Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-03-27
Updated:
2023-03-27
Words:
1,038
Chapters:
1/2
Comments:
2
Kudos:
18
Hits:
205

I Remember (Always)

Summary:

Setelah memorinya kembali, Ily merasa ada satu potongan cerita yang hilang.

Notes:

HAK CIPTA MILIK TERE LIYE

Chapter Text

Ada satu hal mengganjal bagi Ily bahkan ketika hampir seluruh memorinya telah kembali. Seperti ada sepenggal cerita yang hilang, tidak pernah kembali pada pikirannya yang muda. Tampaknya bukan hanya dirinya yang merasakan hal tersebut dan Ily yakin bahwa Seli mengetahui sesuatu yang orang-orang tidak tahu. Terlepas dari itu, Ily kehilangan dirinya sendiri sepenuhnya walaupun ia mengingat semuanya. 

Semua itu bermula saat mereka menghadiri makan malam di rumah Ily sendiri. Semua orang menyambutnya dengan bahagia dan suka cita meskipun ada sekilas kengerian di wajah mereka. Sebagian besar penasaran mengenai perjalanannya di klan Matahari Minor, sebagian penasaran akan rasanya mati. Ia lupa bagaimana dinginnya peti mati ataupun rasa sakit ketika Fala-Tara-Tana IV mengirimkan petir padanya. Petualangan festival bunga matahari pun baginya hanya sebuah memori. Tidak lebih. Ia tidak bisa merasakan atau benar-benar mengalami kehidupannya sebelum kematian. Ribuan pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan kepadanya. 

"Bagaimana rasanya mati?"
"Apakah Raja Hutan Gelap yang membangkitkanmu?"
"Ily, kamu tampak seperti mayat sekarang."

Dan masih banyak lagi. Namun ada satu pertanyaan yang terngiang-ngiang dikepalanya hingga saat ini. Sebuah pertanyaan dari Seli, Si Petarung Klan Matahari.

Saat itu, Seli menatapnya penuh keraguan seakan-akan ingin memastikan sesuatu. "Apa memorimu benar-benar sudah kembali? Semuanya?" 

Apakah sudah? Tanya Ily pada dirinya sendiri. Dia tidak memiliki petunjuk, dia buta dan tidak tahu apa-apa mengenai memorinya sendiri. 

"Tidak tahu, Seli. Sepertinya sudah betul-betul pulih." Kebohongan besar yang Ily sendiri tidak tahu pasti. Seli tahu sesuatu, ia mengkonfirmasi perasaan janggal dalam lubuk hatinya.

Bagi Seli, pria ini sudah lama mati. Terkubur dalam-dalam bersama harapannya di Klan Matahari. Meskipun tubuhnya berdiri tegak di depan matanya sendiri, Seli tidak menganggapnya sama. Terlebih ketika rambut yang sekelam malam menjadi seputih tulang. Ia berbeda dan tidak akan kembali seperti sedia kala. Seli tidak lagi mengenali pria ini. Pernah suatu kali, ketika mereka berpetualang ke satu Klan yang penuh masalah, Seli mencoba untuk berkomunikasi dengannya. Berharap Ily mengingat sesuatu yang penting baginya, bagi mereka. 

"Apa kau tahu mengenai teknik mengirim pesan melalui mimpi?" tanya Seli secara tiba-tiba. 

Ily mengangguk. "Aku tahu, teknik kuno dari klan Matahari Minor." 

Seli menghembuskan nafas, "Apa kau tahu bagaimana cara melakukannya?" 


"Tidak. Aku tidak tahu. Memangnya kenapa?" Ily menatapnya bingung. Untuk apa? 

Seli menimbang-nimbang jawabannya. "Yah, mungkin aku akan meminta bantuan Ibu Cwaz saja." Seli memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Ily.

"Untuk siapa?" Ily kembali bertanya. 

"Ali. Dia belum tahu tentang semua ini." Ada kesedihan di mata Seli yang entah bagaimana membuat Ily tak nyaman. "Kita harus memberitahunya. Sebenarnya, Raib sudah mencoba untuk mengirim pesan ke SagaraS melalui teknologi yang kami temukan di lab milik Ali. Sia-sia. Tidak pernah ada jawaban. Entah memang dia tidak ingin menjawab atau pesan kami tidak pernah sampai."

Ily mengangguk paham. "Kalian benar-benar tidak bisa dipisahkan. Pasti sulit untuk kehilangan teman yang selalu bersama," gumam Ily. 

Seli mengangguk setuju. "Tanpa Ali, aku dan Raib menjadi lebih kacau ketika menghadapi tantangan. Dunia kami juga menjadi lebih sepi tanpa Si Biang Kerok." Diam-diam Ily berharap bahwa Seli merasakan yang sama untuknya. 

Keduanya kerap kali mengobrol bersama, tetapi selalu ada Raib atau Master B ditengah-tengah keduanya. Tidak pernah benar-benar berdua. Petualangan bersama mereka menjelajahi banyak klan ternyata tidak membuat keduanya semakin dekat. Ada tembok tinggi yang memisahkan mereka, tembok yang dibangun oleh diri mereka sendiri. Keduanya sama-sama bisu dalam mengutarakan. Lidah mereka kelu meski hati mereka terbakar ingin berbicara. Bahkan kini, ketika hanya ada mereka berdua di dalam ILY. 

"Seli," panggil Ily dengan lembut. 

"Ada apa?" Tanya Seli. 

Ily menghembuskan nafas lelah, ia harus bisa mendapat jawaban atas seluruh kekacauan ini. 

"Aku tidak yakin seluruh memoriku kembali. Apa kau tahu sesuatu?" 

Seli terkesiap. Tidak berekspektasi akan mendapat pertanyaan yang ia takuti selama ini. "Mengapa kakak berpikir bahwa aku tahu sesuatu?" 

Ily menatapnya, tersenyum simpul. "Kau orang yang sepertinya tahu semua hal." 

"Aku bukan Ali." 

"Tentangku, Seli." 

Seli terdiam sejenak, "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

Ily menatap langit-langit, menyusun segala spekulasi dalam kepalanya. "Apa yang terjadi saat petualangan kita ke Klan Matahari? Sebelum kematianku. Ada hal yang kurang setiap aku mengingat kenangan tersebut." 

"Pesan mimpi itu, kamu yang mendapatkannya bukan? Mengapa kamu dan Av atau Raib?" 

Seli ingin membalas tetapi terpotong oleh Ily. "Kamu menyimpan sesuatu, Sel. Aku tahu kamu tahu satu hal tentang... tentang _kita._" 

"Omong kosong, Ily. Tidak ada apa-apa yang terjadi," elak Seli.

Ily memegang erat kedua bahu Seli, membuat dua pasang mata mereka saling bersitatap. "Katakan yang sebenarnya, Seli. Apakah seluruh memoriku benar-benar pulih?" 

Seli menggeleng. "Kamu kehilangan satu, Ily. Kamu tidak mengingat satu kenangan." 

"Maka beri tahu aku apa itu," titah Ily. Tanpa disadari air mata Seli mulai jatuh. 

"Kamu harus bisa mengingatnya sendiri, Ily. Jika aku yang memberitahu, maka itu bukan dari sudut pandangmu. Aku tidak mau merusak memorimu." Ibu jari Ily mengusap air mata Seli. 

"Kalau kamu memang tidak bisa mengingatnya. Biarkan saja karena itu tidak penting, tidak bagimu."

Ily hendak memprotes tetapi Raib dan Master B sudah kembali. Percakapan ini terhenti begitu saja. Setidaknya dia tahu sekarang bahwa memang benar ada yang hilang. Keduanya menjadi canggung dan saling menghindar satu sama lain. Seli lebih sering menghindar daripada Ily. Ketika jadwal makan, Seli memilih untuk menunda makannya. Ketika menjalankan misi bersama, Seli lebih sering menjauh dan tidak mau bertatap wajah dengannya. 

Ketika mereka akan mengunjungi klan Bor-O-Bdur dengan tujuan untuk mengunjungi si kembar Ceros dan Nir Mahkota. Ily tak mau menunda lagi, ia harus berbicara dengan Seli.  Melihat Raib dan Master B yang berada jauh di depan mereka. Ily tahu ini saatnya untuk menyelesaikan apa yang tertunda sejak lama.

"Seli," 

Wajah Seli memanas ketika Ily menahan lengannya. Keduanya sudah berada di klan Bor-O-Bdur. Aroma masakan Ceros sudah tercium dari kejauhan. Sangat menggugah selera. Seli hendak berjalan lebih cepat agar menghindari Ily yang dengan sigap menahannya.  

"Tunggu sebentar." 

"Ada apa lagi, Ily? Aku sudah bilang kamu sendiri yang harus mengingat semuanya. Tapi kamu tidak pernah bisa, bukan?" Nada bicara Seli tidak jengkel, melainkan sedih. 

"Tidak, Seli. Kau salah. Aku ingat semuanya sekarang." 

Mata Seli berbinar, menatap mata biru milik Ily. Wajahnya seperti tidak percaya. "Lalu mengapa jika kamu mengingat semuanya, Ily?" 

"Mari kita mulai lagi, Seli." 
Seli menggeleng. "Kamu berubah, Ily. Aku tidak bisa—tidak." 

Ily tercengang. "Mengapa tidak?" 

"Kamu bukan Ily yang aku kenal." 

"Aku memang bukan Ily yang kamu kenali lagi, Seli. Tapi aku bisa menjadi Ily yang ingin mengenal kamu lebih jauh."