin orang pacaran?”

Cepat Jaemin menoleh ke belakang. Ada Chenle yang sedang duduk bersila di atas ranjang. Telapak tangannya menumpu dagunya. Sedangkan kedua matanya melihat bosan Jaemin yang terperangah.

“Bangsat? Sejak kapan lo disana?”

“Gue yang harusnya nanya. Sejak kapan?”

“Apanya?”

“Sejak kapan kalian berdua pacaran?”

“Hah?”

“Pantesan ya lu bang, ngebet banget ke pulau taunya karena si ayang.”

Dihujani asumsi, Jaemin memilih diam sebelum ditariknya nafas dalam, “Gue nggak pacaran sama Renjun.”

Kali ini Chenle yang terperangah, “Lah, terus yang tadi apa? Ngomong bisik-bisik? Berasa dunia milik berdua? Dan bisa-bisa kalian nggak sadar gue udah dari tadi di sini?”

Jaemin bungkam. Lagi, ia menengadahkan kepalanya ke langit-langit. 

Andai saja jika ia mengatakan iya maknanya akan sama dengan kenyataan yang ada. 

Tapi, bukan.

Renjun bukan pacarnya. Titel sahabat saja masih harus rebutan dengan Haechan. Pacar? Hmm? Masih belum. Masih jauh. Atau sudah dekat?

Jaemin kemudian tersenyum.

___ Keping 1 : End.

 

Mark–Rambut–Biru

___ Keping 2 : Start.

Kalau saja setiap manusia dibekali satu kekuatan super, Renjun akan dengan sangat senang hati memilih shapeshifting menjadi bagian dari dirinya. 

Bukannya apa-apa, bagi Renjun dapat berubah menjadi angin adalah sesuatu yang sangat Renjun inginkan saat ini. Renjun pikir mungkin dengan menjadi angin dia dapat lebih leluasa untuk menyentuh rambut sewarna biru itu tanpa harus bersusah payah mencari alasan.

Renjun hanya ingin membelai rambut itu, merasakan lembut di sela jari-jarinya, mengusik empuknya helaian rambut yang terlihat gendut itu. 

Kalau bisa sih merambah ke senyum si pemilik rambut. Mengubah senyum itu menjadi sesuatu yang bisa ia peluk di malam hari.

“Jangan dilihatin terus, rambutnya nggak bakal tiba-tiba jadi ular kok,”

Sontak Renjun menoleh ke samping. Entah sejak kapan Mark berdiri di sebelahnya. Setidaknya Renjun sangat yakin Mark lima belas menit sebelumnya masih duduk minum air kelapa dengan Jeno di seberang sana.

“Rambut baru Jaemin cakep, ya?” lanjut Mark. 

Mark sama sekali tidak melihat Renjun. Kepalanya lurus ke depan, tangannya bersedekap, menatap Jaemin yang masih melakukan aktivitas yang sama dari bermenit-menit yang lalu ; memotret. Kali ini objeknya saja yang berbeda ; Jisung.

Atas pertanyaan Mark barusan Renjun bingung. Apakah ia harus berbohong untuk menutupi fakta bahwa memang benar Renjun menghabiskan waktunya menonton gelak tawa Jaemin atau ia harus jujur karena pada kenyataan Jaemin memang benar-benar cocok dengan warna rambutnya sekarang.

Renjun bawa pandangannya lagi ke depan. Atas apa yang tersaji di depan matanya Renjun memilih jujur. Laut mint di hadapannya memang indah, tapi rambut biru itu dengan sangat mudahnya menggeser posisi laut.

“Iya,” cicitnya kemudian.

Akan sangat tidak masuk akal untuk mengaburkan fakta ketika semua orang tahu Jaemin benar-benar menjadikan warna biru miliknya utuh. Dunia butuh kata yang lebih kuat dari indah untuk mendeskripsikan apa yang Renjun lihat sekarang.

“Lo nggak cemburu gitu pacar lo malah makin banyak yang suka?”

Renjun toleh wajahnya cepat dan dengan segera mendapati Mark yang sudah lebih dulu menatapnya. “Hah? Pacar?” 

“Lo sama Jaemin pacaran, kan? Sorry, I know it’s your privacy tapi masa lo nggak nganggep gue sebagai teman, sih?” rajuk Mark.

Dua alis Renjun saling mendekat ke tengah, “Bang? Gue nggak pacaran sama Jaemin?”

Mark tersedak ludahnya sendiri, bingkai matanya membola lebar dengan pupil bergerak cepat, “Hah? Tapi kan? Tapi… hah? Serius?”

“Bang?”

Berangkat dari keterkejutannya, Mark hela nafas, “Oke, kalian nggak pacaran. Masih belum. Tapi kalian saling suka, kan? Mutual pining is kinda cute in fiction. Real life? Ugh, not so much . Apa lo nggak merasa dia memperlakukan lo dengan sangat spesial?”

“Gue nggak bisa jawab.”

“Jun?”

Renjun bungkam. Tapi setelah berkontemplasi cukup lama akhirnya Renjun vokalisasikan apa yang telah mengendap lama di benaknya, “Apa yang kata lo spesial dengan mudahnya bisa dia lakukan ke orang lain. Gue nggak mau menerka sesuatu yang nggak pasti, Bang.”

Mark tergelak mendengarnya, “Emang benar ya kata orang, mereka yang jatuh cinta itu kemampuan otaknya menurun drastis.”

“Bang?”

Allow me…” 

Mark kemudian beringsut, mengikis jarak antara dirinya dan Renjun. Dua tangannya kemudian berpindah mengelilingi tubuh Renjun, membawanya dalam satu dekapan erat. Bahkan kaki kirinya pun ia selipkan di kaki kiri Renjun.

“Huh?”

“Dih, gemasnya bayiku…” ujar Mark mendekut. Giginya mengatup gemas. Hidungnya pun  ikut berkerut. Hal yang biasa Mark lakukan kepada Renjun.

“Bang?”

“Sabar,” Mark menurunkan nada bicaranya, “Ntar makan siang lo bagi dua, ya? Udah cukup makanan gue dibikin asin sama dia.”

“Hah?”

“Ututututu bayikuuuu…” Mark kembali mengubah gaya bicaranya.

Tidak sampai sepuluh detik mungkin dan bisa jadi hanya lima detik, Jaemin sudah berdiri di hadapan Mark dan Renjun, “Lagi ngapain ni?”

“Eh?”

___ Keping 2 : End.

 

Jisung - Stroberi - Merah Jambu

___ Keping 3 : Start.

“Kabedon itu gimana, sih?” Serentak semua yang ada di kamar Renjun menoleh ke arah Jisung yang sedang duduk bersandar di samping dispenser. Tak terkecuali Jaemin yang baru saja masuk ke ruangan. Langkahnya terhenti tepat satu langkah dari pintu kamar.

Chenle yang sedang mengunyah stroberi di atas ranjang Renjun pun terbatuk, “Hah?”

“Kabedon Chenle,  lo tau nggak?”

“Lo liat dimana?” Renjun yang sebelumnya duduk di bawah menyender di kaki ranjang kini merangkak dan duduk di sebelah Jisung.

“Ini,” Ponselnya pun berpindah tangan.

“Lo baca fanfic ?”

Fanfic ? Siapa pairing -nya?” Stroberi merah jambu oleh-oleh tantenya yang kemarin berkunjung sudah tidak menarik lagi bagi Chenle. Posisi Chenle berubah dari yang sebelumnya menelungkup kini duduk bersila —masih di atas ranjang mengarah ke Jisung.

“Jaemren.”

“Jaemren?” tanya Jaemin yang sekarang telah duduk di atas ranjang —di sebelah Chenle.

“Jaemin dan Renjun.”

“Hah? Gue sama Renjun?”

“Ey, bukan Bang! Kurang kerjaan amat manusia bikin fanfic lo berdua.”

“Lalu?”

“Tahu NTC Dream nggak, Bang?”

Dahi Jaemin menyerngit.

“K-Pop bang, kebetulan nama dua dari membernya sama seperti abang dan Bang Renjun.”

“Bisa gitu ya?”

“Trus kabedon tadi?” Chenle bertanya tak sabaran.

“Trus di sini ada adegan kabedon, tapi nggak dijelasin kabedon itu gimana. Padahal scene -nya lagi intense gitu.” Jisung mengambil ponselnya kembali dari tangan Renjun, “Ada yang tahu nggak?”

“Kabedon, ya?” 

Semuanya kemudian diam sampai pada satu titik Renjun dan Jaemin saling bertatapan. Satu ujung bibir Renjun tertarik ke atas, tersenyum miring ia berdiri mendekati Jaemin yang bingung melihatnya.

Come here babe.

“Uh, oh udah lama nggak liatin kalian begini?” Chenle meletakkan mangkuk berisi stroberi di atas pangkuannya, memperlakukannya seolah popcorn teman menonton drama yang ada di hadapannya.

Renjun kemudian mengambil satu stroberi dengan ukuran paling besar. Digigitnya stroberi tersebut sembari meraih tangan Jaemin untuk dibawanya ikut berdiri.

Chenle terkekeh setelah menyadari apa yang akan Renjun lakukan, “Jisung, lo mau tau kabedon gimana? Noh, liatin Jaemren KW kabedon depan mata lo,” ujar Chenle penuh semangat.

Tubuh Jaemin kemudian dibawa Renjun memutar. Ia dorong tubuh Jaemin ke dinding di belakangnya. Satu tangan Renjun ia hentak keras ke dinding yang berada di samping kepala Jaemin. Jaemin seolah terkurung di bawah kuasa Renjun. 

Mereka berdua saling menatap. Dua pasang mata yang menembus masing-masing manik. Renjun semakin mendekatkan wajahnya. Stroberi yang masih terselip di bibir Renjun kini hanya berjarak beberapa senti dari bibir Jaemin

Dari jarak sedekat ini Jaemin bisa saja menghitung jumlah bulu mata Renjun atau membayangkan dirinya tidur di pipi empuk Renjun yang menggembung atau pun hanya sekedar melihat kilau pudar stroberi merah jambu yang masih berembun itu. Tapi tidak. Jangankan untuk menghitung satu dua, Jaemin terlalu sibuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berisik.

Padahal dulu mereka sering mereka ulang hal-hal yang biasa dilakukan orang pacaran hanya untuk sekedar menjadi bahan guyon yang dipertontonkan. Menjadikan reaksi dari mereka untuk mengisi hari. Entah sejak kapan ada rasa yang menyelip yang menjadikan hal biasa itu bukan hal biasa lagi. Jamin paham kenapa tapi selalu bingung jika ditanya kapan.

“Kalian berdua pacaran?”

Gerakan Renjun terhenti tepat sebelum stroberi menyentuh bibir Jaemin.

“Aishhh, Jisung!” Chenle berteriak frustasi.

Renjun gigit habis stroberi yang ada di mulutnya, “Kalau lo berpikir gue sama Jaemin pacaran cuma karena ini lo salah besar.” 

“Sini, lo berdiri dek,”Renjun ambil satu stroberi dari mangkok Chenle  yang kemudian digigitnya dan menarik tangan Jisung untuk berdiri. 

“Kabedon ya kabedon aja bang, nggak perlu juga kali pake stroberi.”

Sama seperti yang Renjun lakukan ke Jaemin, Renjun dorong tubuh Jisung ke dinding. Meletakkan satu tangannya di samping kepala Jisung. Sedikit kikuk, mengingat tubuh Jisung yang jauh lebih tinggi darinya. 

Tapi belum sempat Renjun bergerak lebih jauh lagi, Jaemin tarik paksa Renjun, mendorong tubuh Renjun ke dinding. Kali ini tangan Jaemin yang mengurungnya dan tanpa menunggu, menggigit potongan stroberi tanpa menyentuh bibir Renjun.

Renjun bungkam.

Jaemin pun diam.

“Bang, itu stroberi lho?”

“Trus?” 

“Lo kan nggak suka stroberi, Bang?”

“Berisik,” Jaemin telan kunyahan terakhir stroberi tersebut, “Yang penting sekarang lo tau kan kabedon itu gimana?”

___ Keping 3 : End.

 

Haechan - Ubi - Ungu

___ Keping 4 : Start.

“Geser,” Haechan yang baru saja datang, menyepak kaki Renjun yang sedang berselonjor santai di pelataran kampus. Haechan kemudian duduk di sebelah Renjun, ikut berselonjor dengan kakinya digunakan sebagai penyangga laptop yang baru saja dikeluarkan dari dalam ranselnya.

Kepala yang terasa terbelah dan angin sepoi-sepoi di hari yang cukup panas ini seharusnya cukup untuk membuat Renjun tertidur. Namun, selain Renjun masih ada jadwal kuliah pukul dua nanti, objek yang berada belasan meter di depan matanya ini mengambil porsi cukup besar untuk mengusik eksistensi kantuknya.

“Menurut lo yang Jaemin makan itu apa? Ubi ungu?”

“Ubi ungu?” Haechan ikuti arah pandang Renjun, “Bukannya itu kimbab yang biasanya dia beli?”

“Bukannya ubi?”

Kembali Haechan alihkan perhatiannya ke laptop, “Ya, udah samperin aja ke sana, ngapain nebak-nebak kayak orang bego di sini heh?”

Renjun pijat pelipisnya berkali-kali, pandangannya mulai membayang, “Nggak ah males.” 

“Lah?”

“Lo nggak ngeliat dia dikerubungi banyak orang? Mana senyum-senyum lagi,”

Haechan putar  bola matanya, “Males dah kalau lo dongo gini.”

“Apaan, sih?”

“Bentar, lima menit lagi. Gue harus kirim tugas ke dosen gue sebelum jam dua.”

Renjun pejamkan kedua matanya. Kepalanya semakin nyeri. Seolah ada batu besar yang menggeser dan mengambil space otaknya. Tubuhnya oleng padahal dia tidak sedang berada di atas kapal. Mungkin seharusnya Renjun tidak berada disini sekarang, ia harusnya mengikuti perintah otaknya tadi pagi –bergelung di balik selimut sampai sakit kepalanya ini mereda.

“Lo kenapa?”

“Hmm?” Renjun buka matanya lagi. Laptop Haechan sudah tersimpan rapi di dalam ranselnya. 

Jaemin masih di sana dengan makanan yang sama di tangannya. Renjun angkat lutut kakinya, menjadikannya penyangga dua tangannya. Ponsel yang sejak tadi sudah berada dalam genggamannya, sekarang menampilkan gerakan Jaemin yang sudah di- zoom berkali-kali.

“Lo ngapain?”

Setelah dirasa cukup jelas, Renjun tekan tombol kameranya dan kemudian diperlihatkannya ke Haechan, “Ini ubi ungu kan?”

“Sekali lagi gue tanya, lo ngapain?” Kernyitan di dahinya terlihat jelas, “Lo berantem lagi sama dia? Udah seminggu ini gue lihat lo jauh-jauhan sama Jaemin?”

“Nggak,”

“Lalu?”

Lalu? Lalu apa?

Kepala Renjun benar-benar mau pecah. Ia malas berpikir. Lalu apa? Entahlah. Sejak trip terakhir mereka ke pulau, pertanyaan Mark dan apa yang dilakukan Jaemin dengan stroberi seminggu lalu.  Semuanya seperti mendobrak dinding yang ia bangun kokoh sebelumnya. Batas antara teman dan sesuatu yang lebih dari itu goyah dengan mudahnya.

Renjun sudah cukup puas dengan titel apa yang melekat di dirinya atas Jaemin. Sahabat? Tentu saja. Kekasih? Renjun tidak pernah mau menjelajah ke area terlarang itu. Jaemin ada untuknya seperti biasa dan dia ada untuk Jaemin, Renjun rasa itu sudah cukup. 

Bukan berarti sebelum Mark, tidak ada yang mempertanyakan kedekatan mereka. Sudah terlalu banyak yang menyangsikan dan semua itu Renjun anggap angin lalu. Tapi, ketika teman-teman terdekat mereka yang mulai mempertanyakan, ragu itu muncul mengubah arah permainan. 

Dan ubi ungu itu –yang mungkin saja kimbab– ubi ungu terkutuk itu, Renjun bisa saja ke sana, mengambil paksa ubi yang hanya tersisa satu gigitan itu dan langsung melahapnya dari tangan Jaemin seperti yang biasa mereka lakukan.  Menjadikan hal itu semata-mata pertunjukan. Sialnya, kaki Renjun seolah terpaku di bumi. Ia sangat ingin namun sekaligus tidak mungkin.

Sejak seminggu lalu —sejak Renjun tahu dinding itu ternyata hanyalah satu buah stroberi, Renjun mendadak rakus. Ia ingin lebih. Ia sendiri yang ingin mendobrak runtuh dinding itu. Apa yang semula jauh dari angannya mendadak tersaji tepat beberapa mili dari bibirnya.

Namun, tentu saja itu tidak mungkin. Dan entah siapa yang memulai, sejak kejadian itu mereka berdua seperti undur diri untuk tidak saling mendekat. Menjadikan apapun alasan untuk tidak dalam satu ruang gerak.

“Bang Mark kemarin nanyain lo berdua, lebih tepatnya tentang hubungan lo berdua.”

“Terus lo jawab apa? Lo mau nanya juga?”

“Bukan urusan gue. Itu urusan lo berdua.” Kembali tangan Haechan memijat paha Renjun lembut, “Tapi, Jun… Kalau selama ini yang bikin lo ragu karena lo kira lo bakal ngerusak circle kita akibat jenis hubungan baru ntar lo salah besar, Sayang.”

Senyap.

“Dan kalau alasan lain seperti lo nggak yakin sama perasaan dia ke lo atau lo ke dia karena terlalu nyaman dengan hubungan sebelumnya, itu lo bisa tanyain ke orangnya langsung tanpa perlu main teka-teki gini.”

Renjun masih bungkam dan setelah ia mampu mengutarakan apa yang berkecamuk di pikirannya, lirih suara Renjun yang terdengar, “Dia sahabat gue.”

Haechan tersenyum menanggapinya, “Gue juga sahabat lo.”

“Gue nggak mau kehilangan dia sebagai seorang sahabat.”

“Lo nggak bakal kehilangan dia sebagai seorang sahabat,”

“Chan…”

Haechan diam sebentar. Ia ubah posisi duduknya, menyamankan dirinya dengan menyandarkan kepalanya pada pundak Renjun, “Renjun sayang, gue ngerti apa yang lo takutin. Tapi, coba ubah pola pikir lo sebentar. Jangan dulu berpikir ini sebagai sebuah kehilangan,” Haechan tepuk pelan paha Renjun, memijatnya perlahan, “Coba lo pikir, mungkin ini lebih ke ‘evolving’ ?”

Evolving ?”

“You’re not losing your best friend, you’re just getting something extra.”

Something extra , ya?” ulang Renjun —lebih untuk ke dirinya sendiri. Tubuhnya mendadak terlalu letih.

“Eh, lo sakit? Kok badan lo anget?”

___ Keping 4: End.

 

Jeno - Kaos - Putih

___ Keping 5: Start

“Sorry gue telat.”

Jaemin yang mendengar suara Jeno langsung mendongakkan kepalanya. Ia masih sibuk dengan paper yang harus diserahkan sebelum pukul dua siang.

Perpustakaan kampus pukul sebelas pagi tidak akan pernah sepi pengunjung. Tapi, walaupun demikian suasana sunyi di tengah ramainya orang yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing menjadi pilihan yang tepat bagi Jaemin untuk mengasingkan diri.

“Ada jurnal yang bisa gue pa— Jen?”

Tangan Jaemin segera saja menarik kerah dari kaos putih yang dikenakan Jeno. Kaos dengan gambar snoopy yang biasa dikenakan Renjun.

“Ini bukannya kaos Renjun? Kok bisa lo pake?”

“Lo serius nanya gue gitu?” Tangan Jaemin yang masih menarik kaos tersebut dilepas paksa oleh Jeno.

“Kaos gue kena muntahan pacar lo. Dan karena gue masih harus kuliah siang, makanya gue dipinjami baju sama dia. Gitu aja lo cemburuin?” Jeno mendengus kesal, “Lagian bisa-bisanya kalian berantem di saat yang tidak tepat.”

“Muntahan?”

Jaemin bingung. Muntahan? Renjun muntah?

Memang, seharian kemarin Jaemin tidak melihat Renjun. Dua kelas yang sama-sama mereka datangi, Renjun tidak masuk. Jaemin kira Renjun yang memang sengaja menjauhkan diri dari Jaemin. Makanya, walau sulit Jaemin membiarkan Renjun untuk sendiri dulu.

“Iya, muntahan. Renjun muntah tadi pagi.” 

“Tadi pagi?”

Sadar akan reaksi Jaemin yang tidak seperti perkiraan, Jeno yang sedang mengeluarkan laptop dari tasnya berhenti sejenak, “Jaemin? Jangan bilang lo nggak tahu?”

“Ngomong yang jelas! Renjun kenapa?” bentak Jaemin gusar. Pikirannya benar-benar kalut sekarang. Berharap apapun yang dikatakan Jeno nantinya bukan seperti yang ia pikirkan saat ini.

“Renjun sakit.”

Sakit?

Renjun sakit?

Dua kata yang seperti memiliki tangan, menampar mental Jaemin keras. 

“Dimana Renjun sekarang? Sudah dibawa ke dokter?” Jaemin dengan sigap mengemasi laptop dan perlengkapan lainnya yang tersebar di atas meja. Semua dimasukkan sembarangan. 

Jeno yang melihat tingkah Jaemin kebingungan. Lipatan di keningnya terlihat jelas, “Masih di kontrakan. Sebelum gue pergi tadi, masih ada Haechan di sana. Tapi, mungkin sebentar lagi Haechan juga bakalan diusir kayak gue. Lo tau sendiri Renjun mana mau nyusahin orang,”

“Ck, Suruh Haechan kuliah. Renjun biar gue yang urus.”

Jeno makin bingung.

“Sebentar,” Jeno raih tangan Jaemin, “Lo benar-benar nggak tahu? Hubungan kalian berdua itu sebenarnya apa sih?”

“Lo serius nanyain itu sekarang?”

Jeno benar-benar dibuat bingung sekarang. Dengan tingkah Jaemin. Dengan tingkah Haechan. Apalagi tingkah Renjun yang walaupun dalam keadaan sakit, masih sempat-sempatnya bertanya tentang Jaemin.

Kertas yang harus dikumpulkan nanti siang remuk tak berbentuk di tangan Jaemin, “Kita nggak pacaran.”

Jeno masih terlihat skeptis, “Lo yakin kalian berdua betul-betul lagi nggak pacaran?”

Jaemin tergelak. Jenis gelak yang terdengar sumbang di telinga siapapun yang mendengarnya. Dan ketika Jeno akhirnya sadar Jaemin sedang tidak berbohong ia lepaskan cengkramannya atas tangan Jaemin.

“Jaem? Trus sampai kapan?” Raut wajah Jeno melunak.

“Apanya?”

“Jangan berlagak pilon, I know you really well Jaem .”

Jaemin sudah menyandang ranselnya dan bersiap pergi, “Menurut lo sampai kapan?”

Tidak ada jawaban dari Jeno dan Jaemin pun segera berlalu tanpa niatan untuk menunggu jawaban dari Jeno.

___ Keping 5: End.

 

Renjun - Lampu - Oranye

___ Keping 6: Start.

Kepala Renjun sungguh pening, tubuhnya seperti remuk tertimpa reruntuhan. Pun matanya benar-benar terasa panas. Tapi, walaupun didera semua itu, Renjun masih bisa merasakan hawa keberadaan lain yang berada di belakangnya. 

“Chan, lo ngampus aja, gue bisa sendiri kok,” lirih Renjun berucap. Selimut yang sudah menutupi tubuhnya sampai dagu ia tarik kembali, menggulung dirinya dalam balutan kain tebal tersebut. Renjun sungguh berharap gerakan sepele itu dapat mengurangi rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya. 

Hening. Tapi, sosok itu masih ada. Sosok yang kemudian mengulurkan tangannya untuk mengganti kompres yang terletak miring di kening Renjun.

“Haechan?” Renjun balikkan tubuhnya. Matanya mengerjap lambat, menjadikan air mata yang menumpuk di balik kelopaknya menetes perlahan. 

“Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit?”

Itu jelas bukan suara Haechan.

Renjun paksa matanya untuk terbuka, pandangannya benar-benar kabur. Suasana temaram kamarnya yang hanya ditemani lampu berpendar oranye itu sama sekali tidak membantu penglihatannya. 

“Ibuk, sepertinya Renjun benar-benar sakit, deh.” Renjun pejamkan matanya lagi, “Kok Renjun bisa lihat Jaemin di sini?”

Memang Jaemin. Tapi, Renjun tidak perlu tahu itu.

Tangan Jaemin kemudian terulur, menghapus tetesan air di sudut mata Renjun dan menetap di sana. Jaemin bawa sejuk ke pipi Renjun yang hangat.

“Adem, hehehehehe.”

“Geser.”

“Renjunnya lagi sakit, nggak boleh deket-deket.”

“Aku pake masker kok.” 

Bohong. Jaemin sama sekali tidak menggunakan masker. Sesaat setelah pergi dari perpustakaan, Jaemin pulang ke rumah menjemput mobil dan langsung ke sini. Kalau-kalau Renjun memang harus dibawa ke rumah sakit.

“Kalau gitu, peluk…” Renjun lepaskan kompres yang ada di dahinya. Setelahnya Renjun rentangkan kedua tangannya, menyibak selimut tebalnya. Kedua matanya masih terpejam. Tapi, senyum tipis terulas di bibirnya yang kering dan pucat.

Melihatnya, Jaemin segera memposisikan dirinya berbaring di sebelah Renjun. Jaemin selipkan tangannya di bawah leher Renjun, membawa tubuh Renjun ke dalam dekapan eratnya.

“Ini beneran Jaemin?”

“Menurut kamu?”

“Nggak mau mikir. Kepala Renjun sakit, maunya dipeluk aja.”

Jaemin tersenyum mendengarnya. Ia elus pundak Renjun naik turun, sedangkan tangannya yang lain mengusap rambut Renjun yang lembab. Dagu Jaemin kemudian ditumpukan di puncak kepala Renjun. Sesekali dikecupnya. Berharap apa yang ia lakukan membuat Renjun lupa akan sakitnya. Sama seperti yang biasa Renjun lakukan untuknya dulu.

“Udah minum obat?”

“Sudah. Tadi Jeno udah beliin paracetamol di apotik.”

“Mau ke dokter aja?”

Gelengan yang Jaemin dapat sebagai jawaban, “Besok juga sembuh.”

Setelahnya Renjun makin menenggelamkan dirinya di dada Jaemin. Wangi lavender yang segera mengetuk celah hidung Renjun yang mampet. 

“Ini suara jantung kamu atau suara jantung Renjun?” Renjun makin mendekat, “Suaranya mirip sama punya Renjun kalau lagi dipeluk Jaemin.”

Jaemin semakin mengeratkan pelukannya, “Sekarang nggak?”

“Sekarang? Hmmm… iya. Kok bisa?”

“Ke dokter aja yuk? Aku bawa mobil kok.”

Sekali lagi Renjun menggeleng, “Aku boleh ngomong?”

“Ngomong apa?”

“Aku bingung.”

“Bingung kenapa?”

“Aku sama Jaemin itu apa? Teman? Sahabat? Atau…” Lagi Renjun menggeleng.

Jaemin bungkam.

Atas kebungkaman itu, Renjun bawa paksa kepalanya untuk menatap sosok yang mendekapnya ini. Dua tangannya ia taruh lembut di kedua belah pipi Jaemin. Pandangannya keruh, membayang begitu panas. Renjun mengerjap berkali-kali untuk mengusir ketidaknyamanan itu. Tapi tetap saja yang terlihat hanyalah sosok oranye yang mengabur. 

Menyerah, Renjun kembali menyurukkan kepalanya di dada Jaemin.

“Aku tahu kok Jaemin ngeliat aku beda. Bagaimana dia ngeliat aku, bagaimana dia memperlakukan aku secara spesial. Aku nggak bodoh. Tapi…”

“Tapi, apa?”

“Tapi, aku ngantuk.”

Jaemin tersenyum, tangannya masih terus mengelus punggung Renjun, “Ya, udah tidur aja. Aku disini kok.”

Kali ini Renjun mengangguk. Matanya sudah terlalu berat. Tubuhnya benar-benar terasa tidak nyaman.

Tapi….

“Tapi, kamu tahu nggak, Bang Mark ngirain aku sama Jaemin pacaran. Haechan nggak nanyain tapi dia juga tau. Trus Jisung…”

Ternyata tidak hanya Chenle dan Jeno yang sibuk menerka-nerka. Mark, Haechan dan juga Jisung mempertanyakan hal yang sama tentang mereka. Lucu 

Jaemin gigit bibir bawahnya, “Kamu nggak mau pacaran sama Jaemin?”

“Ya, mau… tapi, aku mau tidur aja, ngantuk.”

Jaemin tergelak, tubuhnya berguncang pelan, “Udah, jangan ngomong lagi. Tidur. Besok kalau sudah sembuh kita ngomong, ya?”

Renjun tidak lagi menjawab. Renjun sudah tertidur.

___ Keping 6: End.

 

Jaemin - Renjun - Kuning

___ Keping 7 : Start.

Kuning.

Entah sejak kapan Jaemin mengasosiasikan segalanya yang kuning adalah Renjun. Matahari? Renjun. Bunga wedelia mungil yang selalu ia jumpai di pinggir jalan? Renjun. Inti telur pada telur mata sapi yang selalu ia santap pagi hari? Renjun. Semuanya Renjun. Bahkan pada rambu peringatan di jalanan yang selalu memintanya untuk berhati-hati. Itu Renjun.

Mungkin keabsurdan itu semua dimulai ketika zaman ospek dulu; ketika Renjun masih dengan rambut cepaknya celingak-celinguk di lapangan fakultas mencari temannya. Jaemin sudah mulai melihat kuning pada sosok mungil itu. 

Padahal Jaemin ingat betul tidak ada yang kuning Renjun kenakan saat itu; kemeja putih, bawahan hitam, tas, sepatu, bahkan kaos kakinya. Semuanya tidak ada yang berwarna kuning. Jika dibandingkan dengan mahasiswa baru lainnya, tidak ada yang berbeda dari Renjun. Tidak ada yang aneh. Tidak ada . Yang aneh hanyalah Jaemin yang tidak bisa melepaskan pandangannya atas Renjun.

Sampai akhirnya Jaemin dapat menarik satu kesimpulan; mungkin sama seperti rambu peringatan di jalanan, Jaemin diminta berhati-hati akan keberadaan Renjun.

Keberadaan Renjun yang sebelumnya hitam putih menjadi lebih berwarna.

Atau bisa jadi ketika Haechan yang tidak sengaja mengenalkan dirinya dengan Renjun. Jaemin ingat kala itu, suara yang keluar dari bibir Renjun terdengar lembut. Tapi, juga tegas. Dan ketika Renjun menyebutkan namanya, bagi Jaemin itu adalah lantunan paling merdu yang pernah ia dengar. Suara yang melantunkan harapan seperti filosofi kuning yang pernah dibacanya dulu.

“Huang,”

“Huang?”

Bahkan namanya pun kuning.

“Iya, Huang Renjun.”

“Aku Jaemin.”

Tapi, yang pasti kisah aneh mereka dimulai dari Jaemin sendiri. Ketika Jaemin tidak sengaja menyebut dirinya ‘aku’ alih-alih ‘gue’ seperti yang biasa dilakukannya. Jaemin ingat betul bagaimana Haechan meledeknya habis-habisan. Menyebutnya playboy cap badak yang segera membuat wajah Jaemin merah padam. 

Padahal bukan. Jelas bukan . Jaemin bukan playboy apalagi cap badak. Lidahnya saja yang tiba-tiba memiliki otak tersendiri dan berpikir ‘aku’ dan ‘kamu’ adalah kata ganti orang pertama dan kedua yang cocok untuk mereka berdua. 

Dan atas keputusan sepihak lidahnya itu, Jaemin malu bukan kepalang. Bagaimana jika Renjun memandangnya aneh? Atau bahkan jijik? Sama seperti Haechan yang bergidik geli?

Yah, untung saja waktu itu Renjun bersikap biasa. Bahkan mungkin untuk mengurangi rasa malu yang dirasakan Jaemin, Renjun pun ikut-ikutan menyebut dirinya ‘aku’ dan memanggil Jaemin ‘kamu’. Untuk itu Jaemin sungguh sangat berterimakasih kepada Renjun. 

Mungkin hal itu juga yang menjadi titik awal sandiwara permainan mereka. Bertingkah seolah-olah mereka merupakan pasangan kekasih. Mulanya hanya panggilan sayang —mengolok tingkah Jisung dan mantan pacarnya dulu, kemudian setelahnya lambat-lambat naik tingkat menjadi peragaan adegan dari manhwa yang dibaca Haechan. Semuanya Jaemin lakukan hanya demi gelak tawa yang terburai dari mereka yang menontonnya.

Tidak lebih.

Awalnya.

Karena sampai pada satu titik. Lelucon itu bukan lagi lelucon bagi Jaemin. Sedikit demi sedikit ia selipkan isyarat di kata yang yang ia ucap. Jaemin titipkan rasa pada sentuhan yang yang ia tinggalkan di tubuh Renjun. 

Mungkin Renjun tidak menyadari. Karena Jaemin pikir semua itu sudah ia timbun cukup dalam jauh di bawah titel seorang sahabat.

Jaemin kira dia sudah cukup puas dengan itu semua. Sampai di malam ketika peristiwa ‘stroberi’ itu terjadi; ketika tangan Jaemin bergerak lebih cepat dari otaknya untuk menarik tubuh Renjun, mendorongnya ke dinding hanya untuk merasakan stroberi merah jambu terkutuk itu. 

Jaemin tidak sudi membayangkan bukan dia yang berada di posisi itu. Posisi dengan bibir yang hanya berjarak sepersekian inci. 

Walaupun setelahnya Jaemin menyesal. Karena setelah kejadian itu, entah siapa yang memulai, jarak sedikit demi sedikit melebar di antara mereka berdua. 

Yang awalnya mereka seperti tidak bisa dipisahkan, kini dengan sendirinya melenggang seolah mereka hanyalah teman sebatas sapaan.

Sampai akhirnya Renjun sakit dua minggu yang lalu. Renjun bahkan sampai harus dirujuk ke rumah sakit. Tipes kata dokter yang memeriksanya. Bolak-balik Jaemin dan teman-temannya yang lain menemani Renjun di rumah sakit selama seminggu lebih. Mengingat di negara ini Renjun hanya tinggal seorang diri. Akan sulit bagi orangtua Renjun yang tinggal di China untuk menemani Renjun di rumah sakit. Apalagi kondisi ayah Renjun yang tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Beliau juga ternyata sedang sakit.

Tapi, setidaknya kalau dipikir lebih jauh, sakitnya Renjun yang membuat Jaemin yakin akan apa yang dilakukannya nanti. Karena sebelumnya, di bawah remang-remang lampu oranye kamar tidur Renjun, Jaemin dapat memastikan rasa yang ia punya sama persis dengan rasa yang Renjun pendam. 

Semua yang Jaemin kira satu arah ternyata bergerak timbal balik. 

Renjun bodoh. Dan Jaemin jauh lebih bodoh.

Dan sekarang —disinilah Jaemin— menjelang sore, berdiri di hadapan Renjun yang sedang duduk berselonjor di lantai. Di sudut belakang kelas yang telah sepi dari kegiatan perkuliahan. 

Renjun sepertinya tidak menyadari keberadaan Jaemin. Dia terlihat mengutak-ngatik ponselnya. Mulutnya sibuk mengunyah kimbab. Sedangkan telinganya disumpal earpod dengan volume yang bahkan Jaemin bisa mendengarnya dari tempatnya berdiri. 

Jaemin amati lekat-lekat Renjun. Bagaimana sinar matahari sore menyapa lembut wajah Renjun dari kaca jendela. Lihatlah, bahkan ketika tidak ada yang kuning melekat di tubuh Renjun. Renjun masih terlihat nyata dengan kuningnya. 

“Aku kira kamu makan ubi ungu,” Jaemin kemudian duduk di sebelah Renjun. Kakinya ikut diselonjorkan. Satu earpod di telinga Renjun berpindah ke telinga Jaemin, berbagi lagu chinese yang biasa Renjun dengar. Renjun yang akhirnya sadar akan keberadaan Jaemin terlonjak kaget.

“Hah? Sejak kapan di sini?”

“Barusan?”

“Bukannya masih sakit?” Renjun dengan tergesa menyimpan kimbab yang masih tersisa separuh ke dalam kantong plastik. Tangannya yang bebas dengan segera merengkuh pipi Jaemin. Memeriksa suhu tubuh Jaemin bolak-balik.

Lucu. Setelah Renjun sembuh total dari sakitnya, malah Jaemin yang didera flu selama empat hari.

“Kok ketawa?”

“Oh, nggak.”

Sadar akan telapak tangan Renjun yang masih menempel di pipi Jaemin, mereka berdua sama-sama terdiam. Canggung akan sentuhan yang telah lama tidak mereka berikan. 

“Lagi lihat apa?” tanya Jaemin akhirnya.

“Foto-foto di pantai kemarin. Lautnya benar-benar terlihat hijau mint, ya? Apalagi kalau di foto.”

Maaf, tapi sungguh Jaemin tidak peduli, “Kalau sekarang kita udah bisa ngomong?”

Gerakan tangan Renjun terhenti —persis di foto Jaemin yang sedang berdiri di tengah pantai seorang diri. Jaemin mungkin tidak sadar, rambut birunya yang dipermainkan angin dan senyum secerah matahari yang waktu itu Renjun curi diam-diam dalam satu ceklikan kamera.

Renjun beringsut menjauh, “Harus sekarang?”

Jaemin malah mendekat, “Kamu maunya kapan?”

“Besok?” cicit Renjun.

“Kemarin pas kamu jenguk aku, kamu bilangnya sekarang?”

“Kan kemarin bilangnya tunggu kamu sembuh dulu?”

“Aku udah sembuh kok.”

Bibir Renjun mengatup. Wajahnya memerah. Malu? Lagi-lagi tangannya bergerak otomatis menyentuh dahi Jaemin.

“Masih panas. Sedikit.”

“Renjun…”

Renjun mengerang, “Aku nggak suka kamu deket-deket sama yang lain.”

Lagi, Jaemin tersenyum, “Aku juga nggak suka.”

“Egois nggak sih kalau gitu?”

“Bahkan aku nggak suka Jeno pakai baju kamu.”

“Baju?”

“Itu… kaos putih gambar snoopy yang biasa kamu pakai.”

“Tapi, aku sama Jeno kan cuma temenan?”

“Aku pun juga gitu kan?”

“Ya, tapi kan beda?”

“Apanya yang beda?” 

Renjun tidak lagi menyanggah. Mereka kembali diam sampai akhirnya Jaemin kembali bersuara, “Kamu tahu nggak? Dari hari pertama aja, aku nggak ngeliat kamu sebagai teman.”

Renjun masih diam.

“Klise, sih. Tapi, jatuh cinta pada pandangan pertama itu aku kira omong kosong,” Jaemin tersenyum. Tapi, lebih untuk dirinya sendiri. “Taunya? Aku udah jatuh dari hari pertama.”

Pelan Renjun berkata, “Nggak klise, kok.”

“Kalau aku cuma teman, aku nggak punya alasan buat larang Bang Mark peluk kamu. Aku juga nggak punya alasan buat marah sama Jeno yang pakai baju kamu. Trus…”

“Trus?”

“Trus aku juga nggak punya alasan buat cium kamu.”

Kini wajah mereka sama-sama memerah.

“Cuma cium doang?”

Jaemin menutupi mukanya dengan tangannya sendiri, “Argh… Jun… Jangan gitu!”

Renjun yang tertawa menyenderkan kepalanya di pundak jaemin, “Kalau misalnya kita…. dan terus akhirnya… kamu masih mau temenan sama aku?”

Mendengar Renjun yang menyensor dua kata itu, Jaemin tertawa kecil. Tawa yang datangnya hanya sekilas. Karena setelahnya apa yang akan Jaemin ucapkan bukan lelucon.

“Kalau ternyata bahagia kamu bukan di aku. Aku nggak bakalan maksa kamu.”

“Bahagia aku di kamu, kok.” Sela Renjun cepat.

“Kalau gitu bagus dong? Jadi aku aku nggak perlu bergantung sama orang lain buat ciptain kebahagiaan buat kamu.” Jaemin mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman menyandarkan kepalanya di kepala Renjun, “Lagipula itu urusan nanti kan? Mulai aja belum?”

“Ya, iya sih…”

Lebih cepat lebih baik. Itu yang ada dipikiran Jaemin sekarang. Kisah mereka sudah terlalu panjang opening -nya. Jaemin sadar betul, di sudut ruang kelas ini tidak ada romantis-romantisnya untuk mengungkapkan sesuatu yang mungkin hanya akan terjadi satu kali di hidup Jaemin. Apalagi dengan debu yang menempel di ujung celana mereka, keringat yang sudah kering di badan, bahkan rambut lepek sisa dari hari yang panjang. Jaemin sudah tidak peduli. 

Ringkasnya; tanpa persiapan.

Sama seperti rasanya atas Renjun yang datangnya tanpa aba-aba.

“Aku tahu sekarang mungkin bukan waktu yang tepat.” 

Kenapa di pikiran terlihat lebih mudah? Lidah Jaemin kelu dengan sendirinya. Jantung Jaemin bertalu-talu dengan cepatnya.

“Tapi Jun, boleh nggak aku jadi pa… hmmph!”

“Jangan sekarang!”

Dalam bekap tangan Renjun di mulut Jaemin, Jaemin terlihat bingung. Dari sekian banyak respon yang Jaemin prediksi. Ini bukan respon yang Jaemin kira akan dapatkan dari Renjun.

“Dua hari lagi aku ulang tahun, aku nggak mau anniversary kita barengan sama ulang tahun aku.”

Jaemin yang mulutnya masih ditahan Renjun, hanya bisa mengerutkan dahinya. Bingung. Apa hubungannya anniversary yang berbarengan dengan ulang tahun Renjun?

“Ntar kadonya digabung. Males banget!”

Hah?

“Trus kapan?” Bak anak anjing yang tidak diberi pelukan. Binar mata Jaemin redup secara perlahan.

Ragu Renjun menjawabnya, “Sebulan lagi?”

“Trus sebulan ke depan kita bolehnya ngapain aja?”

“Pegangan tangan?” Renjun raih tangan Jaemin. Menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari Jaemin.

Iseng Jaemin bertanya, “Kalau cium?”

“Nggak boleh cium. Belum pacaran.”

“Yakin masih mau nunggu? Kamu kira aku nggak sadar kalau kamu suka ngeliatin bibir aku sejak kejadian stroberi sebulan yang lalu, heh?”

“Aku udah nunggu bertahun-tahun. Sebulan lagi kayaknya nggak masalah.”

“Jun?” Jantung Jaemin bergemuruh mendengarnya. Ada rasa yang harus cepat-cepat ia tumpahkan.

Renjun makin-makin menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Jaemin, “Shh, diam.”

Ah, Renjun menyukai Jaemin sama dalamnya. 

Ya, sudah. Sebulan kalau dihitung hari cuma 30 hari. Tidak terlalu lama. Tidak apa. Tidak jadi soal. Sama seperti Renjun, Jaemin sudah menunggu saat ini terlalu lama. Menunggu sebulan lagi tidak jadi masalah.

Di luar sana, sinar matahari makin redup. Bumi yang berputar menyembunyikan sinarnya. Tapi di sini –di jantung hati Jaemin– semua terasa lebih terang. Jaemin tidak perlu lagi menyembunyikan perasaannya. 

“Mau tau nggak apa yang lebih abadi dari abadi?” Jaemin gigit bawahnya, menahan senyum yang tak kunjung hilang.

“Apa?” Renjun angkat kepalanya dari pundak Jaemin untuk melihat Jaemin lebih jelas.

“Kita.”

Senyum di wajah Renjun memudar. Tatapan mata Renjun kosong dengan wajah begitu datar.

“Walaupun bulan depan kamu bakalan jadi pacar aku, aku tetep nggak suka ya yang gombal-gombal gini,” Renjun bergidik, “Geli.”

Mendengarnya, Jaemin tertawa dengan lepasnya, “Ternyata aku beneran suka kuning.”

“Tiba-tiba?”

“Aku suka kuning. Aku sayaaaaaaaang kuning.” Direngkuhnya Renjun dalam satu pelukan. Mengecup puncak kepala Renjun berkali-kali. 

Jaemin tidak pernah merasa sebebas ini. Kalimat yang ia kubur menahun akhirnya bisa ia ucapkan tanpa pretensi. Semua terasa lepas. Ringan. Jaemin benar-benar suka dengan apa yang ia rasakan saat ini.

“Jaem?”

“Huang Renjun. Aku sayang Huang Renjun,” tutur Jaemin lagi.

“Kartu kuning! Pelanggaran pertama!” ucap Renjun. Tapi, dengan tangan yang juga memeluk Jaemin sama eratnya.

___ Keping 7 : End.



Notes:

Terimakasih sudah mau membacanya sampai akhir. See you next time? ig?