Work Text:
"GIMANA, masih pusing?"
Hoseok memicingkan matanya. Menggerung protes karena cahaya lampu kamarnya sendiri dengan tidak sopan merangsek masuk ke dalam penglihatannya.
Lalu ia merasakan keningnya diusap. Helaian rambut ikalnya yang menutupi mata disisir ke belakang dengan hati-hati.
Rasanya ingin tidur lagi.
"Bi?"
Oh?
Hanya satu orang yang memanggilnya itu dengan nada itu.
"Ji ...?"
Hanya Seokjin, sahabatnya.
Yang kini sedang duduk bersila di lantai samping tempat tidurnya. Menatap cemas kepadanya.
"Iya, Bi. Ini gue. Gimana? Apa yang kerasa, mm?"
Lembut.
Cara bicara Seokjin padanya memang selalu lembut. Namun kali ini sepertinya kelembutannya bertambah berkali lipat. Seperti khawatir jika suaranya akan membuat Hoseok semakin sakit kepala.
Oh, omong-omong soal sakit kepala.
Hoseok baru teringat jika ia merasa mual di tengah kelas seminar tugas akhir tadi. Seokjin yang memintakan izin pada dosen mereka untuk membawa Hoseok pulang ke flat. Hoseok juga ingat bagaimana ia melepaskan diri dari rangkulan hangat Seokjin yang memapahnya ke arah parkiran, untuk berbelok panik arah ke toilet karena ia harus mengeluarkan seluruh isi perutnya—yang belum sempat diisi sejak semalam.
Setelahnya, ingatannya buram.
"Tadi gue muntah ...."
"Iya, di toilet kampus. Kenapa? Sekarang kerasa mual lagi?" tanya Seokjin dengan wajah khawatir.
Entah mengapa rasanya hangat diperhatikan seperti ini, walau juga tidak enak hati karena pasti Seokjin tadi dibuatnya repot sekali. Sehangat rasa yang menjalari kedua pipi Hoseok—yang Hoseok kira adalah efek dari demamnya hari ini saja.
"Udah nggak mual gue," jawab Hoseok sambil menggeleng, refleks. Yang adalah tidak bijak karena ia langsung merasa ditusuk-tusuk dengan jarum di seluruh permukaan kulit kepalanya. Lebay, memang, tapi begitulah adanya.
Seketika Hoseok meringis seraya memijat pelipisnya. Dapat ia rasakan Seokjin beranjak dari tempatnya duduk untuk berpindah ke atas ranjang, di samping Hoseok. Seokjin bergumam Pelan-pelan, Bi. Sini nyender dulu, jangan gerak tiba-tiba. Nanti makin puyeng elo-nya, sambil menata bantal di belakang punggung Hoseok.
Hoseok mendadak kesal dengan hidungnya yang tidak bisa mencium apa-apa, termasuk wangi parfum Seokjin—wangi parfum Seokjin!—padahal lelaki itu sedang sedekat ini dengannya, menaungi tubuh Hoseok yang ia yakin sudah bau keringat, sembari membetulkan posisi bantal untuk Hoseok.
"Ji ...," bisiknya.
"Mm—hh, B-Bi?"
Hoseok dapat merasakan tubuh sahabatnya menjadi kaku saat ia menjatuhkan wajahnya di bahu Seokjin, lalu dengan perlahan beringsut mengendus lehernya. Dalam upaya mengais harum parfum dari tubuh Seokjin yang tak kunjung dapat ia hirup.
Salahkan otak-demamnya.
Jung Hoseok dalam keadaan sadar tentu tidak akan berani melakukan itu.
"Mmnggakbisaciumwanginyaseokjii ...," erangnya nelangsa sambil terus mengendus ke segala sisi. Tidak peduli jika Seokjin harus menahan napasnya dan menggeliat entah ingin melepas atau semakin mendekatkan diri.
"L-lo, laper nggak, Bi?"
Setelah ditanya, barulah Hoseok menegakkan tubuhnya. Ia mengangkat wajahnya, berniat menggelengkan kepalanya perlahan, supaya tidak tiba-tiba pusing lagi. Namun perutnya sudah terlebih dahulu menjawab dengan bunyi keroncongan.
"Gemes banget anak siapa?" goda Seokjin sembari sekilas mengelus pipi kanan Hoseok.
"Anak Mama Jung."
Seokjin menghela napas kasar.
"Kalo nggak inget lagi sakit, udah gue jitak juga lo, Biii ...," ujar Seokjin gemas.
"Jangan dijitak. 'Kan guenya lagi sakit. Disayang-sayang aja ...." Inginnya menggoda, namun Hoseok terlihat seperti pesakitan yang kehilangan selera akan canda. Jangankan untuk menyelipkan tawa, rasanya kepalanya seperti dipukul martil saat banyak berbicara.
Seokjin menatapnya, lalu mendesah panjang sambil menggeleng dengan wajah galak. Membuat Hoseok terkekeh pelan.
"Lo mending cepet sembuh deh. Suka nggak beres kalo lagi sakit. Gue tinggal dulu ke dapur, ya?"
Hoseok yakin, semu merah muda di kedua pipi Seokjin, yang ia lihat sebelum lelaki berbahu bidang itu berbalik badan untuk keluar dari kamarnya, bukanlah fatamorgana efek dari demamnya.
Jung Hoseok ingin cepat sembuh.
Ia ingin menggoda Seokjin lagi.
Setelahnya, Hoseok diperlakukan bak raja.
Seokjin menyuapinya krim sup ayam dengan pipilan jagung yang sudah ditaburi potongan kecil roti panggang. Kemudian menyuapinya air mineral dengan sendok karena Hoseok sedang ingin jadi kolokan dan lelaki itu mengabulkan permintaannya tanpa banyak berdebat selain satu decakan sok protes yang tidak meyakinkan.
"Minum parasetamol, ya?" ujar Seokjin sembari menggoyangkan wadah plastik dengan cap nama apotek yang Hoseok tahu ada di pertigaan terdekat dari flatnya, di depan wajahnya.
"Kapan belinya itu?"
"Waktu lo tidur. Gue cek kotak obat lo semuanya udah expired. Harus sering-sering dicek gituan tuh, Bi, buat emergency. Kita nggak tau kapan butuhnya soalnya."
"'Kan gue sakitnya juga jarang-jarang, Ji ...."
"Iya makanya, sekalinya tepar bikin parno. Lo tadi pucet banget. Gue udah ngeri aja lo pingsan di jalan, gue nggak sanggup deh angkutnya."
Hoseok meringis sambil bergumam Sorii.
"Santai. Lo selamat ampe mobil, masih bisa jalan sendiri. Cuma rewel aja mau dianter pulang gue, nggak mau dibawa ke dokter."
"Iya, ya?" Kini perlahan ingatan Hoseok yang buram tadi mulai kembali. Ia kembali meringis.
"Mana nggak mau gue pergi banget, minta ditemenin mulu. Tadi gue kirain lo udah tidur, gue mau ngacir bentar ke toilet, tangan gue ditarik lagi. Gue kebelet padahal udah di ujung!"
Hangat kembali menjalari pipi Hoseok. Kini sampai ke telinga dan lehernya. Menyesal mengapa ia melupakan momen manjanya sendiri dan menyesal bahwa ia tidak bisa merekam wajah salting Seokjin favoritnya ketika digoda.
"'Kan bisa pake botol, Ji ...."
"Muke lo botol!"
Hoseok terkekeh lagi. Senang melihat Seokjinnya bersungut-sungut.
Dengan bibir penuhnya yang menjadi manyun, kedua alis tebalnya yang bertaut di tengah kening yang mengumpulkan kerut, Seokjin jadi terlihat super imut.
Wajar 'kan menganggap sahabat sendiri imut?
—dan sedikit membuat efek mencelus pada jantung karenanya?
'Kan?
"Mau minum obatnya nggak nih?"
"Emang boleh kalo nggak mau?"
"Boleh aja. Cuma tetep bakal gue cekokin paksa."
"Ya nggak ada pilihan dong jadinya, Ji?"
"Emang. Dah sini, aaa buka mulutnya ...."
Berteman dengan Seokjin bukanlah hal yang sulit. Walau di masa orientasi dulu banyak yang segan untuk berkenalan dengannya karena kelewat ganteng, Hoseok nekad memulai dengan mengumpulkan segenap nyalinya. Pun ketika diajak ngobrol, Hoseok seketika merasa nyambung dengannya. Seokjin sama-sama heboh sepertinya saat membahas sesuatu yang mereka sukai. Saat itu ia tahu, Seokjin bukannya sombong, melainkan pemalu saja.
Keduanya lalu menjadi satu paket.
Sampai di akhir tahun perkuliahan mereka ini, tidak pernah sekali pun Hoseok melihat Seokjin berkencan. Bukan urusannya memang, tapi sekali-dua kali, Hoseok penasaran, apa ada orang yang sedang diincarnya? Atau ada orang yang belum bisa ia lupakan? Memang ingin fokus kuliah saja? Atau memang ia tidak tertarik dengan hubungan romantis secara general?
Hoseok memutuskan untuk menunggu Seokjin bercerita sendiri saja dan rasa penasarannya harus ia kubur dalam-dalam. Toh Seokjin yang menjalani. Semua terserah dirinya dan Hoseok sebagai sahabat yang baik tentu akan mendukungnya.
Tapi yang jadi masalah sekarang, sore ini, saat Hoseok sedang lemah begini, saat ia dilimpahi banyak perhatian oleh Seokjin, pikiran bahwa Seokjin bisa saja sedang naksir orang lain mulai menggerogoti kepalanya. Terlebih saat Seokjin menyuapinya obat dan membantunya minum begini yang lagi-lagi membuat jantung Hoseok berlaku aneh. Tiba-tiba saja ia sedih. Sedikit.
Mungkin rasa posesif sebagai teman yang biasa saja.
'Kan ada yang begitu?
Yang merasa ditinggalkan dan kesepian saat teman sendiri sudah memiliki pacar dan sibuk sendiri dengan dunia barunya.
Hoseok yakin begitu.
Iya, 'kan?
Astaga, otak-demamnya ini benar-benar.
Sampai Seokjin mendekatkan diri ke wajahnya.
Hoseok harus menarik napasnya panjang, dan hampir lupa untuk mengembuskannya kembali. Sedikit gugup namun terlalu lemas untuk salah tingkah.
"Demam lo udah turun kayaknya?"
"Mm?"
"Bentar ...."
Belum sempat Hoseok mencerna, Seokjin menempelkan kedua dahi mereka. Telapak tangan besarnya mengusap kedua sisi pipi Hoseok.
Saat itulah dunia terasa berhenti berputar.
Lebay lagi, memang. Tapi mau bagaimana? Itulah yang kini sedang Hoseok rasakan.
Sentuhan Seokjin di kedua sisi wajahnya terasa hangat, telapak tangannya terasa lembut, saat memejamkan mata begini, Hoseok dapat melihat bulu matanya panjang, dan bibirnya—aduh, bibirnya—terlihat penuh dan merona.
Tak sadar, Hoseok menggigit bibirnya sendiri.
"Udah nggak sepanas tadi sih, tapi masih anget. Muka lo masih merah juga."
Hoseok hampir tersedak.
"Besok gue bawain termo. Nyokap kayaknya punya dua di kotak obat. Yang kayak gitu-gitu tuh wajib sedia, Bi. Kalo harus ke dokter kadang dokternya suka tanya, suhu demam tertingginya berapa. Kalo udah cek sendiri di rumah 'kan jadi bisa dipantau. Jaga-jaga aja," celoteh Seokjin sembari merapikan bekas makan Hoseok di atas ranjang dengan cekatan.
Tidak memperhatikan bagaimana pandangan Hoseok lekat padanya.
*
Seminggu setelahnya, di dalam mobil Hoseok—sebenarnya mobil Papa Jung yang dipinjam saat Hoseok mulai mengambil tugas akhir agar mobilisasinya lebih mudah—di depan pagar rumah Seokjin, Hoseok menggigit bibirnya. Isi kepalanya ruwet, dan kali ini sama sekali bukan karena demamnya seperti minggu lalu.
"Bi ...?"
"E-eh?"
Ini dia sumber keruwetannya.
Kim Seokjin.
Hari ini hari Minggu. Keduanya tidak punya agenda khusus sebenarnya. Malah biasanya akhir minggu selalu mereka pakai untuk istirahat atau mengerjakan tugas karena besoknya selalu saja ada deadline atau bimbingan dengan dosen.
Tapi pagi tadi, Hoseok sudah memarkikan mobilnya di depan rumah Seokjin tanpa berniat untuk masuk. Ia ingin bertemu Seokjin saja. Lalu tiba-tiba merasa konyol karena tidak punya alasan.
Baru saja ia berniat untuk kembali ke flat, dilihatnya Seokjin keluar rumah, menuju ke mobilnya, sebelum melongok ke arahnya. Dengan wajah bingung, karena tidak merasa janjian sebelumnya, ia menghampiri Hoseok yang menjawab jujur bahwa ia bergerak ke sini karena refleks.
Seokjin terbahak. Kedua pipinya merona.
Lelaki itu berkata, pelan sekali, bahwa ia pun barusan berniat pergi mengunjunginya.
Tanpa alasan juga.
Lagi-lagi, Hoseok merasa jantungnya kembali berulah. Dengan perasaan hangat aneh di dalam perut yang terasa menyelimuti.
Keduanya berakhir mencari eskrim dan berjalan mengitari taman sambil mencari jajanan seharian. Tanpa tujuan.
"Lo ngelamun. Lagi. Lo ngelamun terus hari ini kenapa deh? Lagi ada yang ganggu pikiran ya, Bi?"
Hoseok menoleh ke arah Seokjin yang baru saja melepas sabuk pengamannya. Lelaki itu menunggu. Membuat Hoseok mengembuskan napas panjang—mungkin terlalu panjang. Berakhir ia menyandarkan dahinya di atas setir sambil mengerang merana.
"Hey, Hobi, want to talk?"
Lembut.
Suara Seokjin selembut beledu. Lelaki itu mengulurkan tangan untuk mengusap rambutnya, seperti biasanya. Namun lagi-lagi, seperti beberapa waktu ke belakang, jantung Hoseok kembali berulah.
Ia menolehkan kepalanya, masih bersandar di atas kemudi, membuat pipinya tertekan dan wajahnya terlihat lucu. Ia sempat tersipu saat Seokjin bergumam Gemes banget anak Mama Jung mau gue cubitin.
"Gue mau ngomong, tapi lo jangan marah ...."
Seokjin tampak kaget sejenak. Namun ekspresinya kemudian tertutup oleh kedua matanya yang memicing, menatap curiga pada Hoseok.
"Lo abis ngerusakin gundam yang baru kita beli bareng bulan lalu?"
"Amit-amit! Jangan gitu dong, gundam mahal itu dapet kita nabung, Ji!"
"Ya 'kan gue nebak, Bi. Soalnya itu doang yang bikin gue bisa ngamukin lo."
Hoseok menggigit bibirnya. Mengingat, betul juga. Seokjin selalu berlaku lembut padanya. Dan sifatnya yang itu menular juga pada Hoseok. Jika sedang berselisih paham, keduanya terbiasa mendinginkan kepala dahulu baru membahasnya. Dan setelahnya, semua kembali seperti sedia kala. Tidak pernah ada perang dingin atau ngambek berkepanjangan antarkeduanya.
Dan itu sudah berjalan hampir empat tahun.
Hebat juga dipikir-pikir.
Mengingatnya, seharusnya Hoseok tidak perlu sebegini sungkan. Ia harus memberanikan diri.
"Ji, gue mau jujur ...."
Seokjin mengangguk. Memusatkan perhatian pada sahabatnya sepenuhnya. Padanya yang masih meleyot di atas kemudi dengan pipi tergencet setir.
"Tapi lo jangan jauhin gue udahannya."
"Bi, apa sih ah!? Lo jelek banget ngomongnya muter-muter, gue jadi senewen ini ...."
Hoseok mendengus, tak dapat menutupi senyumnya. Ia menegakkan tubuhnya, dan mengarahkannya pada Seokjin. Sebagaimana seluruh tubuh Seokjin yang menyerong menujunya.
Seokjinnya imut.
"Soal senewen juga ini, Ji."
"Iya ...?"
"Gue senewen terus kalo ada di deket lo. Bikin jantung nggak karuan juga. Tapi kalo lo jauh, malah makin senewen bikin pingin nyamperin terus. Kayak hari ini."
Hoseok mendengar Seokjin menarik napas panjang. Duduknya menjadi lebih tegap.
"Go on, Bi. I'm listening ...."
Dan seperti itu saja.
Seokjin mengulum senyumnya.
Pemuda itu menyandarkan pelipisnya ke jok mobil. Menatap Hoseok seperti lelaki itu adalah pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Kedua pipinya merona.
Hoseok memandangnya, dan Seokjin mengangguk, seperti memberinya dukungan.
"Seokjin, lo bikin gue ... degdegan. Gue tau kita udah temenan deket banget empat tahun ini dan mungkin lo udah ilang rasa ke gue, lo udah tau jelek-jeleknya gue, lo tau ngorok gue berisik, gue nggak ngarep apa-ap—"
"Lo bikin gue degdegan juga, Bi ...."
"Hah?"
Tidak ada kalimat lagi. Hanya Seokjin yang sedang melihatnya. Hanya Seokjin yang mengangguk kecil.
Hoseok menegakkan badannya. Mencari dusta pada kedua mata sahabatnya. Namun yang tersisa hanyalah tatapan yang masih sama lembutnya selama empat tahun ini. Yang membuat Hoseok tenggelam. Yang juga memberikannya ketenangan.
Hanya seperti itu saja, Hoseok sudah mendapatkan jawabannya.
Ia mengerti Seokjin sebegitunya.
Seperti sebaliknya.
Menarik napas panjang, Hoseok mengulurkan satu tangannya untuk mengusap pipi Seokjin. Perlahan. Hati-hati.
Dan Seokjin seperti meleleh dalan sentuhannya. Anak itu mengusapkan pipinya ke telapak tangan Hoseok seperti anak kucing.
Imut sekali.
Seokjin tidak pernah tidak imut, omong-omong.
"I really want to kiss you, Ji."
"I want to kiss you too, Bi," bisik Seokjin, nyaris mencicit.
Setelahnya, keduanya saling mendekat. Semuanya terasa terjadi dalam adegan lambat di film-film. Bagaimana bibir keduanya bertemu, bagaimana gelenyar dan dentuman aneh pada jantungnya kian menggila. Bertolak belakangan dengan sentuhan bibir mereka yang terasa seringan kapas.
Rasanya tidak nyata, bisa merasakan koneksi sedemikian dasyat dari satu kontak sederhana seperti ini.
Dengan sahabatnya.
Rasanya seperti mimpi di siang bolong saat sedang demam.
Bagaimana proses yang mereka jalani begitu natural seperti air yang mengalir.
Hoseok suka itu.
Saat keduanya melepaskan tautan bibir mereka, seperti daya magnet bertolak belakang yang terlalu kuat, Seokjin dan Hoseok kembali saling menempelkan dahi—gestur sederhana nan keramat yang membuat Hoseok terperosok dalam jurang kesadaran. Keduanya saling menenangkan diri dengan berbagi ritme napas yang sama sambil memejamkan kedua mata.
"Wow ...," Hoseok berbisik.
"Yeah, wow ...." Suara serak Seokjin kembali mengacaukan isi kepala Hoseok yang masih belum pulih dari kegiatan sebelumnya.
Sungguh Hoseok ingin menciumnya lagi.
"Kayak mimpi ...," gumam Hoseok lagi.
Masih terpejam.
Dirasakannya deru napas Seokjin yang terkekeh mengusap pipinya.
"Gue nyata ini, Bi. 'Kan bisa lo pegang?"
Hoseok mengangguk.
"Ji ...."
"Mm?"
"Lutut gue lemes banget, keluar mobil gendong, ya?"
"Ngaco. Gue juga lemes ini. Lo tanggung jawab gendong gue!"
"Ah, payah."
"Sayang lo juga, Bi."
"Pede banget?"
"Mau cium lagi nggak?"
"Ya mau."
"Mm, sini."
"Yang lama."
"Ayok. Ampe diusir satpam kompleks."
"Ngerusak mood banget, Ji, asli."
"Nggak mau cium nih?"
"Bawel ah."
Cengiran menyebalkan dari bibir Seokjin lenyap ketika Hoseok kembali mengecupnya. Hanya beberapa saat sampai Seokjin menguasai kagetnya, lelaki itu kemudian membalas ciumannya. Satu tangan menggerut bagian depan kemeja Hoseok, satu tangan menelusup ke tengkuknya yang kian meremang.
Hoseok suka ini.
Mencium Seokjin, maksudnya. Dekat dengannya seperti ini. Bisa menghirup aroma parfum favoritnya sesuka hati.
Menyenangkan merasakan bibir penuh Seokjin di atas bibirnya, merasakan gelenyar aneh yang merambat ke seluruh tubuh, merasakan halusnya pipi, leher, tengkuk, rambut, bahkan hangat lidah lelaki di hadapannya. Sungguh Hoseok ingin berlari sprint mengitari stadiun kampus sambil berteriak karena perasaan yang ada di dalam dadanya kini terlalu meluap-luap.
Efek Kim Seokjin pada Jung Hoseok terlalu tidak biasa.
Ia baru menyadari itu.
Ia sungguh bisa membayangkan dirinya melakukan ini di usianya yang tiga puluh, empat puluh, lima puluh, enam puluh, dengan orang yang sama.
Setelah ujian seminarnya selesai, Hoseok berjanji pada dirinya sendiri akan mengajak Seokjin berkencan selayaknya pasangan pada umumnya. Ia ingin membawa Seokjin ke taman ria, memasang gembok cinta—astaga—piknik di bawah pohon sakura sambil membawa bekal yang dimasak bersama, dan aneka ide imut lainnya.
Hoseok ingin selalu menjadi satu-satunya orang yang dapat membuat wajah Seokjin merona dan membuat lelaki tampan itu salah tingkah.
Hanya untuknya.
Payah.
Sepertinya ini serius.
*
