Work Text:
Sekesal apapun itu, tidak ada yang melebihi rasa muak ketika dilabelkan bakat.
Dikiranya hasil dari semua kerja keras itu hanya sekedar bakat.
Kalau memang saya berbakat mengapa juga harus bersusah payah, berusaha untuk melengkapi dengan sempurna.
Apakah tidak bisa seorang untuk menjadi individu yang memang mau berusaha, bukan bakat.
Keingingan untuk bisa melakukan suatu hal dengan sempurna, bukan bakat.
Bisa saja kau berbakat di bidang melukis tapi kau ingin mendalami ilmu hukum, dan bisa juga kau berbakat di bidang hukum tetapi ingin mendalami ilmu lukis.
Lalu orang-orang akan lebih yakin dengan bidang bakat mu dari yang dituju.
Saya mengerti secara awam memang mengagumi suatu bakat lebih masuk akal, tetapi sebenarnya itu sangat menjengkelkan.
Saya tahu bakat itu sangat spesial untuk dimiliki, dan setiap orang mempunyai bakat yang berbeda, dan saya salah satu dari mereka yang bakatnya hanya berupa seorang diri.
Tapi biarkan saya bekerja keras layaknya seorang diri tanpa bakat, sungguh saya sangat benci jika banting tulang saya disebut suatu bakat.
Sekeras apapun anda bekerja, tidak akan ada pujian lebih darinya orang berbakat.
Saya tidak berbakat, tolong cantumkan itu.
Saya adalah seorang pekerja keras dan berdedikasi untuk menjadi yang terbaik.
Toh, mungkin suatu saat saya bisa melampaui bakat.
Mereka memiliki bakat, dan bisa saja itu batas mereka.
Tapi saya, saya bahkan tidak punya landasan, tidak tahu juga batas, akan saya lampaui batas mereka.
Akan saya buat definisi bakat itu hancur.
Ini juga tidak terlepas dari kata "Semua orang pasti ada bakat".
Rasa inferioritas ini, mungkin itu satu-satunya bakat yang saya miliki.
