Work Text:
Malam itu dingin, tapi tidak cukup dingin sampai tubuhnya perlu mengenakan jaket. Tapi tangannya dingin, disandarkan di atas pahanya sambil mengetukan ritme musik dari playlist buatan mingyu.
“Lo tau ga nu? Lagu ini ingetin gue sama apa?” Tanya mingyu mendadak, satu tangannya membelokan setir ke kiri.
“Apa?”
“Music video lagu ini, tapi yang ada Dave Franco sama Emma Roberts”
Wonwoo mengangkat alisnya, “oh gue tau, yang Emma Roberts nya keluar dari TV kan?”
Senyum sumringah muncul di wajah Mingyu, “Iya, dulu gue naksir banget sam Emma Roberts… Dave Franco juga ganteng sih”
Lagu sudah berganti, Blackeye oleh Love Inks diputar. Wonwoo suka dengan pilihan lagu ini, diliriknya tablet mobil Mingyu, menghafal diam-diam judul lagu tersebut untuk disimpan di playlist barunya. Kemudian dia diam, merumuskan apa yang harus dijawab kepada Mingyu.
Ia awali jawabannya dengan anggukan, “setuju, tapi lo tau ga sih apa yang gue suka dari MV itu? Scene late night ride nya”
“Kayak kita sekarang dong”
“Iya” Wonwoo tersenyum simpul
Dibahas oleh mereka tentang berbagai hal. Konser yang baru saja mereka datangi, Soonyoung dan kemeja macannya, jenis-jenis nasi uduk di Sumatra, hingga bagaimana cara melatih kucing agar buang air besar di litter box.
—
Menurut Wonwoo masa-masa PDKT dengan Mingyu merupakan suatu hal yang pantang untuk dilupakan. Bukan perkara apa yang mereka lakukan bersama, tapi bagaimana proses ini membuat Wonwoo merasa kalau dia hanya bisa merasa bahagia, like good things could only now happen to him and good things only.
Suatu hal yang membuat Wonwoo suka dengan Mingyu adalah selera musiknya. Wonwoo tidak perlu berusaha menjelaskan lagu apa yang ia suka dan mengapa ia menyukainya. Rasanya seperti Mingyu tau dengan sendirinya apa yang ia rasakan.
Mendengarkan lagu dengan Mingyu menjadi sebuah kegiatan yang paling ia nikmati. Terlebih ketika mereka mendengarkan lagu baru bersama. Seperti merekam momen dalam lantunan musik yang sedang mereka dengar. Karena mereka percaya, bahwa musik dapat menyimpan memori selayaknya selembar foto ataupun rekaman video.
“Gue kalau denger lagu ini akan terus keinget lu Nu”, ucap Mingyu sambil menganggukan kepalanya mengikuti ritme musik
“Semoga kamu ga pernah bosen sama lagu ini ya gu”, jawab Wonwoo dalam senyum.
—
Wonwoo paling suka kalau ditanya bagaimana ia pertama kenal Mingyu. Sayangnya, jarang ada yang bertanya. Asumsi mereka adalah cinlok di kelas eksternal. Yaa, meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya salah sih.
Jadi awal ceritanya begini, Wonwoo gemar sekali membawa motor. Oleh karena itu, ia selalu mengambil rute yang sedikit jauh. Setiap minggunya, Wonwoo memperhatikan hal yang konstan maupun tidak konstan dari jalan yang dilewatinya. Kebetulan, di minggu itu, target Wonwoo adalah tukang parkir minimarket dekat kosannya. Wonwoo malu mengakuinya, tapi ia sering terpikir dengan tukang parkir itu. Dia sering menebak-nebak namanya, apa panggilan yang pas untuk tukang parkir tersebut.
Lucunya, ia bertemu dengan tukang parkir tersebut, dalam situasi yang tidak ia duga. Kelas eksternal mata kuliah dari Fakultas Psikologi merupakan saat Wonwoo mengetahui bahwa Mingyu adalah namanya. Lucunya lagi, ketika dosen bertanya, “menurut kalian, pekerjaan apa yang cocok untuk teman disamping kalian” Wonwoo tidak sengaja menjawab “tukang parkir”.
Semua orang terkejut, beberapa tertawa. Tapi Mingyu heran, ‘kok dia tau?’. Dan ternyata, Mingyu berkawan dengan pedagang kaki lima depan minimarket tersebut, sehingga ia suka iseng membantu tukang parkir setempat untuk sementara.
Bagi Wonwoo yang hidupnya lempeng-lempeng aja, tentu tertarik dengan Mingyu dengan rentang pergaulannya yang bervariasi. Jadi, ketika Mingyu bertanya, “eh lo suka dengerin lagu ini juga?” Wonwoo senang setengah mati, karena sekarang mereka punya topik pembicaraan yang cocok.
Cerita tukang parkir memang awal dari pertemanan mereka berdua, tetapi musik masih memiliki bagian signifikan dalam hubungan mereka.
—
Seperti cerita sebelumnya, Mingyu saat ini sedang menyetir mobil. Kali ini, mereka baru saja pulang dari kampus. Kali ini juga, langit terlihat biru dan Jakarta sedang berbaik hati dengan kepadatan jalannya. Playlist Mingyu diputar, dan Wonwoo menganggukan kepalanya sesuai dengan ritme musik.
“Nu, kok gue gapernah denger playlist lo sih?” Tanya mingyu tiba-tiba
Wonwoo bingung bagaimana cara menjelaskannya, jadi dia jawab, “Yaa, toh juga lagu gue kan sama kayak lagu lo”
“Tapi kan, pasti ada dong, lagu lo yang gue gatau”
Sebenarnya Wonwoo enggan menjelaskan, bahwa ia tidak pede dengan playlist yang ia punya. Melihat, fondasi hubungan mereka ada pada musik kesukaan, Wonwoo merasa bahwa lebih mudah jika ia yang menyesuaikan. Biar genre lain, dia dengar sendiri saja. He always wants to impress Mingyu.
“Eeh, tapi gue gatau lagu yang lain cocok sama lo atau engga.. biasa banget sih, mayoritas juga sama kayak lo” Wonwoo beralasan
Mingyu diam sejenak, mungkin sedang merumuskan jawaban yang tepat untuk disampaikan. Namun, akhirnya ia menjawab, “urusan cocok atau engga, menurut gue ga masalah tau Nu. I wouldn’t like you less because of it. Malahan, gue akan sangat apresiasi lagu yang lo share ke gue”
“Gombal bgt gu, I almost throw up” canda Wonwoo, “well if that’s the case, gue sebenarnya ada playlist tentang lo”
Wonwoo tidak tahu, kalau setelah Mingyu pulang. Ia memutar playlist Wonwoo berulanh-ulang sambil malu-malu. Kalau Mingyu tidak jadi mengerjakan tugasnya untuk rebahan sambil membayangkan perasaan Wonwoo melalui playlist tersebut. Lucu ya? Seperti cinta monyet anak SMA saja.
