Work Text:
Malam hari yang nyaris usai, tepat dimana seberapa orang menjalani sahur. Sang calon pemimpin, Soekarno, sedang duduk di kursi kerjanya sambil melihat dan mencoret beberapa kata di atas kertas.
Ia tampak kesal dengan pekerjaannya yang tak habis di-revisi, goresan pena dibalas suara balikan kertas, mau berapa kali ia ulangi biar puas? Walau itu, ia bertekad untuk menyelesaikannya malam itu juga.
Dari kesunyian suasana malam, terdengar suara seorang menghampiri ruang kerja. Soekarno berhenti sejenak, taruhnya kertas yang digenggam. Kelelahan yang ia rasakan membuat rasa kewaspadaannya meningkat. Ia mulai memperhatikan sekitar ruangnya, entah apa itu, ia tidak mau mengambil langkah keluar dari ruangan itu. ‘Keparat apa yang datang di waktu seabsurd ini coba,’ pikirnya.
Ia mencoba untuk mengabaikannya dan melanjutkan apa yang sedang ia lakukan, tetapi, langkahan itu terasa semakin dekat. Ia mulai kehilangan fokus sejenak. Ia mencoba untuk tetap tenang dan menganggap itu hanya ilusi berlebih karena kelelahan.
“Huung..”
‘..’ Ia tak habis pikir apa yang ada di depan pintunya, dan tidak mau tahu.
“Huung holonghh ..”
“Apasih!? Kalau kamu memang ingin menganggu saya, yasudah beranikan diri untuk datang sini!”
“Bhaik..”
Pintu mulai membuka, Soekarno rasa ingin pingsan saja, menghadapi makhluk halus bukan apa yang ia ingin rasakan sesaat seperti ini.
“Huung—,”
Druuak!
“Lho huung, astaga!”
Hatta segera mengangkat temannya yang menjatuhkan kepalanya di meja, sehabis melihat seorang dengan pisau serta beberapa bercak campuran coklat dan kuning. Rupanya ia terlalu lelah sampai mengira ia seorang penyusup, juga melupakan waktu sahur sudah tiba jauh sebelum ia mulai sadarkan diri.
