Chapter Text
Semilir udara sejuk berlomba-lomba melintasi wajahku. Dengan tiga jari, kujepit ujung topiku agar tak terbang tertiup angin. Rok yang sedang kukenakan pun terus berkibar tanpa henti. Melangkah ke depan, butir-butir keemasan mulai menyambut jemari kakiku. Dapat kulihat pula ombak kebiruan yang memantulkan sinar sang matahari, membuatnya terlihat seperti kumpulan permata berkilau. Aku tersenyum, merutuki diriku sendiri karena tak pernah berkunjung ke sini sejak awal.
Kalau Ibu tak berhenti memaksaku, mungkin aku tak akan pernah menikmati indahnya pantai ini.
Sudah enam bulan lamanya keluargaku tinggal di apartemen yang kini kami diami. Letaknya cukup strategis; dekat dengan pusat perbelanjaan, tempat kerja Ayah dan Ibu, sekolahku, dan sebuah pantai sebagai bonus. Namun, tak pernah sekalipun aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke lingkungan sekitar, terkecuali dengan sekolahku sendiri.
Aku melangkah mendekati gelombang air setelah merapikan beberapa barang-barangku di atas tikar. Dinginnya air mengejutkanku untuk sesaat, namun tak begitu lama karena kakiku berhasil menyesuaikan diri.
Indra penciumanku menghirup oksigen dalam. Lantas, mengembuskannya perlahan, "Ah, segar sekali!"
Namun rupanya, segala keindahan tersebut tak berlangsung lama.
"Aduh!" Aku berteriak kaget taktala cipratan air mengenai wajahku. Kepalaku berpaling, menemukan segerombol anak kecil tertawa melihat reaksiku. Dengan hati kesal, kubalas perlakuan mereka dengan volume air yang lebih banyak. Tawa puas meluncur dari mulutku begitu melihat para bocah tersebut meringis kaget.
Setelah cukup lama memanjakan diri dengan bermain air, kuputuskan untuk kembali menuju pesisir pantai dan beristirahat. Entah bagaimana ini terjadi, namun kutemukan tanganku tengah membangun sebuah istana pasir tak lama kemudian.
Di sepanjang pandanganku, tak kutemui seorang remaja seusiaku. Toh jika ada, kemungkinan diriku mengobrol dengan mereka pun tak besar. Pun tak mungkin diriku ini bermain dengan para anak kecil. Maka apa yang terjadi, terjadilah. Sendirian, namun aku tak merasa kesepian.
Kastel milikku berukuran sedang, dibuat dengan ember seadanya yang tak sengaja kubawa. Sebuah kerang kutempelkan pada menara tertingginya, sebagai pengganti bendera yang kali ini tak kumiliki.
"Pfft," telingaku menangkap sebuah suara yang datang tanpa diundang. Seseorang tengah menahan tawanya. Kupalingkan wajahku menuju sumber suara, menemukan seorang lelaki dengan surai kecokelatan yang sedang menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Pandangannya tak luput dariku melalui ekor matanya. Dari penampilan, dapat kusimpulkan bahwa usianya tak jauh berbeda dariku. Baru saja diri ini mengeluh mengenai absensi remaja sebaya denganku.
"Ada yang lucu?" tanyaku sembari menatapnya kesal. Kuurungkan niatku untuk menghiraukan keberadaannya. Entah energi apa yang ia miliki, namun rasa kesal tak terbendung muncul dalam diriku sedetik setelah melihat wujudnya.
Ia mengeluarkan batuk disengaja guna mengakhiri tawa. Tangannya lantas menunjuk istana pasirku, "Orang mana yang memberi kerang di atas menara? Bukankah seharusnya menggunakan bendera, ya?" Ia bertanya. Salah satu alisnya ditarik ke atas, dan bibirnya mengukir sebuah senyum miring.
Apa dia baru saja … mengejek istana pasirku?
Tak berniat untuk menimbulkan masalah, kubungkam mulutku dan tak menghiraukan keberadaannya yang kini semakin tertawa kencang. Kutarik seluruh otot yang berada di leherku dan memalingkan pandangan dari lelaki tersebut.
Lima menit lebih berlalu, meninggalkanku dalam sebuah kedamaian yang ditemani dengan sedikit suara menenangkan dari sang alam. Lelaki menyebalkan tadi pun sudah mendaratkan bokongnya di atas pasir dua meter di sampingku. Poni yang seharusnya menutupi keningnya ditiup angin bersama dengan rambut tebalnya yang seperti permen kapas. Kulihat dirinya dengan lirikan samping, menemukan bahwa ia sedang melakukan hal yang sama denganku, alias membuat istana pasir.
Entah bagaimana, remaja sialan tersebut berhasil menyusulku dengan istana yang bahkan lebih megah dari milikku! Padahal, ember yang digunakannya tak jauh lebih besar. Aku mengutuknya kesal dalam hati.
Dari ekor mata, dapat kulihat ia menancapkan sebuah bendera merah di atas menaranya. Ekspresi wajahnya sangat bangga, didukung dengan tangannya yang disilangkan di depan dada.
"Kau terus-terusan mencuri pandang. Akui saja, punyaku lebih bagus, kan?" sahutnya bangga. Wajahku memerah kesal dan malu setelah mendengarnya sadar apa yang kulakukan selama ini.
Tak terima dengan ucapannya, kutatap wajahnya nanar, "Siapa bilang?!”
Bocah itu tertawa lagi. Amarahku tersulut bak gunung merapi yang hendak erupsi. Uh, kurang ajar! Aku tak tinggal diam. Selagi ia sibuk menatap istana kebanggaannya, kugenggam kumpulan pasir basah yang terletak tak jauh dari tempatku. Tanpa berpikir lama, kulempar pasir tersebut bak bola salju, mengenai bahunya, serta merta istana pasirnya. Matanya membesar kaget. Perasaan puas langsung berkibar dalam diriku begitu melihat istananya perlahan-lahan ambruk.
"Sialan! Berani-beraninya kau!" Ia berteriak sembari menunjuk diriku yang mengeluarkan lidah, mengejeknya. Kakinya berlari mendekati air sembari membawa sebuah ember. Dalam satu kedipan mata, lelaki ini mendekatiku yang masih hanyut dalam tawa. Heran dengan apa yang hendak ia lakukan, tawaku semakin memudar. Semakin dekat, dan dekat, dan dekat.
Brush! Suhu dingin dari air di dalam ember yang ia bawa membasahi kulitku. Aku terdiam, terkejut setengah mati.
Barusan, lelaki itu menyiramku dengan seember air!
“Kurang ajar! Apa-apaan ….”
Napasku tercekat. Tak sampai situ, kusadari bahwa istana pasirku telah runtuh bercampur dengan air yang dibawanya pula. Kutatap wajahnya penuh dendam.
Dengan satu jari menarik kantung matanya, ia menjulurkan lidah sembari berkata, "Terima itu!"
***
Memasuki ruang lobby sembari membawa peralatan, kuhampiri elevator yang akan membawaku menuju lantai 4, tempat di mana rumahku berada. Seseorang nampak memasuki elevator yang baru saja tiba di lantai ini. Pintu masih terbuka lebar dan akan tertutup dalam hitungan detik. Malas menunggu dan melewati tangga, aku meminta tolong dengan suara kencang pada orang tersebut yang kepalanya tertunduk, fokus terhadap gadget yang ada dalam genggamannya.
“Hey! Tolong tahan pintunya!” teriakku sembari berlari cepat, tak mau membuat orang tersebut menunggu, dan tak mau tertinggal elevator.
Sosok tersebut mengangkat kepalanya. Demi naga api, sungguh terkejut diriku menyadari bahwa ia adalah lelaki yang mengejek istana pasirku tadi! Ia tersenyum miring, lantas menekan sebuah tombol yang membuat pintu elevator tertutup. Berkali-kali!
“Hey! Hey! Tunggu— Jangan! Bocah sialan!” gerutuku kesal. Aku melirik ke arah elevator kedua. Dari layar yang menunjukkan posisinya, kurasa elevator ini pun sedang bergerak mengantarkan penghuni apartemen lain dari lantai ke lantai. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, kuputuskan untuk menggunakan tangga dengan berat hati. Namun, dendamku terhadap lelaki tadi tidak akan pernah menghilang!
“Selamat datang!” sambut ibuku yang sedang memasak sesuatu untuk makan malam. Kubalas ucapannya dengan nada kesal, membuat wanita berumur kepala empat tersebut menaikkan salah satu alisnya terhadapku dengan kebingungan. Kuletakkan barang bawaanku pada tempat asalnya, dan berjalan menuju kamar sembari mengutuk lelaki bersurai kecokelatan tadi.
“Ada yang mengganggumu?” tanya Ibu.
“Tidak.” Aku menjawabnya singkat. Lantas, menutup pintu kamar dan berganti baju.
