Chapter Text
Di trotoar pejalan kaki, Bujang berdiri di pinggir. Tidak menyetop taksi maupun lanjut jalan. Bujang meratapi satu nama yang ada di layar telepon genggam. Ia memutar otak mencari topik basa-basi apa yang perlu dia jadikan tameng. Tidak ada alasan untuk menghubungi.
Namun bagaimana ini? Cuma dia satu-satunya orang yang bisa Bujang—masa bodoh, deh. Ditekan dulu saja tombol panggil. Soal diangkat atau tidak atau alasan—cepat sekali respons dari seberang!
Masih diam. Bujang tahu Padma tidak akan berbicara lebih dulu.
“Padma, ini aku.”
“Oh, kau masih hidup ternyata.”
Cara mencairkan suasana versi orang ini … cukup mengajak ribut.
“Hei, kau bisa memulai dengan menanyakan kabar, tahu.”
“Aku sudah tahu kabarmu duluan.”
“Sungguh? Aku curiga kau memata-mataiku.”
Bujang merasakan tensi naik di seberang sana.
“Kenapa percaya diri sekali, heh? Aku tahu dari suaramu.”
“Memang kenapa dengan suaraku, heh? Aku tidak sedang sakit, apalagi sekarat.”
Bujang merasakan diam beberapa detik.
“Kau mungkin terlihat baik, tapi suaramu mengungkapkan perasaanmu.”
Padma selalu tahu.
Bujang berdeham. “Di mana kau sekarang?”
“Kau ingin aku ada di mana?”
Bujang mengeratkan genggaman pada telepon genggam.
“Apa kau tidak masalah? Sebenarnya aku tidak punya alasan khusus untuk bertemu.” Mungkin aku hanya ingin melihatmu.
“Orang aneh. Kenapa juga harus ada alasan kalau mau ketemu.”
Bujang menyeringai. Benar. Sejak kapan mereka membutuhkan alasan untuk melihat satu sama lain.
“Wah, wah. Aku curiga sebenarnya kau yang ingin bertemu denganku.”
“Hah. Aku putar balik saja deh.”
Sebuah sedan merah merapat di trotoar tempat Bujang berdiri. Kaca samping kursi pengemudi turun, memperlihatkan Padma dengan earphone wireless menggantungi lubang telinga.
“Cepat naik sebelum aku putar balik beneran.”
Bujang menelan ludah, memperhatikan lalu lintas sekitar. Ia memutar ke depan, membuka pintu depan, duduk di sebelah Padma.
