Chapter Text
Pria 27 tahun berparas tampan tersebut berdiri dibawah hujan deras, sebuah payung hitam ia genggam di tangan kanannya. Walaupun sepatu hitamnya mulai basah karena percikan air, tidak ada usaha yang dia lakukan untuk menghindari hujan tersebut. Kebalikannya, pria tersebut tetap membeku walaupun baju putih serta celana panjang berwarna coklatnya mulai lembab. Satu-satunya yang bergerak hanyalah matanya, mengamati area taman sekitarnya seolah-olah ada suatu hal yang ia cari.
Atau mungkin, seseorang?
Dan terdengarlah lagi, suara isakan lelaki yang berasal dari bawah perosotan merah. Mulai melangkahkan kaki ke arah perosotan tersebut, ia memastikan hentakan kakinya tetap lembut, mencoba agar siapapun yang menangis tidak terkejut dengan kehadirannya.
Seperti yang telah ia duga, adanya seorang remaja SMA duduk di bawah perosotan tersebut, seragam basah kuyup dan kakinya yang ditekuk agar ia bisa memeluk dirinya sendiri membuatnya terlihat lebih kecil dari seharusnya. Pundaknya bergetar, mencoba untuk kembali meredamkan suara tangisannya yang ditutupi oleh kencangnya suara hujan. Sekilas, remaja tersebut terlihat seperti seorang anak kecil. Cukup menyedihkan kalau ia pikir kembali.
"Halo," sapa pria tersebut dengan lembut, menatap figur remaja tersebut dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.
Tentu remaja tersebut akan terkejut melihat munculnya orang yang tidak ia kenal tempat disampingnya, langsung mendongakkan dagunya ke atas untuk menemui tatapan pria tersebut dengan matanya sendiri. "Halo..." adanya keraguan di balik jawabannya.
Hening. Tidak ada kata-kata yang diutarakan oleh pria tersebut. Ia tetap menatap remaja basah kuyup tersebut dengan pandangan yang penuh sesal. "Kamu kenapa nangis? Ada yang sakit?" potongnya setelah beberapa detik, wajahnya kembali menunjukkan sebuah ekspresi yang sulit ditebak.
Bagaikan saklar lampu yang mendadak nyala, wajah si remaja SMA tersebut berubah dari bingung menjadi defensif hanya dalam beberapa detik. Raut wajahnya menjadi gelap, alis mulai berkerut untuk menunjukkan sedikit rasa kesal – atau itulah yang si pria asumsikan.
"Gapapah," jawab remaja tersebut dengan ketus, berdiri sambil melangkahkan kakinya menjauh dari pria asing itu. Tanpa basa-basi, remaja SMA itu berjalan pergi, meninggalkan pria tersebut sendiri di taman yang sekarang kosong akan adanya orang lain.
Tanggal 11 April, Kim Taehyung pertama kali bertemu dengan seorang remaja SMA yang sedang menangis di bawah sebuah perosotan merah. Tanggal 11 April, Kim Taehyung pertama kali berinteraksi dengan remaja tersebut. Tanggal 11 April, Kim Taehyung ditinggalkan sendirian di taman yang sering dikunjungi saat masih kecil, ditinggalkan oleh remaja SMA tersebut yang sepertinya memiliki dendam pribadi kepada orang yang lebih tua. Tanggal 11 April, Kim Taehyung hanya bisa menatap punggung si remaja SMA yang perlahan-lahan hilang dari pandangannya.
Tanggal 19 April, Kim Taehyung bertemu dengan remaja tersebut di taman yang sama.
"Makan," ucap Taehyung dengan tegas, menyodorkan sebuah plastik berisi roti coklat kepada remaja yang sedang duduk sendirian di salah satu ayunan taman. Mukanya yang kosong berubah menjadi bingung, sebelum berubah kembali menjadi tatapan jengkel. Dari reaksinya, Taehyung mengasumsi kalau remaja tersebut masih ingat dia. "Cepetan. Sebelum gue kasih ke anak lain."
Secepat kilat, remaja itu berdiri tegak, hanya beberapa senti lebih pendek dibandingkan pria tersebut. "Gue enggak butuh simpati elu," jawabnya dengan ketus, berjalan pergi meninggalkan Taehyung untuk kedua kalinya.
Pada umumnya, setelah melewati dua interaksi jutek nan ketus dengan seseorang, seharusnya yang Taehyung lakukan adalah ikut menghindari orang tersebut, benar kan? Tapi Taehyung bukanlah orang pada umumnya. Kim Taehyung tetap memilih untuk mengunjungi taman itu tiap hari, membawa satu roti coklat di tangannya.
Di hari ke empat ia menawarkan roti tersebut, si remaja ini akhirnya mengeluarkan kata-kata yang bukan merupakan tolakan.
"Bang. Lu serem sumpah."
Ya, bukan tolakan, melainkan hinaan.
Taehyung kembali berdoa kepada tuhan untuk memberikannya ketabahan hati, mencoba untuk tidak langsung mencekik remaja SMA tersebut. "Salah sendiri badan kurus kayak gitu; mana sering hujan-hujanan," jawabnya dengan nada yang sama menyebalkan. "Kasian kalau mati kelaperan. Idup masih panjang, jangan sia-siain."
Tentu komen kecil tentang penampilan si remaja tersebut membuatnya sedikit berdecak kesal, dengan sarkas mengucapkan kata terimakasih sebelum mengambil roti coklat di dalam plastik yang Taehyung bawa. Terdapat sedikit kepuasan tersendiri ketika ia melihat siswa tersebut akhirnya memakan roti yang ia beli hampir setiap hari. "Pinter."
Rotinya habis dengan cepat, dan Taehyung mulai berpikir dua kali tentang pernyataannya mengenai penampilan remaja tersebut. "Seneng?" ujar si siswa SMA sambil menaikkan kedua alisnya dengan angkuh. "Sekarang abang bisa enggak gausah ikut campur. Dari awal sebenernya gausah ikut campur sih, kayak orang gila tau enggak."
Ouch. Taehyung memberikan dirinya sebuah catatan mental mengenai kata-kata si anak yang bisa dibilang cukup pedas. Masih SMA, jadi seharusnya Taehyung bisa menjadi orang dewasa yang baik dan benar; memaklumkan kata-kata sinis yang diutarakannya.
"Gimana gue gak gak ikut campur?" jawab Taehyung, gagal menjadi seorang orang dewasa yang baik dan benar. "Masa ngeliat anak orang nangis dibawah badai gak gue samperin?"
Nadanya sedikit kencang, berhasil dapatkan perhatian yang berlebihan dari orang-orang sekitar. Tidak sedikit mereka yang memalingkan kepala mereka ke arah keduanya, sebuah ekspresi bingung ataupun penasaran tertera di wajah masing-masing. Sejujurnya, Taehyung malu, tapi otaknya malah merasa lebih malu kalau mundur dari perdebatan melawan anak SMA.
Kuping siswa SMA tersebut memerah, raut wajah berubah menjadi syok sebelum jengkel. "Apaan sih!" kalimatnya keluar sebagai desis, "lu juga gakenal gue kan om, jadi gausah sok akrab!"
Sekarang saatnya Taehyung yang terkesiap, matanya melebar serta mulutnya yang terbuka karena kaget. "Gue cuman 27 tahun!"
"Udah tua itu!"
"Heh punya rasa hormat enggak sih?"
"Ngapain ngehormatin orang tua kayak elu? Lu pengen nyulik gue ya?!"
"Kepedean tau gak sih? Yakali gue mau nyulik bocah beler kayak elu!"
"Gue bukan anak kecil!"
Suara batuk yang keluar dari seorang ibu-ibu, tangan kanannya memegang tangan anak perempuannya, membuat Taehyung akhirnya menyadari semua tatapan aneh diberikan kepada mereka kedua. Sejujurnya, melihat seorang pria yang umurnya hampir mencapai tiga puluh bertengkar dengan seorang remaja yang bahkan tidak mencapai delapan belas tahun cukup aneh. Itulah mengapa Taehyung hanya bisa memberikan sebuah senyuman canggung.
Melihat Taehyung yang akhirnya lengah, siswa itu menghentakkan kakinya diatas kaki pria tersebut dengan sengaja, tersenyum puas ketika Taehyung mengeluarkan rangkaian kata-kata kasar yang membuat semua orang tua hadir menutup telinga anak mereka secara bersamaan. Tanpa mengutarakan kata-kata lain, siswa tersebut langsung melesat pergi.
Sebelum ia berlari terlalu jauh, dia menghentikan kakinya secara tiba-tiba. Seperti anak kecil yang baru saja lulus SD, dia menjulurkan lidahnya ke arah Taehyung, menarik kantung mata kirinya ke bawah dengan tatapan mengejek. "Jelek lu, bweeh!"
"Heh! Sini lu!" Walaupun teriakan Taehyung cukup keras, anak SMA itu tetap saja lanjut berlari, sekali-lagi meninggalkan Taehyung sendiri ditengah keramaian.
Taehyung tau kalau hidup dia jauh akan lebih mudah dan tenang bila ia akhirnya menghiraukan remaja tersebut. Dengan gampang pria berumur 27 tahun itu bisa berpura-pura kalau kejadian dua minggu terakhir hanyalah kebetulan. Mereka bisa kembali menjalani hidup mereka masing-masing, menghiraukan keberadaan satu sama lain.
Sekarang Taehyung mengerti jelas kenapa adanya pernyataan "easier said than done"; karena selama 3 hari dan 3 malam ia tetap gagal mengeluarkan image pertemuan pertama mereka; dengan remaja tersebut yang memeluk dirinya sendiri di bawah hujan. Entah karena rasa iba atau sedih, namun Taehyung tidak bisa menghentikan rasa sakit yang muncul di dadanya setiap kali image tersebut muncul.
Dengan tatapan kosong laptopnya ia tatap, mengetuk meja kerjanya dengan sebuah ritme asal. Jam dinding menunjukkan waktu setengah sebelas malam. Di Sampingnya adalah sebuah foto di dalam bingkai kayu, satu-satunya bareng di atas meja tersebut selain laptop yang sedang dipakai serta beberapa kertas coretan. Di sekitar kamarnya hanyalah kardus-kardus yang bahkan setengahnya belum dibuka, berserakan di atas lantai bersih.
Tidak aneh, karena baru kurang dari sebulan ia pindah ke apartemen ini. Setelah 10 tahun, Taehyung akhirnya kembali ke tempat dimana ia tumbuh dewasa. Rasanya aneh, kembali ke kota kecil mereka setelah bertahun-tahun tinggal dan bekerja di kota besar yang diisi dengan bangunan tinggi. Suara klakson mobil dan motor ngebut sudah seperti kesehariannya, namun sekarang diganti dengan keheningan serta suara anak kecil bermain di siang sampai sore hari.
Apartemen yang ditinggali tidak terlalu megah; cukup sederhana untuk seseorang yang tinggal sendiri. Terdapat satu kamar tidur, ruang tamu, dan dapur yang sudah dilengkapi dengan meja makan. Namun Taehyung sendiri belum pernah memakai meja makan tersebut; tuh, tidak ada yang bisa diajak untuk makan bersama. Ia memilih untuk sarapan maupun makan malam di ruang tamu sambil menonton TV.
Kebanyakan rekan kerjanya di kota besar berfikir kalau Taehyung kembali untuk bertemu dengan keluarganya, atau bahkan reuni dengan teman-teman masa kecilnya – tapi asumsi itu semua salah. Taehyung tidak memiliki kerabat lagi di kota ini, ataupun teman yang bisa diajak untuk berbincang di siang hari. Selain beberapa penjaga toko atau restoran yang masih mengenalnya, ia benar-benar tidak memiliki siapa-siapa, hanya memori manis dan pahit campur aduk.
Terkadang dia masih ragu dengan pilihannya untuk kembali.
'Udah ah,' pikirnya, menghela nafas sambil mematikan laptop. Lampu kamarnya ia matikan, dan pria itu sudah mengganti baju polosnya menjadi piyama berwarna coklat sebelum membaringkan badannya di atas kasur empuk. Kedua tangannya ia letakkan di bawah kepala, matanya tetap fokus kepada langit-langit putih. Setelah beberapa detik, akhirnya Taehyung memilih untuk memejamkan matanya, membawa kesadarannya tidur.
Dan seperti malam sebelumnya, remaja SMA tersebut muncul kembali di mimpinya.
