Chapter Text
"Mereka bilang gitu?!" Nada Heze meninggi, bebarengan dengan kepalanya yang mendongak cepat dari layar ponsel genggam ke arah sang saudari.
Auva sendiri baru memakai kausnya dengan sempurna, menutup bra dan kulit perut yang sebelumnya terumbar. "Iya! Mereka bikin list cewek cantik-jelek gitu. Aku denger dari tempatku duduk tadi. Geli banget. Kayak ganteng aja loh," sahutnya.
Mereka berdua sedang bergosip soal para siswa lelaki yang tadi nongkrong di bangku belakang perpustakaan. Auva kebetulan mencuri dengar pembahasan laki-laki tersebut saat sedang membaca buku cerita.
Dengar konfirmasi Auva, alis Heze berkerut. Dia memasang wajah kegelian. "Menjijikkan," komentarnya. "Terus? Tadi apa katamu? Seungmin yang cantik banget itu nomer 4?" Mata Heze tak lepas menatap Auva yang berjalan ke sana ke mari mencari celana rumahnya.
"Anjir," lanjut Heze, "terus kita nomer berapa, Va?"
Setelah mengambil celana di lemari paling atas, Auva menoleh sambil terkekeh sedikit. "Auva nomer dua."
Mulut Heze membentuk bulat. "Ooooh." Perempuan berambut pendek itu berkedip beberapa kali sambil memperhatikan kaki mulus saudarinya yang berjalan ke arah tempat tidur untuk menyusul Heze sendiri. "Tapi emang Auva lebih cantik daripada Seungmin, sih."
Sambil merangkak naik ke kasur, bibir Auva mengerucut tidak terima. "Nggak boleh gitu, tau! Seungmin itu cantik banget banget."
Heze mengangguk setuju, kemudian tersadar akan sesuatu. "Lah, aku sendiri? Nggak mereka sebutin?"
Auva merespon dengan gelengan.
Mata Heze ia putar kesal. "Dikira cowok juga pasti."
"Iya kali, hihi." Auva terkikik. Dia duduk bersila di samping Heze yang sedang tengkurap sambil memainkan ponsel. Mau ikut perhatikan, Auva merundukkan badannya.
Heze tahu ada helaian rambut kuning halus yang jatuh di pipi. Ia mendongak dan menemukan wajah Auva yang hanya berjarak beberapa senti dari mukanya sendiri. Bibir Auva yang merah mengerucut, kulit sehat dengan serpihan bintang kecoklatan yang rata di pipi, serta rona sedikit karena di luar memang agak panas.
Saudarinya itu cantik dan manis, Heze sangat paham. Sebagai hadiah karena telah menjadi cantik dan manis, Heze menopang badannya untuk kemudian memberi kecupan cepat di bibir Auva.
"Yang cantik harus dicium," katanya sambil tersenyum jahil.
Auva yang terkejut jadi tidak terima karena serangan tiba-tiba. Telapak tangannya kemudian menangkup pipi Heze.
Tak sampai Heze tersadar akan detik, bibir Auva sudah mendarat pada miliknya dan sesapan lembut kemudian dia rasakan. Posisi yang tidak nyaman pun secara alami berubah. Perlahan mendudukkan diri sambil terus mengunci pergerakan bibir Sang Saudari, tak sampai dua puluh sekon pun Heze sudah duduk menghadap Auva.
Ciuman terlepas tak lama kemudian, dengan mata yang masih melirik ke bibir lawan masing-masing. Yang barusan tadi lebih manis daripada biasanya. Mungkin karena dilakukan secara lembut dan menyenangkan. Mungkin juga karena sudah lama tak mereka lakukan.
"Hihi," kikik Auva. "Aku masih jago, 'kan?"
Dari leher Auva, tangan Heze bergerak menangkup pipi perempuan yang satunya. Dia mengangguk mantab. "Masih cantik dan jagoan!"
Ah, kalau diteruskan begini, bisa-bisa satu malam penuh mereka habiskan untuk bercumbu. Nasib baik, ada ketukan di pintu yang terdengar.
Kepala Ayah yang melongok ke kamar saat itu juga menjadi sebuah tanda bahwa akting harus segera dimulai.
"Tuh, belek," bisik Heze sambil menunjuk mata Auva, agar tak terlalu mencurigakan dilihatnya, saat dua orang perempuan yang bersaudara duduk berhadapan dengan wajah yang jaraknya hanya sepanjang pensil 2b.
"Ini kenapa kalian dipanggil nggak nyaut, sih? Ayo turun, makan. Udah ditungguin sama Mama sama Mami." Berhasil, karena setelah berkata begitu dan membuka pintu lebar-lebar, yang mereka panggil Ayah itu kemudian turun lebih dulu menuju ruang makan.
Berhadapan lagi sedetik, kemudian terkikik lagi keduanya.
☆★☆
"Emang kamu udah baikan sama Seungmin, Ze?" Setelah makan malam, dua cewek bersaudara itu duduk santai di kamar. Walau sedang membaca buku cerita, Auva tak diam saja untuk ajak saudarinya bicara.
"Hah? Iya, udah kok." Heze sendiri sedang duduk di meja rias, berkonsentrasi penuh untuk mempercantik kukunya dengan kutek berwarna pucat. "Dia itu nggak marah, Va. Dia cuma nanya, apa benar kita pernah ciuman?"
"Hyunjin juga kemarin nanyain aku. Terus abis aku bilang iya, dia lanjut nanya lagi, 'Auva suka sama Heze?'. Terus aku bilang iya lagi, terus udah. Dia kayak bingung gitu, tapi nggak lanjut nanya." Auva bercerita tentang peristiwa tiga hari lalu.
"Pasti diceritain Seungmin itu," kata Heze. "Hyunjin kan lebih kalem memang anaknya. Dia iya iya aja."
Auva mengangguk. Dia menyerah dengan buku ceritanya dan memutuskan untuk memperhatikan Heze lewat kaca rias. "Nah, Seungmin pasti ngomel-ngomel gitu kan. Bilang nggak boleh, ini itu."
Heze mengangguk juga. "Tapi apa kita peduli? Tentu tidak~" Dia berkata santai.
Auva terkekeh sedikit. Karena Heze lucu, karena Seungmin lucu, karena semua ini lucu. "Iya, kita nggak peduli."
